p-Index From 2021 - 2026
26.675
P-Index
This Author published in this journals
All Journal EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Regula Fidei : Jurnal Pendidikan Agama Kristen Kurios Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika KENOSIS: Jurnal Kajian Teologi Jurnal Teologi Berita Hidup Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Jurnal Gamaliel Teologi Praktika Khazanah Theologia The Way: Jurnal Teologi dan Kependidikan Manna Rafflesia Khazanah Theologia PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Diegesis: Jurnal Teologi KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Jurnal Shanan JURNAL TERUNA BHAKTI JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Jurnal Teologi Praktika Didache: Journal of Christian Education Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi LOGIA : Jurnal Teologi Pentakosta Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi dan Pendidikan SHAMAYIM: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani IMMANUEL: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Jurnal Teologi (JUTEOLOG) CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Jurnal Pendidikan Agama Kristen (JUPAK) Transformasi Fondasi Iman Kristen dalam Pelayanan Pastoral di Era Society 5.0 Jurnal DIDASKO Jurnal Teologi Amreta Matheteuo TELEIOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Sabda : Jurnal Teologi Kristen ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial, dan Budaya KAMASEAN: Jurnal Teologi Kristen Dunamos: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Illuminate: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Real Coster ALUCIO DEI Metanoia : Jurnal Pendidikan Agama Kristen Jurnal Salvation Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani Harati: Jurnal Pendidikan Kristen Shalom: Jurnal Teologi Kristen PNEUMATIKOS: Jurnal Teologi/Kependetaan DIDAKTIKOS: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Duta Harapan Voice of HAMI REAL DIDACHE: Journal of Christian Education MANTHANO: Jurnal Pendidikan Kristen Widyadewata: Jurnal Balai Diklat Keagamaan Denpasar Harvester: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Jurnal Missio Cristo Literasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Theologia Insani: Jurnal Theologia, Pendidikan, dan Misiologia Integratif Lentera Nusantara TEMISIEN: Jurnal Teologi, Misi, dan Entrepreneurship Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Redominate : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristiani Jurnal Efata: Jurnal Teologi dan Pelayanan HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen EUANGGELION: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Discreet: Journal Didache of Christian Education Apostolos: Journal of Theology and Christian Education Jurnal Theologia dan Pendidikan Agama Kristen Jurnal Teologi Rahmat EULOGIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Jurnal Ap-Kain SIKIP: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Khamisyim : Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Basilius Eirene: Jurnal Agama dan Pendidikan GRAFTA: Journal of Christian Religion Education and Biblical Studies AMBASSADORS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Redominate : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristiani Hymnos : Jurnal Teologi Dan Keagamaan Kristen
Claim Missing Document
Check
Articles

Kajian Biblikal tentang Manusia Rohani dan Manusia Duniawi Yonatan Alex Arifianto
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 3, No 1 (2020): Agustus 2020
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v3i1.51

Abstract

Immaturity in taking an attitude and acting as they should be following the way and order of God's Word can be called a worldly man who has the impact of jealousy, strife, so as to give rise to worldly people who do not know the truth. The natural man will also represent who the believer is. Spiritual maturity that involves God's role in the work of the Holy Spirit will continue to renew the mind and passion to continue fellowship with God. Likewise, what happens for humans who are in Jesus Christ will become a person in His image and become a blessing to others. With descriptive qualitative research methods, the author can describe the classification of the worldly man which refers to the immature in Christ, whose food is still limited to milk, and has an attitude of envy, strife and lives in a worldly manner. In addition, a spiritual person is described by the indicators: leaving childishness, accepting solid food and becoming a peacemaker, so that he can continue to grow, have a changed consciousness in all good things. In the end, the spiritual man can be a blessing and give good fruit to the lives of others. Abstrak Ketidakdewasaan dalam mengambil sikap dan bertindak sebagaimana seharusnya mengikuti cara dan tatanan Firman Tuhan dapat disebut sebagai manusia duniawi yang memiliki dampak iri hati, perselisihan sehingga memunculkan manusia duniawi yang tidak mengenal kebenaran. Manusia duniawi itu juga akan mepresentasikan siapa pribadi orang percaya. Kedewasaan rohani yang melibatkan peran Tuhan dalam karya Roh Kudus akan terus memperbaharui pikiran dan gairah untuk terus bersekutu dengan Tuhan. Demikianlah juga yang terjadi bagi manusia yang ada dalam Yesus Kristus akan menjadi pribadi yang serupa dengan gambarNya dan menjadi berkat bagi sesama. Dengan metode penelitian kualitatif deskriptif, penulis dapat mendeskripsikan klasifikasi manusia duniawi yang mengacu pada belum dewasa dalam Kristus, yang makanannya masih sebatas susu, serta memiliki sikap iri hati, perselisihan dan hidup secara duniawi. Selain itu, dideskripsikan manusia rohani dengan indikator: meninggalkan sifat kanak-kanak, menerima makanan keras dan menjadi pembawa damai, sehingga dapat terus bertumbuh, memiliki kesadaran berubah dalam segala hal yang baik. Pada akhirnya manusia rohani dapat menjadi berkat dan memberikan buah yang baik bagi kehidupan orang lain.
Prinsip-prinsip Misi dari Teks Amanat Agung bagi Pelaksanaan Misi Gereja Masa Kini Listari Listari; Yonatan Alex Arifianto
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 3, No 1 (2020): Juli 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (23.595 KB) | DOI: 10.46929/graciadeo.v3i1.47

Abstract

The missionary fulfillment of the Great Commission as applied to churches today. Mission shares the same principle in the Great Commission, which is to bring souls to salvation. In the text of the Great Commission, there are three important parts, namely salvation, development, and assignment. This great commission has been applied in various churches today, but the principles of the mission itself have not been fully understood by church members. By using descriptive qualitative methods, the writer can define the Great Commission and its objectives, then describe the principles of mission in the Great Commission in the study of Matthew 28: 19-20 and apply the mission in everyday life. A mission that has an agenda and objectives and mission principles from the text of the Great Commission, understands carefully the theological study of the Great Commission and knows the mission of God in the life of every believer, recognizes the mandate in the person and fulfills it. And the last, most important thing is how the church recognizes the problems in mission and strives to be a mission church that relies on God and is able to get through every challenge that exists in implementing its evangelistic mandate. Abstrak Pelaksanaan misi dari Amanat Agung yang diterapkan pada gereja-gereja masa kini. Misi memiliki prinsip yang sama dalam Amanat Agung, yaitu untuk membawa jiwa-jiwa kepada keselamatan. Dalam teks Amanat Agung terdapat tiga bagian penting, yaitu penyelamatan, pengembangan dan penugasan. Amanat Agung ini telah diterapkan di dalam berbagai gereja saat ini, hanya saja prinsip dari misi itu sendiri belum dipahami secara menyeluruh oleh anggota gereja. Dengan melalui metode kualitatif deskritif, penulis dapat mendeskritifkan Amanat Agung dan tujuannya, lalu menjabarkan prinsip misi Amanat Agung dalam kajian Matius 28: 19- 20 dan mengaplikasikan misi dalam kehidupan sehari-hari. Misi yang memiliki agenda tujuan dan prinsip- Prinsip misi dari teks Amanat Agung, memahami dengan seksama kajian teologis Amanat Agung serta mengenal misi Allah di dalam kehidupan setiap orang percaya, mengenal amanat dalam diri pribadi dan menunaikannya. Dan yang terakhir yang paling penting adalah bagaimana gereja mengenal masalah-masalah dalam misi serta berusaha menjadi gereja yang bermisi dengan bersandar Tuhan dan mampu melewati setiap tantangan yang ada dalam menerapkan mandat penginjilan.
Kehambaan Kristus sebagai Model Spirtulitas Kepemimpinan Gereja: Kajian Teologis Filipi 2:5-8 Ari Suksmono Hertanto; Carolina Etnasari Anjaya; Yonatan Alex Arifianto
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 3, No 2 (2021): Januari 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v3i2.66

Abstract

The modern church needs a leader who can reflect the characteristics of Christ. It is realized that there is no leadership that can fully represent the figure of a biblical leader, not even reflecting Jesus' characters. This article offers a model of servant leadership spirituality that can be applied in church leadership, both in congregational and synod leadership. The method used is an interpretive study of the text of Philippians 2:5-8, concerning the servanthood of Christ. In conclusion, the servanthood of Christ as narrated by Paul in the Philippians letter can be a kind of model for the spirituality of servant leadership in today's postmodern era. AbstrakGereja di masa modern ini membutuhkan sosok pemimpin yang dapat mencerminkan karakteristik Kristus. Memang disadari bahwa tidak ada kepemimpinan yang dapat mewakili secara utuh sosok pemimpin Alkitab, termasuk merefleksikan karakter Yesus. Artikel ini menawarkan sebuah model spiritualitas kepemimpinan hamba yang dapat diterapkan dalam kepemimpinan gereja, baik dalam kepemimpinan jemaat maupun sinode. Metode yang digunakan adalah kajian interpretatif atas teks Filipi 2:5-8, tentang kehambaan Kristus. Kesimpulannya, kehambaan Kristus yang dinarasikan Paulus dalam surat Filipi tersebut dapat menjadi semacam model spiritualitas kepemimpinan hamba di era posmodern sekarang ini.
Prinsip-prinsip dalam Membangun Pernikahan Kristen yang Kuat Yakub Hendrawan Perangin Angin; Yonatan Alex Arifianto
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 1, No 2 (2019): Januari 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v1i2.129

Abstract

Kompetensi utama yang harus dimiliki oleh suami istri dalam membangun pernikahan yang kokoh sangatlah berharga untuk itu setiap pasangan suami istri harus dipersiapkan sejak awal pernikahan agar terbangun pernikahan yang abadi. Pernikahan yang sehat dan bahagia merupakan impian dari setiap pasangan suami istri. Pernikahan yang dijalani dengan berhasil dapat memberikan gelora bagi suami dan istri dalam melalui dan mengatasi berbagai persoalan dan tekanan yang dihadapi dan semakin teguh dan kuat seiring usia pernikahannya. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dari berbagai jurnal dan buku yang ditulis oleh konselor dan pakar pembina pernikahan Kristen. Hasil dari penelitian ini ada 6 cara yang harus dibangun oleh pasangan suami istri yang merindukan pernikahan yang tangguh, yaitu: Pertama, Menjadikan Kristus Sebagai Pusat Kehidupan Pernikahan.  Kedua, Mengembangkan Keterampilan Pernikahan Melalui Kursus dan Sekolah Keluarga. Ketiga, Mengembangkan Kreativitas Dalam Mempertahankan Kemesraan Pernikahan. Keempat, Bersama Sengaja Bertumbuh Terus Menerus. Kelima, Berdoa Bersama Pasangan dan Saling Memperkaya. Keenam, Menjadi Penjaga Pernikahan Lainnya.  
Awarenesss Triangle: Konsep Pengembangan Pendidikan Kristen bagi Generasi Tekno di Era Virtual Carolina Etnasari Anjaya; Yonatan Alex Arifianto
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 4, No 1: Juli 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v4i1.109

Abstract

The virtual era is now pushing for a style or life formation that corresponds to the world. This is contrary to the Christian faith which requires humans to let go of all the bonds of the world and focus on the Kingdom of Heaven. Because of this, the development of Christian education is very much needed as a means to change the way or formation of the life of the techno generation and all believers today to a lifestyle that is in accordance with the truth of God's word. This research method uses descriptive qualitative. The purpose of the research is to provide ideas for the development of Christian education in accordance with the current virtual era. The results of the research found that the development of Christian education Awareness Triangle or the triangle of awareness can be a development solution that suits the needs which include: first, the concept of self-awareness. Second, is the concept of visual awareness. Third, is the concept of mission awareness. The result of learning the Awareness Triangle is a style or life formation that is in accordance with Bible truth.  AbstrakEra virtual saat ini mendorong kepada gaya atau formasi hidup yang berpadanan dengan dunia. Hal ini bertentangan dengan iman Kristen yang menuntut manusia untuk melepaskan segala ikatan dunia dan fokus kepada Kerajaan Surga. Oleh karena hal tersebut pengembangan pendidikan Kristen sangat dibutuhkan sebagai sarana untuk mengubahkan cara atau formasi hidup  generasi tekno dan semua umat percaya saat ini kepada gaya hidup yang sesuai  kebenaran firman Tuhan. Metode riset ini mempergunakan deskriptif kualitatif. Tujuan dari riset memberikan ide pengembangan pendidikan Kristen yang sesuai dengan era virtual saat ini. Hasil riset mene-mukan bahwa pengembangan pendidikan Kristen Awarenesss Triangleatau segitiga kesadaran dapat menjadi solusi pengembangan yang sesuai dengan kebutuhan yang meliputi: pertama, konsep kesadaran diri. Kedua, konsep kesadaran visi. Ketiga, konsep kesadaran misi. Hasil dari pembelajaran Awarenesss Triangle adalah gaya atau formasi hidup yang sesuai dengan kebenaran Alkitab.  
Menggereja yang Ramah dalam Ruang Virtual: Aktualisasi Iman Kristen Merawat Keragaman Yonatan Alex Arifianto; Carolina Etnasari Anjaya
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 4, No 2: Januari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v4i2.90

Abstract

In living in a virtual space, believers are required to be able to influence the values and patterns that are formed in accordance with the values of the Christian faith. The research aims to convey the principles or models of friendly church life and practical ways of carrying them out in virtual space life within the framework of religious moderation. The research method is a descriptive qualitative approach through literature study. The research concludes that a friendly church becomes a necessity for believers as a fulfillment of God's command to bring shalom and leave this world with elements of Christian faith values. The principle of a friendly church is the awareness to love God through acts of love for others and the synergy of believers in one unit, faith, and purpose in life. The praxis of a friendly church can be actualized with virtual social services in the context of contemporary issues. Believers are required to be present as a solution to various social problems. This will reduce the turbulence of the virtual space with a tendency to wickedness. This praxis can run optimally if it is supported by the synergy of believers in collaboration with various crosses: denominations, communities, professions, competencies, and generations. AbstrakDalam kehidupan di ruang virtual umat percaya dituntut untuk dapat memberikan pengaruh atas nilai-nilai dan pola yang terbentuk sesuai dengan nilai-nilai iman Kristen. Penelitian bertujuan menyampaikan prinsip atau model hidup menggereja yang ramah dan cara praksis menjalankannya dalam kehidupan ruang virtual  dalam bingkai moderasi beragama Metode riset adalah pendekatan jenis kualitatif deskriptif melalui studi pustaka. Riset memberikan simpulan  bahwa menggereja yang ramah menjadi suatu kebutuhan bagi umat percaya sebagai pemenuhan perintah Tuhan untuk membawa shalom dan mengkhamirkan dunia ini dengan unsur nilai iman Kristen. Prinsip menggereja yang ramah adalah kesadaran untuk mengasihi Tuhan melalui tindakan kasih kepada sesama dan sinergitas umat percaya dalam satu kesatuan wadah, iman dan tujuan hidup. Praksis menggereja yang ramah dapat diaktualisasikan dengan pelayanan sosial virtual dalam lingkup isu-isu kontemporer. Umat percaya dituntut untuk hadir sebagai solusi bagi pelbagai persoalan sosial. Hal ini akan meredam gejolak ruang virtual yang bertendensi pada kefasikan. Praksis tersebut dapat berjalan optimal jika didukung oleh sinergitas umat percaya dengan kolaborasi pelbagai lintas: denominasi, komunitas, profesi, kompetensi, dan generasi.
Teologi New Apostolic Reformation dan Pandemi Covid 19 Heppy Yohanes; Yonatan Alex Arifianto
Jurnal Salvation Vol. 2 No. 1 (2021): Juli 2021
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.92 KB) | DOI: 10.56175/salvation.v2i1.32

Abstract

Abstract: The COVID-19 pandemic that has swept across the country has made a shift in all fields, especially the church. This shift requires the church to make significant changes. Many churches appear unprepared for the changes required and congregations are seen to be confused and not growing. The New Apostolic Reformation (NAR) theology that developed from 2001 provides many teaching concepts as a continuation of the wave of the Pentecostal movement in the world. The concept of NAR theology which consists of five ministries, the mandate of seven mountains, dominion theology, the Gospel of the Kingdom can provide fresh air to answer the problems that occur in the church in answering all its problems. In order to provide a clear and precise review, the researcher applied a qualitative descriptive research method with a literature study. The discussion carried out was not only limited to theological concepts, but also the application of the theological concept of NAR to answer the problem of the COVID-19 pandemic, as well as discussing the problems of many parties' questions regarding prophecy that did not occur from this NAR group.   Abstrak: Pandemi Covid 19 yang melanda seluruh negara membuat pergeseran terjadi di seluruh bidang, khususnya gereja. Pergeseran ini menuntut gereja untuk melakukan perubahan yang signifikan. Banyak gereja yang terlihat tidak siap atas perubahan yang dituntut dan terlihat jemaat yang kebingungan dan tidak bertumbuh. Teologi New Apostolic Reformation (NAR) yang berkembang dari tahun 2001 memberikan banyak konsep pengajaran sebagai kelanjutan dari gelombang gerakan pentakosta di dunia. Konsep teologi NAR yang terdiri dari lima jawatan, mandat tujuh gunung, teologi dominion, Injil Kerajaan dapat memberikan angin segar untuk menjawab permasalahan yang terjadi atas gereja dalam menjawab seluruh persoalannya. Agar dapat memberikan ulasan yang jelas dan tepat, peneliti menerapkan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan studi kepustakaan. Pembahasan yang dilakukan tidak hanya sebatas konsep teologi saja, namun penerapan konsep teologi NAR untuk menjawab masalah pandemi covid 19, serta membahas problematika tentang pertanyaan banyak pihak mengenai nubuatan yang tidak terjadi dari kelompok NAR ini.
Strategi Guru PAK dalam Membangun Pancasila sebagai Paradigma Integrasi Bangsa terhadap Peserta Didik di Era Milenial Reni Triposa; Yonatan Alex Arifianto
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 1 (2021): September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i1.166

Abstract

Abstract: Without realizing it, the millennial era with technological sophistication brings students to be influenced by wrong associations which will unconsciously bring about the disintegration of the nation. Therefore, teachers of Christian religious education can have strategies in bringing students to build their nationality through the paradigm of national integration based on Pancasila. through technological advances. and having used descriptive qualitative methods with a literature study approach, it can be concluded that the PAK teacher's strategy in building Pancasila as a paradigm of Nation integration towards students in the millennial era is to understand the degradation or moral decadence in the millennial era which continues to increase. For this reason, Christian Religious Education Teachers actualize the view of Pancasila as the basis for developing the integration of the Nation and also see that there is no theological debate on the value of Pancasila in the theological ethical perspective. From this, teachers have the basis to play a role in Guru Pak's strategy in the Actualization of National Integration in the millennial era, with the following steps: First, they are able to grow the faith of students who are increasingly mature. Second, it teaches to love each other and get rid of all bullying and improper behavior of students in respecting their nation's leaders. Third, provide an example in using social media and everything related to the internet of think. Abstrak: Tanpa disadari era milenial dengan kecanggihan teknologi membawa peserta didik terpengaruh dengan pergaulan yang salah yang secara tidak sadar akan membawa disintegrasi bangsa. Oleh karena itu guru pendidikan agama kristen dapat memiliki strategi dalam membawa peserta didik membangun kebangsaannya melalaui paradigma integrasi bangsa yang berlandaskan Pancasila. Melalui kemajuan teknologi dan memiliki menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi pustaka dapat disimpulkan bahwa strategi guru PAK dalam membangun Pancasila sebagai paradigma integrasi bangsa terhadap peserta didik di era milenial adalah memahami degradasi atau dekadensi moral di era milenial yang terus meningkat. Untuk itu Guru Pendidikan Agama Kristen mengaktualisasikan pandangan Pancasila sebagai dasar pembangunan integrasi bangsa dan juga melihat tidak ada perdebatan teologis dalam nilai Pancasila dalam perspektif  etis teologis. Dari hal tersebut guru memiliki dasar untuk berperan dalam strategi Guru Pak dalam aktualisasi integrasi bangsa di era milenial dengan langkah: Pertama, mampu menumbuhkan  iman peserta didik yang semakin  dewasa. Kedua, mengajarkan untuk saling mengasihi dan membuang segala perundungan, dan prilaku yang tidak benar peserta didik dalam menghormati pemimpin bangsanya. Ketiga, memberikan keteladan dalam mengunakan sosial media dan segala berhubungan dengan internet of things.  
Aktualisasi Pancasila dalam PAK: Penguatan Bela Negara dan Jati diri Bangsa Menghadapi Superioritas dan Fundamentalisme atas Nama Agama Tan Lie Lie; Yonatan Alex Arifianto; Reni Triposa
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 2 (2022): Maret 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i2.249

Abstract

Persoalan deskriminasi dan intoleransi yang diakibatkan pemahaman agama di ruang publik tidak memprioritaskan kebersamaan. Bahkan faham fundamentalisme yang mencoba memengaruhi anak bangsa untuk keluar dari marwah hidup yang pluralisme, sebagai ancaman yang nyata bagi generasi kedepannya. Peran penting dalam mereduksi superioritas agama  melalui aktulisasi pancasila menjadi tujuan dalam penelitian ini. Mengunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi pustaka dapat menjawab aktualisasi pancasila bagi kekristenan menjadikan umat Kristen sadar pentingnya menjaga jati diri bangsa dengan prioritas bela negara  melawan perkembangan superioritas dan fundamentalisme mengatasnamakan agama. Kesimpulan dari hasil pembahasan artikel ini adalah aktualisasi Pancasila dalam PAK: sebagai penguatan terhadap bela Negara dan sebagai Jati diri Bangsa dalam menghadapi Superioritas dan Fundametalisme atas Nama Agama. Diperlukan pemahaman bahwa Pancasila merupakan dasar hukum yang harus diterapkan bagi kehidupan bermasyarakat.  Untuk itu sebagai bagian dari makluk sosial dan beragama, Kekristenan dalam peran pendidikan agama Kristen turut membela bangsa dan negaranya dari berbagai ancaman termasuk sesama anak bangsa yang menginginkan perubahan ideologi negara.  Kekristenan juga dapat memprioritaskan bela negara dan pentingnya jati diri Bangsa sebagai bagian dari kerinduan Yesus bagi umatNya untuk menjadi terang dan garam. Maka diperlukan  sinergi Pancasila dan PAK sebagai upaya mereduksi  superiotas dan  fundamentalisme agama. Sehingga penelitian ini dapat memberikan wawasan dan sikap yang mengedepankan jati diri bangsa dan bela negara dalam bermasyarakat sebagai bagian mereduksi superioritas atas nama agama dan fundamentalisme.
Studi Deskriptif Teologis Pembangunan Bait Suci Orang Samaria di Gunung Gerizim Yonatan Alex Arifianto; Joseph Christ Santo
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 3, No 1 (2020): September 2020 (Studi Intertestamental)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v3i1.61

Abstract

One of the elements of the contention that arose between the Samaritans and the Jews mentioned in John 4 was about the center of worship. The Samaritans recognized the Temple on Mount Gerizim as a center of worship, while the Jews recognized the Temple in Jerusalem. The existence of the Temple on Mount Gerizim is not widely recorded in the Bible. That is why research is needed to describe this Samaritan place of worship which causes conflict between the Samaritan and the Jew. The problem in this research is how the construction of the Temple on Mount Gerizim so that it becomes an element of contention between the Samaritans and the Jews. To answer these questions, the authors used the literature method with a descriptive qualitative approach. The results showed that the temple on Mount Gerizim was not the center of worship that God intended it to be. In New Testament times, what God wanted was for worshipers who were not focused on the temple on Mount Gerizim or in Jerusalem, but worshipers who worshiped God in spirit and in truth.Salah satu unsur pertikaian yang muncul di antara orang Samaria dan orang Yahudi yang disebutkan dalam Yohanes 4 adalah mengenai pusat ibadah. Orang Samaria mengakui Bait Suci di Gunung Gerizim sebagai pusat ibadah, sementara orang Yahudi mengakui Bait Suci di Yerusalem. Keberadaan Bait Suci di Gunung Gerizim tidak banyak dicatat oleh Alkitab. Itu sebabnya dibutuhkan penelitian untuk mendeskripsikan tempat ibadah orang Samaria ini sehingga menimbulkan konflik di antara orang Samaria dan orang Yahudi. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pembangunan Bait Suci di Gunung Gerizim sehingga menjadi salah satu unsur pertikaian antara orang Samaria dan orang Yahudi. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis menggunakan metode pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bait suci di Gunung Gerizim bukanlah pusat ibadah yang dikehendaki Tuhan. Pada masa Perjanjian Baru, yang dikehendaki Tuhan adalah penyembah yang tidak terfokus kepada bait suci di Gunung Gerizim ataupun di Yerusalem, melainkan penyembah yang menyembah Allah dalam roh dan kebenaran.
Co-Authors Abel, Angela Adithia, Wahyu Prima Adu, Esterina Yunita Agata, Bulanda Aji Suseno Aji Suseno Andreas Danang Rusmiyanto Andreas Fernando Andreas Fernando Andreas Joswanto Andreas Joswanto Andreas Sese Sunarko Andrias Kemal Bulo Andrias Pujiono Andrias Pujiono Anjaya, Carolina Etnasari Anton Santoso Ari Suksmono Hertanto Ate, Norbertus Mawo Barus, Mariani Bawamenewi, Yunida Berliana Ourisa Febrian Boni Boni Boni Boni Boni, Boni Brian Rivan Assa Budiyana, Hardi Bulanda Agata Carolina Etnasari Anjaya Carolina Etnasari Anjaya Carolina Etnasari Anjaya Carolina Etnasari Anjaya Christian Bayu Prakoso Dandel, Fredrik Daniel Supriyadi Daniel Supriyadi Darius Darius Desi Ratnasari Desi Wasari Dewi, Ester Yunita Dicky Dominggus Dominius, Fransiskus Dwikoryanto, Matius I Totok Edwin Edwin Elisa, Saturnina Ester Berlian Haan Ester Putri Setiyowati Etni Grace Andi Yusuf Eunike Anggraeni Susilo Eunike Anggraeni Susilo Fati Aro Zega Felia Limbong Fereddy Siagian Fernando, Andreas Gideon Rusli Gloria Tupamahu Hadi, Sukarno Hana Hana Hanny Setiawan Hardi Budiyana Harianto, GP Hasudungan Sidabutar Heppy Yohanes Imanuel Nuban Indarsih, Titi Indriana, Nining Indrianto Indrianto Inge Gunawan Ita Lintarwati J, Valentina Dwi Kuntari Jepina, Jepina Jerrymia Heaven Johanes Paryono Joseph Christ Santo Joswanto, Andreas Jutela Jutela, Jutela Kalis Stevanus Kanafi, Kanafi Kharisda Mueleni Waruwu Korina Sanosa Kowal, Roike R. Kristien Oktavia Kristina, Ariana Kuntari , Valentina Dwi Langi, Elsjani A Lende, Stefani Natalia Limbong, Felia Listari Listari Loveano, Noel Yosan Lumingas, Gloria Gabriel Mangetek, Adriano Markuat Mega Mega Meliani Konda Betu Mesirawati Waruwu Mooy, Venida Jeliati Mulus, Mulus Nainggolan, Richardo Neni Viani Neni Viani Ngesthi, Yonathan Salmon Efrayim Nikolaos Nikolaos Nikolaos, Nikolaos Novianti, Rizka Nugroho, Widhi Arief Okris Pitay Oktavia, Kristien Oktavianus Oktavianus Pantow, Frangky Paoki, Suzan Grace Paulus Karaeng Lembongan Paulus Kunto Baskoro Paulus Purwoto Perangin Angin, Yakub Hendrawan Poerti Poerti Poluan, Deice Miske Pongoh, Fanli Feydi Priyantori Widodo Pujiono, Andrias Purnama, Ferry Purnamasari, Citaning Rahayu, Yohana Fajar Rejoice Leny Simatupang Rini, Wahju Astjarjo Ririn Utari Rusmiati Rusmiati Rutdiana, Eldea Happy S Siswanto Sabuna, Jelita Lauren Cuning Samuel Purdaryanto Saptorini, Sari Sarah Andrianti Sari Saptorini Sari Saptorini Saturnina Elisa Saturnina Elisa Sembiring, Lena Anjarsari Setiyowati, Ester Putri Shintia Christina Sibuea, Ezra Yani Sihite, Franseda Simatupang, Rejoice Leny Simon Simon Simon Simon Simon Simon Soinbala, Nusriwan Chrismanto Sonya, Margaretha Sri Lina Betty Lamsihar Simorangkir Sri Wahyuni Sri Wahyuni Suhadi Suhadi Suhadi Suhadi Suhadi Suhadi Suharijono, Jirmia Dofi Sujaka, Adi Sumiwi, Asih Rachmani Endang Sumiyati Sumiyati Sumual, Elisa Nimbo Suryadi Nicolaas Napoleon Tatura, Suryadi Nicolaas Napoleon Suryadi, Devina Herfiantika Suryati, Dewi Susanto, Lasarus Ari Suseno, Aji Sutono, Yohanes Taloim, Merianus Tambunan, Ruhut Parningotan Tampenawas, Alfons Renaldo Tamtomo, Setya Budi Tamu Ama, Ferdinandus Tan Lie Lie Taogan, Frischo Ridhoi Telaumbanua, Agus Arda Setiawan Tenny Tenny Thomas Prajnamitra Tilaar, Bonny Bruce Tiwa, Jerry F. Tiwa, Jerry Fanny Toisuta, Jakson Sespa Tri Astuti Yeniretnowati Triposa, Reni Tupamahu, Gloria Un Seran, Soviana Dominggas Utomo, Karyo Vena Melinda Tiladuru Viani, Neni Wahju Astarjo Rini Wakkary, Adriaan M. F. Wasari, Desi Wicaksono, Aditya Putra Pangestu Widodo, Priyantoro Wulan Agung Wulan Agung Wulan Agung Yahya yahya Yakub Hendrawan Perangin Angin Yakub Hendrawan Perangin Angin Yedija, Yedija Yeniretnowati, Tri Astuti Yohana Fajar Rahayu Yohana Fajar Rahayu Yohanes Hadi Wibowo Yonathan Salmon Efrayim Ngesthi Yudi Hendrilia Yudi Santoso Yunida Bawamenewi