Claim Missing Document
Check
Articles

The use of zeolite, active carbon, and clove oil in closed transportation of giant freshwater prawn juvenile Anandasari, Rahma Vida; Supriyono, Eddy; Carman, Odang; Adiyana, Kukuh
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2948.478 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.42-49

Abstract

ABSTRACT The objective of this study was to determine the effect of zeolite, active carbon, and clove oil on water quality (dissolved oxygen/DO, total ammonia nitrogen/TAN, temperature) and biological quality (glucose concentration, total protein, survival/SR) of giant freshwater prawn juvenile Macrobrachium rosenbergii in closed transportation system. The study was conducted in laboratory scale with a completely randomized design. The biota used was juvenile giant prawn with an average weight 0.407 ± 0.005 g/ind. The type and dose of additive used were A (20 g/L zeolite + 10 g/L active carbon + 14 µL/L clove oil), B (20 g/L zeolite + 10 g/L active carbon + 9.33 µL/L clove oil), C (20 g/L zeolite + 10 g/L active carbon + 4.67 µL/L clove oil), D (20 g/L zeolite + 10 g/L active carbon + 1.87 µL/L clove oil), K+ (20 g/L zeolite + 10 g/L active carbon), and K- (without material addition). The glucose concentration of treatment B and C significantly different with treatment A, D, K+, K-. Total protein of treatment A, B, C and K+ significantly different with treatment K-. DO, TAN, and temperature of the transportation media were still in the suitable concentration for living of giant prawn. The highest survival of the prawn was observed in group C. The result showed the combination of 20 g/L zeolite + 10 g/L active carbon + 4.67 µL/L clove oil in the water is suitable for closed transportation system for juvenile giant freshwater prawn. Keywords: glucose concentration, total protein, DO, TAN, temperature  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh pemberian zeolit, karbon aktif, dan minyak cengkeh terhadap kualitas air (dissolved oxygen/DO, total ammonia nitrogen/TAN, suhu) dan kualitas biologi (konsentrasi glukosa, total protein, tingkat kelangsungan hidup/TKH) benih udang galah Macrobrachium rosenbergii pada sistem transportasi tertutup. Penelitian dilakukan pada skala laboratorium dengan rancangan acak lengkap. Biota yang digunakan yaitu benih udang galah dengan bobot rata-rata 0,407±0,005 g/ekor. Dosis bahan tambahan yang digunakan adalah: A (20 g/L zeolit + 10 g/L karbon aktif + 14 µL/L minyak cengkeh), B (20 g/L zeolit + 10 g/L karbon aktif + 9,33 µL/L minyak cengkeh), C (20 g/L zeolit + 10 g/L karbon aktif + 4,67 µL/L minyak cengkeh), D (20 g/L zeolit + 10 g/L karbon aktif + 1,87 µL/L minyak cengkeh), K+ (20 g/L zeolit + 10 g/L karbon aktif), dan K- (tanpa bahan tambahan). Konsentrasi glukosa perlakuan B dan C berbeda nyata dengan perlakuan A, D, K+, K-. Total protein perlakuan A, B, C, D, dan K+ berbeda nyata dengan perlakuan K-. DO, TAN dan suhu media transportasi masih sesuai dengan kehidupan udang galah. Tingkat kelangsungan hidup transportasi tertinggi yaitu pada perlakuan C. Hasil menunjukkan bahwa kombinasi 20 g/L zeolit + 10 g/L karbon aktif + 4,67 µL/L minyak cengkeh adalah perlakuan yang sesuai untuk transportasi tertutup benih udang galah. Kata kunci: konsentrasi glukosa, total protein, DO, TAN, suhu
Induced maturation of eel weighed 100–150 gram with PMSG, antidopamine, and 17α-methyltestosterone Aryani, Nadia Mega; Sudrajat, Agus Oman; Carman, Odang
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4500.348 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.135-143

Abstract

ABSTRACT Marketed eel Anguilla bicolor bicolor is commonly produced from larvae rearing activity whose broodstocks and larvae are caught from the nature. Supply of eel broodstock is restricted by its life cycle and uncertain size variation of mature male and female. This study was aimed to evaluate the effect of hormonal induction through injection to enhance masculinization and gonadal maturation of eel at the weight of 100–150 g. The experiment used completely random design with the use of combination pregnant mare serum gonadotropin  (PMSG), antidopamine (AD), dan 17α-methyltestosterone (MT), which were (10 IU/kg PMSG + 0,01 mg/kg AD), P2 (20 IU/kg PMSG + 0,01 mg/kg AD), P3 (10 IU/kg PMSG + 0,01 mg/kg AD + 150 µg/kg MT), P4 (20 IU/kg PMSG + 0,01 mg/kg AD + 150 µg/kg MT), and P5 (control; without hormonal treatment). The result showed that an increasing of fish length along with fish weight were performed by treatment P4 and P3. The highest gonadosomatic index value was obtained by treatment P3 (1,3030±0,24262). Based on gonadal histology analysis, 2nd phase of spermatogonia development was found in P3 in week-8. The highest testosterone level was obtained by treatment P3, followed by P4, P2, and P1 in week-4. Combination of 10 IU/kg PMSG + 0,01 mg/kg AD + 150 µg/kg MT could enhance masculinization and gonadal maturation of eel in eight weeks of rearing period. Keywords: gonadal maturation, Anguilla bicolor bicolor, PMSG, AD, MT  ABSTRAK Ikan sidat Anguilla bicolor bicolor yang dipasarkan pada umumnya merupakan hasil usaha pembesaran yang benih dan induknya masih diperoleh dari alam. Penyediaan induk ikan sidat terkendala dengan siklus hidup dan variasi perbedaan ukuran induk ikan sidat jantan dan betina matang gonad yang belum pasti. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran induksi hormonal yang disuntikkan pada ikan sidat dalam mempercepat proses pematangan gonad ikan sidat ukuran 100–150 g. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen rancangan acak lengkap dengan kombinasi pregnant mare serum gonadotropin (PMSG), antidopamin (AD), dan  17α-metiltestosteron (MT) sebagai berikut P1 (10 IU/kg PMSG + 0,01 mg/kg AD), P2 (20 IU/kg PMSG + 0,01 mg/kg AD), P3 (10 IU/kg PMSG + 0,01 mg/kg AD + 150 µg/kg MT), P4 (20 IU/kg PMSG + 0,01 mg/kg AD + 150 µg/kg MT), dan P5 (kontrol; tanpa perlakuan hormon). Hasil penelitian menunjukkan peningkatan pertambahan panjang seiring dengan pertambahan bobot diperoleh dari perlakuan P4 dan P3. Indeks gonadosomatik tertinggi diperoleh dari perlakuan P3 (1,3030±0,24262). Hasil histologi gonad ditemukan perkembangan spermatogonia fase 2 pada P3 di minggu kedelapan. Konsentrasi testosteron tertinggi didapat dari perlakuan P3 kemudian diikuti P4, P2, dan P1 pada minggu keempat. Kombinasi hormon 10 IU/kg PMSG + 0,01 mg/kg AD + 150 µg/kg MT dapat mempercepat pematangan gonad dan pertumbuhan pada ikan sidat selama delapan minggu pemeliharaan. Kata kunci: pematangan gonad, Anguilla bicolor bicolor, PMSG, AD, MT 
Sexual dimorphism related to growth in climbing perch Anabas testudineus Hidayat, Rahmat; Carman, Odang; Alimuddin, ,
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3170.908 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.8-14

Abstract

 ABSTRCT The phenomenon that often occurs in climbing perch culture (Anabas testudineus, Bloch) is a significant size difference between individuals of male and female those lead to high variation in culture yields. In addition to genetic factors, the difference possibly reflects the sexual dimorphism in this fish; female grows faster than male. This research was conducted to examine sexual dimorphism related to growth quantitatively. Sixty individuals of 45-days old juvenile derived from mating of five pairs broods were randomly picked up and reared individually in 20×20×100 cm3 net cages for 135 days. Fish were fed on commercial feed (30% protein) three times a day at 10% feeding rate. Body weight and body length were individually recorded every 15 days, sex was determined at the end of the experiment by surgering the fish and gonad was weighed to calculate gonadosomatic index (GSI). The results showed that growth and specific growth rate of female were 1.17 and 1.48 fold respectively higher than male. This result indicates that female monosex culture of climbing perch is highly promising. Keyword: dimorphism, growth, climbing perch, Anabas testudineus  ABSTRAK Salah satu fenomena yang sering dijumpai dalam budidaya ikan papuyu (Anabas testudineus, Bloch) adalah perbedaan ukuran yang mencolok antara individu jantan dan betina yang menyebabkan hasil panen ikan sangat bervariasi. Selain faktor genetik, perbedaan ini diduga disebabkan oleh adanya dimorfisme seksual terkait pertumbuhan. Penelitian ini dilakukan untuk menguji dimorfisme seksual terkait dengan pertumbuhan ikan papuyu secara kuantitatif. Benih ikan umur 45 hari hasil pemijahan lima pasang induk diambil secara acak sebanyak 60 ekor dan dipelihara selama 135 hari secara individu di dalam 60 unit hapa (20×20×100 cm3). Ikan diberi pakan komersial (protein 30%) tiga kali sehari sebanyak 10% bobot tubuh. Bobot dan panjang semua ikan dicatat setiap 15 hari sekali, jenis kelamin ditentukan di akhir penelitian dengan cara membedah, mengamati gonad, dan menimbangnya untuk menentukan indeks gonadosomatik (IGS). Hasil penelitian membuktikan adanya dimorfisme seksual terkait pertumbuhan pada ikan papuyu; pertumbuhan bobot mutlak dan laju pertumbuhan bobot harian ikan betina masing-masing 1,48 kali dan 1,17 kali lebih tinggi dibandingkan dengan ikan jantan. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa pengembangan budidaya ikan papuyu monoseks betina prospektif untuk dilakukan. Kata kunci: dimorfisme, pertumbuhan, papuyu, Anabas testudineus 
Triploid striped catfish Pangasianodon hypophthalmus: growth performance and gonadal development Ibrahim, Yusran; Soelistyowati, Dinar Tri; Carman, Odang
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3935.494 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.1.76-82

Abstract

ABSTRACT  This study was aimed to evaluate the growth performance and gonadal development of diploid and triploid striped catfish Pangasianodon hypophthalmus. Triploids were produced through a heat shock method at 42 °C for two minutes, at two minutes after fertilization. Before treatment performed, group of triploid and diploid were separated through nucleolus counting confirmed cromoseme counting. Five individual of each group at the age of nine months were tagged and reared for two months. Parameter of growth performance, feed conversion ratio, and survival rate were analysed using independent-samples t-test at confidence interval 95%, while gonadosomatic index (GSI) and gonad histology were analysed descriptively. No significant differences were observed between diploid and triploid fish in terms of growth performance, feed conversion ratio, and survival rate (P>0.05) during the two months rearing period, while GSI was higher in diploid (P<0.05) compared to triploid females. Histological observations of triploid female gonads showed early development stage, indicating sterility through symptoms such as oocytes degradation and abnormal development. Meanwhile, male gonad developed faster compared to female as spermatids were found in several lobules. As conclusion, diploid and triploid striped catfish P. hypophthalmus growth performance did not differ up to the age of 11 months, although some sterility symptoms were observed in both male and female. Keywords: diploid, triploid, growth, gonad, Pangasianodon hypophthalmus   ABSTRAK  Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi performa pertumbuhan dan perkembangan gonad ikan patin siam Pangasianodon hypophthalmus diploid dan triploid. Triploid diproduksi dengan kejut suhu panas pada suhu 42 °C selama dua menit, pada dua menit setelah fertilisasi. Sebelum pengujian, kelompok diploid dan triploid dipisahkan dengan menganalisis jumlah nukleolus yang dikonfirmasi dengan penghitungan jumlah kromosom. Masing-masing lima ekor ikan diploid dan triploid pada umur sembilan bulan ditandai dan dipelihara selama dua bulan. Parameter pertumbuhan, rasio konversi pakan, dan kelangsungan hidup dianalisis menggunakan independent-samples t-test pada selang kepercayaan 95% sedangkan gonadosomatik indeks (GSI) dan histologi gonad dianalisis secara deskriptif. Pertumbuhan, rasio konversi pakan, dan kelangsungan hidup antara diploid dan triploid selama dua bulan pemeliharaan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05). Nilai GSI diploid lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan triploid, baik pada jantan maupun betina. Hasil histologi menunjukkan bahwa gonad ikan patin betina masih pada tahap perkembangan awal. Namun, indikasi steril terlihat dengan adanya degradasi oosit dan perkembangannya yang terganggu. Gonad jantan berkembang lebih cepat dibandingkan betina, dengan ditemukannya spermatid pada beberapa lobule. Gonad jantan triploid menunjukkan adanya gejala sterilitas tetapi tidak permanen, sebagian masih mampu berkembang hingga fase spermatid, namun jumlahnya lebih sedikit dibandingkan diploid. Berdasarkan penelitian, disimpulkan bahwa pertumbuhan antara ikan patin siam diploid dan triploid hingga umur 11 bulan tidak menunjukkan perbedaan, akan tetapi gejala sterilitas ditemukan baik pada jantan maupun betina triploid. Kata kunci: diploid, triploid, pertumbuhan, gonad, Pangasianodon hypophthalmus
Vaccination in Nile tilapia broodstock with whole cell vaccine and disease resistance in its fry against Aeromonas hydrophila Sukenda, Sukenda; Carman, Odang; Rahman, Rahman; Hidayatullah, Dendi; Yumaidawati, Nurfitriani Siti
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3317.974 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.2.268-276

Abstract

ABSTRACT The aim of this study was to analyze the effectivity of vaccination in Nile tilapia broodstock with whole cell vaccine and disease resistance in fry tilapia against Aeromonas hydrophila. Tilapia Nirwana strain that used for this had average body weight of 185±13.23 g and were maintained in ponds sizing of (2.5×2.5×1 m3). Vaccinations that has been done through intraperitoneal injection using dose of 0.1 mL/fish, meanwhile the fish for control was injected by phosphate buffered saline (PBS). This study used complete randomized design with two treatments and three replications. Antibody level was measured by using indirect enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) method in the broodstock, egg, and fry.  Challenge test in fry tilapia performed at the age of 5, 10, and 15 days. The results showed that vaccination in tilapia broodstock delivered a significant antibody level in broodstock, eggs, and fry (P<0.05) compared to the control. Relative percent survival of offspring at 5, 10, and 15 days were 78.26%, 70.59%, and 65.52%, respectively.  As a conclusion, vaccination in tilapia broodstock was effective to improve specific and non-specific immunity, and protect fry tilapia from A. hydrophila infection through maternal immunity. Keywords: vaccination, antibody, maternal immunity, tilapia, Aeromonas hydrophila  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efikasi vaksinasi pada induk nila dengan vaksin sel utuh dan ketahanan benih yang dihasilkan terhadap Aeromonas hydrophila. Ikan nila stain Nirwana yang digunakan dalam penelitian memiliki bobot rata-rata 185±13,23 g dan ikan dipelihara dalam kolam (2,5×2,5×1 m3). vaksinasi dilakukan melalui penyuntikan intraperitoneal dengan dosis 0,1 mL/ikan, sementara itu ikan kontrol disuntik dengan phosphate buffered saline (PBS). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan dua perlakuan dan tiga ulangan. Tingkat antibodi diukur dengan menggunakan metode indirect enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) pada induk, telur dan benih. Uji tantang pada benih dilakukan pada umur 5, 10, dan 15 hari. Hasil penelitian menunjukan bahwa vaksinasi pada induk nila secara signifikan dapat meningkatkan level antibodi pada induk, telur, dan benih (P<0,05) dibandingkan dengan kontrol. Kelangsungan hidup relatif pada benih berumur 5, 10, dan 15 hari masing-masing adalah 78,26%; 70,59%; dan 65,52%. Sebagai kesimpulan vaksinasi pada induk nila efektif dalam memperbaiki imunitas spesifik dan non spesifik serta melindungi benih dari infeksi A. hydrophila melalui imunitas maternal. Kata kunci: vaksinasi, antibodi, imunitas maternal, ikan nila, Aeromonas hydrophila
Stimulation of gonad maturation in mullet fish Mugil dussumieri using MT, E2, hCG, and Ovaprim hormone Cahyono, Tatak Dwi; Junior, Muhammad Zairin; Carman, Odang
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4208.618 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.1.9-22

Abstract

ABSTRACT The present study is a preliminary research for producing mullet fry to aquaculture. The research aimed to evaluate stimulation of gonad maturation in mullet (Mugil dussumieri) using hormones. The method used for research was completely randomized design consisting of three treatments and each individual replication was repeated three times. Two experiments were conducted separately with different treatments. First experiment used 9-14.7 cm body length of fish treated with different hormone injections i.e. 4 mg/kg 17α-methyltestosterone (MT), 0.07 mg/kg estradiol-17β (E2), and 0.5 ml/kg 0.9% physiological solution as control. Second experiment used 10-31 cm body length fish treated with 750 IU/kg chorionic gonadotropin (hCG), 0.5 ml/kg Ovaprim, and 0.9% physiological solution as control. Gonadosomatic index (GSI) value of the first experiment on day 60 showed that GSI of E2 treatment (1.31±0.94%) was higher than both MT treatment (1.00±0.51%) and control (0.54±0.20%). On the other hand, the second experiment on day 60 showed that GSI of hCG treatment (7.18±0.59%) was higher than both Ovaprim treatment (3.29±2.66%) and control (6.72±0.32%). Egg diameter frequency distribution for control in the first experiment on day 30 showed that egg size ranged from 9−144 µm. Egg diameter for E2 and MT treatments on day 60 showed that egg size ranged from 9−243 µm and were higher than control. In the second experiment, egg diameter on day 30 for control showed that egg size ranged from 9-144 µm, hCG treatment showed egg size ranged from 9−441 µm, while Ovaprim egg size ranged from 9-111 µm. Blood glucose, blood cholesterol, testosterone and estradiol hormone level in the first and second experiment showed no significant difference. The results showed that estradiol-17β and 17α-methyltestosterone induction in 9-14.7 cm body length mullet increase gonad maturity to stage II while hCG induction in 10-31 cm body length mullet increase gonad maturity to stage III. Keywords : estradiol-17β, hCG, 17α-methyltestosterone, Mugil dussumieri, Ovaprim ABSTRAK Penelitian merupakan rintisan untuk menghasilkan benih ikan belanak dalam wadah budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pematangan gonad ikan belanak Mugil dussumieri menggunakan hormon. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri dari tiga perlakuan dan tiga kali ulangan individu. Terdapat dua percobaan dengan perlakuan berbeda dan dilakukan secara terpisah. Percobaan pertama menggunakan ikan berukuran 9−14.7 cm dengan hormon 17α-metiltestosteron (MT) 4 mg/kg, estradiol-17β (E2) 0.07 mg/kg dan kontrol larutan fisiologis 0.9% 0.5 ml/kg. Percobaan kedua menggunakan ikan berukuran 10−31 cm dengan human chorionic gonadotropin (hCG) 750 IU/kg, Ovaprim 0.5 ml/kg dan kontrol larutan fisiologis 0.9 % 0.5 ml/kg. Nilai gonadosomatic index (GSI) percobaan pertama pada hari ke-60 menunjukkan bahwa pemberian estradiol-17β (1.31±0.94%) lebih tinggi dibandingkan 17α-metiltestosteron (1.00±0.51%) dan kontrol (0.54±0.20%). Hasil percobaan kedua pada hari ke-60 nilai GSI menunjukkan bahwa pemberian hCG (7.18±0.59%) lebih tinggi dibandingkan Ovaprim (3.29±2.66%) dan kontrol (6.72±0.32%). Sebaran frekuensi diameter telur pada percobaan pertama untuk kontrol hari ke-30 menunjukkan kisaran 9−144 µm. Sebaran frekuensi diameter telur untuk estradiol-17β dan 17α-metiltestosteron hari ke-60 menunjukkan kisaran 9−243 µm lebih banyak dibandingkan kontrol. Sebaran frekuensi diameter telur pada percobaan kedua untuk kontrol hari ke-30 menunjukkan kisaran 9−144 µm, hCG 9−441 µm sedangkan Ovaprim hanya 9−111 µm. Kadar glukosa darah, kolesterol darah, hormon testosteron dan estradiol pada percobaan pertama dan percobaan kedua menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa induksi hormon estradiol-17β dan 17α-metiltestosteron pada ikan berukuran 9−14.7 cm dapat meningkatkan kematangan gonad mencapai TKG II sedangkan induksi hormon hCG pada ikan berukuran 10−31 cm dapat meningkatkan kematangan gonad mencapai TKG III. Kata kunci : estradiol-17β, hCG, 17α-metiltestosteron, Mugil dussumieri, Ovaprim
Effect of zinc (Zn) supplementation on quality and quantity of striped catfish Pangasianodon hypophthalmus sperm Kaliky, Nunun Ainun Putri Sari Banun; Setiawati, Mia; Carman, Odang; Utomo, Nur Bambang Priyo
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3415.809 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.1.46-53

Abstract

ABSTRACT This study aimed to evaluate the effects of Zinc (Zn) supplementation on the quality and quantity of striped catfish sperm. Experimental design for this study was a complete randomized design with five treatments and five replications. Male broods fed with Zn supplementation for eight weeks. The Zn supplemented into the fish diet at different concentrations (0, 50, 100, 150 and 200 mg/kg of feed). The results showed that Zn supplementation could improve the quality and quantity of striped catfish sperm. The treatments also showed significant effects on semen volume, sperm motility, sperm viability, and sperm concentration (P<0.05). Zn supplementation at a dose of 200 mg/kg feed demonstrated the best result has indicated by enhancement of quality and quantity of striped catfish sperm, increasing 51% of the volume, 11.6% of motility, 5.81% of viability, 54.1% of concentrations. The results suggested that Zn played an important role in improving reproductive performances of male striped catfish reproduction. Keywords: quality of sperm, a quantity of sperm, striped catfish, supplementation zinc                                                                                            ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suplementasi Zinc (Zn) terhadap kualitas dan kuantitas sperma ikan patinPangasianodon hypophthalmus. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan  lima perlakuan danlima ulangan. Induk jantan diberi pakan dengan suplementasi Zn selama 8 minggu. Zn disuplementasikan dengan dosis berbeda (0, 50, 100, 150 dan 200 mg/kg pakan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi Zn dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas sperma ikan patin sehingga berpengaruh signifikan terhadap volume semen, motilitas, viabilitas dan konsentrasi sperma (P<0,05). Suplementasi Zn pada dosis pakan 200 mg/kg menunjukkan hasil terbaik yang ditunjukkan oleh peningkatan kualitas dan kuantitas sperma ikan patin 51% volume; 11,6% motilitas; 5,81% viabilitas; 54,1% konsentrasi sperma. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Zn memainkan peran penting dalam meningkatkan reproduksi ikan patin. Kata kunci: kualitas dan kuantitas sperma, Ikan patin, suplementasi Zn 
Evaluation of karamunting Melastoma malabathricum L leaf extract on gonad development and growth performance of tilapia Oreochromis niloticus Samalei, Ermianus; Zairin Jr., Muhammad; Carman, Odang; Suprayudi, Muhammad Agus
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.20.1.1-13

Abstract

The objective of this study was to determine the optimum dose of melastoma Melastoma malabathricum leaf extract that can inhibit the gonad development of Nile tilapia and increase its growth rate. This study used a completely randomized design containing five extract dose treatments (0, 0.5, 1, 2, and 4 g/kg diet doses) and three replications. The undifferentiated Nile tilapia larvae (7 days post hatching) were randomly distributed (n=30) to fifteen aquaria (100×50×50 cm3) and maintained for 112 days using a common recirculation system. The results showed that all dose treatments were not significantly different (P>0.05) in gonadosomatic index values of the D84 and D98 samplings. However, the 1 g/kg diet (D112) was significantly different (P<0.05) in all dose treatments. The final histological results (D112) showed that the 1 g/kg diet obtained the highest inhibition level of the testis and ovary developments, which were still in stage II compared to 0.5 g/kg diet (stage III) and control (stage IV and V). The highest average weight, absolute growth rate, and specific growth rate were obtained in the 1 g/kg diet dose which was significantly different (P<0.05) compared to the control. The percentage of males increased significantly (P<0.05) following the increased dose treatment fed to the fish (4 g/kg diet) with 80.12±4.67%, but the survival rate significantly decreased (P<0.05) compared to the control. The administration of 1 g/kg diet dose obtained the best dose and potential as an inhibiting agent for gonad development in Nile tilapia. Keywords: Melastoma malabathricum, gonad inhibition, cytosterol, Oreochromis niloticus ABSTRAK Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk menentukan dosis optimum ekstrak daun melastoma Melastoma malabathricum yang dapat menghambat perkembangan gonad ikan nila sehingga meningkatkan laju pertumbuhan somatik dan mengevaluasi efektivitasnya sebagai agen seks reversal alami. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri atas lima perlakuan (dosis 0; 0,5; 1,0; 2,0; dan 4,0 g/kg pakan) dan tiga ulangan. Larva ikan nila sebelum kelamin terdiferensiasi (7 hari pascatetas) secara acak (n=30) dimasukkan ke dalam 15 buah akuarium (100×50×50 cm3) dan dipelihara selama 112 hari pada sistem resirkulasi. Hasil menunjukkan bahwa semua perlakuan tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap nilai GSI pada sampling D84 dan D98. Namun, perlakuan 1 g/kg pakan pada sampling D112 berbeda nyata (P<0,05) dengan semua perlakuan. Hasil histologi terakhir (D112) menunjukkan bahwa perlakuan 1 g/kg pakan mengindikasikan penghambatan perkembangan testis dan ovari yang paling besar yang masing-masing berada pada TKG II, dibandingkan dengan perlakuan 0,5 g/kg pakan (TKG III), dan dibandingkan dengan kontrol (TKG IV dan TKG V). Pengamatan terhadap bobot rata-rata, laju pertumbuhan mutlak, dan laju pertumbuhan harian tertinggi diperoleh pada perlakuan 1 g/kg pakan yang berbeda nyata (P<0,05) dibandingkan dengan kontrol. Persentase jantan meningkat secara signifikan (P<0,05) seiring meningkatnya konsentrasi ekstrak yang mencapai 80,12±4,67% pada perlakuan 4 g/kg pakan, namun tingkat kelangsungan hidup menurun secara signifikan (P<0,05) dibandingkan dengan kontrol. Pada keseluruhan parameter, pemberian ekstrak 1 g/kg pakan merupakan dosis terbaik dan potensial sebagai agen penghambat perkembangan gonad pada ikan nila. Kata kunci:Melastoma malabathricum, penghambatan gonad, sitosterol, Oreochromis niloticus
The use of different 17β-estradiol hormone doses and water temperatures to control cannibalism in catfish Clarias gariepinus seed Putri, Hylda Khairah; Zairin Jr., Muhammad; Carman, Odang; Diatin, Iis
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.19.2.171-180

Abstract

Cannibalism is a major problem in the intensive catfish hatchery that caused high mortality. This phenomenon is allegedly due to the high level of testosterone hormones in the early larvae and seed stages. Testosterone is a maternal steroid hormone that is transferred directly by the parent to the egg. Catfish broodstock has high testosterone levels during the gonad maturation phase and it enters the eggs during the process of vitellogenesis. A high level of testosterone is considered to cause catfish seeds to behave aggressively and subsequently encourage cannibalism. This testosterone level may be reduced by estrogen through a negative feedback mechanism. This experiment aimed to evaluate the use of several 17β-estradiol doses at different water temperatures to control cannibalism in catfish seeds. This experiment used two factors, i.e. 17β-estradiol doses (0, 20, and 50 mg/kg) coated in the diet and water temperatures (28 and 31°C). The results showed that 17β-estradiol levels in catfish seeds increased with increasing experimental length. The use of 17β-estradiol at low water temperature (28°C) was better in decreasing mortality, while the dose of 50 mg/kg17β-estradiol which applied at 28°C was the best combination in controlling cannibalism on catfish seeds. Keywords: 17β-estradiol, cannibalism, Clarias gariepinus, seed. ABSTRAK Kanibalisme merupakan salah satu masalah utama dalam pembenihan ikan lele intensif karena menyebabkan kematian yang tinggi. Fenomena ini diduga karena kadar hormon testosteron yang tinggi pada tahap larva dan benih. Testosteron merupakan hormon steroid maternal yang ditransfer secara langsung oleh induk ke telur. Induk ikan lele memiliki kadar testosteron yang tinggi pada fase pematangan gonad dan masuk ke dalam telur selama proses vitelogenesis. Tingginya kadar testosteron diduga menyebabkan benih berperilaku agresif dan akan mendorong kanibalisme. Kadar testosteron dapat ditekan dengan meningkatkan kadar hormon estrogen melalui mekanisme feedback negatif. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan dosis estradiol-17β dan suhu pemeliharaan yang berbeda untuk mengendalikan kanibalisme pada benih ikan lele. Penelitian ini menggunakan dua faktor yaitu dosis estradiol-17β yang berbeda (0, 20, dan 50 mg/kg) yang diberikan melalui pakan, dan suhu pemeliharaan yang berbeda (28 dan 31°C). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi estradiol-17β pada benih ikan lele meningkat seiring dengan lamanya pemeliharaan. Penggunaan estradiol-17β pada suhu 28°C lebih baik dalam mengurangi mortalitas, sementara dosis estradiol-17β 50 mg/kg pada suhu pemeliharaan 28°C adalah kombinasi terbaik dalam mengendalikan kanibalisme pada benih ikan lele. Kata kunci: benih, Clarias gariepinus, estradiol-17β, kanibalisme.
The ontogenic study of early life stages of culture-bred Nomorhamphus sp. (Zenarchopteridae) from Lindu, Central Sulawesi Herjayanto, Muh; Carman, Odang; Tri Soelistyowati, Dinar; Alimuddin; Wicaksono, Aryo Wenang; Arfah, Harton
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.2.179-186

Abstract

Nomorhamphus sp. is a freshwater fish that has been traded as an ornamental fish. This fish is unique as an endemic species with a halfbeak-like jaw and orange color on the caudal fin. However, this fish culture information needs a further information. Based on this condition, it is necessary to conduct a study as a basis for ornamental fish breeding and growing-out activities through domestication. A crucial problem in this fish is larval rearing, which can be observed through ontogeny studies. The study was conducted on the newly-born larval behavior, morphological development, andropodium development, growth, and survival rate at the early stages, namely larvae to juvenile. The results showed that the newly-born larvae of Nomorhamphus sp. Lindu had a total length of 1.6-1.8 cm. Larvae could swim four hours 22 minutes after birth and feed artemia nauplii with surface feeding type. The initial juvenile stage occurred 25 days of post-birth period with a total length of 2.0-2.2 cm. The water condition of the rearing during the study could support the larval transformation to juvenile. This study is the first report related to the aquaculture success of the early life stage of Nomorhamphus sp. Lindu at the domestication stage. Keywords: andropodium, domestication, endemic halfbeak, larva development, surface feeding ABSTRAK Nomorhamphus sp. adalah ikan air tawar yang telah diperdagangkan sebagai ikan hias. Ikan ini memiliki keunikan pada statusnya sebagai spesies endemik, bentuk mulut menyerupai paruh setengah (halfbeak), dan warna oranye pada sirip ekor. Namun informasi budidayanya belum diketahui dengan baik. Karena itu perlu dilakukan kajian sebagai dasar dalam kegiatan pengembangbiakan dan pembesaran sebagai ikan hias melalui domestikasi. Salah satu kegiatan penting dalam budidaya yaitu pemeliharaan larva yang dapat diamati melalui studi ontogeni. Kajian pada studi awal ini dilakukan pada stadia awal hidup yaitu larva sampai juvenil. Pengamatan dilakukan pada tingkah laku larva pascalahir, perkembangan morfologi, perkembangan andropodium, pertumbuhan dan sintasan pada lingkungan budidaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larva Nomorhamphus sp. Lindu yang baru dilahirkan memiliki panjang total 1,6-1,8 cm. Larva telah dapat berenang pada umur empat jam 22 menit pascalahir (pcl) dan bisa makan naupli artemia dengan tipe surface feeding. Stadia awal juvenil terlihat pada umur 25 hari pcl dengan ukuran panjang total 2,0-2,2 cm. Kondisi media pemeliharaan selama penelitian dapat mendukung kehidupan larva sampai juvenil. Penelitian ini merupakan catatan pertama terkait keberhasilan budidaya stadia awal hidup Nomorhamphus sp. Lindu pada tahap domestikasi. Kata kunci: andropodium, domestikasi, ikan endemik, tipe makan permukaan, perkembangan larva
Co-Authors ', Alimuddin , Alimuddin , Rahman, , . Syafiuddin Abinawanto Abinawanto Agus Oman Sudrajat Ahmad Teduh Alimuddin Alimuddin , Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin AM, NM Fatih Asror Amalia Hayati Anang Hari Kristanto Andi Aliah Hidayani Andri Iskandar Angraini, Siti Rena Yulia ANNA OCTAVERA Aulia Saputra Aulia Saputra Avarre, Jean-Christophe Ayi Santika Ayuningtias, Astri Cahyono, Tatak Dwi Chairul Muluk Ching-Fong Chang D.S. Sjafei Dede Hermawan DEDI JUSADI Dendi Hidayatullah, Dendi Deni Radona Deni Radona Deni Radona Deni Radona, Deni Dian Eka Ramadhani Dian Hardiantho Dian R Herdianto Didik Ariyanto Didik Ariyanto Dinar Tri Soelistyowati Dita Puji Laksana Djamhuriyah S. Said Dwi Hany Yanti Eddy Supriyono Elfrida Ratnawati Enang Harris Eni Kusrini Eni Kusrini, Eni Estu Nugroho Eva Ayuzar, Eva Fajar Maulana . Fataya, Salsabilla Galby Fauzan Wahib Alsani Firda Amalia Sukma Firmansyah, Rodhi Flandrianto S. Palimirmo Giri Maruto Darmawangsa GORO YOSHIZAKI Goro Yoshizaki Goro Yoshizaki Guan-Chung Wu Handika Gilang Pramana Putra Harton Arfah Hasan Nasrullah Hendriana, Andri Herjayanto, Muh. Hidayat Hidayat Hylda Khairah Putri, Hylda Khairah I. Andriani I. Herviani Ibrahim Satrio Faqih Ibrahim, Yusran Iis Diatin Indra Lesmana Indriastuti, Cecilia Eny Irin Iriana Kusmini IRMA ANDRIYANI Irvan Faizal Irvan Faizal Irvan Faizal Irwan Irwan Iskandar, Andri Jasmadi Jasmadi Jr, Muhammad Zairin Juanda, Tatang K. Sumantadinata Kadarusman . Kaliky, Nunun Ainun Putri Sari Banun Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Kukuh Adiyana, Kukuh Laurent Pouyaud Lies Emmawati Hadie Lies Emmawati Hadie Lina Mulyani Lola Irma Purwanti M. Rafi M. Syaifudin M. Syukur M. Zairin Junior Maharani, Adinda Marlina Achmad Maskur Maskur Maulana, Fajar MH. Fariduddin Ath-thar Mia Setiawati Moh. Abduh Nurhidayat Mubinun Mubinun Muh. Herjayanto Muhamad Fathurrizki Darmawan Muhamad Syukur MUHAMMAD AGUS SUPRAYUDI Muhammad Fakhri Muhammad Muhammad Muhammad Sami Daryanto Muhammad Zairin Muhammad Zairin Muhammad Zairin Jr Muhammad Zairin Jr. Muslim Muslim Musthofa, Siti Zuhriyyah N. Sugiri Nadia Mega Aryani, Nadia Mega Nasrullah, Hasan Novi Megawati Nugraha, Media Fitri Isma Nur Bambang Priyo Utomo Nurfauzi, Eka Haris Nurjannah, Lilis Prama Hartami Raden Roro Sri Pudji Sinarni Dewi Rahma Vida Anandasari, Rahma Vida Rahman Rahman Rahmat Hidayat Rahmi, Kurnia Anggraini Ratu Siti Aliah Rezki, Dinda Wahyu RIDWAN AFFANDI Rifki Perdian, Muhammad Ronny Rachman Noor Rudhy Gustiano Rudhy Gustiano Ruliaty, Lisa S. Purwati Salamah , Salamah Samalei, Ermianus Sholihin, Hidayatush Sinansari, Shofihar Siregar, Budyansah Siti Subaidah Siti Subaidah Sri Nuryati Sri Setyo Wulandari, Sri Setyo Sri Sundari Subandriyo Subandriyo Sukenda . Sukenda Sukenda Sulistyowati, Dinar Tri Sumie Etoh Syahril, Alfis Toshio Takeuchi Tristiana Yuniarti Urabi, Debby Wartono Hadie Wartono Hadie Wasmen Manalu Wedaraningtyas Nugrahani Wibowo, Kesit Tisna Wicaksono, Aryo Wenang Yogi Himawan Yumaidawati, Nurfitriani Siti Yuni Puji Hastuti Zairin Jr., Muhammad