Claim Missing Document
Check
Articles

Optimization of salinity range for rearing glass eel Anguilla bicolor bicolor Hesti Lukas, Ade Yulita; Djokosetiyanto, Daniel; Budiardi, Tatag; Sudrajat, Agus Oman; Affandi, Ridwan
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3383.063 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.2.215-222

Abstract

ABSTRACT Fasting is one of a method that used for measured growth of fish in a shorter period of time. This study was aimed to determine the optimum range of salinity for improve the survival and growth of glass eel Anguilla bicolor bicolor. It used a completely randomized design (CRD) with four salinity treatments and three replications, namely (A) 0 g/L, (B) 10 g/L, (C) 20 g/L, and (D) 30 g/L. The fish used were of glass eel A. bicolor bicolor with 0.15–0.23 g of weight. The experiment was conducted in an aquarium of 60×30×30 cm with a volume of 30 Liters and at a stocking density of 2 g/L for 14 days. During the maintenance, glass eels were fasted for have a significantly of biomass decline. Data collection was done at the start and the end of maintenance. Parameters measured included survival (%) and the rate of decline in absolute biomass (g). Physical and chemical parameters included temperature, dissolved oxygen, and pH which were measured daily, while ammonia and alkalinity were measured every seven days. Result showed that survival was not significantly different between treatments (P>0.05), while the rate of decline in absolute biomass was significantly different between treatments (P<0.05). Treatments of 0 g/L salinity was the lowest survival than the others. While treatment of 10 g/L salinity was the lowest rate of decline in absolute biomass. According to research, the optimum salinity was 10 g/L, and after analysis with quadratic regression analysis, the optimum range of salinity were 5.00–13.40 g/L. Keywords: optimum salinity, survival, growth, glass eel, Anguilla bicolor bicolor  ABSTRAK Pemuasaan merupakan salah satu metode pengukuran perubahan bobot ikan yang dipelihara dalam waktu singkat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kisaran salinitas optimum untuk meningkatkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan glass eel Anguilla bicolor bicolor. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL), dengan empat perlakuan salinitas dan tiga ulangan, yaitu (A) 0 g/L, (B) 10 g/L, (C) 20 g/L, dan (D) 30 g/L. Penelitian dilakukan selama 14 hari.  Ikan yang digunakan adalah glass eel A. bicolor bicolor dengan bobot 0,15–0,23 g dengan padat tebar 2 g/L. Pemeliharaan dilakukan di akuarium berukuran  60×30×30 cm dengan volume air 30 Liter/akuarium. Selama pemeliharaan glass eel dipuasakan sehingga diperoleh penurunan biomassa yang signifikan. Pengambilan sampel data dilakukan setiap tujuh hari berupa kelangsungan hidup (%) dan laju penurunan biomassa mutlak (g). Parameter fisika kimia air berupa ammonia dan alkalinitas dilakukan setiap tujuh hari, sedangkan suhu, oksigen terlarut (DO), dan pH dilakukan setiap hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelangsungan hidup tidak berbeda nyata antar perlakuan (P>0,05) sedangkan laju penurunan biomassa mutlak berbeda nyata antar perlakuan (P<0,05). Berdasarkan hasil penelitian, salinitas 10 g/L, 20 g/L, dan 30 g/L  menunjukkan kelangsungan hidup 100%, sedangkan salinitas 0 g/L memberikan kelangsungan hidup terendah. Salinitas 10 g/L menunjukkan pemakaian energi terendah untuk metabolisme tubuh sehingga memberikan penurunan bobot biomassa terendah dibandingkan dengan perlakuan lainnya.  Hasil penelitian menunjukkan salinitas optimum adalah 10 g/L, dan setelah dihitung menggunakan analisis regresi kuadratik, maka kisaran salinitas optimum adalah 5,00–13,40 g/L.   Kata kunci: salinitas optimum, kelangsungan hidup, pertumbuhan, glass eel, Anguilla bicolor bicolor
Reproductive performances of wild male tiger shrimp Penaeus monodon post-injection of oocyte developer without eyestalk ablation Prasetyo, Dony; Laining, Asda; Sudrajat, Agus Oman
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3659.821 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.2.193-204

Abstract

ABSTRACT The aim of this study was to evaluate the effect of oodev on the gonadal maturation and characteristic of spermatophore and spermatozoa produced by the wild male black tiger shrimp against eyestalk ablation. The treatments were two doses of oodev injection at 0.5 (OD0.5) and 1 (OD1.0) mL/kg of body weight and a control was eyestalk ablation (AB). The male stock of tiger shrimp used was from wild with body weight ranged from 55‒85 g, stocked into three of 10 tonnages concrete tanks with density of 25 males/tank. Oodev injection was applied for two times with one week interval. Tiger shrimp of OD0.5 group produced the highest number of gonadal maturing which was 84% followed by AB (68%) and OD1.0 (64%). Oodev injection was able to shorten the time required for spermatophore maturation at maturation phase which happened simultaneously within 7 days post injection compared to that of ablated males. Positive correlation (R2=0.612) was detected between the shrimp weight and weight of spermatophore of the tiger shrimp while correlation between spermatophore weight and number of spermatozoa was relatively low (R2=0.415). Total fatty acid tented to be higher in males injected with oodev compared to ablated males. Concentration of arachidonic acid in the muscle of male stock in OD1.0 group was extremely low of 0.0037% of total lipid compared to AB (0.3190%) and OD0.5 (0.2806%). Oodev injection at the dose of 0.5 mL/kg of tiger shrimp could improve the number of males stock producing spermatophore compared to eyestalk ablation. Simultaneously matured-spermatophore of wild male tiger shrimp within short time could be achieved through oodev injection. Keywords: oodev, spermatophore, reproduction, tiger shrimp  ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi efek hormon oodev terhadap pematangan gonad dan karakter spermatofor dan spermatozoa yang dihasilkan oleh induk udang windu jantan alam dibandingkan dengan teknik ablasi tangkai mata. Perlakuan yang dicobakan adalah dua dosis injeksi oodev yaitu 0,5 (OD0,5) dan 1 (OD1.0) mL/kg bobot tubuh dan kontrol yaitu ablasi tangkai mata. Induk udang windu jantan yang digunakan berasal dari alam berbobot antara 55‒85 g, ditebar dalam tiga bak pematangan gonad berkapasitas 10 ton dengan kepadatan 25 ekor/bak. Injeksi oodev dilakukan dua kali dengan interval satu minggu. Induk udang windu pada OD0,5 menghasilkan jumlah induk matang gonad tertinggi yaitu 84%, diikuti oleh AB (68%) dan OD1 (64%). Injeksi oodev mampu mempersingkat masa pematangan spermatofor pada fase maturasi dan pematangan tersebut terjadi secara simultan  setelah 7 hari pascainjeksi dibandingkan dengan induk yang di ablasi. Korelasi positif (R2=0,612) dideteksi antara bobot tubuh dan bobot spermatofor induk udang windu, sedangkan korelasi antara bobot spermatofor dan jumlah spermatozoa relatif lemah (R2=0,415). Total asam lemak daging cenderung lebih besar pada induk udang windu jantan yang diinjeksi oodev dibandingkan yang diablasi. Konsentrasi arachidonic acid dalam daging induk yang diinjeksi OD1 sangat rendah sebesar 0,0037% dari lemak  dibandingkan AB (0,3190%) dan OD0,5 (0,2806%). Injeksi oodev pada dosis 0,5 mL/kg udang windu dapat meningkatkan jumlah induk yang menghasilkan spermatofor dibandingkan ablasi tangkai mata. Pematangan gonad udang windu jantan alam secara simultan dan singkat dapat dilakukan melalui injeksi oodev.   Kata kunci: oodev, spermatofor, reproduksi, udang windu
Biochemical study of striped catfish Pangasianodon hypophthalmus broodstock induced by PMSG hormone + anti‒dopamine and turmeric addition Arfah, Harton; Sudrajat, Agus Oman; Suprayudi, Muhammad Agus; Junior, Muhammad Zairin
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3416.018 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.2.191-198

Abstract

ABSTRACT This study aimed to evaluate biochemical changes (cholesterol, triglyceride, HDL, LDL, glucose, and plasma protein) on striped catfish Pangasianodon hypophthalmus broodstock induced with PMSG hormone and turmeric addition. An observation was also done to blood glycogen content. The striped catfish broodstock was fed on commercial feed without any addition (control) and with turmeric addition (HKu). In control treatment, there was a decreasing on cholesterol, meanwhile, the triglyceride (TG) value was increased. The HDL concentration was decreased in 2nd sampling and increased in 4th sampling. In 1st until 4th sampling, glucose was quite stable, while LDL was on extremely low concentration. In HKu treatment, the cholesterol value was higher than the control treatment. The TG concentration also higher than control in 3rd sampling and decreased in 4th sampling. The HDL concentration was increased and higher than the control treatment, while LDL concentration was lower. The liver glycogen content on the control and HKu treatment were 0.015 (mg/100 mL) and 0.181 (mg/100 mL) respectively; while in the flesh of the control and HKu treatment were 0.76 (mg/100 mL) and 1.19 (mg/100 mL) respectively; and in the gonad of control and HKu treatment were 0.10 (mg/100 mL) and 0.70 (mg/100 mL) respectively. It was shown that the glycogen content in the liver, flesh, and gonad on experimental fish was higher than control treatment. Keywords : biochemistry, hormone, turmeric, channel catfish, reproduction  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perubahan biokimia (kolesterol, trigliserida, HDL, LDL, glukosa dan protein plasma) induk ikan patin Pangasianodon hypophthalmus yang diberi perlakuan hormon PMSG dan kunyit (HKu). Pengamatan juga dilakukan terhadap glikogen dalam darah induk patin. Induk ikan patin diberi pakan tanpa penambahan kunyit (kontrol) dan pakan yang diberi HKu. Hasil penelitian pada kontrol menunjukkan adanya penurunan kolesterol, sedangkan pada TG mengalami peningkatan. HDL menurun pada sampling ke‒2 dan meningkat pada sampling ke‒4. Sementara itu, pada LDL rendah sekali dan pada glukosa terlihat stabil dari sampling ke‒1 sampai ke‒4. Pada perlakuan HKu terlihat bahwa pada kolesterol menghasilkan nilai lebih tinggi dibanding kontrol. Pada TG terlihat juga nilai lebih tinggi dibanding kontrol pada sampling ke‒3 dan menurun pada sampling ke‒4. Konsentrasi HDL meningkat dan lebih tinggi dibanding kontrol, sedangkan nilai LDL lebih rendah. Data yang diperoleh pada kadar glikogen hati perlakuan kontrol adalah 0,015 (mg/100 mL) dan HKu 0,181 (mg/100 mL); sedangkan pada daging kontrol sebesar 0,76 (mg/100 mL) dan HKu 1,19 (mg/100 mL); serta gonad kontrol 0,10 (mg/100 mL) dan HKu 0,70 (mg/100 mL). Hal ini menunjukkan kadar glikogen pada hati, daging, dan gonad ikan yang diberi perlakuan bernilai lebih tinggi dibanding kontrol.           Kata kunci : biokimia, hormon, kunyit, ikan patin, reproduksi  
Female maturation and rematuration acceleration of Mutiara strain catfish (Clarias gariepinus) using combination of oocyte developer hormone and astaxanthin addition diet Jufri, Fatahillah Maulana; Sudrajat, Agus Oman; Setiawati, Mia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3483.51 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.1.23-32

Abstract

ABSTRACT Reproductive design for gonadal maturation process mostly related with some factors such as environmental signals, reproductive organs, hormonal and nutrition. This research was conducted on female Mutiara strain of North African Catfish, Clarias gariepinus by combining two kinds of materials administered to broodstock diet, namely oocyte developer (Oodev) which contains of PMSG hormone and antidopamin, and astaxanthin carotenoid. Research designs were divided into C (Control), A50 (astaxanthin 50 mg/kg feed), A100 (astaxanthin 100 mg/kg feed), Od0.5 (Oodev 0.5 mL/kg fish for two weeks), Od1 (1 mL/kg fish for 2 weeks), Od0.5A50 (combined Od0.5 with A50), Od1A50 (combined Od1 with A50), Od0.5A100 (combined Od0.5 with A100), and Od1A100 (combined Od1 with A100). This research was performed during twelve weeks of feeding. The Od1A100 treatment showed the best reproduction performance result compared to other treatment with highest hepatosomatic (HSI) and gonadosomatic (HSI) indexes (P<0.05), also fastest increase in egg diameters (P<0.05), shorter rematuration periods and highest proportion of mature broodstock. These results indicated that Oodev and astaxanthin could accelerate gonadal maturity in female broodstock of Mutiara catfish.Keywords: Broodstock, hormonal, reproduction, oocyte developer, astaxanthin  ABSTRAK Rekayasa reproduksi untuk proses pematangan gonad sebagian besar terkait dengan beberapa faktor seperti sinyal lingkungan, organ reproduksi, hormonal dan nutrisi. Penelitian ini dilakukan terhadap strain ikan lele Mutiara (Clarias gariepinus) betina menggunakan dua bahan yang dicampur pada pakan induk, yaitu oocyte developer (Oodev) yang mengandung hormon PMSG dan antidopamin, dan karotenoid astaxanthin. Eksperimen yang dirancang adalah K (Kontrol), A50 (Astaxanthin 50 mg/kg pakan), A100 (Astaxanthin 100 mg/kg pakan), Od0.5 (Oodev 0,5 mL/kg induk untuk 2 minggu), Od1 (Oodev 1 mL/kg induk untuk 2 minggu), Od0.5A50 (kombinasi Od0.5 dan A50), Od1A50 (kombinasi Od1 dan A50), Od0.5A100 (kombinasi Od0.5 dan A100), dan Od1A100 (kombinasi Od1 dan A100). Penelitian ini dilakukan dengan memberi makan dua belas minggu. Performa reproduksi terbaik didapat pada perlakuan Od1A100. Od1A100 memiliki indeks hepatosomatik (HSI) dan gonadosomatik (HSI) tertinggi (P <0,05), juga diameter telur paling cepat besar (p <0,05), periode rematurasi terpendek, dan proporsi induk matang gonad tertinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa Oodev dan astaxanthin dapat mempercepat kematangan gonad pada induk betina ikah lele Mutiara. Keyword: Induk, hormon, reproduksi, oocyte developer, astaxanthin 
Performa reproduksi dan pertumbuhan pascapenghambatan pematangan gonad udang galah betina secara hormonal menggunakan dopamin dan medroxyprogesterone Megawati Wijaya; Agus Oman Sudrajat; Imron
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3586.347 KB) | DOI: 10.19027/jai.19.1.10-18

Abstract

ABSTRAK Kematangan gonad dini induk udang galah Macrobrachium rosenbergii betina dapat menjadi kerugian bagi para pembudidaya. Saat udang matang gonad, pertumbuhan somatik akan terhambat disebabkan energi yang digunakan untuk pertumbuhan akan digunakan untuk reproduksi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan hormon dopamin dan medroxyprogesterone sebagai penghambat pematangan gonad. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan dua perlakuan yaitu pemberian dopamin dan medroxyprogesterone. Dosis dopamin yang digunakan yaitu 0, 10-5 mol/udang, dan 10-10 mol/udang, sedangkan medroxyprogesterone dengan dosis 0, 75 mg/1,5 mL/bobot udang, dan 150 mg/3 mL/bobot udang dengan kepadatan 15 ekor/bak. Udang galah betina (bobot awal:11,27 ± 0,97 g) diberi perlakuan berupa dopamin dan medroxyprogesterone sebanyak tiga kali pada minggu ke-0, 2, dan 4 dengan interval waktu dua minggu sekali. Pemberian dopamin dan medroxyprogesterone dilakukan melalui penyuntikan secara intramuskular pada kaki jalan ketiga. Hasil penelitian ini menunjukan perlakuan yang diberikan dopamin dan medroxyprogesterone memiliki nilai indeks kematangan gonad (IKG) yang rendah dan laju pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan kontrol. Histologi gonad pada semua perlakuan berada pada tahap previtellogenic dan vitellogenic dibandingkan kontrol yang berada pada tahap mature. Konsentrasi estradiol pada perlakuan premix dopamin 10-10 mol/udang dan medroxyprogesterone 150 mg/3 mL/bobot udang lebih rendah dibandingkan kontrol. Pemberian dopamin dan medroxyprogesterone dapat menekan IKG, perkembangan gonad, dan meningkatkan laju pertumbuhan. Kata kunci: Macrobrachium rosenbergii, dopamin, medroxyprogesterone, pertumbuhan, perkembangan gonad.
Health Status of Spiny Lobster Panulirus homarus with Sub-Mersible Net Cage System in the Different Depths at Kepulauan Seribu, DKI Jakarta Wahjuningrum, Dinamella; Effendi, Irzal; Hadiroseyani, Yani; Budiardi, Tatag; Diatin, Iis; Setiawati, Mia; Puji Hastuti, Yuni; Oman Sudrajat, Agus; Yonvitner; Sri Nuryati; Utami, Putri
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.21.1.68-80

Abstract

ABSTRACT Cultivation of Panulirus homarus lobster is now carried out with sub-mersible net cage system at a certain depth in order to obtain optimal temperature, light and water pressure. The purpose of this study was to evaluate the health status of the sand lobster P. homarus which was kept in sub-mersible net cage system measuring 250 cm × 272 cm × 135 cm with a depth of 6 m and 8 m in the waters of Semak Daun Island, Seribu Islands, DKI Jakarta. The average size of lobster seeds used was 93.23 ± 0.99 g/head with a density of 4 lobsters/m2. Lobsters were fed trash fish, molluscs and crustaceans, with a frequency of twice a day at 07.00 WIB 30% and 17.00 WIB 70% of the lobster biomass weight. This study used a completely randomized design with the two depth treatments mentioned above and three replications. Observations of total haemocyte count, differential haemocyte count, phenoloxidase activity, respiratory burst phagocytic activity and histology of lobster hepatopancreas were performed twice every 14 days. Based on the above observations, the depth does not affect the immune response, there is no visible damage to the cells and tissues of the lobster hepatopancreas. Keywords: haemolymph, histology, lobster cultivation, sea, sub-mersible net cage system
Production and business performance of Anguilla bicolor fingerlings in a recirculation system with different stocking densities Budiardi, Tatag; Diatin, Iis; Arlita, Kriswidya; Vinasyiam, Apriana; Sudrajat, Agus Oman; Setiawati, Mia; Affandi, Ridwan; Kamal, Mohammad Mukhlis; Wahju, Ronny Irawan; Nurilmala, Mala
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.2.156-169

Abstract

Eel (Anguilla bicolor) in the grow-out culture requires good fingerling seeds. Increasing the eel productivity can be done by increasing the stocking density, that should be balanced with good environmental and feed management. This study aimed to analyze the production and business performance of fingerlings in a recirculation system to increase the eel survival and growth rate. The study used a completely randomized design with three different stocking densities, namely 4 g/L (A), 5 g/L (B), and 6 g/L (C). The average weight of each fingerling was 20 ± 4.09 g, that was kept in a 1.5-m3 pond with a recirculation system. Feeding was performed two times a day using commercial feed with probiotic supplementation. The results showed that different stocking densities significantly affected feed conversion ratio, total biomass weight, and coefficient of variance. However, different stocking densities had no significant effect on survival rate, absolute weight growth rate, specific weight growth rate, and condition factor. The C treatment obtained the highest profit with an R/C ratio of 1.20 ± 0.03. The best production and cultivation performance of eel fingerling in a recirculation system with different stocking densities is found in treatment C (6 g/L). Keywords: Anguilla bicolor, business performance, production performance, recirculation system, stocking density ABSTRAK Budidaya ikan sidat (Anguilla bicolor) pada segmen pembesaran memerlukan benih yang baik khususnya untuk benih fingerling. Upaya peningkatan produksi benih ikan sidat dapat dilakukan dengan peningkatan padat tebar yang diiringi dengan manajemen lingkungan dan pakan yang baik. Tujuan penelitian ini menganalisis kinerja produksi dan kinerja usaha pada pemeliharaan fingerling dalam sistem resirkulasi sehingga meningkatkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri atas 3 perlakuan padat tebar dengan tiga ulangan, yaitu padat tebar 4 g/L (A), 5 g/L (B), dan 6 g/L (C). Fingerling ikan sidat yang digunakan berbobot awal 20 ± 4,09 g/ekor, yang dipelihara dalam bak 1,5 m3 dengan sistem resirkulasi. Pakan diberikan dua kali sehari berupa pakan buatan komersial yang diberi probiotik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa padat tebar berpengaruh nyata terhadap parameter rasio konversi pakan, laju pertumbuhan mutlak biomassa, dan koefisien keragaman bobot tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan mutlak bobot, laju pertumbuhan spesifik bobot, dan faktor kondisi. Hasil analisis kinerja usaha budidaya fingerling dengan padat tebar berbeda menunjukkan berbeda nyata dan sebanding dengan kinerja produksi. Perlakuan C memberikan keuntungan tertinggi dengan rasio R/C sebesar 1,20 ± 0,03. Kinerja produksi dan kinerja usaha budidaya fingerling ikan sidat (Anguilla bicolor) dalam sistem resirkulasi dengan padat tebar berbeda terbaik terdapat pada perlakuan C (6 g/L). Kata kunci: Anguilla bicolor, kinerja produksi, kinerja usaha, padat tebar, sistem resirkulasi
Male sex ratio of red tilapia Oreochromis sp. after soaking in different concentrations of coconut milk at larvae stadia Maulana, Fajar; Sudrajat, Agus Oman; Permana, Andre; Mulyani, Lina; Arfah, Harton
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.2.187-199

Abstract

Tilapia has sexual dimorphism, based on the size and growth. Male tilapia has a faster growth rate than female tilapia. Masculinization can be carried out to produce monosexual tilapia seeds to accelerate fish growth. As the use of the 17α-methyltestosterone synthetic hormone for masculinization activities has been limited, natural ingredients are required as a substitute, namely coconut milk. This study aimed to determine the effect of different coconut milk concentrations as a phytosteroid material for the masculinization of red tilapia by immersing the larvae to the material. Tilapia fish larvae were immersed in coconut milk for 12 hours and then reared for 60 days at 100 larvae for each rearing container. There were four different treatments, namely control treatment without coconut milk immersion, S3 (3 ml/L coconut milk), S5 (5 ml/L coconut milk), and S7 (7 ml/L coconut milk). The results showed that the 7 ml/L coconut milk treatment increased the male sex ratio and specific growth rate and reduced the feed conversion ratio without a negative impact on the survival rate of red tilapia fry. In this study, the 7 ml/L coconut milk treatment was the best treatment, which produced a male sex ratio of 67.78 ± 4.16%. Keywords: coconut milk, masculinization, monosex, phytosteroids, tilapia ABSTRAK Ikan nila memiliki dimorfisme seksual yang dapat dilihat dari ukuran dan pertumbuhannya. Ikan nila jantan memiliki laju pertumbuhan yang lebih cepat ketimbang ikan nila betina. Maskulinisasi dapat dilakukan untuk menghasilkan benih ikan nila monoseks dengan tujuan mempercepat pertumbuhannya. Penggunaan hormon sintetik 17α-methyltestosteron sudah dibatasi penggunaannya sehingga diperlukan bahan alami pengganti salah satunya santan kelapa untuk kegiatan maskulinisasi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh perendaman santan kelapa sebagai fitosteroid untuk maskulinisasi ikan nila merah melalui perendaman larva dengan konsentrasi berbeda. Larva ikan nila direndam santan kelapa selama 12 jam dan selanjutnya dipelihara selama 60 hari dengan kepadatan 100 ekor untuk setiap wadah pemeliharaan. Terdapat empat perlakuan berbeda, kontrol tanpa perendaman santan, S3 (Santan 3 ml/L air), S5 (Santan 5 ml/L air) dan S7 (Santan 7 ml/L air). Hasil penelitian menunjukan perlakuan perendaman santan kelapa 7 ml/L dapat meningkatkan nisbah kelamin jantan dan laju pertumbuhan spesifik, serta menurunkan rasio konversi pakan dan tidak berdampak buruk terhadap nilai tingkat kelangsungan hidup benih ikan nila merah. Dalam penelitian ini, perlakuan santan 7 ml/L merupakan perlakuan terbaik yakni dapat menghasilkan nisbah kelamin jantan sebesar 67,78 ± 4,16%. Kata kunci: fitosteroid, ikan nila, maskulinisasi, monoseks, santan kelapa
Sex determination and acclimation response of dwarf snakehead fish Channa limbata from West Java Tri Soelistyowati, Dinar; Oman Sudrajat, Agus; Arfah, Harton; Alimuddin, Alimuddin; Hafidah, Riva; Hanggara, Yudha; Edison, Thomas
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 2 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.23.2.201-211

Abstract

The Channa limbata fish is a type of tropical freshwater fish of the Channidae family which is relatively small as an aquarium ornamental fish with a distinctive color at the tip of its dorsal fin and has a snake-like head (dwarf snakehead). Natural snakehead fishing activities have threatened its sustainability. Breeding C. limbata fish through cultivation can increase its potential for sustainable use. This study aims to evaluate the acclimation response of wild-type dwarf snakehead fish in captivity and its sexual characteristics as a basis for domestication and hatchery technology. The fish samples used were natural catches from rivers in West Java measuring <100 mm to >150 mm of body length then individually acclimated indoors in an aquarium (35×20×20 cm) for 14 days. Snakehead fish live in shallow, slow-flowing river waters with a temperature of 20.2-21.3°C, TDS 16-24 mg/L at neutral pH, while the rearing water temperature and TDS are higher (temperature: 24.9-27.6°C; TDS: 88-110 mg/L). The fish mortality rate during acclimation reached 25% in fish measuring >150 mm of length on tenth day, while fish measuring <150 mm more adaptive with 100% survival. The male fish measuring 100-150 mm have 13-15 pectoral fin rays while female fish have fewer (13-14). The gonad development level of male C. limbata in nature is slower than female fish measuring 100-150 mm with a gonadosomatic index of ovaries reached 10 times higher than testicular. Keywords: acclimation, C. limbata, gonadosomatic index, ovaries ABSTRAK Ikan Channa limbata merupakan jenis ikan air tawar tropis dari famili Channidae yang berukuran relatif kecil sebagai ikan hias akuarium dengan warna yang khas pada ujung sirip punggungnya dan bentuk kepala mirip ular (dwarf snakehead). Aktivitas penangkapan ikan gabus alam telah mengancam kelestariannya. Pembibitan ikan C.limbata melalui budidaya dapat meningkatkan potensi pemanfaatannya secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respons aklimatisasi ikan gabus alam di dalam penangkaran dan karakterisasi seksualnya sebagai landasan teknologi pembenihan ikan gabus C. limbata yang tepat. Sampel ikan yang digunakan merupakan hasil tangkapan alam dari sungai di Jawa Barat berukuran <100 mm hingga >150 mm kemudian diaklimasi indoor di akuarium (35×20×20 cm) selama 14 hari. Ikan gabus hidup di perairan sungai yang dangkal berarus lambat dengan suhu 20,2-21,3°C, TDS 16-24 mg/L dan pH netral, sedangkan suhu air pemeliharaan dan TDS lebih tinggi (suhu: 24,9-27,6°C; TDS: 88-110 mg/L). Angka kematian ikan selama aklimatisasi mencapai 25% pada ikan berukuran >150 mm hari ke 10, sedangkan ikan berukuran <150 mm lebih adaptif dengan sintasan 100%. Ikan jantan C.limbata berukuran 100-150 mm memiliki jari-jari sirip pektoral berjumlah 13-15, sedangkan ikan betina lebih sedikit (13-14). Tingkat perkembangan gonad ikan jantan lebih lambat dari pada ikan betina dengan indeks gonadosomatik ovarium mencapai 10 kali lipat lebih tinggi dibandingkan testis. Kata kunci: aklimatisasi, Channa limbata, indeks gonadosomatik, ovarium
Induction of reproduction of fish Anasa Nomorhampus sp. endemic Palu, Central Sulawesi orally through hormon bioencapsulation use Chironomus sp. Rezki, Dinda Wahyu; Sudrajat, Agus Oman; Soelistyowati, Dinar Tri; Carman, Odang
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.2.220-232

Abstract

Species Nomorhampus sp. with the local name Anasa fish, endemic to Palu, Central Sulawesi, has a unique superior mouth shape, beak-shaped jaws, attractive colors and patterns, becoming an export commodity with high economic value, but currently it cannot be cultivated, domestication efforts are needed to avoid extinction, by carrying out hormonal manipulation that accelerates the domestication process. This study aims to evaluate the effectiveness of Oodev® on the induction of reproduction in the fish Nomorhampus sp. through bioencapsulation using Chironomus sp. which resulted in births, five groups of fish were fed using Oodev® at a dose of 1 mL/kg parent weight and NaCl 1 mL/kg parent weight as a control group, the fish were kept for 60 days. This research focuses on assessing specific weight growth rate (LPBS), specific length growth rate (LPPS), survival rate (TKH), gonadosomatic index (IGS), gonadal histology, birth frequency, number of births, and growth performance. Fish fed Oodev® feed showed higher SGR and IGS (p<0.05), 40% of fish fed Oodev® supplementary feed successfully gave birth with a total of 9 fry, while no birth occurred in control fish. Histological analysis showed faster gonad development in fish fed Oodev®. Hormonal induction with Oodev® can accelerate reproduction in anasa fish in cultivation containers. These findings provide valuable insight for fish farmers regarding the effect of Oodev® on gonad development in anasa fish in both male and female parents. It is hoped that this discovery will speed up the process of domestication of Anasa fish. Keywords: domestication, endemic, Nomorhampus sp., Oodev®, reproduction ABSTRAK Spesies Nomorhampus sp. dengan nama lokal ikan Anasa endemik Palu, Sulawesi Tengah, memiliki keunikan bentuk mulut superior rahang berbentuk paruh, warna dan corak menarik menjadi komoditas ekspor dengan nilai ekonomis yang tinggi, namun saat ini belum dapat dibudidayakan, perlu upaya domestikasi agar tidak terjadi kepunahan, dengan melakukan manipulasi hormormonal yang mempercepat proses domestikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas Oodev® terhadap induksi reproduksi ikan Nomorhampus sp. melalui bioenkapsulasi menggunakan Chironomus sp. yang menghasilkan kelahiran, lima kelompok ikan yang diberi pakan menggunakan Oodev® dosis 1 mL/kg bobot induk dan NaCl 1 mL/kg bobot induk sebagai kelompok kontrol, ikan dipelihara selama 60 hari. Penelitian ini fokus pada penilaian laju pertumbuhan bobot spesifik (LPBS), laju pertumbuhan panjang spesifik (LPPS), tingkat kelangsungan hidup (TKH), indeks gonadosomatik (IGS), histologi gonad, frekuensi kelahiran, jumlah kelahiran, dan kinerja pertumbuhan. Ikan yang diberi pakan Oodev® menunjukkan SGR dan IGS yang lebih tinggi (p<0,05), 40% ikan yang diberi pakan tambahan Oodev® berhasil melahirkan dengan jumlah total 9 ekor benih, sementara pada ikan kontrol tidak terjadi kelahiran. Analisa histologi menunjukkan perkembangan gonad yang berkembang lebih cepat pada ikan yang diberi pakan Oodev®. Induksi hormonal dengan Oodev® mampu mempercepat reproduksi pada ikan anasa di wadah budidaya. Temuan ini memberikan wawasan berharga bagi pembudidaya ikan mengenai pengaruh Oodev® terhadap perkembangan gonad pada ikan anasa baik pada induk jantan maupun betina. Penemuan ini diharapkan dapat mempercepat proses domestikasi ikan Anasa. Kata kunci: domestikasi, endemik, Nomorhampus sp., Oodev®, reproduksi
Co-Authors , Alimuddin . Suriansyah Ade Yulita Hesti Lukas Afif Abdurrahman Agoes Mardiono Jacoeb Akbar, Muhamad Saepul Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimudin Alimudin, Alimudin Andin Dwi Fitri Rahayu Andri Yanto Andriyanto Andriyanto Andriyanto Andriyanto Antharest Sugati, Antharest Aprelia Martina Tomasoa, Aprelia Martina Apriana Vinasyiam Arief Boediono Arlita, Kriswidya Armen Nainggolan Asda Laining Awaludin Bambang Gunadi Bambang Gunadi Bambang Gunadi Bastiar Bastiar Benny Heltonika Citra Fibriana Cut Dara Dewi Damiana Rita Ekastuti Daniel Djokosetiyanto Deni Radona, Deni Deny Sapto Chondro Utomo Didik Ariyanto Didik Ariyanto Dinamella Wahjuningrum Dinar Tri Soelistyowati Dony Prasetyo Dwi Mulyasih Dythia Asma Nadia Edison, Thomas Eka Kusuma Eko Harianto, Eko Eko Rini farastuti Enang Harris Eni Kusrini, Eni Eny Heriyati Enzeline, Valensia Epro Barades Erma Primanita Hayuningtyas Fahmi Akbar, Fahmi Fauzan Fajari Gustiano, Rudhy Hadra Fi Ahlina Hafidah, Riva Hafif Syahputra Halawa, Nenima Hanggara, Yudha Harton Arfah Haryanti Haryanti Haya Audina Azizia Helena Sahusilawane Herawati Rasid Hesti Wahyuningsih Hirmawan Tirta Yudha Iis Diatin Imron Indra Lesmana Irvan Faizal Irvan Faizal Irzal Effendi Jonathan Felix Raynar Joni Haryadi, Joni Jr, Muhammad Zairin Jufri, Fatahillah Maulana K. Sumawidjaja Kapelle, Imanuel B. D. Klea Chandra Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Ligaya I. T. A. Tumbelaka Luki Abdullah M. Zairin Junior Mahdaliana, Mahdaliana Mala Nurilmala Maulana, Fajar Megawati Wijaya Meillisa Carlen Mainassy Melta Rini Fahmi Mia Setiawati Mochamad Syaifudin, Mochamad Mohammad Mukhlis Kamal MUHAMMAD AGUS SUPRAYUDI Muhammad Cito Khairel Fauzan Muhammad Junior Zairin Muhammad Muttaqin Muhammad Zairin Jr Muhammad Zairin Jr Muhammad Zairin Jr. Muhmmad Agus Suprayudi Mulyani, Lina Muslim Muslim N. Suhenda Nadia Mega Aryani, Nadia Mega Nazar, Danella Austraningsih Puspa Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyo Utomo Odang Carman Olivia Karo Permana, Andre Puji Hastuti, Yuni Pustika Ratnawati Putri Utami, Putri Raden Roro Sri Pudji Sinarni Dewi Raden Roro Sri Pudji Sinarni Dewi Raden Roro Sri Pudji Sinarni Dewi Rahmi, Kurnia Anggraini Ratu Siti Aliah Rezki, Dinda Wahyu RIDWAN AFFANDI Rizsa Mustika Pertiwi Ronny I. Wahju S. Sarah Samara, Syifania Hanifah Sandra, Aan Aryanti Sholihin, Hidayatush Sinansari, Shofihar Siti Subaidah Sri Nuryati Sri Nuryati Sufal Diansyah Sularto Sularto Suriansyah Suriansyah Suriansyah, Suriansyah T. Budiardi T. Nursyams T. Prasetya Tatag Budiardi Tuti Puji Lestari Upmal Deswira Uthami Nagin Lestari UTUT WIDYASTUTI Wahyu Purbiantoro Wasmen Manalu Wibowo, Kesit Tisna WIDANARNI WIDANARNI Wildan, Dudi Muhammad Wiwin Kusuma Atmaja Putra Y. Hadiroseyani Yanti Sinaga Yonvitner - Zahri, Abdul