Articles
Kesiapan Lapas Kelas I Bandar Lampung Dalam Menghadapi Bencana Alam
Ganda Aulia Wicaksana;
Padmono Wibowo
Wajah Hukum Vol 5, No 1 (2021): April
Publisher : Universitas Batanghari Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33087/wjh.v5i1.288
The condition of correctional institutions in Indonesia which is currently over capacity or overcapacity as well as the geographical location of Indonesia which is surrounded by dozens of active volcanoes which are also in the zone or ring of fire area which makes the condition of the Indonesian state very dangerous and prone to disasters. However, there are still many lack of employee awareness regarding work accidents and a lack of Occupational Safety and Health signs in the correctional Technical Implementation Unit. So that it caused a lot of riots in the correctional institutions because of the disaster. The purpose of this study discusses the factors that cause accidents in prisons, the implementation of evacuation routes in prisons and a review of the implementation of evacuation routes in prisons. The method used in this research is descriptive method with a qualitative approach, the data sources obtained are field observations, interviews and literature studies. Data collection techniques are direct observation and interviews as primary data and literature studies and theory studies as secondary data. This research was conducted at the Class I Correctional Institution in Bandar Lampung. The results of this study are to be able to find out the factors that cause accidents in prisons, to find out the implementation of evacuation routes in prisons and to be able to evaluate the implementation of safety for natural disasters and other disasters based on the results of implementing the evacuation routes in prisons and the mechanisms for implementing evacuation routes. as the readiness of a correctional institution in dealing with, anticipating and preventing disasters. This study discusses the importance of fulfilling occupational safety and health signs in the form of evacuation routes to provide a sense of security and safety at work. This research also discusses the implementation of occupational safety and health signs as the fulfillment of the rights of prisoners. So that this research is expected to make people's views about prisoners not always negative and change people's views on the life of prisoners in prisons.
Standart Pelayanan Kesehatan di Rutan Kelas I Depok Terhadap Pemenuhan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan
Kemas Muhammad Yogie Bagus Setiawan;
Padmono Wibowo
Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 5 No. 1 (2021): Al-Iman Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan
Publisher : STID Raudlatul Iman Sumenep
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui standart pelayanan kesehatan dan hambatannya terhadap pemenuhan hak warga binaan pemasyarakatan di rumah tahanan negara klas I Depok. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan metode pengambilan data melalui studi kepustakaan dan wawancara. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan membandingkan pelaksanaan pelayanan kesehatan yang dilakukan dengan ketentuan yang berlaku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Upaya pemenuhan hak warga binaan dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan pada rumah sakit Rumah Tahanan negara klas 1 depok berjalan kurang baik, hal ini dikarenakan adanya keterbatasan fasilitas sarana prasarana dan jumlah petugas sehingga menyebabkan upaya promotif,preventif,kuratif dan rehabilitatif menjadi tidak optimal serta menjadi penghambat pemenuhan hak warga binaan dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan. This study aims to determine the standard of health services and barriers to the fulfillment of prisoners' rights in class I Depok state prison. This study uses a normative legal research method with data collection methods through library research and interviews. The data obtained are then analyzed by comparing the implementation of health services carried out with the applicable provisions. The results showed that the efforts to fulfill the rights of fostered citizens in the implementation of health services in the Class 1 deputy state hospital hospitals were running poorly, this was due to the limited facilities and infrastructure and the number of officers, causing promotive, preventive, curative and rehabilitative efforts to be suboptimal. as well as being an obstacle in fulfilling the rights of fostered citizens in the implementation of health services.
ANALISIS BANGUNAN DAPUR RUMAH TAHANAN NEGARA KELAS I LABUHAN DELI
Esternia Naibaho;
Padmono Wibowo
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 10 No. 1 (2022): Februari, Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Dapur merupakan suatu tempat khusus yang dilengkapi dengan peralatan khusus untuk mengolah serta memproduksi makanan, dari bahan mentah menjadi makanan yang siap dikonsumsi. Dapur merupakan salah satu bangunan yang penting dilapas dan rutan karena dengan adanya dapur maka aktivitas mengelola dan menyediakan makanan bagi warga binaan pemasyarakatan dapat berjalan dengan lancar. Dalam Keputusan Menteri Kehakiman Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor : M.01.Pl.01.01 Tahun 2003 Tentang Pola Bangunan Unit Pelaksana Teknis Pemasyarakatan ruang dapur terdiri dari ruang kontrol, ruang masak, ruang saji, gudang beras, gudang bahan mentah, dan gudang perlengkapan dapur dan sirkulasi 25%. Penelitian ini menggunakan pendekatan pendekatan kualitatif deskriptif yaitu dengan cara memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian. Metode deskriptif ini tidak hanya sebatas pengumpulan data, tetapi meliputi analisis dan interpretasi tentang arti pada data yang di dapatkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keadaan dapur dan upaya peningkatan kualitas bangunan dapur Rumah Tahanan Kelas I Labuhan Deli. Dengan dilakukan peningkatan kualitas bangunan dapur maka pelaksanaan kegiatan pengelolaan dan penyediaan makanan dapat berjalan lebih maksimal.
OPTIMALISASI FUNGSI BANGUNAN RUTAN KELAS I LABUHAN DELI
Dwi Jelita Ningsih Sirait;
Padmono Wibowo
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 10 No. 1 (2022): Februari, Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Rumah Tahanan Negara (Rutan) merupakan sebagai tempat tersangka atau terdakwa ditahan selama proses penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang Pengadilan. Akan tetapi, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehakiman No.M.04.UM.01.06 Tahun 1983 tentang Penetapan Lapas tersebut sebagai Rutan, dimana Lapas dapat beralih fungsi menjadi Rutan, dan begitu juga Rutan bisa beralih fungsi menjadi Lapas. Metode penelitian berdasarkan permasalahan yang digunakan dilakukan melalui deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Bangunan gedung Rutan Kelas IIB Labuhan Deli merupakan peninggalan Kolonial Belanda dibangun pada tahun ± 1887 berubah menjadi Rutan Kelas I Labuhan Deli pada tahun 2020 dengan daya tampung sejumlah 480 orang warga binaan pemasyarakatan, sedangkan penghuninya sebesar 1.658 orang. Jika dilihat dari bangunan Rutan Kelas I Labuhan Deli, maka sebenarnya Rutan Kelas I Labuhan Deli belum memiliki luas yang ideal akan tetapi mampu melaksanakan program kegiatan kerja dengan baik.
Bimbingan Sosial Individu dalam Upaya Perubahan Perilaku Anak di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Tangerang
Margareth Yolanda Uli Rohana;
Padmono Wibowo
JSHP : Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan Vol 6, No 1 (2022): JSHP (Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Politeknik Negeri Balikpapan.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32487/jshp.v6i1.1271
Children are an inseparable part of the sustainability of human life and the sustainability of a nation and state, In this study, researchers focused on providing appropriate social guidance to children who are serving a sentence at the Tangerang Children Special Development Institution (LPKA Class 1 Tangerang). In this study, the researchers focused on providing appropriate social guidance to children who were serving a criminal period at the Tangerang Children's Special Guidance Institute (LPKA Class 1 Tangerang). In this study, researchers used a descriptive interview method using a qualitative approach. The purpose of this study was to find out changes in children's behavior with guidance aimed at helping children face their social problems in LPKA as well as knowing the right guidance program for children and helping children so that later they can be well received in the Children's Special Guidance Institution and the environment where they live. Children who can well accept the guidance program provided will certainly experience changes for the better in the future and children are expected to be able to be independent and be able to make the best decisions in dealing with any problems encountered both in LPKA and in the environment later.AbstrakAnak adalah bagian yag tidak bisa terpisahkan dari keberlangsungan hidup manusia, bangsa, dan negara. Dengan demikian anak yang berhadapan dengan hukum tidak sematamata lansung kehilangan masa depan. Penelitian ini berfokus kepada pemberian bimbingan sosial yang tepat pada anak yang sedang menjalani masa pidana di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Tangerang (LPKA Kelas 1 Tangerang). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan perilaku anak dengan bimbingan sosial serta mengetahui program bimbingan yang tepat bagi anak dan membantu anak agar nantinya dapat diterima dengan baik di lingkungan Lembaga Pembinaan Khusus anak dan lingkungan tempat tinggalnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengann teknik pengumpulan data wawancara dan observasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perubahan perilaku anak setelah mendapatkan bimbingan sosial dimana anak menunjukkan perubahan perilaku yang lebih baik dari sebelumnya. Adapun upaya dalam menemukan program pembinaan yang tepat dilakukan dengan cara konseling, wawancara, dan dinamika kelompok. Upaya-upaya tersebut merupakan cara yang dapat diterapkan agar anak sesegera mungkin dapat menyesuaikan dirinya di lingkungan LPKA dan menemukan progam pembinaan yang tepat yang dapat membantu anak dimasa depan ketika berada di lingkungan masyarakat.
Implementasi Program Pembinaan Kemandirian Narapidana Dalam Perspektif Hak Asasi Manusia
Akbar Faris Rama Hunafa;
Padmono Wibowo
SOSIO DIALEKTIKA Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : LP2M
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31942/sd.v7i2.7407
Indonesia sebagai Negara yang telah mengakomodir International Convenant on Economic Social Culture Rights (ICESCR) dan juga International Convenant on Civil Politic Rights (ICCPR) mudah untuk dapat melaksanakan implementasi nilai-nilai hak asasi manusia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangasa dan bernegara. Termasuk lapas sebagai bagian dari pemerintah harus mengakomodir nilai-nilai HAM dalam pelaksanaan kegiatannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan program kemandiran di lembaga pemasyarakatan dalam perspektif hak asasi manusia dan untuk mengetahui kendala yang dihadapi saat melaksanakan program tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan lokasi penelitian pada Lapas Kelas IIA Cibinong.Hasil dari penelitian ini bahwa wujud implementasi program pembinaan kemandirian menunjukkan dalam perspektif HAM adalah dengan memperhatikan hak-hak sebagai pekerja dan juga sebagai binaan pemasyarakatan, kemudian diperoleh dalam pelaksanaanya yaitu, berkaitan dengan sumber daya dan keterbatasan anggaran. Saran dari penelitian ini adalah para petugas pengawas harus diberikan pelatihan juga, berkaitan dengan kegiatan yang dilakukan serta memberikan pemahaman terkait HAM yang harus dijunjung tinggi oleh petugas dalam pelaksanaan tugas. Selain itu terus berusaha dengan inovasi dan juga kreatif agar kegiatan bisa berjalan, bisa menghasilkan dan ada preminya
Pemenuhan Hak Narapidana Pada Masa Pandemi Covid-19 di Rutan Kelas IIB Purbalingga
Hendro Mahfud Fijianto;
Padmono Wibowo
SOSIO DIALEKTIKA Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : LP2M
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31942/sd.v7i2.7447
AbstrakSetiap warga negara yang sedang menjalani hukuman pidana penjara memiliki seperangkat hak yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor 22 tahun 2022 dan wajib dipenuhi oleh negara. Dalam hal pemenuhan hak tersebut oleh negara melalui sebuah Lapas atau Rutan yang menjadi instansi tempat narapidana untuk menjalani hukuman. Namun saat ini dunia sedang dihadapkan dengan kondisi pandemi Covid-19 yang mana hal tersebut bisa menyebabkan ada perbedaan dalam pemenuhan hak-hak narapidana tersebut. Untuk mengetahui pemenuhan hak narapidana di masa pandemi dilakukan sebuah penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk bisa menelaah yang menjadi permasalahan di dalam penelitian ini. Lokus yang dipilih untuk dilakukan penelitian adalah di Rutan Kelas IIB Purbalingga. Dari hasil penelitian yang dilakukan diketahui di Rutan Kelas IIB Purbalingga dalam pemenuhan hak narapidana khususnya pada masa pandemi terdapat sedikit perbedaan. Beberapa hak ada yang tetap diberikan namun dalam pelaksanaanya dikurangi atau dilakukan pembatasan. Dan ada hak yang tidak diberikan dan digantikan dengan alternatif lain seperti hak kunjungan keluarga. Kendala-kendala yang dihadapi dalam pemenuhan hak menggunakan alternatif lain untuk bisa tetap memenuhi hak narapidana. Rutan Purbalingga diharapkan lebih menekankan penerapan protokol kesehatan untuk bisa memutus mata rantai penyebaran virus dan tidak ada narapidana yang terpapar kembali.
Pengaruh Work Motivation Terhadap Work Performance Di Rutan Kelas IIb Purworejo
Dhimas Calandra Anggita;
Padmono Wibowo
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 4 No. 5 (2022): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jpdk.v4i5.7921
Target dari penelitian ini adalah untuk mencari tahu keterkaitan antara work motivation dengan work performance di Rutan Kelas IIB Purworejo. Dalam hal ini peneliti ingin mengetahui nilai keeratan suatu hubungan dalam setiap variabel. Penelitian ini memanfaatkan penelitian kuantitatif statistik deskriptif sebagai metode penelitian dimana sumber datanya nerasar dari angket pernyataan yang diberikan kepada 30 sampel penelitian. Pegawai merupakan populasi yang digunakan dengan mengambil sampel melalui teknik sampling probabilitas degan kategori random sampling. Hasil memperlihatkan adanya hubungan antara work motivation dan work performance.
Pelaksanaan Pembinaan terhadap Tahanan dan Narapidana di Rutan Kelas IIB Kudus dalam Sistem Pemasyarakatan
Muchammad Izzal Wildan;
Padmono Wibowo
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 4 No. 6 (2022): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jpdk.v4i6.8163
Selain memiliki tujuan untuk memulihkan narapidana dan tahanan kembali menjadi manusia yang baik. Dalam sistem pemasyarakatan juga bertujuan untuk mencegah dan melindungi masyarakat dari tindak kejahatan berulang yang dilakukan oleh narapidana, suatu penerapan dan merupakan bagian integral dari nilai-nilai dasar Pancasila. Kajian pembinaan narapidana di Rutan Kelas IIB Kudus bertujuan untuk mengetahui proses pembinaan narapidana dan mengetahui permasalah yang menjadi penghambat dalam proses pelaksanaan pembinaan narapidana di Rutan Kelas IIB Kudus. Dalam penelitian ini, di Rutan Kelas IIB Kudus telah melaksanakan pembinaan terhadap narapidana dengan pembinaan keagamaan, kesadaran hukum, pembinaan kesehatan jasmani dan rohani, keterampilan intelektual dan profesional, dari tahap pengetahuan lingkungan, hal ini dapat menunjukkan pelaksanaan pembinaan. Pembangunan belum maksimal. Faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan pembinaan tahanan dan narapidana di Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Kudus antara lain kurangnya sarana dan prasarana, kurangnya satpam, jumlah narapidana yang melebihi kapasitas Lapas, dan terbatasnya jumlah guru dan narapidana termasuk minat yang rendah.
Analisis Belum Terlaksana Program Pembinaan Narapidana Pada Lembaga Pemasyarakatan Indonesia
Hikmahanvazio Hikmahanvazo;
Padmono Wibowo
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 4 No. 6 (2022): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jpdk.v4i6.8230
Pelaksanaan hukuman pidana pada seorang pelaggar hukum dalam Lembaga Pemasyarakatan dilakukan agar mereka dapat menyadari kesalahan atas perbuatan yang telah mereka lakukan serta dapat menjadi manusia yang berguna ketika kembali pada masyarakat. Oleh sebab itu, suatu program pembinaan narapidana diciptakan sebagai media untuk melatih, mengasah dan mengajarkan mereka berbagai kemampuan dan ilmu sehingga tujuan dari pemidanaan dapat terwujud. Pada pelaksanaannya, beberapa permasalahan muncul pada proses pembinaan yang tidak berjalan sehingga terhambatnya proses pembinaan pada Lembaga pemasyarakatan sering terjadi. Permasalahan seperti SDM yang kurang berkualitas, kelengkapan sarana dan prasarana, kelebihan kapasitas hingga alokasi anggaran yang tidak sepadan dengan kegiatan yang dilakukan mengakibatkan proses pembinaan ini tidak berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan. Maka dari itu, dalam penelitian ini membahas mengenai permasalahan yang ada dalam proses pelaksanaan program pembinaan melalui Diagram Fishbone. Setelah mengidentifikasi penyebab yang terjadi permasalahan pada causal faktor, tahap selanjutnya yaitu membuat rencana atau rekomendasi dari akar penyebab yang ada agar bisa diimplementasikan dengan benar dan efektif. Berbagai rekomendasi tersebut diharapkan dapat memberikan solusi dan titi terang akan suatu permasalahan yang terjadi akan keberlangsungan program pembinaan terhadap narapidana.