Claim Missing Document
Check
Articles

The gonad growth of Anguilla bicolor bicolor induced by hormone combination of HCG, MT, E2, and antidopamine Zahri, Abdul; Sudrajat, Agus Oman; Junior, Muhammad Zairin
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3413.137 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.69-78

Abstract

ABSTRACT The aim of the study was to stimulate eel gonad growth by intramuscularly injection with a hormonal combination of human chorionic gonadotropin (hCG), methyltestosterone (T), estradiol (E2) and antidopamine (A) meanwhile 0.9% NaCl solution was used as control. Estradiol concentration in the blood serum were measured by enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Stimulation with hCG 20 IU/kg in combination with MT 3 mg/kg and 10 μg/kg antidopamine (hTA treatment) very effective for increased the growth of gonads with indicators gonadosomatic index (GSI) of 4.80%, hepatosomatic index 1.01% and concentration of E2 2.49±0.67 ng/mL were significantly different (P<0.05) than others treatment after ten weeks of application. Key words: hormone, gonad growth, maturation, Indonesian short finned eel  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan gonad yang distimulasi oleh kombinasi human chorionic gonadotropin (hCG), metiltestosteron (MT), estradiol (E2) dan antidopamin (A). Ikan sidat disuntik dengan hormon dan 0,9% NaCl sebagai kontrol secara intramuskular. Pengukuran konsentrasi hormon E2 dalam serum darah dengan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Stimulasi dengan hCG 20 IU/kg dikombinasi dengan MT 3 mg/kg dan antidopamin 10 μg/kg (perlakuan hTA) sangat efektif untuk feminisasi dan meningkatkan pertumbuhan gonad dengan indikator indeks gonadosomatik (GSI) 4,80%, indeks hepatosomatik 1,01% dan konsentrasi E2 2,49±0,67 ng/mL, secara signifikan berbeda pada taraf P<0,05 dibandingkan perlakuan lain setelah sepuluh minggu aplikasi. Kata kunci: hormon, pertumbuhan gonad, maturasi, sidat
Induction of gonadal maturation of eel using PMSG, antidopamine, and estradiol-17β Tomasoa, Aprelia Martina; Sudrajat, Agus Oman; Junior, Muhammad Zairin
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3322.047 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.112-121

Abstract

ABSTRACT The study was aimed to induce gonadal maturation of eel Anguilla bicolor bicolor by hormonal treatment using pregnant mare serum gonadotropin (PMSG), antidopamine (AD), dan estradiol-17β (E2). The research used complete randomized design with five hormone combination treatments consisted of PK (NaCl 0.95%) as control, P10A (PMSG 10 IU + AD 10 ppm), P20A (PMSG 20 IU + AD 10 ppm), P10BE (PMSG 10 IU + AD 10 ppm + E2 150 µg), and P20BE (PMSG 20 IU + AD 10 ppm + E2 150 µg), with three individual replications for each treatment. Hormonal induction was applied through intramuscular injection weekly during eight weeks at initial body weight of 200 g. The result showed that P10BE treatment has obtained highest level on E2 (0.43 ng/mL), FSH (2.68 mIU/mL) has increased in week-4 and level on T (1.2 ng/mL), LH (2.80 mIU/mL) has increased in week-8. P10BE has affected spermatogenesis and the increased of GSI (2.46%) in fourth and sixth week compared to PK (1.28%), P10A (1.58%), P20A (1.34%), and P20BE (2.12%). In conclusion, combination of PMSG, AD, and E2 hormones could stimulate the gonadal maturation of eel at the size of 200 g into male. Keywords: Anguilla bicolor bicolor, gonadal growth, hormone, maturation  ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk menginduksi pematangan gonad ikan sidat Anguilla bicolor bicolor secara hormonal dengan menggunakan pregnant mare serum gonadothropin (PMSG), antidopamin (AD), dan estradiol-17β (E2). Metode penelitian ini menggunakan metode eksperimen rancangan acak lengkap dengan lima perlakuan kombinasi hormon, yaitu PK (larutan NaCl 0,95%) sebagai kontrol, P10A (PMSG 10 IU + AD 10 ppm), P20A (PMSG 20 IU + AD 10 ppm), P10BE (PMSG 10 IU + AD 10 ppm + E2 150 µg), dan P20BE (PMSG 10 IU+AD 10 ppm+E2 150 µg), dengan tiga ulangan individu pada masing-masing perlakuan. Induksi hormonal dilakukan dengan metode penyutikan secara intramuskuler setiap minggu selama delapan minggu dengan bobot ikan yang berukuran 200 g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis hormon pada perlakuan P10BE memberikan nilai tertinggi masing-masing; kadar E2 (0,43 ng/mL), kadar FSH (2,68 mIU/mL) meningkat di minggu keempat dan kadar T (1,2 ng/mL), kadar LH (2,80 mIU/mL) mengalami peningkatan pada minggu kedelapan. P10BE memberikan efek pada spermatogenesis dan peningkatan nilai GSI (2,46%) pada minggu keempat sampai keenam selama penyuntikkan dibandingkan dengan PK (1,28%), P10A (1,58%), P20A (1,34%) dan P20BE (2,12%). Dengan demikian, kombinasi hormon PMSG, AD, dan E2 dapat merangsang perkembangan dan mempercepat pematangan gonad ikan sidat ukuran 200 g menjadi jantan. Kata kunci: Anguilla bicolor bicolor, pertumbuhan gonad, hormon, maturasi
Sex reversal of red tilapia using 17α-methyltestosterone-enriched feed and increased temperature Ayuningtyas, Safira Qisthina; Junior, Muhammad Zairin; Soelistyowati, Dinar Tri
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3043 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.159-163

Abstract

ABSTRACT The growth rate between male and female red tilapia Oreochromis sp. is different. Generally, the male red tilapia grows faster than the female. Furthermore, the maturation process of red tilapia is relatively fast which causes slower growth rate. One of solutions to this problem is by rearing all male population or mono-sex culture. The method used in this study was commercial feed enrichment with 17α-methyltestosterone at different dosages and water temperature manipulation. The purpose of this research was to examine the effects of commercial feed enrichment with different dosages of 17α-methyltestosterone and water temperature manipulation on success rate of sex reversal of red tilapia into all male population. This research consisted of different temperature treatments (with and without water heating) and 17α- methyltestosterone dosages (0, 10, 20 mg/kg of commercial feed). The best dosage of 17α-methyltestosterone was 20 mg/kg of commercial feed with male to female sex ratio of 86.31%, daily growth rate of 8.18%, and feed conversion ratio of 1.53. In this study, the best treatment to produce the male seeds was the 17α-methyltestosterone treatment. Keywords: 17α-methyltestosterone, sex reversal, red tilapia, temperature  ABSTRAK Ikan nila merah Oreochromis sp. memiliki laju pertumbuhan yang berbeda antara ikan jantan dan betina. Umumnya ikan nila merah jantan lebih cepat tumbuh dibandingkan betinanya. Selain itu, ikan nila memiliki sifat cepat matang gonad dan mudah memijah sehingga akan menghambat pertumbuhan ikan. Salah satu cara untuk mengurangi masalah yang terjadi yakni dengan memelihara populasi ikan nila merah tunggal kelamin atau monoseks jantan. Metode yang dilakukan adalah pemberian hormon 17α-metiltestosteron dengan dosis berbeda melalui pakan buatan dan peningkatan suhu air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis hormon 17α-metiltestosteron melalui pakan buatan dan peningkatan suhu air terhadap keberhasilan alih kelamin jantan pada ikan nila merah. Penelitian ini terdiri atas perlakuan suhu (dengan dan tanpa pemanasan air) dan dosis 17α-metiltestosteron (0, 10, 20 mg/kg pakan). Dosis hormon 17α-metiltestosteron terbaik yang didapatkan adalah 20 mg/kg pakan dengan nisbah kelamin jantan 86,31%, laju pertumbuhan harian 8,18%, dan rasio konversi pakan 1,53. Pada penelitian ini perlakuan terbaik untuk menghasilkan benih jantan adalah perlakuan dosis 17α-metiltestosteron. Kata kunci: 17α-metiltestosteron, alih kelamin, ikan nila merah, suhu
Spermatogenesis of male catfish Clarias sp. fed diet supplemeted with purwoceng extract Bertha, Poppy Dea; Junior, Muhammad Zairin; Soelistyowati, Dinar Tri
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3085.523 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.49-55

Abstract

ABSTRACT Purwoceng Pimpinella alpina Molk has been a commercial medicinal plant that their root could be used as aphrodisiac, diuretic, and body fit enhancer. This research was performed to evaluated the effect of purwoceng on spermatogenesis of the male catfish Clarias sp. consisted of testis weight, gonado somatic index (GSI), and spermatocrite levels. The treatment comprised administering purwoceng extract through the feed at a dose of 0; 2.5; 5; 7.5 g/kg of feed. Experimental fish used were male catfish Clarias sp. with initial body weight of 200–300 g at the density of 10 fish/tank. Male catfish were maintained in tank sized 2×1,5×1 m3, filled with water at 60–70 cm deep. The result showed that purwoceng extract at a dose of 5 g/kg mixed in the feed increased testis weight, GSI values, and spermatocrite levels in adult male catfish. Keywords: purwoceng extract, spermatogenesis, catfish  ABSTRAK Purwoceng Pimpinella alpina Molk merupakan tanaman herbal komersial yang akarnya dilaporkan berkhasiat sebagai obat afrodisiak, diuretik, dan tonik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh ekstrak purwoceng terhadap perkembangan testis ikan lele Clarias sp. yang meliputi peningkatan bobot testis, nilai GSI, serta nilai spermatokrit. Perlakuan terdiri atas pemberian ekstrak purwoceng melalui pakan dengan dosis 0; 2,5; 5 dan 7,5 g/kg pakan. Adapun ikan yang diujicobakan pada penelitian adalah ikan lele jantan dengan bobot awal 200–300 g dan padat tebar 10 ekor/bak. Pemeliharaan ikan dilakukan pada bak berukuran 2×1,5×1 m3 yang diisi air dengan ketinggian  60–70 cm. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pemberian ekstrak purwoceng dengan dosis 5 g/kg yang dicampur dalam pakan meningkatkan nilai bobot testis, nilai GSI dan kadar spermatokrit  pada lele jantan dewasa. Kata kunci: ekstrak purwoceng, spermatogenesis, ikan lele
Performance of broodstock and hybrid juvenile of Egyptian and sangkuriang Clarias gariepinus strains Zulfania, Putri; Junior, Muhammad Zairin; Alimuddin, ,; Sunarma, Ade
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3168.64 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.179-191

Abstract

ABSTRACT This study was conducted to evaluate reproduction of broodstock and intraspecific hybrid juvenile performance of Egyptian (M) and sangkuriang (S) strain African catfish Clarias gariepinus at nursery phase. Intraspecific hybridization of African catfish was carried out reciprocally (SM and MS) and purebreed (SS and MM), each was with three replicates. Fish spawning was conducted by artificial fertilization, and larvae were reared at 1st, 2nd and 3rd nursery phases, subsequently. The results showed that broodstock performance (male and female) of both strains were not significantly different (P>0.05) on all reproduction traits, except female’s gonadosomatic index. Fertilization and hatching rates of all hybrids were not significantly different (P>0.05). MM juvenile had higher growth performances than other juvenile hybrids. Heterosis of total length, standard length, and body weight were varied, whereas the survival showed positive heterosis. SM juvenile showed positive growth heterosis in 3rd nursery phase (total length, standard length, and body weight were 2.61%; 2.16%, and 4.79% respectively). Survival heterosis of MS juvenile (24.20% for total length; 103.13% for standard length and 11.62% body weight) was higher than SM juvenile (6.86%; 48.57%, and 3.09%) on all nursery phases Keywords: African catfish, intraspecific hybridization, growth, survival, heterosis  ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk menguji performa reproduksi induk dan benih hasil hibridisasi intraspesifik ikan lele Afrika Clarias gariepinus strain Sangkuriang (S) dan Mesir (M) pada fase pendederan. Hibridisasi intraspesifik ikan lele Afrika dilakukan secara resiprokal (SM dan MS) dan galur murni (SS dan MM) masing-masing dengan tiga ulangan. Pemijahan dilakukan secara buatan dan larva yang dihasilkan dipelihara pada fase pendederan pertama, kedua, dan ketiga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa performa induk ikan lele jantan dan betina pada kedua strain tidak berbeda nyata (P>0,05) pada seluruh parameter reproduksi, kecuali indeks gonadosomatik (GSI) pada induk betina. Derajat pembuahan dan penetasan telur pada seluruh persilangan tidak berbeda nyata (P>0,05). Pertumbuhan benih persilangan MM lebih tinggi, dibandingkan benih hasil persilangan lain. Nilai heterosis panjang total, panjang standar, dan bobot tubuh yang dihasilkan pada setiap stadia pendederan bervariasi, sedangkan nilai heterosis kelangsungan hidup menunjukkan hasil seluruhnya positif dibandingkan rataan galur murni. Heterosis pertumbuhan benih persilangan SM pada pendederan ketiga menunjukkan hasil yang positif (2,61% untuk panjang total; 2,16% untuk panjang standar dan 4,79% untuk bobot tubuh). Nilai heterosis kelangsungan hidup benih persilangan MS (24,20% untuk panjang total; 103,13% untuk panjang standar dan 11,62% untuk bobot tubuh) lebih tinggi dibandingkan benih persilangan SM (6,86%, 48,57% dan 3,09%) pada setiap stadia pendederan. Kata kunci: ikan lele Afrika, hibridisasi intraspesifik, pertumbuhan, kelangsungan hidup, heterosis 
The sex ratio and testosterone levels in tilapia immersed in different doses of 17α-methyltestosterone Junior, Muhammad Zairin; Naufal, Muhammad Restya; Setiawati, Mia; Hardianto, Dian; Alimuddin, ,
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3270.844 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.1.51-59

Abstract

  Tilapia fish farming using monosex male population has been reported to have 10% higher productivity compared to mix-sex culture. This study aimed to determine immersion dose of 17α-metiltestosterone (MT) that allowed higher male percentage, growth, survival, and measure testosterone level in fish body. The experiment was designed as three immersion doses, namely: 0; 1.8; and 5.4 mg/L MT, each with three replications. Immersion was conducted to 14-day-old larvae for four hours, with density of 100 fish/L of water. Testosterone levels in fish was measured using ELISA method, and sex identification was performed by histology method. The result showed that percentage of male fish was the same in the treatment of 1.8 mg/L and 5.4 mg/L, and 53–65% higher than the control without MT treatment (54% male). Growth and survival of fish until day 56 post immersion were the same. By ELISA analysis, the levels of testosterone in larvae just after immersion was similar in 1.8 mg/L and 5.4 mg/L treatments, decreased drastically on day 14 after immersion, and then the levels of testosterone to be similar with the control on day 28, i.e. about 2 ng/g. By PCR method with specific primer, sex reversed and normal males could be distinguished, and on day 71 the testosterone levels in sex reversed and normal males fish was also the same, 0.3 ng/g (P>0.05). Thus, sex reversal by immersion at a dose of 1.8 mg/L can be consider as a standard protocol for monosex tilapia production. Testosterone level in the body of MT-treated fish becomes the same to the control of less than one month post immersion
Aromatase gene expression and masculinization of Nile tilapia immersed in water 36 °C containing 17α-methyltestosterone Fauzan, Agung Luthfi; Soelistyowati, Dinar Tri; Junior, Muhammad Zairin; Hardiantho, Dian; Setiawati, Mia; Alimuddin, ,
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3315.516 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.1.116-123

Abstract

ABSTRACT  Immersion of undifferentiated larval tilapia in high temperature and 17α-methyltestosterone (MT) cab increase the male ratio. However, the effectiveness of immersion in high temperature of water containing MT remains to be evaluated. The purposes of this study were: 1) evaluate the male ratio, growth, and survival of tilapia, and 2) analyze the aromatase brain-type gene expression level in tilapia after immersing in high temperature (36 °C) containing MT at 2 mg/L for four hour with single and double immersion. Aromatase gene expression was analyzed by semi-quantitative RT-PCR (sqRT-PCR) method. The result showed that higher monosex male ratio was obtained by single immersion of MT at 36 °C at room temperature. Gene expression level of aromatase brain-type was lower on single immersion and increased significantly at second immersion compared to control (immersion at room temperature without MT). Immersion using MT and high temperature had no significant effect on fish survival. However the specific growth rate and fish biomass were higher than control. Thus, monosex male tilapia can be produced by single immersion of undifferentiated larvae at 36 °C temperature containing MT. Keywords: male ratio, aromatase, Oreochromis niloticus, temperature, 17α-methyltestosterone  ABSTRAK  Perendaman larva ikan nila yang belum terdeferensiasi kelaminnya dengan suhu tinggi dan hormon 17α-metiltestosteron (MT) dapat meningkatkan nisbah kelamin jantan. Tetapi, efektivitas perendaman menggunakan MT pada suhu tinggi belum diteliti. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) mengevaluasi nisbah kelamin jantan, pertumbuhan, dan kelangsungan hidup ikan nila, dan 2) menganalisis ekspresi gen aromatase tipe-otak pada ikan direndam menggunakan MT dengan dosis 2 mg/L selama empat jam sebanyak satu dan dua kali perendaman pada suhu 36 °C. Ekspresi gen aromatase dianalisis menggunakan metode RT-PCR semi-kuantitatif (sqRT-PCR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perendaman MT satu kali pada suhu 36 °C lebih tinggi menghasilkan ikan nila jantan monoseks dibandingkan perendaman MT satu kali pada suhu ruang. Tingkat ekspresi gen aromatase tipe otak pada perendaman satu kali lebih rendah, dan meningkat secara signifikan pada perendaman kedua dibandingkan dengan kontrol (perendaman pada suhu ruang tanpa MT). Perendaman larva menggunakan MT dan suhu 36 °C tidak berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup, tetapi laju pertumbuhan spesifik dan biomassa ikan perlakuan tersebut lebih tinggi daripada kontrol. Dengan demikian, ikan nila jantan monoseks dapat diproduksi dengan perendaman satu kali pada larva yang belum terdeferensiasi jenis kelaminnya menggunakan MT pada suhu 36 °C. Kata kunci: rasio jantan, aromatase, Oreochromis niloticus, suhu, 17α-metiltestosteron
The population growth and the nutritional status of Moina macrocopa feed with rice bran and cassava bran suspensions Mubarak, Ahmad Shofy; Jusadi, Dedi; Junior, Muhammad Zairin; Suprayudi, Muhammad Agus
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3490.003 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.2.223-233

Abstract

ABSTRACT Moina macrocopa culture density can be improved by optimizing the fecundity, and somatic growth through the regulation of quality and quantity of feed. The purpose of this study were to determined how to use effectively the rice bran and cassava bran Manihot utilisima suspension on Moina, based on population, neonates production, adult percentage, biomass, metabolisme and nutritional state. In this study, Moina were cultured for eighth days using four concentrations of rice bran suspension and three concentrations of cassava suspension. This research found that M. macrocopa culture with rice bran suspension has higher population, neonates production, adult percentage and biomass than its culture with cassava bran suspension (P<0.05). This study also found that Moina culture with rice bran suspension has higher total value of RNA, total value of DNA, the ratio RNA/ DNA, FCR, and concentration of protein and amino acid than Moina culture with cassava bran suspension. Treatment D with the initial rice bran suspension concentration was 0.3 mL/L  and was increased starting the second day and the end concentration on the eighth day was 1.2 mL/L has highest peak population of Moina 17,975 ind/L in seventh day, weight wet biomass 439 mg/L in eighth day and lower FCR 0.94. Keywords: suspension, rice bran, cassava, population, ratio RNA/DNA  ABSTRAK Kepadatan populasi dalam budidaya Moina macrocopa dapat ditingkatkan dengan mengoptimalkan fekunditas dan pertumbuhan somatik melalui pengaturan kualitas dan kuantitas pakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektifitas pengunaan pakan suspensi dedak dan tepung ketela pohon Manihot utilisima dalam budidaya M. macrocopa terhadap populasi, produksi anak per induk, persentase dewasa, biomasa, FCR, dan metabolismenya (asam amino, DNA, RNA, dan RNA/DNA). Di dalam penelitian ini, M. macrocopa dibudidayakan selama delapan hari  menggunakan empat konsentrasi suspensi dedak dan tiga konsentrasi suspensi tepung  ketela pohon. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, budidaya M. macrocopa dengan pakan suspensi dedak menghasilkan populasi, produksi anak/induk, persentase dewasa dan biomasa yang lebih tinggi dibandingkan budidaya Moina dengan pakan suspensi ketela pohon (P<0,05). Budidaya M. macrocopa dengan pakan suspensi dedak juga menghasilkan total RNA, total DNA dan  nisbah  RNA/DNA, konsentrasi protein, dan asam amino yang lebih tinggi dibandingkan Moina dengan pakan suspensi ketela pohon. Perlakuan D dengan pakan suspensi dedak awal 0,2 mL/L dan meningkat mulai hari kedua dengan konsentrasi hari kedelapan 1,2 mL/L menghasilkan puncak populasi tertinggi pada hari ketujuh sebanyak 17.975 ind/L, berat basah biomasa hari kedelapan kultur 439 mg/L, dan FCR yang rendah yaitu 0,94.   Kata kunci: suspensi, dedak, ketela pohon, populasi, nisbah RNA/DNA
Stress responses of transportation on red tilapia which given feed containing chromium Rakhmawati, Rakhmawati,; Suprayudi, Muhammad Agus; Setiawati, Mia; Widanarni, Widanarni,; Junior, Muhammad Zairin; Jusadi, Dedi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3422.17 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.1.16-25

Abstract

ABSTRACTThis study was conducted to evaluate stress responses of transportation on red tilapia Oreochromis sp. which given feed containing chromium. Three isonitrogenous and isocaloric experimental feeds were prepared, these diets were control (without chromium), CrPic 1 mg/kg, and CrYst 2 mg/kg supplementation in feed, all group were arranged triplicate. Satiation feeding was done three times a day. After a 60-day feeding experiment, the experimental fishes were fasted and distributed in polyethylene bags (N=60 fish/bag) containing 3 L of water, subjected to condition of transport simulation for 13 hours. Survival rate, levels of plasma cortisol, blood glucose, superoxide dismutase (SOD), and malondialdehyde (MDA) enzyme were observed at before transportation, after transportation, one day, and two days after transportation. The result showed that chromium supplementation reduced the levels of plasma cortisol before and after transportation, one day, and two days after transportation. Also, it decreased blood glucose compared with control significantly before transportation and one day after transportation. The SOD enzyme concentration increased significantly after fish was fed with feed containing chromium for 30 days, while the MDA enzyme concentration increased significantly after two days of transportation. However, there was no significant difference in the survival of red tilapia between treatments. The best result was obtained in the treatment of fish which fed with feed containing chromium. CrPic supplementation 1 mg/kg and CrYst 2 mg/kg increased the body resistance in red tilapia by decreasing the negative effect of stress while transportation. Keywords: stress, transportation, red tilapia, chromium  ABSTRAKPenelitian dilakukan untuk mengevaluasi respons stres transportasi ikan nila merah Oreochromis sp. yang diberikan pakan yang mengandung kromium. Pada penelitian ini digunakan tiga jenis pakan, terdiri atas pakan tanpa suplementasi kromium (kontrol), pakan bersuplementasi kromium pikolinat (CrPic 1 mg/kg), dan kromium yeast (CrYst 2 mg/kg), semua perlakuan diulang sebanyak tiga ulangan. Pemberian pakan sebanyak tiga kali sehari dan dilakukan secara at satiation. Setelah 30 hari pemeliharaan, ikan uji dipuasakan dan didistribusikan dalam plastik polietilen (N=60 ekor ikan/kantong plastik) yang berisi 3 L air, dilakukan dengan simulasi transportasi selama 13 jam. Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah kelangsungan hidup, kortisol, glukosa darah, enzim superoksida dismustase (SOD), dan malondialdehida (MDA) saat sebelum transportasi, sesaat setelah transportasi, sehari, dan dua hari setelah transportasi. Hasil yang didapatkan adalah suplementasi kromium menurunkan konsentrasi kortisol secara signifikan sebelum transportasi, sesaat, sehari, dan dua hari setelah transportasi. Suplementasi kromium menurunkan glukosa darah secara signifikan pada saat sebelum transportasi dan sehari setelah transportasi. Konsentrasi enzim SOD meningkat secara signifikan setelah pemberian pakan bersuplementasi kromium selama 30 hari, sedangkan konsentrasi enzim MDA meningkat secara signifikan setelah dua hari transportasi pada ikan yang diberi pakan bersuplementasi kromium. Namun, tidak ada perbedaan yang signifikan pada kelangsungan hidup ikan nila merah antarperlakuan. Hasil terbaik diperoleh pada perlakuan ikan dengan suplementasi kromium. Suplementasi 1 mg/kg CrPic dan 2 mg/kg CrYst dapat meningkatkan daya tahan tubuh pada budidaya ikan nila merah dengan menurunkan pengaruh negatif stres akibat transportasi. Kata kunci: stres, transportasi, nila merah, kromium
Biochemical study of striped catfish Pangasianodon hypophthalmus broodstock induced by PMSG hormone + anti‒dopamine and turmeric addition Arfah, Harton; Sudrajat, Agus Oman; Suprayudi, Muhammad Agus; Junior, Muhammad Zairin
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3416.018 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.2.191-198

Abstract

ABSTRACT This study aimed to evaluate biochemical changes (cholesterol, triglyceride, HDL, LDL, glucose, and plasma protein) on striped catfish Pangasianodon hypophthalmus broodstock induced with PMSG hormone and turmeric addition. An observation was also done to blood glycogen content. The striped catfish broodstock was fed on commercial feed without any addition (control) and with turmeric addition (HKu). In control treatment, there was a decreasing on cholesterol, meanwhile, the triglyceride (TG) value was increased. The HDL concentration was decreased in 2nd sampling and increased in 4th sampling. In 1st until 4th sampling, glucose was quite stable, while LDL was on extremely low concentration. In HKu treatment, the cholesterol value was higher than the control treatment. The TG concentration also higher than control in 3rd sampling and decreased in 4th sampling. The HDL concentration was increased and higher than the control treatment, while LDL concentration was lower. The liver glycogen content on the control and HKu treatment were 0.015 (mg/100 mL) and 0.181 (mg/100 mL) respectively; while in the flesh of the control and HKu treatment were 0.76 (mg/100 mL) and 1.19 (mg/100 mL) respectively; and in the gonad of control and HKu treatment were 0.10 (mg/100 mL) and 0.70 (mg/100 mL) respectively. It was shown that the glycogen content in the liver, flesh, and gonad on experimental fish was higher than control treatment. Keywords : biochemistry, hormone, turmeric, channel catfish, reproduction  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perubahan biokimia (kolesterol, trigliserida, HDL, LDL, glukosa dan protein plasma) induk ikan patin Pangasianodon hypophthalmus yang diberi perlakuan hormon PMSG dan kunyit (HKu). Pengamatan juga dilakukan terhadap glikogen dalam darah induk patin. Induk ikan patin diberi pakan tanpa penambahan kunyit (kontrol) dan pakan yang diberi HKu. Hasil penelitian pada kontrol menunjukkan adanya penurunan kolesterol, sedangkan pada TG mengalami peningkatan. HDL menurun pada sampling ke‒2 dan meningkat pada sampling ke‒4. Sementara itu, pada LDL rendah sekali dan pada glukosa terlihat stabil dari sampling ke‒1 sampai ke‒4. Pada perlakuan HKu terlihat bahwa pada kolesterol menghasilkan nilai lebih tinggi dibanding kontrol. Pada TG terlihat juga nilai lebih tinggi dibanding kontrol pada sampling ke‒3 dan menurun pada sampling ke‒4. Konsentrasi HDL meningkat dan lebih tinggi dibanding kontrol, sedangkan nilai LDL lebih rendah. Data yang diperoleh pada kadar glikogen hati perlakuan kontrol adalah 0,015 (mg/100 mL) dan HKu 0,181 (mg/100 mL); sedangkan pada daging kontrol sebesar 0,76 (mg/100 mL) dan HKu 1,19 (mg/100 mL); serta gonad kontrol 0,10 (mg/100 mL) dan HKu 0,70 (mg/100 mL). Hal ini menunjukkan kadar glikogen pada hati, daging, dan gonad ikan yang diberi perlakuan bernilai lebih tinggi dibanding kontrol.           Kata kunci : biokimia, hormon, kunyit, ikan patin, reproduksi  
Co-Authors , Alimuddin . Hermawan . Sukenda . Suriansyah . Syafiuddin . Tarsim ., Mulyasari A M Tahya A S Mubarak A. Oman Sudrajat A. Shofy Mubarak A. Yunianti Aarab, Zineb Ade Sunarma Ade Sunarma Ade Sunarma, Ade Adharto Utiah Agus O . Sudradjat Agus Oman Sudrajat Aldilla Kusumawardhani, Aldilla Alimuddin Alimuddin . alimuddin alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Angela Mariana Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti ANNA OCTAVERA Anouar Darif Aprelia Martina Tomasoa, Aprelia Martina Arroub, Omar Asep Sopian Avarre, Jean-Christophe Azis Azis Bambang Purwantara Benny Heltonika Bethsy J. Pattiasina Cahyono, Tatak Dwi D. Nurlestiyoningrum D.S. Sjafei Damiana Rita Ekastuti DEDI JUSADI Dian Hardiantho Dian Hardianto Didik Ariyanto Dinamella Wahjuningrum Dinar Tri Soelistyowati Dita Puji Laksana Dwi Hany Yanti E. Riani Eddy Supriyono ElAroussi, Mohamed Enang Harris Surawidjaja Etty Riani Fadel, Mohamed T. Fajar Basuki Fajar Maulana . Farizah, N Fauzan, Agung Luthfi Flandrianto S. Palimirmo GORO YOSHIZAKI H. Arfah Hamsah Hamsah Harton Arfah I Khasani I MADE ARTIKA I Wayan Nurjaya I. Herviani I. Mokoginta I. Supriatna Iis Diatin Ikhsan Khasani Imron Imron, Imron Irma Andriani IRMA ANDRIYANI Irvan Faizal Irzal Effendi Iskandar, Andri Ita Djuwita Jamaluddin Jompa Jasmanindar, Yudiana Jean-Christophe Avarre Julie Ekasari K Nisaa K. Sumantadinata Kadarusman . Khairun Nissa Khasani, I Komar Sumantadinata Kukuh Adiyana Kukuh Nirmala Kusman Sumawidjaja Laurent Pouyaud Livana Dethris Rawung Lolita Thesiana M Yamin M Yamin M. Bintang M. M. Raswin M. Raswin M. Sakdiah M. Syukur M. Toelihere M. Tri Djoko Sunarno M.M. Raswin Meilisza, Nina Mia Setiawati Mozes R . Toelihere MOZES R. TOELIHERE Mubarak, A S MUHAMMAD AGUS SUPRAYUDI Muhammad Muhammad Muhammad Safir Mulyasari . Mulyasari Mulyasari MUNTI YUHANA Muslim Muslim N Farizah N. Potalangi N.B.P Utomo Nababan, Yanti Inneke Nasrullah, Hasan Naufal, Muhammad Restya Neviaty P. Zamani Nisaa, K Nugraha, Media Fitri Isma Nunak Nafiqoh Nur Bambang Priyo Utomo Nurbariah Nurbariah O. Carman Odang Carman Odilia Rovara Poppy Dea Bertha, Poppy Dea Prassetyo Dwi Dhany Wijaya Purnamawati Purnamawati Purnamawati Purnamawati Putri Zulfania, Putri R. Affandi R.G. Pahlawan R.K. Sari R.R Sri Pudji R.R.S.P.S. Dewi Rahmani, My Driss Rahminiwati, Min Rakhmawati, Rakhmawati, Rguig, Mustapha RIDWAN AFFANDI Robin . Robin . Roza Elvyra S. Darwisito S. Dewi S. Handayani S. Mulyati S. Purwati Safira Qisthina Ayuningtyas, Safira Qisthina Siti Subaidah Sri Nuryati Sri Nuryati Srihadi Agungpriyono Suci Antoro Sugeng Budiharsono Sujaka Nugraha Sukenda . Sukenda Sukenda Sukenda Sukenda Sukenda Sukenda Syafyudin Yusuf T.L. Yusuf Tahya, A M Tarsim Tarsim TARUNI SRI PRAWAST MIEN KAOMINI ANY ARYANI DEDY DURYADI SOLIHIN Triayu Rahmadiah Tuty L . Yusuf W. Manalu Wahyu Pamungkas Wasmen Manalu WIDANARNI WIDANARNI Wisriati Lasima Wiyoto Wiyoto Wiyoto, W. Y. Hadiroseyani Y. Yustikasari Yogi Himawan Yudha Trinoegraha Adiputra Yusnarti Yus Zahri, Abdul