Claim Missing Document
Check
Articles

Pewarisan Karakter Kualitatif dan Kuantitatif pada Hipokotil dan Kotiledon Tomat (Solanum lycopersicum L.) Silangan IPB T64 x IPB T3 Marlina Mustafa; Muhamad Syukur; Surjono Hadi Sutjahjo; Sobir .
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 3 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.37 KB) | DOI: 10.29244/jhi.7.3.155-164

Abstract

ABSTRACTHypocotyl and cotyledon are potentially used as effective morphological markers since they can be detected earlier. Information on inheritance of tomato hypocotyl and cotyledon was not available. The aims of this research was to study the inheritance of qualitative and quantitative characters of tomato hypocotyl and cotyledon. This research used six population, P1 green hypocotyl (IPB T64), P2 purple hypocotyl (IPB T3), F1, F1R, BCP1, BCP2, and F2. Analysis of qualitative characters used Mendelian and gene action of quantitative characters used joint scaling test. The results of Mendelian indicated that the character of hypocotyl color was controlled by two genes of dominant-recessive epistasis. The gene controlling purple color was dominant to the green color gene. Based on the F2 distribution test, hypocotyl length, cotyledon length and width were controlled by polygenes. There was no influence of maternal effect. The results of the joint scaling test showed gene action of hypocotyl length was controlled by additive gene with influence of additive-dominant epistasis. Length and width of the cotyledon were controlled by additive gene and influence of duplicate epistasis effect. All characters had high level of broad sense heritability and medium level of narrow sense heritability.Keywords: cotyledone, gene action, heritability, hypocotyle, morphology marker.ABSTRAKHipokotil dan kotiledon berpotensi untuk dijadikan sebagai marka morfologi yang efektif karena dapat dideteksi lebih dini. Informasi pola pewarisan karakter hipokotil dan kotiledon tomat belum banyak tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pola pewarisan karakter kualitatif dan kuantitatif dari hipokotil dan kotiledon tomat sebagai marka morfologi pada tahap awal pertumbuhan tanaman. Penelitian ini menggunakan enam set populasi yaitu P1 hipokotil hijau (IPB T64), P2 hipokoti ungu (IPB T3), F1, F1R, BCP1, BCP2, dan F2. Karakter kualitatif menggunakan analisis Mendel dan pendugaan aksi gen karakter kuantitatif menggunakan analisis skala gabungan. Hasil analisis Mendel menunjukkan bahwa karakter warna hipokotil dikendalikan oleh dua pasang gen epistasis dominan-resesif. Gen pengendali warna ungu bersifat dominan terhadap warna hijau pada hipokotil tomat. Panjang hipokotil, panjang dan lebar kotiledon dikendalikan oleh banyak gen dan tidak ada pengaruh tetua betina berdasarkan uji sebaran populai F2. Hasil analisis skala gabungan menunjukkan bahwa aksi gen karakter panjang hipokotil dikendalikan oleh gen aditif dengan pengaruh epistasis aditif dominan, panjang dan lebar kotiledon dikendalikan oleh gen dominan dengan pengaruh epistasis duplikat. Semua karakter yang diamati memiliki nilai heritabilitas arti luas dalam tingkatan yang tinggi, sedangkan heritabilitas arti sempit dalam tingkatan yang sedang.Kata kunci: aksi gen, heritabilitas, hipikotil, kotiledon, marka morfologi.
GENETIC DIVERSITY OF INDONESIAN SHALLOTS BASED ON BULB-TUNIC PATTERNS AND MORPHOLOGICAL CHARACTERS Lina Herlina; Reflinur Reflinur; Sobir Sobir; Awang Maharijaya; Suryo Wiyono; Bonjok Istiaji
Indonesian Journal of Agricultural Science Vol 20, No 1 (2019): June 2019
Publisher : Indonesian Agency for Agricultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/ijas.v20n1.2019.p19-28

Abstract

Variation within bulb tunics has been used to determine the genetic diversity in Allium species, including shallots. However, no such study has been reported for shallots of Indonesia. The study aimed to analyze the genetic diversity of the Indonesian shallots based on the bulb-tunic patterns. Thirty-five shallot genotypes from main production centers in Indonesia were used. The ultrasculptures of the bulb tunics were examined by light microscopy, including the inner surface and cell shape patterns of the bulb tunics. The phenotypic data, i.e. quantitative and qualitative traits were subjected to the descriptive statistics, principal component, correlation, regression, and clustering analyses. The results showed that the bulb-tunic cell patterns were varied, which shared almost identical with 13 Allium species. Total bulb weight per genotype showed the greatest variation (cv = 89.10%) and significant correlation with bulb weight per plant (r = 0.773). The principle component analyses showed the cumulative proportion of 78% of the total morphological variation in all shallot genotypes. Based on clustering analysis, the genetic variation of Indonesian shallots are grouped into twelve clusters with 50% genetic similarity. The study indicates that Indonesian shallots are genetically varied and could be useful for further utilization in their genetic improvement program.
Korelasi dan Analisis Lintas Beberapa Karakter Tanaman Cabai (Capsicum annuum L.) pada Kondisi Normal dan Tercekam Kekeringan (Correlations and Path Analysis of Some Characters in Chili Pepper (Capsicum annuum L.) Under Normal and Drought Stress) nFN - Rosmaina; nFN Sobir; nFN Parjanto; Ahmad Yunus
Jurnal Hortikultura Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v29n2.2019.p147-158

Abstract

Cekaman air merupakan salah satu faktor pembatas pertumbuhan dan produksi tanaman termasuk cabai (Capsicum annuum L.). Produktivitas tanaman merupakan karakter yang kompleks sehingga hubungan antarkarakter perlu diketahui untuk mendapatkan kriteria seleksi yang tepat untuk perbaikan tanaman. Penelitian ini bertujuan mengetahui kriteria seleksi terhadap produksi tanaman cabai toleran kekeringan pada fase pembungaan. Penelitian disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan tiga taraf cekaman air, yaitu 100% kapasitas lapang (kontrol), 50% kapasitas lapang (medium stress), dan 25% kapasitas lapang (extreme stress). Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa berbagai karakter yang diamati memperlihatkan perbedaan asosiasi dengan level cekaman kekeringan. Karakter panjang akar tidak dapat digunakan sebagai kriteria seleksi tanaman cabai yang toleran terhadap kekeringan karena panjang akar tidak berkorelasi secara signifikan dengan bobot buah per tanaman pada 50% dan 25% kapasitas lapang. Berdasarkan korelasi dan analisis lintas pada kondisi normal (100% kapasitas lapang) dan kondisi tercekam (50% kapasitas lapang), karakter jumlah buah dan persentase fruit set berkorelasi positif dan berpengaruh langsung terhadap bobot buah per tanaman sehingga dapat digunakan sebagai kriteria seleksi untuk perbaikan tanaman cabai yang toleran kekeringan.KeywordsCekaman air; Cekaman kekeringan; Kriteria seleksi; Cabai; Capsicum annuum LAbstractWater stress is one of limiting factors for plant growth and production, including chili (Capsicum annuum L.). Plant productivity is a complex character so the relationship between characters needs to be known to get the right selection criteria for crop improvement. This study aimed to determine the selection criteria for the production of drought-tolerant chili pepper at the flowering phase. The research arranged under completely randomized design with three levels of water stress, namely 100% water field capacity (control), 50% water field capacity (medium stress) and 25% water field capacity (extreme stress). The results of the correlation analysis showed that the various characters observed exhibited differences associations with drought stress levels. Root length cannot be used for selection criterium of drought tolerant on chili because it was no positive significantly correlated to fruit weight per plant at 50% and 25% water field capacity. Based on correlation and path analysis in normal and drought conditions, the number of fruits and percentage of fruit set can be used as selection criteria for genetic improvement of drought-tolerant on chili plants because these characters were significantly positively correlated and had a direct effect on fruit weight of the plant.
Deteksi Virus pada Bawang Merah (Allium cepa var. ascalonicum) dengan Metode Dot Immuno Binding Assay Astri W Wulandari; S H Hidayat; Sobir Sobir
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n4.2015.p350-356

Abstract

Bawang merah umumnya diperbanyak secara vegetatif menggunakan umbi. Bibit unggul bawang merah ditentukan antara lain oleh status kesehatan benihnya termasuk bebas dari infeksi virus. Penyakit yang disebabkan oleh virus yang bersifat tular umbi merupakan salah satu kendala dalam meningkatkan produksi bawang merah. Penelitian bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis virus terbawa umbi pada beberapa varietas bawang merah yang berasal dari Jawa Tengah (Brebes) dan Jawa Barat (Cirebon, Kuningan, Majalengka, Bandung), yaitu Bima Curut, Bima Brebes, Sumenep, Jawa, Batu Merah, Batu Putih, Nganjuk, Timur Carwan, Ilokos, dan Jalaksana. Deteksi virus dilakukan dengan metode dot immuno binding assay (DIBA) menggunakan antibodi spesifik. Deteksi virus pada umbi bawang dilakukan dengan dua teknik, yaitu deteksi langsung dari umbi dan deteksi daun muda yang diambil dari umbi yang ditumbuhkan selama 30 hari. Hasil deteksi menunjukkan adanya infeksi onion yellow dwarf virus (OYDV), shallot latent virus (SLV), dan garlic common latent virus (GCLV) dengan infeksi tertinggi OYDV dan SLV. Infeksi virus lebih banyak terdeteksi dari sampel daun muda dibandingkan dengan dari sampel umbi. Infeksi virus tertinggi ditemukan pada sampel umbi varietas Nganjuk, Batu Putih, Jawa, dan Sumenep asal Majalengka, Kuningan, dan Bandung.
Analisis Keragaman Genetik Manggis dalam Satu Pohon S Noorrohmah; Sobir Sobir; Darda Effendi
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n2.2015.p106-112

Abstract

Manggis (Garcinia mangostana) termasuk dalam kelompok Garcinia, merupakan tanaman asli dari Asia Tenggara. Manggis memiliki sistem reproduksi melalui mekanisme apomiksis yang bijinya terbentuk tanpa fertilisasi. Manggis termasuk tanaman apomiksis obligat, progeni yang dihasilkan akan memiliki kesamaan genotip dengan tanaman induk. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan adanya keragaman genetik antaraksesi manggis. Penelitian bertujuan mengetahui keragaman morfologi dan genetik dalam satu pohon. Sampel tanaman yang digunakan berasal dari empat generasi manggis (P1, P2, P3, dan P4) Wanayasa, Purwakarta. Pengambilan sampel berdasarkan ketinggian tanaman dan masing-masing ketinggian dibagi menjadi empat sektor (utara, timur, selatan, dan barat). Penelitian meliputi tiga analisis, yaitu morfologi, molekuler dengan ISSR, dan data. Hasil penelitian menunjukkan terdapat keragaman morfologi dan genetik dalam satu pohon. Keragaman morfologi lebih besar dari pada genetik. Tingkat keragaman morfologi sebesar 18–43%, sedangkan keragaman genetik adalah 2–17%.
Keragaman Genetik Plasma Nutfah Rambutan di Indonesia Berdasarkan Karakter Morfologi Kuswandi Kuswandi; Sobir Sobir; Willy Bayuardi Suwarno
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n4.2014.p289-298

Abstract

Rambutan merupakan tanaman menyerbuk silang sehingga secara alami memiliki keragaman tinggi. Penelitian bertujuan mempelajari kemiripan genetik dan pengelompokan aksesi plasma nutfah rambutan (Nephelium lappaceum) dan kapulasan (Nephelium ramboutan-ake) di Indonesia berdasarkan karakteristik morfologi. Penelitian dilakukan di (1) Kebun Percobaan (KP) Aripan Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, (2) KP Subang Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, (3) KP Cipaku Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat, dan (4) Kabupaten Limapuluh Kota (Sumatera Barat), pada bulan Juni 2013 sampai Februari 2014. Karakterisasi sifat morfologi dilakukan terhadap 29 aksesi rambutan dan empat aksesi kapulasan mengacu pada descriptor for rambutan yang diterbitkan IPGRI. Perhitungan koefisien ketidakmiripan antaraksesi dilakukan dengan metode Gower. Analisis nominal logistic biplot dilakukan untuk melihat sifat penciri dari suatu kumpulan aksesi. Analisis keragaman genetik dapat membedakan kelompok rambutan dan kapulasan dengan koefisien ketidakmiripan rerata sekitar 55%. Berdasarkan kerapatan tandan, rambutan dapat dikelompokkan menjadi lima kelompok, yaitu aksesi yang memiliki tandan sangat jarang, jarang, sedang, rapat, dan sangat rapat. Aksesi dengan tandan rapat sampai sangat rapat antara lain aksesi Gendut Kair, Tangkue, dan Aceh Gendut, sedangkan semua aksesi kapulasan memiliki tandan yang sangat jarang. Berdasarkan ketebalan kulit buah, semua aksesi rambutan memiliki ketebalan kulit sedang sampai tebal, sedangkan aksesi Sibabat diketahui memiliki kulit yang sangat tebal.
Pengembangan Marka Molekuler yang Berasosiasi Dengan Kekuatan Dinding Sel Penyusun Saluran Getah Kuning Pada Manggis Risa Aryantri; Miftahudin Miftahudin; Sobir Sobir
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n1.2014.p16-22

Abstract

Salah satu masalah utama dalam peningkatan kualitas buah manggis ialah pencemaran buah oleh getah kuning akibat pecahnya sel penyusun saluran getah kuning. Seleksi buah manggis untuk mendapatkan buah bebas getah kuning dapat dibantu dengan memanfaatkan marka molekuler terpaut karakter kekuatan dinding sel penyusun saluran getah kuning. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pusat Kajian Hortikultura Tropik (PKHT), Institut Pertanian Bogor Jawa Barat, pada Bulan Mei 2012 sampai dengan April 2013. Penelitian ini bertujuan mengembangkan marka molekuler yang berasosiasi dengan sifat kekuatan dinding sel penyusun saluran getah kuning pada manggis. Sebanyak 39 aksesi Garcinia mangostana L. koleksi Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Sumatera Barat dan hasil koleksi dari Desa Leuwiliang, Jawa Barat digunakan dalam penelitian ini. Dua pasang primerdikembangkan dari sekuen gen kekuatan dinding sel manggis dengan teknik tersarang (nested PCR). Amplifikasi DNA dilakukan dengan teknik PCR standar. Hasil amplifikasi DNA menunjukkan satu pita DNA berukuran ± 260 pb yang polimorf antara tanaman dengan buah tercemar getah kuning dan tidak tercemar getah kuning. Pita tersebut berasosiasi dengan sifat kekuatan dinding sel penyusun saluran getah kuning.
Daya Gabung dan Aksi Gen pada Karakter Buah dan Hasil dari Populasi Setengah Dialel Lima Genotipe Pepaya (Carica papaya L.) Tri Budiyanti; Sobir Sobir; Desta Wirnas; Sunyoto Sunyoto
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n4.2015.p278-293

Abstract

Salah satu masalah dalam perakitan varietas hibrida, yaitu memilih tetua yang mempunyai daya gabung tinggi. Untuk menghasilkan hibrida F1 pepaya dengan kualitas dan produksi yang tinggi diperlukan informasi daya gabung yang tinggi antartetua.  Penelitian bertujuan mengetahui daya gabung umum (DGU) dan daya gabung khusus (DGK) untuk mendukung program perbaikan genetik varietas pepaya. Pendugaan DGU dan DGK  menggunakan populasi setengah dialel lima genotipe pepaya. Lima tetua pepaya yang dipergunakan, yaitu BT2, Carmina, Dampit, Carmida, and Merah Delima. Penelitian  menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter  bobot buah, panjang buah, dan kekerasan daging dikendalikan oleh aksi gen aditif. Tetua Dampit  dapat dipilih sebagai tetua dengan DGU terbaik untuk karakter tersebut. Karakter tebal daging, PTT, jumlah buah, produksi per pohon, dan persentase buah cacat dikendalikan oleh aksi gen nonaditif karena efek DGK dan ragam nonaditif lebih besar daripada efek DGU dan ragam aditif. Hibrida Carmina x Carmida  mempunyai  nilai DGK dan rata-rata yang tinggi untuk karakter tebal daging dan PTT. Hibrida BT2 x Dampit, Carmina x Dampit, Dampit x Merah Delima, dan Dampit x Merah Delima  mempunyai DGK dan rerata yang tinggi untuk karakter produksi per pohon. Pasangan kombinasi hibrid F1 tersebut dapat berpotensi untuk  dipilih sebagai varietas unggul  hibrida pepaya dengan keunggulan produksi buah yang tinggi. Calon varietas unggul baru pepaya tersebut   dapat dikembangkan di masyarakat sehingga akan meningkatkan produksi pepaya di Indonesia.
Genetic Diversity Analysis Using Resistance Gene Analog-Based Markers to Support Morphological Characterization of Shallots Lina Herlina; Reflinur Reflinur; Kristianto Nugroho; Rerenstradika T. Terryana; Sobir Sobir; Awang Maharijaya; Suryo Wiyono
Jurnal AgroBiogen Vol 14, No 2 (2018): December
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jbio.v14n2.2018.p65-74

Abstract

Shallot (Allium cepa var. aggregatum) is one of the most important vegetable crops grown in Indonesia. The limited knowledge available on the genetic diversity and the threat of plant disease have been major problems to maintain high shallot production in Indonesia. Development of molecular markers linked to disease resistance is required for molecular breeding activity in this crop. This study aimed to assess the genetic diversity at conserved domain of resistance gene analog (RGA) in a set of 36 Indonesian shallot genotypes to complement morphological characterization. Twelve morphological and fifteen molecular markers traits were investigated in an attempt to characterize and to discriminate the Indonesian shallots genotypes. Characterization at orphological level indicated that phenotypic variance was highest for total bulb weight (TWB, cv = 99.39%) and the least for the plant height (PH, cv = 28.16%). The correlation analysis between traits showed that TWB and number of bulb (NB), TWB and bulb weight per plant (WB), NB and WB, and WB and PH were positively correlated. Molecular analysis revealed a total of 1,512 alleles with an average of 1.946 alleles per locus. The Polymorphism Information Content (PIC) values ranged from 0.253 to 0.676 and six out of 15 RGA markers were highly informative with PIC values ≥0.50. Based on cluster analysis, the 36 Indonesian shallot genotypes were clearly discriminated into six major groups. These results revealed that the RGA-based markers could support the morphological characterization in evaluating the genetic diversity of shallots. 
Resistance Responses of 35 Watermelon Genotypes to Three Isolates of Fusarium oxysporum f. sp. niveum Nazly Aswani; Suryo Wiyono; Sobir Sobir
Jurnal AgroBiogen Vol 17, No 2 (2021): DESEMBER
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jbio.v17n2.2021.p63-74

Abstract

Fusarium wilt caused by Fusarium oxysporum f. sp. niveum (Fon) is one of main diseases of watermelon. There have been very limited studies that tested watermelon genotypes to more than one isolates of Fon in Indonesia. This research aimed to determine the resistance of 35 watermelon genotypes to three Fon isolates taken from three different areas in Indonesia. Incubation period (IP) and disease index (DI) of the 35 watermelon genotypes were determined against three Fon isolates collected from Karawang (FK), Lampung (FL), and Purwakarta (FP). The experiment was arranged using a Completely Randomized Design with two replications. DI showed that six watermelon genotypes, i.e. New Hope, Sky Mountain, Southern Light, Super Sweet 66, Uranus, and Yellow Baby demonstrated moderate resistance to resistance phenotypes to all tested Fon isolates. IP and percentage of symptomatic plants (PSP) showed different responses among genotypes either to the same or to different isolates. Genotype New Orchid, for example, showed 57.14% symptomatic plants in less than 10 days after inoculation (DAI) when tested with FL isolate. Meanwhile, when tested with the same isolate, genotype New Dragon showed only 6.67% symptomatic plants in more than 23 DAI. The result of this study indicated that watermelon genotypes showing resistant to all tested isolates should be useful for breeding program to develop watermelon lines with broader resistance spectrum against Fon pathogen. The resistance genotypes selected should also demonstrate good agronomic performances and high yield to be considered as a new watermelon variety.
Co-Authors , Kisman , Santoso Achmad Baihaki Agung Wahyu Susilo Agus Purwito Ahmad Dadang Ahmad Satori Ahmad Yunus Aji Hermawan Alex Hartana ALEX HARTANA Alex Hartana ALFRED P. MANAMBANGTUA Alifiya Herwitarahman Anas Dinurrohman Susila Andarwening, Freestina Andika Septiana Suryaningsih Aris Purwanto Arisanti, Tiffani Nindya Astri W Wulandari Astri Windia Wulandari Wulandari Awang Maharijaya Azhari, Andi Baiq Arriyadul Badi'ah Bonjok Istiaji Budi Santosa C Hanny Wijaya Chesaria, Nanda DADANG, AHMAD Deden Derajat Matra Delvi Maretta Desta Wirnas Didy Sopandie Diny Dinarti Diyah Martanti, Diyah DONATA S. PANDIN Edi Santosa Edi Santosa Edi Santosa Efendi, D. Efendi, Darda Eka Fatmawati Tihurua Eko Priyantono Ellina Mansyah Entit Hermawan Eny Widajati Erni Suminar Evalina C. Pandia Fadhilah Sitepu, Annisa Fusao Motoyoshi Gunawan Gunawan Gunawan Gunawan Hafizah, Rumaisha Afifatul HAJRIAL ASWIDINNOOR Hanifah Nuryani Lioe Harmi Andrianyta Harti, Heri Haryanti, Dyra Helmi, Susan Hendrastuti Hidayat, Sri Herry Suhardiyanto Hidayat , Sri Hendrastuti I Wayan Budiastra Ika Roostika Imam Widodo Iman Rusmana Imas Sukaesih Sitanggang Inayah Yasmin Kamila Indah Kurniasari Irvan Faizal Is Helianti Islah Hayati J. K. J. Laisina Joko Prasetiyono Juliati S. Darsa Juliet M.E. Mamahit Ketty Suketi Khairiyah, Hayat Khamidi, Thamrin Kisman Kisman Kristianto Nugroho Kurniawan Rudi Trijatmiko Kuswandi Kuswandi La Ode Safuan Laksono Trisnantoro Lilik Pujantoro Lina Herlina Lina Herlina Lina Herlina Lizawati . M A Chozin M. Syamsul Maarif Machfud Machfud Maharijaya, dan Awang Mahat Magandhi MANAMBANGTUA, ALFRED P. Mardiana - MARIA BINTANG Marlin Marlin Marlina Mustafa, Marlina Mas’ud, Zainal Alim MATHIUS, NURITA TOURAN Matra, Deden Derajat Meddy Rachmadi Memen Surahman Mien A. Rifai Miftahudin Miftahudin . Muchlis . Muhamad Syukur Muhammad Arif Nasution Muhammad Syukur Mukelar Amir Munarti Nadila, Dea Nazli, Rizal Sjarief Sjaiful Nazly Aswani Nettyani, Naipospos Ni Made Armini Wiendi Nining, Euis Nobuo Sugiyama Noorrohmah, Siti Nurita Toruan-Mathius Nursalma, Linda Nurul Khumaida Nurwahyuningsih Nurwahyuningsih Olivia Yofananda, Olivia OTIH ROSTIANA PANDIN, DONATA S. Parjanto Parjanto Poetri Agustine Aryawati PRASETIYONO, JOKO Prawestri, Apriliana Dyah Priyanti Priyanti Priyanti Priyanti Priyantono, Eko PURNAMA HIDAYAT Purwono Purwono Putra, Fiqhri Mulianda Putri, Faradila Danasworo Rahmadara, Gemilang Ramadhani Dwi Santoso Ramadhani Dwi Santoso Ramdhani, Cahyati Rd. Selvy Handayani Reflinur Reflinur Reflinur Reflinur Rerenstradika T. Terryana Ria Rif’atunidaudina Ridwan Setiamihardja Risa Aryantri Ritonga , Arya Widura Ritonga, Arya W Ritonga, Arya Widura Roberdi ,, Roberdi Robi'ah, Hanik Rohmah Roedhy Poerwanto Rosmaina Rosmaina S H Hidayat S Noorrohmah Santosa, Budi Santosa, Budi Sarsidi S astrosumarjo Sayekti, Tri Wahono Dyah Ayu Sekar Wulan Prasetyaningtyas Siti Hafsah Soaloon Sinaga SOLIN, NIDA W.N.M. SRI HENDRASTUTI HIDAYAT SRIANI SUJIPRIHATI Sriani Sujiprihati Sudarmono Sudirman Yahya Sujiprihati, Sriani Sulistijorini Sunyoto Sunyoto Suparjo Suprayanti Martia Dewi, Suprayanti Martia Surjono Hadi Sutjahjo Suryo Wiyono SYAFRIDA MANUWOTO Syarifah Iis Aisyah Syukur, M Tamami, Djoko TARUNI SRI PRAWAST MIEN KAOMINI ANY ARYANI DEDY DURYADI SOLIHIN TATIK CHIKMAWATI Tengku Laila Kamaliah Teuku Tajuddin Tias Arlianti Tony Liwang Toruan-Mathius, dan Nurita Tri Budiyanti Tri Handayani Tri Muji Ermayanti Trijatmiko, Kurniawan Rudi Trikoesoemaningtyas Undang, Undang Utami Prawati Wida W. Khumaero Widodo Widodo Willy Bayuardi Suwarno Winarso D. Widodo Winda Nawfetrias Witjaksono Wulan Septiningtyas Kurniajati Wuriandani, Adinda Yoko Mine Yono, Dwi Yudiwanti Wahyu E. Kusumo Yukarie Ayu Wulandari Yukarie Ayu Wulandari Yusnita Sari, Yusnita Zumaidar Zumaidar