Claim Missing Document
Check
Articles

Aplikasi Root Zone Cooling System Untuk Perbaikan Pembentukan Umbi Bawang Merah (Allium cepa var. aggregatum) Nurwahyuningsih .; Herry Suhardiyanto; Sobir .
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 5 No. 2 (2017): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (772.975 KB) | DOI: 10.19028/jtep.05.2.%p

Abstract

Abstract The aim of this research can be formulated as follows: to analyze the effect of different root zone temperature to some extent the temperature is 10oC, 15oC, control and vernalization of plant growth and the formation of shallot bulbs by using aeroponic system. The experimental design used was a draft Plots Divided (Split Plot Design), which is arranged in a randomized block design with four replications. The main plot is a vernalization treatment (without vernalization and with vernalization). The subplots in the form of a nutrient solution temperature at 10oC, 15oC, and without cooling system as a control. The parameters measured were the number of leaves, the number of tillers, the number of bulbs, the weight of bulbs and the wet weight of root. There are no interaction between the annealing temperature by vernalization to the number of leaves, the bulb number, the weight of bulbs, and the weight of the roots. Cooling temperatures nutrient solution to improving root growth and bulb formation of shallot. Optimal root growth can improve nutrient uptaken by plants then can improve plant growth and bulb yield larger and heavier. Temperatures suitable for shallot cultivation in lowland tropical for producing tubers with quenching temperature is 10°C, non vernalization.Abstrak Tujuan pada penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: menganalisa pengaruh perbedaan suhu zona perakaran dengan beberapa taraf suhu yaitu 10oC, 15oC, kontrol dan vernalisasi terhadap pertumbuhan tanaman bawang merah dan pembentukan umbi dengan menggunakan aeroponik sistem. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design), yang disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dengan empat ulangan. Petak utama adalah perlakuan vernalisasi (tanpa vernalisasi dan dengan vernalisasi). Anak petak berupa suhu pendinginan larutan nutrisi 10oC, 15oC, dan tanpa pendinginan sebagai kontrol. Parameter yang diamati adalah jumlah daun, jumlah anakan, jumlah umbi, berat umbi, dan berat basah akar. Tidak terjadi interaksi antara suhu pendinginan dengan vernalisasi terhadap jumlah daun, jumlah umbi, bobot umbi, dan berat akar. Pendinginan suhu larutan nutrisi mampu meningkatkan pertumbuhan perakaran dan pembentukan umbi tanaman bawang merah. Pertumbuhan akar yang optimal mampu meningkatkan serapan unsur hara oleh tanaman yang dapat memperbaiki pertumbuhan tanaman, menghasilkan umbi yang lebih besar dan lebih berat. Suhu yang cocok untuk budidaya bawang merah didataran rendah tropika basah untuk memproduksi umbi adalah dengan pendinginan suhu 10oC, non vernalisasi.
Prediksi Tanin dan Total Padatan Tidak Terlarut Buah Kesemek (Diospyros kaki L.) Menggunakan Spektroskopi NIR Indah Kurniasari; Yohanes Aris Purwanto; I Wayan Budiastra; Sobir Ridwani
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 5 No. 3 (2017): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1770.466 KB) | DOI: 10.19028/jtep.05.3.245-252

Abstract

AbstractDetermination of tannin and non-soluble solid content of persimmon are usually carried out by a chemical method, these methods are destructive, time-consuming and can not be applied to the development of online grading. The objective of this study was to develop rapid prediction method of tannin and non-soluble solid content of persimmon non-destructively using NIR Spectroscopy. NIR spectra were measured by NIRFlex N-500 fiber optic solid with the wavelength of 1000-2500 nm. For the reference method, tannin and non-soluble solid content were measured using conventional method. Some pre-processing methods were applied, and the results were calibrated to chemical data using principal component regression (PCR) and partial least square (PLS). The best model for prediction of non-soluble solid content was multiplicative scatter correction (MSC) pre-processing and PLS with a correlation coefficient (r), standard error prediction (SEP) and the ratio of standard deviation to SEP (RPD) of 0.83, 1.48% and 1.59 respectively. The best model for predicting tannin was first derivative Savitzky-Golay (dg1) and PLS with r, SEP and RPD of 0.72, 0.14% and 1.06 respectively. PLS method was better than PCR in predicting non-soluble solid content and tannin of persimmon. AbstrakPenentuan tanin dan total padatan tidak terlarut buah kesemek biasa dilakukan dengan metode kimia, metode ini bersifat destruktif, memakan waktu dan tidak dapat diterapkan untuk pengembangan grading secara on-line. Tujuan penelitian ini adalah untuk memprediksi secara cepat tanin dan padatan tidak terlarut buah kesemek secara non destruktif menggunakan Spektroskopi NIR. Spektrum NIR diukur dengan NIRFlex N-500 fiber optic solid pada panjang gelombang 1000-2500 nm, Untuk metode referensi, kandungan tannin dan total padatan tidak terlarut diukur dengan menggunakan metode konvensional. Beberapa metode pra-pengolahan data NIR diterapkan, dan hasilnya dikalibrasi dengan data kimia menggunakan metode principal component regression (PCR) dan partial least square (PLS). Model terbaik untuk memprediksi non-soluble solid content adalah menggunakan pra-pengolahan multiplicative scatter correction (MSC) dan PLS dengan r, SEP dan RPD masing - masing 0.83, 1.48%, dan 1.59. Model terbaik untuk memprediksi tanin diperoleh dengan menggunakan turunan pertama Savitzky-Golay (dg1) dan metode PLS dengan r, SEP dan RPD masing - masing 0.72, 0.14% dan 1.06. Metode PLS menghasilkan model kalibrasi lebih baik daripada PCR dalam memprediksi tanin dan non-soluble solid content buah kesemek.
Analisis Keragaman 35 Aksesi Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Asal BUDI SANTOSA; JOKO PRASETIYONO; AHMAD DADANG; DONATA S. PANDIN; . SOBIR; MEDDY RACHMADI; ALFRED P. MANAMBANGTUA
Buletin Palma Vol 16, No 2 (2015): Desember, 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (822.006 KB) | DOI: 10.21082/bp.v16n2.2015.183-194

Abstract

ABSTRAK Program pemuliaan untuk peningkatan produksi minyak kelapa sawit dapat dilakukan dengan cara melakukan seleksi plasma nutfah, observasi/eksplorasi lapang, maupun introduksi aksesi baru dari luar negeri. Teknologi seleksi kelapa sawit dapat dilakukan secara konvensional dan non-konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi keragaman genetik aksesi kelapa sawit asal Kamerun  berdasarkan keragaman karakter morfologi, produksi awal, dengan menggunakan marka molekuler  SSR. Penelitian dilakukan di KP Sitiung dan BB Biogen. Sampel yang dipilih adalah aksesi yang memiliki produksi awal tandan buah segar (TBS) minimal 4 kg.  Sebanyak 35 aksesi kelapa sawit asal Kamerun dan 20 primer SSR digunakan dalam penelitian ini. Hasil pengamatan karakter morfologi menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan karakter morfologi diantara 35 tanaman kelapa sawit yang produksi awalnya ≥ 4 kg TBS. Produksi awal kelapa sawit berkisar antara 4 - 9,5 kg TBS per tandan dengan koefisien keragaman rendah, yaitu < 20%. Berdasarkan analisis 20 primer SSR dihasilkan   enam pita dengan kisaran 4−12 alel. Jumlah alel dominan sangat mendominasi dibanding dengan alel jarang maupun alel sedang.  Nilai Polymorphism Information Content (PIC) yang diperoleh sebagian bernilai negatif, 11 primer (55%) bernilai positif. Primer MEgcl3639 menghasilkan nilai PIC tertinggi (0,65), sedangkan nilai PIC terendah pada primer MEgcl0046 (-0,48). Berdasarkan analisis UPGMA aksesi 35 kelapa sawit terbagi  ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok I terdiri dari 34 aksesi pada tingkat kesamaan genetik 42,5 - 67,5%, dan  kelompok II, yaitu satu aksesi (D91.4). Aksesi  D91.4 memiliki komposisi genetik yang sangat berbeda dengan kelompok I, dapat digunakan sebagai calon tetua persilangan. Perlu penelitian lebih detail pada aksesi D91.4 ini untuk pengamatan karakter kadar minyak, ketebalan cangkang, daging buah, dll.Kata kunci : Kelapa sawit, Kamerun, produksi awal, SSR. Diveristy Analysis of 35 Oil Palm Accessions (Elaeis guineensis Jacq.) Originated from Cameroon Based on Early Production Character by Using SSR Markers ABSTRACT Oil palm breeding programs to increase oil palm production can be done by under going selection in the germplasm collection, observation/exploration in the field and introduction from abroad. The technology can also be done by conventional or non-convention always. This study aimed to obtain information about genetic diversity of palm accessions originated from Cameroon based on the diversity of morphology and early production characters by using SSR molecular markers. Selected samples were those  that had early production of fresh fruit bunches (FFB) of at least 4 kg. The  research were held in Sitiung Field Station and ICABIOGRAD. Accessions used were oil palm accessions  originated from Cameroon as many as 35 accessions, where as microsatellite primers used were as many as 20 SSR  primers. The observation result of morphological characters showed that 35 oil palm accessions with production level of  ≥4,00 kg of FFB were not statically different. Initial production of oil palm accession were ranged from 4,00 to 9,50 kg  FFB per cluster with low diversity coefficient of <20%, which indicating high level of genetic uniformity. Molecular  analysis by using 20 SSR primers resulted  in number of bands up to six, with a range of 4-12 alleles. Dominant alleles  were more dominat as compared to rare or medium alleles. Some of Polymorphism Information Content (PIC) values were  obtained  negative, and only 11 primers (55%) showed positive PIC value. In this study, the primer Megcl3639 produced  the highest PIC value (0.65), while the lowest value was obtained on the primer MEgcl0046 (-0,48). Based on the UPGMA  analysis, 35 oil palm accessions were divided into two groups. The first group was comprised by 34 accessions with similarity of 42,5 - 67,5%, where as group II was comprised by one accession (D91.4). Accession D91.4 has a genetic composition that is very different the group I, can be used as a prospective parent for crosses. More detailed research is needed on this D91.4 accessions such as oil content, shell thickness, thickness of fruit, etc.Keywords: Oil palm, Cameroon, early production, SSR.
BIOLOGI KUTU PUTIH Dysmicoccus brevipes COCKERELL (HEMIPTERA : PSEUDOCOCCIDAE) PADA TANAMAN NENAS DAN KENCUR Juliet M. Eva Mamahit; Syafrida Manuwoto; Purnama Hidayat; Sobir Sobir
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 19, No 2 (2008): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v19n2.2008.%p

Abstract

Kutu putih Dysmicoccus brevipes me-rupakan hama utama pada perkebunan nenas, memiliki kisaran inang yang luas (lebih dari 100 spesies tanaman). Penelitian bertujuan untuk mengetahui beberapa parameter biologi kutu putih pada tanaman nenas (Ananas comosus L. Merr.) dan kencur (Kaempferia galanga L.). Penelitian dilaksanakan sejak Mei sampai dengan Juli 2007 di laboratorium dan lapangan. Penelitian menggunakan dua jenis tanaman inang yaitu nenas dan kencur pada kondisi laboratorium. Sampel kutu putih di-ambil dari lapang dan diidentifikasi. Crawler (nimfa instar-1) dipelihara sampai menjadi imago masing-masing pada daun nenas dan rimpang kencur yang diletakkan dalam petridis. Hasil penelitian menunjukkan kutu putih dapat hidup dan berkembang pada tanaman nenas dan kencur. Nimfa mengalami tiga kali ganti kulit sebelum menjadi imago. Total lama per-kembangan nimfa sekitar 32,10± 0,33 hari pada nenas dan menunjukkan perbedaan nyata pada kencur (35,55±0,43 hari). Lama perkembangan nimfa instar-1 sekitar 11,45±0,29 hari pada nenas dan sekitar 12,95± 0,33 hari pada kencur. Lama perkembangan nimfa instar 2 sekitar 9,85±0,29 hari pada nenas dan sekitar 11,05± 0,34 hari pada kencur. Sedangkan lama per-kembangan nimfa instar 3 sekitar 10,80±0,31 hari pada nenas dan 11,55±0,20 hari pada kencur. Lama hidup imago sekitar 20,40±0,74 hari pada nenas dan 20,20±0,57 hari pada ken-cur. Hasil analisis menunjukkkan masa pra-oviposisisi dan lamanya imago meletakkan anaknya sangat dipengaruhi secara nyata oleh tanaman inang.  
The Relationship of Nutmeg Populations from Tidore, Ternate, and Bogor Based on Morphological Marker Tias Arlianti; Desta Wirnas; NFN Sobir; Otih Rostiana
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 30, No 2 (2019): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v30n2.2019.69-80

Abstract

Banda Nutmeg (Myristica fragrans), is one of Indonesia's main spices commodities. Maluku Island, North Maluku, Siau, and Papua are the center of origins and center of nutmeg diversity; whereas, Bogor is the largest nutmeg cultivation area in West Java. The diversity and relationship between Bogor nutmeg with Maluku nutmeg have not been studied, even though it is crucial for local varieties selection and seeds provision. The study aimed to determine the diversity and relationship of nutmegs from Tidore, Ternate, and Bogor. The experiment was conducted in eight locations: Tidore (Gurabunga and Jaya), Ternate (Marikurubu), and Bogor (Cigombong, Ciawi, Leuwisadeng, Sukajadi, and Tamansari) from November 2017 - December 2018. Materials used were 46 nutmeg accessions of 8 – 30 year old plants with good growth and known of their origin. The experiments were performed using direct observation methods on habitus, leaf, fruit, seed, mace,  and flower followed IPGRI descriptor.  The results showed that qualitative diversity was observed in the fruit shape, shape of fruit-based and fruit-tip, fruit color, and tree shape. Mace thickness was the most substantial diversity for the quantitative character (50.38 %). The difference within intra-population in all aspects observed was low, except for the fruit character and mace weight. The genetic relatedness of the Bogor population was closer to Ternate (60 %) than Tidore (46 %). The genetic relationship amongst five Bogor populations found to be very close. Further, Leuwisadeng, Tamansari, and Sukajadi populations were found to have the highest genetic relationship and similarity (80 %).
STUDI RADIOSENSITIVITAS DAN ANALISIS KERAGAMAN M1 KACANG TUNGGAK (Vigna unguiculata L) HASIL INDUKSI MUTASI Yukarie Ayu Wulandari; Sobir Sobir; Syarifah Iis Aisyah
Jurnal AGROSAINS dan TEKNOLOGI Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Pertanian - UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.001 KB) | DOI: 10.24853/jat.4.1.1-9

Abstract

Kacang tunggak sebagai salah satu kacang indigenous potensi untuk substitusi kedelai sebagai bahan dasar pembuatan tempe dan tahu. Sumber daya genetik kacang tunggak perlu ditingkatkan keragamannya sebagai sumber plasma nutfah untuk perakitan varietas unggul baru. Induksi mutasi iradiasi sinar gamma pada kacang tunggak diharapkan dapat meningkatkan keragaman. Penelitian dilaksanakan dengan iradiasi biji kacang tunggak genotipe KM-4 dengan dosis 0, 200, 400, 600 dan 800 Gy dan dianalisis untuk memperoleh LD50 dan dilakukan iradiasi kembali dengan dosis 0, LD50-100, LD50-50, LD50, LD50+50 dan LD50+100 Gy. Karakter yang diamati meliputi tinggi tanaman, lebar tajuk, panjang tangkai, panjang daun, lebar daaun, periode panen, panjang polong, jumlah biji/polong, berat biji/tanaman dan kandungan protein biji kacang tunggak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai LD50 tanaman kacang tunggak adalah 724,84 Gy, iradiasi sinar gamma pada dosis750 Gy menghasilkan keragaman tertinggi dan iradiasi sinar gamma tidak meningkatkan keragaman terhadap kandungan protein biji kacang tunggak.
ANALISIS KERAGAMAN DAN KEKERABATAN KACANG TUNGGAK (Vigna unguiculata L) GENERASI M2 Yukarie Ayu Wulandari; Sobir Sobir; Syarifah Iis Aisyah
Jurnal AGROSAINS dan TEKNOLOGI Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Pertanian - UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (744.696 KB) | DOI: 10.24853/jat.5.1.46-56

Abstract

Cowpea (V. unguiculata L) has great potential as a nutritious food as a substitute for soybeans because it contains sufficient protein and low fat content. The diversity of cowpea is low so that need to increase diversity through the mutation induction of gamma ray irradiation. The study was carried out in the experimental garden of Pasir Kuda PKHT of IPB in February - May 2018 using a design of augmented in the Complete Group Design in a Randomized. The study was carried out using 90 putative mutant genotypes of M2 generation as the test genotype and KM4 genotype as a comparison which was repeated 10 times. The results showed that the M2 generation putative mutants showed diversity in the qualitative and quantitative characters of cowpea. High genetic diversity is shown in the character of plant height, harvest period, number of seeds / pods and weight of cowpea seeds / plants and high broad mean heritability values obtained on the character of stem length, flowering age, number of seeds / pods and weight of beans / plant nuts arrears. The result of kinship analysis showed thirteen different putative mutant genotypes with KM4 genotypes, namely T6599P, T8028P, T7525P, T7551P, T7520P, T6574P, T6533P, T7058P, T6577P, T6591P, T7062P, T7069P and T6561.
Korelasi Antar Karakter Pertumbuhan Dan Hasil Sepuluh Genotipe Talas Jepang pada Tiga Agroekologi Berbeda Delvi Maretta; Sobir Sobir; Is Helianti; Purwono Purwono; Edi Santosa
Buletin Palawija Vol 19, No 2 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 2, 2021
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v19n2.2021.p82-92

Abstract

Talas eddoe (Colocasia esculenta var antiquorum) atau talas Jepang merupakan tanaman yang prospektif dikembangkan di Indonesia. Informasi karakter tanaman talas pada berbagai agroekologi sangat penting sebagai dasar seleksi dan pemilihan lokasi dalam program pemuliaan tanaman. Penelitian bertujuan untuk mengetahui korelasi antar karakter pertumbuhan dan hasil tanaman talas Jepang yang ditanam pada tiga agroekologi yang berbeda. Percobaan dilaksanakan pada tahun 2018 sampai 2019 di Tangerang Selatan, Bogor dan Subang menggunakan sepuluh genotipe talas eddoe. Hasil penelitan menunjukkan bahwa panjang daun, panjang petiol dan panjang pelepah antargenotipe memiliki perbedaan yang nyata. Lokasi penanaman juga berpengaruh nyata terhadap semua karakter pertumbuhan dan hasil. Genotipe dan lokasi berinteraksi nyata terhadap panjang daun, petiol total, rentang tanaman, tinggi tanaman, panjang dan berat cormus. Karakter pertumbuhan dan hasil selalu berkorelasi erat di tiga lokasi, sedangkan korelasi karakter pertumbuhan dengan karakter hasil talas berbeda di tiap agroekologi (r=0,05). Perbedaan lingkungan tumbuh sangat berpengaruh terhadap nilai dan keeratan korelasi karakter pertumbuhan dengan hasil, sehingga upaya peningkatan hasil perlu memperhatikan agroekologi yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman talas.
KEANEKARAGAMAN GENETIK SALACCA ZALACCA BERDASARKAN PENANDA AFLP Zumaidar Zumaidar; Tatik Chikmawati; Alex Hartana; Sobir Sobir
Floribunda Vol. 5 No. 2 (2015)
Publisher : PTTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.188 KB) | DOI: 10.32556/floribunda.v5i2.2015.130

Abstract

Salacca zalacca has two varieties, namely Salacca zalacca var. zalacca called salak Jawa and Salacca zalacca var. amboinensis called salak Bali. Based on agronomical and morphological characters, people have known several cultivars of both varieties. This study aims to determine the genetic differences between them. Salak samples (Salacca zalacca) accounted for 91 accessions from Aceh, West Java (Bogor, Sumedang, Tasikmalaya), Central Java, Jogjakarta, and Sulawesi, included 22 cultivars consisted of 11 released cultivars and 11 local cultivars. Molecular marker was used Amplified Fragment Length Polymorfism markers (AFLP) that consisted of two different primer combinations are EcoRI-ACT and Mse1-CAT; and EcoRI-ACC and Mse1-CTT. Data were analyzed using the UPGMA method. The results showed that the data fragments that were scored from the combination of two different primer were 531. Those were polymorphic on the size of 140–489 bp for ACT-CAT and 140–447 bp for ACC-CTT. Primer combinations of EcoRI-ACC and Mse1-CTT produced polymorphic data moresomore efficiently than primer combination of EcoRI-ACT and Mse1-CAT. Phenetic analysis illustrates the genetic relationship between salak Jawa and salak Bali on 0.61 similarity coefficient. Dendrogram showed union of salak Bali accessions at tree branches. Molecularly AFLP markers indicated separation of salak Jawa and salak Bali.
KEANEKARAGAMAN CEMPEDAK [ARTOCARPUS INTEGER (THUNB.) MERR.] DI PULAU BENGKALIS DAN PULAU PADANG, RIAU Muchlis .; Tatik Chikmawati; Sobir .
Floribunda Vol. 5 No. 7 (2017)
Publisher : PTTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32556/floribunda.v5i7.2017.204

Abstract

Muchlis, Tatik Chikmawati & Sobir. 2017. The Diversity of Chempedak [(Artocarpus integer (Thunb.) Merr.] in Bengkalis and Padang Islands, Riau. Floribunda 5(7): 239–252. —  Chempedak [Artocarpus integer (Thunb.) Merr.]  is a native tropical fruit plant of Indonesia. Riau is one of chempedak distribution regions in Indonesia but the information about its diversity is very limited. The aims of the research are to characterize the morphological characters of chempedak’s accessions in Riau and to describe the diversity. The research was conducted in Bengkalis and Padang Islands, Riau province using exploration method. As many as 21 accessions of chempedak and two accessions of jackfruits were observed using 83 characters based on descriptor of jackfruit (Artocarpus heterophyllus). The analysis of similarity and clustering based on morphological data were done using Simple Matching coefficient and Unweighted Pair Group Method with Arithmatic Average (UPGMA) method. The diversity of chempedak in Riau were observed on shape of (crown crop, leaf blade, apex & base of leaf, inflorescences, fruit, spine, flake, seed), stalk length, fruit surface and flake colour. The result produced a dendrogram of chempedak in Riau with the similarity index ranged 44 –83%. Dendrogram grouped all chempedak in Riau were not clustered based on island origin.Keywords: Bengkalis Island, dendrogram, morphological character, Padang Island, Simple Matching coefficient, tropical fruits.  Muchlis, Tatik Chikmawati & Sobir. 2017. Keanekaragaman Cempedak [Artocarpus integer (Thunb.) Merr.] di Pulau Bengkalis dan Pulau Padang, Riau. Floribunda 5(7): 239–252. —   Cempedak [Artocarpus integer (Thunb.) Merr.] adalah tanaman buah tropis asli Indonesia. Riau merupakan salah satu daerah persebaran cempedak di Indonesia, namun informasi tentang keanekaragamannya terbatas. Tujuan penelitian ini adalah mengkarakterisasi ciri morfologi aksesi-aksesi cempedak di Riau dan mengungkapkan keanekaragamannya. Penelitian dilakukan di Pulau Bengkalis dan Pulau Padang, Provinsi Riau menggunakan metode jelajah. Sebanyak 21 aksesi cempedak dan 2 aksesi nangka diamati menggunakan 83 ciri berdasarkan deskriptor nangka (Artocarpus heterophyllus). Analisis keserupaan dan pengelompokan berdasarkan data morfologi menggunakan koefisien SM dan metode UPGMA. Keanekaragaman cempedak di Riau ditemukan pada bentuk-bentuk (kanopi, helaian daun, pangkal & dan ujung helaian daun, perbungaan, buah, duri, bulbus, biji), tangkai perbungaan, permukaan buah, dan warna bulbus. Hasil dendrogram menunjukkan bahwa cempedak di Riau memiliki indeks kemiripan sebesar 44–81%. Dendrogram menunjukkan bahwa cempedak di Riau tidak mengelompok berdasarkan asal pulau.Kata kunci: Buah tropis, ciri morfologi, dendrogram, koefisien Simple Matching, Pulau Bengkalis, Pulau Padang.
Co-Authors , Kisman , Santoso Achmad Baihaki Agung Wahyu Susilo Agus Purwito Ahmad Dadang Ahmad Satori Ahmad Yunus Aji Hermawan ALEX HARTANA Alex Hartana Alex Hartana ALFRED P. MANAMBANGTUA Alifiya Herwitarahman Anas Dinurrohman Susila Andarwening, Freestina Andika Septiana Suryaningsih Aris Purwanto Arisanti, Tiffani Nindya Astri W Wulandari Astri Windia Wulandari Wulandari Awang Maharijaya Azhari, Andi Baiq Arriyadul Badi'ah Bonjok Istiaji Budi Santosa C Hanny Wijaya Chesaria, Nanda DADANG, AHMAD Deden Derajat Matra Delvi Maretta Desta Wirnas Didy Sopandie Diny Dinarti Diyah Martanti, Diyah DONATA S. PANDIN Edi Santosa Edi Santosa Edi Santosa Efendi, D. Efendi, Darda Eka Fatmawati Tihurua Eko Priyantono Ellina Mansyah Entit Hermawan Eny Widajati Erni Suminar Evalina C. Pandia Fusao Motoyoshi Gunawan Gunawan Gunawan Gunawan Hafizah, Rumaisha Afifatul HAJRIAL ASWIDINNOOR Hanifah Nuryani Lioe Harmi Andrianyta Harti, Heri Haryanti, Dyra Helmi, Susan Hendrastuti Hidayat, Sri Herry Suhardiyanto Hidayat , Sri Hendrastuti I Wayan Budiastra Ika Roostika Imam Widodo Iman Rusmana Imas Sukaesih Sitanggang Inayah Yasmin Kamila Indah Kurniasari Irvan Faizal Is Helianti Islah Hayati J. K. J. Laisina Joko Prasetiyono Juliati S. Darsa Juliet M.E. Mamahit Ketty Suketi Khairiyah, Hayat Khamidi, Thamrin Kisman Kisman Kristianto Nugroho Kurniawan Rudi Trijatmiko Kuswandi Kuswandi La Ode Safuan Laksono Trisnantoro Lilik Pujantoro Lina Herlina Lina Herlina Lina Herlina Lizawati . M A Chozin M. Syamsul Maarif Machfud Machfud Maharijaya, dan Awang Mahat Magandhi MANAMBANGTUA, ALFRED P. Mardiana - MARIA BINTANG Marlin Marlina Mustafa, Marlina Mas’ud, Zainal Alim MATHIUS, NURITA TOURAN Matra, Deden Derajat Meddy Rachmadi Memen Surahman Mien A. Rifai Miftahudin Miftahudin . Muchlis . Muhamad Syukur Muhammad Arif Nasution Muhammad Syukur Mukelar Amir Munarti Nadila, Dea Nazli, Rizal Sjarief Sjaiful Nazly Aswani Nettyani, Naipospos Ni Made Armini Wiendi Nining, Euis Nobuo Sugiyama Noorrohmah, Siti Nurita Toruan-Mathius Nursalma, Linda Nurul Khumaida Nurwahyuningsih Nurwahyuningsih OTIH ROSTIANA PANDIN, DONATA S. Parjanto Parjanto Poetri Agustine Aryawati PRASETIYONO, JOKO Prawestri, Apriliana Dyah Priyanti Priyanti Priyanti Priyanti Priyantono, Eko PURNAMA HIDAYAT Purwono Purwono Putra, Fiqhri Mulianda Putri, Faradila Danasworo Rahmadara, Gemilang Ramadhani Dwi Santoso Ramadhani Dwi Santoso Ramdhani, Cahyati Rd. Selvy Handayani Reflinur Reflinur Reflinur Reflinur Rerenstradika T. Terryana Ria Rif’atunidaudina Ridwan Setiamihardja Risa Aryantri Ritonga , Arya Widura Ritonga, Arya W Ritonga, Arya Widura Roberdi ,, Roberdi Robi'ah, Hanik Rohmah Roedhy Poerwanto Rosmaina Rosmaina S H Hidayat S Noorrohmah Santosa, Budi Santosa, Budi Sarsidi S astrosumarjo Sayekti, Tri Wahono Dyah Ayu Sekar Wulan Prasetyaningtyas Siti Hafsah Soaloon Sinaga SOLIN, NIDA W.N.M. SRI HENDRASTUTI HIDAYAT SRIANI SUJIPRIHATI Sriani Sujiprihati Sudarmono Sudirman Yahya Sujiprihati, Sriani Sulistijorini Sunyoto Sunyoto Suparjo Suprayanti Martia Dewi, Suprayanti Martia Surjono Hadi Sutjahjo Suryo Wiyono SYAFRIDA MANUWOTO Syarifah Iis Aisyah Syukur, M Tamami, Djoko TARUNI SRI PRAWAST MIEN KAOMINI ANY ARYANI DEDY DURYADI SOLIHIN TATIK CHIKMAWATI Tengku Laila Kamaliah Teuku Tajuddin Tias Arlianti Tony Liwang Toruan-Mathius, dan Nurita Tri Budiyanti Tri Handayani Tri Muji Ermayanti Trijatmiko, Kurniawan Rudi Trikoesoemaningtyas Undang, Undang Utami Prawati Wida W. Khumaero Widodo Widodo Willy Bayuardi Suwarno Winarso D. Widodo Winda Nawfetrias Witjaksono Wulan Septiningtyas Kurniajati Wuriandani, Adinda Yoko Mine Yono, Dwi Yudiwanti Wahyu E. Kusumo Yukarie Ayu Wulandari Yukarie Ayu Wulandari Yusnita Sari, Yusnita Zumaidar Zumaidar