p-Index From 2021 - 2026
3.094
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Contestation and Conflict in the Seizure of Gold in Poboya Zainudin, Sulthan; Soetarto, Endriatmo
Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Vol. 6 No. 2 (2012): Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan
Publisher : Departement of Communication and Community Development Sciences, Faculty of Human Ecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (614.184 KB) | DOI: 10.22500/sodality.v6i2.6080

Abstract

Terjadinya konflik yang melibatkan antara masyarakat dengan pemerintah dan perusahaan disebabkan oleh perspektif yang berbeda dalam memandang sumber daya alam. Sebagai konsekuensinya, hal ini akan membawa pada perbedaan manajemen dan pemanfaatan sumber daya alam, sehingga hal itu akan berakhir dengan perbedaan pandangan dalam pengelolaan sumber daya alam antara pemerintah dan masyarakat setempat. Dalam tingkat makro, studi ini sebenarnya akan membahas diferensiasi makna yang berakhir dengan konflik sumber daya alam di Poboya, aktor yang terlibat dan representasi masyarakat adat dan kelompok-kelompok LSM konservasi sumber daya alam dari ekspansi kapitalis. Dengan menggunakan perspektif ekologi politik, studi ini menunjukkan bahwa ada banyak pihak yang terlibat dalam Poboya, seperti pemerintah pusat, para elit politik lokal, masyarakat adat, kepolisian daerah, CPM, dan masyarakat setempat. Penelitian ini juga mengidentifikasi bahwa asal usul konflik Poboya ini terjadi antara pemerintah, perusahaan (CPM) dan masyarakat adat adalah dalam hal kontestasi sumber daya alam. Sementara itu, konflik antara perusahaan, pemerintah dan LSM menjadi suatu diskursus. Representasi masyarakat adat diwujudkan dalam bentuk pengendalian kegiatan pertambangan, sedangkan LSM yang diberikan penguatan dan berdiri di belakang tindakan masyarakat di Poboya.Kata Kunci: kontestasi kekuasaan, masyarakat adat, penambangan.
DAMPAK REFORMA AGRARIA DARI BAWAH TERHADAP KESEJAHTERAAN MASYARAKAT DI DESA GARONGAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Sokoastri, Valentina; Soetarto, Endriatmo
Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Vol. 6 No. 3 (2012): Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan
Publisher : Departement of Communication and Community Development Sciences, Faculty of Human Ecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3508.996 KB) | DOI: 10.22500/sodality.v6i3.8023

Abstract

Agrarian reform by leverage or commonly known as landreform by leverage is a peasant movements which is organized by peasant initiative to defend their land. This movement could be associated with social welfare and negative excess like criminalization that frequently take place in Garongan village. There, most people involved in conflict because of their persistence to keep their land. There is a strong relationship between agrarian reform by leverage and peasant welfare. Land which is frequently referred as crucial donation of life has a vital value for human survival. The function of land is not only considered as human nee ds but  al so as i dent it y t hat  al ways  t ri ggers  any c onfl i ct  nowadays . So, it ’s not  st range if  thi s condi ti on causes any negative impacts of criminalization including psychological, physical or both psychological and physical effects for those who involved. At the end of this description, farmers who have been sovereign from agriculture will be interferred by iron sand mining company which is supported by feudal forces and private corporations. This research examine more deeply about the relationship between agrarian reform by leverage and social welfare, the impact of agrarian reform by leverage to the criminalization and the differences of level of social welfare before and after agrarian reform in Garongan village. Keywords: agrarian reform by leverage, criminalization, social welfare.
The Paguyuban Petani’s Movement Versus The State and The Impact to Sukamulya Community’s Welfare Amalia Rahmah, Dinna; Soetarto, Endriatmo
Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Vol. 2 No. 1 (2014): Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan
Publisher : Departement of Communication and Community Development Sciences, Faculty of Human Ecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.324 KB) | DOI: 10.22500/sodality.v2i1.9408

Abstract

Konflik agraria terjadi karena perbedaan kepentingan antara dua atau lebih aktor terhadap sumber agraria. Konflik agraria yang terjadi di Desa Sukamulya karena perselisihan antara masyarakat dan perwakilan negara, Lanud Atang Sandjaya TNI-AU. Lanud Atang Sandjaya mengklaim dan mengambil alih tanah masyarakat dan membuat masyarakat harus berjuang kembali melalui gerakan Paguyuban Petani. Tujuan dari gerakan ini adalah untuk mengembalikan hak atas tanah kepada masyarakat. Ada beberapa faktor yang dapat membuat Paguyuban Petani menjadi isu nasional seperti; kepemimpinan, kolektivisme, dan kegiatan Paguyuban Petani, serta dukungan dari orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara tingkat Paguyuban Petani yang sukses dan kesejahteraan masyarakat, baik di bidang ekonomi maupun sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Paguyuban Petani memiliki hubungan yang sangat lemah dengan kesejahteraan ekonomi masyarakat, tetapi memiliki hubungan yang cukup kuat dengan kesejahteraan sosial masyarakat di Desa Sukamulya.
Contestations Access to Agrarian Resources in Forest Area of Dodo Jaran Pusang, Sumbawa District, NTB ., Fahrunnisa; Soetarto, Endriatmo
Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Vol. 4 No. 2 (2016): Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan
Publisher : Departement of Communication and Community Development Sciences, Faculty of Human Ecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.113 KB) | DOI: 10.22500/sodality.v4i2.13381

Abstract

ABSTRACTControl and management of forests by the Government often gives rise to conflicts with communities, especially those that still utilize forest resources for their lives. This condition also occurs in forest area of Dodo, Jaran Pusang (RTK. 64) in Sumbawa, West Nusa Tenggara. Conflicts in forest area of Dodo involve community in Lawin village and Lebangkar village, sub-district Ropang, local government and the PT Newmont Nusa Tenggara who gained the concession of mining around forest area of Dodo. This research was qualitative research with a descriptive case study strategy. This research explains that the Lebangkar and Lawin community still can access forest of Dodo, indicated by a pattern of economic relations, socio-cultural and ecological of the communities with forest. The community also is constantly working to build power through FKDEL, YEP, SPPT, and SKPT movement to maintain access in the forest of Dodo. On the other hand, the Government of Indonesia, Newmont Nusa Tenggara, Society Ropang, Ranan, Lebin and Johnny wanted to access the forest of Dodo. Every actor has a different way to get access. The difference in the strength of the actor causing relationship tension between concerned actors.Keywords: agrarian contestations, access, Forest of Dodo, Lebangkar, LawinABSTRAKKontrol dan pengelolaan hutan oleh pemerintah sering menimbulkan pertentangan dengan masyarakat, terutama yang masih memanfaatkan sumber daya hutan untuk kehidupan mereka. Kondisi ini juga terjadi di Kawasan Hutan Dodo, Jaran Pusang (RTK.64) di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Konflik di Kawasan Hutan Dodo melibatkan masyarakat di desa Lawin dan desa Lebangkar, kecamatan Ropang, pemerintah daerah dan PT Newmont Nusa Tenggara yang memperoleh konsesi pertambangan sekitar Kawasan Hutan Dodo. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan startegi studi kasus deskriptif. Penelitian ini menjelaskan bahwa masyarakat Lawin dan Lebangkar masih dapat mengkases hutan Dodo yang ditunjukkan dengan pola hubungan ekonomi, sosial-budaya dan ekologi masyarakat dengan hutan. Masyarakat juga terus berupaya membangunpower melalui gerakan FKDEL, YEP, SPPT, dan SKPT untuk mempertahankan akses di hutan Dodo. Di sisi lain, pemerintah Indonesia, Newmont Nusa Tenggara, masyarakat Ropang, Ranan, Lebin dan Lantung ingin mengakses hutan dodo. Setiap aktor memiliki cara yang berbeda untuk mendapatkan akses. Perbedaan kekuatan aktor menyebabkan ketegangan hubungan antara aktor-aktor berkepentingan.Kata kunci: kontestasi graria, akses, Hutan Dodo, Lebangkar, Lawin
Catabolism of Space and utilization of community as A Survival Strategy of Pesantren Heryawan Asnawi, Yudha; Soetarto, Endriatmo
Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Vol. 4 No. 1 (2016): Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan
Publisher : Departement of Communication and Community Development Sciences, Faculty of Human Ecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.508 KB) | DOI: 10.22500/sodality.v4i1.14409

Abstract

ABSTRACTThrough out in history of pesantren is not a stagnant entity. Pesantren has undergone various linkages from early history to this present. Initially pesantren is an institution with simple spaces which are turned into an institution with the complexity of space. Consider from the physical structure, initially, pesantren has three buildingsor facilities that are the mosque, majlis-taklim and house of Kyai. The third building is a building for education space. Along with the development in the peripheral of pesantren environment currently emerging business space.This paper discusses the development of pesantren space, using the conditions of pesantren in the late 19th century to the present. The discussion using an arrangement of the history and growth of pesantren space by taking the case at Sidogiri Pesantren, Pasuruan, East Java.This paper uses a constructivist approach that is hermeneutic and dialectical where the individual social construction can acquire and known through interactions between researcher and actors of research. In addition, this study also emphasizes empathy and dialectic interaction between researchers and informants in order to reconstruct the social reality under study with qualitative methods. The survey results of the research revealed that the emerging new spaces at the pesantren that is the internal business space and external business collaboration space that complements the mosque, majlis taklim and house of Kyai who had been already there. The new of economy spaces (business spaces), and with the community formed can be a tool for survival strategy of Pesantren. Even to this day pesantren persist with the principles of Islamic, but remains on the threat of consequences: without the moral control of religion, and the charisma of kyai, Pesantren can be a greedy capitalist machine as generally.Keywords: transformation, economic space, pesantrenABSTRAKSepanjang sejarahnya pesantren bukanlah entitas stagnan. Pesantren telah mengalami berbagai kebersinggungan dari awal sejarahnya hingga saat ini. Pesantren yang pada awalnya adalah sebuah lembaga dengan ruang-ruang yang sederhana kini berubah menjadi lembaga dengan kompleksitas ruang. Dilihat dari struktur fisik, pada awalnya pesantren mempunyai tiga bangunan atau fasilitas yaitu masjid, majlis taklim dan rumah Kyai. Ketiga bangunan tersebut merupakan bangunan untuk ruang pendidikan. Seiring dengan perkembangan, saat ini di lingkungan pesantren muncul ruang-ruang bisnis. Tulisan ini membahas mengenai perkembangan ruang pesantren, menggunakan kondisi pesantren pada akhir abad 19 hingga saat ini. Pembahasan menggunakan Setting sejarah dan pertumbuhan ruang pesantren dengan mengambil contoh kasus di Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan Jawa Timur. Tulisan ini menggunakan pendekatan konstruktivis yang bersifat hermeunetikal dan dialektikal dimana konstruksi sosial individu dapat diperoleh dan diketahui melalui interaksi antara peneliti dan tineliti. Di samping itu, penelitian ini juga menekankan empati dan interaksi dialektif antara peneliti dan informan dalam rangka merekonstruksi realitas sosial yang diteliti dengan metode kualitatif. Dari hasil penelitian diketahui bahwa muncul ruang-ruang baru di pesantren yaitu ruang usaha internal dan ruang kolaborasi bisnis eksternal yang melengkapi ruang masjid, majlis taklim dan rumah kyai yg selama ini sudah ada.Ruang-ruang ekonomi baru (ruang bisnis) dan pembentukan komunitas telah menjadi sebuah alat dan strategi kebertahanan pesantren. Sekalipun sampai saat ini pesantren bertahan dengan prinsip keislaman, namun tetap pada ancaman konsekuensi: ketika terjadi pelemahan pada kontrol moral dari pengajaran agama, dan kharisma kyai yang dimilikinya, maka pesantren dapat menjadi mesin kapitalisme yang serakah sebagaimana umumnya.Kata kunci: transformasi, ruang ekonomi pesantren
Gold Mining in Southwest Maluku: Curse or Blessing? (Study on Conflict Access of Agrarian Resources) Pakniany, Yamres; Soetarto, Endriatmo; Adiwibowo, Soeryo
Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Vol. 5 No. 2 (2017): Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan
Publisher : Departement of Communication and Community Development Sciences, Faculty of Human Ecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.73 KB) | DOI: 10.22500/sodality.v5i2.17976

Abstract

ABSTRACTConflict in agrarian resource-rich areas due to differences of interest continue to occur in Indonesia, including in the gold mining area of Hila Village, District of Romang Islands, Southwest Maluku Regency. Conflict that occurred in the gold mining area of Hila Village is a horizontal conflict involving the communities, but there are local elites who play a role in it as well. Conflicting communities are those who are pro-mining and against it. Each actor has a different interest in the resources of Hila Village. This research uses qualitative method with case study approach. The purposeof this study is to analyze the factors that cause conflict. The result shows that there are many factors causing the conflict, including access to land, compensation fee and labor recruitment. These factors occur due to unilateral claims and ineffective management by village and company authorities. The benefits of the management and utilization are only felt by certain actors who have access to resources, whereas other actors who do not have access do not benefit.Keywords: Agrarian resources, conflict, Southwest MalukuABSTRAKKonflik di daerah kaya sumberdaya agraria, akibat perbedaan kepentingan terus terjadi di Indonesia, termasuk di kawasan pertambangan emas Desa Hila, Kecamatan Kepulauan Romang, Kabupaten Maluku Barat Daya. Konflik yang terjadi di kawasan pertambangan emas Desa Hila adalah konflik horisontal yang melibatkan masyarakat dengan masyarakat, namun di dalamnya terdapat elit-elit lokal yang turut berperan. Masyarakat yang berkonflik adalah masyarakat yang pro terhadap tambang dengan masyarakat yang kontra terhadap tambang. Masing-masing aktor memiliki kepentingan yang berbeda terhadap sumberdaya di Desa Hila. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor-faktor penyebab konflik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat banyak faktor yang menyebabkan terjadinya konflik, diantaranya faktor akses terhadap lahan, biaya konpensasi, dan perekrutan tenaga kerja. Faktor-faktor ini terjadi, karena klaim sepihak dan pengelolaan yang tidak efektif dilakukan oleh pemerintah desa dan perusahaan. Manfaat dari pengelolaan dan pemanfaatan tersebut, hanya dirasakan oleh aktor-aktor tertentu yang memiliki akses terhadap sumberdaya, sedangkan aktor-aktor lain tidak mendapatkan manfaat.Kata kunci: Sumberdaya agraria, konflik, Maluku Barat Daya
Typology Conflict of Forest Area on Boundary Demarcation Process in Bangka Island Region Nilasari, Afrisna; Murtilaksono, Kukuh; Soetarto, Endriatmo
Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Vol. 5 No. 3 (2017): Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan
Publisher : Departement of Communication and Community Development Sciences, Faculty of Human Ecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (623.063 KB) | DOI: 10.22500/sodality.v5i3.19390

Abstract

ABSTRACTDesignation of forest area in Bangka Island region, Bangka Belitung Province according to Kepmenhut 357/Menhut-II/2004 has provoked a conflict between the various interested parties. Boundary demarcation process as the next stage from designation forest area had a conflict with local communities. This study had purpose to identifylanduse and landcover condition of forest area and the type of conflict. The applied methode was image intepretation and classification and alsoRaTA (Rapid Land Tenure Asessment). The study showed that landuse and landcover condition was dominated with grassland and the form of occupied local people is cropland, palm oil plantation, open field, and the settlement. Tke kind of conflict in the field study was strugle of access and withdrawall rights of land resources in the forest area that causes by different persepsion between local peoples and the Goverment as the parties has management and demarcation boundary authorithy of forest area with the problem is illegal activity and land convertion from other use area into forest area. Forest Management based by The Community would be ideal conflict resolution and those need the socialisation, intensive and effective communication between the parties that had a conflict.Keywords: forest land tenure conflict, landuse and landcover, conflict resolutionABSTRAKPenunjukan kawasan hutan di wilayah Pulau Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 357/Menhut-II/2004 menimbulkan konflik bagi para pihak yang berkepentingan. Proses penataan batas sebagai tahapan berikutnya dari penunjukan kawasan hutan mengalami penolakan dan konflik dengan masyarakat lokal. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui kondisi penutupan dan penggunaan lahan kawasan hutan serta tipe konflik yang terjadi melalui intepretasi dan klasifikasi citra satelit serta analisis RaTA (Rapid Land Tenure Asessment). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi penutupan lahan wilayah penelitian didominasi oleh semak belukar dan bentuk okupasi lahan masyarakat berupa lahan terbuka, kebun sawit, kebun campuran dan pemukiman. Tipologi konflik yang terjadi lebih kepada konflik perebutan hak akses dan hak pengelolaan sumber daya lahan yang terdapat di dalam kawasan hutan yang disebabkan karena perbedaan persepsi antara masyarakat dengan Pemerintah sebagai pemegang wewenang pengelolaan dan penataan batas kawasan hutan dengan bentuk permasalahan berupa perambahan kawasan hutan dan adanya alih fungsi lahan dari Areal Penggunaan Lain (APL) menjadi kawasan hutan. Program Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM) menjadi resolusi konflik yang ideal dan perlu dilakukan sosialisasi dan komunikasi yang intensif dan efektif antar para pihak.Kata kunci: konflik penguasaan lahan, penutupan dan penggunaan lahan, resolusi konflik
The Exploitation Reserve Army of Labour in The Rural Capitalism: Oil Palm Plantation StudyIn Bualemo District, Banggai Regency, Central Sulawesi Province Ichwal Moidady, Nuzulul; Soetarto, Endriatmo; Agusta, Ivanovich
Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Vol. 5 No. 3 (2017): Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan
Publisher : Departement of Communication and Community Development Sciences, Faculty of Human Ecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (957.654 KB) | DOI: 10.22500/sodality.v5i3.19391

Abstract

ABSTRACTThe objective of this study is to describe and examine how reserve army of labour exploitation and mobilization conducted by plantation (oil palm) torural labour. This research was took mobilization laobur analyzis such asrecruitment and disciplined. Subsequently, exploitation theory have to analyzesthrough labour time, wages, and means of production use. The results showe that casual labour day(Buruh Harian Lepas) recruit by foreman(mandor) and plantation assistant. Moreover, they are then disciplined in a certain way, i.e settledfrom their homes to the plantation afdeling camp. On the other hand, the exploitation is done through the application of long working time (surplus labour time)and low wage when doing nursery and cultivation. Beside that, they used simple production tools (non mechanization) such, dodos (harvester), axe, and means of transporters (truck and dump)to carry out fresh fruit bunch (Tandan Buah Segar). They used input of production such, sprayer (mechanization), fertilizer (NPK) and herbicide (chemical) with the intensive working day.Keyword: exploitation, reserve army of labour, means of productionABSTRAKPenelitian ini bertujuan menguraikan dan membuktikan bagaimanapengerahan dan eksploitasi tenaga kerja cadangan dilakukan oleh perkebunan skala besar (kelapa sawit) terhadap rakyat pekerja di pedesaan.Penelitian ini mengunakan analisispengerahan tenaga kerja yang meliputi: rekrutmen dan pendisiplinan tenaga kerja. Kemudian, teori eksploitasi dianalisis melalui: waktu kerja, pengupahan, dan pengunaan alat-alat produksi.Hasil penelitian menunjukan buruh harian lepas (pekerja tidak tetap) direkrut oleh mandor dan asisten kebun.Mereka kemudian didisiplinkan melalui cara tertentu, yaitu dimukimkan di camp kerja afdeling perkebunan. Pada sisi yang lain, tindakan eksploitasi dilakukan melaui penerapan waktu kerja yang panjang dan upah harian yang rendah pada saat mengerjakan pembibitan dan penanaman.Selain itu,buruh harian lepas juga menggunaan alat-alat produksi sederhana(non mekanisasi)seperti dodos(alat panen), kampak, dan alat pengangkut (truck dan bak penampung)untuk mengerjakan panen tandan buah segar (TBS). Mereka juga menggunakan input produksi sprayer (mekanisasi), pupuk NPK dan herbisida (kimia) dengan waktu kerja yang intensif.Kata Kunci: eksploitasi, tenaga kerja cadangan, alat-alat produksi
The Limit to Politics of Ethnicity? Migration and Upland Transformation in Central Sulawesi Abdulkadir Sunito, Melani; Adiwibowo, Soeryo; Soetarto, Endriatmo; A.Kinseng, Rilus; Foley, Sean
Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Vol. 5 No. 3 (2017): Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan
Publisher : Departement of Communication and Community Development Sciences, Faculty of Human Ecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (793.954 KB) | DOI: 10.22500/sodality.v5i3.19396

Abstract

ABSTRACTAlthough in early 2000s ethnic politics was used to gain access to land inside the National Park, thus transformed land use in an upland village in Central Sulawesi, a decade later it losts its role as the main driver to further expansion of agriculture-land. Using political ecology approach, this paper discusses territorialization through politics of ethnicity and ethnicity/identity as mechanism to access. The findings indicated that ethnic politics are enabled, and constrained, by certain conditions within the community as well as from external situation. In the latter trajectory of upland transformation, politics of ethnicity are constrained by an alteration of ethnic groupings as new migrants came to the village community, a ‘leveling-off playing field’ in land access and high-external input agriculture commodities, as well as a change in forest-policy.Keywords: ethnic politics, migration, upland transformationABSTRAKMeski pada permulaan tahun 2000an politik etnisitas digunakan untuk memperoleh akses atas tanah hutan di dalam Taman Nasional, lantas merubah penggunaan lahan pada suatu desa dataran tinggi di Sulawesi Tengah, satu dekade setelahnya politik etnisitas tak lagi berperan dalam ekspansi lanjutan tanah pertanian itu. Menggunakan pendekatan ekologi politik, tulisan ini membahas teritorialisasi melalui politik etnisitas dan penggunaan kuasa etnisitas/identitas sebagai mekanisme untuk mengakses. Temuan penelitian menunjukkan bahwa politik etnisitas dimungkinkan, ataupun dibatasi, oleh kondisi-kondisi di dalam komunitas maupun situasi eksternal. Pada trajectory transformasi desa yang belakangan, politik etnisitas dibatasi oleh perubahan pengelompokan etnis akibat migrasi baru pada komunitas desa yang kian beragam etnis, suatu leveling-off playing field dalam akses atas tanah dan budidaya komoditas pertanian tinggi-input yang mengarah pada pemerataan kesempatan ekonomi dan pendapatan, serta perubahan dalam kebijakan kehutanan.Kata kunci: politik etnisitas, migrasi, transformasi dataran tinggi pedalaman
Livelihood Dilemma of The Rural Household Around The Oil Palm Plantation in East Kalimantan Eka Yulian, Bayu; Dharmawan, Arya Hadi; Soetarto, Endriatmo; Pacheco, Pablo
Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Vol. 5 No. 3 (2017): Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan
Publisher : Departement of Communication and Community Development Sciences, Faculty of Human Ecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.311 KB) | DOI: 10.22500/sodality.v5i3.19398

Abstract

ABSTRACTThe expansion of oil palm plantation is a necessity in Indonesia. The global market demand pressure and the need to accelerate national economic growth have supported the occurrence of massively expansion of oil palm plantation in Indonesia. Although it contributes many benefits from the economic side, but in another side, the oil palm plantation also gives social and environmental impacts. Such impacts are, among others, such as the changes of agrarian structure, land dispute, livelihood system of rural household, lack of biodiversity, crop monoculturalization, and deforestation. This research is aimed to describe socio-economic impacts caused by the expansion of oil palm plantation toward the livelihood system of rural household. By using livelihood survey and deep interview, this research obtains a fact that the oil palm plantation has, as if, provided prosperity for the rural household, but what really happens is high process of livelihood vulnerability and dependency toward income gained from the salary in oil palm plantation.Keywords: Oil palm, livelihood, dependency, and vulnerabilityABSTRAKEkspansi perkebunan kelapa sawit merupakan suatu keniscayaan bagi Indonesia. Tekanan permintaan pasar global dan kebutuhan untuk memacu pertumbuhan ekonomi nasional mendorong terjadinya ekspansi perkebunan kelapa sawit secara masif di Indonesia. Meskipun memberikan manfaat dari sisi ekonomi, di sisi lain perkebunan kelapa sawit juga memberi dampak sosial dan lingkungan. Dampak tersebut diantaranya seperti perubahan struktur agraria, sengketa lahan, sistem nafkah rumah tangga pedesaan, berkurangnya biodiversitas, monokulturisasi tanaman, hingga deforestasi. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran dampak sosial-ekonomi dari ekspansi perkebunan kelapa sawit bagi sistem nafkah rumah tangga pedesaan.Dengan menggunakan survey nafkah dan wawancara mendalam, penelitian ini mendapatkan fakta bahwa perkebunan kelapa sawit seolah memberikan kesejahteraan bagi rumah tangga pedesaan, namun yang terjadi adalah proses kerentanan dan ketergantungan nafkah yang tinggi terhadap pendapatan dari upah perkebunan kelapa sawit.Kata kunci: Kelapa sawit, nafkah, ketergantungan, dan kerentanan
Co-Authors ., Fahrunnisa AA Sudharmawan, AA Abbas, Ria Renita Abdulkadir Sunito, Melani Abeng, Andi Tenri Agus Heri Purnomo Ahmad Choibar Tridakusumah Alinda F. M. Zain Aminah Swarnawati Amiruddin Saleh Andrea Emma Pravitasari, Andrea Emma Angga Prasetyo Adi Anggraini Sukmawati Anton Supriyadi Aprilianti Pratiwi Arif Satria Arya H Dharmawan Arya H Dharmawan Arya H. Dharmawan Arya Hadi Dharmawan Asep Muslim Baba Barus Baekhaki, Khamid Bambang Purwanto Basita Ginting Bayu Eka Yulian Bimbi Irawan Bimbi Irawan, Bimbi Dalu Agung Darmawan Dalu Agung Darmawan Didik Suharjito Dinna Amalia Rahmah Djaja Hendra Djoko Susanto Djoko Susanto Djuara P Lubis DONY SAPUTRA Dudung Darusman DWI ANDREAS SANTOSA Dwi Rini Sovia Firdaus Dwi Wulan Pujiriyani Dzulkarnain, Iskandar E. Gumbira Sa’id Ekawati Sri Wahyuni Ernan Rustiadi Fairuz Nabila Fani Dwi Iswari Foley, Sean Fredian Tonny Nasdian Galih Andreanto Hadi Syamsul Hadi Syamsul, Hadi Hariadi Kartodiharjo Hartoyo Hartoyo Hartoyo Hartoyo Hartrisari Hardjomidjojo Hermanto Siregar Heru P Ichsan, Aulia Ichwal Moidady, Nuzulul Indah Islami Ritonga Iskandar Dzulkarnain Iswari, Fani Dwi Ivanovich Agusta Jamaluddin Mahasari Joyo Winoto, Joyo Komarsa Gandasasmita Kukuh Murtilaksono Kusdiane, Susvia Delta Laksono Trisnantoro Lala M Kolopaking Layla Ekrep Lepi Ali Firmansyah, Lepi Ali Leti Sundawati Lindiya Apsari Lukman Muhammad Baga Luky Adrianto Luthfian Riza Sanjaya Mahasari, Jamaluddin Marthina Tjoa Martua Sihaloho Melia Sari Melia Sari, Melia Meti Ekayani Mohamad Shohibuddin MUHAMMAD AGUS SUPRAYUDI Muhammad Obie Mukhlas Ansori Musfingatun Sa’diyah Muthohharoh, Nur Hannah Neka Fitriyah Nilasari, Afrisna Nonon Saribanon Nunung Kusnadi Nurlaila Nurlaila Nurmala Katrina Pandjaitan Oktaviani, Ananda Diah P Purwanto Pacheco, Pablo Pakniany, Yamres Pratiwi, Aprilianti Rai Sita Retno Hapsari, Dwi Rilus Kinseng Rina Mardiana Rini Ariani Amir Rinto Taib Robert M.Z Lawang Robert M.Z Lawang, Robert M.Z Saharuddin Saizen, Izuru Salsiah, Siti Sari, Embun Sarwititi Sarwoprasojdo, Sarwititi Satyawan Sunito Satyawan Sunito Siti Hajar Suryawati Sitti Hadijah Sitti Hadijah, Sitti Soeryo Adiwibowo Sofyan Sjaf Sophia, Uly Sugiyanto Sugiyanto Sulthan Zainudin Sumardjo Surjono H. Sutjahjo Syamsul Hadi Tamaulina Br Sembiring Titik Soemarti Titik Sumarti Valentina Sokoastri Viktor Amrifo Yofita Sandra Yuda Hidayat Mansur Yudha Heryawan Asnawi Yuliana, Dhina Zain, Alinda F.M. Zenal Asikin