Claim Missing Document
Check
Articles

Tradisi Pengobatan Lara pada Masyarakat Desa Walelei Kecamatan Barangka Kabupaten Muna Barat Muhamad Hidayat; Rahmat Sewa Suraya; Agus Rihu
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 8 No 1 (2025): Volume 8 No 1, Juni 2025
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/np119n54

Abstract

Lara merupakan salah satu jenis penyakit langka yang tergolong sebagai penyakit lanjutan atau komplikasi dari penyakit sebelumnya, seperti bisul, cacar, maupun luka pada bagian tubuh lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengetahuan masyarakat terhadap tradisi pengobatan Lara serta untuk mengetahui proses pengobatan Lara pada masyarakat di Desa Walelei, Kecamatan Barangka, Kabupaten Muna Barat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pengetahuan masyarakat, Lara dipahami sebagai penyakit lanjutan atau komplikasi daripenyakit lain yang sebelumnya telah ada. Penyakit ini muncul apabila luka atau penyakit awal tidak ditangani dengan baik dan tidak kunjung sembuh. Lara juga memiliki beberapa jenis, di antaranya: Lara ifi (api), Lara oe (air), dan Lara wandoke. Dalam pengobatan tradisional, prosespenyembuhan Lara melalui beberapa tahapan, yaitu: Pengumpulan bahan-bahan berupa air di dalam gelas, daun kapuk (kadhawa), daun popasa,daun rincik bumi (kambea moloku), daun turi (kambadhawa), dan biji labu tua. Daun kapuk (kadhawa) dikucek dengan sedikit air lalu ditempelkan pada bagian tubuh yang sakit. Daun popasa, daun rincik bumi (kambea moloku), dan daun turi (kambadhawa) dicampur dengan sedikit air,kemudian disaring dan diminum oleh pasien. Pasien juga mengonsumsi biji labu tua yang telah dikupas kulitnya, yang dapat dilakukan secara mandiri setelah proses pengobatan. Selain itu, pasien juga meminum air yang telah dibacakan mantra, yang dalam tradisi disebut sebagai air kaferebua
Pengetahuan Tradisional Suku Muna dalam Pengobatan Rempe di Desa Ondoke Kecamatan Sawerigadi Kabupaten Muna Barat Siti Nurhalisa; Rahmat Sewa Suraya; Nurtikawati Nurtikawati
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 8 No 1 (2025): Volume 8 No 1, Juni 2025
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/c2jz1935

Abstract

Penyakit Rempe merupakan penyakit yang disebabkan oleh pergantian musim atau kondisi cuaca yang buruk, dengan gejala utama berupamunculnya ruam kemerahan pada seluruh bagian tubuh penderita. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengetahuan tradisional masyarakat mengenai pengobatan penyakit Rempe, serta menguraikan proses pelaksanaan pengobatan tersebut di Desa Ondoke, Kecamatan Sawerigadi, Kabupaten Muna Barat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan datamelalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengobatan tradisional penyakit Rempe terdiri atas tiga tahapan, yaitu tahap awal, tahap pelaksanaan, dan tahap akhir. Pada tahap awal, pihak keluarga pasien terlebih dahulu memberitahukan kepada dukun waktu yang dianggap baik untuk melakukan pengobatan. Selanjutnya, keluarga menyiapkan air mineral (air aqua) yang kemudian dibacakan mantra oleh dukun. Setelah itu, air tersebut langsung diberikan kepada penderita dengan tujuan untuk mengeluarkan penyakit dari dalam tubuh. Tahap pelaksanaan dilakukan dengan menggunakan ramuan tradisional yang berasal dari beberapa jenis tumbuhan, seperti daun tomat (roo ntamate), daun jawa (kambadhawa), dan biji labu kuning (ghonuno labu). Adapun padatahap akhir, pengobatan dilakukan dengan menggunakan santan kelapa yang digunakan untuk memandikan penderita. Tujuan dari tahapanini adalah untuk menghaluskan kulit dan membersihkan bekas bintik-bintik yang terdapat pada tubuh penderita.
Tradisi Pesondo dalam Pengobatan Pada Masyarakat Kulisusu Kabupaten Buton Utara Irawati; Rahmat Sewa Suraya; La Ode Marhini; Samsul
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 8 No 2 (2025): Volume 8 No 2, Desember 2025
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/xy945h09

Abstract

Pesondo adalah kebiasaan yang dilakukan ketika anak tertua-yang berusia sekitar tujuh tahun-mencapai usia tertentu. Tujuan penelitian ini yaitu  untuk mendeskripsikan proses, tahapan, fungsi, serta nilai yang terdapat dalam tradisi pesondo dalam pengobatan pada masyarakat Kulisusu Kabupaten Buton Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualiatif, pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Untuk penentuan informan menggunakan teknik Purposive sampling. Data dianalisis dengan cara reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi Pesondo melalui tiga tahapan utama, yaitu tahap awal penentuan waktu, tahap pelaksanaan yang berlangsung selama dua hari, hari pertama berupa pembuatan pakanama dan hari kedua merupakan inti pelaksanaan tradisi serta tahap akhir berupa pembacaan doa. Tradisi ini memiliki beberapa fungsi penting dalam konteks pengobatan, antara lain fungsi religi sebagai bentuk penghambaan kepada Tuhan, fungsi sosial yang mempererat hubungan masyarakat, serta fungsi sebagai sarana komunikasi baik antaranggota komunitas maupun melalui simbol-simbol ritual. Selain itu, tradisi Pesondo juga mengandung berbagai nilai yang berkontribusi pada pembentukan karakter masyarakat, yaitu nilai komunikatif, nilai religi, nilai tanggung jawab, nilai disiplin, nilai kerja keras, nilai keingintahuan, dan nilai kejujuran.
Tradisi Kapopanga Pada Etnik Muna di Desa Lombu Jaya Kecamatan Sawerigadi Kabupaten Muna Barat La Tiara; Rahmat Sewa Suraya; Agus Rihu
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 8 No 2 (2025): Volume 8 No 2, Desember 2025
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/mq1hkr58

Abstract

Kapopanga merupakan ritual adat masyarakat Muna yang berfungsi sebagai proses negosiasi dengan penghuni pohon atau hutan (jin) sebelum pembukaan lahan atau penebangan pohon. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan ritual kapopanga serta fungsi tradisi kapopanga pada masyarakat Muna di Desa Lombu Jaya, Kecamatan Sawerigadi, Kabupaten Muna Barat. Penelitian ini menggunakan teori semiotika Roland Barthes dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan tradisi kapopanga terdiri atas empat tahap, yaitu pengecekan lokasi, persiapan alat dan bahan, pelaksanaan ritual, dan tahap kasolo. Tradisi kapopanga memiliki fungsi religi sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan upaya menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan makhluk gaib, serta fungsi sosial dalam mempererat hubungan antarwarga, memperkuat gotong royong, dan mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.
Ritual Maduai Lepa  Pada Suku Bajo di Desa Tondasi Kecamatan Tiworo Utara Kabupaten Muna Barat Sartika Ningsih; Rahmat Sewa Suraya; Agus Rihu
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 8 No 2 (2025): Volume 8 No 2, Desember 2025
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/d1rd0n61

Abstract

Ritual maduai lepa adalah sebuah ritual yang dilakukan oleh masyarakat suku Bajo untuk memohon keselamatan dan keberkahan kapal yang akan di turunkan. Penelitian ini bertujuan untuk Mendeskripsikan prosesi Ritual maduai lepa dan menganalisis fungsi  Ritual maduai lepa  Pada Suku Bajo di Desa Tondasi Kecamatan Tiworo Utara Kabupaten Muna Barat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ritual maduai lepa memiliki beberapa tahapan yaitu: Proses Ritual Maduai Lepa, Penentuan Waktu dan Tempat (keluarga bermusyawarah, Persiapan Kehadiran Pelaku Ritual (Sando), Persiapan Alat dan Bahan, Tahap Pelaksanaan Ritual Maduai Lepa, Penataan Bahan-Bahan Ritual Oleh Pelaku Ritual (Sando), Pembacaan Doa dan Mantra Khusus Oleh Pelaku Ritual (Sando), Mendorong Kapal Kelaut Pemilik Kapal dan Masyarakat Mendorong Kapal Yang Diarahkan Ke Laut Secara Bersama-sama, Adapun fungsi dari ritual maduai lepa ini terlihat pada fungsi yang ada pada materi atau benda-benda ritual seperti Fungsi Telur Mentah ( antillo), Fungsi Air (boe), Fungsi Rokok, Fungsi Daun Sirih (luppi), Fungsi Daun lebar (daong bagal/muware), Fungsi Tali (ingka) ,dan Fungsi Kayu (pilara). Dari benda-benda tersebut memiliki fungsi masing-masing sesuai dengan kepercayaan dan keyakinan masyarakat suku Bajo
Ritual Mo’oli dalam Mencari Orang Hilang  Pada Masyarakat Tolaki Desa Tabanggele Kecamatan Anggalomoare Kabupaten Konawe Alvira Olivia Saputri; Rahmat Sewa Suraya; Irma Magara; La Ode Muhammad Sardin Sardin; Taufiq Said
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 8 No 2 (2025): Volume 8 No 2, Desember 2025
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/eca90j61

Abstract

Ritual Mo’oli secara etimologi dalam Bahasa Tolaki “Mo’oli” berati membeli. Namun secara Bahasa dapat diartikan sebagai “upaya kompromistis dengan makhluk-mahluk astral penguasaan wilayah gaib”. Ritual Mo’oli dilakukan ketika ada korban hilang. Seperti orang tenggelam dikali, korban kecelakaan yang dimana tempat korban kecelakaan itu dianggap sangat keramat. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana proses ritual Mo’oli dalam mencari orang hilang   dan untuk mengetahui bagaimana makna ritual Mo’oli dalam mencari orang hilang Pada Masyarakat Tolaki di Desa Tabanggele Kecamatan Anggalomoare Kabupaten Konawe. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif  kualitatif, pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Untuk penentuan informan menggunakan teknik Purposive. Data dianalisis dengan cara reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ritual Mo’oli dalam mencari orang hilang memiliki beberapa tahapan yaitu: Memberi informasi kepada Sando (dukun), persiapan material/bahan ritual, tahap pelaksaan ritual Mo’oli, kunjungan ke tempat orang hilang, pelepasan bahan, tahap akhir. Adapun makna dari ritual Mo’oli yaitu : Makna telur sebagai bentuk permohonan izin kepada penghuni gaib yang diyakini mendiami perairan, dengan harapan agar proses pencarian dapat berjalan lancar dan sesuai dengan yang diharapkan, Makna Pisang sebagai gigi buaya dalam pelaksanaanya, Makna Uang sebagai pembelinya kebutuhan penghuni seperti kita manusia kita pergi belanja, Makna daun sirih (Obite), pinang (Ineya), kapur sirih (Ineri), rokok (Po’ombiya) sebagai mengambut tamu, Makna Ayam sebagai pengganti orang yang hilang, dan Makna Beras Ketan sebagai makanan penghuni di air.
Makanan Tradisonal Sokko Pada Suku Bugis di Kelurahan Punggaluku Kecamatan Laeya Kabupaten Konawe Selatan Muhktia Nur Fadilla; Rahmat Sewa Suraya; Shinta Arjunita Saputri; Wahyu Rustiani Komang
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 8 No 2 (2025): Volume 8 No 2, Desember 2025
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/pnyp7r74

Abstract

Sokko adalah makanan tradisional khas Sulawesi Selatan, khususnya masyarakat Bugis, yang terbuat dari beras ketan.. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menjelaskan proses pembuatan makanan tradisional Sokko dan untuk menganalisis makna simbolik makanan tradisional Sokko pada pernikahan Suku Bugis di Kelurahan Punggaluku Kecamatan Laeya Kabupaten Konawe Selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualiatif, pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Untuk penentuan informan menggunakan teknik purposive sampling. Data dianalisis dengan cara reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makanan tradisional dibuat dengan proses sebagai berikut: proses perendaman, proses pemerasan santan kelapa, proses membuat bumbu dari bahan alami, proses pengukusan dan proses penyajian makanan tradisional sokko pada pernikahan. Makanan tradisional sokko juga bukan hanya sebagai proses teknis, tetapi juga memiliki makna sebagai simbol pembersihan diri dan niat sebelum menjalani kehidupan berumah tangga. Selain itu, makaan ini juga sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur yang dapat mempererat hubungan kekeluargaan menjaga nilai-nilai sosial dan budaya dalam masyarakat.
Co-Authors A.A. Ngurah Anom Kumbara Abdul Alim Abdul Rahman adrita adrita Agfar, Yasmi Agus Rihu Agus Rihu Agus Rihu Agus Rihu` Akhmad Marhadi Akhmad Marhadi Alfi Seftiawan Alias Alias Alias Alias Alias, Alias Almarsaban Almarsaban Almarsaban, Almarsaban Alvira Olivia Saputri Andi Sinarwati Arfan Arfan Arif Wicaksono Arman Arman Ashmarita, - Ayyuh S Ayyuh S Ayyuh S Ayyuh S Baehaqi Basri, La Ode Ali Basrin Melamba Bilal Akbar Muhammad Arsad Boymin Burhan, Faika Damhuri Damhuri Dessiria Devianti, Devianti Elmy Selfiana Malik Erens Elvianus Ekoodoh Ervania Ervania Feni Feni Firmayanti Firmayanti Hamnianti Hamnianti Handriyani Sulastri Hapsah, Wa Ode Sitti Hazlan Heniman Heniman Herlina Haluru Hilwa Salsabila I Gusti Made Swastya Dharma Pradnyan I Ketut Suardika I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suarka Ida Bagus Gde Pujaastawa Ida Juliani iman saputra Irawati Irawati Tapasi Irfan Rahmad Husain Irma Magara Irma Magara Jaimun, Jaimun Jalil, Abdul Jers, La Ode Topo Kadek Arni Suwedawati, Gusti Ayu Kiki Reski Wulandari Komang Wahyu Rustiani La Ino La Niampe La Niampe La Niampe La Niampe La Niampe La Ode Ali Basri La Ode Alwi La Ode Dirman La Ode Dirman La Ode Marhini La Ode Marhini La Ode Marhini La Ode Muhammad Ruspan Takasi La Ode Muhammad Sardin Sardin La Ode Tarsani La Ode Topo Jers La Ode Topo Jers La Ode Usman La Tiara lala andriani lestari Laras Mahardika Laxmi Laxmi Laxmi, Laxmi Lili Darlian lisna yani Lita Irnasari Meldawati Melisa Mirna Yanti Muh Roy Muhamad Hidayat Muhammad Alkausar Muhammad Olland Efendi Muhammad Olland Efendi Muhktia Nur Fadilla Mursin Musyarafatul Musyarafatul Naswati Naswati Ni Made Wiasti Nirmalasari Nirmalasari Nur Iman Nur Kisa Nuria, Siti Nurtikawati Nurtikawati Nurtikawati, Nurtikawati Nurul Hikmah Paramitha, Ni Made Ayu Susanthi Pradnya Pradnyan, I Gusti Made Swastya Dharma Putri Purnama Sari Putri Yani Putu Titah Kawitri Resen Rommy Rio Kauntu Rosnon, Mohd Roslan RR. Ella Evrita Hestiandari Rudy Kurniawan Rustiani, Komang Wahyu Safitri, Elsa Mayora Saldin S Salniwati Samsul Samsul Sandy Suseno Sarman Sarman Sartika Ningsih Shinta Arjunita Saputri Shinta Arjunita Saputri Shinta Arjunita Saputri Sidik, Wa Ode Islamia Siti Nurhalisa Sofia Sofia, Sofia Sri Wulandari Suseno, Sandi Suseno, Sandy Syahrun , Syahrun Syahrun, Syahrun Syahrun, Syahrun Syam sumarlin Taufiq Said Thevistha, Visthalya Titin Hartini Topo Jers, La Ode Wa Eni Wa Ode Sifatu Wa Ode Siti Hafsah Wa Ode Sitti Hafsah Wa Ode Sitti Hapsah Wa Ode Suharti Wahyu Rustiani Komang Wilda Wilda Yasmi Agfar Yusrifani Yusrifani Zulfa Zulfa Zulfa Zulfa