Infeksi jamur yang disebabkan oleh Candida albicans masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang sering ditemukan di masyarakat. Penggunaan obat antijamur sintetik dalam jangka panjang dapat menimbulkan efek samping dan resistensi sehingga diperlukan alternatif pengobatan berbasis bahan alam. Bonggol nanas (Ananas comosus) diketahui mengandung senyawa bioaktif seperti bromelain, flavonoid, tannin, dan fenolik yang berpotensi sebagai antijamur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas gummy candy nanosimplisia bonggol nanas terhadap pertumbuhan Candida albicans serta mengevaluasi karakteristik fisik dan nanopartikel sediaan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium menggunakan rancangan post test only control group design. Bonggol nanas diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%, kemudian dibuat nanosimplisia menggunakan metode ultrasonikasi. Nanosimplisia diformulasikan dalam bentuk gummy candy dengan variasi konsentrasi F0 (tanpa nanosimplisia), F1 (5%), F2 (7,5%), dan F3 (10%). Evaluasi sediaan meliputi organoleptik, pH, keseragaman bobot, kadar air, tekstur, stabilitas, ukuran partikel, zeta potensial, dan indeks polidispersi (PDI). Aktivitas antijamur diuji menggunakan metode difusi sumuran terhadap Candida albicans. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula memiliki karakteristik fisik yang baik dan stabil selama penyimpanan 30 hari. Formula F3 menghasilkan ukuran partikel terkecil yaitu 142,8 ± 5,1 nm, nilai zeta potensial -34,5 ± 1,1 mV, dan nilai PDI 0,214 ± 0,01 yang menunjukkan sistem nanopartikel stabil dan homogen. Uji aktivitas antijamur menunjukkan bahwa formula F3 memiliki aktivitas tertinggi dengan diameter zona hambat sebesar 21,37 ± 0,62 mm yang termasuk kategori kuat dan mendekati kontrol positif Nystatin sebesar 24,63 ± 0,55 mm. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa gummy candy nanosimplisia bonggol nanas berpotensi dikembangkan sebagai sediaan antijamur herbal terhadap Candida albicans