Claim Missing Document
Check
Articles

Pergerakan Islam dan Demokrasi di Indonesia Muhamad Shadiq, Gusti; Hasan, Ahmadi; Umar, Masyithah; Khasyi'in, Nuril
Interdisciplinary Explorations in Research Journal Vol. 2 No. 2 (2024)
Publisher : PT. Sharia Journal and Education Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ierj.v2i2.578

Abstract

Abstract This research discusses the relationship between the movement of Islam and democracy in Indonesia, as well as how these two concepts influence and contribute to the country's social and political development. Although democracy is not explicitly mentioned in the Qur'an or Hadith, the principles of democracy are substantially reflected in Islamic teachings such as equality, deliberation (shura), cooperation (ta'awun), and good practices (taghyir). The experiences of Prophet Muhammad also provide an ethical and moral foundation that correlates with the basic principles of modern democracy. These Islamic values have become an integral part of Indonesia's constitution, including Pancasila and various laws governing the principles of democracy and divinity. Islam holds an important position in the Indonesian government, reflecting the majority Muslim population and the historical struggle for independence closely linked with the Muslim community. The influence of Islamic values in the Indonesian constitution has been achieved through the active participation of Indonesian Muslims in the democratization process, demonstrating that Islam and democracy can support each other and are not mutually exclusive. The conclusion of this research emphasizes that the integration of Islamic teachings and state policies is key to the success of democracy in Indonesia, avoiding conflict and strengthening harmony in national and state life.Keywords: khilafah, paragidma, fundamental, moderate, liberal. Keywords: Islam, Democracy, Indonesia, Constitution, Deliberation Abstrak Penelitian ini membahas hubungan antara pergerakan Islam dan demokrasi di Indonesia, serta bagaimana kedua konsep tersebut saling mempengaruhi dan berkontribusi terhadap pembangunan sosial dan politik negara. Meskipun secara tekstual demokrasi tidak disebutkan dalam Al-Qur’an atau Hadits, prinsip-prinsip demokrasi secara substansial tercermin dalam ajaran Islam seperti kesetaraan, musyawarah (syura), kerjasama (ta’awun), dan kebiasaan baik (taghyir). Pengalaman Nabi Muhammad juga memberikan landasan etika dan moral yang berkorelasi dengan prinsip-prinsip dasar demokrasi modern. Nilai-nilai Islam ini kemudian menjadi bagian integral dari konstitusi Indonesia, termasuk Pancasila dan berbagai undang-undang yang mengatur prinsip-prinsip demokrasi dan ketuhanan. Islam menempati posisi penting dalam pemerintahan Indonesia, mencerminkan mayoritas penduduk yang beragama Islam dan sejarah perjuangan kemerdekaan yang erat kaitannya dengan umat Islam. Pengaruh nilai-nilai Islam dalam konstitusi Indonesia dicapai melalui partisipasi aktif umat Islam dalam proses demokratisasi, yang menunjukkan bahwa Islam dan demokrasi dapat saling mendukung dan tidak saling bertentangan. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa integrasi antara ajaran Islam dan kebijakan negara adalah kunci keberhasilan demokrasi di Indonesia, menghindari konflik dan memperkuat harmoni dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.. Kata Kunci: Islam, Demokrasi, Indonesia, Konstitusi, Musyawarah
Politik Islam Masa Orde Baru dan Masa Reformasi Adim, Abd.; Hasan, Ahmadi; Umar, Masyithah; Khasyi'in, Nuril
Interdisciplinary Explorations in Research Journal Vol. 2 No. 2 (2024)
Publisher : PT. Sharia Journal and Education Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ierj.v2i2.583

Abstract

Abstract This research discusses the correlation between Islamic politics during the New Order and Reformation era, how the Islamic movement influenced politics in Indonesia, and how these two political concepts influenced each other and contributed to the development and growth of the country even though there was political upheaval during the transition period from the New Order to the Reformation era. Islam first taught politics as a scientific discipline with the science of siyasah which consists of political concepts and principles in Islam such as Siyasah Dusturiyyah, Siyasah Dauliyyah, Siyasah Maliyyah, Siyasah Amiriyah, Siyasah Khalifah, and Siyasah Imamah. In general, Islamic politics has a very large movement, but when it was faced with government politics, Islamic politics is not able to dominate movements on the political stage in Indonesia. However, some of the Islamic values ​​can be embedded in the development of the country, even on a small scale as a reflection that the majority of the population is Muslim. Muslim who has always been involved in politics in Indonesia from time to time. Keywords: Politics, Islam, New Order Era, and Reformation Era Abstrak Penelitian ini membahas tentang korelasi antara politik Islam pada masa Orde Baru dan Reformasi, bagaimana pergerakan Islam pada perpolitikan di Indonesia, serta bagaimana kedua konsep politik tersebut saling mempengaruhi dan berkontribusi terhadap perkembangan dan pertumbuhan negara meskipun terjadi pergolakan politik di masa transisi yaitu politik di masa Orde Baru menuju masa Reformasi. Sedangkan Islam terlebih dahulu mengajarkan tentang politik sebagai sebuah disiplin ilmu yaitu ilmu siyasah yang terdiri dari konsep dan prinsip politik dalam Islam seperti Siyasah Dusturiyyah, Siyasah Dauliyyah,, Siyasah Maliyyah, Siyasah Amiriyah, Siyasah Khalifah, dan Siyasah Imamah. Secara garis besar politik Islam sangat besar pergerakannya di Indonesia, namun jika dihadapkan dengan politik pemerintah, politik Islam tidak mampu mendominasi pergerakan di panggung perpolitikan di Indonesia, meskipun demikian sebagian dari nilai-nilai Islam bisa ditanamkan pada pembangunan negeri, walaupun dalam skala kecil sebagai cerminan bahwa mayoritas penduduk Islam beragama Islam yang selalu membersamai perpolitikan di Indonesia dari masa ke masa. Kata kunci: Politik, Islam, Orde Baru, dan Reformasi
Sistem Ketatanegaraan Ideal Menurut Ibnu Abi Rabi’ Gafur, Abdul; Hasan, Ahmadi; Umar, Masyithah; Khasyi'in, Nuril
Interdisciplinary Explorations in Research Journal Vol. 2 No. 2 (2024)
Publisher : PT. Sharia Journal and Education Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ierj.v2i2.591

Abstract

Abstract Ibn Abi Rabi's perspective on the concept of the state fundamentally differs from the thoughts of Greek philosophers like Plato and Aristotle, primarily due to the strong integration of the Islamic worldview in his thinking. While Ibn Abi Rabi’ agrees with Plato that a leader should be someone respected in society, he prefers monarchy as the best system of governance. He argues that leadership by a single king or ruler can maintain political stability and unity better than other forms of government such as aristocracy, oligarchy, democracy, and demagoguery, which can lead to chaos if citizens irresponsibly exercise their political rights. According to Ibn Abi Rabi’, the basis of a king's authority stems from religious teachings, particularly the Qur’an (QS. al-An’am: 165), which states that a king's power and authority are a mandate from God. He sets forth six criteria for an ideal king: paternalistic ties to the previous king, noble aspirations, precise and strong vision, resilience in facing challenges, substantial wealth, and loyal assistants, without emphasizing Quraysh lineage. Ibn Abi Rabi’ also identifies four main pillars in the formation of a state: the head of state, justice, the people, and management. By fulfilling these four pillars, he believes that the state will achieve political stability and strength. Keywords: system, constitutional, ideal, ibnu Abi Rabi' Abstrak Pandangan Ibn Abi Rabi’ mengenai konsep negara memiliki perbedaan mendasar dengan pemikiran para filosof Yunani seperti Plato dan Aristoteles, terutama karena integrasi kuat dari worldview Islam dalam pemikirannya. Ibn Abi Rabi’ sependapat dengan Plato bahwa pemimpin haruslah seseorang yang dihormati di masyarakat, namun ia lebih memilih bentuk pemerintahan monarki sebagai sistem yang terbaik. Menurutnya, kepemimpinan oleh satu orang raja atau penguasa tunggal mampu menjaga kestabilan dan persatuan politik negara, dibandingkan dengan sistem pemerintahan lainnya seperti aristokrasi, oligarki, demokrasi, dan demagogi yang dapat menyebabkan kekacauan jika warga negara menyalahgunakan hak politiknya. Dasar otoritas raja menurut Ibn Abi Rabi’ bersumber dari ajaran agama, khususnya Al-Qur’an QS. al-An’am: 165, yang menyatakan bahwa kekuasaan dan otoritas raja adalah mandat dari Tuhan. Ia menetapkan enam syarat bagi calon raja yang ideal, yaitu hubungan paternalistik dengan raja sebelumnya, aspirasi luhur, pandangan yang tepat dan kuat, ketahanan dalam menghadapi tantangan, kekayaan besar, dan pembantu setia, tanpa menekankan keturunan Quraisy. Ibn Abi Rabi’ juga mengemukakan empat pilar utama dalam pembentukan negara: kepala negara, keadilan, rakyat, dan pengelolaan. Dengan terpenuhinya keempat pilar tersebut, ia meyakini bahwa negara akan menjadi stabil dan kuat secara politis. Kata kunci : sistem, ketatanegaraan, ideal, ibnu Abi Rabi’
Rationality, Spirituality, and Social Well-Being in the Thought of Ibnu Tufail Sholihah , Mida Mar`atus; Hasan, Ahmadi; Umar, Masyithah; Khasyi`in, Nuril
Interdisciplinary Explorations in Research Journal Vol. 2 No. 2 (2024)
Publisher : PT. Sharia Journal and Education Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ierj.v2i2.597

Abstract

Abstract This study examines the political thought of the Andalusian philosopher Ibn Tufail, whose seminal work Hayy ibn Yaqzan presents a philosophical discourse on the potential of human rationality in shaping societal welfare. Using a qualitative, hermeneutical approach, this research analyzes the conceptual framework underpinning Ibn Tufail’s perspectives on politics, economy, and spirituality. The findings suggest that Ibn Tufail’s political philosophy emphasizes the centrality of individual rational faculties in guiding human behavior, ethical conduct, and the organization of the polity. His narrative of Hayy, a self-taught man who develops a sophisticated understanding of the natural world and social dynamics through the power of reason alone, serves as a thought experiment to demonstrate the sufficiency of human intellect in attaining societal well-being. Furthermore, the study highlights Ibn Tufail's views on the management of scarce economic resources and the importance of aligning individual pursuits with the collective welfare. His ideas on the harmonious integration of material, intellectual, and spiritual realms provide a holistic framework for governing a just and prosperous society. The insights gleaned from this research contribute to a deeper understanding of the philosophical foundations of Ibn Tufail's political thought, which can inform contemporary discussions on the role of reason in addressing challenges in governance, social policy, and community development. The study also underscores the continued relevance of this Andalusian thinker's perspectives in the ongoing discourse on the relationship between the individual, the state, and the pursuit of the common good. Keywords: rationality, spirituality, social, ibnu Tufail Abstrak Penelitian ini mengkaji pemikiran politik filsuf Andalusia Ibnu Tufail, yang dalam karya monumentalnya Hayy ibn Yaqzan menyajikan wacana filosofis tentang potensi rasionalitas manusia dalam membentuk kesejahteraan masyarakat. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-hermeneutis, penelitian ini menganalisis kerangka konseptual yang mendasari perspektif Ibnu Tufail tentang politik, ekonomi, dan spiritualitas. Temuan menunjukkan bahwa filsafat politik Ibnu Tufail menekankan sentralitas fakultas rasional individu dalam membimbing perilaku manusia, etika, dan organisasi sistem politik. Narasi tentang Hayy, seorang manusia yang belajar sendiri dan mengembangkan pemahaman canggih tentang dunia alam dan dinamika sosial melalui kekuatan akal semata, berfungsi sebagai eksperimen pemikiran untuk mendemonstrasikan kecukupan intelek manusia dalam mencapai kesejahteraan masyarakat. Lebih lanjut, studi ini menyoroti pandangan Ibnu Tufail tentang pengelolaan sumber daya ekonomi yang langka dan pentingnya menyelaraskan tujuan individual dengan kesejahteraan kolektif. Ide-idenya tentang integrasi harmonis antara ranah material, intelektual, dan spiritual menyediakan kerangka holistik untuk memerintah masyarakat yang adil dan makmur. Wawasan yang diperoleh dari penelitian ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih mendalam tentang landasan filosofis pemikiran politik Ibnu Tufail, yang dapat menginformasikan diskusi kontemporer tentang peran akal budi dalam mengatasi tantangan dalam tata kelola pemerintahan, kebijakan sosial, dan pembangunan masyarakat. Studi ini juga menekankan relevansi yang berkelanjutan dari perspektif pemikir Andalusia ini dalam wacana yang sedang berlangsung tentang hubungan antara individu, negara, dan pencapaian kebaikan bersama. Katakunci: rasionalitas, spiritualitas, sosial, ibnu Tufail
Prospek Pengembangan Arbitrasi Syariah Rukmawati, Desyana Putri; Hasan, Ahmadi; Mariani, Mariani
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v4i1.1604

Abstract

Perkembangan pesat industri keuangan syariah di Indonesia berimplikasi pada meningkatnya potensi sengketa ekonomi syariah. Penyelesaian sengketa melalui jalur litigasi sering kali dinilai kurang efektif karena bersifat formal, terbuka, dan memerlukan waktu yang lama. Oleh karena itu, arbitrase syariah hadir sebagai alternatif penyelesaian sengketa non-litigasi yang sejalan dengan prinsip-prinsip syariah Islam. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis prospek pengembangan arbitrase syariah di Indonesia serta mengkaji landasan hukum dan tantangan yang dihadapi Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS) dalam menyelesaikan sengketa ekonomi syariah. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan historis. Hasil kajian menunjukkan bahwa arbitrase syariah memiliki prospek yang sangat kuat seiring dengan pertumbuhan lembaga keuangan syariah, dukungan normatif dari hukum Islam dan hukum nasional, serta kebutuhan masyarakat akan penyelesaian sengketa yang cepat, adil, dan berlandaskan prinsip syariah. Namun demikian, pengembangan arbitrase syariah masih menghadapi kendala berupa lemahnya dasar hukum khusus, keterbatasan jaringan kelembagaan, serta ketidakjelasan sumber pendanaan.
Penyelesaian Sengketa Pada Perbankan Syariah: Litigasi dan Non-Litigasi Rahman, Arif; Hasan, Ahmadi; Mariani, Mariani
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v4i1.1607

Abstract

The existence of a dual banking system in Indonesia demands legal certainty in the resolution of Islamic economic disputes. This study aims to analyze the dynamics of judicial authority following the Constitutional Court Decision Number 93/PUU-X/2012 and to compare the efficiency of dispute resolution mechanisms through litigation and non-litigation channels. The study finds that the Constitutional Court's decision has ended jurisdictional dualism by affirming the absolute competence of the Religious Courts, which are now supported by the Small Claim Court mechanism to accelerate case resolution to a maximum of 25 working days. On the other hand, non-litigation channels have undergone transformation with the establishment of the Alternative Dispute Resolution Institution for the Financial Services Sector (LAPS SJK), which provides low-cost mediation services for retail consumers, complementing the role of the National Sharia Arbitration Board (BASYARNAS) which focuses on commercial disputes. This research concludes that the choice of dispute resolution forum is no longer based on jurisdictional doubt, but rather on strategic considerations regarding time efficiency, cost, and the need for Sharia scientific specialization.
Model Penyelesaian Sengketa Secara Litigasi Ramadhana, Yulia; Munawwarah, Munawwarah; Putri, Riska Yunita; Hasan, Ahmadi; Mariani, Mariani
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v4i1.1614

Abstract

The rapid and complex development of the Islamic economy has the potential to cause various disputes between the parties involved. This condition requires a dispute resolution mechanism that is capable of providing legal certainty and justice in accordance with Islamic principles. One of the mechanisms used is dispute resolution through litigation, namely dispute resolution through judicial institutions using applicable procedural law, which is considered a last resort (ultimum remedium) if attempts at dispute resolution outside of court are unsuccessful. This study uses a normative juridical research method with a legislative and conceptual approach. The research data was obtained through a literature study by examining laws and regulations related to the settlement of sharia economic disputes, legal doctrines, and relevant scientific literature. This approach is used to analyze the concepts, mechanisms, and stages of dispute resolution through litigation in the Indonesian legal system, particularly in the context of Islamic economics. The results of the study show that litigation provides strong legal certainty through court decisions that have binding force, evidentiary force, and executory force. However, litigation also has weaknesses, such as a relatively long process and high costs. Therefore, litigation remains an important option in resolving Islamic economic disputes when non-litigation efforts fail to reach an agreement, as it is able to provide legal protection and justice for the parties.
Sinergi Hukum Islam dan Hukum Positif dalam Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syariah di Indonesia Ananda, Rizqa; Wahdah, Wahdah; Wahidah, Wahidah; Hasan, Ahmadi; Mariani, Mariani
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v4i1.1634

Abstract

The preservation of the sharia economy is increasingly important due to the rapid growth of sharia-based financial institutions and economic activities. This study aims to analyze the synergy between Islamic law and positive law in resolving sharia economic issues in Indonesia. The method used is a normative qualitative research with a juridical approach based on literature study. Data were obtained from primary sources (regulations and Islamic legal concepts), secondary sources (books, scientific journals), and tertiary sources (general legal literature). The analysis was conducted inductively and descriptively to identify conceptual relationships between rules. The results of the study indicate that Islamic law facilitates dispute resolution through the principles of al-sulh (peace), tahkim (arbitration), and wilayat al-qadha (court). Meanwhile, Indonesian positive law provides alternative ADR (negotiation, mediation, arbitration) and support from judicial institutions (Religious Courts) that regulate legislation. The results of this study can be concluded that the synergy between these two legal systems is integral, encompassing the values ​​of justice ('adl), benefit, and legal certainty in resolving sharia economic issues. This integration needs to be strengthened through education and clear regulations to overcome the obstacles to judges' understanding and the overlaps that occur.
Rekonstruksi Hukum Keluarga Islam Berperspektif Kesetaraan Gender Terhadap SEMA No. 1 Tahun 2022 Septiani, Rina; Hasan, Ahmadi; Nopendi, Us Us Surya; Lahmudinur, Lahmudinur; Gunawan, Hendra
Al-Mizan Vol 12 No 2 (2025): Al-Mizan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam (IAI) Al-Aziziyah Samalanga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54621/jiam.v12i2.1127

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi hukum keluarga Islam dalam perspektif kesetaraan gender dengan menelaah SEMA No. 1 Tahun 2022 tentang Cerai Gugat melalui pendekatan epistemologis dan aksiologis. Pendekatan ini digunakan untuk mengungkap dasar pengetahuan dan nilai-nilai keadilan yang melandasi konsep cerai gugat dalam hukum Islam serta menilai sejauh mana ketentuan dalam SEMA tersebut mencerminkan prinsip kesetaraan relasional antara laki-laki dan perempuan. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian pustaka (library research) dengan pendekatan interdisipliner, menggabungkan analisis hukum Islam, sosiologi keluarga, dan teori keadilan gender. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SEMA No. 1 Tahun 2022 telah membuka ruang keadilan bagi perempuan, namun masih menyisakan problem epistemologis karena berpijak pada tafsir fiqh klasik yang cenderung patriarkal. Melalui rekonstruksi epistemologis berbasis maqashid al-syariah, khususnya hifz al-nafs, hifz al-‘ird, dan al-musawah, hukum keluarga Islam dapat diarahkan menjadi sistem hukum yang tidak hanya legal-formal tetapi juga berkeadilan substantif dan humanistik. Penelitian ini berkontribusi dalam pembaruan paradigma hukum keluarga Islam yang responsif terhadap dinamika sosial serta mendukung penguatan kebijakan hukum nasional yang sensitif terhadap kesetaraan gender.
Model Edukasi Pencegahan Perkawinan Anak Perspektif Maqashid Syariah Berbasis Konten Digital Jaidi, Muhammad; Hasan, Ahmadi; Umar, Masyithah
Interdisciplinary Explorations in Research Journal Vol. 1 No. 3 (2023): "Exploring the Wisdom Integration of Multidisciplinary Approaches in Higher Edu
Publisher : PT. Sharia Journal and Education Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ierj.v1i3.1736

Abstract

Perkawinan anak masih banyak terjadi di Indonesia dan berdampak buruk pada kesehatan, pendidikan, dan masa depan anak. Artikel ini mengembangkan model edukasi pencegahan perkawinan anak berbasis nilai maqashid syariah melalui konten digital seperti video, infografis, dan media sosial. Metode yang digunakan adalah Research and Development (R&D) dengan tahap analisis kebutuhan, pembuatan konten, pelatihan tokoh masyarakat, dan evaluasi. Hasil menunjukkan bahwa edukasi digital berbasis nilai Islam ini efektif meningkatkan pemahaman, mengubah pandangan masyarakat, dan memperkuat peran tokoh lokal dalam pencegahan perkawinan anak. Model ini menekankan bahwa mencegah perkawinan anak adalah bagian dari tanggung jawab agama untuk melindungi anak.
Co-Authors Adi Astiti, Ni Nyoman Adim, Abd. Ahmad Dakhoir Akhmad Sukris Sarmadi Al Amruzi, HM Fahmi al-Amruzi, M. Fahmi Alamudi, Ichwan Ahnaz Ananda, Rizqa Anshary AZ, A. Hafiz Anwar Hafidzi APHA, Journal Manager ARIE SULISTYOKO Arie Sulistyoko Arif Fitria, Rizal Arif Rahman Aseri, Akhmad Fauzi Bahran Basri Bahran Basri Basri, Bahran Darmono Budi Utomo Dian May Syifa Diki Sosano Dominikus Rato Emy Handayani Erfan, Zainul Ergina Faralita Faralita, Ergina Fitriyadi Fitriyadi Gusti Muzainah Hamdi, Fahmi HENDRA GUNAWAN B11211055 Hikmah Hikmah Husaini, Hasan Husnul, Mariani Ichwan Ahnaz Alamudi Jaidi, Muhammad Jalaluddin Jalaluddin KHASYI'IN, NURIL Khasyi`in, Nuril Lahmudinur, Lahmudinur Luthfi, FuaD M. Fahmi al-Amruzi Magfur, Achmad Mansyuroh, Firqah Annajiyah Mariani Mariani Marthin, Marthin Masyitah Umar Maulida, Sri Muhamad Shadiq, Gusti Muhammad Fadhil Muhsin Aseri, Muhsin Mujiburohman A. Abas Munawwarah Munawwarah, Munawwarah Mu’ammar, Ali Nafi, Muhammad Noor, Fitrian Nopendi, Us Us Surya Norrahman, Rezki Akbar Nur Aida, Nur Nuril Khasyi'in Nurwijayanti Pawana, Sekhar Chandra Purwoko, Agus Putri, Riska Yunita Rahmad Kurniawan Ramadhana, Yulia Rina Septiani, Rina Rini Fidiyani Rosnidar Sembiring Rukmawati, Desyana Putri Sadikin Abdul Azis Mandala Putra, Jay Sa’adi, Gusti Muslihuddin Sharfina Permata Noor, Erla Sholihah , Mida Mar`atus Sosano, Diki Sri Maulida Sri Maulida Sri Maulida Sri Warjiyati Sugeng Rianto Suprapto Suprapto Syahir, Ahmad Syamsiar, Syamsiar Tri Hidayati Umar, Masyitah Umar, Masyithah Wahdah Wahdah, Wahdah Wahidah Wahidah Yamani Naufal Yuliani , Ma’rifah Yuliani, Ma'rifah Yulianto, Eryck Yusna Zaidah Zeti Nofita Sari Ziyad, Ziyad Zubaidah, Dwi Arini