Claim Missing Document
Check
Articles

Edukasi dan Promosi Stunting Sebagai Langkah Pencegahan Stunting di Kelurahan Tiuh Balak Pasar, Kecamatan Baradatu, Kabupaten Way Kanan Rahayu, Ihsanti Dwi; Ghifari, Ghaza Ahmad Al; Fadhilah, Fuad; Febrianti, Arlin; Susanti, Andani Dewanti; Junita, Aulia; Ad-Dhuha, Rahmah Maziyah; Firsandini, Firsandini; Himayani, Rani; Ismunandar, Helmi
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 10 No. 1 (2025): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v10i1.3632

Abstract

Stunting masih menjadi permasalahan gizi utama yang ada di Indonesia. Meski angka prevalensi stunting sejak tahun 2024 telah mengalami penurunan, akan tetapi kejadian stunting masih ditemukan, tak terlepas di wilayah Provinsi Lampung. Kegiatan edukasi dan promosi masih menjadi metode pencegahan stunting yang banyak dilakukan karena tidak membutuhkan biaya yang besar dalam pelaksanaannya. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terutama ibu hamil dan ibu dengan anak usia balita mengenai stunting dan pencegahannya. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan di Kelurahan Tiuh Balak Pasar, Kecamatan Baradatu, Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung. Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian ini adalah metode ceramah dan pemberian media edukasi dan promosi seperti leaflet, poster dan video edukasi terkait stunting dan pencegahannya. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat menunjukkan adanya antusiasme peserta pengabdian yang mendapatkan materi edukasi dan promosi terkait stunting. Antusiasme peserta pengabdian terlihat dengan adanya interaksi tanya jawab yang terjalin antara peserta dan pemateri selama kegiatan pengabdian berlangsung. Diharapkan kegiatan pengabdian masyarakat melalui edukasi dan promosi terkait stunting ini dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat khususnya ibu hamil dan ibu dengan anak usia balita terkait stunting dan pencegahan yang dapat dilakukan.
Herpes Zoster Oftalmika dengan Blefarokonjungtivitis Okuli Sinistra Rani Himayani; Ika Agustin Putri Haryant
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Herpes zoster oftalmika merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai bagian ganglion gasseri yang menerima serabut saraf dari cabang oftalmika saraf trigeminus (N.V) ditandai dengan erupsi herpetik unilateral yang terjadi pada wajah dan sekitar mata. Komplikasi serius dapat terjadi jika mengenai mata. Wanita usia 67 tahun datang dengan keluhan timbul gelembung-gelembung pada daerah sekitar dahi, kelopak mata, mata, hidung sebelah kiri sejak 6 hari yang lalu dan timbul mata merah pada mata kiri disertai dengan kotoran mata tanpa pandangan kabur. Status dermatologi didapatkan pada regio frontal, periorbital dan zigomatika sinistra tampak erosi, multipel, bentuk geografika dengan sebagian ditutupi krusta kehitaman berdistribusi secara konfluen-diskret. Status oftalmologis okuli dekstra dan sinistra visus 6/6. Segmen anterior okuli dekstra dalam batas normal. Pada okuli sinistra didapatkan palpebra superior dan inferior edema, hiperemis, sekret dan injeksi konjungtiva (+). Segmen anterior okuli sinistra lainnya dalam batas normal dan hutchinson sign (+) pada mata kiri. Diagnosis pasien herpes zoster oftalmika dengan blefarokonjungtivitis okuli sinistra. Penatalaksanaan dengan asiklovir tablet 5x800 mg, kloramfenikol salep mata 3x1 okuli sinistra, artificial tear 6x1 tetesokuli sinistra, asam mefenamat tablet 3x500 mg. Herpes zoster oftalmika pada usia lanjut dapat meningkatkan risiko nyeri dan komplikasi berupa ocular disease. Penegakkan dan tatalaksana pada pasien ini sudah tepat. Tatalaksana paling utama adalah antiviral pada usia lanjut atau pasien yang memiliki risiko tinggi terhadap komplikasi herpes zoster oftalmika. Kata kunci: blefarokunjungtivitis, herpes zoster oftalmika
Hubungan Durasi Penggunaan Etambutol Fase Intensif Kategori 1 terhadap Gangguan Persepsi Warna dan Penurunan Tajam Penglihatan pada Penderita Tuberkulosis di Puskesmas Rawat Inap Panjang Kota Bandar Lampung Fernadya Sylvia Nurindi; Rani Himayani; Arif Yudho Prabowo; M. Yusran
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 1 (2018): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Etambutol merupakan salah satu jenis obat yang digunakan dalam pengobatan tuberkulosis. Etambutol memiliki efek samping yaitu neuropati optik toksik yang bermanifestasi pada gangguan persepsi warna dan penurunan tajam penglihatan. Efek samping tersebut berkaitan dengan durasi penggunaan etambutol. Metode penelitian observasional analitik dan pendekatan cross-sectional. Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan Snellen chart dan Farnsworth D-15 Arrangement Test Online. Subjek penelitian berjumlah 41 orang penderita tuberkulosis dewasa yang mendapatkan penatalaksanaan tuberkulosis kategori 1 selama 2 bulan di Puskesmas Rawat Inap Panjang Kota Bandar Lampung. Analisis hubungan antara variabel pada penelitian ini menggunakan uji statistik Fisher. Terdapat 17,0% responden yang mengalami gangguan persepsi warna dan 24,4% responden mengalami penurunan tajam penglihatan. Hasil dari uji statistik durasi penggunaan etambutol dengan persepsi buta warna didapatkan p value 0,586. Hasil dari uji statistik antara durasi penggunaan etambutol dengan penurunan tajam penglihatan memiliki p value 0,058. Tidak terdapat hubungan antara durasi penggunaan etambutol terhadap gangguan persepsi warna dan penurunan tajam penglihatan pada penderita tuberkulosis di Puskesmas Rawat Inap Panjang Kota Bandar Lampung.Kata kunci: durasi penggunaan etambutol, persepsi warna, tajam penglihatan, tuberkulosis
Ulkus Kornea Cum Hipopion Berhubungan Trauma Tumbuhan pada Mata Nurul Purna Mahardika; Rani Himayani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kornea merupakan jaringan transparan yang menutupi bola mata depan yang terdiri dari lima lapisan, yaitu epitel, membran Bowman, jaringan stroma, membran descemet dan endotel. Kerusakan pada lapisan epitel membuat agen luar dapat menginvasi lapisan kornea yang lebih dalam dan dapat mengakibatkan ulkus kornea. Ulkus kornea merupakan keadaan patologik yang ditandai oleh adanya infiltrat supuratif disertai defek kornea bergaung, diskontinuitas jaringan kornea yang dapat terjadi dari epitel sampai stroma. Pada ulkus kornea terjadi kehilangan jaringan kornea, yang kemudian akan digantikan oleh jaringan parut yang menyebabkan penurunan penglihatan. Ulkus kornea sering disertai gambaran hipopion. Hipopion dapat terlihat sebagai lapisan putih yang mengendap di bagian bawah bilik mata depan karena adanya gravitasi. Hipopion merupakan reaksi inflamasi di bilik mata depan. Laporan kasus ini melaporkan seorang laki-laki 62 tahun dengan keluhan mata kiri merah dan penglihatan menurun sejak 2 minggu yang lalu, terdapat riwayat mata kiri terkena serpihan kayu pohon karet. Pada pemeriksaan oftalmologis didapatkan visus oculi dextra (OD) 6/6, segmen anterior OD dalam batas normal, visus oculi sinistra (OS) 1/300, konjungtiva bulbi terdapat injeksi konjungtiva, hiperemis pada konjungtiva forniks dan konjungtiva palpebral, injeksi siliar (+) kornea keruh,kamera okuli anterior terdapat hipopion. Penatalaksanaan yang diberikan pada pasien ini adalah tetes mata moxifloxacin 0,5% 1 tetes per jam okuli sinistra, ciprofloksasin tablet 500 mg/8 jam dan ketokonazol tablet 500 mg/12 jam.Kata kunci : hipopion, kornea, ulkus
Trauma Kimia Asam Okuli Dextra Serafina Subagio; Muhammad Yusran; Rani Himayani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Trauma kimia pada mata merupakan salah satu kasus kegawatdaruratan mata. Trauma kimia mata dapat disebabkan karena adanya kontak dengan bahan kimia yang bersifat asam atau basa. Trauma kimia pada mata dapat mengakibatkan kerusakan kornea dan segmen anterior yang cukup parah serta kerusakan visus permanen tergantung lamanya kontak bahan kimia dengan mata dan kedalaman penetrasi bahan kimia. Wanita usia 40 tahun datang dengan mata merah dan penurunan penglihatan mata kanan sejak setelah terkena semprotan cairan pembersih lantai sejak empat jam sebelum masuk rumah sakit. Seketika itu mata terasa perih, terasa panas seperti terbakar, menjadi merah, dan pandangan kabur. Pasien juga merasa ada yang mengganjal pada mata kanannya dan mata menjadi berair terus menerus. Pasien merasakannyeri kepala sebelah kanan berdenyut. Status oftalmologis okuli dekstra visus 1/60 (bed site). Bulbus oculi didapatkan epiphora (+), palpebra superior dan inferior didapatkan edema, konjungtiva kemosis (+), kornea didapatkan erosi dan iskemik pada sepertiga limbus temporal lateral. Diagnosis pasien trauma kimia asam ocului dextra grade II.Penatalaksanaan dengan irigasi mata dengan NaCl 0,9% 4-5 kolf sampai terapi pH netral diukur dengan kertas lakmus, moxifloxacin hydrochloride 0,5% 1 gtt per jam OD, chelating agent berupa EDTA (Etilen Diamin Tetra Asetat) tetes mata 5mg/ml 4x 1 tetes OD, vitamin C 2x100 mg tablet.Kata kunci: trauma asam mata, trauma kimia mata, trauma mata
Sinusitis Kronis: Definisi, Etiologi, Klasifikasi, dan Diagnosis Anindia Syafia Halimathus Sa'dyah; Rani Himayani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sinusitis kronis merupakan sindrom klinis ditandai dengan gejala inflamasi dari mukosa hidung dan sinus paranasal yang berkelanjutan atau menetap, yaitu hidung tersumbat, lendir hidung mukopurulen, nyeri pada wajah, gangguan penghidu, atau batuk lebih dari 12 minggu. Etiologi dari sinusitis kronis bersifat multifaktorial meliputi faktor infeksi, inflamasi, atau struktural. Berdasarkan etiologinya, sinusitis kronis dapat diklasifikasikan menjadi primer dan sekunder. Sinusitis kronis primer yaknipenyebab utamanya adalah peradangan pada sinus paranasal, rongga hidung, atau mukosa saluran napas, sedangkan sinusitis kronis sekunder disebabkan karena kelainan patologis lainnya yang bukan dari inflamasi rongga hidung maupun sinus paranasal. Penegakan diagnosis pada sinusitis kronis dilakukan melalui anamnesis spesifik, manifestasi klinis, dan pemeriksaan fisik yang sesuai. Manifestasi klinis pada sinusitis kronis dapat dibedakan menjadi gejala mayor dan minor. Adapun pemeriksaan fisik berupa rinoskopi anterior dan posterior, transiluminasi, dan radiologi. Artikel ini menggunakan metode literature review dari berbagai rujukan jurnal nasional dan internasional dengan kata kunci pencarian berikut: definisi, etiologi, klasifikasi, dan penegakan diagnosis. Kata Kunci:  Definisi, Diagnosis, Etiologi, Klasifikasi.
PERUBAHAN KEBIASAAN HIDUP DALAM RANGKA PENCEGAHAN PENYAKIT OTITIS EKSTERNA Amira Nabila; Tsurayya Fathma Zahra; Putu Ristyaning Ayu Sangging; Rani Himayani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Otitis eksterna merupakan salah satu penyakit inflamasi telinga luar yang menyerang meatus akustikus externa pasien dan disebabkan oleh mikroorgnisme seperti bakteri, virus, dan jamur. Otitis eksterna diklasifikasikan menjadi beberapa jenis berdasarkan onset waktu dan penyebarannya. Penyakit ini memiliki banyak faktor predisposi si seperti dari iklim, suhu, dan kebiasaan hidup seperti berenang dan  membersihkan telinga sendiri. Artikel ini akan membahas mengenai review penyakit otitis eksterna mulai dari pengertian, klasifikasi, etiologi, diagnosis, tatalaksana, dan khususnya mengenai pencegahan otitiseksterna dari segi kebiasaan hidupnya. dengan adanya artikel ini, diharapkan dapat membantu pembaca dalam memahami penyakit otitis eksterna dimana hal ini dapat sangat berguna untuk mengaplikasikan cara pencegahannya dalam kehidupan sehari-hari.Kata kunci: Otitis Eksterna, Pencegahan, Kebiasaan.
Literature Review Diagnosis dan Tatalaksana Sudden Sensorineural Hearing Loss (SSNHL) Faridi Pani; Putu Ristyaning Ayu Sangging; Rani Himayani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sudden Sensorineural Hearing Loss (SSNHL) merupakan kondisi terjadinya kehilangan sebagian atau keseluruhan pendengaran sensorineural dengan kriteria audiometri berupa penurunan pendengaran >30 dB atau setidaknya pada 3frekuensi berturut-turut yang berlangsung dalam kurun waktu 72 jam atau lebih cepat. Insidensi SSNHL di Amerika Serikatsebanyak 5-27 per 100.000 atau 4.000-66.000 kasus per tahunnya. Insidensi SSNHL meningkat seiring bertambahnya usia.Sebagian besar kasus SSNHL masih belum diketahui secara pasti namun beberapa peneliti mengemukakan teorinya bahwaSSNHL Sebagian besar disebabkan oleh kelainan vascular. Metode penelitian ini dimulai dengan melakukan penelusuranartikel di Pubmed dan Google Scholar dalam rentang tahun yang telah ditentukan oleh peneliti dan menggunakan katakunci Sudden Sensorineural Hearing Loss (SSNHL), diagnosis Sudden Sensorineural Hearing Loss (SSNHL), dan tatalaksanaSudden Sensorineural Hearing Loss (SSNHL). Hasil penelitian ini menemukan diagnosis Sudden Sensorineural Hearing Loss(SSNHL) dapat dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik. dan pemeriksaan penunjang Tatalaksana SSNHL meliputipemberian terapi sesuai dengan etiologi atau jika etiologi tidak diketahui dapat diberikan kortikosteroid sistemik dan jugakortikosteroid intratimpani. SSNHL memiliki angka perbaikan yang cukup tinggi, yaitu 60-65%. Kata kunci: diagnosis, Sudden Sensorineural Hearing Loss (SSNHL), tatalaksana
HUBUNGAN ANTARA KEJADIAAN SINUSITIS DENGAN RIWAYAT INFEKSI COVID 19 Fayza Syachrani; Putu Ristyaning Ayu Sangging; Rani Himayani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sinusitis merupakan suatu inflamasi yang terjadi pada mukosa sinus paranasal. Gejala umum dari penyakit ini berupa nyeri atau tekanan pada wajah, sekret hidung, kongesti, dan hiposmia ataupun anosmia. SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19, menginfeksi mukosiliar pada epitel hidung manusia yang mengakibatkan hilangnya silia. Hilangnya silia telah mewakili salah satu kelainan ultrastruktural yang paling mencolok pada sel yang terinfeksi virus SARS-CoV-2. Sinusitis dan COVID-19 merupakan infeksi yang sama-sama menyerang saluran napas atas, sehingga tak mengherankan apabila terdapat beberapa gejala yang sama pada kedua penyakit tersebut. Selain menyerang lokasi yang sama, patofisiologi dari keduanya pun saling berkaitan, sehingga sinusitis dan COVID-19 diduga dapat saling mempengaruhi satu sama lain. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui Hubungan Kejadian Sinusitis dengan Riwayat Infeksi COVID-19 sekaligus menjelaskan mekanisme hubungan tersebut. Proses pengumpulan sumber data dilakukan melalui pencarian pada google scholar dan Pubmed NCBI dengan kata kunci “Sinusitis” dan “COVID 19”. Hasil dari pencarian literatur yang telah dilakukan, pasien dengan riwayatinfeksi COVID 19 kemungkinan dapat meningkatkan risiko terjadinya peradangan pada rongga sinusnya melalui mekanisme penurunan sistem imun dan juga disfungsi pada endotel barrier sel. Sebaliknya, pasien dengan riwayat sinusitis sebelumnya kemungkinan dapat menurunkan risiko terjadinya keparahan gejala akibat infeksi COVID-19 akibat berkurangnya ekspresi dari reseptor ACE2, yang merupakan reseptor utama masuknya virus corona, akibat sinusitis.Kata Kunci: COVID-19, Reseptor ACE2, Sel Penghalang, Sinusitis
Retinoblastoma: Diagnosis dan Tatalaksana Terkini Nahrassyiah Rahma Putri; Zheva Aprillia Yozevi; Rani Himayani; Putu Ristyaning Ayu Sangging
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Retinoblastoma merupakan tumor malignan pada retina yang biasanya terjadi pada anak berusia dibawah lima tahun. Tumor ini dapat berupa tumor endofitik (di dalam vitreous), eksofitik (di dalam ruangsubretinal), atau campuran dari keduanya. Retinoblastoma merupakan tumor intraokuler primer yang paling banyak ditemui pada masa kanak-kanak dan menempati 3% dari seluruh tumor pada anak. Manifestasi klinis retinoblastoma bergantung pada stadium penyakitnya. Lesi awal seringkali terlewatkan tanpa terdiagnosis, kecuali oftalmoskopi indirek dilakukan. Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk membantudiagnosis retinoblastoma, yaitu pemeriksaan mata, ocular ultrasonography dan Magnetic Resonance Imaging (MRI), oftalmoskopi direk, CT scan, pemeriksaan sistemik, dan pemeriksaan genetik. Tujuan primertatalaksana retinoblastoma adalah untuk menyelamatkan nyawa pasien. Terdapat beberapa metode untuk mengatasi retinoblastoma – fokal (cryotherapy, laser photocoagulation, transpupillary thermotherapy,transscleral thermotherapy, plaque brachytherapy), lokal (external beam radiotherapy, enukleasi), dan sistemik (kemoterapi).Kata kunci: Retinoblastoma, Diagnosis, Tatalaksana
Co-Authors Ad-Dhuha, Rahmah Maziyah Adelia, Anggi Adrifianie, Femmy Ahmad Duta Al-Ihya Alfina Indah Nabila Amalia Febriyanti Ambarwati, Endah Amelia, Erry Rizki Amira Nabila Andrifianie, Femmy Angelica Philia Christy Anggraeni Janar Wulan Anindia Syafia Halimathus Sa'dyah Aprianti, Shervia Dwi Ardella, Karina Belinda Ardika, Okta Besti Ari Wahyuni Ari Wahyuni ari wahyuni Arif Yudho Prabowo Asep Sukohar Betta Kurniawan, Betta Brigitta Shinta dewi Cahyana, Adinda Husna Carissa Aprilia Y Chindy Annisa Putri Mandala Sempaga Cut Karel Dithia Daffa Fahreiza Damayanti, Ervina Devina Hardianto Devira Fitriani Kamal Dewayanti, Wahyu Dwi Anjani, Galuh Dwi Indria Anggraini Edward Sintong Samosir Ellysa Angguman Putri Ety Apriliana Ety Apriliana Evan Christian Christian Fadhilah, Fuad Fadilah Alwiyah Fairuz Hanan, Sifa’Syaharani Faisal Rohmadhiyaul Haq Faisol Rohmadhiyaul Haq Faridi Pani Farraz Kanya Syahra Fauzan Hafizh, Ahmad Fauziani, Andra Nabila Fayza Syachrani Febri Nadyanti Febrianti, Arlin Fernadya Sylvia Nurindi Firsandini, Firsandini Fitria Saftarina Ghaitsa Lulua Ghifari, Ghaza Ahmad Al Ghiffari, Fahman Ghina Salsabila Fenty PNR Gigaramadan Sema Gigih Forda Nama Giska Tri Putri Graceciela, Yohana Eva Hana Qanitah Hanifah Qollama Astrid Hanna Mutiara, Hanna Happy, Terza Aflika Helmi Ismunandar Helmi Ismunandar Hendra Tarigan Sibero Hery Dian Septama Ida Laila Ihsanti Dwi Rahayu Ika Agustin Putri Haryant Imtinan Khoirunnisa Intan Kusumaningtyas Intanri Kurniati Junando, Mirza Junita, Aulia Kadek Elvina Kusuma Putri Kamila Nastiti Keziah Tirtawijaya Khairun Nisa Kurnia Fithrananda Kurniawan, Diva Ardhana Lintang Lestari Cahya Sawitri Lubna Farhana M Yusran M. Revo Artmando L M. Yusran Maharani , Mentari Putri Mallarangeng, Andi Nafisah Tendri Adjeng Mardiana Mardiana Maretta, Alvina Christy Maureen Angelica Melni Armadani Mentari Putri Maharani Mochamad Fauzan Dava Muhammad Aditya, Muhammad Muhammad Arsy Kamal Faadhil Muhammad Maulana Muhammad Maulana Muhammad Yusran Muhartono Muhartono Mukhlis Imanto Nabila Alsa Sagia Nabila Rayhan Yasmin Nadhia Wihelga Nahrassyiah Rahma Putri Naila Fathiya Isnanto Nashwa Faadillah Nasyim Natanael, Jessica Neli Salsabila Ni Made Karenina Rini Dwi Cintawan Noval Ramadirta Nur Fadillah, Astri Nurhaliza, Rahma Nurul Fadhilah Az-zahro Nurul Purna Mahardika Nurul Utami Okki Muhammad Fajar Muthahhari oktadiani, Isna Oktafany, Oktafany Oktaryona Trisera Oktoba, Zulpakor Prayogi, Norbertus Marcell Putu Ristyaning Ayu RA Genta Syakira Hatta Rachel Agustin Inggrid Zefanya Rahmah, Nisrina Nur Ramadhan Triyandi Ramadhina, Farrasyifa Ramdini, Dwi Aulia Rasmi Zakiah Oktarlina Regita Dwi M Rekha Nova Iyos, Rekha Nova Rengganis Wardani, Dyah Wulan Sumekar Renitta Anggraeni Rifka Putri Dewi Riska Azzahra Risti Graharti Ristyaning Ayu Sangging, Putu Rizki Hanriko Rizqiani Astrid Nasution Rudiyanto, Waluyo Ruth Leria Noverika Salsabila Haqya Kusuma Sangging, Putu Ristyaning Ayu Saphira Murfi Septiani, Linda Serafina Subagio Shifa Azzahra, Nimas Sitanggang, Grety Soraya Rahmanisa Suharmanto Susanti, Andani Dewanti Sutarto Sutarto Sutarto Sutarto Syachrani , Fayza Syahrani Alya Murfi Syazili Mustofa Syiva Ulhayah T. Adjeng, Andi Nafisah Thamara Az Zahra Tri Umiana Sholeha Tri Umiana Soleha Tri Umiana Soleha Tsurayya Fathma Zahra Vania Widyadhari Damayanti Widjaja, Jovan Wildan Kautsar Irawan Wiwi Febriani Yashila Rahimah Yasmin, Deffina Widya Yuliant, Titin Yusran, M Zenith Puspitawati Zheva Aprillia Yozevi