Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN ANTARA PAPARAN POLUSI UDARA DENGAN RHINITIS ALERGI Amalia Febriyanti; Ida Laila; Riska Azzahra; Muhammad Maulana; Rani Himayani
Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi Vol. 2 No. 6 (2025): Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi (Edisi Juni 2025)
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/jurmie.v2i6.497

Abstract

Rhinitis alergi (RA) merupakan penyakit inflamasi saluran napas atas yang prevalensinya meningkat seiring paparan polusi udara. Studi ini bertujuan mengkaji hubungan antara polusi udara dan RA melalui tinjauan literatur dari berbagai jurnal ilmiah terbitan 2015–2025. Hasil menunjukkan bahwa paparan PM2.5, PM10, NO₂, dan SO₂ berkontribusi terhadap kerusakan mukosa, aktivasi imun Th2, serta peningkatan sensitisasi alergen. Faktor dalam ruangan seperti kelembapan tinggi dan ventilasi buruk turut memperparah gejala. Intervensi berbasis nutrisi seperti vitamin D, omega-3, dan probiotik menunjukkan potensi protektif, meski masih perlu validasi lebih lanjut. Mitigasi RA membutuhkan pendekatan terpadu antara pengendalian lingkungan dan penguatan daya tahan tubuh.
Literature Review : Faktor - Faktor yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Demam Tifoid di Indonesia Renitta Anggraeni; Tri Umiana Soleha; Rani Himayani
Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Umum dan Farmasi (JRIKUF) Vol. 3 No. 3 (2025): Juli : Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Umum dan Farmasi (JRIKUF)
Publisher : LPPM STIKES KESETIAKAWANAN SOSIAL INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57213/jrikuf.v3i3.781

Abstract

Typhoid fever is an endemic disease in Indonesia caused by Salmonella typhi bacteria and transmitted through the fecal-oral route. It remains a major public health issue with a relatively high prevalence rate. This study aims to identify the various factors influencing the incidence of typhoid fever in Indonesia through a literature review of scientific articles published between 2015 and 2025. A total of 10 articles were selected based on predefined inclusion criteria. The analysis revealed that the most prominent contributing factors include poor environmental sanitation, inadequate personal hygiene, a history of typhoid fever, and the habit of consuming food from street vendors. Understanding these factors is expected to enhance the effectiveness of disease prevention and control strategies.
Systematic Literature Review: Faktor Risiko yang Mempengaruhi Kejadian Katarak Pada Lansia Kadek Elvina Kusuma Putri; Naila Fathiya Isnanto; Muhammad Maulana; Rani Himayani
Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2025): Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : PT Pustaka Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71417/galen.v1i2.19

Abstract

Katarak adalah opasitas lensa yang menjadi faktor utama yang menyebabkan kebutaan di dunia, termasuk di Indonesia. Menurut data World Health Organization (WHO) tahun 2023, sekitar 18 juta orang menderita kebutaan bilateral akibat katarak, dan di Indonesia 77,7% kasus kebutaan yang disebabkan oleh katarak yang tidak diobati terjadi pada orang berusia >50 tahun. Tinjauan pustaka ini ditujukan untuk menelusuri faktor risiko utama yang berperan dalam kejadian katarak pada lansia, dengan merujuk pada literatur yang diterbitkan di berbagai jurnal ilmiah, baik nasional maupun internasional antara tahun 2018–2025. Analisis terhadap 10 literatur menunjukkan bahwa usia lanjut, jenis kelamin, pekerjaan, diabetes, dan hipertensi adalah faktor utama yang mempengaruhi kejadian katarak. Selain itu, trauma mata dan kebiasaan merokok sebagai faktor sekunder mempercepat perkembangan penyakit.
Perbandingan Efikasi Kortikosteroid Topikal dengan Siklosporin A Topikal dalam Pengobatan Dry Eye pada Sindrom Sjögren Maretta, Alvina Christy; Ruth Leria Noverika; Rani Himayani; Muhammad Maulana; Intan Kusumaningtyas; Maureen Angelica
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 1 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.1 (2025)
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i1.833

Abstract

Pendahuluan: Sjögren's syndrome merupakan penyakit autoimun sistemik kronis yang menyerang kelenjar eksokrin, terutama kelenjar air mata dan saliva, sehingga menyebabkan dry eye (keratoconjunctivitis sicca) dan mulut kering (xerostomia). Gejala mata kering dialami oleh sebagian besar penderita Sjögren dan dapat berdampak signifikan terhadap kualitas hidup. Salah satu tantangan utama dalam penanganannya adalah memilih terapi topikal antiinflamasi yang efektif dan aman. Dua terapi yang umum digunakan adalah kortikosteroid topikal dan siklosporin A topikal, namun efektivitas dan tolerabilitas keduanya masih menjadi perdebatan. Oleh karena itu, tinjauan ini bertujuan untuk membahas efektivitas, keamanan, dan tolerabilitas kedua agen tersebut dalam mengatasi dry eye pada pasien Sjögren’s syndrome. Metode: Tinjauan literatur ini menggunakan pendekatan naratif yang diperoleh dari database PubMed, Scopus, dan Google Scholar untuk publikasi tahun 2015–2025. Kriteria inklusi mencakup artikel berbahasa Inggris atau Indonesia yang meneliti penggunaan salah satu atau kedua terapi tersebut pada DE akibat Sjögren. Artikel mengenai DE non-autoimun atau terapi sistemik tanpa fokus topikal dikecualikan. Literatur yang relevan dianalisis secara kualitatif untuk menilai efektivitas dan keterbatasan masing-masing terapi. Pembahasan: Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kortikosteroid topikal dan siklosporin A topikal memiliki efektivitas berbeda dalam penanganan dry eye pada pasien dengan sindrom Sjögren. Kortikosteroid seperti fluorometholone dan loteprednol terbukti memberikan perbaikan gejala yang lebih cepat terutama pada fase akut peradangan, namun penggunaannya dibatasi oleh risiko efek samping jangka panjang seperti peningkatan tekanan intraokular dan risiko katarak. Di sisi lain, siklosporin A menunjukkan keunggulan dalam menurunkan aktivitas inflamasi secara bertahap, aman untuk terapi jangka panjang, dan efektif dalam mengurangi infiltrasi sel imun seperti sel dendritik di permukaan kornea. Beberapa studi juga mendukung bahwa kombinasi kortikosteroid dan siklosporin A dapat memberikan efek sinergis, mempercepat perbaikan gejala tanpa mengorbankan keamanan jangka panjang. Dengan demikian, pemilihan terapi perlu disesuaikan dengan fase penyakit, tingkat keparahan gejala, serta pertimbangan risiko dan manfaat dari masing-masing agen. Simpulan: Kortikosteroid topikal efektif meredakan gejala cepat pada fase inflamasi akut dry eye sindrom Sjögren, namun hanya dianjurkan untuk penggunaan jangka pendek. Siklosporin A lebih aman untuk terapi jangka panjang karena efek imunomodulasinya. Kombinasi keduanya memberikan hasil sinergis. Pemilihan terapi sebaiknya disesuaikan dengan fase penyakit dan profil risiko pasien.
Anisometropia Pada Dewasa Shifa Azzahra, Nimas; Himayani, Rani; Ristyaning Ayu Sangging, Putu
Journal of Comprehensive Science Vol. 3 No. 2 (2024): Journal of Comprehensive Science (JCS)
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jcs.v3i2.609

Abstract

Anisometropia merupakan kelainan pada mata ditandai dengan perbedaan sferis yang signifikan sebesar 1.00 D ataupun lebih. Biasanya penderita akan mengalami titik fokus yang tidak tunggal, penglihatan ganda (diplopia), dan aniseikonia berupa adanya perbedaan ukuran dan bentuk bayangan yang nantinya menyebabkan supresi mata dengan kekuatan refraksi lebih besar pada umumnya dan timbul efek ambliopia atau mata malas. Berdasarkan Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) 2014-2016, sebanyak 85% populasi dengan usia 50 tahun ke atas di Indonesia mengalami gangguan penglihatan. Prevalensi terjadinya Anisometropia dunia mengalami peningkatan yang sistematik mencapai 1% setiap tahunnya.1 Anisometropia dapat diklasifikasikan berdasarkan etiologi maupun kekuatan refraksinya. Tatalaksana yang dapat dilakukan yaitu terapi oklusi dengan menggunakan patch dan melatih mata yang sakit sampai terapi refraktif seperti terapi pembedahan photorefractive keratectomy (PRK) dan laser in situ keratomileusis (LASIK).
Kelainan Genetik Pada Down Syndrome Cahyana, Adinda Husna; Syachrani , Fayza; Maharani , Mentari Putri; Himayani, Rani; Rahmanisa, Soraya
Medula Vol 15 No 2 (2025): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v15i2.926

Abstract

Down syndrome (SD) is a common and easily recognized genetic disorder. In the genetic disorder trisomy or SD, there is an extra chromosome on chromosome 21. This chromosome causes the production of certain proteins in excessive amounts, thus disrupting the normal growth of the organism and causing changes in brain development. The estimated incidence of SD is one in 800-1000 births. The incidence of SD in the world is 10 per 10,000 live births, and in recent years this figure has increased. The World Health Organization (WHO) estimates that there are around 8 million SD sufferers worldwide. In Indonesia itself, the prevalence of SD is 1 per 600 live births. Down syndrome is a condition where the sufferer has retarded physical and mental development due to abnormal chromosome development. Chromosomes contain genetic material that determines human characteristics, so that some children with Down syndrome will usually experience mental disabilities, whether mild or moderate.
The Effectiveness of Phacoemulsification in Cataract Management: Procedures, Benefits, and Challenges Nurhaliza, Rahma; Himayani, Rani; Febriani, Wiwi; Rudiyanto, Waluyo
Medula Vol 14 No 10 (2025): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v14i10.1278

Abstract

Cataract is a condition in which the eye's lens, initially clear becomes cloudy, obstructing the passage of light to the retina and causing vision impairments such as blurred vision, reduced visual acuity, and faded color perception. According to WHO data (2022), approximately 2.2 billion people worldwide experience visual impairment, with cataracts being the leading cause of reversible blindness. In Indonesia, the prevalence of cataracts is 1.8%, with an annual incidence rate of 0.1%, and 50% of blindness cases are caused by cataracts. Surgery is the only method to treat cataracts, with phacoemulsification being the most commonly used technique. Phacoemulsification is a cataract surgery technique that employs an ultrasonic tip to break down the cloudy lens, followed by aspiration of the lens fragments. This technique has numerous advantages, including smaller incisions, faster wound healing, good visual acuity outcomes post-surgery, and a lower risk of complications than other surgical methods.
Identifikasi Kandungan Senyawa Aktif Antibakteri Ekstrak Bawang Putih dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri Cutibacterium acnes Penyebab Acne Vulgaris Aprianti, Shervia Dwi; Sibero, Hendra Tarigan; Aditya, Muhammad; Himayani, Rani
Medula Vol 14 No 12 (2024): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v14i12.1302

Abstract

Introduction: The cases of antibiotic resistance in the treatment of acne vulgaris have been steadily increasing. A study conducted by the Dermatology Clinic of Hanyang University Hospital, South Korea, showed an increase in antibiotic resistance cases in the management of acne vulgaris, with resistance rates of 30% for clindamycin and 26.7% for erythromycin. One adjunctive therapy believed to be a breakthrough in anticipating the increase in antibiotic resistance causing acne vulgaris is the use of garlic extract. This study aims to conduct antibacterial phytochemical screening of garlic extract in inhibiting the growth of Cutibacterium acnes. Methods: The antibacterial active compounds in garlic plants were identified through phytochemical screening. Meanwhile, the antibacterial test was conducted using the well diffusion method with garlic extract concentrations of 25%, 50%, 75%, and 100%. Clindamycin was used as the positive control. Results: The phytochemical screening results of garlic extract in this study revealed the presence of flavonoids, alkaloids, tannins, phenols, and terpenoids. In the antibacterial test using the well diffusion method, the largest inhibition zone was observed with clindamycin treatment, while the smallest inhibition zone diameter was recorded with 25% garlic extract concentration. Discussion: The active antibacterial compounds found in garlic extract, including flavonoids, alkaloids, tannins, phenols, and terpenoids, have been proven to inhibit the growth of Cutibacterium acnes, as indicated by the formation of inhibition zone diameters in the antibacterial test.
Faktor Risiko Personal dan Lingkungan dalam Kejadian Demam Tifoid Kurniawan, Diva Ardhana; Apriliana, Ety; Sutarto, Sutarto; Himayani, Rani
Medula Vol 14 No 11 (2024): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v14i11.1328

Abstract

Typhoid fever is one of the infectious diseases that has a fairly high morbidity and mortality rate, especially in developing countries, especially in Indonesia. Typhoid fever is an infectious disease caused by the bacteria Salmonella typhi. This disease can be transmitted through consuming water or food contaminated with urine and feces from typhoid fever sufferers, for example, water that will be used for drinking, cooking, or washing food ingredients. There are more serious clinical symptoms, such as high fever or hyperthermia, remittent fever, and decreased level of consciousness that can lead to coma or delirium. Further complications such as dehydration and acidosis can also occur, which have negative impacts in cases of typhoid fever. The purpose of this review article is to determine what personal and environmental risk factors are present in the occurrence of typhoid fever. The method used in this study is a review article with specific research of various articles found, then combined and a summary conclusion is drawn. The journals used have been published for the past 5 years (2019-2024). The results and conclusions show that several personal and environmental risk factors in the occurrence of typhoid fever include age, gender, personal hygiene, and clean water sources.
Peran Terapi Farmakologi dan Non-Farmakologi dalam Pengelolaan Dry Eye Disease Sitanggang, Grety; Himayani, Rani; Iyos, Rekha Nova; Mutiara, Hanna
Medula Vol 14 No 11 (2024): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v14i11.1469

Abstract

Dry Eye Disease (DED) is a multifactorial disorder of the ocular surface characterized by tear system imbalance, inflammation, and tissue damage, often leading to discomfort, visual disturbances, and a decline in quality of life. Managing DED requires a holistic approach that integrates both pharmacological and non-pharmacological therapies to alleviate symptoms while addressing underlying causes. Pharmacological treatments, such as artificial tears, anti-inflammatory agents (corticosteroids and cyclosporine), diquafosol tetrasodium, and oral pilocarpine, aim to restore ocular surface homeostasis. Non pharmacological approaches, including punctal plugs, lifestyle modifications, intense pulsed light (IPL) therapy, and nutritional supplementation with vitamin D and omega-3, are increasingly recognized for their supportive role in treatment. A comprehensive understanding of these therapeutic strategies is expected to improve DED management, enhance patients' quality of life, and prevent further complications.
Co-Authors Ad-Dhuha, Rahmah Maziyah Adelia, Anggi Adrifianie, Femmy Ahmad Duta Al-Ihya Alfina Indah Nabila Amalia Febriyanti Ambarwati, Endah Amelia, Erry Rizki Amira Nabila Andrifianie, Femmy Angelica Philia Christy Anggraeni Janar Wulan Anindia Syafia Halimathus Sa'dyah Aprianti, Shervia Dwi Ardella, Karina Belinda Ardika, Okta Besti Ari Wahyuni Ari Wahyuni ari wahyuni Arif Yudho Prabowo Asep Sukohar Betta Kurniawan, Betta Brigitta Shinta dewi Cahyana, Adinda Husna Carissa Aprilia Y Chindy Annisa Putri Mandala Sempaga Cut Karel Dithia Daffa Fahreiza Damayanti, Ervina Devina Hardianto Devira Fitriani Kamal Dewayanti, Wahyu Dwi Anjani, Galuh Dwi Indria Anggraini Edward Sintong Samosir Ellysa Angguman Putri Ety Apriliana Ety Apriliana Evan Christian Christian Fadhilah, Fuad Fadilah Alwiyah Fairuz Hanan, Sifa’Syaharani Faisal Rohmadhiyaul Haq Faisol Rohmadhiyaul Haq Faridi Pani Farraz Kanya Syahra Fauzan Hafizh, Ahmad Fauziani, Andra Nabila Fayza Syachrani Febri Nadyanti Febrianti, Arlin Fernadya Sylvia Nurindi Firsandini, Firsandini Fitria Saftarina Ghaitsa Lulua Ghifari, Ghaza Ahmad Al Ghiffari, Fahman Ghina Salsabila Fenty PNR Gigaramadan Sema Gigih Forda Nama Giska Tri Putri Graceciela, Yohana Eva Hana Qanitah Hanifah Qollama Astrid Hanna Mutiara, Hanna Happy, Terza Aflika Helmi Ismunandar Helmi Ismunandar Hendra Tarigan Sibero Hery Dian Septama Ida Laila Ihsanti Dwi Rahayu Ika Agustin Putri Haryant Imtinan Khoirunnisa Intan Kusumaningtyas Intanri Kurniati Junando, Mirza Junita, Aulia Kadek Elvina Kusuma Putri Kamila Nastiti Keziah Tirtawijaya Khairun Nisa Kurnia Fithrananda Kurniawan, Diva Ardhana Lintang Lestari Cahya Sawitri Lubna Farhana M Yusran M. Revo Artmando L M. Yusran Maharani , Mentari Putri Mallarangeng, Andi Nafisah Tendri Adjeng Mardiana Mardiana Maretta, Alvina Christy Maureen Angelica Melni Armadani Mentari Putri Maharani Mochamad Fauzan Dava Muhammad Aditya, Muhammad Muhammad Arsy Kamal Faadhil Muhammad Maulana Muhammad Maulana Muhammad Yusran Muhartono Muhartono Mukhlis Imanto Nabila Alsa Sagia Nabila Rayhan Yasmin Nadhia Wihelga Nahrassyiah Rahma Putri Naila Fathiya Isnanto Nashwa Faadillah Nasyim Natanael, Jessica Neli Salsabila Ni Made Karenina Rini Dwi Cintawan Noval Ramadirta Nur Fadillah, Astri Nurhaliza, Rahma Nurul Fadhilah Az-zahro Nurul Purna Mahardika Nurul Utami Okki Muhammad Fajar Muthahhari oktadiani, Isna Oktafany, Oktafany Oktaryona Trisera Oktoba, Zulpakor Prayogi, Norbertus Marcell Putu Ristyaning Ayu RA Genta Syakira Hatta Rachel Agustin Inggrid Zefanya Rahmah, Nisrina Nur Ramadhan Triyandi Ramadhina, Farrasyifa Ramdini, Dwi Aulia Rasmi Zakiah Oktarlina Regita Dwi M Rekha Nova Iyos, Rekha Nova Rengganis Wardani, Dyah Wulan Sumekar Renitta Anggraeni Rifka Putri Dewi Riska Azzahra Risti Graharti Ristyaning Ayu Sangging, Putu Rizki Hanriko Rizqiani Astrid Nasution Rudiyanto, Waluyo Ruth Leria Noverika Salsabila Haqya Kusuma Sangging, Putu Ristyaning Ayu Saphira Murfi Septiani, Linda Serafina Subagio Shifa Azzahra, Nimas Sitanggang, Grety Soraya Rahmanisa Suharmanto Susanti, Andani Dewanti Sutarto Sutarto Sutarto Sutarto Syachrani , Fayza Syahrani Alya Murfi Syazili Mustofa Syiva Ulhayah T. Adjeng, Andi Nafisah Thamara Az Zahra Tri Umiana Sholeha Tri Umiana Soleha Tri Umiana Soleha Tsurayya Fathma Zahra Vania Widyadhari Damayanti Widjaja, Jovan Wildan Kautsar Irawan Wiwi Febriani Yashila Rahimah Yasmin, Deffina Widya Yuliant, Titin Yusran, M Zenith Puspitawati Zheva Aprillia Yozevi