Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH HEPATOPROTEKTIF BAWANG HITAM (BLACK GARLIC) TERHADAP INTOKSIKASI ALKOHOL Ni Made Karenina Rini Dwi Cintawan; Anggraeni Janar Wulan; Rani Himayani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh hepatoprotektif dari bawang hitam (black garlic)  terhadap intoksikasi alkohol. Penelitian ini menggunakan metadata analisis dengan tinjauan literatur (literature review)  yang menjelaskan mengenai pengaruh hepatoprotektif dari bawang hitam (black garlic) terhadap efek intoksikasi alkohol pada hati. Intoksikasi alkohol menimbulkan gejala kesehatan dan menyebabkan berbagai masalah kesehatan bahkan kematian. Data World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa sebanyak 320 ribu orang pada usia 15-29 tahun meninggal dunia setiap tahunnya terkait dengan intoksikasi alkohol. Hasil literatur menunjukkan bawang hitam dapat mengurangi aktivitas enzim hepatic, meningkatkan aktivitas antioksidan dan menurunkan stress oksidatif akibat intoksikasi alkohol sehingga mengurangi kerusakan pada hati. Kata Kunci: hepatoprotektif, bawang hitam, intoksikasi alkohol
Etiologi, Diagnosis, Prognosis, dan Tatalaksana Nurul Fadhilah Az-zahro; Rani Himayani; Putu Ristyaning Ayu Sangging
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tonsilitis atau umum dikenal sebagai radang amandel adalah peradangan pada tonsil tepatnya di bagian cincin waldayer. Etiologi dari tonsilitis dapat disebabkan oleh virus dan bakteri. Prevalensi tonsilitis di Indonesia mencapai 3,8% dan lebih sering terjadi pada anak-anak usia lima sampai lima belas tahun. Penegakan diagnosis dari tonsilitis dapat dilakukan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik. Anamnesis dilakukan untuk menggali riwayat dari berbagai keluhan pasien, berupa keluhan lokal dan keluhan sistemik. Pemeriksaan fisik tonsil dilakukan dengan bantuan spatula lidah, salah satu hal yang perlu dinilai adalah besarnya tonsil.Besar tonsil dibagi menjadi T0, T1, T2, T3, dan T4. Secara umum, prognosis dari tonsilitis adalah baik dan jarang terdapat komplikasi. Tatalaksana pada pasien dengan tonsilitis dapat dilakukan secara operatif dan non-operatif. Pada sebagian besar pasien, tonsilitis adalah penyakit yang dapat sembuh sendiri atau self limiting disease. Artikel ini menggunakan metode literature review dari berbagai rujukan jurnal nasional dan internasional dengan kata kunci pencarian berikut: diagnosis, etiologi, prognosis, dan tatalaksana.  Kata Kunci:  Diagnosis, Etiologi, Prognosis, Tatalaksana.
Konjungtivitis: Etiologi, Klasifikasi, Manifestasi Klinis, Komplikasi, dan Tatalaksana Rifka Putri Dewi; Putu Ristyaning Ayu Sangging; Rani Himayani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konjungtivitis adalah penyakit yang mengacu pada peradangan konjungtiva, pembengkakan pembuluh darah, nyeri, gatal, dan cairan yang keluar dari mata. Konjungtivitis dapat menyerang semua kalangan masyarakat dari usia, demografis, atau status sosial ekonomi. Meskipun biasanya sembuh sendiri dan jarang menyebabkan kehilangan penglihatan, penting untuk menyingkirkan penyebab mata merah yang mengancam penglihatan. Etiologi konjungtivitis dapat dibedakan menjadi menular dan tidak menular. Manifestasi klinis pada konjungtivitis berbeda sesuai dengan etiologinya. Komplikasi pada konjungtivitis akutjarang terjadi. Namun, pasien yang tidak menunjukkan perbaikan dalam 5-7 hari harus dirujuk ke dokter mata untuk evaluasi lebih lanjut. Tatalaksana pada konjungtivitis harus tepat dan sesuai berdasarkan penyebab dan gejalanya. Terapi yang diberikan berbeda-beda antara setiap jenisnya. Terapi spesifik konjungtivitis tergantung pada temuan antigen mikrobiologisnya. Terapi dapat dimulai dengan antibiotik topikal spektrum luas. Artikel ini menggunakan metode literature review dari berbagai rujukan jurnal nasional dan internasional dengan kata kunci pencarian berikut: etiologi, klasifikasi, komplikasi, konjungtivitis, manifestasi klinis, tatalaksana. Kata Kunci:  Etiologi, Klasifikasi, Komplikasi, Konjungtivitis, Manifestasi Klinis, Tatalaksana
Talasemia Beta: Etiologi, Klasifikasi, Faktor Risiko, Diagnosis, dan Tatalaksana Faisol Rohmadhiyaul Haq; Syazili Mustofa; Rani Himayani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Talasemia beta merupakan penyakit hemoglobinopati yang disebabkan oleh gangguan sintesis rantai beta globin akibat kelainan genetik pada kromosom 11. Prevalensi talasemia beta di Indonesia mencapai 3% dari penduduk yang merupakan salah satu tertinggi di asia tenggara. Diagnosis talasemia didasarkan pada kriteria klinis, kriteria hematologi, dan kriteria DNA. Pasien talasemia beta dapat mengalami gejala yang sama dengan anemia, seperti lemas, mudah lelah, dan mengantuk. Pemeriksaan laboratorium darah lengkap dan hitung darah, disertai pemeriksaan elektroforesis Hb digunakan untuk menegakkan diagnosis talasemia beta.  Penatalaksanaan talasemia saat ini difokuskan pada transfusi darah. Tindakan splenektomi, Hematopoietic Stem Cell Transplantation (HSCT), dan induksi produksi hemoglobin fetal (HbF) juga dapat dipertimbangkan dalam tatalaksana talasemia. Tatalaksana biomolekuler berupa terapi genetik sedang dalam masa uji coba dan beberapa menunjukkan keberhasilan dengan bebasnya penderita talasemia beta dari ketergantungan transfusi darah.Kata kunci: Hemoglobinopati, Penyakit Genetik, Talasemia beta. tatalaksana
Talasemia Beta: Etiologi, Klasifikasi, Faktor Risiko, Diagnosis, dan Tatalaksana Faisal Rohmadhiyaul Haq; Syazili Mustofa; Rani Himayani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 2 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v10i2.pp19-26

Abstract

Talasemia beta merupakan penyakit hemoglobinopati yang disebabkan oleh gangguan sintesis rantai beta globin akibat kelainagenetik pada kromosom 11. Prevalensi talasemia beta di Indonesia mencapai 3% dari penduduk yang merupakan salah sattertinggi di asia tenggara. Diagnosis talasemia didasarkan pada kriteria klinis, kriteria hematologi, dan kriteria DNA. Pasietalasemia beta dapat mengalami gejala yang sama dengan anemia, seperti lemas, mudah lelah, dan mengantuk. Pemeriksaanlaboratorium darah lengkap dan hitung darah, disertai pemeriksaan elektroforesis Hb digunakan untuk menegakkan diagnostalasemia beta.  Penatalaksanaan talasemia saat ini difokuskan pada transfusi darah. Tindakan splenektomi, HematopoietiStem Cell Transplantation (HSCT), dan induksi produksi hemoglobin fetal (HbF) juga dapat dipertimbangkan dalam tatalaksantalasemia. Tatalaksana biomolekuler berupa terapi genetik sedang dalam masa uji coba dan beberapa menunjukkankeberhasilan dengan bebasnya penderita talasemia beta dari ketergantungan transfusi darah.Kata kunci: Hemoglobinopati, Penyakit Genetik, Talasemia beta. tatalaksana
Hubungan Tingkat Pendidikan, Jenis Pekerjaan Dan Status Nutrisi Terhadap Kejadian Katarak Senilis Di RSUD Jendral Ahmad Yani Kota Metro 2022 Edward Sintong Samosir; Rani Himayani; Khairunnisa Berawi
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 2 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v10i2.pp39-44

Abstract

Berdasarkan data dari organisasi kesehatan dunia, katarak menempati urutan pertama penyebab kebutaan di dunia sebesar 51%. Kejadian katarak sendiri tidak terlepas dikarenakan adanya faktor risiko yang ada. Faktor penyebab katarak sendiri dapat berasal dari dalam tubuh sendiri (faktor intrinsik) dan faktor dari luar tubuh (faktor ekstrinsik). Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan tingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan status nutrisi terhadap kejadian katarak senilis di RSUD Jenderal Ahmad Yani Kota Metro tahun 2022. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional analitik yang dilakukan dengan metode case control. Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja RSUD Jenderal Ahmad Yani Kota Metro pada bulan Februari – Juni 2023. Data yang telah terkumpul dideskripsikan sebagaimana adanya ke dalam bentuk angka-angka yang bermakna. Pengambilan data menggunakan data sekunder, yaitu rekam medis untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan status nutrisi terhadap kejadian katarak senilis di RSUD. Jendral Ahmad Yani Kota Metro Tahun 2022. Hasil analisis bivariat dengan uji chi-square menunjukkan p-value=0,011 (p-value <0,05) pada variabel tingkat pendidikan dan p-value=0,037 (p-value <0,05) pada variabel jenis pekerjaan.Sedangkan pada variable status nutrisi menunjukkan p-value=0,799 (p-value>0,05). Terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan.dan jenis pekerjaan dengan kejadian katarak senilis. Sedangkan status nutrisi tidak memiliki hubungan yang bermakna terhadap kejadian katarak senilis.Kata Kunci: Katarak Senilis, Tingkat Pendidikan, Jenis Pekerjaan, Status Nutrisi
Potensi Tanaman Obat sebagai Terapi Alternatif Faringitis Bakterial oleh Streptococcus pyogenes: Sebuah Tinjauan Literatur Widjaja, Jovan; Fauzan Hafizh, Ahmad; Prayogi, Norbertus Marcell; Himayani, Rani; Maulana, Muhammad; Kusumaningtyas, Intan
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 2 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.2 (2025)
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i2.829

Abstract

Pendahuluan: Faringitis merupakan peradangan pada faring yang umum terjadi pada anak-anak hingga dewasa, dengan lebih dari 10 juta kunjungan rawat jalan setiap tahunnya, dan 50% kasus terjadi pada kelompok usia 5 hingga 24 tahun. Faringitis dapat disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri. Penyebab tersering faringitis bakterial adalah Streptococcus pyogenes. Pengobatan utama faringitis bakterial saat ini adalah dengan menggunakan antibiotik, namun meningkatnya kejadian resistensi antimikroba mendorong pencarian terapi alternatif berbasis tanaman obat. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk merangkum berbagai penelitian ekstrak tanaman dari seluruh dunia untuk memahami potensi ekstrak tanaman sebagai terapi alternatif untuk faringitis. Metode: Studi ini menggunakan metode narrative review dengan menggunakan pencarian komprehensif artikel pada database PubMed dan ScienceDirect dengan rentang tahun 2020–2025. Kriteria inklusi meliputi artikel in-vitro yang menilai aktivitas antibakteri tanaman terhadap S. pyogenes, memiliki nilai MIC, serta tanaman yang tumbuh di Indonesia. Artikel yang tidak memfokuskan pada aktivitas mikrobiologi dieksklusi. Pembahasan: Delapan artikel terpilih mengulas berbagai spesies tanaman yang memiliki potensi antimikroba. Ekstrak biji Spondias pinnata dan buah Sapindus rarak menunjukkan potensi tertinggi dengan MIC 0.000039 mg/mL. Senyawa aktif seperti flavonoid dan saponin diketahui bekerja melalui mekanisme quorum sensing inhibition dan gangguan membran bakteri. Efektivitas ekstrak dipengaruhi oleh jenis pelarut dan metode ekstraksi yang digunakan. Simpulan: Tanaman obat yang tumbuh di Indonesia memiliki potensi sebagai alternatif terapi faringitis akibat S. pyogenes. Senyawa bioaktif dalam tanaman-tanaman tersebut dapat menjadi solusi dalam mengurangi penggunaan antibiotik dan menghambat perkembangan resistensi antimikroba.
Gambaran Tingkat Pengetahuan Dan Perilaku Swamedikasi Penggunaan Obat Tetes Mata Untuk Keluhan Mata Ringan: Sebuah Kajian Literatur Nur Fadillah, Astri; Himayani, Rani; Damayanti, Ervina
Jurnal Farmasi SYIFA Vol 4 No 1 (2026): Jurnal Farmasi SYIFA
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/jfs.v4i1.995

Abstract

Swamedikasi penggunaan obat tetes mata merupakan praktik yang umum dilakukan masyarakat untuk mengatasi keluhan mata ringan, seperti mata kering, mata merah, dan rasa gatal. Praktik ini cenderung dipilih karena kemudahan akses obat, namun dapat menimbulkan risiko apabila tidak disertai pengetahuan dan perilaku penggunaan yang tepat. Kajian literatur ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat pengetahuan dan perilaku swamedikasi penggunaan obat tetes mata pada keluhan mata ringan. Metode yang digunakan adalah penelusuran dan seleksi artikel ilmiah melalui basis data Google Scholar, PubMed, dan Research Gate. Dari hasil seleksi, diperoleh 10 jurnal yang memenuhi kriteria inklusi dengan total 5.305 responden. Hasil kajian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat mengenai penggunaan obat tetes mata umumnya berada pada kategori cukup hingga baik, dengan persentase berkisar antara 51% hingga 65,67%. Namun, perilaku penggunaan obat tetes mata masih menunjukkan ketidaktepatan, terutama dalam penggunaan obat tetes mata yang seharusnya memerlukan resep. Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara tingkat pengetahuan dan perilaku penggunaan obat tetes mata. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi untuk meningkatkan penggunaan obat tetes mata yang aman dan rasional pada keluhan mata ringan.
Co-Authors Ad-Dhuha, Rahmah Maziyah Adelia, Anggi Adrifianie, Femmy Ahmad Duta Al-Ihya Alfina Indah Nabila Amalia Febriyanti Ambarwati, Endah Amelia, Erry Rizki Amira Nabila Andrifianie, Femmy Angelica Philia Christy Anggraeni Janar Wulan Anindia Syafia Halimathus Sa'dyah Aprianti, Shervia Dwi Ardella, Karina Belinda Ardika, Okta Besti Ari Wahyuni Ari Wahyuni ari wahyuni Arif Yudho Prabowo Asep Sukohar Betta Kurniawan, Betta Brigitta Shinta dewi Cahyana, Adinda Husna Carissa Aprilia Y Chindy Annisa Putri Mandala Sempaga Cut Karel Dithia Daffa Fahreiza Damayanti, Ervina Devina Hardianto Devira Fitriani Kamal Dewayanti, Wahyu Dwi Anjani, Galuh Dwi Indria Anggraini Edward Sintong Samosir Ellysa Angguman Putri Ety Apriliana Ety Apriliana Evan Christian Christian Fadhilah, Fuad Fadilah Alwiyah Fairuz Hanan, Sifa’Syaharani Faisal Rohmadhiyaul Haq Faisol Rohmadhiyaul Haq Faridi Pani Farraz Kanya Syahra Fauzan Hafizh, Ahmad Fauziani, Andra Nabila Fayza Syachrani Febri Nadyanti Febrianti, Arlin Fernadya Sylvia Nurindi Firsandini, Firsandini Fitria Saftarina Ghaitsa Lulua Ghifari, Ghaza Ahmad Al Ghiffari, Fahman Ghina Salsabila Fenty PNR Gigaramadan Sema Gigih Forda Nama Giska Tri Putri Graceciela, Yohana Eva Hana Qanitah Hanifah Qollama Astrid Hanna Mutiara, Hanna Happy, Terza Aflika Helmi Ismunandar Helmi Ismunandar Hendra Tarigan Sibero Hery Dian Septama Ida Laila Ihsanti Dwi Rahayu Ika Agustin Putri Haryant Imtinan Khoirunnisa Intan Kusumaningtyas Intanri Kurniati Junando, Mirza Junita, Aulia Kadek Elvina Kusuma Putri Kamila Nastiti Keziah Tirtawijaya Khairun Nisa Kurnia Fithrananda Kurniawan, Diva Ardhana Lintang Lestari Cahya Sawitri Lubna Farhana M Yusran M. Revo Artmando L M. Yusran Maharani , Mentari Putri Mallarangeng, Andi Nafisah Tendri Adjeng Mardiana Mardiana Maretta, Alvina Christy Maureen Angelica Melni Armadani Mentari Putri Maharani Mochamad Fauzan Dava Muhammad Aditya, Muhammad Muhammad Arsy Kamal Faadhil Muhammad Maulana Muhammad Maulana Muhammad Yusran Muhartono Muhartono Mukhlis Imanto Nabila Alsa Sagia Nabila Rayhan Yasmin Nadhia Wihelga Nahrassyiah Rahma Putri Naila Fathiya Isnanto Nashwa Faadillah Nasyim Natanael, Jessica Neli Salsabila Ni Made Karenina Rini Dwi Cintawan Noval Ramadirta Nur Fadillah, Astri Nurhaliza, Rahma Nurul Fadhilah Az-zahro Nurul Purna Mahardika Nurul Utami Okki Muhammad Fajar Muthahhari oktadiani, Isna Oktafany, Oktafany Oktaryona Trisera Oktoba, Zulpakor Prayogi, Norbertus Marcell Putu Ristyaning Ayu RA Genta Syakira Hatta Rachel Agustin Inggrid Zefanya Rahmah, Nisrina Nur Ramadhan Triyandi Ramadhina, Farrasyifa Ramdini, Dwi Aulia Rasmi Zakiah Oktarlina Regita Dwi M Rekha Nova Iyos, Rekha Nova Rengganis Wardani, Dyah Wulan Sumekar Renitta Anggraeni Rifka Putri Dewi Riska Azzahra Risti Graharti Ristyaning Ayu Sangging, Putu Rizki Hanriko Rizqiani Astrid Nasution Rudiyanto, Waluyo Ruth Leria Noverika Salsabila Haqya Kusuma Sangging, Putu Ristyaning Ayu Saphira Murfi Septiani, Linda Serafina Subagio Shifa Azzahra, Nimas Sitanggang, Grety Soraya Rahmanisa Suharmanto Susanti, Andani Dewanti Sutarto Sutarto Sutarto Sutarto Syachrani , Fayza Syahrani Alya Murfi Syazili Mustofa Syiva Ulhayah T. Adjeng, Andi Nafisah Thamara Az Zahra Tri Umiana Sholeha Tri Umiana Soleha Tri Umiana Soleha Tsurayya Fathma Zahra Vania Widyadhari Damayanti Widjaja, Jovan Wildan Kautsar Irawan Wiwi Febriani Yashila Rahimah Yasmin, Deffina Widya Yuliant, Titin Yusran, M Zenith Puspitawati Zheva Aprillia Yozevi