Claim Missing Document
Check
Articles

Kekerasan dalam Novel Sharp Objects Karya Gillian Flynn dan Laut Bercerita Karya Leila S. Chudori : Penelitian Kadir, Herson; Oki, Niranda; Noho, Destilawati; Fadila Kueno, Nur; Otoluwa, Yulinda; Nuraulia Mokodongan, Inayah
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 3 (Januari 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i3.4630

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi jenis-jenis kekerasan yang terdapat dalam novel Sharp Objects oleh Gillian Flynn dan Laut Bercerita oleh Leila S. Chudori dengan memanfaatkan teori kekerasan yang dikemukakan oleh Johan Galtung, yang mencakup kekerasan langsung, struktural, dan kultural. Metode kualitatif diambil untuk mengenali, mengelompokan dan menganalisis berbagai bentuk kekerasan yang dialami oleh karakter melalui analisis mendalam dan pencatatan teks. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa Laut Bercerita menampilkan kekerasan langsung berupa penyiksaan fisik, penangkapan ilegal, penghilangan paksa, serta teror psikologis yang dilakukan secara sistematis oleh negara terhadap aktivis. Kekerasan struktural hadir melalui kebijakan represif, penggunaan ruang-ruang penyiksaan, dan intimidasi terhadap keluarga korban. Kekerasan kultural muncul melalui ideologi anti-aktivis dan dehumanisasi yang melegitimasi tindakan represif negara. Sementara itu, Sharp Objects menggambarkan kekerasan dalam lingkup domestik, termasuk kekerasan fisik, emosional, dan psikologis yang dilakukan oleh anggota keluarga melalui pola relasi yang toksik. Kekerasan struktural tercermin dari kegagalan institusi sosial dalam melindungi korban, serta budaya patriarki dan kelas sosial yang menjaga posisi berkuasa keluarga Crellin. Kekerasan kultural diwujudkan melalui norma kota kecil Wind Gap yang menormalisasi misogini, kompetisi antarsesama perempuan, serta tuntutan peran gender yang kaku. Perbandingan kedua novel menunjukkan bahwa meskipun muncul dalam konteks sosial yang berbeda, kekerasan meninggalkan dampak psikologis jangka panjang dan menghadirkan kritik terhadap struktur kekuasaan yang menopang praktik kekerasan. Penelitian ini menegaskan bahwa sastra memiliki peran penting dalam mengungkap realitas kekerasan dan menghadirkan suara bagi para korban.
Pembajakan Karya dalam Novel Yellowface Karya R. F. Kuang dan Selamat Tinggal Karya Tere Liye: Kajian Sosiologi Sastra Alan Swingewood: Penelitian Kadir, Herson; Lakoro, Nur’ain; Hersya Nur Azizah, Andi; Bagoe, Widyawati; Huntala, Mutmainnah; Apadu, Rahman
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 3 (Januari 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i3.4632

Abstract

Novel YellowFace karya R.F. Kuang dan Selamat tinggal oleh Tere Liye sama-sama memberikan analisis tajam mengenai praktik plagiarisme, meskipun berada dalam konteks dan latar belakang yang berbeda. Penelitian ini memanfaatkan dua karya sastra untuk dibandingkan berdasarkan kajian sosiologi sastra dengan pendekatan kompratif. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yakni mendeskripsikan pembajakan dalam novel Yellowface karya R. F. Kuang dan Selamat Tinggal karya Tere Liye sebagai sumber data penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan pada kedua novel tersebut diantaranya, dengan cara (1) memilih novel, kemudian dibaca dengan teliti, (2) menyusun dan mengklasifikasikan data yang telah diperoleh secara sistematis untuk memudahkan dalam menganalisis data tersebut, (3) mendeskripsikan data yang telah ditemukan dalam bentuk kalimat atau uraian, (4) menyimpulkan hasil penelitian yang telah diteliti secara keseluruhan. Hasil analisis menunjukan pembajakan karya dalam novel Yellowface, digambarkan secara ekstrim melalui tindakan tokoh utama yang secara sadar mencuri naskah milik temannya. Sementara itu, dalam novel Selamat Tinggal, pembajakan karya ditampilkan secara sistematis dan melibatkan banyak pihak dalam pembajakan buku. Tindakan ini tidak sekadar berupa pencurian naskah secara individual, tetapi lebih kepada reproduksi dan distribusi karya sastra secara ilegal.
Kepribadian Tokoh dalam Novel Almond Karya Sohn W On- Pyung dan Katarsis Karya Anastasia Aemalia : Kajian Psikologi Sigmund Freud: Penelitian Kadir, Herson; Mantu, Chairunnisa; Mokodompit, Rahmawati; K. Talib, Karsum; Mokodongan, Shelvira; Anastasya Lanti, Amelia; Putriani Paputungan, Erina
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 3 (Januari 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i3.4635

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan dua novel, yaitu Almond karya Sohn W on- Pyung dan Katarsis karya Anastasia, menggunakan pendekatan psikologi sastra Sigmund Freud, khususnya aspek Id, Ego, dan Superego. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif dengan kajian sastra bandingan, yang dilakukan secara deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan metode baca dan catat, di mana kutipan-kutipan yang relevan dengan konflik batin tokoh dikumpulkan dan dianalisis untuk memahami interaksi antara dorongan bawah sadar, kesadaran diri, dan kontrol moral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua novel menampilkan dinamika psikologis yang sejalan dengan teori Freud, meskipun konteks dan karakter berbeda. Dalam Katarsis, tokoh utama Tara menunjukkan dominasi Id melalui perilaku dingin dan mati rasa emosional, terutama saat membunuh sepupunya tanpa penyesalan, menandakan minimnya kontrol dari Ego dan Superego. Sementara itu, dalam Almond, tokoh utama mengalami kelainan afasia emosional yang membuatnya tidak mampu merasakan emosi, sehingga menampilkan ketidakseimbangan antara Id, Ego, dan Superego. Analisis kutipan menunjukkan bagaimana Ego berperan dalam mengatur tindakan dan menyeimbangkan dorongan Id dengan realitas, sedangkan Superego memengaruhi kesadaran moral dan evaluasi nilai sosial tokoh. Penelitian ini memperlihatkan bahwa teori psikoanalisis Freud efektif digunakan untuk memahami konflik internal, perkembangan karakter, dan pengaruh konteks sosial serta budaya dalam membentuk perilaku tokoh. Temuan ini juga memberikan wawasan tentang perbedaan ekspresi emosional dan trauma psikologis dalam latar budaya yang berbeda, serta memperkaya pemahaman tentang hubungan antara psikologi individu dan sastra.
Pandangan Dunia Pengarang Dalam Kumpulan Puisi “Tirani dan Benteng” Karya Taufik Ismail: Kajian Strukturalisme Genetik Lucian Gooldman: Penelitian Kadir, Herson; Djelema, Sartika; D. Daad, Rahman; Abelia Noho, Sri; Djalilu, Yusrin; Hino, Karmila
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 3 (Januari 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i3.4636

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pandangan dunia pengarang dalam kumpulan puisi “Tirani dan Benteng” karya Taufik Ismail dengan menggunakan pendekatan strukturalisme genetik Lucien Goldmann. Penelitian ini berangkat dari asumsi bahwa karya sastra tidak hanya merupakan hasil kreativitas individual, tetapi juga merepresentasikan kesadaran kolektif kelompok sosial tertentu. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif analisis dengan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka. Data penelitian berupa teks puisi dalam kumpulan “Tirani dan Benteng” yang dianalisis melalui dua tahapan, yaitu analisis struktur intrinsik puisi dan analisis hubungan struktur puisi dengan struktur sosial masyarakat yang melahirkannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pandangan dunia pengarang dalam “Tirani dan Benteng” merepresentasikan sikap kritis terhadap kekuasaan yang represif serta keberpihakan pada nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial. Struktur konflik dalam puisi memiliki homologi dengan struktur sosial-politik Indonesia pada dekade 1960-an, khususnya dalam konteks demonstrasi mahasiswa, krisis ekonomi, dan kekerasan politik pasca peristiwa G30S/PKI. Taufik Ismail tampil sebagai artikulator kesadaran kolektif mahasiswa, rakyat kecil, dan kaum terdidik yang menolak penindasan. Dengan demikian, “Tirani dan Benteng” tidak hanya berfungsi sebagai karya estetik, tetapi juga sebagai medium kritik sosial dan kesaksian moral terhadap realitas zamannya.
Mengungkap Tindak Kriminal Dalam Novel The Girl With The Dragon Tattoo Karya Stieg Larsson Dan Bendera Setengah Tiang Karya Annisa Lim: Penelitian Kadir, Herson; Regina Gaib, Sri; Kune, Abdulharis; Yusuf H. Ibrahim, Moh.; Puluhuluwa, Faisal; Badu, Ahmad; Iklima Kasim, Yunita
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 3 (Januari 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i3.4658

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan membedah tindak kriminalitas dalam dua novel yang memiliki latar budaya berbeda, yaitu The Girl with the Dragon Tattoo karya Stieg Larsson dan Bendera Setengah Tiang karya Annisa Lim. Dengan menggunakan perspektif sosiologi sastra, kedua karya ini dipandang sebagai refleksi dari ketimpangan kekuasaan dan kerusakan struktur sosial yang gagal melindungi individu. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa teknik baca dan catat. Analisis dilakukan dengan menghubungkan teks sastra terhadap kondisi sosial di mana karya tersebut ditulis. Hasil pembahasan menunjukkan berbagai bentuk kriminalitas yang muncul dalam kedua novel. Dalam The Girl with the Dragon Tattoo, ditemukan tindak kriminal berupa kekerasan berbasis gender (patriarki), kejahatan kerah putih di dunia korporasi, serta kriminalitas ideologis (supremasi Nazi). Sementara dalam Bendera Setengah Tiang, tindak kriminal lebih berfokus pada ranah mikro dan lingkungan pendidikan, yang meliputi pelecehan seksual verbal, intimidasi (bullying), penganiayaan fisik, pembunuhan terencana, korupsi internal perusahaan, tawuran antar sekolah, penculikan, hingga teror ancaman pembunuhan. Melalui perbandingan ini, penelitian menyimpulkan bahwa sastra bertindak sebagai agen perubahan yang menyuarakan keresahan sosial kaum yang lemah secara universal.
Representasi Makna dalam Fotografi Jurnalistik pada Media Berita Antara Foto Ismail, Lifka; Herson Kadir; Ayu Hidayanti Ali
KLITIKA Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025): Klitika
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/klitika.v7i2.7506

Abstract

Fotografi jurnalistik tidak hanya merekam fakta, tetapi menyingkap makna sosial dan budaya di balik peristiwa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan makna dalam fotografi jurnalistik pada media berita ANTARA FOTO, khususnya melalui karya jurnalis foto Adiwinata Solihin yang menampilkan berbagai realitas sosial dan peristiwa penting. Fokus penelitian ini mencakup tiga aspek, yaitu (1) representasi makna berdasarkan ikon, (2) representasi berdasarkan indeks, dan (3) representasi makna berdasarkan simbol. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi foto, studi pustaka, dan dokumentasi. Sedangkan analisis data dilakukan melalui tahapan pencatatan data visual, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan serta verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) representasi makna berdasarkan ikon tampak pada objek visual yang memperlihatkan realitas secara langsung, seperti ekspresi manusia, aktivitas sosial, dan kondisi lingkungan; (2) representasi makna berdasarkan indeks hadir melalui hubungan kausal antara peristiwa dan tanda visual, misalnya gesture tubuh dan ekspresi emosional yang mencerminkan situasi faktual; dan (3) representasi makna berdasarkan simbol terlihat pada penggunaan elemen visual yang merefleksikan nilai budaya, sosial, dan kontekstual yang memberi pesna mendalam kepada pembaca. Fotografi jurnalistik berperan penting sebagai sarana komunikasi visual yang mendidik, menginspirasi, dan menjadi dokumentasi sejarah.
Campur Kode Dalam Kolom Komentar Instagram Mata Najwa: Netanyahu Akui Serangan ke Rafah Kesalahan Tragis Nurfirawati Ntelu; Dakia N. Djou; Herson Kadir
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.3853

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan jenis, wujud, dan fungsi campur kode dalam kolom komentar Instagram Mata Najwa pada unggahan bertajuk "Netanyahu Akui Serangan ke Rafah Kesalahan Tragis." Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa dokumentasi, observasi, dan teknik baca. Data yang dianalisis berupa kata, frasa, klausa, imbuhan yang mengandung campur kode dari bahasa daerah dan asing. Hasil penelitian menunjukkan tiga jenis campur kode, yaitu campur kode ke dalam (32,26%), campur kode ke luar (32,26%), dan campur kode campuran (35,48%). Wujud campur kode yang paling dominan adalah dalam bentuk kata (31,58%). Fungsi campur kode yang ditemukan meliputi: sebagai penyisipan kalimat, kutipan, spesifikasi lawan tutur, dan untuk mengkualifikasi isi pesan. Penelitian ini menunjukkan bahwa fenomena campur kode dalam media sosial mencerminkan dinamika kebahasaan pengguna yang kompleks dan kontekstual.
The Existence and Motives of Mysticism in the Short Story Collection Hilang dalam Dekapan Semeru by RJL 5-Fajar Aditya Kadir, Herson; Bagtayan, Zilfa Achmad; Ololu, Fikrin
Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2026): Maret 2026 in progress
Publisher : Raja Zulkarnain Education Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55909/jpbs.v5i2.1313

Abstract

Mysticism is a teaching or belief that states the existence of a supreme reality that cannot be reached by human reason and can only be obtained through direct spiritual experience. This research was conducted by describing: 1) the existence of mysticism in the short story collection Hilang dalam Emkapan Semeru by RJL5-Fajar Aditya; 2) the motif of mysticism in the short story collection Hilang dalam Emkapan Semeru by RJL5-Fajar Aditya. This research uses the study of mysticism by Niels Mulder. The type of research used is qualitative with descriptive analysis method. The data of this research are in the form of quotes, sentences, and paragraphs that describe the existence and motif of mysticism. The data source is the short story collection Hilang dalam Emkapan Semeru by RJL 5-Fajar Aditya. The research data were collected and analyzed by reading, identifying, classifying data, recording, coding using observation guide sheets involving time triangulation. The results of the study show: 1) the existence of mysticism is divided into three aspects, namely material existence (sacred media such as objects considered to have mystical powers), spiritual existence (outward and inner mystical core as the starting point and goal), and moral existence (respect for the hierarchy of norms for noble harmony); 2) the motive of mysticism as a personal desire for worldly satisfaction, is divided into positive motives (good intentions, religious such as salvation or healing), and egoistic motives (black magic, pesugihan, mystical rituals, which are contrary to divine will. Overall, the short story Lost in Semeru's Embrace by RJL 5-Fajar Aditya not only represents mystical phenomena in climbing, but also contains moral messages about courage, solidarity, and respect for nature.
Co-Authors Abas, Dwi Anggriani Abas, Iskar Abdullah, Ainun Abelia Noho, Sri Achmad Bagtayan, Zilfa Adeliya Ibrahim Agustin, Puspita Dian Ali, Ayu Hidayanti Ali, Magvira Alin Benta, Nur Amelia Abdullah, Fendra Amelia Anastasya Lanti Amu, Aldiyanto Anastasya Lanti, Amelia Andi Hersya Nur Azizah Anisa Maku, Nur Apadu, Rahman Apriliani S. Mamu Ariyanti Daud, Olvi Dwi Arjoyo, Rahmatia Awalia Karim, Nur Ayu Hidayanti Ali Ayu Hidayanti Ali Ayu Nahumpang Badu, Ahmad Bagoe, Widyawati Bambang, Sarmila Baruadi, Karmin Blongkod, Sri Winanda Chairunnisa Mantu D. Daad, Rahman D. Hulopi, Nursella Dakia N. Djou Darliani Darliani Datau, Cindra Datau, Maryam Daud, Erik Daud, Rolan K. Debila P. Deu, Zaqia Destira Abd Rahman, Tria Deviana Rasyid Djafar, Israhayu Djalilu, Yusrin Djeijun, Wanda Djelema, Sartika Djua, Nurain Dunggio, Sri Juliana Mul’afaida Duslan, Nur Halizah Egam, Ahmad Syahdan Eka Sartika, Eka Eka Wahyuni Mohamad, Inayah Ellayana Hinta Ellyana Hinta Elya Nusantari Erina Putriani Paputungan Fadila Kueno, Nur Fairuzia Fatmah AR Umar Febriana, Cindy Fitri Lamusu Fitri Yanuar Misilu Guzali, Yurnaningsih H. Saledaa, Sri Mulyani Habibie, Nur Ainsyah Hadji, Delvina Halaa, Siti Salsadila Hanapi, Ratna Hanapi, Serliyani Harun, Alan Harun, Witrian Herman Didipu Hersya Nur Azizah, Andi Hidayanti Ali, Ayu Hino, Karmila Hulantu, Nurain Humokor, Hikma Nurcahyani Huntala, Mutmainnah I. Hasan, Yunima I. Sahur, Syamsurizal I. Zain, Miranda Iklima Kasim, Yunita Indah Zain Ismail, Ayu Ismail, Lifka Jafar Lantowa Jannah, Firdha Fadhilatul Jein Palilati juni triantoko Justevani, Sri K. Talib, Karsum Kadir, Wahyuni Karsum K.Talib Kaune, Yulistiani Kirana Gaga, Diva Kuga, Mersiranda Kune, Abdulharis La Ode Gusman Nasiru Lakoro, Nur’ain Lalu, Sri Sulistiawati Liputo, Moh. Giat Lisnawati Palongo M. Mulusi, Mirna Maele, Helmin Magfirah Dehiyo, Wardatul Magu, Trywidarti S Mamu, Apriliani Mangilo, Nurhalima Mantu, Chairunnisa Masyhur, Putri Syahra Mawar H. T. Datunsolang Meiska Van Gobel Meriyanti Lakoro Mobiliu, Fatmawati Moh. Karmin Baruadi Mohamad Karmin Baruadi Mohamad, Hawaria Mokodompit, Rahmawati Mokodompit, Sarapina Mokodongan, Shelvira Monarfa, Frediyanto Mongilong, Melani Mooduto, Oktafiyani Muhammad Arfan Mulyadi Syafi’i, Ikbal MUSLIMIN N. Djou, Dakia Neno, Kartika Amalia Nenta Mamonto Nihali, Sri Ririn Nikomang Mahatmadevisy Niranda Oki Noho, Destilawati Ntelu, Hasna Nur Alin Benta Nur Fadila Kueno Nur'ain Lakoro Nuraini, Lian Nuraulia Mokodongan, Inayah Nurdin, Nuryana Nurfirawati Ntelu Nurjuliati Salsabila Y. Rahman Nurlena Arsadi Nuruji, Arni Oki, Niranda Oky Octaviani Pakaya Ololu, Fikrin Otoluwa, Yulinda Paputungan, Erina Putriani Paputungan, Leoni Patrian Pakaya Pobela, Julianti Anamira Pobela, Siti Nurhalisa Pomolango, Cindriawati Pongoliu, Yulianti Pontoh, Sri Wahyuni Potabuga, Nur Atika Prasetia, Udin Puluhuluwa, Faisal Putriani Paputungan, Erina Rahman Apadu Rahmawati Mokodompit Rahmiyati Sumba Regina Gaib, Sri Renaldi Harun, Alit Reynol Moha Ricky Daliuwa Rumpabulu, Annisa Rusdi, Safna S. Daud, Yuniarti S. Nani, Sandi Sadapu, Nurain Sahari, Sella Salam Salsabila Y. Rahman, Nurjuliati Salsabilah Murad, Putri Sayama Malabar Setyanegara, Agus Shelvira Mokodongan Sitti Rachmi Masie Sri Vingki Binti Yudin Subula, Rahmiyati Sudarno, Tri Wahyuni Suge, Firnawati Sukma Wati, Ni Gusti Ayu Suleman, Erlinda A. Suleman, Fatma Supriyadi Supriyadi Supriyadi Supriyadi Supriyadi Susanti A. Kunuti, Sri Taumbung, Nuwafiqah S. Tayeb, Nuriyanci S. Udin Prasetia Umar, Asni Usman, Meylan Utina, Siti Nurgian Uyan Saipi Van Gobel, Meiska Wa Ode Irawati Yulinda Otoluwa Yusuf H. Ibrahim, Moh. Zahabi, Ayu Zain, Indah Zilfa Achmad Bagtayan Zulkifli Wolionelo Zulkipli Taliki Zulkipli Zulkipli