Claim Missing Document
Check
Articles

Seleksi dan Identifikasi Bakteri Selulolitik yang Dapat Mendegradasi Serat Kasar Daun Singkong Mulyasari Mulyasari; Widanarni Widanarni; M. Agus Suprayudi; M. Zairin Junior; M. Tri Djoko Sunarno
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v10i2.238

Abstract

Pemanfaatan daun singkong sebagai bahan baku pakan ikan belum dilaksanakan secara optimal karena mengandung selulosa yang cukup t inggi. Tujuan penelit ian ini adalah mendapatkan bakteri yang dapat mendegradasi serat daun singkong dan melakukan identifikasi jenis bakteri selulolitik tersebut. Seleksi bakteri selulolitik dilakukan pada 4 jenis isolat bakteriasal saluran pencernaan ikan gurame yaitu UG3, UG6, UG7, dan UG8 dengan mengukur aktivitas enzim selulase secara kuantitatif pada substrat Carboxy Methyl Cellulose (CMC) dan daun singkong menggunakan metode 3,5-dinitrosalicylic acid (DNS). Identifikasi bakteri dilakukan pada 3 isolat yang memiliki aktivitas enzim selulase tertinggi pada substrat daun singkong berdasarkan morfologi (perwarnaan Gram, motilitas dan bentuk bakteri), uji biokimia (oksidase dan katalase) dan analisis gen (16S-rRNA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 4 isolat yang diuji cobakan, isolat UG7 memiliki aktivitas enzim selulase (CMCase) tertinggi (0,0043 U/ml) sedangkan yang terendah adalah UG3 (0,0018 U/ml). Pada uji coba di substrat daun singkong, aktivitas enzim tertinggi terlihat pada isolat UG3 (0,107 U/ml) dan terendah adalah UG6 (0,077 U/ml). Hasil identifikasi dari 3 jenis isolat bakteri uj i yang memiliki kemampuan mendegradasi daun singkong tertinggi (UG3, UG7, dan UG8) menunjukkan bahwa ketiga jenis isolat tersebut merupakan bakteri jenis Gram positif berbentuk batang (basil). Berdasarkan data base dari GenBank, isolat UG3 memiliki kemiripan sebesar 93% dengan Bacillus clausii, UG7 memiliki kemiripan sebesar 96% dengan Bacillus amyloliquefaciens dan UG8 memiliki kemiripan sebesar 88% dengan Bacillus subtilis.
MORPHOLOGICAL CHARACTERISTIC OF SPERMATOGONIA AND TESTES DISSOCIATION : A Preliminary Study for the Germ Cell Transplantation in Giant Gouramy (Osphronemus gouramy) Irma Andriani; Ita Djuwita; Komar Sumantadinata; Muhammad Zairin Junior; Harton Arfah; Alimuddin Alimuddin
Indonesian Aquaculture Journal Vol 5, No 2 (2010): (December 2010)
Publisher : Center for Fisheries Research, Agency for Marine and Fisheries Research and Human Resource

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.767 KB) | DOI: 10.15578/iaj.5.2.2010.163-172

Abstract

The recent study were attempting to develop spermatogonial germ cell transplantation as a tool to preserve and propagate male germ-plasm from endangered fish species, as well as to produce surrogate broodstock of commercially valuable fish. Spermatogonia identification and testes dissociation were the first necessary steps to obtain highly amount and viable population of spermatogonia as donor cells for transplantation. Using giant gouramy testes as a model, spermatogonia was histological characterized and two methods of testes dissociations were compared (i.e. medium A contained 0.5% trypsin in PBS and medium B contained 0.5% trypsin and DNase 10 IU/μL in PBS complemented with CaCl2, Hepes and FCS). Optimal incubation times (1, 2, 3, 4 and 5 hours) in dissociation medium were also determined. Freshly isolated testes of immature giant gouramy were minced in dissociation medium and then incubated to get monodisperce cell suspension. Parameters observed were number and viability of spermatogonia (ø > 10 μm). The viability was analyzed using trypan blue exclusion dye. The results showed that the average number of spermatogonia observed in medium B was higher than in medium A (P<0.05), meanwhile the viability of spermatogonia between medium A and B were not significantly different (P>0.05). The viability of spermatogonia decreased by the increasing duration time of dissociation. The viability of spermatogonia started to decrease significantly in 2 hours incubation time in medium A and 4 hours incubation time in medium B (P<0.05). In conclusion, application of dissociation medium B yielded higher number of viable spermatogonia than dissociation medium A.
RESISTENSI UDANG GALAH KETURUNAN PERTAMA TERHADAP INFEKSI Vibrio harveyi Ikhsan Khasani; Alimuddin Alimuddin; Muhammad Zairin Junior; Angela Mariana Lusiastuti; Asep Sopian
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.527 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.2.2015.251-260

Abstract

Kematian massal udang galah karena infeksi penyakit merupakan masalah serius pada sistem produksi benih udang galah. Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan resistensi benih udang galah terhadap penyakit vibriosis menggunakan metode seleksi. Larva udang galah GIMacro diinfeksi dengan bakteri patogen Vibrio harveyi untuk mendapatkan populasi benih bertahan hidup, survivor, sebagai pembentuk induk F-0, selanjutnya disebut induk terseleksi. Sub populasi larva dari populasi tersebut tidak diinfeksi dan dipelihara hingga induk sebagai populasi kontrol. Pembentukan populasi F-1 dilakukan dengan mengawinkan antar induk F-0 terseleksi. Infeksi bakteri dilakukan terhadap larva (umur 7-9 hari pascatetas) dengan metode perendaman selama 48 jam, dengan kepadatan awal bakteri V. harveyi sebesar 5 x 105 cfu/mL. Sintasan rata-rata larva dari 24 induk betina adalah sebesar 45,92%-78,50%; dengan koefisien variasi relatif tinggi, sebesar 43%, sehingga seleksi pada karakter tersebut potensial untuk dilakukan. Respons seleksi setelah satu generasi sebesar 10,4% atau peningkatan resistensi sebesar 14,8% dibandingkan kontrol. Sintasan benih F-1 (40,04±11,9%) seleksi pada fase pembenihan standar produksi relatif lebih tinggi dibandingkan benih kontrol (38,04±15,7%). Sintasan benih pada fase pendederan juga demikian, yaitu 78,0±1,7% (F-1) dan 70±4,0% (kontrol). Bobot rata-rata benih udang galah F-1 (23,73±5,40 mg) tidak berbeda nyata dengan benih kontrol (23,40±9,50 mg). Sebagai kesimpulan bahwa peningkatan resistensi udang galah terhadap infeksi penyakit vibriosis dapat dilakukan melalui seleksi berbasis uji tantang.
IDENTIFIKASI KANDIDAT MARKA MHC I PADA IKAN LELE (Clarias sp.) TAHAN INFEKSI Aeromonas hydrophila Azis Azis; Alimuddin Alimuddin; Sukenda Sukenda; Muhammad Zairin Junior
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1936.382 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.2.2015.261-269

Abstract

Penyakit motile aeromonad septicemia disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila dapat menyebabkan kematian tinggi pada ikan lele (Clarias sp.). Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan kandidat marka MHC I dalam seleksi berbasis marka molekuler untuk menghasilkan ikan lele varietas sangkuriang tahan infeksi bakteri A. hydrophila. Sebanyak 200 ekor ikan lele dengan bobot 60±5 g diuji tantang dengan menyuntikkan bakteri A. hydrophila dengan konsentrasi 106 cfu/mL sebanyak 0,1 mL/ekor ikan. Hasil uji tantang menunjukkan sintasan ikan lele sebesar 54% (14 ekor ikan tanpa luka, dan 94 ekor ikan luka dan kemudian sembuh). Tujuh pasang primer didesain berdasarkan sekuen gen major histocompatibility complex (MHC) I ikan Clarias gariepinus yang terdapat di Bank Gen. DNA diekstraksi dari jaringan sirip ekor ikan hidup dan yang mati, kemudian dijadikan cetakan dalam amplifikasi PCR. Hasil PCR menggunakan salah satu set primer menunjukkan adanya pita DNA spesifik berukuran sekitar 300, 500, dan 1.000 bp pada ikan yanghidup pascatantang. Hasil analisis sekuen menggunakan basic local alignment search tools (BLAST) menunjukkan bahwa produk PCR tersebut memiliki kesamaan 69%-88% dengan gen MHC I ikan C. gariepinus. Dengan demikian, fragmen MHC I tersebut dapat menjadi marka molekuler ikan lele tahan infeksi A. hydrophila.
PEMBENTUKAN POPULASI SINTETIS UNTUK PENINGKATAN KUALITAS GENETIK IKAN MAS Didik Ariyanto; Odang Carman; Dinar Tri Soelistyowati; Muhammad Zairin Junior; M. Syukur; Yogi Himawan; Flandrianto S. Palimirmo
Jurnal Riset Akuakultur Vol 16, No 2 (2021): (Juni, 2021)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.38 KB) | DOI: 10.15578/jra.16.2.2021.93-98

Abstract

Benih ikan mas telah mengalami penurunan kualitas genetik yang menyebabkan penurunan performa fenotipik di lingkungan budidaya. Salah satu upaya perbaikan genetik adalah melalui pembentukan populasi sintetis yang merupakan penggabungan potensi genetik beberapa populasi plasma nutfah ikan mas. Penelitian ini bertujuan membentuk dan mengevaluasi performa genotipik dan fenotipik populasi sintetis ikan mas, yang merupakan penggabungan dari strain Rajadanu, Majalaya, Sutisna, Wildan, dan Sinyonya. Performa genotipik dievaluasi menggunakan metode mikrosatelit DNA, sedangkan performa fenotipik dievaluasi menggunakan analisis biometrik terkait kegiatan budidaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai keragaman genetik populasi sintetis lebih tinggi 55,0%-287,5% dengan tingkat inbreeding 40,0%-77,14% lebih rendah dibanding populasi-populasi pembentuknya. Hal ini berdampak terhadap performa fenotipik populasi sintetis yang lebih baik, diindikasikan dengan peningkatan panjang, bobot akhir, dan tingkat produktivitas, masing-masing sebesar 2,5%-20,6%; 9,4%-61,8%; dan 18,2%-66,0% lebih baik dibanding populasi-populasi pembentuknya. Peningkatan kualitas genetik dan performa fenotipik populasi sintetis ini memberikan peluang untuk memperbaiki kualitas benih ikan mas pada kegiatan budidaya.Common carp in Indonesia has experienced a decline in genetic quality. The progressive decline leads to a significant decrease in carp performance in the farming environment. One of the efforts to genetically improve carp growth performance is through developing synthetic carp populations, which is a blend of the genetic potentials from several germplasm populations. This study aimed to form and evaluate the performance of genotypic and phenotypic of synthetic populations of common carp, blended from five strains of common carp, i.e., Rajadanu, Majalaya, Sutisna, Wildan, and Sinyonya. The genotypic performance was evaluated using the DNA microsatellite method. The phenotypic performance was assessed using biometric analysis, especially in terms of culture performance. The results showed that the genotypic performance of the synthetic populations of common carp was better than that of the founder strains. This performance was indicated by higher genetic diversity values, about 55.0%-287.5% and lower levels of inbreeding, about 40.0%-77.1%, compared with their founder populations. Phenotypic performance of the synthetic populations is also better than their founder populations, indicated by higher body length, weight, and productivity, about 2.5%-20.6%, 9.4%-61.8%, and 18.2%-66.0%, respectively. The improvement on genetic quality and phenotypic performance of the synthetic population provide opportunities to improve the quality of common carp fry in aquaculture activity.
RESPONS PERTUMBUHAN DAN EFISIENSI PAKAN PADA IKAN NILA UKURAN BERBEDA YANG DIBERI PAKAN MENGANDUNG HORMON PERTUMBUHAN REKOMBINAN Muhammad Muhammad; Alimuddin Alimuddin; Muhammad Zairin Junior; Odang Carman
Jurnal Riset Akuakultur Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.803 KB) | DOI: 10.15578/jra.9.3.2014.407-415

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji respons pertumbuhan dan pemanfaatan pakan pada ikan nila (Oreochromis niloticus) strain SULTANA (seleksi unggul Selabintana) ukuran berbeda yang diberi pakan mengandung hormon pertumbuhan rekombinan ikan kerapu kertang, Epinephelus lanceolatus (rElGH). Ikan dengan ukuran awal 3,5± 0,3 g (perlakuan A); 12,5±0,4 g (perlakuan B); dan 40±2,4 g (perlakuan C) dipelihara dalam hapa (2 m x 1 m x 1 m) yang dipasang di kolam beton (20 m x 10 m x 1,5 m) pada padat tebar 50 ekor ikan/hapa. Setiap perlakuan diberi pakan mengandung 3 mg rElGH/kg, dan tidak diberi rElGH (kontrol; K). Masing-masing perlakuan terdiri atas tiga ulangan. Ikan dipelihara selama delapan minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pertambahan biomassa (ΔB) ikan perlakuan rElGH adalah lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan kontrol, sedangkan perlakuan ukuran ikan tidak berpengaruh nyata (P>0,05). Laju pertumbuhan harian ikan perlakuan rElGH lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan kontrol. Perlakuan B memiliki pertambahan bobot relatif terhadap kontrolnya (19,9%) lebih tinggi daripada perlakuan A (10,5%) dan C (5,6%). Sintasan ikan perlakuan dan kontrol adalah sama (P>0,05), berkisar 90,7%-96,7%. Konversi pakan pada ikan perlakuan rElGH lebih rendah (P<0,05) dibandingkan dengan kontrol, kecuali perlakuan C. Kadar glikogen hati dan otot, retensi protein dan lemak, indeks hepatosomatik, dan rasio RNA : DNA ikan perlakuan rElGH lebih tinggi daripada kontrol. Dengan demikian, pemberian rElGH meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi pakan untuk pertumbuhan ikan nila, dan hal ini berpotensi tinggi diterapkan untuk meningkatkan produksi dan efisiensi budidaya ikan nila.
RANGSANGAN PERKEMBANGAN OVARI UDANG PUTIH, Litopenaeus vannamei DENGAN PENYUNTIKAN ESTRADIOL-17β Tarsim Tarsim; Muhammad Zairin Junior; Etty Riani
Jurnal Riset Akuakultur Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.73 KB) | DOI: 10.15578/jra.2.3.2007.349-358

Abstract

Studi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penyuntikan hormon estradiol-17β terhadap perkembangan ovari udang putih (Litopenaeus vannamei). Dosis estradiol17β yang digunakan adalah 0,05 μg/g; 0,10 μg/g; 0,25 μg/g bobot tubuh dan kontrol Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyuntikan estradiol-17β berpengaruh terhadap perkembangan gonad. Indeks maturasi pada perlakuan dosis 0,10 μg/g and 0,25 μg/ g bobot tubuh lebih besar (75,00% dan 66,67%) dibanding kontrol. Peningkatan diameter oosit terlihat nyata pada TKG I dan II. Meskipun pada TKG III dan IV peningkatan oosit tidak terlihat nyata, tetapi proporsi oosit matang lebih besar. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian estradiol-17β pada induk udang ablasi menghasilkan telur yang lebih cepat berkembang dibandingkan jika hanya menggunakan ablasi. Penyuntikan estradiol-17β sangat berpengaruh pada awal perkembangan gonad. Hal ini menunjukkan bahwa estradiol-17β berperan penting dalam merangsang endogenous vitelogenesis.The present study analyzed the effect of estradiol-17 β injection on ovarian development of white shrimp, Litopenaeus vannamei. Estradiol-17 β dose of 0.05 υ g/g, 0.10 μ g/g, 0.25 μ g/g body weight and the control was used, with 15 females broodstock of each. The result showed that ovarian development affected by estradiol-17 β injection. Maturation index in dose of 0.10 μ g/g and 0.25 μ g/g body weight was 75.00% and 66.67% respectively and higher than that of control. Oocytes diameter increased significantly on stage I and stage II, although oocytes diameter in stage III and IV was no significant different but the proportion of mature oocyte higher than that of control. It suggested that estradiol-17 β gave much more developed conditions in oocytes developmental stages and size, compared to control with unilateral eyestalk ablation only. The dominant effect is in early developmental stage of oocyte. It indicates that estradiol-17 β is important to induction of endogenous vitellogenesis in white shrimp.
STATUS KESEHATAN IKAN LELE (Clarias gariepinus) YANG MENERIMA PAKAN BERSUPLEMEN KOMBINASI DAUN SIRIH (Piper betler leaf), JAMBU BIJI (Psidium guajava leaf), DAN KIPAHIT (Tithonia diversifolia leaf) Nunak Nafiqoh; Sukenda Sukenda; Muhamad Zairin Junior; Alimuddin Alimuddin; Angela Mariana Lusiastuti; Jean-Christophe Avarre
Jurnal Riset Akuakultur Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.799 KB) | DOI: 10.15578/jra.13.4.2018.357-365

Abstract

Tanaman obat telah banyak digunakan sebagai bahan pencegah dan pengobatan penyakit pada ikan budidaya. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui status kesehatan ikan lele (C. gariepinus) yang menerima pakan dengan suplemen tanaman obat kombinasi dari daun sirih, jambu biji, dan kipahit melalui pengamatan gambaran darah dan histologi ginjal sebagai organ yang memproduksi darah. Kombinasi satu merupakan kombinasi dari ketiga daun tanaman obat masing-masing sebanyak 33%, kombinasi dua juga terdiri dari daun sirih, jambu biji, dan kipahit masing-masing sebanyak 5%:19%:76%, dan kontrol yaitu pakan tanpa penambahan tanaman obat. Gambaran darah dan histologi ginjal diamati pada minggu ketiga setelah pemberian pakan. Hasil pengamatan gambaran darah menunjukkan bahwa terdapat peningkatan jumlah sel darah merah pada ikan yang menerima pakan perlakuan dibandingkan dengan kontrol (0,4 ± 0,14). Namun tidak terdapat perbedaan nyata antara jumlah sel darah merah dari kelompok perlakuan kombinasi satu dan dua (1,5 ± 0,17 dan 1,4 ± 0,1). Jumlah sel darah putih pada kelompok perlakuan juga meningkat dibandingkan dengan kelompok kontrol (10,5 ± 0,46), namun tidak terdapat perbedaan nyata antara kelompok perlakuan kombinasi satu dan dua (15,1 ± 1,19 dan 17,6 ± 1,14). Hasil pengamatan histologi terlihat jaringan hematopoietik organ ginjal dari kelompok yang menerima perlakuan berproliferasi lebih banyak dibandingkan kelompok kontrol. Namun tidak ada pengaruh pada nilai hemoglobin dan persentase leukosit diferensiasi antara kelompok perlakuan dan kontrol. Penambahan daun tanaman obat dalam pakan ikan mampu meningkakan status kesehatan dari ikan lele.Medicinal herbs have been traditionally used as prophylactic and therapeutic supplement to treat diseases in aquaculture. This study was aimed to improve the health quality of catfish (C. gariepinus) through feeding on diets enriched with a combination of betel, guava, and tithonia as medicine by analyzing hematology and histology of kidney as blood producing organ. Diet-one was feed enrich with 33% of each plant. Diet-two was feed enriched with betel, guava, and tithonia at a proportion of 5%,19%, and 76%, respectively. Control diet was fed without the plants’ supplementation. Hematology and histology of fish kidney were observed after fish received three-week feed treatments. The results showed that there was an increase of erythrocyte levels in the treated fish groups fed with diet-one and diet-two compared with the control (0.4 ± 0.14). However, no significant differences of erythrocyte level were observed between fish groups fed with diet -one and die-two (1.5 ± 0.17 and 1.4 ± 0.1). Leucocyte levels also increased in the treated fish group with diet-one and diet-two compared to the control (10.5 ± 0.46). However, there was no significant difference of leucocyte level between the fish group feed with diet-one and diet-two (15.1 ± 1.19 and 17.6 ± 1.14). Histological observations found that there were more hematopoietic tissues in the fish kidney of proliferated treated group than the control group. However, there was no effect on hemoglobin level and leukocyte percentage differentiation between the treatment and control groups. This study concludes that medicinal herbs as enrichment ingredients in fish diet can increase the health quality of fish.
POTENSI ANTI OKSIDAN DAN ANTI BAKTERI Chromolaena odorata TERHADAP Vibrio harveyi PENYEBAB PENYAKIT BLACK BODY SYNDROME PADA KAKAP PUTIH (Lates calcarifer) Nurbariah Nurbariah; Sukenda Sukenda; Muhammad Zairin Junior; Sri Nuryati; Dinamella Wahjuningrum
Jurnal Riset Akuakultur Vol 16, No 2 (2021): (Juni, 2021)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.38 KB) | DOI: 10.15578/jra.16.2.2021.117-124

Abstract

Kandungan bahan bioaktif pada tanaman memiliki beragam potensi aktivitas biologis dan dimanfaatkan dalam budidaya ikan sebagai alternatif untuk pencegahan dan pengobatan penyakit ikan. Serapoh (Chromolaena odorata) diketahui memiliki bahan bioaktif namun penerapan untuk pencegahan dan pengobatan penyakit pada kakap putih belum pernah diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi antioksidan dan antibakteri daun serapoh secara in vitro terhadap Vibrio harveyi penyebab penyakit black body syndrome pada benih kakap putih. Penelitian secara in vitro melingkupi analisis fitokimia, uji antioksidan dan antibakteri. Hasil uji menunjukkan bahwa ekstrak daun serapoh mengandung flavonoid, tannin, saponin, dan steroid. Rendemen dari hasil maserasi dengan pelarut akuades, etanol, etil asetat, dan n-heksan berturut-turut adalah 11,34%; 9,13%; 4,21%; dan 1,48%. Ekstrak etil asetat memiliki kandungan total fenol yang tertinggi (212,8 mg/g) dibanding ekstrak yang lain. Kandungan total flavonoid yang tertinggi terdapat pada ekstrak etanol (195,5 mg/g) diikuti dengan ekstrak etil asetat (20,2 mg/g), n-heksan (10,6 mg/g), dan akuades (8,1 mg/g). Nilai potensi antioksidan ekstrak etanol lebih tinggi (86,59%) dibanding ekstrak yang lain namun potensi antioksidan ekstrak etanol, etil asetat, dan akuades tidak berbeda nyata dengan asam askorbat sebagai pembanding. Ekstrak etanol, etil asetat, dan n-heksan dapat menghambat pertumbuhan V. harveyi. Ekstrak etanol bersifat bakteriostatik (1,25 mg/mL) dan bakterisidal (5 mg/mL), serta menyebabkan kerusakan sel sehingga metabolit seluler seperti asam nukleat dan protein dapat keluar dari sel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun serapoh memiliki potensi antioksidan dan antibakteri terhadap V. harveyi sehingga dapat digunakan untuk pencegahan dan pengobatan penyakit black body syndrome pada benih kakap putih.Bioactive compounds in plants have various potential biological activities and are commonly used in fish farming as alternatives to prevent and treat fish diseases. Serapoh (Chromolaena odorata) is known to have bioactive compounds, yet its application to prevent disease in Asian seabass has not been studied. This study aimed to evaluate the antioxidant and antibacterial potential of serapoh leaves in vitro against Vibrio harveyi, causing black body syndrome disease in Asian seabass. The performed tests in this study consisted of phytochemical analysis, antioxidant, and antibacterial tests. The results showed that serapoh leaf extract contains flavonoids, tannins, saponins, and steroids. The yields obtained from maceration with aquadest, ethanol, ethyl acetate, and n-hexane solvents were 11.34%; 9.13%; 4.21%; and 1.48%, respectively. Ethyl acetate extract had the highest total phenol content (212.8 mg/g) compared to the other extracts. Ethanol extract has the highest total flavonoid content (195.5 mg/g) followed by ethyl acetate (20.2 mg/g), n-hexane (10.6 mg/g), and aquadest (8.1 mg/g). The highest antioxidant potential value was shown by ethanol extract (85.59%), but the antioxidant potentials of ethanol, ethyl acetate, and aquadest extracts were not significantly different from ascorbic acid. Ethanol, ethyl acetate, and n-hexane extracts can inhibit the growth of V. harveyi. Ethanol extract has bacteriostatic (1.25 mg/mL) and bactericidal (5 mg/mL) properties. The exposure of V. harveyi to ethanol extract resulted in cellular damage that can release cellular metabolites such as nucleic acids and proteins. In conclusion, serapoh leaf extract had antioxidant and antibacterial potential against V. harveyi and could be used to prevent or treat black body syndrome in Asian seabass.
Pengaruh Insulin dan Larutan Gula terhadap Frekuensi Gerakan Sirip Dada, Mulut dan Operkulum Ikan Mas Koki Carrasius auratus W. Wiyoto; A S Mubarak; A M Tahya; K Nisaa; N Farizah; Mulyasari .; Robin .; I Khasani; M Yamin; Purnamawati Purnamawati; M Zairin Junior
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 10, No 1 (2022): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29406/jr.v10i1.3516

Abstract

Insulin merupakan hormon peptida yang berperan sangat penting dalam proses metabolisme. Percobaan ini bertujuan untuk mengukur pengaruh pemberian insulin terhadap kondisi, metabolisme dan konsumsi oksigen ikan mas koki melalui penghitungan frekuensi gerakan sirip dada, mulut dan operkulum. Ikan uji yang digunakan adalah ikan mas koki dengan bobot rata-rata 5,26 ± 0,27 g dan panjang rata-rata 8,11 ± 1,45 cm. Penelitian terdiri dari tiga percobaan yang meliputi (1) pergerakan pada ikan yang diberi insulin dilanjutkan dengan penambahan larutan gula, (2) pergerakan pada ikan yang diberi larutan gula kemudian diinjeksi dengan atau tanpa insulin, (3) pergerakan pada ikan pada suhu rendah diikuti dengan diinjeksi insulin lalu pemberian larutan gula. Pemberian insulin baik yang pada media pemeliharaan maupun melalui injeksi meningkatkan frekuensi gerakan mulut dan operkulum yang mengindikasikan bahwa insulin meningkatkan laju metabolisme dan konsumsi oksigen ikan. Suhu media yang rendah menurunkan semua pergerakan ikan, namun pemberian insulin dapat mengembalikan aktivitas ikan menjadi seperti pada suhu normal. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian insulin dan larutan gula berpengaruh secara nyata pada tingkah laku ikan, laju metabolisme dan konsumsi oksigen pada ikan mas koki.
Co-Authors , Alimuddin . Hermawan . Sukenda . Suriansyah . Syafiuddin . Tarsim ., Mulyasari A M Tahya A S Mubarak A. Oman Sudrajat A. Shofy Mubarak A. Yunianti Aarab, Zineb Ade Sunarma Ade Sunarma Ade Sunarma, Ade Adharto Utiah Agus O . Sudradjat Agus Oman Sudrajat Aldilla Kusumawardhani, Aldilla Alimuddin Alimuddin . Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin alimuddin alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Angela Mariana Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti ANNA OCTAVERA Anouar Darif Aprelia Martina Tomasoa, Aprelia Martina Arroub, Omar Asep Sopian Avarre, Jean-Christophe Azis Azis Bambang Purwantara Benny Heltonika Bethsy J. Pattiasina Cahyono, Tatak Dwi D. Nurlestiyoningrum D.S. Sjafei Damiana Rita Ekastuti DEDI JUSADI Dian Hardiantho Dian Hardianto Didik Ariyanto Dinamella Wahjuningrum Dinar Tri Soelistyowati Dita Puji Laksana Dwi Hany Yanti E. Riani Eddy Supriyono ElAroussi, Mohamed Enang Harris Surawidjaja Etty Riani Fadel, Mohamed T. Fajar Basuki Fajar Maulana . Farizah, N Fauzan, Agung Luthfi Flandrianto S. Palimirmo GORO YOSHIZAKI H. Arfah Hamsah Hamsah Harton Arfah I Khasani I MADE ARTIKA I Wayan Nurjaya I. Herviani I. Mokoginta I. Supriatna Iis Diatin Ikhsan Khasani Imron Imron, Imron Irma Andriani IRMA ANDRIYANI Irvan Faizal Irzal Effendi Iskandar, Andri Ita Djuwita Jamaluddin Jompa Jasmanindar, Yudiana Jean-Christophe Avarre Julie Ekasari K Nisaa K. Sumantadinata Kadarusman . Khairun Nissa Khasani, I Komar Sumantadinata Kukuh Adiyana Kukuh Nirmala Kusman Sumawidjaja Laurent Pouyaud Livana Dethris Rawung Lolita Thesiana M Yamin M Yamin M. Bintang M. M. Raswin M. Raswin M. Sakdiah M. Syukur M. Toelihere M. Tri Djoko Sunarno M.M. Raswin Meilisza, Nina Mia Setiawati Mozes R . Toelihere MOZES R. TOELIHERE Mubarak, A S MUHAMMAD AGUS SUPRAYUDI Muhammad Muhammad Muhammad Safir Mulyasari . Mulyasari Mulyasari MUNTI YUHANA Muslim Muslim N Farizah N. Potalangi N.B.P Utomo Nababan, Yanti Inneke Nasrullah, Hasan Naufal, Muhammad Restya Neviaty P. Zamani Nisaa, K Nugraha, Media Fitri Isma Nunak Nafiqoh Nur Bambang Priyo Utomo Nurbariah Nurbariah O. Carman Odang Carman Odilia Rovara Poppy Dea Bertha, Poppy Dea Prassetyo Dwi Dhany Wijaya Purnamawati Purnamawati Purnamawati Purnamawati Putri Zulfania, Putri R. Affandi R.G. Pahlawan R.K. Sari R.R Sri Pudji R.R.S.P.S. Dewi Rahmani, My Driss Rahminiwati, Min Rakhmawati, Rakhmawati, Rguig, Mustapha RIDWAN AFFANDI Robin . Robin . Roza Elvyra S. Darwisito S. Dewi S. Handayani S. Mulyati S. Purwati Safira Qisthina Ayuningtyas, Safira Qisthina Siti Subaidah Sri Nuryati Sri Nuryati Srihadi Agungpriyono Suci Antoro Sugeng Budiharsono Sujaka Nugraha Sukenda . Sukenda Sukenda Sukenda Sukenda Sukenda Sukenda Syafyudin Yusuf T.L. Yusuf Tahya, A M Tarsim Tarsim TARUNI SRI PRAWAST MIEN KAOMINI ANY ARYANI DEDY DURYADI SOLIHIN Triayu Rahmadiah Tuty L . Yusuf W. Manalu Wahyu Pamungkas Wasmen Manalu WIDANARNI WIDANARNI Wisriati Lasima Wiyoto Wiyoto Wiyoto, W. Y. Hadiroseyani Y. Yustikasari Yogi Himawan Yudha Trinoegraha Adiputra Yusnarti Yus Zahri, Abdul