Articles
Tauhid dalam Tasawuf: Antara Ittihad dan Ittisal
Muhammad Alif
Aqlania Vol. 8 No. 2 (2017): December
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1318.475 KB)
|
DOI: 10.32678/aqlania.v8i02.1027
Konsep bersatunya manusia dengan Tuhan (ittiĥād) dan berkomunikasinya manusia dengan Tuhan (ittişāl) telah tertanam dalam pemikiran kaum sufi sejak dulu, walaupun sebagian orang yang anti taşawwuf menggugat dan menyangkal kedua ajaran tersebut sebagai ajaran Islam. Bagi mereka kedua ajaran itu sering dipandang sebagai perbuatan syirik, karena dianggap sebagai ajaran yang memandang Tuhan sebagai imanen tidak transenden serta mengabaikan dualitas antara Tuhan dan makhluk-Nya.
TEORI NASKH HADIS: Metode Alternatif Penyelesaian Hadis Mukhtalif
MUHAMMAD ALIF
Holistic al-Hadis Vol 2 No 2 (2016): Juli - Desember 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin, Dakwah dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/holistic.v2i2.949
الدراسة المجملة عن كتب علوم الحديث تبين لنا أن مناقشة مبحث النسخ في كتب علوم الحديث قليلة و موجزة جدا بالنسبة إلى مناقشته في كتب علوم القرآن و كتب أصول الفقه. قد شهد على ذلك قول ابن كثير في كتابه اختصار علوم الحديث: وهذا الفنّ [ معرفة ناسخ الحديث و منسوخه] ليس من خصائص هذا الكتاب بل هو بأصول الفقه أشبه. وكذا قول يوسف القرضاوي يؤيد هذه الحقيقة "أن دعوى النسخ في الحديث أضيق مساحة من دعوى النسخ في القرآن. مع أن الأمركان يجب أن يكون بالعكس، إذ الأصل في القرأن أن يكون للعموم والخلود، أما السنة فمنها ما يعالج قضايا جزئية أو أحوال مؤقة، بحكم إمامته صلى الله علييه وسلم لألمة، وتدبيره لأمورها اليومية " فقد يكون من الأحاديث ما يراد به العزيمة، ومنها ما يراد به الرخصة. وقد يكون بعض الأحاديث مقيدا بحالة، وبعضها الأخر مقيدا بحالة أخرى حتى تبدو كأن الأحاديث متناقضة بعضها ببعض. وتلك الأحاديث المتناقضة في عرف علوم الحديث تسمى بالأحاديث المختلفة. وقد أفردها العلماء في البحث في علم مختلف الحديث. كان علماء علوم القرآن في مواجهة تعارض النصوص الدينية يقدمون الجمع والتوفيق بين تلك النصوص من النسخ. وأما علماء علوم الحديث يقدمون الجمع ثم الترجيح ثم النسخ ثم التوقف. فنسخ الحديث إذا عملية في معالجة الأحاديث المتعارضة بعد مناظرة عدم الإمكان في التوفيق بين الأحاديث وبعد مناظرة عدم الإمكان في ترجيحها. لذالك عرّف العلماء علم ناسخ الحديث و منسوخه : العلم الذي يبحث عن الأحاديث المتعارضة التي لا يمكن التوفيق بينها من حيث الحكم على بعضها بأنه ناسخ، وعلى بعضها الأخربأنه منسوخ.
Metode Kritik Matan Hadis
Asih Kurniasih;
Muhammad Alif
Holistic al-Hadis Vol 4 No 2 (2018): December 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin, Dakwah dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/holistic.v4i2.3226
Kritik sanad merupakan upaya menyeleksi (membedakan) antara ḥadῑṡ ṣaḥῑḥ dan ḍa‘īf dan menetapkan status perawi-perawinya dari segi kepercayaan atau cacat. Muḥammad al-Gazāliy adalah seorang pemikir yang mencoba mengkaji hadis dengan menekankan pada kajian matan dari pada sanad. Menurut Muḥammad al-Gazāliy penelitian suatu hadis tidak selalu harus dimulai dengan kritik sanad, melainkan dapat diawali dengan melakukan penelitian matan hadis. Bahkan tidak jarang menolak hadis yang berkualitas ṣaḥῑḥ dari sisi sanad karena tidak sesuai dengan prinsip-prinsip umum ajaran al-Qur’ān dan argumen rasional.Kajian studi kepustakaan ini bertujuan untuk mengetahui metodologi kritik matan hadis Muḥammad al-Gazāliy secara deskriptif dan analitik. Adapun hasil temuan dari kajian ini adalah sebagai berikut: Pertama, Dalam pandangan Muḥammad al-Gazāliy, hadis mutawatir tidak menjadi persoalan yang mendasar, karena mendapat pembahasan yang luas. Hanya saja Muḥammad al-Gazāliy mempersoalkan status ḥadῑṡ āḥād dari segi kehujjahannya. Muḥammad al-Gazāliy tidak mau mempergunakan ḥadῑs āḥād dalam menetapkan aqidah, masalah aqidah harus berdasarkan keyakinan, dan bukan pada dugaan, sesuatu yang ẓanni tidak layak untuk diamalkan dan dijadikan hukum, serta penelitian hadis pada kritik matan. Kedua, Metode yang diterapkan Muḥammad al-Gazāliy dalam Kritik Matan hadis adalah: 1) Pengujian dengan al-Qur’ān, 2) Pengujian dengan hadis lainnya, 3) Pengujian dengan Fakta Historis, 4) Pengujian dengan kebenaran ilmiah dan logika.
Musibah dalam Perspektif Hadis
Lia Awaliah;
Muhammad Alif
Holistic al-Hadis Vol 5 No 2 (2019): December 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin, Dakwah dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/holistic.v5i2.3234
Pembahasan musibah tidak lepas dari bencana, pembahasan musibah terdapat pada Alquran dan Hadis, musibah yang terjadi sering dikaitkan karena adanya sebab akibat dari ulah manusia itu sendiri, dari pernyataan tersebut masyarakat mengira bahwa bencana yang sering terjadi setiap tahunnya disebabkan oleh azab yang diturunkan oleh Allah SWT untuk menegur manusia.Bencana atau musibah terjadi bukan hanya karena ulah tangan manusia, melainkan ada faktor alam dan takdir yang menyebabkan adanya bencana yang menimpa manusia di muka bumi. Tetapi meskipun begitu manusia harus tetap menjaga lingkungan agar dapat meminimalisir bencana yang sewaktu-waktu terjadi tanpa bisa diprediksi oleh tekhnologi.Artikel ini membahas Alquran dan hadis tematik tentang musibah, metode pengumpulan data hadis dengan cara menelaah tema-tema besar dalam diskursus musibah untuk menemukan kata kunci, lalu mencari hadisnya dari kitab maṣādir aṣliyyah melalui Ensiklopedia Al-Qur’an dan aplikasi Ensiklopedi Hadis Lidwa Pusaka.
Teologi Feminim Perspektif Al-Qur'an
Muhammad Alif
Al-Fath Vol 3 No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/alfath.v3i1.3340
Fenomena gerakan feminisme yang marak dalam beberapa dekade belakangan ini merupakan budaya tandingan (counter-culture) yang secara tajam menggugat dan menantang nilai-nilai baku (kemapanan tradisi, institusi keluarga dan ideologi patriaki) dalam masyarakatnya, baik di Barat maupun di Timur. Gerakan ini memperjuangkan kebebasan bagi perempuan,merefolmulasi relasi dan kuasa antar lelaki dan perempuan di lingkup yangpaling pribadi, keluarga dan publik. Dalam tulisan ini, penulis berusaha mengungkap makna ayat-ayat alquran yang berkaitan tentang aktifitas feminisme.
Islam dan Demokrasi:
Muhammad Alif
Al-Fath Vol 12 No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/alfath.v12i2.3185
Demokrasi dan khilafah merupakan topik yang selalu menghiasi khazanah pemikiran Islam sepanjang masa. Beberapa waktu belakangan ini dengan kasus Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) gate, demokrasi dan khilafah kembali dibenturkan lagi. Tulisan ini memaparkan tentang analisis terhadap ayat-ayat yang terindikasi mengandung elan demokrasi, baik demokrasi dalam skup yang besar dalam institusi negara maupun yang kecil dalam institusi keluarga.
Analisis al-Munāsabah Fi Al-Qur’ān
Muhammad Alif
Al-Fath Vol 3 No 2 (2009): Desember 2009
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/alfath.v3i2.3343
Ilmu Al-munasabah ternyata mampu menunjukkan bahwa sistematika Alquran mempunyai hubungan yang harmonis sekaligus menepis anggapan bahwa Alquran itu tidak sistematis. Enam katagori al-munasabah pada pembahasan terdahulu paling tidak telah membuktikan hal tersebut. Kenyataan ini membuat kita percaya bahwa kalam Tuhan itu merupakan mukjizat yang tiada tandingan. Tetapi itu tidak berarti membuat kita terlena sehingga memposisikan Alquran pada tataran eksklusif.
Teori Dan Realitas Pencarian Kesempurnaan (Melacak jejak-jejak kefilosofan Ali Syari’ati)
Muhammad Alif
Tsaqofah Vol 6 No 01 (2008): June 2008
Publisher : Departement of History and Islamic Civilization, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/tsaqofah.v6i01.3464
Ali Syariati (1933-1977) dan Jurgen Habermas (1929-1980-an) keduanya terpengaruh dan sekaligus mengkritisi pemikiran filsafat praxis dan sosialisme Karl Marx. Keduanya hidup sezaman di belahan dunia yang berbeda. Yang satu tinggal di Masyhad, Iran dan belajar filsafat di Paris, sedang lainnya tinggal di Frankfrut, Jerman dan belajar filsafat di Frankfrut, yang satu Muslim dan lainnya non-Muslim. Dengan menuangkan ide-ide praxis ke dalam buku tersendiri, buku Theorie und Praxis, menjadikan Habermas terkenal sebagai tokoh filsafat praxis. Sementara Syariati menuangkan ide-ide praxisnya tersebar dalam berbagai karyanya di antaranya Marxism and Other Western Fallacies dan Man and Islam. Artikel ini membahas tentang pemikiran-pemikiran filsafat Ali Syariati yang didasari oleh “logika hermeneutis” yang berusaha menciptakan konsepsi tentang ilmu pengetahuan yang terarah kepada praxis. Pemikiran-pemikiran filosofis tersebut akan terlihat pada pandangan antropologi filosofis Ali Syariati tentang human being, human becoming dan superhuman (insan kamil/manusia paripurna).
IJTIHAD IBNU HAJAR AL-ASQALANI DALAM MENGKONSTRUKSI ILMU HADIS
Muhamad Rama Saputra;
Muhammad Alif
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.28944/el-waroqoh.v7i1.1139
Ibnu Hajar al-Asqalani merupakan ulama hadis populer yang hidup pada abad ke 8 H. kepopulerannya itu kaya akan karya kitab-kitabnya, sehingga dengan karyanya itu Ibnu Hajar mendapatkan gelar Amirul Mu’minin fil hadis. Lantas dengan karya yang banyak itu, adakah pemikiran baru dan ijtihadnya yang sebelemunya tidak ada. Para ulama setelahnya banyak yang mengutip pada kajian hadis serta mengkodipikasikan dalam kitabnya, seperti al-Sakhawi, al-Suyuthi, al-Biqha’I, Zakaria al-Anshari dan lain-laoin. Pada peniltian ini diawali dengan historiografi, karya-karyanya, dan pemikirannya yang tertuang dalam kitabnya. Melalui penelitian bidang library research yang mengandalkan bahan penelitian dari perpustakaan, seperti buku, kitab, jurnal, ensiklopedia atau majalah sebagai sumber data untuk mencari dan melacak permasalahan tersebut. Adapun Hasil dan temuan penelitian ini, ijtihad Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam bidang Ilmu hadis bahwa beliau layak disebut seorang mujtahid dalam bidang hadis atas dasar pemikirannya yang tertuang dalam karyanya yang mencapai 177 karya Ibnu Hajar dalam bidang hadis, serta dalam kitabnya banyak pemikiran baru yang ulama sebelumnya tidak ada.
Konsep Keraguan Dalam Islam
Aisyah Oktaviyani;
Ahmad Rifai;
Muhammad Alif;
Edriagus Saputra
Ikhtisar: Jurnal Pengetahuan Islam Vol 4 No 1 (2024): Ikhtisar: Jurnal Pengetahuan Islam
Publisher : Institut Agama Islam Sumatera Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55062//IJPI.2024.v4i1/476/5
This situation occurs based on the fact that a person cannot be in two different places at the same time. Conflict and doubt is an attitude that is often experienced by every human being, although the form and quality of conflict and doubt is different for each individual. This research uses qualitative methods in the form of library research. The results of this study can be concluded, that as a Muslim, every action or something that is to be decided, should be done after maximum consideration, so that there is no doubt in carrying it out. Even in believing in Allah and the Pillars of Faith, every Muslim should not have doubts about what he believes, so that he has complete and perfect faith in Allah and all that must be believed. So in addressing the steps to overcome the attitude of doubt, namely strengthening skills and abilities, discussion / asking for other people's opinions, self-confidence, planning the actions to be taken and being ready to bear the risks of the actions taken.