Claim Missing Document
Check
Articles

Faktor Lingkungan, Perilaku dan Penyakit Malaria Sutarto Sutarto; Eka Cania B
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyak faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria. Secara teoritis dan beberapa penelitian bahwa, faktor lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan genetik merupakan determinan yang berhubungan erat dengan risiko penduduk terserang malaria. Sumber penyakit malaria berasal dari kondisi lingkungan yang cocok bagi kehidupan nyamuk Anopheles, sehingga populasi nyamuk meningkat maka risiko terserang malaria semakin besar. Sektor pelayanan kesehatan juga menjadi penting, karena mempunyai peran untuk mengatasi masalah dengan segera dalam jangka waktu yang pendek. Kedua hal tersebut sangat dipengaruhi oleh tipe perilakuyang ada di masyarakat, sehingga menjadi sangat penting dalam pengendalian malaria.
Tindakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan 3M-Plus sebagai Upaya Pengendalian Vektor dalam Pencegahan Penyakit Demam Berdarah Dengue Nur Aina Rahmania; Sutarto Sutarto; Reni Indriyani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 1 (2018): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada tahun 2015, tercatat terdapat sebanyak 126.675 penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di 34 provinsi di Indonesia dan 1.229 orang di antaranya meninggal dunia. Bandar Lampung merupakan daerah endemis DBD. Data Dinas Kesehatankota Bandar Lampung menyebutkan pada tahun 2012 mencapai 1.111 orang dan yang meninggal 11 orang, jumlah tersebut merupakan angka tertinggi dibandingkan kabupaten lain. Diperlukan suatu pencegahan untuk menangani kasus DBD.Pencegahan dan pengendalian DBD bergantung pada tindakan pengendalian vektor yang efektif. Manajemen lingkungan, pengendalian biologis, pengendalian kimiawi, perlindungan individu merupakan pengendalian DBD. Pemberantasan SarangNyamuk (PSN) adalah langkah konkrit dalam mencegah penyakit DBD, tindakan aplikatif dalam PSN yang paling mungkin adalah kegiatan 3M-plus. Pada pelaksanaan masih tidak seutuhnya dilakukan, hanya sebagian poin yang dilakukan. Tindakan PSN dan 3M-Plus dapat digunakan sebagai upaya pengendalian vektor dalam pencegahan penyakit DBD.Kata kunci: DBD, pencegahan, pengendalian vektor
Stunting, Faktor Resiko dan Pencegahannya Sutarto Sutarto; Diana Mayasari; Reni Indriyani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 1 (2018): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia mempunyai masalah gizi yang cukup berat yang ditandai dengan banyaknya kasus gizi kurang. Malnutrisi merupakan suatu dampak keadaan status gizi. Stunting adalah salah satu keadaan malnutrisi yang berhubungan dengan ketidakcukupan zat gizi masa lalu sehingga termasuk dalam masalah gizi yang bersifat kronis. Prevalensi stunting di Indonesia lebih tinggi daripada negara-negara lain di Asia Tenggara, seperti Myanmar (35%), Vietnam (23%), dan Thailand (16%) dan menduduki peringkat kelima dunia. Stunting disebabkan oleh faktor multi dimensi dan tidak hanya disebabkan oleh faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun anak balita. Intervensi yang paling menentukan untuk dapat mengurangi pervalensi stunting oleh karenanya perlu dilakukan pada 1.000 HariPertama Kehidupan (HPK) dari anak balita. Pencegahan stunting dapat dilakukan antara lain dengan cara 1.Pemenuhan kebutuhan zat gizi bagi ibu hamil. 2.ASI eksklusif sampai umur 6 bulan dan setelah umur 6 bulan diberi makanan  pendamping ASI (MPASI) yang cukup jumlah dan kualitasnya. 3.Memantau pertumbuhan balita di posyandu. 4.Meningkatkan akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi, serta menjaga kebersihan lingkungan.Kata kunci: stunting, gizi, balita
Resistensi Insektisida pada Aedes aegypti Sutarto Sutarto; Annisa Yulida Syani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 02 (2018): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang disebabkan oleh vi rus dan ditularkan melalui perantara nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus semakin meningkat. Nyamuk Ae. aegypti ini hidup dan berkembang dengan baik di daerah tropis yaitu pada garis isotermis 200 yang terletak di antara 450 LU dan 350 LS dengan ketinggian kurang d ari 1000 meter di atas permukaan laut. Penyakit DBD mengalami perkembangan kejadian yang cepat. Setiap tahunnya diperkirakanterjadi sekitar l ima puluh juta kasus infeksi DBD baru dengan angka kematian di atas 20.000 jiwa. Tujuh puluh persen dari seluruh populasi dunia yang berisiko terhadap DBD tinggal di area Asia Tenggara dan wilayah Pasifik Barat. World Health Organi zation (WHO) menetapkan Indonesia sebagai negara dengan kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara. Pengendalian DBD terutama ditujukan untuk memutus rantai penularan, antara lain den gan pengendalian vektorn ya. Pembasmian vektorpenyakit ini dilakukan dengan penggunaan insektisida. Di Indonesia penggunaan insektisida seperti malathion dari tahun 1972 dan Temephos dari tahun 1976 mengakibatkan kemungkinan terjadinya resistensi, begitu p ula pada jenis insektisida jenis lainnya. Umumnya penggunaan insektisida kimia, secara bertahap akan menimbulkan masalah teknis (munculnya strain baru yang tolerasnsi dan resistensi terhadap senyawa tersebut). Frekuensi dan durasi dari penggunaan pestisida jugasangat berpengaruh terhadap mekanisme terjadinya resistensi dari insektisida.Kata kunci: Aedes aegypti, insektisida, resistensi insektisida
Penatalaksanaan Holistik dan Komprehensif Tuberkulosis Paru Kasus Baru pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 TA Larasati; Nida Nabilah Nur; Sutarto Sutarto
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuberkulosis paru (TB paru) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Pengendalian TB paru menjadi semakin sulit seiring dengan peningkatan jumlah penderita diabetes melitus (DM). Hasil pengobatan TB pada penderita dengan DM lebih banyak mengalami kegagalan dibandingkan dengan yang tidak memiliki DM. Studi ini menerapkan pelayanan dokter keluarga berbasis evidence based medicine dengan mengidentifikasi faktor risiko, masalah klinis, diagnosis holistik, serta penatalaksanaan komprehensif pasien dengan pendekatan patient centered dan family approach. Data primer diperoleh melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan kunjungan rumah. Data sekunder diperoleh dari rekam medis pasien. Penilaian berdasarkan diagnosis holistik dari awal, proses, hingga akhir studi secara kualitiatif dan kuantitatif. Pasien laki-laki berusia 48 tahun dengan keluhan batuk berdahak yang tidak kunjung sembuh sejak ±1 bulan yang lalu. Pasien sudah menderita DM sejak 7 tahun yang lalu. Hasil pemeriksaan dahak Sewaktu/Pagi/ Sewaktu (SPS) +/+/+ dan gula darah sewaktu (GDS) 355 mg/dL. Pasien didiagnosis TB paru pada penderita DM dan mendapat terapi obat anti tuberkulosis 4 fixed drug combination (OAT 4FDC) 4 tablet sehari, metformin 500 mg 3 tablet sehari, serta dilakukan 4 kali kunjungan rumah. Proses perbaikan dan perubahan perilaku pada pasien dan keluarga terlihat setelah dilakukan evaluasi dan intervensi.Kata Kunci: Diabetes Melitus tipe 2, holistik, komprehensif, tuberkulosis paru, tatalaksana
Obesitas pada pasien dengan COVID-19 Afifah Rizqy Nurfaiza; Sutarto Sutarto; Novita Carolia
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 8 No. 1 (2021): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Obesitas adalah suatu kondisi yang dapat disebabkan oleh kelebihan asupan makanan atau perubahan pengeluaran energi. Selama pandemi COVID-19, obesitas dikaitkan dengan risiko keparahan yang lebih tinggi dan hasil klinis yang lebih buruk dari infeksi SARS-COV-2. Selain respon imun deregulasi terkait obesitas, peradangan kronis, ketidakseimbangan endotelium, disfungsi metabolik, dan komorbiditas, sel punca mesenkimal disfungsional/sel punca mesenkim yang diturunkan dari adiposa juga dapat memainkan peran penting dalam memicu inflamasi sistemik yang berkontribusi terhadap badai sitokin dan mempromosikan fibrosis paru yang menyebabkan kegagalan fungsional paru-paru, karakteristik COVID-19 yang parah. Selain itu, obesitas juga dapat membahayakan silia motil pada sel epitel saluran napas dan mengganggu fungsi eskalator mukosiliar, mengurangi pembersihan virus corona sindrom pernapasan akut (SARS-CoV-2). Jaringan adiposa pada orang obesitas mengekspresikan reseptor dan protease secara berlebihan untuk entri SARS-CoV-2, yang berimplikasi pada kemungkinan perannya sebagai reservoir dan akselerator virus yang memperkuat peradangan sistemik yang hebat dan respons imun. Akhirnya, sitokin anti-inflamasi seperti anti-interleukin 6 dan pemberian sel stroma/induk mesenkim dapat berfungsi sebagai terapi modulator imun potensial untuk mendukung memerangi COVID-19. Obesitas berbanding terbalik dengan perkembangan COVID-19 melalui berbagai mekanisme molekuler dan individu dengan obesitas termasuk dalam populasi rentan COVID-19 yang membutuhkan tindakan perlindungan lebih. Penelitian menunjukan bahwa kemungkinan dikarenakan peradangan kronis tingkat rendah, gangguan respon imun dan gangguan metabolisme pada pasien obesitas. Dalam tinjauan pustaka ini, telah merangkum hubungan antara obesitas dan COVID-19 dan membahas potensi patogenesis pada orang dengan obesitas.Kata kunci: Covid-19, Obesitas, SARS-COV-2
IDENTIFIKASI FAKTOR RISIKO HERNIATED NUCLEUS PULPOSUS (HNP) Susan Yulia Laura Howay; Sutarto Sutarto; TA Larasati
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 8 No. 2 (2021): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko Herniated Nucleus Pulposus (HNP). Penelitian ini menggunakan metadata analisis dengan tinjauan literatur (literature review) yang mencoba menggali tentang faktor risiko Herniated Nucleus Pulposus (HNP). Insiden HNP di beberapa negara berkembang sekitar 15-20% dari populasi keseluruhan. Penyakit ini paling sering menyerang orang dewasa dengan usia 30-50 tahun dan perbandingan kejadian antara laki-laki dan perempuan adalah 1:2. HNP dapat dicegah dan diatasi dengan menghindari faktor risiko yang menjadi pencetus terjadinya penyakit tersebut. Beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya HNP adalah usia, gender, Indeks Massa Tubuh(IMT), kebiasaan merokok, dan pekerjaan. Hasil literature menunjukkan bahwa HNP sering terjadi pada usia 40-60 tahun sebesar 59,6%, jenis kelamin perempuan dengan presentase 73,3%, IMT berlebih dengan presentase 86,7%, kebiasaan merokok dengan p value 0,000, dan pekerjaan berat yang mengangkat beban berlebih. Diantara faktor-faktor tersebut, usia, IMT, kebiasaan merokok , dan pekerjaan memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian HNP.   Kata Kunci : faktor risiko , Herniated Nucleus Pulposus, insiden 
Literature Review Terkait Faktor Yang Memengaruhi Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien Pada Tenaga Kesehatan Amalia Tirzaningrum; Bayu Anggileo Pramesona; Khairun Nisa Berawi; Sutarto Sutarto
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 9 No. 2 (2022): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keselamatan pasien telah menjadi isu global dan merupakan komponen penting dari mutu pelayanan kesehatan. Pelaporan insiden merupakan langkah pertama yang penting untuk meningkatkan keselamatan pasien. Sistem pelaporan Insiden keselamatan pasien memberikan informasi tentang terjadinya keselamatan pasien yaitu insiden untuk mengurangi risiko, memperbaiki sistem, belajar dari kesalahan, dan berbagai pembelajaran. Berdasarkan data pelaporan insiden keselamatanpasien di Indonesia periode 2006–2011 tercatat 877 insiden. Data tentang keselamatan pasien di Indonesia masih sulit diperoleh karena masalah pada sistem pelaporan, berdasarkan laporan tahunan untuk tahun 2011, hanya 132 insiden yang dilaporkan oleh 132 fasilitas pelayanan kesehatan, karena terdapat 2.267 fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia maka kurang dari 6% jumlah total fasilitas pelayanan kesehatan yang berpartisipasi dalam pelaporan. Hal ini menunjukkan tingkat pelaporan insiden keselamatan pasien yang rendah. Pelaporan insiden keselamatan pasien merupakan salah satu kendali mutu untuk dapat memecahkan masalah sehingga kejadian yang sama tidak terulang kembali serta harus ditingkatkan agar tercipta budaya keselamatan pasien, namun yang menjadi permasalahan besar adalah adanya  hambatan-hambatan terkait  pelaporan  insiden,  terdapat  beberapa  faktor  yang  memengaruhi pelaporan  insiden  keselamatan  pasien antara lain faktor individu yaitu usia, jenis kelamin, pendidikan terakhir, masa kerja dan status kepegawaian, faktor psikologi yaitu persepsi, sikap dan motivasi, serta faktor organisasi yaitu kepemimpinan. Kata kunci: Keselamatan pasien, pelaporan insiden
Masa Kerja sebagai Faktor Risiko Gangguan Fungsi Paru pada Pekerja yang Terpapar PM10: Tinjauan Literatur Fitri Maharani; Winda Trijayanthi Utama; M. Yogie Fadli; Sutarto Sutarto
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2026): Maret : Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jikki.v6i1.9539

Abstract

Occupational exposure to particulate matter (PM₁₀) represents a significant health risk. Although the association between PM₁₀ exposure levels and impaired lung function has been well demonstrated in numerous studies, epidemiological literature shows highly contradictory findings regarding the relationship between exposure duration, commonly measured as “Length of Service” and lung function. To explore the sources of this inconsistency, this review examined literature published between 2020 and 2025 using a narrative synthesis approach. The analysis revealed that the divergent findings are not driven by biological factors, but rather by systematic methodological limitations. Non-significant results in several studies can be attributed to three major weaknesses: (1) Length of Service is a weak proxy variable that fails to capture the crucial intensity (dose) of exposure; (2) substantial statistical multicollinearity between Length of Service and Age, which distorts the estimated associations; and (3) the Healthy Worker Effect (HWE), a selection bias that is almost inevitable in occupational epidemiology studies especially those using cross-sectional designs, which systematically attenuates true associations. Therefore, non-significant findings related to Length of Service should not be interpreted as evidence of the absence of harm from chronic exposure. The relationship likely exists but is “masked” by design biases and the limitations of a weak proxy. Future research should avoid relying on Length of Service as a sole exposure indicator and instead adopt cumulative exposure metrics that are more representative.
Upaya Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD di SMAN 2 Mataram Aan Putra Setiawan; Sutarto Sutarto; Sri Yuliyanti
Jurnal Kependidikan Ki Hajar Dewantara Vol. 2 No. 2 (2025): Jurnal Kependidikan Ki Hajar Dewantara (Jurnal KHD)
Publisher : Lembaga Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Tunas Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jurnalkhd.v2i2.190

Abstract

Abstract: The aim of this research is to improve mathematical problem solving abilities using the STAD type cooperative learning model in Class XI Saintek 4 SMAN 2 Mataram Academic Year 2023/2024. This research is classroom action research (PTK). The classroom action research procedure for each cycle consists of four stages, namely the planning, implementation, observation and reflection stages. The instruments used were teacher and student observation sheets, and student test sheets. Based on the research result, it shows that the results of students’ abilities increased from the initially low results obtained, namely 34,375 % to 91,428 %. the results of teacher observation and student’s observation which were initially low at the begininning of the cycle experienced a significant increase at the end of the cycle. Thus, it can be concluded that the STAD Type Cooperative learning model can improve students' problem solving abilities so it is hoped that teachers will ensure that in the teacher's teaching and learning process can apply the STAD Type Cooperative learning model.
Co-Authors Aan Putra Setiawan Abdullah Ardi Adekamisti, Revi Adri Hadi Afifah Rizqy Nurfaiza Aframa Yeni Agung Harjoko AGUNG SETIAWAN Agus Abdul Gani Agus Muliadi Agus Triyono Ahmad Zidane Sagareno Ahmad Zukri Alrasyid Aida Rahmi Nasution Aida Rahmi Nasution4 Akka Latifah Jusdienar Albertus Djoko Lesmono Alex Harijanto Amalia Tirzaningrum Amirah Onne Oktavia ANDRI KURNIAWAN Anggi Pradana Anis Luthfiyani Annisa Yulida Syani Ari Dwi Handrian Arifin Sihombing Arifudin Idrus Aris Prasetyo Hadi Aris Singgih Budiarso Asmawati Asriani Bagus Dwi Jaya Baso Intang Sappaile Bayu Anggileo Pramesona Besti Rohana Simbolon Bucky Wibawa Karya Guna Candra Pratama Hervianto Daryl Hanna Desella Inna Rahmatina Dewi Purnamasari Dian Novia Pangestika Diana Mayasari Eka Cania B Endang Eny Lestari Ermis Suryana Erna Dwi Listiari Fakhruddin Febriansyah Febriansyah Fendrikus Laia Ferdian, Ferdian Ferina Tri Wulandari Fimatu Rizka Erviani Firdaus, Muhammad Dzaky Fitri Maharani Franz M Meyer Gani Abdul Agus Gunawan Gunawan Hafizah, Tamama Haniifan Musliman Harmi, Hendra Haryo Aji Pambudi Hendrina Widiastuty Hilya Wildana Sofia I Ketut Mahardika Ida Ayu Putu Sri Widnyani Idy Wardah Ifnaldi Ifnaldi Indrawati Indrawati Indrawati Ine Heidiani Ikasari Insani Mahardika Intan Dwi Hastuti Irana Astutiningsih Irham Rosadi Jayanti Oktaviana Jekti Prihatin Juli Anis Jumatul Hidayah, Jumatul Khairun Nisa Kiftiyah Kiftiyah Lucas D Setijadji M. Yamin M. Yogie Fadli Mardiansyah Mardiansyah Marinda Resti Sari Mochammad Imron Awalludin Mohammad Edy Nurtamam Muhammad Ichsan Abda Muhammad Nurtanto Mutohhari, Farid Najib Sholakhudin Neneng Khoirunnisa Nida Nabilah Nur Novianty Djafri Novianty, Elva Novita Carolia Nur Aina Rahmania Nur Imama Puji Nurcahyanti Rama Danny Rani selviani Reni Indriyani Retno Irawati Revi Permanasari Rhischa Assabet Shilla Rhoni Rodin Rifanto Bin Ridwan Rio Tri Setiyawan Roja Saputra Rusmawan Sapto Putranto Sarwoedi Septya Rohmatillah Sholihah Faridatus Slamet Hariyadi Sri Astutik Sri Hidayatullah Sri Yuliyanti Subiki Subiki Suhono Suhono, Suhono Sulifah Aprilya Hariani Supiastutik Supiastutik Susan Yulia Laura Howay Suyitno Syaiful Bahri TA Larasati Tomi Apra Santosa Tri Handayani Wicaksono, Iwan Winda Trijayanthi Utama, Winda Trijayanthi Yeni Lusiana Yuntawati Yuntawati Yushardi Yushardi Zainal Abidin