This Author published in this journals
All Journal Attoriolong El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam Al-Ulum Farabi Al-Tahrir: Jurnal Pemikiran Islam Al-Hikmah Jurnal Diskursus Islam Jurnal Adabiyah JAWI : Journal of Southeast Asia Islamic Contemporary Issues Intizar Rihlah Jurnal Sejarah dan Kebudayaan JICSA Journal of Honai Math JUSPI (Jurnal Sejarah Peradaban Islam) JURNAL PENDIDIKAN TAMBUSAI JISIP: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Al-Qalam MUWAZAH: Jurnal Kajian Gender Pusaka : Jurnal Khazanah Keagamaan Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Jurnal Alwatzikhoebillah : Kajian Islam, Pendidikan, Ekonomi, Humaniora Maslahah: Jurnal Pengabdian Masyarakat Edu Sociata : Jurnal Pendidikan Sosiologi ISTIQRA: JURNAL HASIL PENELITIAN Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sosial Borneo : Journal of Islamic Studies El-Fata: Journal of Sharia Economics and Islamic Education Jurnal Edukasi dan Pengabdian kepada Masyarakat (JEPKM) Jurnal Sarjana Ilmu Budaya Carita : Jurnal Sejarah dan Budaya Jurnal Nirta: Studi Inovasi Riwayat: Educational Journal of History and Humanities Jurnal Ilmiah Falsafah Jurnal Pendidikan Agama Islam Jurnal Sejarah Peradaban Islam Archipelago Journal of Southeast Asia Islamic Studies International Journal of Islamic Studies Jurnal Al-Mubarak: Jurnal Kajian Al-Qur'an dan Tafsir Al-Qalam: Jurnal Kajian Islam Dan Pendidikan Jurnal Cendekia Ilmiah PESHUM ALMUSTOFA: Journal of Islamic Studies and Research Service Muwazah: Jurnal Kajian Gender ALADALAH: Jurnal Politik, Sosial, Hukum dan Humaniora JUTEQ (JURNAL TEOLOGI & TAFSIR)
Claim Missing Document
Check
Articles

Sejarah Intelektual Islam di Bidang Tasawuf: Imam Al-Ghazali, Ibnu Arabi, dan Mulla Shadra Andriani, Hesti; Rahmawati, Rahmawati; Syukur, Syamzan
Al-Qalam: Jurnal Kajian Islam dan Pendidikan Vol 16 No 2 (2024): Al-Qalam: Jurnal Kajian Islam Dan Pendidikan
Publisher : LP2M Universitas Islam Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47435/al-qalam.v16i2.3376

Abstract

This paper discusses the intellectual history of Islam in the field of Sufism and its figures. This study uses library research with a qualitative approach. Sufism in the context of science refers to the spiritual dimension in Islamic teachings that focuses on achieving closeness to God through cleansing the soul. Over time, Sufism has experienced developments marked by the emergence of figures in the field of Sufism. Figures in the field of Sufism play an important role in the development of spiritual teachings in Islam, especially in the aspect of getting closer to God. The views of great figures such as Imam Al-Ghazali, Ibn Arabi, and Mulla Sadra in the field of Sufism have their own differences and uniqueness, although they all contributed greatly to the development of Islamic spirituality. Imam Al-Ghazali in his Sufism views on the purification of the heart, ethics, Sufism practices so as to produce harmony between sharia and Sufism. Ibn Arabi on Wahdat al-Wujud, Divine love. Mulla Sadra on the Integration of philosophy and Sufism (Hikmah Muta'aliyah). All three offer unique approaches that enrich the tradition of Sufism, connecting the spiritual dimensions of Islam with intellectual and ethical ones.
REFLEKSI TERHADAP PENJAJAHAN BANGSA BARAT DAN PERJUANGAN KEMERDEKAAN NEGARA-NEGARA ISLAM Hutagaluh, Oskar; Syukur, Syamzan; Susmihara, Susmihara
Borneo : Journal of Islamic Studies Vol. 3 No. 2 (2023): BORNEO: Journal of Islamic Studies
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/borneo.v3i2.1598

Abstract

This research sets out the problems faced by Muslims. So great was the struggle of Muslims in fighting for Islam, but this could not be achieved by Muslims because the three major Islamic empires experienced decline in various fields, such as politics, military, economics, science, and culture. This study aims to reflect on western colonization in Islamic countries and then explore the positive side. This study applies a qualitative method. The approach used is the historical approach. Based on this research, it was revealed that the decline that occurred in the Islamic world was caused by the Islamic kingdoms no longer having militant rulers and tough militaries, resulting in rebellions that were difficult to control. Meanwhile, the progress experienced by Western nations was due to developments made in the fields of science and civilization, which were previously neglected during the advancement of the three great Islamic empires, especially the Ottoman Empire. The value of reflection from this research is that Muslims will return to glory if they are able to master all lines, be they military, science, culture, economics, politics, or other strategic fields.
The Continuity and Discontinuity of Visiting Sheikh Yusuf Tomb Tradition in Kobbang Gowa-South Sulawesi Syukur, Syamzan
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v18i1.3500

Abstract

The findings of this paper show that the ritual tradition of visiting the tomb of Sheikh Yusuf in Kobbang from time to time amended. It was initially a strong ritual primarily influenced by the nuances of heresy, but on its further development the influence fades due to the efforts of Islamic preachers. The general motivation of the pilgrims is hoping the livelihood they can acquire, such as finding mates, sustenance, offspring, health and inner tranquility. Yet, some are visiting the tomb to appreciate the scholars or heroes or just for sightseeing. In the context of developing society, this tradition seems to be persisted as Sheikh Yusuf is regarded as having karomah, a guardian, scholars and a hero. His personality is considered to bring blessing to the pilgrims. Therefore, for most modern societies this tradition remains alive and serves as one alternative to find peace and cure severe diseases. Temuan tulisan ini menunjukkan bahwa ritual tradisi ziarah makam Syekh Yusuf di Kobbang dari waktu ke waktu mengalami perubahan. Pada awalnya masih ditemukan ritual yang kental dengan nuansa bid’ah tapi pada perkembangan lebih lanjut nuansa bid’ahnya mulai terkikis berkat usaha para da’i Islam. Motivasi yang melatarbelakangi para peziarah pada umumnya agar hajat mereka dapat terpenuhi, seperti hajat mendapatkan jodoh, keturunan, rezeki, kesehatan dan ketenangan batin. Tetapi ada pula yang berziarah ke makam Syekh Yusuf karena motivasi menghargai ulama atau pahlawan atau sekedar berwisata. Dalam konteks masyarakat yang terus mengalami perkembangan, nampaknya tradisi ini tetap bertahan, karena Syekh Yusuf dianggap sebagai seorang yang memiliki karomah, seorang wali, ulama dan seorang pahlawan. Kepribadian yang dimiliki oleh Syekh Yusuf dianggap akan mendatangkan berkah bagi para peziarah. Karena itu, bagi sebagian masyarakat modern, tradisi ini tetap hidup dan dijadikan sebagai salah satu alternatif mencari ketenangan batin dan menyembuhkan penyakit yang tidak terjangkau oleh medis.
Peranan Andi Mappayukki Terhadap Perkembangan Islam di Kerajaan Bone Masniati, Masniati; Yunus, Abdul Rahim; Syukur, Syamzan; Paewai, Rusman
El-Fata: Journal of Sharia Economics and Islamic Education Vol. 2 No. 2: OKTOBER 2023
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Cokroaminoto Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61169/el-fata.v2i2.66

Abstract

Hasil penelitian ini menemukan, pertama: Pada masa pemerintahan Andi Mappanyukki Sultan Ibrahim mengalami banyak perubahan, seperti diadakannya “Pertemuan Ulama Celebes Sulawesi Selatan” pada tahun 1932 M. Tahun 1933 M didirikanlah Al-Madrasah Amiriyyah Al-Islamiyyah Watampone, politik dan ekonomi juga mengalami banyak perubahan, dan berkontribusi dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Ketiga: Andi Mappanyukki berkontribusi dalam bidang agama dan bidang edukasi dan moral, seperti, beliau mendirikan Masjid Raya Watampone. Madrasah yang berhasil didirikan Andi Mappanyukki Sultan Ibrahim memiliki banyak kontribusi terhadap masyarakat dan mampu melahirkan banyak tokoh-tokoh agama di Sulawesi Selatan. Metode penelitian yakni: (1) Heuristik (pengumpulan data), (2) Kritik sumber (verifikasi), (3) Interpretasi, (4) Historiografi. Implikasi penelitian ini yaitu: (1) Dapat dijadikan sebagai dasar untuk melakukan pengkajian dasar yang lebih mendalam. (2) Peneliatian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang positif untuk melestarikan nilai-nilai agama pada masyarakat Bone.
Kerajaan Turungeng di Sinjai: Sejarah, Politik, dan Intervensi Kolonial Musdalifah, Musdalifah; M. Dahlan M; Syamzan Syukur
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 1: Desember 2025
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v5i1.11955

Abstract

Penelitian ini menelaah Kerajaan Turungeng sebagai pusat kekuasaan lokal di Sinjai dengan tujuan mengungkap perannya dalam konfigurasi politik, sosial, dan budaya Sulawesi Selatan. Fokus diarahkan pada rekonstruksi sejarah, struktur pemerintahan, dinamika hubungan dengan kerajaan besar, serta dampak kolonialisme terhadap eksistensi Turungeng. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian sejarah, berbasis data primer dan sekunder berupa naskah lontara, arsip kolonial, literatur ilmiah, serta wawancara. Analisis dilakukan melalui tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi dengan pendekatan historis, antropologis, sosiologi agama, dan politik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Turungeng merupakan kerajaan pertama di federasi Pitulimpoe, terbentuk melalui legitimasi To Manurung dan didominasi oleh kepemimpinan perempuan. Struktur pemerintahannya melibatkan Arung, Sullewatang, dan Gellarang, yang memperlihatkan sistem kekuasaan berbasis adat. Hubungan politik Turungeng dengan Gowa dan Bone mencerminkan posisi strategis Sinjai sebagai wilayah perbatasan. Intervensi kolonial Belanda pada abad ke-19 menandai fase krusial yang menghapus Turungeng dari peta politik lokal, namun resistensi masyarakat memperlihatkan pola solidaritas antarkerajaan. Kesimpulan penelitian menegaskan pentingnya Turungeng sebagai representasi kearifan lokal dan basis identitas budaya Sinjai. Implikasi studi menekankan urgensi revitalisasi sejarah lokal dalam rangka memperkuat kesadaran historis dan memperkaya diskursus historiografi Nusantara.
Aktualisasi Jejak Kepemimpinan Ali bin Abi Thalib Rahmat; Syukur, Syamzan; Muh. Idris
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 13 No 02 (2025): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v13i02.61726

Abstract

This study is an effort to introduce the leadership of Ali bin Abi Talib through a     descriptive narrative and analytical disclosure, both the principles of leadership, the challenges in carrying out duties as a ruler, and the actualization of his leadership in a contemporary perspective. In order to elaborate on the leadership of this caliph, this study uses historical methods and approaches with an emphasis on modern historiography. The results of this study show All bin Abi Talib as the fourth caliph, the successor to the leadership of the Prophet Muhammad (peace be upon him), he is considered a figure who actualizes the temporal leadership of the Messenger of Allah based on the concepts of fatanah, siddiq, amanah, and tablik. This is evident in the principles of leadership that he implemented. In carrying out his duties as a leader, he faced very heavy challenges as a legacy from his predecessors. However, with the firmness of holding on to leadership principles in governance, he became a figure worthy of emulation in the contemporary era filled with turmoil.   Kajian ini adalah upaya memperkenalkan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib melalui pengungkapan secara deskriptif naratif dan analitis, baik prinsip kepemimpinan, tantangan dalam menjalankan tugas sebagai penguasa maupun aktualisasi kepemimpinannya dalam perspektif kontemporer. Dalam rangka mengelaborasi kepemimpinan khalifah tersebut, kajian ini menggunakan metode dan pendekatan sejarah dengan penekanan historiografi modern. Dari hasil kajian ini menunjukkan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah keempat, pengganti kepemimpinan Nabi Muhammad saw. beliau dianggap sosok yang mengaktualisasikan kepemimpinan temporal Rasulullah dengan berdasar pada konsep fatanah, siddiq, amanah dan tablik. Hal ini terlihat pada prinsip-prinsip kepemimpinan yang dijalankannya. Dalam menjalankan tugas sebagai pemimpin beliau menghadapi tantangan yang amat berat sebagai warisan dari pendahulunya. Namun dengan keteguhan memegang prinsip kepemimpinan dalam menjalankan pemerintahan menjadikannya sosok yang patut ditiru pada era kontemporer yang penuh dengan pergolakan.
KONDISI DANA MBOJO (BIMA) PRA ISLAM DALAM TINJAUAN HISTORIS Hamzah, Saidin; Sewang, Ahmad M.; Syukur, Syamzan
Jurnal Diskursus Islam Vol 5 No 1 (2017): April
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v5i1.7294

Abstract

Tulisan mengurai kondisi dana Mbojo (bima) pra Islam dalam tinjauan historis. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan pendekatan historis, antropologi dan sosiologi. Pengumpulan data diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Penelitian juga menggunaka studi kepustakaan (library research) melalui data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari BO’ Sangaji Kai, dokumen dan peninggalan lain yang otentik, sedangkan data sekunder diperoleh dari buku-buku, jurnal, artikel, skripsi dan tesis. Adapun data yang telah diperoleh diolah dan dianalisis secara mendalam. Hasil penelitian menunjukan bahwa daerah Bima telah mengalami berbagai macam bentuk pemerintahan sebelum kehadiran Islam yang diantaranya adalah masa Naka, masa Ncuhi dan masa kerajaan. Pada kurun waktu yang begitu lama masyarakat diselimuti oleh kepercayaan Makakamba, Makakimbi dan agama Hindu. Pada masa Naka taraf kehidupan masyarakat masih primitif, berpindah-pindah dari satu tempat ketempat lain dan senantiasa hidup berkelompok. Setelah posisi Naka diganti oleh Ncuhi taraf kehidupan terjadi banyak perubahan sampai berdirinya kerajaan Bima.  Daerah Bima dari dulu sampai sekarang memiliki dua nama yaitu Mbojo dan Bima. Sebutan untuk Mbojo sering dipergunakan ketika menyebutnya dalam bahasa lokal untuk masyarakat Bima itu sendiri. Sedangkan Bima merupakan nama bangsawan Jawa atau tokoh yang berasal dari luar yang mampu mendamaikan konflik internal Paran Ncuhi (kepala daerah) sehingga namanya diabadikan menjadi nama daera Bima. Dan dalam sejarahnya sebutan Mbojo itu merupakan panggilan Sang Bima untuk isterinya (Bojonya) kemudian diabadikan menjadi nama daerah Mbojo.
PRESERVATION OF ROTTERDAM FORT POST BONGAYA AGREEMENT IN MAKASSAR Fadilah, Nurul; Dahlan, M.; Syukur, Syamzan
Jurnal Diskursus Islam Vol 9 No 1 (2021): April
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v9i1.17792

Abstract

The purpose of this study was to clear analyze the existence of Fort Rotterdam and its preservation after the Bongaya agreement in Makassar. This study uses the steps in writing history, namely heuristics, criticism, interpretation and becomes a historiographical work with the literature study method. The results of this study indicate that First, Ujung Pandang Fortress have built by the Kingdom of Gowa to defend the greatness and dignity of the Gowa kingdom from colonial threats. This fort is one of the guard forts of the main fortress of Somba Opu, which is the center of the Kingdom of Gowa. After the Gowa kingdom lost the Makassar war and confirmed by the Bongaya Agreement on 18 November 1667, the Ujung Pandang fort fell into the hands of the VOC (Netherlands Indies Trade Association) and changed its name to Fort Rotterdam and as a spice-trading center from east to west. Second, the preservation of the fort after the Bongaya Agreement, namely during the Japanese occupation. The fort have used as a center for language and agricultural research activities, after that in 1973 after independence the fort changed its function as the National Institute of Antiquities and Heritage, which is currently known as the Cultural Heritage Conservation Center and Museum La Galigo.
PEREMPUAN DALAM LINTAS SEJARAH (Studi Atas Peran Publik Sahabiyah-Sahabiyah di Masa Rasulullah SAW) Syamzan Syukur
MUWAZAH : jurnal kajian gender Vol 6 No 1 (2014)
Publisher : Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/muwazah.v6i1.9080

Abstract

The tradition of pre-Islamic Arabian society known as the position of women as imperior. Prophet as a feminist fight for equality derarat (egalitarian) between men and women. The struggle of the Prophet raise the dignity of women is very opposite to trasidi Arab society. Many traditions and fi'li qauli recommending that treat women well. Even at the time of the Prophet women taking a role in the public sphere-sphere were previously considered taboo for women. As in politics known Aisha, Umm Salama, Safia Bint Abdul Muttalib and others, in the field of education known in economics Aisha and Khadija bint Khuwalid known.
Eksistensi dan Nilai Budaya Islam dalam Tradisi Appasitulunggang pada Petani Jagung di Bungung Lompoa: Studi Kasus di Desa Bontonompo, Jeneponta Ayu Nuraeni Sunggu; Juwika Afrita; Syamzan Syukur; Muhammad Arif
Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 5 No 1 (2026): Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji eksistensi dan nilai budaya Islam dalam tradisi Appasitulungang (gotong royong) pada masyarakat petani jagung di Bungung Lompoa, Desa Bontonompo, Kecamatan Kelara, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan sejarah, antropologi, dan sosiologi agama. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, photovoice, dan dokumentasi. Data dianalisis dengan reduksi data, klasifikasi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan yang diperkuat dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Appasitulungang masih eksis pada masyarakat petani jagung di Bungung Lompoa meskipun mengalami pergeseran akibat modernisasi; (2) Wujud budaya Appasitulungang tercermin dalam tujuh tahapan bertani jagung, yaitu Annangkasi Koko (membersihkan kebun), A'nangkala Koko (membajak kebun), A'lamung Batara' (menanam jagung), Ammupu' Batara' (memupuk jagung), Angngompa Ruku' Batara' (menyemprot rumput), Angngalle Raung Batra' (mengambil daun jagung), dan Anyyappe Batara' (panen jagung); (3) Tradisi ini mengandung nilai-nilai Islam yang kuat, meliputi nilai kebersamaan, tolong-menolong, solidaritas sosial, dan ketaatan pada ajaran agama. Penelitian ini menegaskan pentingnya melestarikan Appasitulungang sebagai kearifan lokal berbasis nilai Islam yang relevan untuk memperkuat ketahanan sosial masyarakat agraris
Co-Authors Abd Rizal Abd. Bashir Fatmal Abd. Rahim Yunus Abdulkahar Agri Arisa Ahmad M Sewang Aidil Akbar Syarif Aili Liila Alamshah, Anisah Amhardianti Amhardianti Amriadi, Amriadi Amrudin Amrudin Ana Fergina Anawagis, Fian Andi Alif Afwan Andi Alif Afwan Andriani, Hesti Anisah Alamshah Asnawi Hidayatullah Astaman Astaman Ayu Nuraeni Sunggu Dahlan M Desi Yuniarti Enik Sartika Fatmal, Abd. Bashir Ferdhiyadi N Haerani Nur Hafsah Harisa, Rahmawati Hasaruddin Hasaruddin Hasaruddin Hutagaluh, Oskar Ida Ayu Putu Sri Widnyani Ismail Hannanong Jurrahmah AB. Yasin Jusmiati Jusmiati Jusmiati Juwika Afrita Kadril, Kadril Kamariah Kamariah, Kamariah Kholifatun, Umi Nur M. Dahlan M. Dahlan M. Dahlan M M. Dahlan. M Makkelo, Ilham Daeng masniati masniati Mastanning, Mastanning Mauizatul Hasanah Melinea Putri, Ilma Moh Mujibur Rohman Muh. Idris Muh. Idris Muh. Kaswin Muhammad Andi Syarifuddin Muhammad Arif Muhammad Idris Murniati . Musafir Pababbari Musdalifah Musdalifah Muslimah Muslimah Nana Aprilia Nasaruddin Nasaruddin Nuraeni Nuraeni Nurhayati Nurhijrah, Nurhijrah Nurlisa Nurlisa Nurul Fadilah, Nurul NURWAHIDAH NURWAHIDAH Paewai, Rusman Pathuddin, Hikmawati Permata, Srianti Rahman Rahman Rahman Rahman Rahmat Rahmat Rahmat Rahmat Rahmat Rahmatul Yushar Rahmawati Rahmawati Rahmawati, Rahmawati Rahmi Damis Rasyid, Surayah Reynaldo Reynaldo Rizkayadi Ruslan Ruslan Sahabuddin, Wasilah Saidin Hamzah Saripah Saripah, Saripah Sera Yuliantini Setiawan, Ahmad Siddiq Sri Nilawati Sri Rezky Meiliana, Sri Rezky Meiliana st. hajar hajar Sumiati Tomadehe Sumirah Sumirah Mira Sumirah Sumirah Supratman Supratman, Supratman Suraya Rasyid Susmihara Syakur, Nur Aksan Syamhi Muawwan Djamal Syamsudduha Saleh Syarifah Fauziah Tarhan, Raden Muhammad Teguh Murdianto Umar Sulaiman Wa Ode Zalmatin Wa Ode Zalmatin Wahyu Wahyuddin G, Wahyuddin Wahyuddin Gudang Wardiah Hamid Wasik wasik Yunus, Abdul Rahim Yusawinur Barella Yusdiansyah, Yusdiansyah Zahrani, Gina ZulFiqar Busrah