Claim Missing Document
Check
Articles

KESESUAIAN ANTARA CITA-CITA DAN PEMILIHAN PROGRAM STUDI MAHASISWA FAKULTAS AGAMA ISLAM ANGKATAN 2013/1014 Mahasri Shobahiya; Risma Marno Lestari
Tajdida: Jurnal Pemikiran dan Gerakan Muhammadiyah Vol 12, No 2 (2014): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The success of one's learning is influenced by the ideals to be achieved. This study answered about compatibility  of dream and selection courses year 2013/2014. By using a quantitative approach  this field research leads to the conclusion that, variety of dream year 2013/2014 is to be a teacher IS (36%), lecturers IS (7%), psychologists (2%), enterpreuner (9%) , bank employees (6%), the judge / prosecutor (1%), director (2%), undergraduate (1%), and others (36%). Students of Islamic studies-Tarbiyah  that match with mission and objectives of major is quite large (62%), which aspires to be a teacher and lecturer of IS. Students of Islamic law (Sharia) in accordance with the ideals and objectives of faculty mission are very small (3%), which aspires to be a judge year 2013/2014, to be a teacher of IS (36%), lecturers of IS (7%), psychologists (2%), enterpreuner (9 %), bank clerks (6%), the judge / prosecutor (1%), director (2%), undergraduate (1%), and others (36%). Students Prodi PAI-Tarbiyah The dreams that match with its mission and objectives of faculty are quite large ( 62 % ) , who aspires to be a teacher and lecturer of IS. Students of Islamic law ( Sharia) that match with the ideals and objectives of the faculty is very small ( 3 % ) , which aspires to be a judge / prosecutor .
TRANSISI MADRASAH TSANAWIYAH KE SEKOLAH MENENGAH ATAS (STUDI KASUS DI PONDOK PESANTREN MODERN MUHAMMADIYAH IMAM SYUHODO SUKOHARJO) Mahasri Shobahiya
Tajdida: Jurnal Pemikiran dan Gerakan Muhammadiyah Vol 14, No 2 (2016): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkritisi terhadap alasan pemilihan penyelenggaraan bentuk satuan pendidikan MTs sementara pada jenjang pendidikan di atasnya dalam bentuk SMA yang ada di Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Imam Syuhodo Sukoharjo. Bahwa alasan pemilihan penyelenggaraan bentuk satuan pendidikan MTs sementara pada jenjang pendidikan di atasnya dalam bentuk SMA yang ada di Pondok Pesantren Modern Imam Syuhodo Sukoharjo dapat dilihat dari tiga dimensi, yaitu (1) Bidang kurikulum; dengan satuan pendidikan SMA yang merupakan lembaga pendidikan di bawah binaan Kemendikbud, pengembangan kurikulum relatif lebih leluasa dan dirasakan ada kebebasan, termasuk mengembangkan kurikulum berbasis pesantren Muhammadiyah; (2) Bidang kesejahteraan; dengan satuan pendidikan SMA yang merupakan lembaga pendidikan di bawah binaan Kemendikbud dirasakan lebih sejahtera, karena lembaga cukup mudah memperoleh bantuan. Hal itu sangat terasa ketika dibandingkan dengan MTs yang berada di bawah binaan Kemenag; dan (3) Bidang administrasi; dengan satuan pendidikan SMA yang merupakan lembaga pendidikan di bawah binaan Kemendikud dirasakan urusan administrasi tidak seribet dan sesulit dalam bentuk MTs yang berada di bawah binaan Kemenag.
STUDI KOMPARATIF PROFIL GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PERSPEKTIF HASAN LANGGULUNG DAN SYED MUHAMMAD NAQUIB AL-ATTAS Mahasri Shobahiya
Suhuf Vol 29, No 1 (2017): Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Guru Pendidikan Agama Islam dituntut untuk melakukan aktivitas membimbing, melatih, dan membiasakan siswa untuk bersikap dan berperilaku yang baik. Oleh karena itu, peran dan tanggung jawab guru Pendidikan Agama Islam (PAI) sangatlah mulia. Hasan Langgulung dalam salah satu bagian dari bukunya secara khusus menuliskan tentang guru. Di sisi lain, Syed Muhammad Naquib Al-Attas menawarkan konsep yang lain  tentang peran guru PAI, yang  tidak sekedar mentransfer ilmu semata atau sebagai  mu’allim melainkan juga menanamkan nilai-nilai, yaitu sebagai muaddib.Pemikiran para filosof muslim abad modern tersebut merupakan solusi yang dapat menjawab permasalahan yang ada dalam kependidikan Islam, khususnya bagi guru PAI. Oleh karena itu, penelitian ini akan mengkaji pemikiran mereka tentang profil guru, yang dikaitkan dengan guru PAI, dengan rumusan masalah “Bagaimana profil guru PAI dalam perspektif Hasan Langgulung dan Syed Muhammad Naquib Al-Attas?”. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil guru PAI dalam perspektif Hasan Langgulung dan Syed Muhammad Al-Attas.Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif. Sumber data primer yang digunakan adalah karya Hasan Langgulung; sedangkan sumber data skunder adalah referensi yang mendukung data kedua tokoh tersebut. Adapun metode pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi; serta metode analisis datanya adalah dengan metode content analysis.Temuan penelitian adalah bahwa antara Hasan Langgulung dan Al-Attas keduanya memiliki pemikiran yang berbeda tentang profil guru PAI. Perbedaan tersebut antara lain: (1) pengertian guru PAI dalam pandangan Hasan Langgulung adalah ulama, yaitu orang-orang yang memiliki pengetahuan di atas orang lain (para murid), sedangkan Al-Attas mendefinisikan  guru PAI sebagai muaddib, yaitu orang yang menanamkan nilai atau adab kepada peserta didik; (2) Kedudukan guru PAI dalam pandangan Hasan Langgulung adalah sejajar dengan ulama atau satu tingkat di bawah para rasul, sedangkan Al-Attas berpandangan bahwa kedudukan guru PAI adalah sama dengan kedudukan seorang ayah; (3) Tugas guru PAI dalam pandangan Hasan Langgulung adalah mengembangkan dan mengaktualisasikan potensi peserta didik dengan menjalankan peran sebagai transmitter, fasilitator, motivator, dan dinamisator, sedangkan Al-Attas berpandangan bahwa tugas guru PAI adalah mengajar dan mendidik siswa dengan menggantikan peran ayah di sekolah sebagai pemimpin, pembimbing, dan korektor bagi peserta didik; dan (4) Karakteristik guru PAI dalam pandangan Hasan Langgulung adalah bermoral tinggi, memiliki ilmu yang luas, dan mampu menampilkan diri sebagai model, sedangkan menurut Al-Attas adalah beradab, memiliki pengetahuan di berbagai bidang ilmu, sabar, dan perhatian.
PENGGUNAAN KATA “لا” BERMAKNA “JANGAN” DALAM AL-QUR’AN (PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM) Abdulkarim Abdulkarim Zulfa Ahmadi; Mahasri Shobahiya
Suhuf Vol 29, No 2 (2017): Nopember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Beberapa pakar psikologi dan parenting mengingatkan pada guru dan orang tua untuk menghindari penggunaan kata “jangan” dalam mendidik anak, karena hal tersebut akan menjadikan anak tertekan serta menganggap bahwa dunia ini penuh dengan aturan yang menekan. Sementara itu, dalam Al-Qur’an tidak sedikit ayat yang menggunakan kata “لا” bermakna “jangan”, bahkan lebih dari 300 ayat menggunakan kata tersebut.Penelitian ini menemukan bahwa ayat-ayat yang mengandung kata “لا” bermakna “jangan” dalam Al-Qur’an dan Terjemahnya, yang diterbitkan Kementerian Agama RI tahun 2012 terdapat dalam 358 ayat yang tersebar dalam 64 Surat. Ayat yang mengandung kata “لا” bermakna “jangan” dapat dikelompokkan dalam tiga bidang, yaitu Akidah, Akhlak, dan Syariat. Selain tiga bidang tersebut, beberapa ayat Al-Qur’an yang di dalamnya terdapat kata “لا” bermakna “jangan” merupakan sebuah do’a dan kisah-kisah masa lampau yang tertulis dalam Al-Qur’an, sehingga bukan termasuk ayat-ayat larangan yang dapat diterapkan dalam pendidikan Islam.Ayat-ayat yang mengandung larangan pada bidang Akhlak memiliki jumlah lebih banyak dibandingkan dengan bidang lainnya, karena bidang tersebut mencakup beberapa aspek kehidupan, baik berhubungan dengan Sang Pencipta, manusia, alam, dan diri sendiri. Sedangkan, untuk terbanyak kedua adalah dalam bidang Akidah, di dalamnya terdapat ayat larangan dengan redaksi yang sama diulang berkali-kali pada ayat ataupun surat yang berbeda. Tampaknya Allah bermaksud untuk memberikan penekanan lebih terhadap pendidikan Islam, terutama keimanan kepada Allah Swt. Ayat larangan pada bidang Syariat lebih sedikit dibandingkan dengan dua bidang lainnya. Hal itu bisa disebabkan, karena ketentuan-ketentuan syariat telah banyak dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang tidak menggunakan kata “لا” bermakna “jangan”.
TIPOLOGI LEMBAGA PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF GEORGE MAKDISI Mahasri Shobahiya
Suhuf Vol 28, No 2 (2016): Nopember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Tulisan ini mengungkap tentang tipologi lembaga pendidikan dalam perspektif George Makdisi. Makdisi mengungkap mulai dari lembaga pra madrasah sampai pada lahirnya madrasah dan lembaga-lembaga serumpun, yang ternyata menunjukkan beberapa keunikan, di antaranya adalah dimulai dari tumbuhnya lembaga yang paling sederhana, dalam bentuk masjid sampai pada lahir cikal-bakal perguruan tinggi. Keunikan-keunikan tersebut, baik berkaitan dengan nama, bentuk, pendiri atau pengembang, maupun tipe pengembangannya. Sebagai contoh, pendiri lembaga pendidikan, ada yang dari pengajarnya sendiri dan ada pula yang pejabat yang sedang berkuasa saat itu; pengembangannya, ada yang sangat bergantung pada penguasa dan ada pula yang ada kemandirian dari pengajarnya; bentuknya, ada berasrama dan ada pula yang tidak berasrama; sedangkan berkaitan dengan materi kajiannya, ada yang hanya mengkaji salah satu sub kajian ilmu-ilmu keislaman dan ada yang satu lembaga menfasilitasi beberapa sub kajian, bahkan ada pula yang menfasilitasi ilmu-ilmu non keislaman.
IDENTIFYING THE CULTURE OF THE MUHAMMADIYAH ISLAMIC BOARDING SCHOOL Ahmad Mardalis; Mirzam Arqy Ahmadi; Mahasri Shobahiya; Minhayati Saleh
International Journal of Educational Management and Innovation Vol. 2 No. 3 (2021)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/ijemi.v2i3.4043

Abstract

This study aims to determine the organizational culture at the Muhammadiyah Islamic Boarding School. This research method includes qualitative research with the object of research is the Islamic Boarding School Modern Imam Syuhodo Sukoharjo. This study's collection method was obtained by seeking information from high-ranking informants and distributing questionnaires filled out by respondents at the Muhammadiyah Islamic Boarding School. Data collection techniques are carried out by interview, observation, and documentation supported by OCAI instruments. The results of the Leadership Research show that from the point of view of the leadership's assessment of the current dominant organizational culture, namely clan culture (40) and hierarchy (23). The data obtained shows that there is a significant difference between clan and hierarchy. The research results concluded that clan is the dominant culture for the current organizational culture and the dominant culture for the expected culture. At the same time, the hierarchy becomes the dominant culture in the second position. Then the organization needs a greater sense of kinship and better regulations to maintain organizational stability.
Forging Egypt's Golden Generation: Crafting Curriculum Excellence for ABA Kindergarten in Cairo, Egypt Mahasri Shobahiya; Nurul Latifatul Inayati; Alfiyatul Azizah; Junita Dwi Wardhani; Muhtadi Muhtadi
Engagement: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7 No 2 (2023): November 2023
Publisher : Asosiasi Dosen Pengembang Masyarajat (ADPEMAS) Forum Komunikasi Dosen Peneliti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29062/engagement.v7i2.1512

Abstract

The management and development of Aisyiyah Bustanul Athfal Kindergarten (TK ABA) Cairo is still needs to be improved. Meanwhile, currently the ABA Cairo Kindergarten is the only Indonesian private kindergarten in Egypt and is a reference for early childhood education for the Indonesian people in Cairo. The fundamental problem faced by ABA Cairo Kindergarten is that it doesn’t have a standard curriculum document that promotes the advantages and characteristics of the stake holders in the education unit. The purpose of this International Collaborative Community Service (PkM-KI) activity is to assist in the preparation of curriculum documents that are adapted to the spirit of an independent curriculum. This PkM implementation method uses a Participatory Action Research (PAR) approach, by actively involving partners in the participation and action dimensions. The target for the implementation of this PkM is the compilation of the ABA Cairo Kindergarten curriculum document. The result of this PkM KI is the arrangement of curriculum document which was legalized by the competent authority. Keyword : Accompaniment, curriculum document, Aisyiyah Bustanul Athfal Kindergarten, Golden generation. Abstrak Pengelolaan dan pengembangan Taman Kanak-kanak ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA) Kairo masih sangat perlu ditingkatkan. Sedangkan pada saat ini TK ABA Kairo merupakan TK swasta Indonesia satu-satunya yang ada di negara Mesir dan merupakan rujukan bagi Pendidikan anak-anak usia dini bagi masyarakat Indonesia Kairo. Permasalahan mendasar yang dihadapi oleh TK ABA Kairo, yaitu belum memiliki dokumen kurikulum baku yang mengunggulkan kelebihan dan ciri khas stake holder satuan Pendidikan tersebut. Tujuan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Kolaborasi Internasional (PkM-KI) ini adalah mendampingi penyusunan dokumen kurikulum yang disesuaikan dengan spirit kurikulum merdeka. Metode pelaksanaan PkM ini menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR), dengan melibatkan mitra secara aktif dalam partisipasi dan dimensi aksi. Target capaian pelaksanaan PkM ini yaitu tersusunnya dokumen kurikulum TK ABA Kairo. Hasil PkM KI ini adalah tersusunnya dokumen kurikulum pencetak generasi emas yang disahkan oleh pejabat berwenang. Kata Kunci: Pendampingan, dokumen kurikulum, TK ABA, generasi emas
PELATIHAN MUADZIN GUNA MENGURANGI KESALAHAN DALAM PENGUMANDANGAN ADZAN DI MASJID MUTTAQIN JOYOSURAN SURAKARTA Mahasri Shobahiya; Agung Wahyu Utomo; Muhammad Sulaiman
Abdi Psikonomi Vol 3, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/psikonomi.v3i1.380

Abstract

Adzan menjadi penanda masuknya waktu shalat fardhu di seluruh masjid di dunia. Sebagian muadzin masih terdapat kesalahan pelafadzan saat mengumandangkan adzan. Padahal lafadz adzan bukan merupakan lafadz yang sulit untuk dihafal dan dilafalkan dengan benar. Hal ini biladibiarkanakanmenjadimasalah yang berlarut-larut dan sesuatu yang salah biladiulang-ulangterusmenerus akandianggapbenar oleh umatbilatidakdibenarkan dengan segera. Hal itu terjadi juga di Masjid Muttaqin, Joyosuran, Surakarta. Beberapa muadzin sering melakukan kesalahan, terutama pada pelafadzan bacaan adzan, baik berkaitan makharijul huruf maupun tajwid-nya. Berdasarkan fenomena di atas, diperlukan adanya sebuah aktivitas pengabdian masyarakat dalam bentuk pelatihan muadzin. Adapun tujuan diadakannya pelatihan ini adalah untuk mengidentifikasi kesalahan-kesalahan yang sering terjadi dalam mengumandangkan adzan dan melatih mengumandangkan adzan yang baik dan benar. Pelaksanaan pengabdian masyarakat dilakukan di Masjid Muttaqin, Joyosuran, Surakarta. Adapun peserta adalah muadzin jamaah Masjid Muttaqin, khususnya untuk kalangan remaja. Strategi pengabdianmasyarakatdilakukan melalui ceramah, tanya jawab, diskusi danlatihan atau praktek. Sebelum dan setelah pelatihan dilakukan pre-test dan post-test yang hasilnya menunjukkan terdapat peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta setelah mengikuti sajian materi tentang adzan. Oleh karena itu, dapat diungkapkan bahwa pelaksanaan pelatihan dapat memberi pengaruh dan dampak yang positif terhadap peserta. Dengan demikian, para peserta yang terdiri dari remaja masjid diharapkan mampu melanjutkan dan menjadi generasi para muadzin yang telah lanjut usia, sehingga pelatihan memberi dampak positif terhadap masyarakat yang ada di daerah tersebut, khususnya sekitar masjid Muttaqin, Joyosuran, Surakarta. Kata Kunci: muadzin, kesalahan lafadz, adzan
Influence of the Independent Learning Curriculum in Islamic Education Subjects Maulidia, Martarosa; Mahasri Shobahiya
JIE (Journal of Islamic Education) Vol. 9 No. 2 (2024): JIE: (Journal of Islamic Education) July-December
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Muhammadiyah Bangil in collaboration with Letiges & Association of Muslim Community in ASEAN (AMCA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52615/jie.v9i2.417

Abstract

The discussion in this research concerns the influence of the Independent Learning Curriculum on Islamic Religious Education subjects. This research aims to describe the implementation of an Independent Learning Curriculum in Islamic Religious Education subjects and the supporting and inhibiting factors for Islamic Religious Education teachers in implementing the independent curriculum at a Public High School. The research approach used is qualitative with a case study method. The instruments used to collect data in this research are observation and interviews. Researchers observed the environment of a Public High School and the condition of the classes that were implementing the Independent Learning Curriculum. The research subjects were Islamic Religious Education subject teachers who had used the Independent Learning Curriculum for two periods in their classes. The research results show that implementing the Independent Learning Curriculum at Public High School was quite successful, with many supporting factors from the school, such as teachers and staff having high enthusiasm for holding Independent Learning Curriculum Implementation training. Apart from that, the facilities in the form of Chromebooks provided by the government to Public High Schools are also no less critical in realising the success of the Independent Learning Curriculum implementation. However, it does not deny that public high schools face inhibiting factors, such as human resources (HR) among students, which are still low, as evidenced by the school report cards, which are still yellow.
Optimalisasi Daya Ingat Guru dan Kepala TK Aisyiyah Surakarta Melalui Workshop Hafalan Qur’an Slamet, Sri; Shobahiya, Mahasri; Muwakhidah, Muwakhidah; Ambarwati, Ambarwati; Wardhani, Junita Dwi; Mukhlisin, Latutik; Yansyah, Yansyah
Jurnal Ilmiah Kampus Mengajar Vol. 3, No. 2, Oktober 2023
Publisher : Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56972/jikm.v3i2.132

Abstract

Menghafal Al-Qur'an adalah upaya untuk membiasakan orang beriman dengan kitab sucinya agar tidak dibutakan olehnya. Mengembangkan minat guru dan Kepala TK dalam menghafal Al-Qur'an tidak semudah membalikkan telapak tangan. Guru, dan Kepala TK tampaknya belum bisa menghafal surat-surat pendek Al-Qur'an dengan mudah. Padahal, mereka adalah calon pendidik PAUD/TK, dan perlu menjadi panutan bagi anak didiknya saat terjun ke lapangan. Hasil observasi di TK Aisyiyah Surakarta menunjukkan masih banyak guru dan Kepala TK yang kesulitan berhadapan dengan hafalan surat-surat pendek. Mereka disibukkan dengan kegiatan sehari-hari di sekolah sehingga mereka sering lupa dengan surat-surat pendek yang mereka ajarkan kepada anak kita. Mereka juga jarang diawasi oleh pimpinan atau lembaga yang mereka ikuti. Untuk mengatasi permasalahan di atas, tim pengabdian ini mengadakan workshop Tahfidzul Quran. Metode yang digunakan adalah ceramah, tanya jawab, diskusi, latihan dan evaluasi. Metode Zahrawain diberikan kepada peserta dengan cara peserta melihat dan mendengar apa yang diajarkan ustadz, kemudian menirukan bersama-sama, selanjutnya menghafal secara mandiri. Surat yang diberikan kepada peserta adalah Surat An Naba’. Lewat kegiatan workshop, para Kepala TK dan Guru merasa sangat terbantu. Selain ada yang membimbing dan mengarahkan, peserta tahu salah dan betulnya ketika mereka mengucapkan ayat-ayat yang dilantunkan secara langsung. Hasil dari hafalan yang mereka capai tergolong memuaskan.
Co-Authors Abdul Hafeez VM Abdulkarim Abdulkarim Zulfa Ahmadi Abdulkarim Zulfa Ahmadi, Abdulkarim Abubaker Barry Agung Wahyu Utomo Ahmad Baihaqi Esaputra Ahmad Mardalis, Ahmad Al Mubarok, Fahmi Ulum Alan Setyawan, Iyan Aldila Luthfiana Rahmadewi Alfiyatul Azizah Amani, Nur Raihanah Ambarwati Ameen KC Andhim, Muk Anggraini, Fadhilla Nangroe Anugrah, Abror Dikna Apriliano, Moza Ari Anshori, Ari Asmara, Linda Azzacky, Jafar Ihza Yuska Azzahra, Kayla Bella Ananda Chairunnisa Brahmantya Panji Prakosa Chusniatun Chusniatun Chusniatun Dartim Dartim Diah Priyawati Erlisa Sulistianingsih Faizal, Ihsan Habibi, Ahmadi Martha Hadi, Muhammad Wafi Hilman Luthfil Hafidz Hafidz Inayati, Nurul Latifatul Ismail, Lentera Tazkiya Jannah, Aisyah Nur Kholifatun Jihad, Hanif Ruhul Jihan Nur Hidayah Junita Dwi Wardhani Khotimah, Dewi Fitriah Khusnul Kurniawan, Fidaus Latutik Mukhlisin Maulidia, Martarosa Minhayati Saleh Minhayati Saleh Mirzam Arqy Ahmadi Mochammad Imron Awalludin Mohamad Ali Mohamed Iyas Valarthodi Muchtar, Zulfa Iftinani Muh Nur Rochim Maksum Muhamad Subhi Apriantoro Muhammad Farhan Muhammad Sulaiman Muhammad Wildan Shohib Muhammad, Norshafiqah Binti Muhtadi Muhtadi Mustofa, Triono Ali Musyaffa, Zaim Hilmi Mutohharun Jinan Novel Idris Abas Nurul Latifatul Inayati Nurul Latifatul Inayati Pakpahan, Akbar Waliyuddin Pambudi, Haning Lestari Dwi Putri Rahmawati Qo’idul A’dzham Qudsiyah, Yusfina Sekar Rahma Ayuningtyas Fachrunisa Rahmadewi, Aldila Luthfiana Rahmatullah, Arif Risma Marno Lestari Risma Marno Lestari, Risma Marno Rohmani, Annas Fajar Safitri, Ilham Nur Saputri, Intan Dian Sari, Muflihatul Laela Sasongko, Farah Adibah Sekar Ayu Aryani Sodikin, Aditya Wisnu Sri Slamet Tamami, Fauziyah Qurrota’Ayun Yansyah Yansyah, Yansyah Yeti Dahliana