p-Index From 2021 - 2026
7.638
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Tajdida Suhuf JURNAL KEPEMIMPINAN DAN PENGURUSAN SEKOLAH Risâlah, Jurnal Pendidikan dan Studi Islam JIE (Journal of Islamic Education) al-Afkar, Journal For Islamic Studies Pendas : Jurnah Ilmiah Pendidikan Dasar IQRO: Journal of Islamic Education Iseedu: Journal of Islamic Educational Thoughts and Practices Islamic Management: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam INTEGRITAS : Jurnal Pengabdian Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Edunesia : jurnal Ilmiah Pendidikan Al-Muaddib : Jurnal Kajian Ilmu Kependidikan International Journal of Educational Management and Innovation (IJEMI) Jurnal Dakwah dan Komunikasi SECONDARY : Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah (JIPM) CENDEKIA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Al-Fikru: Jurnal Ilmiah Abdi Psikonomi Jurnal Ilmiah Mahasiswa Raushan Fikr Jurnal Ilmiah Kampus Mengajar Proceeding ISETH (International Summit on Science, Technology, and Humanity) Jurnal Ilmu Multidisplin JURNAL PENGABDIAN PENDIDIKAN MASYARAKAT (JPPM) Jurnal Pendidikan Islam Electronic Journal of Education, Social Economics and Technology AL ULYA: JURNAL PENDIDIKAN ISLAM Proceeding of International Conference of Islamic Education Journal An-Nafs: Kajian Penelitian Psikologi Mujahada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Engagement: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Indonesian Culture and Religion Issues PSIKOTES: JURNAL ILMU PSIKOLOGI, KOMUNIKASI DAN KESEHATAN Journal of Islamic Education Iseedu: Journal of Islamic Educational Thoughts and Practices
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Suhuf

TIPOLOGI LEMBAGA PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF GEORGE MAKDISI Shobahiya, Mahasri
Suhuf Volume 28., No.2., Nopember 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Tulisan ini mengungkap tentang tipologi lembaga pendidikan dalam perspektif George Makdisi. Makdisi mengungkap mulai dari lembaga pra madrasah sampai pada lahirnya madrasah dan lembaga-lembaga serumpun, yang ternyata menunjukkan beberapa keunikan, di antaranya adalah dimulai dari tumbuhnya lembaga yang paling sederhana, dalam bentuk masjid sampai pada lahir cikal-bakal perguruan tinggi. Keunikan-keunikan tersebut, baik berkaitan dengan nama, bentuk, pendiri atau pengembang, maupun tipe pengembangannya. Sebagai contoh, pendiri lembaga pendidikan, ada yang dari pengajarnya sendiri dan ada pula yang pejabat yang sedang berkuasa saat itu; pengembangannya, ada yang sangat bergantung pada penguasa dan ada pula yang ada kemandirian dari pengajarnya; bentuknya, ada berasrama dan ada pula yang tidak berasrama; sedangkan berkaitan dengan materi kajiannya, ada yang hanya mengkaji salah satu sub kajian ilmu-ilmu keislaman dan ada yang satu lembaga menfasilitasi beberapa sub kajian, bahkan ada pula yang menfasilitasi ilmu-ilmu non keislaman.
STUDI KOMPARATIF PROFIL GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PERSPEKTIF HASAN LANGGULUNG DAN SYED MUHAMMAD NAQUIB AL-ATTAS Shobahiya, Mahasri
Suhuf Vol 29, No 1 (2017): Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Guru Pendidikan Agama Islam dituntut untuk melakukan aktivitas membimbing, melatih, dan membiasakan siswa untuk bersikap dan berperilaku yang baik. Oleh karena itu, peran dan tanggung jawab guru Pendidikan Agama Islam (PAI) sangatlah mulia. Hasan Langgulung dalam salah satu bagian dari bukunya secara khusus menuliskan tentang guru. Di sisi lain, Syed Muhammad Naquib Al-Attas menawarkan konsep yang lain  tentang peran guru PAI, yang  tidak sekedar mentransfer ilmu semata atau sebagai  mu’allim melainkan juga menanamkan nilai-nilai, yaitu sebagai muaddib.Pemikiran para filosof muslim abad modern tersebut merupakan solusi yang dapat menjawab permasalahan yang ada dalam kependidikan Islam, khususnya bagi guru PAI. Oleh karena itu, penelitian ini akan mengkaji pemikiran mereka tentang profil guru, yang dikaitkan dengan guru PAI, dengan rumusan masalah “Bagaimana profil guru PAI dalam perspektif Hasan Langgulung dan Syed Muhammad Naquib Al-Attas?”. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil guru PAI dalam perspektif Hasan Langgulung dan Syed Muhammad Al-Attas.Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif. Sumber data primer yang digunakan adalah karya Hasan Langgulung; sedangkan sumber data skunder adalah referensi yang mendukung data kedua tokoh tersebut. Adapun metode pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi; serta metode analisis datanya adalah dengan metode content analysis.Temuan penelitian adalah bahwa antara Hasan Langgulung dan Al-Attas keduanya memiliki pemikiran yang berbeda tentang profil guru PAI. Perbedaan tersebut antara lain: (1) pengertian guru PAI dalam pandangan Hasan Langgulung adalah ulama, yaitu orang-orang yang memiliki pengetahuan di atas orang lain (para murid), sedangkan Al-Attas mendefinisikan  guru PAI sebagai muaddib, yaitu orang yang menanamkan nilai atau adab kepada peserta didik; (2) Kedudukan guru PAI dalam pandangan Hasan Langgulung adalah sejajar dengan ulama atau satu tingkat di bawah para rasul, sedangkan Al-Attas berpandangan bahwa kedudukan guru PAI adalah sama dengan kedudukan seorang ayah; (3) Tugas guru PAI dalam pandangan Hasan Langgulung adalah mengembangkan dan mengaktualisasikan potensi peserta didik dengan menjalankan peran sebagai transmitter, fasilitator, motivator, dan dinamisator, sedangkan Al-Attas berpandangan bahwa tugas guru PAI adalah mengajar dan mendidik siswa dengan menggantikan peran ayah di sekolah sebagai pemimpin, pembimbing, dan korektor bagi peserta didik; dan (4) Karakteristik guru PAI dalam pandangan Hasan Langgulung adalah bermoral tinggi, memiliki ilmu yang luas, dan mampu menampilkan diri sebagai model, sedangkan menurut Al-Attas adalah beradab, memiliki pengetahuan di berbagai bidang ilmu, sabar, dan perhatian.
PENGGUNAAN KATA “لا” BERMAKNA “JANGAN” DALAM AL-QUR’AN (PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM) Abdulkarim Zulfa Ahmadi, Abdulkarim; Shobahiya, Mahasri
Suhuf Vol 29, No 2 (2017): nopember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Beberapa pakar psikologi dan parenting mengingatkan pada guru dan orang tua untuk menghindari penggunaan kata “jangan” dalam mendidik anak, karena hal tersebut akan menjadikan anak tertekan serta menganggap bahwa dunia ini penuh dengan aturan yang menekan. Sementara itu, dalam Al-Qur’an tidak sedikit ayat yang menggunakan kata “لا” bermakna “jangan”, bahkan lebih dari 300 ayat menggunakan kata tersebut.Penelitian ini menemukan bahwa ayat-ayat yang mengandung kata “لا” bermakna “jangan” dalam Al-Qur’an dan Terjemahnya, yang diterbitkan Kementerian Agama RI tahun 2012 terdapat dalam 358 ayat yang tersebar dalam 64 Surat. Ayat yang mengandung kata “لا” bermakna “jangan” dapat dikelompokkan dalam tiga bidang, yaitu Akidah, Akhlak, dan Syariat. Selain tiga bidang tersebut, beberapa ayat Al-Qur’an yang di dalamnya terdapat kata “لا” bermakna “jangan” merupakan sebuah do’a dan kisah-kisah masa lampau yang tertulis dalam Al-Qur’an, sehingga bukan termasuk ayat-ayat larangan yang dapat diterapkan dalam pendidikan Islam.Ayat-ayat yang mengandung larangan pada bidang Akhlak memiliki jumlah lebih banyak dibandingkan dengan bidang lainnya, karena bidang tersebut mencakup beberapa aspek kehidupan, baik berhubungan dengan Sang Pencipta, manusia, alam, dan diri sendiri. Sedangkan, untuk terbanyak kedua adalah dalam bidang Akidah, di dalamnya terdapat ayat larangan dengan redaksi yang sama diulang berkali-kali pada ayat ataupun surat yang berbeda. Tampaknya Allah bermaksud untuk memberikan penekanan lebih terhadap pendidikan Islam, terutama keimanan kepada Allah Swt. Ayat larangan pada bidang Syariat lebih sedikit dibandingkan dengan dua bidang lainnya. Hal itu bisa disebabkan, karena ketentuan-ketentuan syariat telah banyak dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang tidak menggunakan kata “لا” bermakna “jangan”.
STUDI KOMPARATIF PROFIL GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PERSPEKTIF HASAN LANGGULUNG DAN SYED MUHAMMAD NAQUIB AL-ATTAS Mahasri Shobahiya
Suhuf Vol 29, No 1 (2017): Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Guru Pendidikan Agama Islam dituntut untuk melakukan aktivitas membimbing, melatih, dan membiasakan siswa untuk bersikap dan berperilaku yang baik. Oleh karena itu, peran dan tanggung jawab guru Pendidikan Agama Islam (PAI) sangatlah mulia. Hasan Langgulung dalam salah satu bagian dari bukunya secara khusus menuliskan tentang guru. Di sisi lain, Syed Muhammad Naquib Al-Attas menawarkan konsep yang lain  tentang peran guru PAI, yang  tidak sekedar mentransfer ilmu semata atau sebagai  mu’allim melainkan juga menanamkan nilai-nilai, yaitu sebagai muaddib.Pemikiran para filosof muslim abad modern tersebut merupakan solusi yang dapat menjawab permasalahan yang ada dalam kependidikan Islam, khususnya bagi guru PAI. Oleh karena itu, penelitian ini akan mengkaji pemikiran mereka tentang profil guru, yang dikaitkan dengan guru PAI, dengan rumusan masalah “Bagaimana profil guru PAI dalam perspektif Hasan Langgulung dan Syed Muhammad Naquib Al-Attas?”. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil guru PAI dalam perspektif Hasan Langgulung dan Syed Muhammad Al-Attas.Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif. Sumber data primer yang digunakan adalah karya Hasan Langgulung; sedangkan sumber data skunder adalah referensi yang mendukung data kedua tokoh tersebut. Adapun metode pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi; serta metode analisis datanya adalah dengan metode content analysis.Temuan penelitian adalah bahwa antara Hasan Langgulung dan Al-Attas keduanya memiliki pemikiran yang berbeda tentang profil guru PAI. Perbedaan tersebut antara lain: (1) pengertian guru PAI dalam pandangan Hasan Langgulung adalah ulama, yaitu orang-orang yang memiliki pengetahuan di atas orang lain (para murid), sedangkan Al-Attas mendefinisikan  guru PAI sebagai muaddib, yaitu orang yang menanamkan nilai atau adab kepada peserta didik; (2) Kedudukan guru PAI dalam pandangan Hasan Langgulung adalah sejajar dengan ulama atau satu tingkat di bawah para rasul, sedangkan Al-Attas berpandangan bahwa kedudukan guru PAI adalah sama dengan kedudukan seorang ayah; (3) Tugas guru PAI dalam pandangan Hasan Langgulung adalah mengembangkan dan mengaktualisasikan potensi peserta didik dengan menjalankan peran sebagai transmitter, fasilitator, motivator, dan dinamisator, sedangkan Al-Attas berpandangan bahwa tugas guru PAI adalah mengajar dan mendidik siswa dengan menggantikan peran ayah di sekolah sebagai pemimpin, pembimbing, dan korektor bagi peserta didik; dan (4) Karakteristik guru PAI dalam pandangan Hasan Langgulung adalah bermoral tinggi, memiliki ilmu yang luas, dan mampu menampilkan diri sebagai model, sedangkan menurut Al-Attas adalah beradab, memiliki pengetahuan di berbagai bidang ilmu, sabar, dan perhatian.
PENGGUNAAN KATA “لا” BERMAKNA “JANGAN” DALAM AL-QUR’AN (PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM) Abdulkarim Abdulkarim Zulfa Ahmadi; Mahasri Shobahiya
Suhuf Vol 29, No 2 (2017): Nopember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Beberapa pakar psikologi dan parenting mengingatkan pada guru dan orang tua untuk menghindari penggunaan kata “jangan” dalam mendidik anak, karena hal tersebut akan menjadikan anak tertekan serta menganggap bahwa dunia ini penuh dengan aturan yang menekan. Sementara itu, dalam Al-Qur’an tidak sedikit ayat yang menggunakan kata “لا” bermakna “jangan”, bahkan lebih dari 300 ayat menggunakan kata tersebut.Penelitian ini menemukan bahwa ayat-ayat yang mengandung kata “لا” bermakna “jangan” dalam Al-Qur’an dan Terjemahnya, yang diterbitkan Kementerian Agama RI tahun 2012 terdapat dalam 358 ayat yang tersebar dalam 64 Surat. Ayat yang mengandung kata “لا” bermakna “jangan” dapat dikelompokkan dalam tiga bidang, yaitu Akidah, Akhlak, dan Syariat. Selain tiga bidang tersebut, beberapa ayat Al-Qur’an yang di dalamnya terdapat kata “لا” bermakna “jangan” merupakan sebuah do’a dan kisah-kisah masa lampau yang tertulis dalam Al-Qur’an, sehingga bukan termasuk ayat-ayat larangan yang dapat diterapkan dalam pendidikan Islam.Ayat-ayat yang mengandung larangan pada bidang Akhlak memiliki jumlah lebih banyak dibandingkan dengan bidang lainnya, karena bidang tersebut mencakup beberapa aspek kehidupan, baik berhubungan dengan Sang Pencipta, manusia, alam, dan diri sendiri. Sedangkan, untuk terbanyak kedua adalah dalam bidang Akidah, di dalamnya terdapat ayat larangan dengan redaksi yang sama diulang berkali-kali pada ayat ataupun surat yang berbeda. Tampaknya Allah bermaksud untuk memberikan penekanan lebih terhadap pendidikan Islam, terutama keimanan kepada Allah Swt. Ayat larangan pada bidang Syariat lebih sedikit dibandingkan dengan dua bidang lainnya. Hal itu bisa disebabkan, karena ketentuan-ketentuan syariat telah banyak dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang tidak menggunakan kata “لا” bermakna “jangan”.
TIPOLOGI LEMBAGA PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF GEORGE MAKDISI Mahasri Shobahiya
Suhuf Vol 28, No 2 (2016): Nopember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Tulisan ini mengungkap tentang tipologi lembaga pendidikan dalam perspektif George Makdisi. Makdisi mengungkap mulai dari lembaga pra madrasah sampai pada lahirnya madrasah dan lembaga-lembaga serumpun, yang ternyata menunjukkan beberapa keunikan, di antaranya adalah dimulai dari tumbuhnya lembaga yang paling sederhana, dalam bentuk masjid sampai pada lahir cikal-bakal perguruan tinggi. Keunikan-keunikan tersebut, baik berkaitan dengan nama, bentuk, pendiri atau pengembang, maupun tipe pengembangannya. Sebagai contoh, pendiri lembaga pendidikan, ada yang dari pengajarnya sendiri dan ada pula yang pejabat yang sedang berkuasa saat itu; pengembangannya, ada yang sangat bergantung pada penguasa dan ada pula yang ada kemandirian dari pengajarnya; bentuknya, ada berasrama dan ada pula yang tidak berasrama; sedangkan berkaitan dengan materi kajiannya, ada yang hanya mengkaji salah satu sub kajian ilmu-ilmu keislaman dan ada yang satu lembaga menfasilitasi beberapa sub kajian, bahkan ada pula yang menfasilitasi ilmu-ilmu non keislaman.
Co-Authors Abdul Hafeez VM Abdulkarim Abdulkarim Zulfa Ahmadi Abdulkarim Zulfa Ahmadi, Abdulkarim Abubaker Barry Agung Sulistiyo Nugroho Agung Wahyu Utomo Ahmad Baihaqi Esaputra Ahmad Mardalis, Ahmad Al Mubarok, Fahmi Ulum Alan Setyawan, Iyan Aldila Luthfiana Rahmadewi Alfiyatul Azizah Amani, Nur Raihanah Ambarwati Ameen KC Andhim, Muk Anggraini, Fadhilla Nangroe Anugrah, Abror Dikna Apriliano, Moza Ari Anshori, Ari Asep Sutisna Asmara, Linda Asy'arie, Musa Azzacky, Jafar Ihza Yuska Azzahra, Kayla Bella Ananda Chairunnisa Brahmantya Panji Prakosa Chusniatun Chusniatun Chusniatun Dartim Dartim Diah Priyawati Dini Zakia Zahra Erlisa Sulistianingsih Fadhia Ananda Faizah, Intan Nur Faizal, Ihsan Fauzi, Ahmad Akbar Fitriyan, Yassir Hafidh Habibi, Ahmadi Martha Hadi, Muhammad Wafi Hilman Luthfil Hafidz Hafidz Inayati, Nurul Latifatul Ismail, Lentera Tazkiya Jannah, Aisyah Nur Kholifatun Jihad, Fauzan Addinul Jihad, Hanif Ruhul Jihan Nur Hidayah Junita Dwi Wardhani Khamami Khamami Khotimah, Dewi Fitriah Khusnul Kurniawan, Fidaus Latutik Mukhlisin Maulid Agustin Maulidia, Martarosa Minhayati Saleh Minhayati Saleh Mirzam Arqy Ahmadi Mochammad Imron Awalludin Mohamad Ali Mohamed Iyas Valarthodi Muchtar, Zulfa Iftinani Mufidatul Azizah Muh Nur Rochim Maksum Muhamad Subhi Apriantoro Muhammad Farhan Muhammad Sulaiman Muhammad Wildan Shohib Muhammad, Norshafiqah Binti Muhtadi Muhtadi Mujahid, Abdur Rahman Musa Asy'arie Musa Asy’ari Musa Asy’arie Musa Asy’arie Mustofa, Triono Ali Musyaffa, Zaim Hilmi Mutohharun Jinan Naqiba, Muhammad Izzan Novel Idris Abas Nurul Latifatul Inayati Nurul Latifatul Inayati Pakpahan, Akbar Waliyuddin Pambudi, Haning Lestari Dwi Putri Rahmawati Qo’idul A’dzham Qudsiyah, Yusfina Sekar Rahma Ayuningtyas Fachrunisa Rahmadewi, Aldila Luthfiana Rahmatullah, Arif Ramadhani Nur Hikmah Ria Nata Kusuma Risma Marno Lestari Risma Marno Lestari, Risma Marno Rohmani, Annas Fajar Safitri, Ilham Nur Saputri, Intan Dian Sari, Muflihatul Laela Sasongko, Farah Adibah Sekar Ayu Aryani Sodikin, Aditya Wisnu Sri Slamet Sugiyanti Sugiyanti Tamami, Fauziyah Qurrota’Ayun Tutik Mursiti Wardana, Dimas Wisnu Yansyah Yansyah, Yansyah Yeti Dahliana