Claim Missing Document
Check
Articles

Upaya Pembentukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Tatanan Sekolah Udin Rosidin; Iwan Shalahuddin; Dadang Purnama; Witdiawati Witdiawati
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 6 (2026): Volume 9 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i6.25899

Abstract

ABSTRAK Kesehatan siswa merupakan aspek penting dalam membentuk generasi yang sehat, cerdas dan produktif. Sekolah sebagai institusi pendidikan memiliki peran strategis tidak hanya dalam pengembangan aspek akademik, tetapi juga dalam membentuk perilaku hidup sehat sejak usia dini. Salah satu pendekatan yang efektif dalam mendukung upaya tersebut adalah melalui implementasi keperawatan kesehatan berbasis sekolah. Berdasarkan pengkajian yang dilakukan disalah satu SMPN di Kabupaten Garut menunjukkan bahwa perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) siswa masih tergolong rendah. Kondisi ini dimungkinkan karena kurangnya pemahaman siswa dalam pelaksanaan perilaku hidup bersih dan sehat. Tujuan dari kegiatan ini diharapkan adanya peningkatan pengetahuan siswa dalam pelaksanaan perilaku hidup bersih dan sehat di sekolah. Metode kegiatan yang digunakan adalah penyuluhan kesehatan tentang pelaksanaan perilaku hidup bersih dan sehat. Jumlah peserta yang hadir sebanyak 294 siswa. Hasil kegiatan menunjukkan rata-rata nilai pres-test sebesar 55,9 poin dan rata rata nilai post-test sebesar 66,7 poin. Ada peningkatan pengetahuan siswa  setelah dilakukan penyuluhan kesehatan sebesar 10,8 poin. Rencana tindak lanjut yang akan di teruskan oleh pihak sekolah dan pihak puskesmas adalah mengaktifkan kembali program UKS dan pelatihan duta remaja sehat. Program UKS yang bisa dilaksanakan dalam membudayakan hidup sehat di sekolah adalah melaksanakan pendidikan kesehatan kepada siswa.  Kata Kunci: PHBS Sekolah, Penyuluhan Kesehatan, Siswa.  ABSTRACT Student health is a crucial aspect in shaping a healthy, intelligent, and productive generation. Schools, as educational institutions, play a strategic role not only in academic development but also in fostering healthy lifestyles from an early age. One effective approach to supporting these efforts is through the implementation of school-based health nursing. A study conducted at a junior high school in Garut Regency showed that students' clean and healthy living behaviors (PHBS) were still relatively low. This is likely due to a lack of student understanding of the implementation of clean and healthy living behaviors. The objective of this activity was to increase students' knowledge in implementing clean and healthy living behaviors at school. The method used was health counseling on the implementation of clean and healthy living behaviors. A total of 294 students attended. The results showed an average pre-test score of 55.9 points and an average post-test score of 66.7 points. There was a 10.8 point increase in student knowledge after the health counseling. The follow-up plan, which will be continued by the school and community health center, is to reactivate the UKS program and train healthy youth ambassadors. One UKS program that can be implemented to cultivate a healthy lifestyle in schools is health education for students. Keywords: School PHBS, Health Education, Students.
Kenali Gejala, Cegah Penularan: Bersama Lawan TBC di RW 03 RT 01 Desa Cileles Kecamatan Jatinangor Sumedang Iwan Shalahuddin; Udin Rosidin; Ahmad Yamin
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 6 (2026): Volume 9 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i6.25880

Abstract

ABSTRAK Tuberkulosis (TBC) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, terutama pada tingkat komunitas dengan kepadatan penduduk tinggi dan tingkat pengetahuan kesehatan yang masih terbatas. Upaya pencegahan penularan TBC memerlukan pendekatan promotif dan preventif berbasis masyarakat melalui peningkatan pengetahuan dan kesadaran akan gejala serta cara penularannya. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai gejala TBC dan langkah-langkah pencegahan penularannya di RW 03 RT 01 Desa Cileles, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Metode yang digunakan adalah edukasi kesehatan melalui penyuluhan, diskusi interaktif, serta pembagian media informasi berupa leaflet. Sasaran kegiatan adalah masyarakat usia produktif dan keluarga yang berjumlah 45 orang. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta. Materi yang disampaikan meliputi tanda dan gejala TBC, cara penularan, pentingnya deteksi dini, kepatuhan pengobatan, serta perilaku hidup bersih dan sehat sebagai upaya pencegahan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada tingkat pengetahuan masyarakat, dimana rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 56,4% pada pre-test menjadi 85,7% pada post-test. Selain itu, terjadi perubahan sikap positif masyarakat dalam upaya pencegahan, seperti penggunaan masker saat batuk, peningkatan ventilasi rumah, serta kesadaran untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Kesimpulannya, edukasi kesehatan berbasis komunitas efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terkait TBC. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi strategi berkelanjutan dalam menekan angka penularan TBC di tingkat lokal. Diperlukan dukungan lintas sektor dan keterlibatan aktif masyarakat untuk mencapai eliminasi TBC secara optimal. Kata Kunci: Tuberkulosis, Edukasi Kesehatan, Pencegahan Penularan, Deteksi Dini, Pemberdayaan Masyarakat.  ABSTRACT Tuberculosis (TB) remains a major public health concern in Indonesia, particularly at the community level where population density and limited health literacy contribute to ongoing transmission. Community-based preventive efforts focusing on early symptom recognition and transmission control are essential to reduce TB incidence. This study aimed to improve community knowledge and awareness regarding TB symptoms and prevention strategies in RW 03 RT 01, Cileles Village, Jatinangor Subdistrict, Sumedang Regency. A community-based health education intervention was conducted involving 45 participants from productive age groups and households. The intervention included health counseling sessions, interactive discussions, and distribution of educational leaflets. Knowledge assessment was performed using a pre-test and post-test design. Educational materials covered TB signs and symptoms, modes of transmission, early detection, treatment adherence, and clean and healthy lifestyle practices.The findings demonstrated a significant improvement in participants’ knowledge, with the mean score increasing from 56.4% (pre-test) to 85.7% (post-test). Additionally, positive behavioral changes were observed, including increased use of masks when coughing, improved household ventilation, and greater willingness to seek medical examination at healthcare facilities. Community-based health education is effective in enhancing knowledge and awareness regarding TB prevention and control. This approach can serve as a sustainable strategy to reduce TB transmission at the local level. Strengthening cross-sector collaboration and active community participation is crucial to achieving TB elimination goals. Keywords: Tuberculosis, Health Education, Disease Prevention, Early Detection, Community Empowerment.
Students’ characteristic contribution on personal boundaries in preventing the risk of sexual violence in faith-based boarding schools Ahmad Yamin; Suryani Suryani; Situ Yuyun Rahayu Fitri; Meita Dhamayanti; Udin Rosidin
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol. 14 No. 1 (2026): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkp.v14i1.2766

Abstract

Background: Personal boundaries are important for establishing students’ identity and defense mechanisms. Strong boundaries help students to recognize limits for interaction, while weak boundaries increase vulnerability for manipulation and sexual violence. In faith-based boarding schools where interactions are intensive, personal boundaries are crucial for preventing harassment. Purpose: This study examines students’ personal boundaries and the determining factors. Methods: A quantitative cross-sectional design applied to 532 respondents recruited through proportionate random sampling from three Faith-Based Boarding Schools (secondary schools) in West Java. Data were collected using a set of questionnaires and were analyzed using the Chi-Square test and logistic regression. Results: More than half respondent (52%) reported weak personal boundaries and among the identified characteristics only students’ age (older) and gender (male) that identified significantly associated with strong personal boundaries (p-value < 0.05). Logistic regression identifies age as the most dominant factor, with each one-unit increase in age increasing the likelihood of personal boundaries by approximately 2.380 times. Conclusions: More than half students have weak personal boundaries. Older and male students tend to have stronger boundaries. There is a critical need for greater awareness and education on personal rights and boundary-setting within these environments, particularly for new (younger) and female students.
Gambaran Celebrity Worship Pada Mahasiswa Keperawatan Universitas Padjadjaran Avrilia Roroarta Wahyuni Purba; Iceu Amira DA; Theresia Eriyani; Mariah Komariah; Udin Rosidin
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 2 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i2.18592

Abstract

Celebrity worship adalah ketertarikan berlebihan terhadap kehidupan pribadi selebriti yang dapat berdampak pada konsep diri dan kesejahteraan psikososial. Fenomena ini semakin meningkat seiring perkembangan teknologi dan media sosial yang memudahkan interaksi antara penggemar dan selebriti. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat celebrity worship di kalangan mahasiswa. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan instrumen Celebrity Attitude Scale (CAS) versi bahasa Indonesia. Sebanyak 257 mahasiswa yang dipilih melalui stratified random sampling berpartisipasi dalam penelitian ini. Hasil menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia 17–23 tahun dan sebagian besar adalah perempuan. Sebanyak 70,8% responden berada pada kategori Intense-Personal, 16% pada kategori Entertainment-Social, dan 13,2% pada kategori Borderline-Pathological. Temuan ini menunjukkan adanya keterikatan emosional yang kuat, keterlibatan dalam diskusi sosial mengenai selebriti, serta kecenderungan obsesif terhadap selebriti pada sebagian mahasiswa. Hasil ini mengindikasikan perlunya perhatian terhadap dampak psikososial dari celebrity worship di kalangan mahasiswa.
Sosialisasi tentang Pengelolaan Kesehatan Mental pada Remaja di SMA Negeri Jatinangor Udin Rosidin; Iwan Shalahuddin; Nina Sumarni
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 1 (2026): Volume 9 Nomor 1 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i1.23216

Abstract

ABSTRAK Masa remaja merupakan periode transisi, ditandai dengan perubahan fisik, mental, sosial dan emosional. Pada usia remaja sering kali menghadapi permasalahan  kesehatan mental. Kesehatan mental merupakan aspek yang kurang mendapat perhatian dikalangan siswa sekolah seperti stres akademik. Kesehatan mental remaja pada siswa sekolah dipengaruhi berbagai faktor seperti beban akademik yang tinggi, tuntutan untuk meraih prestasi dan persiapan ujian. Hal tersebut merupakan penyebab terjadinya stres pada remaja yang seringkali tidak disadari padahal sangat berdampak pada kualitas hidup mereka. Kondisi ini dimungkinkan kurangnya pemahaman remaja mengenai kesehatan mental sehingga tidak berusaha mencari bantuan professional. Hasil survey yang dilakukan di SMAN di Jatinangor menunjukkan bahwa pengetahuan siswa tentang kesehatan mental sebanyak 40% memiliki pengetahuan kurang. Sikapsiswa terhadap pengelolaan kesehatan mental sebanyak 58,33% memiliki sikap tidak mendukung. Persepsi tentang layanan konsultasi kesehatan mental di sekolah 45% memiliki perspektif negatif,  dan perilaku tentang koping mekanisme dari suatu keadaan 46,66%  siswa tidak melakukan perilaku yang baik. Tujuan dari kegiatan ini diharapkan adanya peningkatan pengetahuan, sikap, persepsi dan perilaku siswa dalam pengelolaan kesehatan mental pada remaja  di SMAN Jatinangor. Metode kegiatan yang digunakan adalah sosialisasi tentang pengelolaan kesehatan mental pada remaja di SMAN Jatinangor. Jumlah peserta yang hadir sebanyak 35 siswa. Hasil kegiatan menunjukkan rata-rata nilai hasil prestest sebesar 55,73 poin dan rata rata nilai posttest sebesar 77,85 poin. Kesimpulan ada peningkatan pengetahuan setelah dilakukan penyuluhan  kesehatan sebesar 22,12 poin. Rencana tidak lanjut yang disepakati sekolah adalah pemberdayaan guru Bimbingan dan Konseling dalam penanganan siswa yang mengalami masalah kesehatan mental.   Kata Kunci: Kesehatan mental, Sosialisasi, Siswa.  ABSTRACT Adolescence is a transitional period, marked by physical, mental, social, and emotional changes. Adolescence often faces mental health issues. Mental health is an aspect that receives less attention among school students, such as academic stress. Adolescent mental health in school students is influenced by various factors such as high academic loads, demands for achievement, and exam preparation. This is a cause of stress in adolescents that is often not recognized even though it has a significant impact on their quality of life. This condition is possibly due to adolescents' lack of understanding about mental health, so they do not try to seek professional help. The results of a survey conducted at a high school in Jatinangor showed that 40% of students had insufficient knowledge about mental health. 58.33% of students' attitudes towards mental health management were unsupportive. Perceptions about mental health consultation services in schools were 45% negative, and behaviors regarding coping mechanisms for a situation were 46.66% of students did not behave well. The aim of this activity is to increase students' knowledge, attitudes, perceptions, and behavior in managing mental health in adolescents at Jatinangor High School. The activity method used was socialization about mental health management in Jatinangor High School. A total of 35 students attended. The activity results showed an average pre-test score of 55.73 points and an average post-test score of 77.85 points. The conclusion was that there was a 22.12 point increase in knowledge after the health education. The school's agreed-upon follow-up plan is to empower guidance and counseling teachers to handle students experiencing mental health issues. Keywords: Mental Health, Socialization, Students.
Pengelolaan Sampah yang Produktif bagi Masyarakat Kelurahan Sukamentri Kabupaten Garut Udin Rosidin; Iwan Shalahuddin; Ahmad Yamin; Mamat Lukman
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 1 (2026): Volume 9 Nomor 1 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i1.23325

Abstract

ABSTRAK Indonesia saat ini menghadapi berbagai masalah kesehatan masyarakat seperti muncul penyakit infeksi baru serta munculnya kembali penyakit infeksi lama, penyakit menular yang belum tertangani secara optimal, dan peningkatan jumlah kasus penyakit tidak menular (PTM).  Permasalahan tersebut, dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya faktor perilaku dan faktor lingkungan.  Selain itu munculnya permasalahan kesehatan juga diakibatkan oleh kondisi demografi seperti persoalan sampah. Hasil survey yang dilaksanakan di Kelurahan Sukamentri, menunjukan ibu rumah tangga yang membuang sendiri ke TPS sebanyak 61.5%, dibuang ke sungai sebanyak  11.8%, ditimbun sebanyak 0.1%,dibakar sendiri sebanyak 2.4%, dan diangkat petugas sebanyak  24.2%.  Terkait data pemilahan sampah rumah tangga sebanyak 91.6 % tidak melakukan pemilahan sampah dirumah tangganya. Hal itu terjadi dikarenakan rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang perilaku pengelolaan sampah yang produktif di Kelurahan Sukamentri. Metode kegiatan yang digunakan adalah edukasi kesehatan masyarakat tentang perilaku pengelolaan sampah yang produktif. Jumlah peserta yang hadir sebanyak 76 orang ibu rumah tangga. Hasil kegiatan menunjukkan rata-rata nilai hasil prestest sebesar 42,7 poin dan rata rata nilai posttest sebesar 67,9 poin. Kesimpulan ada peningkatan pengetahuan setelah dilakukan penyuluhan  kesehatan sebesar 25,2 poin. Rencana tidak lanjut yang disepakati adalah memotivasi masyarakat untuk bergabung dengan bank sampah yang ada di Kelurahan Sukamentri.                                                                                                                                          Kata Kunci: Edukasi, Pengelolaan Sampah Produktif, Masyarakat.  ABSTRACT Introduction. Indonesia currently faces various public health problems such as the emergence of new infectious diseases and the re-emergence of old infectious diseases, infectious diseases that have not been optimally handled, and an increase in the number of non-communicable diseases (NCDs). These problems are influenced by various factors, including behavioral and environmental factors. In addition, the emergence of health problems is also caused by demographic conditions such as waste issues. The results of a survey conducted in Sukamentri Village, showed that 61.5% of housewives disposed of their own waste at the TPS, 11.8% threw it into the river, 0.1% buried it, 2.4% burned it, and 24.2% were collected by officers. Regarding household waste sorting data, 91.6% did not sort waste in their households. This occurred due to low public knowledge and awareness of the importance of health. The purpose of this activity was to increase public knowledge about productive waste management behavior in Sukamentri Village. The activity method used was public health education about productive waste management behavior. The number of participants who attended was 76 housewives. The results of the activity showed an average pre-test score of 42.7 points and an average post-test score of 67.9 points. The conclusion was that there was a 25.2 point increase in knowledge after the health education. The agreed-upon follow-up plan is to motivate the community to join the waste bank in Sukamentri Village. Keywords: Education, Productive Waste Management, Community.
Pemberdayaan Siswa dalam Pembentukan PHBS Sekolah di Madrasah Aliyah 19 Persis Bentar-Garut Udin Rosidin; Witdiawati Witdiawati
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 1 (2026): Volume 9 Nomor 1 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i1.23196

Abstract

ABSTRAK Kesehatan siswa memiliki peran penting dalam mendukung keberhasilan proses belajar-mengajar di sekolah. Lingkungan sekolah yang sehat tidak hanya berkontribusi pada prestasi akademik siswa, tetapi juga pada pembentukan generasi muda yang sehat, produktif, dan berkualitas. Keperawatan kesehatan sekolah sebagai pendekatan pelayanan kesehatan di sekolah bertujuan untuk mendukung peningkatan kesehatan siswa melalui upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Namun kenyataannya, masih banyak siswa yang menghadapi berbagai permasalahan kesehatan. Berdasarkan data yang diperoleh di MA Persis 19 Bentar Garut, sebagian besar siswa memiliki perilaku hidup bersih dan sehat yang kurang, perilaku buang sampah yang buruk, hampir setengahnya siswa putri memiliki pengetahuan yang rendah terkait anemia. Keadaan tersebut menunjukan rendahnya partisipasi siswa dalam pembentukan PHBS sekolah. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan siswa dalam pembentukan PHBS sekolah di MA 19 Persis Bentar Garut. Metode kegiatan yang digunakan adalah pemberdasayaan siswa dalam pembentukan PHBS sekolah. Jumlah peserta yang hadir sebanyak 263 siswa. Hasil kegiatan menunjukkan rata-rata nilai hasil prestest sebesar 64,19 poin dan rata rata nilai posttest sebesar 86,96 poin. Kesimpulan ada peningkatan pengetahuan setelah dilakukan penyuluhan  kesehatan sebesar 25,77 poin. Rencana tidak lanjut yang disepakati adalah menyusun kebijakan dan peraturan sekolah sebagai pedoman  pelaksanaan PHBS sekolah, mengaktifkan kembali program UKS, pelatihan Duta remaja sehat dan pengelolaan sampah.  Kegiatan yang sudah  direncanakan diharapkan dapat dilanjutkan oleh sekolah bekerjasama dengan puskesmas sebagai pembina wilayah.                                                                                                                                          Kata Kunci: Pemberdayaan, PHBS Sekolah, Siswa.  ABSTRACT Student health plays an important role in supporting the success of the teaching and learning process in schools. A healthy school environment not only contributes to students' academic achievement but also to the formation of a healthy, productive, and quality young generation. School health nursing as a health service approach in schools aims to support the improvement of student health through promotive, preventive, curative, and rehabilitative efforts. However, in reality, many students still face various health problems. Based on data obtained at MA Persis 19 Bentar Garut, most students have poor clean and healthy living behaviors, poor waste disposal behavior, almost half of female students have low knowledge regarding anemia. This situation indicates low student participation in the formation of PHBS schools. The purpose of this community service activity is to increase student knowledge in the formation of PHBS schools at MA 19 Persis Bentar Garut. The activity method used is student empowerment in the formation of PHBS schools. The number of participants who attended was 263 students. The results of the activity showed an average pre-test score of 64.19 points and an average post-test score of 86.96 points. The conclusion was that there was a 25.77-point increase in knowledge after the health education. The agreed-upon follow-up plans include developing school policies and regulations to guide the implementation of PHBS (Healthy Living Behavior), reactivating the UKS program, training Healthy Youth Ambassadors, and managing waste. The planned activities are expected to be continued by the school in collaboration with the community health center (Puskesmas) as the regional supervisor. Keywords: Empowerment, School PHBS, Students.
Art Therapy dan Terapi Aktifitas Kelompok dalam Mengurangi Tingkat Depresi pada Lansia di Panti Wredha Garut Nina Sumarni; Udin Rosidin
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 2 (2026): Volume 9 Nomor 2 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i2.23719

Abstract

ABSTRAK Depresi pada lansia, khususnya yang tinggal di panti, sering dipicu oleh kesepian, keterbatasan fisik, dan rendahnya dukungan sosial. Intervensi berbasis seni, seperti Art Therapy dan Terapi Aktivitas Kelompok (TAK), berpotensi menurunkan gejala depresi. Skrining menggunakan Geriatric Depression Scale (GDS) pada 63 lansia di Griya Lansia Garut menunjukkan 61,9% tidak depresi, 28,6% depresi ringan, 7,9% sedang, dan 1,6% berat, yang mengindikasikan perlunya intervensi psikososial. Program manajemen kesehatan dilaksanakan secara partisipatif melalui TAK melukis dengan musik, terapi musik, edukasi bagi 16 pegawai panti, serta rujukan lansia dengan depresi sedang–berat ke layanan kejiwaan. Hasil pretest–posttest GDS menunjukkan perbaikan kondisi mental, ditandai dengan meningkatnya jumlah lansia tanpa depresi (23 menjadi 34 orang) dan menurunnya depresi ringan (14 menjadi 8 orang), serta peningkatan skor pengetahuan pegawai (90 menjadi 98). Lansia menunjukkan respons emosional positif, peningkatan interaksi sosial, dan relaksasi. Intervensi ini efektif menurunkan gejala depresi dan meningkatkan kesejahteraan emosional lansia, serta berpotensi menjadi program berkelanjutan. Panti disarankan meningkatkan frekuensi dan variasi terapi, menyediakan fasilitas seni–musik, serta melatih pegawai dalam intervensi psikososial. Dukungan lintas sektor diperlukan melalui kebijakan, pendanaan, skrining depresi rutin, dan pelatihan tenaga kesehatan, dengan keterlibatan keluarga dan masyarakat. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan desain longitudinal dan uji acak terkontrol berbasis komunitas untuk memperkuat generalisasi temuan.  Kata Kunci: Depresi Lansia, Terapi Aktivitas Kelompok, Art Therapy, Terapi Musik, Griya Lansia Garut.  ABSTRACT Depression among older adults, particularly those residing in nursing homes, is often triggered by loneliness, physical limitations, and low levels of social support. Art-based interventions, such as Art Therapy and Group Activity Therapy (Terapi Aktivitas Kelompok/TAK), have the potential to reduce depressive symptoms. Screening using the Geriatric Depression Scale (GDS) among 63 older adults at Griya Lansia Garut showed that 61.9% were not depressed, 28.6% had mild depression, 7.9% moderate depression, and 1.6% severe depression, indicating a need for psychosocial interventions.A participatory health management program was implemented through group painting with music, music therapy, education for 16 nursing home staff members, and referrals of older adults with moderate to severe depression to mental health services. Pretest–posttest GDS results demonstrated improvements in mental health, reflected by an increase in the number of non-depressed participants (from 23 to 34) and a decrease in mild depression (from 14 to 8), along with improved staff knowledge scores (from 90 to 98). Older adults showed positive emotional responses, enhanced social interaction, and relaxation. This intervention was effective in reducing depressive symptoms and improving emotional well-being among older adults, with potential for development as a sustainable program. Nursing homes are encouraged to increase the frequency and variety of therapeutic activities, provide art and music facilities, and train staff in psychosocial interventions. Cross-sectoral support is needed through policies, funding, routine depression screening, and health worker training, with the involvement of families and communities. Future research is recommended to employ longitudinal designs and community-based randomized controlled trials to strengthen the generalizability of the findings. Keywords: Depression in Older Adults, Group Activity Therapy, Art Therapy, Music Therapy, Griya Lansia Garut.
Pencegahan Faktor Resiko Anemia Pada Remaja Putri dan Wanita Usia Subur di Dusun Cinenggang Desa Cileles Jatinangor Udin Rosidin; Iwan Shalahuddin; Ahmad Yamin; Nina Sumarni
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 7 (2026): Volume 9 Nomor 7 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i7.26500

Abstract

ABSTRAK Masalah kesehatan masyarakat yang masih menjadi perhatian saat ini khususnya pada   remaja putri dan wanita usia subur adalah anemia. Anemia merupakan masalah kesehatan yang dapat menimbulkan dampak melemahnya imunitas dan kerentanan infeksi. Kejadian anemia seringkali terjadi dan tidak dirasakan. Hasil survey yang dilaksanakan mahasiswa di RT 01 RW 04 Dusun Cinenggang Desa Cileles Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang mendapatkan data bahwa 63,3% responden diantaranya mengaku tidak merasakan keluhan kesehatan apapun. Pemeriksaan kadar hemoglobin belum merata, 43,3% responden pernah memeriksakan Hb dan 56,6% belum pernah. Sebanyak 20% responden mengalami sering lemas, 43,3% mengalami pusing, 20% mudah lelah, dan 30% mudah mengantuk. Konsumsi tablet tambah darah sangat rendah, hanya 10% yang mengkonsumsi secara rutin. Analisa tim pengabdian, hal ini diakibatkan karena rendahnya pengetahuan remaja putri dan wanita usia subur tentang faktor resiko anemia. Berdasarkan permasalahan tersebut, tim pengabdian masyarakat melakukan penyuluhan kesehatan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan remaja putri dan wanita usia subur tentang faktor risiko anemia. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan remaja putri dan wanita usia subur tentang faktor risiko anemia sebesar 18 poin dan peningkatan responden yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 37,5%. Kegiatan yang sudah dilaksanakan diharapkan dapat berkelanjutan secara mandiri sehingga para remaja putri dan wanita usia subur dapat hidup sehat sesuai siklus kehidupannya.  Kata Kunci: Faktor Risiko Anemia, Remaja Putri, Wanita Usia Subur.  ABSTRACT Anemia is a public health issue that remains a concern, particularly among adolescent girls and women of childbearing age. Anemia is a health problem that can weaken immunity and increase susceptibility to infection. Anemia often goes unnoticed. A survey conducted by students in RT 01 RW 04, Cinenggang Hamlet, Cileles Village, Jatinangor District, Sumedang Regency, found that 63.3% of respondents reported not experiencing any health problems. Hemoglobin level testing is not widespread; 43.3% of respondents have had their Hb checked, while 56.6% have not. Twenty percent of respondents experience frequent weakness, 43.3% experience dizziness, 20% tire easily, and 30% experience drowsiness. Consumption of iron supplements is very low, with only 10% taking them regularly. The community service team's analysis indicates that this is due to the low knowledge of adolescent girls and women of childbearing age about the risk factors for anemia. Based on these issues, the community service team conducted health education. This activity aims to increase the knowledge of adolescent girls and women of childbearing age about the risk factors for anemia. Results showed an 18-point increase in knowledge of adolescent girls and women of childbearing age about anemia risk factors, and a 37.5% increase in respondents with good knowledge. It is hoped that the activities implemented will be sustainable independently so that adolescent girls and women of childbearing age can live healthy lives according to their life cycle. Keywords: Anemia Risk Factors, Adolescent Girls, Women Of Childbearing Age.
Pengaruh Aktivitas Fisik Terhadap Penurunan Berat Badan Usia Pertengahan yang Mengalami Obesitas di Tatanan Keluarga: Scoping Review Iwan Shalahuddin; Udin Rosidin; Theresia Eriyani; Sandra Pebrianti
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 7 (2026): Volume 8 Nomor 7 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i7.25549

Abstract

ABSTRACT Midlife obesity is a health issue that increases the risk of non-communicable diseases and reduces quality of life. Physical activity plays an important role in weight control, but its effectiveness is influenced by the immediate environment, particularly the family. Family structure contributes to shaping active living behaviors and the sustainability of lifestyle changes. This scoping review aims to map the scientific evidence regarding the influence of physical activity on weight loss in middle-aged individuals experiencing obesity within a family setting. A scoping review was conducted based on the Arksey and O'Malley framework. Literature search was conducted thru PubMed, Scopus, and Google Scholar for articles from the last ten years. Inclusion criteria include studies on middle-aged individuals with obesity, physical activity interventions, weight loss outcomes, and family involvement. Data were analyzed descriptively and narratively. The review findings indicate that regular physical activity with moderate intensity to a combination of aerobic and strength training is effective in reducing weight in middle-aged individuals. Family-based approaches have proven to be more effective than individual approaches. Physical activity has a positive impact on weight loss in middle-aged individuals with obesity, especially when supported by family structure. A family-based approach is recommended in efforts to prevent and manage obesity at the family and community levels. Keywords: Physical Activity, Obesity, Middle Age, Weight Loss, Family Setting.  ABSTRAK Obesitas pada usia pertengahan merupakan masalah kesehatan yang meningkatkan risiko penyakit tidak menular dan menurunkan kualitas hidup. Aktivitas fisik berperan penting dalam pengendalian berat badan, namun efektivitasnya dipengaruhi oleh lingkungan terdekat, khususnya keluarga.Tatanan keluarga berkontribusi dalam membentuk perilaku hidup aktif dan keberlanjutan perubahan gaya hidup. Scoping review ini bertujuan untuk memetakan bukti ilmiah mengenai pengaruh aktivitas fisik terhadap penurunan berat badan pada individu usia pertengahan yang mengalami obesitas dalam tatanan keluarga. Scoping review dilakukan berdasarkan kerangka Arksey dan O’Malley. Pencarian literatur dilakukan melalui PubMed, Scopus, dan Google Scholar terhadap artikel sepuluh tahun terakhir. Kriteria inklusi meliputi penelitian pada usia pertengahan dengan obesitas, intervensi aktivitas fisik, luaran penurunan berat badan, serta keterlibatan keluarga. Data dianalisis secara deskriptif dan naratif. Hasil telaah menunjukkan bahwa aktivitas fisik teratur dengan intensitas sedang hingga kombinasi latihan aerobik dan kekuatan efektif menurunkan berat badan pada usia pertengahan. Pendekatan berbasis keluarga terbukti lebih efektif dibandingkan pendekatan individual. Aktivitas fisik berpengaruh positif terhadap penurunan berat badan pada usia pertengahan dengan obesitas, terutama bila didukung oleh tatanan keluarga. Pendekatan berbasis keluarga direkomendasikan dalam upaya pencegahan dan pengelolaan obesitas di tingkat keluarga dan komunitas. Kata Kunci: Aktivitas Fisik, Obesitas, Usia Pertengahan, Penurunan Berat Badan, Tatanan Keluarga.
Co-Authors Aat Sriati Adelse Prima Mulya Adelse Prima Mulya Ahmad Yamin Ahmad Yamin Ajeng Fajriati Nurul Fatimah Alam, Ismailah Anggi Putri Ariyani Anggi Putri Ariyani Anggi Putri Ariyani Ariyani, Anggi Putri Astiani, Santi Aulia, Syifa Nurul Avrilia Roroarta Wahyuni Purba Cah Soniman Nitema Gea Cecep Eli Kosasih Citra Sari Citra Windani M.S Dadang Purnama Desy Indra Yani Ema Arum R. Ema Arum Rukmasari Erita Cahya Purnama Erna Herawati Fatmaningsih, Nurul Khotimah Fauziyah, Shafira Fitri Furkon Nurhakim Furkon Nurhakim Habsyah Saparidah Agustina Haelena Wibowo, Gita Amoria Hartiah Haroen Harun, Hasniatisari Hendrawati Hendrawati Hendrawati Hendrawati Hendrawati Hendrawati Iceu Amira Iceu Amira Iceu Amira D.A Iceu Amira DA Ikeu Nurhidayah Indra Maulana Indra Maulana Indra Maulana Indra Maulana` Indra Maulana Iqbal Pramukti Iwan Shalahhudin Iwan Shalahuddin Iwan Sholahhudin Iwan Sholahuddin Iwan Sholahudin Iwan Sholahudin Iwan Suhendar Iyus Yosep Jatiningtyas, Kurnia Jemi Rahmani A Jemi, Jemi Rahmani A Kosim Kosim Kurniawan Yudianto Kusman Ibrahim Laili Rahayuwati Lisfa Asifah Luthfi, Wazirul Luthfiyani, Nida M Noor, Rohmahalia Mamat Lukman Mariah Komariah Maziyya, Nur Mediawati, Ati Surya Meita Dhamayanti Mira Trisyani Mohammad Abdul Mubaroq, Bagja Al Neti Juniarti Nida Luthfiyani Nida Luthfiyani Nida Luthfiyani Nina Sumarni Noor, Rohmahalia M. Noor, Rohmahallia M Pristasari, Sheizi R, Ema Arum Rahmawati, Sephia Raini Diah Susanti Rohmahalia M Noor Rohmahalia M Noor Rohmahalia M Noor Rohmahalia M Noor Rohmahalia M Noor Rohmahalia M. Noor Rohmahalia M. Noor Rohmahalian M. Noor Rohman Hikmat Ryan Hara Permana Sandra Pebrianti Sandra Pebrianti Sandra Restuti Sena Yudipaty Setiawan Setiawan Setiawan Setiawan Setiawan Setiawan, Sobur Shalahhudin, Iwan Sholahudin, Iwan Siti Mutia Kosassy Situ Yuyun Rahayu Fitri Sobur Setiawan Sopia Marlina Sri Amanda Sri Hendrawati Sukma Senjaya Sukmawati Sukmawati Sukmawati Sukmawati Sumarna, Umar Sumarna, Umar Sumarna, Umar Suryani Suryani Syifa Nabilla Putri Taty Hernawaty Tetti Solehati Theresia Eriyani Umar Sumarna Umar Sumarna Umar Sumarna Umar Sumarna Umar Sumarna Umar Sumarna Umar Sumarna Umar Sumarna Umar Sumarna Umar Sumarna Windani, Citra Witdiawati Witdiawati Witdiawati Witdiawati Witdiawati Witdiawati Witdiawati Witdiawati, Witdiawati Witdiawati, Witidiawati Yuli Yani