p-Index From 2021 - 2026
8.881
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Representasi Standar Kecantikan dalam Film Imperfect: Implikasi Sosial, Kesehatan Mental, dan Kesetaraan Gender Wishelda Izdihar, Damara; Dimisyqiyani, Erindah; Amaliyah, Amaliyah; Amalia Sinulingga, Rizky; Gayuh Aji, Gagas
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5451

Abstract

ABSTRAK Standar kecantikan merupakan konstruksi sosial yang dibentuk oleh budaya dan media massa, yang menekan perempuan untuk memenuhi kriteria fisik ideal. Tekanan ini menciptakan pandangan seragam tentangpenampilan, sekaligus merusak kesehatan mental, penerimaan diri, serta memperdalam ketidakadilan gender dan diskriminasi sosial. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi standar kecantikan dalam film Imperfect, mengungkap simbolisme serta ideologi di baliknya, dan dampaknya terhadap kesehatan mental serta relasi sosial perempuan. Analisis dilakukan melalui pemeriksaan elemen visual, dialog, dan narasi terkait pembentukan kecantikan. Hasilnya menunjukkan bahwa film Imperfect menggambarkan tekanan sosial lewat body shaming, perubahan fisik, dan perbedaan perlakuan terhadap tokoh utama. Film ini juga menyoroti penerimaan dan cinta diri sebagai bentuk penolakan terhadap standar kecantikan yang diskriminatif. Temuantersebut menegaskan peran film sebagai alat refleksi dan pendidikan untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental, kesetaraan gender, dan penghargaan atas keragaman fisik. ABSTRACT Beauty standards are a social construct shaped by culture and mass media, which pressures women to meet ideal physical criteria. This pressure creates a uniform view of appearance, while undermining mental health, self-acceptance, and deepening gender injustice and social discrimination. This study aims to analyze the representation of beauty standards in the film Imperfect, uncover the symbolism and ideology behind it, and itsimpact on women's mental health and social relations. The analysis was carried out through the examination of visual elements, dialogues, and narratives related to the formation of beauty. The results show that the film Imperfect depicts social pressure through body shaming, physical changes, and different treatment of the main character. The film also highlights acceptance and self-love as a form of rejection of discriminatory beauty standards. The findings affirm the role of film as a tool for reflection and education to raise awareness about mental health, gender equality, and appreciation for physical diversity.
Representasi Transformasi Emosional dan Tanggung Jawab Sosial dalam Perjalanan Karakter Molly Gunn dalam Film Uptown Girls Marischa Resmana, Sheila; Bilqis Kinanti, Amara; Dimisyqiyani, Erindah; Amaliyah, Amaliyah; Amalia Sinulingga, Rizky; Gayuh Aji, Gagas
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5454

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini mengkaji representasi transformasi emosional dan tanggung jawab sosial dalam perjalanan karakter Molly Gunn dalam film Uptown Girls (2003). Fokus analisis tertuju pada bagaimana narasi dan elemen visual film menggambarkan perkembangan emosional Molly dari ketidakdewasaan menuju kedewasaan yang ditandai dengan empati dan kepedulian sosial. Pendekatan kualitatif dengan metode analisis naratif dan semiotik digunakan untuk mengidentifikasi dinamika karakter melalui adegan-adegan kunci. Penelitian ini menemukan bahwa hubungan Molly dengan Ray, seorang anak dengan trauma emosional, menjadi katalis bagi pertumbuhan emosinya, mencerminkan nilai-nilai emotional intelligence dan tanggung jawab sosial. Transformasi ini diperkuat oleh penggambaran realistis emosi melalui akting dan narasi visual, yang resonansinyadapat memengaruhi pemahaman penonton tentang moralitas dan empati. Studi ini menegaskan peran film sebagai medium untuk merefleksikan perkembangan psikologis dan sosial individu, khususnya dalam konteks perempuan. ABSTRACT This study examines the representation of emotional transformation and social responsibility in the journey of Molly Gunn's character in the film Uptown Girls (2003). The focus of the analysis is on how the film's narrative and visual elements depict Molly's emotional development from immaturity to maturity, marked by empathy and social awareness. A qualitative approach using narrative and semiotic analysis methods is used to identify character dynamics through key scenes. This study finds that Molly's relationship with Ray, a child with emotional trauma, becomes a catalyst for her emotional growth, reflecting the values of emotional intelligence and social responsibility. This transformation is reinforced by the realistic portrayal of emotions through acting and visual narrative, whose resonance can influence the audience's understanding of morality and empathy. This study affirms the role of film as a medium for reflecting on individual psychological and social development, particularly in the context of women.
Nilai Kepemimpinan Visioner dalam Memperjuangkan Keadilan pada Film Miracle in Cell No.7 Eka Setyawati, Riska; Amalia Sinulingga, Rizky; Amaliyah, Amaliyah; Wardani, Nazhifah
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5459

Abstract

ABSTRAK Kepemimpinan adalah bentuk kemampuan individu dalam memengaruhi, mengarahkan, serta menggerakkan orang lain demi mencapai tujuan bersama. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk kepemimpinan visioner oleh tokoh Kartika, termasuk bagaimana ia merancang visi serta langkah strategis dalam memperjuangkan keadilan bagi ayahnya. Serta mengetahui keberanian dan komitmen Kartika dalam menegakkan kebenaran. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian metode kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan pada penelitian ini yaitu observasi pengamatan mendalam melalui film dan dokumentasi dengan berupa tangkapan layar dari film untuk memperkuat hasil observasi yang telah dilakukan. Hasil penelitian ini berupa dialog percakapan, gambar scene, argumen dari penulis, serta karakteristik kepemimpinan visionerkarakter Kartika yang terdapat pada film. Film Miracle in Cell No.7 merupakan film drama yang mengisahkan perjuangan seorang ayah bernama Dodo Rozak yang mengalami ketidakadilan hukum, serta perjuangan putrinya Kartika yang berusaha membersihkan nama ayahnya. Kartika menggambarkan sebagai seorang anak yang sejak kecil menyaksikan ketidakadilan yang menimpa ayahnya. Tetapi pada saat dewasa, ia tumbuh menjadi sosok yang berani dan memiliki visi yang jelas yaitu menegakkan keadilan dan mengungkap kebenaran yang selama ini tertutup. ABSTRACT Leadership is an individual's ability to influence, direct, and motivate others to achieve common goals. This study aims to describe the forms of visionary leadership exhibited by Kartika, including how she developed her vision and strategic steps in fighting for justice for her father. It also aims to examine Kartika's courage and commitment in upholding the truth. This research uses a descriptive qualitative research method. The data collection technique in this study is in-depth observation through films and documentation in the form of screenshots from the film to reinforce the results of the observations that have been made. The results of this study are in the form of dialogue, scene images, arguments from the author, and the characteristics of Kartika's visionary leadership in the film. Miracle in Cell No. 7 is a drama film that tells the story of the struggle of a father named Dodo Rozak who experiences legal injustice, as well as the struggle of his daughter Kartika who tries to clear her father's name. Kartika is portrayed as a child who has witnessed the injustice that has befallen her father since she was little. However, as an adult, she grows into a courageous figure with a clear vision of upholding justice and revealing the truth that has been hidden all this time.
Pembentukan Karakter Kepemimpinan Melalui Pengalaman Hidup Mufasa Pada Film Mufasa: The Lion King (2024) Putri Nayla Zahra, Shafira; Gayuh, Gagas; Amaliyah, Amaliyah; Wardani, Nazhifah
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5463

Abstract

ABSTRAK Kepemimpinan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan dalam menyusun strategi, tetapi juga dipengaruhi oleh karakter yang terbentuk melalui pengalaman hidup. Nilai seperti integritas, keberanian, dan keteladanan menjadi dasar penting yang memungkinkan terciptanya kepemimpinan yang otentik dan mampu memberikan pengaruh positif. Namun, kenyataannya banyak pemimpin justru lahir dari warisan kekuasaan atau kedudukan keluarga, sehingga proses pembentukan karakter seringkali diabaikan. Dari kenyataan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pengalaman hidup Mufasa dalam film Mufasa: The Lion King (2024) membentukkarakter kepemimpinan otentik, serta menelaah ketercerminan komponen self-awareness, relational transparency, balanced processing, dan internalized moral perspective dalam perjalanan hidup tokoh utama. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui observasi non-partisipan terhadap adegan film, dokumentasi transkrip dialog, serta penguatan dari literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman hidup yang penuh kehilangan, tekanan, dan konflikjustru menjadi dasar pembentukan kepemimpinan otentik. Kesadaran diri tercermin dalam pengakuan jati diri, keterbukaan tampak melalui ungkapan perasaan kehilangan, kemampuan menimbang secara adil terlihat pada ajakan kolaborasi antar spesies, dan konsistensi moral diperlihatkan dengan sikap menolak tunduk padakejahatan. Nilai integritas, keberanian, serta keteladanan yang muncul dari perjalanan hidup tersebut menegaskan bahwa kepemimpinan otentik terbentuk dari proses panjang, bukan dari garis keturunan ataupun status semata. ABSTRACT Leadership is not only determined by the ability to develop strategies, but is also influenced by character formed through life experiences. Values such as integrity, courage, and exemplary behavior are important foundations that enable the creation of authentic leadership capable of exerting a positive influence. However, in reality, many leaders are born into positions of power or family status, so the process of character building is often neglected. Given this reality, this study aims to analyze how Mufasa's life experiences in the film Mufasa: The Lion King (2024) shape his authentic leadership character, as well as to examine the reflection of the components of selfawareness,relational transparency, balanced processing, and internalized moral perspective in the main character's life journey. The research method used is qualitative with a descriptive approach through non-participant observation of film scenes, documentation of dialogue transcripts, and reinforcement from related literature. The results show that life experiences full of loss, pressure, and conflict, actually form the basis of authentic leadership. Self-awareness is reflected in the recognition of identity, openness is seen through the expression of feelings of loss, the ability to weigh things fairly is seen in the call for collaboration between species, and moral consistency is shown by the refusal to submit to evil. The values of integrity, courage, and exemplary behavior that emerge from this life journey, confirm that authentic leadership is formed through a long process,not solely through lineage or status.
Implementasi Nilai Budaya Keluarga dalam Membentuk Pola Kepemimpinan: Studi Kasus pada Film Coco Virelita Maharani, Armaniella; Amalia Sinulingga, Rizky; Amaliyah, Amaliyah; Wardani, Nazhifah
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5485

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana nilai budaya keluarga berperan dalam membentuk pola kepemimpinan tokoh-tokoh utama dalam film Coco (2017), serta bagaimana dilema antara aspirasi pribadi dan tradisi keluarga memengaruhi dinamika kepemimpinan keluarga Rivera. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik observasi dan dokumentasi, yaitu melalui peninjauan adegan, dialog, serta simbol visual dalam film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Abuelita merepresentasikan kepemimpinan otoriter dengan menekankan kepatuhan penuh demi menjaga tradisi, sementara Miguel menampilkankepemimpinan inklusif yang berusaha menjembatani impiannya menjadi musisi dengan nilai budaya keluarga. Konflik antar generasi yang terjadi menggambarkan dilema antara mempertahankan tradisi dan mengikuti aspirasi pribadi, namun akhirnya harmoni tercapai melalui kepemimpinan yang berakar pada kasih sayang keluarga. Temuan ini menegaskan bahwa nilai budaya keluarga memiliki peran fundamental dalam membentuk gaya kepemimpinan, serta relevan dengan agenda global SDG 5 yaitu Kesetaraan Gender dan SDG 11 yakni Kota dan Komunitas Berkelanjutan. ABSTRACT This study aims to analyze how family cultural values contribute to shaping the leadership patterns of the main characters in the film Coco (2017) and how the dilemma between personal aspirations and family tradition affects leadership dynamics within the Rivera family. A descriptive qualitative approach was employed, using observation and documentation techniques to examine key scenes, dialogues, and visual symbols in the film. Findings indicate that Abuelita embodies authoritarian leadership by insisting on strict compliance to preserve family traditions, whereas Miguel demonstrates inclusive leadership by attempting to reconcile his musical aspirations with familial values. The intergenerational conflict depicted in the film illustrates the tension between maintaining tradition and pursuing individual aspirations, yet ultimately harmony is restored through leadership rooted in familial care and affection. These results underscore the fundamental role of family cultural values in shaping leadership styles and highlight the findings’ relevance to global agendas such as SDG 5 (Gender Equality) and SDG 11 (Sustainable Cities and Communities).
Kecerdasan Emosional Pemimpin dalam Mengelola Konflik: Kajian Naratif pada Karakter Nelson Mandela dalam Film Invictus. Fahria Herlambang, Ivan; Fikri, Muhammad; Dimisyqiyani, Erindah; Amaliyah, Amaliyah; Amalia Sinulingga, Rizky; Gayuh Aji , Gagas
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5494

Abstract

ABSTRAK Melalui analisis naratif kualitatif terhadap film Invictus, penelitian ini menyelidiki signifikansi kecerdasan emosional dalam praktik kepemimpinan. Fokus kajian ini adalah pada karakter Nelson Mandela dan strateginya dalam memimpin rekonsiliasi pasca-apartheid di Afrika Selatan. Dengan memeriksa secara mendalam alur cerita, dialog, dan adegan-adegan kunci, penelitian ini mengidentifikasi bagaimana kompetensi emosional termasuk empati, kesadaran diri, regulasi emosi, dan keterampilan sosial berperan penting bagi keberhasilan Mandela dalam menavigasi konflik sosial yang kompleks. Temuan menunjukkan bahwa pendekatan kepemimpinan transformasional Mandela, yang berlandaskan pada prinsip pengampunan, rekonsiliasi, dan tujuan bersama, secara efektif mempersatukan bangsa yang terfragmentasi serta membangun perdamaian dan solidaritas nasional. Studi ini menyimpulkan bahwa kapasitas emosional adalah krusial bagi para pemimpin yang menghadapi dinamika konflik dan perubahan sosial, serta merekomendasikan agar pengembangan kecerdasan emosional diprioritaskan sebagai kompetensi inti untuk kepemimpinan yang efektif di semua tingkatan, baik organisasi maupun nasional. ABSTRACT Through a qualitative narrative analysis of the film Invictus, this study investigates the significance of emotionalintelligence in leadership practice. The focus of the study is on the character of Nelson Mandela and his strategy in leading post-apartheid reconciliation in South Africa. By closely examining the plot, dialogue, and key scenes, this research identifies how emotional competencies including empathy, self-awareness, emotion regulation, and social skills were instrumental to Mandela's success in navigating complex social conflict.The findings indicatethat Mandela's transformational leadership approach, which was grounded in the principles of forgiveness, reconciliation, and common goals, effectively united a fragmented nation and built national peace and solidarity. The study concludes that emotional capacity is crucial for leaders facing the dynamics of conflict and social change, and recommends that the development of emotional intelligence be prioritized as a core competencyfor effective leadership at all levels, both organizational and national.
Interpretasi Kepemimpinan Transformasional Sultan Agung dalam Memotivasi Rakyat pada Film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta Anatasya Permatha Bayu, Jezicka; Bilqis Kinanti, Amara; Amaliyah, Amaliyah; Dimisyqiyani, Erindah; Amalia Sinulingga, Rizky; Gayuh Aji, Gagas
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5500

Abstract

ABSTRAK Kepemimpinan berperan penting dalam mendorong anggota untuk bekerja keras demi mencapai tujuan organisasi, yang tidak hanya melibatkan kekuasaan, tetapi juga proses pengarahan, motivasi, dan pembentukan kerja sama tim untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Meskipun demikian, sebagian besar penelitian tentang kepemimpinan lebih terfokus pada konteks modern atau organisasi kontemporer, sementara kajian mengenai nilai-nilai kepemimpinan historis melalui media budaya film masih jarang dieksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai kepemimpinan Sultan Agung yang tercermin dalam film. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif, yang lebih menekankan pada pemahaman makna dan interpretasi terhadap gaya kepemimpinan Sultan Agung yang ditampilkan dalam film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sultan Agung menerapkan gaya kepemimpinan transformasional yangberfokus pada visi jangka panjang, kemampuan memotivasi, keberanian dan ketegasan, serta perhatian terhadap kesejahteraan rakyatnya. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman bahwa film dapat menjadi sarana edukasi kepemimpinan yang inspiratif. Kajian lanjutan dapat menggali lebih dalam mengenai media budaya lainnya, selain film, yang dapat digunakan sebagai sarana edukasi kepemimpinan. ABSTRACT Leadership plays a crucial role in encouraging members to work hard to achieve organizational goals, which not only involves power, but also the processes of directing, motivating, and fostering teamwork to reach the established objectives. Nevertheless, most research on leadership has focused more on modern contexts or contemporary organizations, while studies on the values of hiistorical leadership through the cultural medium of film are still rarely explored. This research aims to describe the leadership values of Sultan Agung as reflected in film. The method used in this study is a qualitative approach with a descriptive design, which emphasizes understanding meaning and interpreting the leadership style of Sultan Agung as presented in the film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta. The research findings show that Sultan Agung implemented atransformational leadership style that focuses on long-term vision, motivational ability, courage and decisiveness, as well as attention to the welfare of his people. This study contributes to the understanding that films can be an inspiring medium for leadership education. Further studies can delve deeper into other cultural media, besides films, that can be used as a means of leadership education.
Representasi Dampak Psikologis Trauma dan Perlawanan melalui Karakter Tokoh Sahir Pada Film Dhoom 3 Arlinda Dwi Ariyani, Diva; Dimisyqiyani, Erindah; Amaliyah, Amaliyah; Gayuh Aji, Gagas; Amalia Sinulingga, Rizky
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5502

Abstract

ABSTRAK Trauma masa kecil dan konflik batin memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian dan perilaku seseorang, yang dapat menyebabkan perilaku destruktif. Namun, tidak semua orang yang mengalami traumatis atau konflik batin akan menunjukkan perilaku destruktif, terutama jika penanganannya dilakukan secara efektif dan tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak trauma masa kecil, konflik batin, dan pembentukan identitas melalui film Dhoom 3 (2013). Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif, dengan menganalisis data primer berupa elemen cerita, dialog, dan ekspresi visual dari film, serta data sekunder dari literatur terkait trauma dan representasi media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter Sahir dipengaruhi oleh trauma masa kecil yang berakar pada ketidakadilan yang dialami ayahnya, sehingga memotivasinya untuk melakukan serangkaian perampokan bank sebagai bentuk perlawanan. Di samping itu, konflik batin Sahir memunculkan identitas ganda sebagai bentuk perlindungan diri. Film ini juga menggambarkan bagaimana trauma dapat mengubah pandangan terhadap keadilan dan moralitas, dimana tindakan destruktif dipandang sebagai wujud keadilan subjektif. Dampak psikologis tersebut menegaskan pentingnya mengelola konflik intrapersonal dan trauma secara konstruktif untuk mencegah perilaku maladaptif. Sebagai media pendidikan, film Dhoom 3 berkontribusi sebagai media edukatif dalam meningkatkan pemahaman publik terhadap isu kesehatan mental, yang sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) mengenai kesehatan dan kesejahteraan serta perdamaian dan keadilan. ABSTRACT Childhood trauma and inner conflict have a significant influence on the formation of a person's personality and behaviour, which can lead to destructive behaviour. However, not everyone who experiences trauma or inner conflict will exhibit destructive behaviour, especially if it is handled effectively and appropriately. This study aims to analyse the impact of childhood trauma, inner conflict, and identity formation through the film Dhoom 3 (2013). The research method used is a descriptive qualitative approach, analysing primary data in the form of story elements, dialogue, and visual expressions from the film, as well as secondary data from literature related to trauma and media representation. The results of the study show that Sahir's character was influenced by childhood trauma rooted in the injustice experienced by his father, motivating him to carry out a series of bank robberies as a form of resistance. In addition, Sahir's inner conflict gave rise to a dual identity as a form of self-protection. The film also illustrates how trauma can alter one's perspective on justice and morality, where destructive actions are perceived as a form of subjective justice. These psychological impacts emphasise the importance of constructively managing intrapersonal conflicts and trauma to prevent maladaptive behaviour. As an educational medium, the film Dhoom 3 contributes to increasing public understanding of mental health issues, which is in line with the Sustainable Development Goals (SDGs) on health and well-being, peace and justice.
Representasi Kepemimpinan Emergen: Perilaku dan Strategi Tokoh Thomas dalam Film Maze Runner (2014) Octavia Trisukma Ayu, Linda; Arlinda Dwi Ariyani, Diva; Dimisqiyani, Erindah; Amaliyah, Amaliyah; Gayuh Aji, Gagas; Amalia Sinulingga, Rizqy
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5506

Abstract

ABSTRAK Kepemimpinan memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas organisasi selama krisis penuh ketidakpastian, di mana pemimpin emergen sering muncul melalui pengakuan sosial daripada otoritas formal. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi kepemimpinan emergen tokoh Thomas dalam film Maze Runner (2014), dengan fokus pada legitimasi melalui tindakan nyata, prinsip adaptif, kecerdasan emosional, dan pengelolaan konflik di situasi krisis. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, melalui observasi berulang terhadap enam adegan kunci film dan studi pustaka literatur relevan. Analisis data mengikuti model Miles dan Huberman, meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil menunjukkan bahwa kepemimpinan emergen Thomas terwujud dalam keberanian, pengambilan inisiatif penyelamatan, pengakuan dari kelompok, pengendalian emosi tim, strategi adaptif, serta kepemimpinan pelarian dari Maze.Legitimasi ini didasarkan pada kontribusi nyata terhadap keselamatan dan solidaritas tim. Temuan ini memperkuat teori kepemimpinan emergen dengan penekanan pada kecerdasan emosional dalam krisis. Penelitian ini memberikan relevansi praktis bagi pengembangan kepemimpinan partisipatif yang selaras dengan Tujuan 16 SDGs, khususnya keadilan, perdamaian, dan institusi tangguh. ABSTRACT Leadership plays a crucial role in maintaining organizational stability during crises filled with uncertainty, where emergent leaders often arise through social recognition rather than formal authority. This study aims to analyze the representation of emergent leadership by the character Thomas in the film Maze Runner (2014), focusing on legitimacy through concrete actions, adaptive principles, emotional intelligence, and conflict management in crisis situations. A qualitative descriptive method was employed, involving repeated observations of six key scenes from the film and a literature review of relevant sources. Data analysis followed the Miles and Huberman model,including data reduction, presentation, and conclusion drawing. The findings reveal that Thomas's emergentleadership manifests in courage, rescue initiatives, group recognition, team emotional control, adaptive strategies, and leading the escape from the Maze. This legitimacy is based on tangible contributions to team safety and solidarity. These elements reinforce emergent leadership theories with an emphasis onemotional intelligence in crises. This research provides practical relevance for developing participatory leadership aligned with SDG Goal 16, particularly peace, justice, and resilient institutions.
Implementasi Gaya Kepemimpinan : Studi Kasus Billy Beane Pada Film Moneyball Assita, Rodhatul; Dimisyqiyani, Erindah; Amaliyah, Amaliyah; Amalia Sinulingga, Rizky; Gayuh Aji, Gagas
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5508

Abstract

ABSTRAKKepemimpinan merupakan faktor kunci dalam menentukan arah, motivasi, dan kinerja organisasi, terutama ketika menghadapi keterbatasan sumber daya dan dinamika perubahan yang cepat. Film Moneyball menggambarkan tokoh Billy Beane sebagai General Manager Oakland Athletics yang berani mengambil risiko melalui penerapan strategi sabermetrics di tengah keterbatasan finansial. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui implementasi gaya kepemimpinan Billy Beane dalam film Moneyball serta dampaknya terhadap kinerja dan pencapaian tim. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan observasi film. Data diperoleh melalui pengamatan berulang pada adegan-adegan yang menunjukkan gaya kepemimpinan Billy Beane, dilengkapi dengan literatur akademis terkait teori kepemimpinan visioner,transformasional, dan otoriter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Billy Beane mengadopsi gaya kepemimpinan multidimensi, yaitu kepemimpinan otoriter, kedua gaya kepemimpinan visioner, ketiga gaya kepemimpinan transformasional. Selain itu, motivasi personal maupun kolektif yang diberikan Billy Beane terbukti meningkatkan kinerja individu dan kolektif tim. Dampaknya, Oakland Athletics berhasil mencetak20 kemenangan beruntun dan warisan strateginya kemudian diadopsi tim lain. Namun, pada penerapan gaya otoriter Billy Beane terbilang efektif dalam situasi krisis, gaya ini juga menimbulkan resistensi dan konflik internal dengan staf bawahan yang merasa tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Penelitian ini memberi kontribusi pada pemahaman bahwa efektivitas kepemimpinan terletak pada kemampuan adaptif dalam menggabungkan berbagai gaya sesuai situasi. Penelitian selanjutnya dapat memperluas kajian pada perbandingan gaya kepemimpinan tokoh lain dalam film bertema olahraga atau organisasi nyata untuk memperkuat pemetaan teori kepemimpinan dalam praktik. ABSTRACTLeadership is a key factor in determining the direction, motivation, and performance of an organization, especially when facing resource constraints and rapid change. The film Moneyball depicts Billy Beane as the General Manager of the Oakland Athletics who dared to take risks byapplying sabermetrics strategies amid financial constraints. This study aims to examine the implementation of Billy Beane's leadership style in the film Moneyball and its impact on team performance and achievements. The research method used is descriptive qualitative with filmobservation. Data was obtained through repeated observation of scenes that show Billy Beane's leadership style, supplemented with academic literature related to visionary, transformational, and authoritarian leadership theories. The results of the study show that Billy Beane adopted amultidimensional leadership style, namely authoritarian leadership, visionary leadership, and transformational leadership. In addition, the personal and collective motivation provided by Billy Beane was proven to improve individual and collective team performance. As a result, theOakland Athletics managed to score 20 consecutive wins, and his strategic legacy was later adopted by other teams. However, while Billy Beane's authoritarian style was effective in crisis situations, it also caused resistance and internal conflict with subordinate staff who felt they werenot involved in decision-making. This research contributes to the understanding that leadership effectiveness lies in the adaptive ability to combine various styles according to the situation. Further research could expand the study by comparing the leadership styles of other figures in
Co-Authors Abdul Fadhil, Abdul Abdullah, Siti Intan Nurdiana Wong Achmad Achmad Ajeng Rachma Pertiwi Aji , Gagas Alam, Andi Rifdah Auliyah Alfifto Ali Imron Ali Rahman Amalia Sinulingga, Rizqy Amaliya Sinulingga, Rizky Ameziziana, Ameziziana Amrizal Amrizal Anatasya Permatha Bayu, Jezicka Annisa, Arini Nur Apsari, Citra Widhi Aris, Umar Arlinda Dwi Ariyani, Diva Assita, Rodhatul Ayudia Arianti, Adhis Bakti, Fauziah P. Basrowi Basrowi, Basrowi Bilqis Kinanti, Amara Calista, Ellysia Dea Catur Wulandari Chandika Maharani, Vannesya Claresta, Eilen Dany, Ahmad Devi Kristianto Dimisqiyani, Erindah Dimisyqiani, Erindah Dimysiqiyani, Erindah Edi Priyanto Eka Lestari Hafqi Putri Eka Setyawati, Riska Erindah Dimisyqiyani Fahria Herlambang, Ivan Faizal Achmad, Faizal Fajar Arrasyid, Mohammad Fardana, Valdavi Rachma Otta Faridah, Farah Ferdian, Fina Ayu Firdaus, Faidzatul Fitria, Nur Fadillah Gagas Gayuh Aji, Gagas Gayuh Gayuh, Gagas Hadiyanto, Andy Hakam, Ahmad Hamdani, Khulaifi Haqiu, Dea Tini Hardiansyah, Putri HERI TAHIR Herlambang, Iqbal Septiyan Putra Hernawati Hernawati Hery Widijanto Humaira, Faizza Ilham Rohmatulloh, Sendi Imam Mubaligh Gaffar, Muhammad Inayatul Matin, Vina Indah Dwi Ariani, Novita Irawati, Wiwit Izazih, Farizah Kamila, Zulfa Kurniawati, Andi Luthfiya, Anna Lydia Apriliani, Lydia Mada, Ahkamul Ihkam Marischa Resmana, Sheila Marwah Marwah Maskun Mauludina, Nadiya Maysura, Suci Qaulan Meilanda, Nurhidayati Merdeka, Muhamad Monica Monica, Monica Muchsin, Putri Rofifah Nabilah Muhammad Aswan Muhammad Fikri Munawarah Munawarah, Munawarah Mustika Dewi, Indri Nabilah , Ayu Nadi, Luh Naswar, Naswar Nitit , Petrus Pito Niza Unnavi, Ningrum Nurhidayat, Bella Rahma Nurpratiwi, Suci Nurwijayanti Octavia Trisukma Ayu, Linda Pamungkas Umagafi, Dimitri Pramudita Riwanti Prayoga, Deni Putri Nayla Zahra, Shafira Putri Ramadhani, Dinar Raden Mohamad Herdian Bhakti Rahma, Dinda Aulia Rahmadani, Kurniati Rahmat Yuliawan Rani, Luisa Novita Ayu Rifai, Aulia Rintaati Putri, Allea Riyan Sanjaya Rizky Amalia Rizky Rizky, Rizky Rizqi Faradisa, Adinda Romadhoni Sasongko, Nandamar Romli, Nada Arina Sahlimar, Nadiya Sahwa Salman Alfarisi Sari Wulandari Sary, Novytha Sauqi Futaqi Savira, Dellis Sedianingsih, Sedianingsih Seisha Hariono, Emely Sinulingga, Rizky Amalia Sinungga, Rizki Amalia Siti Latifah Subagyo, Mauliza Putri Suhanda, Darmin Sukatin, Sukatin Sulistya, Vira Latifah Surawardi Surawardi Syafiin, Resky Amalia Syafiin, Rezky Amalia Syifa Khairunnisa, Syifa Tari, Najwa Rahmanda Tumangger, Masni Terima Dariani Virelita Maharani, Armaniella Wan Rizca Amelia Wardani , Nazhifah Wardani, Nazhifah Wijonarko, Gugus Wishelda Izdihar, Damara Yuandina, Radhika Zuli Dwi Rahmawati