p-Index From 2021 - 2026
12.119
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Dimas: Jurnal Pemikiran Agama untuk Pemberdayaan Record and Library Journal Hasanuddin Law Review Jurnal Studi Al-Qur'an Dinamisia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Halu Oleo Law Review MATAPPA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial JURNAL PENDIDIKAN TAMBUSAI IKRA-ITH EKONOMIKA Warta Penelitian Perhubungan Al-Falah: Jurnal Ilmiah Keislaman dan Kemasyarakatan PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat SIGn Jurnal Hukum Journal of Pharmaceutical Care Anwar Medika Jurnal Tarbiyatuna : Kajian Pendidikan Islam Indonesia Berdaya Journal Economy And Currency Study (JECS) Muttaqien; Indonesian Journal of Multidiciplinary Islamic Studies Yumary: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Al-Ulum: Jurnal Pendidikan Islam RIO LAW JURNAL JURNAL BARUNA HORIZON TARBAWY: Indonesian Journal of Islamic Education Jurnal PKM Manajemen Bisnis Jurnal Pusat Studi Pendidikan Rakyat (PUSDIKRA) Bussman Journal : Indonesian Journal of Business and Management AKADEMIK: Jurnal Mahasiswa Ekonomi & Bisnis AKADEMIK: Jurnal Mahasiswa Humanis Al-Ulum: Jurnal Pendidikan Islam International Journal of Applied Business and International Management Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan Indonesia Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Multiverse: Open Multidisciplinary Journal IPTEK: Jurnal Hasil Pengabdian kepada Masyarakat Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Journal of Educational Research and Humaniora (JERH) Journal of Exploratory Dynamic Problems Tadris: Manajemen Pendidikan Islam AL MAQRIZI: Jurnal Ekonomi Syariah dan Studi Islam Warta Penelitian Perhubungan Journal of Education and Islamic Studies
Claim Missing Document
Check
Articles

Representasi Kepemimpinan Transformasional Perempuan dalam Film “Bila Esok Ibu Tiada” (2024): Pemaknaan Peran Ibu sebagai Pemimpn Keluarga Chandika Maharani, Vannesya; Bilqis kinanti, Amara; Dimisyqiyani, Erindah; Amaliyah, Amaliyah; Gayuh Aji, Gagas; Amaliya Sinulingga, Rizky
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5428

Abstract

ABSTRAK Kepemimpinan transformasional biasanya dibicarakan dalam lingkungan organisasi dan dianggap mampu meningkatkan hasil kerja serta semangat para anggotanya. Meskipun begitu, penelitian tentang kepemimpinan transformasional dalam keluarga masih belum banyak, padahal keluarga adalah unit sosial yang paling kecil namun sangat penting dalam membentuk kepribadian dan nilai moral seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana nilai kepemimpinan transformasional terlihat dalam film Bila Esok Ibu Tiada (2024) melalui sosok Ibu Rahmi, yang berperan sebagai ibu dan sekaligus pemimpin keluarga. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan naratif, dengan menganalisis adegan dan dialog dalam film yang menunjukkan empat dimensi kepemimpinan transformasional, yaitu pengaruh ideal, motivasiinspiratif, stimulasi intelektual, serta pertimbangan individual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ibu Rahmi mampu mempertahankan keharmonisan keluarga dengan penuh empati, menjadi contoh moral yang baik, serta mendorong anak-anak untuk berpikir lebih jernih. Namun, tindakannya menyembunyikan penyakit anak juga menunjukkan adanya dilema antara perlindungan dan transparansi, sehingga kepemimpinan dalam keluarga tidak selalu sempurna. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa film bisa menjadi alat pembelajaran tentang kepemimpinan yang penuh nilai moral, serta memberikan ruang untuk mempertimbangkan peran ganda perempuan sebagai ibu sekaligus pemimpin keluarga. ABSTRACT Transformational leadership is commonly discussed in organizational settings and is considered capable of improving work performance and the morale of its members. However, research on transformational leadership within the family is still limited, even though the family is the smallest social unit but is very important in shaping a person's personality and moral values. This study aims to analyze how transformational leadership values are seen in the film Bila Esok Ibu Tiada (2024) through the character of Ibu Rahmi, who plays the role of both mother and family leader. The method used is a descriptive qualitative method with a narrative approach, by analyzing scenes and dialogue in the film that demonstrate four dimensions of transformational leadership: idealized influence,inspirational motivation, intellectual stimulation, and individual consideration. The results show that Ibu Rahmi is able to maintain family harmony with empathy, serves as a good moral example, and encourages children to think more clearly. However, her actions in concealing her child's illness also demonstrate the dilemma between protection and transparency, so that family leadership is not always perfect. Thus, this study shows that film can be a learning tool about leadership full of moral values, and provides space to consider the dual role of women as mothers and family leaders.
Kepemimpinan Perempuan Dalam Lingkungan Maskulin: Representasi Ketangguhan Bu Broto Dalam Film Losmen Bu Broto Putri Ramadhani, Dinar; Assita, Rodhatul; Dimisyqiyani, Erindah; Amaliyah, Amaliyah; Gayuh Aji, Gagas; Amalia Sinulingga, Rizky
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5430

Abstract

ABSTRAK Latar belakang penelitian ini adalah adanya stereotip gender yang membatasi ruang kepemimpinan perempuan, khususnya dalam lingkungan yang maskulin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi ketangguhan kepemimpinan transformasional Bu Broto dan kaitannya dengan prinsip SDG 5. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis wacana kritis dan semiotika terhadap film Losmen Bu Broto. Hasil penelitian menunjukkan Bu Broto direpresentasikan sebagai pemimpin transformasional yang tangguh melalui empat dimensinya, mampu menghadapi tantangan patriarki dengan memadukan ketegasan dan empati. Temuan ini memperkaya wacana kepemimpinan perempuan dan media studies dengan menawarkan modelrepresentasi alternatif yang memberdayakan. Implikasinya, film berpotensi menjadi alat edukasi untuk mendorong kesetaraan gender dan kepemimpinan perempuan dalam masyarakat. ABSTRACT The background of this research is the persistent gender stereotypes that constrain women's leadership spaces, particularly in masculine environments. This study aims to analyze the representation of Bu Broto's transformational leadership resilience and its reflection of SDG 5 principles. Using a qualitative approach, critical discourse analysis and semiotics were applied to the film Losmen Bu Broto. The results reveal Bu Broto is represented as a resilient transformational leader through its four dimensions, capable of confronting patriarchal challenges by blending assertiveness and empathy. These findings enrich the discourse on women's leadership and media studies by offering an empowering alternative representation. The film's potential implication is asan educational tool to promote gender equality and women's leadership in society.
Kepemimpinan Transformatif ala Monkey D. Luffy: Penelitian Kualitatif Nilai-Nilai SDGs dalam One Piece Ayudia Arianti, Adhis; Dimisyqiyani, Erindah; Amaliyah, Amaliyah; Wardani, Nazhifah
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5434

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini mengeksplorasi representasi kepemimpinan dalam serial anime Jepang One Piece, dengan fokus pada tokoh Monkey D. Luffy serta interaksinya dengan karakter lain dan berbagai konflik. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini menganalisis adegan naratif terpilih untuk mengkaji nilai-nilai kepemimpinan, dinamika tim, dan resolusi konflik, berdasarkan pengamatan mendalam terhadap dialog, perkembangan alur cerita, dan momen simbolis yang menyoroti praktik kepemimpinan. Temuan menunjukkan bahwa Luffy merefleksikan secara kuat kepemimpinan transformasional, yang ditunjukkan melalui kemampuannya menginspirasi dan memotivasi orang lain, memberdayakan krunya, serta mendorong persatuan di tengah perbedaan. Gaya kepemimpinan ini menekankan visi, kepercayaan, dan tujuan bersama, sejalan dengan teori modern yang memandang kepemimpinan sebagai relasional daripada hierarkis, dan melalui pembentukan loyalitas serta ketangguhan, Luffy mewujudkan sosok pemimpin transformasional yang mendorong pertumbuhan pribadi, kolaborasi, dan pencapaian kolektif. Namun, nilai-nilai tersebut terus diuji oleh konflik yang berulang dengan pihak Angkatan Laut, yang melambangkan perjuangan lebih luas terkait TujuanPembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya Tujuan 16 tentang perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh, sehingga memperlihatkan bahwa kepemimpinan transformasional harus adaptif terhadap resistensi, ketidakpastian, dan ketidakadilan sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa One Piece bukan sekadar hiburan, melainkan juga sumber pembelajaran kepemimpinan yang relevan bagi konteks organisasi maupun personal, serta menunjukkan bagaimana narasi fiksi seperti anime dapat menjadi media efektif untuk pendidikan kepemimpinanbdan pengembangan karakter dalam dinamika sosial yang kompleks. ABSTRACT This study explores the representation of leadership in the Japanese anime series One Piece, focusing on the character Monkey D. Luffy and his interactions with other key figures and conflicts throughout the storyline. Using a qualitative descriptive approach, this research examines selected narrative scenes to analyze leadership values, team dynamics, and conflict resolution within the plot. Data are drawn from in-depth observation of character dialogues, plot developments, and symbolic moments that highlight leadership practices. Findings reveal that Luffy demonstrates core elements of transformational leadership, including inspiring and motivating others, empowering team members, and promoting unity despite differences. However, these leadership values are often tested by recurring conflicts between pirates and the Marine, which reflect broader challenges to achieving Sustainable Development Goals such as peace, justice, and strong institutions. This study concludes that One Piece offers more than entertainment; it provides valuable insights into leadership that are relevant for both organizational and personal contexts. Fictional narratives like anime can serve as effective media for leadership education and character development. This study explores the representation of leadership in the Japanese anime series One Piece, focusing on Monkey D. Luffy and his interactions with other characters and conflicts. Using a qualitative descriptive approach, the research analyzes selected narrative scenes to examineleadership values, team dynamics, and conflict resolution, with data drawn from close observation of dialogues, plot developments, and symbolic moments that highlight leadership practices. Findings indicate that Luffy strongly reflects transformational leadership, demonstrated through his ability to inspire and motivate others, empower his crew, and promote unity despite differences. His leadership style emphasizes vision, trust, and shared purpose, aligning with modern theories that view leadership as relational rather than hierarchical, and by cultivating loyalty and resilience, Luffy embodies the transformational leader who encourages personal growth, collaboration, and collective achievement. However, these values are continually challenged by recurring conflictswith the Marine, which symbolize broader struggles tied to Sustainable Development Goals (SDGs), particularly Goal 16 on peace, justice, and strong institutions, thereby showing that transformational leadership must adapt to resistance, uncertainty, and social injustice. This study concludes that One Piece provides more than entertainment; it serves as a meaningful source of lleadership lessons relevant for both organizational and personal contexts, and demonstrates how fictional narratives like anime can function as effective media for leadership education and character development, while illustrating how transformational leadership operates within complex social dynamics.
Representasi Kepemimpinan dan Kekuasaan Dalam Film “Menolak Diam (2019)” Hardiansyah, Putri; Amaliyah, Amaliyah; Dimisyqiyani, Erindah; Amalia Sinulingga, Rizky; Mustika Dewi, Indri
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5445

Abstract

ABSTRAK Representasi kepemimpinan merupakan konstruksi simbolis dan naratif tentang kepemimpinan dalam berbagai medium budaya, termasuk sinema, yang tidak hanya merefleksikan realitas historis atau sosial, tetapi juga membentuk persepsi publik mengenai otoritas, pengaruh, dan tanggung jawab pemimpin. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara kritis representasi kepemimpinan dan kekuasaan yang tergambar dalam film Menolak Diam (2019), dengan menem patkannya dalam konteks perjuangan sosial-politik serta narasi sejarah Indonesia yang lebih luas. Fokus penelitian menyoroti bagaimana film ini menggambarkan kepemimpinanbukan sebagai posisi formal otoritas semata, melainkan sebagai proses dinamis yang penuh dengan keberanian moral, perlawanan, dan tanggung jawab etis dalam menghadapi struktur kekuasaan represif. Tema sentral analisis mencakup otoritarianisme, aktivisme akar rumput, serta interaksi kompleks antara dominasi dan emansipasi. Metodologi yang diterapkan adalah kualitatif, menggabungkan analisis mendalam terhadap adegan-adegan film, tinjauan pustaka komprehensif, dan triangulasi data, untuk mengkaji strategi naratif serta visual yang digunakan dalam mengilustrasikan ketegangan antara rezim represif dan kehendak kolektif untuk keadilanserta partisipasi demokratis. Temuan utama penelitian mengungkap bahwa Menolak Diam secara kuat menggambarkan kepemimpinan sebagai bentuk perlawanan aktif yang menantang legitimasi kekuasaan otoriter, sekaligus mengekspos kontradiksi inheren dalam kekuasaan tersebut—di mana upaya membungkam dissent dan mempertahankan kontrol justru memicu kesadaran sosial serta mobilisasi massa. Representasi dalam film ini menekankan dampak negatif dari kekuasaan yang menindas, seperti pengekangan kebebasan berekspresi, marginalisasi suara-suara minoritas, dan erosi ruang demokrasi yang sehat. Di sisi lain, filmmenyoroti potensi transformatif kepemimpinan yang berlandaskan integritas pribadi, solidaritas komunal, dan pemberdayaan kelompok marjinal. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan kontribusi signifikan pada diskursus kepemimpinan dan kekuasaan dengan menunjukkan bagaimana narasi sinematik dapat berfungsi sebagai alat kritis untuk refleksi sosial dan edukasi politik. Ia mengajak penonton serta pembaca untuk mempertimbangkan ulang nilai-nilai kepemimpinan partisipatif dan tata kelola yang akuntabel dalam masyarakat kontemporer Indonesia, di tengah tantangan demokrasi yang sedang berlangsung. ABSTRACT Representation of leadership Refers to the symbolic and narrative construction of leadership in various cultural media, such as cinema, which not only reflects historical or social realities, but also shapes society's perception of the authority, influence, and responsibility of leaders.This study aims to critically analyze the representation of leadership and power as depicted in the film Menolak Diam (2019), situating it within the broader context of Indonesia’s socio-political struggles and historical narratives. The research focuses on how the film portrays leadership not merely as a formal position of authority but as a dynamic and morally charged process involvingcourage, resistance, and ethical responsibility in confronting oppressive power structures. Central to this analysis are the themes of authoritarianism, grassroots activism, and the complex interplay between domination and emancipation. Employing a qualitative methodology that combines detailed film scene analysis, comprehensive literature review, and data triangulation, the study investigates the narrative and visual strategies used to depict the tensions between repressive regimes and the collective will for justice and democratic participation. The findings reveal that Menolak Diam powerfully illustrates leadership as an active form of resistance that challenges the legitimacy of authoritarian power, exposing its inherent contradictions—where power seeks to silence dissent and maintain control, yet simultaneously provokes social awakening and mobilization. The film’s representation underscores the detrimental effects of oppressive power, such as the suppression of freedom, marginalization of voices, and erosion of democratic spaces, while also highlighting the transformative potential of leadership grounded in integrity, solidarity, and empowerment of the marginalized. This study contributes to the discourse on leadership and power by demonstrating how cinematic narratives can function as critical tools for social reflection and political education, encouraging audiences to reconsider the values of participatory leadership and accountable governance in contemporary society.
Implementasi Manajemen Keuangan Generasi Sandwich pada Film Home Sweet Loan Claresta, Eilen; Amaliyah, Amaliyah; Dimisyqiyani, Erindah; Amalia Sinulingga, Rizky; Wardani , Nazhifah
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5447

Abstract

ABSTRAK Fenomena generasi sandwich semakin meluas di Indonesia yang menjadikan salah satu contoh nyata dalam melakukan perencanaan keuangan (financial planning) yang dihadapi oleh beberapa orang untuk menopang keluarganya. Pada alur cerita film Home Sweet Loan, akan memberikan gambaran realistis tentang bagaimana individu berjuang di tengah keterbatasan ekonomi dan tantangan sistemik. Film ini juga menyoroti pentingnya literasi keuangan, seperti membuat anggaran, menabung, dan berinvestasi untuk keuangan jangka panjang. Dalam metode ini data yang diambil berdasarkan analisis film secara menyeluruh terkait detail tentang kegiatan atau situasi sedang berlangsung dengan fokus khusus pada adegan yang dilakukan oleh tokoh utama Kaluna dalam mengambil keputusan pada setiap tindakan yang dikaitkan dengan teori manajemen keuangan. Hasil analisis deskriptif film Home Sweet Loan menunjukkan bahwa karakter utama Kaluna merupakan seseorang yang terencana dalam mengelola keuangan, pengalokasian dan pengendalian dana. Jika dilihat berdasarkan dasar manajemen keuangan, Kaluna adalah sosok yang menggambar kan generasi sandwich dengan segala penuh tanggung jawab yang mampu diatasinya dengan berbagai upaya untuk mengontrol keuangan nya. Film ini juga menunjukkan bahwa perencanaan keuangan tidak selalu berjalan mulus dan sering kali dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal seperti keluarga dan kondisi ekonomi. Peneliti selanjutnya dapat memperluas analisis ini dengan melakukan perbandingan implementasi manajemen keuangan pada film lain dengan metode analisis naratif komparatif. ABSTRACTThe sandwich generation phenomenon is becoming increasingly widespread in Indonesia, which is one of the real examples of financial planning faced by some people in order to support their families. The plot of the film Home Sweet Loan provides a realistic picture of how individuals struggle amid economic constraints and systemic challenges. The film also highlights the importance of financial literacy, such as budgeting, saving, and investing for long-term financial goals. In this method, data is collected based on a comprehensive analysis of the film, focusing on details about ongoing activities or situations, with a particular emphasis on scenes where the main character, Kaluna, makes decisions related to financial management theory. The results of the descriptive analysis of the film Home Sweet Loan show that the main character Kaluna is someone who is planned in managing finances, allocating and controlling funds. When viewed based on the principles of financial management, Kaluna is a figure who represents the sandwich generation with all the responsibilities that she is able to overcome with various efforts to control her finances. The film also shows that financial planning does not always go smoothly and is often influenced by external factors such as family and economic conditions. Researchers can further expand this analysis by comparing the implementation of financial management in other films using comparative narrative analysis methods.
Representasi Standar Kecantikan dalam Film Imperfect: Implikasi Sosial, Kesehatan Mental, dan Kesetaraan Gender Wishelda Izdihar, Damara; Dimisyqiyani, Erindah; Amaliyah, Amaliyah; Amalia Sinulingga, Rizky; Gayuh Aji, Gagas
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5451

Abstract

ABSTRAK Standar kecantikan merupakan konstruksi sosial yang dibentuk oleh budaya dan media massa, yang menekan perempuan untuk memenuhi kriteria fisik ideal. Tekanan ini menciptakan pandangan seragam tentangpenampilan, sekaligus merusak kesehatan mental, penerimaan diri, serta memperdalam ketidakadilan gender dan diskriminasi sosial. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi standar kecantikan dalam film Imperfect, mengungkap simbolisme serta ideologi di baliknya, dan dampaknya terhadap kesehatan mental serta relasi sosial perempuan. Analisis dilakukan melalui pemeriksaan elemen visual, dialog, dan narasi terkait pembentukan kecantikan. Hasilnya menunjukkan bahwa film Imperfect menggambarkan tekanan sosial lewat body shaming, perubahan fisik, dan perbedaan perlakuan terhadap tokoh utama. Film ini juga menyoroti penerimaan dan cinta diri sebagai bentuk penolakan terhadap standar kecantikan yang diskriminatif. Temuantersebut menegaskan peran film sebagai alat refleksi dan pendidikan untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental, kesetaraan gender, dan penghargaan atas keragaman fisik. ABSTRACT Beauty standards are a social construct shaped by culture and mass media, which pressures women to meet ideal physical criteria. This pressure creates a uniform view of appearance, while undermining mental health, self-acceptance, and deepening gender injustice and social discrimination. This study aims to analyze the representation of beauty standards in the film Imperfect, uncover the symbolism and ideology behind it, and itsimpact on women's mental health and social relations. The analysis was carried out through the examination of visual elements, dialogues, and narratives related to the formation of beauty. The results show that the film Imperfect depicts social pressure through body shaming, physical changes, and different treatment of the main character. The film also highlights acceptance and self-love as a form of rejection of discriminatory beauty standards. The findings affirm the role of film as a tool for reflection and education to raise awareness about mental health, gender equality, and appreciation for physical diversity.
Representasi Transformasi Emosional dan Tanggung Jawab Sosial dalam Perjalanan Karakter Molly Gunn dalam Film Uptown Girls Marischa Resmana, Sheila; Bilqis Kinanti, Amara; Dimisyqiyani, Erindah; Amaliyah, Amaliyah; Amalia Sinulingga, Rizky; Gayuh Aji, Gagas
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5454

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini mengkaji representasi transformasi emosional dan tanggung jawab sosial dalam perjalanan karakter Molly Gunn dalam film Uptown Girls (2003). Fokus analisis tertuju pada bagaimana narasi dan elemen visual film menggambarkan perkembangan emosional Molly dari ketidakdewasaan menuju kedewasaan yang ditandai dengan empati dan kepedulian sosial. Pendekatan kualitatif dengan metode analisis naratif dan semiotik digunakan untuk mengidentifikasi dinamika karakter melalui adegan-adegan kunci. Penelitian ini menemukan bahwa hubungan Molly dengan Ray, seorang anak dengan trauma emosional, menjadi katalis bagi pertumbuhan emosinya, mencerminkan nilai-nilai emotional intelligence dan tanggung jawab sosial. Transformasi ini diperkuat oleh penggambaran realistis emosi melalui akting dan narasi visual, yang resonansinyadapat memengaruhi pemahaman penonton tentang moralitas dan empati. Studi ini menegaskan peran film sebagai medium untuk merefleksikan perkembangan psikologis dan sosial individu, khususnya dalam konteks perempuan. ABSTRACT This study examines the representation of emotional transformation and social responsibility in the journey of Molly Gunn's character in the film Uptown Girls (2003). The focus of the analysis is on how the film's narrative and visual elements depict Molly's emotional development from immaturity to maturity, marked by empathy and social awareness. A qualitative approach using narrative and semiotic analysis methods is used to identify character dynamics through key scenes. This study finds that Molly's relationship with Ray, a child with emotional trauma, becomes a catalyst for her emotional growth, reflecting the values of emotional intelligence and social responsibility. This transformation is reinforced by the realistic portrayal of emotions through acting and visual narrative, whose resonance can influence the audience's understanding of morality and empathy. This study affirms the role of film as a medium for reflecting on individual psychological and social development, particularly in the context of women.
Nilai Kepemimpinan Visioner dalam Memperjuangkan Keadilan pada Film Miracle in Cell No.7 Eka Setyawati, Riska; Amalia Sinulingga, Rizky; Amaliyah, Amaliyah; Wardani, Nazhifah
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5459

Abstract

ABSTRAK Kepemimpinan adalah bentuk kemampuan individu dalam memengaruhi, mengarahkan, serta menggerakkan orang lain demi mencapai tujuan bersama. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk kepemimpinan visioner oleh tokoh Kartika, termasuk bagaimana ia merancang visi serta langkah strategis dalam memperjuangkan keadilan bagi ayahnya. Serta mengetahui keberanian dan komitmen Kartika dalam menegakkan kebenaran. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian metode kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan pada penelitian ini yaitu observasi pengamatan mendalam melalui film dan dokumentasi dengan berupa tangkapan layar dari film untuk memperkuat hasil observasi yang telah dilakukan. Hasil penelitian ini berupa dialog percakapan, gambar scene, argumen dari penulis, serta karakteristik kepemimpinan visionerkarakter Kartika yang terdapat pada film. Film Miracle in Cell No.7 merupakan film drama yang mengisahkan perjuangan seorang ayah bernama Dodo Rozak yang mengalami ketidakadilan hukum, serta perjuangan putrinya Kartika yang berusaha membersihkan nama ayahnya. Kartika menggambarkan sebagai seorang anak yang sejak kecil menyaksikan ketidakadilan yang menimpa ayahnya. Tetapi pada saat dewasa, ia tumbuh menjadi sosok yang berani dan memiliki visi yang jelas yaitu menegakkan keadilan dan mengungkap kebenaran yang selama ini tertutup. ABSTRACT Leadership is an individual's ability to influence, direct, and motivate others to achieve common goals. This study aims to describe the forms of visionary leadership exhibited by Kartika, including how she developed her vision and strategic steps in fighting for justice for her father. It also aims to examine Kartika's courage and commitment in upholding the truth. This research uses a descriptive qualitative research method. The data collection technique in this study is in-depth observation through films and documentation in the form of screenshots from the film to reinforce the results of the observations that have been made. The results of this study are in the form of dialogue, scene images, arguments from the author, and the characteristics of Kartika's visionary leadership in the film. Miracle in Cell No. 7 is a drama film that tells the story of the struggle of a father named Dodo Rozak who experiences legal injustice, as well as the struggle of his daughter Kartika who tries to clear her father's name. Kartika is portrayed as a child who has witnessed the injustice that has befallen her father since she was little. However, as an adult, she grows into a courageous figure with a clear vision of upholding justice and revealing the truth that has been hidden all this time.
Pembentukan Karakter Kepemimpinan Melalui Pengalaman Hidup Mufasa Pada Film Mufasa: The Lion King (2024) Putri Nayla Zahra, Shafira; Gayuh, Gagas; Amaliyah, Amaliyah; Wardani, Nazhifah
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5463

Abstract

ABSTRAK Kepemimpinan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan dalam menyusun strategi, tetapi juga dipengaruhi oleh karakter yang terbentuk melalui pengalaman hidup. Nilai seperti integritas, keberanian, dan keteladanan menjadi dasar penting yang memungkinkan terciptanya kepemimpinan yang otentik dan mampu memberikan pengaruh positif. Namun, kenyataannya banyak pemimpin justru lahir dari warisan kekuasaan atau kedudukan keluarga, sehingga proses pembentukan karakter seringkali diabaikan. Dari kenyataan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pengalaman hidup Mufasa dalam film Mufasa: The Lion King (2024) membentukkarakter kepemimpinan otentik, serta menelaah ketercerminan komponen self-awareness, relational transparency, balanced processing, dan internalized moral perspective dalam perjalanan hidup tokoh utama. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui observasi non-partisipan terhadap adegan film, dokumentasi transkrip dialog, serta penguatan dari literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman hidup yang penuh kehilangan, tekanan, dan konflikjustru menjadi dasar pembentukan kepemimpinan otentik. Kesadaran diri tercermin dalam pengakuan jati diri, keterbukaan tampak melalui ungkapan perasaan kehilangan, kemampuan menimbang secara adil terlihat pada ajakan kolaborasi antar spesies, dan konsistensi moral diperlihatkan dengan sikap menolak tunduk padakejahatan. Nilai integritas, keberanian, serta keteladanan yang muncul dari perjalanan hidup tersebut menegaskan bahwa kepemimpinan otentik terbentuk dari proses panjang, bukan dari garis keturunan ataupun status semata. ABSTRACT Leadership is not only determined by the ability to develop strategies, but is also influenced by character formed through life experiences. Values such as integrity, courage, and exemplary behavior are important foundations that enable the creation of authentic leadership capable of exerting a positive influence. However, in reality, many leaders are born into positions of power or family status, so the process of character building is often neglected. Given this reality, this study aims to analyze how Mufasa's life experiences in the film Mufasa: The Lion King (2024) shape his authentic leadership character, as well as to examine the reflection of the components of selfawareness,relational transparency, balanced processing, and internalized moral perspective in the main character's life journey. The research method used is qualitative with a descriptive approach through non-participant observation of film scenes, documentation of dialogue transcripts, and reinforcement from related literature. The results show that life experiences full of loss, pressure, and conflict, actually form the basis of authentic leadership. Self-awareness is reflected in the recognition of identity, openness is seen through the expression of feelings of loss, the ability to weigh things fairly is seen in the call for collaboration between species, and moral consistency is shown by the refusal to submit to evil. The values of integrity, courage, and exemplary behavior that emerge from this life journey, confirm that authentic leadership is formed through a long process,not solely through lineage or status.
Implementasi Nilai Budaya Keluarga dalam Membentuk Pola Kepemimpinan: Studi Kasus pada Film Coco Virelita Maharani, Armaniella; Amalia Sinulingga, Rizky; Amaliyah, Amaliyah; Wardani, Nazhifah
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5485

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana nilai budaya keluarga berperan dalam membentuk pola kepemimpinan tokoh-tokoh utama dalam film Coco (2017), serta bagaimana dilema antara aspirasi pribadi dan tradisi keluarga memengaruhi dinamika kepemimpinan keluarga Rivera. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik observasi dan dokumentasi, yaitu melalui peninjauan adegan, dialog, serta simbol visual dalam film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Abuelita merepresentasikan kepemimpinan otoriter dengan menekankan kepatuhan penuh demi menjaga tradisi, sementara Miguel menampilkankepemimpinan inklusif yang berusaha menjembatani impiannya menjadi musisi dengan nilai budaya keluarga. Konflik antar generasi yang terjadi menggambarkan dilema antara mempertahankan tradisi dan mengikuti aspirasi pribadi, namun akhirnya harmoni tercapai melalui kepemimpinan yang berakar pada kasih sayang keluarga. Temuan ini menegaskan bahwa nilai budaya keluarga memiliki peran fundamental dalam membentuk gaya kepemimpinan, serta relevan dengan agenda global SDG 5 yaitu Kesetaraan Gender dan SDG 11 yakni Kota dan Komunitas Berkelanjutan. ABSTRACT This study aims to analyze how family cultural values contribute to shaping the leadership patterns of the main characters in the film Coco (2017) and how the dilemma between personal aspirations and family tradition affects leadership dynamics within the Rivera family. A descriptive qualitative approach was employed, using observation and documentation techniques to examine key scenes, dialogues, and visual symbols in the film. Findings indicate that Abuelita embodies authoritarian leadership by insisting on strict compliance to preserve family traditions, whereas Miguel demonstrates inclusive leadership by attempting to reconcile his musical aspirations with familial values. The intergenerational conflict depicted in the film illustrates the tension between maintaining tradition and pursuing individual aspirations, yet ultimately harmony is restored through leadership rooted in familial care and affection. These results underscore the fundamental role of family cultural values in shaping leadership styles and highlight the findings’ relevance to global agendas such as SDG 5 (Gender Equality) and SDG 11 (Sustainable Cities and Communities).
Co-Authors Abdul Fadhil, Abdul Abdullah, Siti Intan Nurdiana Wong Achmad Achmad Ajeng Rachma Pertiwi, Ajeng Rachma Aji , Gagas Alam, Andi Rifdah Auliyah Alfifto Ali Imron Ali Rahman Amalia Sinulingga , Rizky Amalia Sinulingga, Rizqy Amalia, Ghaitsaa Zurike Amalia, Nayla Lisda Amaliya Sinulingga, Rizky Ameziziana, Ameziziana Amrizal Amrizal Ananda Lutfitami, Ratu Hemas Titalya Anatasya Permatha Bayu, Jezicka Anggraeni, Novi Dwi Angraeni, Navelsa Annisa, Arini Nur Anwar, Hidan Razan Apsari, Citra Widhi Aqilah , Nawal Aris, Umar Arlinda Dwi Ariyani, Diva Assita, Rodhatul Auliya, Sinta Rahmah Ayudia Arianti, Adhis Ayudya, Hasna Sima Bakti, Fauziah P. Basrowi Basrowi, Basrowi Bilqis Kinanti, Amara Calista, Ellysia Dea Catur Wulandari Chandika Maharani, Vannesya Chandra, Bintang Adi Claresta, Eilen Dany, Ahmad Deni Darmawan Devi Kristianto Dewi, Indri Mustika Dimisqiyani, Erindah Dimisyqiani, Erindah Dimysiqiyani, Erindah Dwi Ariani, Novita Indah Edi Priyanto Effendi, Muhamad Ridwan Eka Lestari Hafqi Putri Eka Setyawati, Riska Erindah Dimisyqiyani Fahria Herlambang, Ivan Faizal Achmad, Faizal Fajar Arrasyid, Mohammad Fardana, Valdavi Rachma Otta Faridah, Farah Fathiya Salsabila, Naila Ferdian, Fina Ayu Firdaus, Faidzatul Fitria, Nur Fadillah Futaqi, Sauqi Gagas Gayuh Aji, Gagas Gayuh Gayuh Aji , Gagas Gayuh Aji, Gagas Gayuh, Gagas Hadiyanto, Andy Hakam, Ahmad Hamdani, Khulaifi Haqiu, Dea Tini Hardiansyah, Putri HERI TAHIR Herlambang, Iqbal Septiyan Putra Hernawati Hernawati Hery Widijanto Humaira, Faizza Husna, Nawra Aqila Ilham Rohmatulloh, Sendi Imam Mubaligh Gaffar, Muhammad Inayatul Matin, Vina Indah Dwi Ariani, Novita Irwan Irwan Izazih, Farizah Kamila, Zulfa Khairullah, Muhammad Alif Akbar Zaki khusnul khotimah Kinanti, Amara Bilqis Kurniawati, Andi Luthfiya, Anna Lydia Apriliani, Lydia Mada, Ahkamul Ihkam Marischa Resmana, Sheila Marwah Marwah Maskun Mauludina, Nadiya Maysura, Suci Qaulan Meilanda, Nurhidayati Merdeka, Muhamad Monica Monica, Monica Muchsin, Putri Rofifah Nabilah Muhammad Aswan Muhammad Fikri Munawarah Munawarah, Munawarah Mustika Dewi, Indri Nabilah , Ayu Naswar, Naswar Nitit , Petrus Pito Niza Unnavi, Ningrum Nugroho, Dewa Rizky Nur Aulia, Rihlah Nurcholis, Sony Wijaya Nurhidayat, Bella Rahma Nurpratiwi, Suci Octavia Trisukma Ayu, Linda Pamungkas Umagafi, Dimitri Pramudita Riwanti Prayoga, Deni Putri Nayla Zahra, Shafira Putri Ramadhani, Dinar Raden Mohamad Herdian Bhakti Rahma, Dinda Aulia Rahmadani, Kurniati Rahmadani, Putri Nia Rahmawati, Zuli Dwi Rani, Luisa Novita Ayu Rifai, Aulia Rintaati Putri, Allea Riyan Sanjaya Rizky Amalia Rizky Hidayatullah Al Huda, Muhammad Ainur Rizky Rizky, Rizky Rizqi Faradisa, Adinda Romadhoni Sasongko, Nandamar Romli, Nada Arina Sahlimar, Nadiya Sahwa Salman Alfarisi Sari Wulandari Sary, Novytha Savira, Dellis Sedianingsih, Sedianingsih Seisha Hariono, Emely Sinulingga, Rizki Amalia Sinulingga, Rizky Amalia Sinulingga, Rizqy Amalia Sinulingga Sinungga, Rizki Amalia Siti Latifah Subagyo, Mauliza Putri Suhanda, Darmin Sukatin, Sukatin Sulistya, Vira Latifah Surawardi Surawardi, Surawardi Syafiin, Resky Amalia Syafiin, Rezky Amalia Syifa Khairunnisa, Syifa Tari, Najwa Rahmanda Tumangger, Masni Terima Dariani Ulfa, Dita Fachriza Virelita Maharani, Armaniella Wan Rizca Amelia, Wan Rizca Wardani , Nazhifah Wardani, Nazhifah Wijonarko, Gugus Wishelda Izdihar, Damara Yuandina, Radhika Yuliandre, Yuliandre Yuliawan, Rahmat Yuniati, Anggita Dwi Zahra Hasoloan, Hanifah Az Zahroh, Arina Saffanah