Claim Missing Document
Check
Articles

KARAKTERISTIK SEKUEN cDNA PENGKODE GEN ANTI VIRUS DARI UDANG WINDU, Penaeus monodon Andi Parenrengi; Alimuddin Alimuddin; Sukenda Sukenda; Komar Sumantadinata; Andi Tenriulo
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 1 (2009): (April 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.829 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.1.2009.1-13

Abstract

Transgenesis pada ikan merupakan sebuah teknik modern yang berpotensi besar dalam menghasilkan organisme yang memiliki karakter lebih baik melalui rekombinan DNA gen target termasuk gen anti virus dalam peningkatan resistensi pada udang. Gen anti virus PmAV (Penaeus monodon Anti Viral gene) merupakan salah satu gen pengkode anti virus yang berasal dari spesies krustase. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik gen anti virus yang diisolasi dari udang windu, Penaeus monodon. Isolasi gen anti virus menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) dan selanjutnya dipurifikasi untuk sekuensing. Data yang dihasilkan dianalisis dengan program Genetyx Versi 7 dan basic local alignment search tool (BLAST). Hasil penelitian menunjukkan bahwa gen anti virus PmAV yang berhasil diisolasi dari cDNA udang windu dengan panjang sekuen 520 bp yang mengkodekan 170 asam amino. BLAST-N menunjukkan tingkat similaritas yang sangat tinggi (100%) dengan gen anti virus yang ada di GeneBank. Komposisi asam amino penyusun gen anti virus yang paling besar adalah serin (10,00%), sedangkan yang terkecil adalah asam amino prolin dan lisin masing-masing 1,76%. Analisis sekuen gen dan deduksi asam amino (BLAST-P) memperlihatkan adanya C-type lectin-like domain (CTLD) yang memiliki kemiripan dengan gen C-type lectin yang diisolasi dari beberapa spesies krustase.Transgenic fish technology is a potential modern technique in producing better character organism through DNA recombinant of target genes including anti viral gene for improvement of shrimp immunity. PmAV (Penaeus monodon Anti Viral) gene is one of anti viral genes isolated from crustacean species. The research was conducted to analyze the characteristics anti viral gene isolated from tiger prawn, Penaeus monodon. Anti viral gene was isolated using Polymerase Chain Reaction (PCR) technique and then purified for sequencing. Data obtained were analyzed using Genetyx Version 7 software and basic local alignment search tool (BLAST). The results showed that the PmAV antiviral gene has been isolated from cDNA of tiger prawn at the position of approximately 520 bp consisting of 170 amino acids. BLAST-N showed high similarity (100%) compared to the other anti viral genes deposited at the GeneBank. The highest percentage of amino acid encoding anti viral gene is serine (10.00%), while the lowest is proline and lysine (1.76%). Sequence analysis and amino acid deduction (BLAST-P) revealed a C-type lectin-like domain (CTLD) that is similar with the C-type lectin gene isolated from several crustacean species.
EMBRIOGENESIS DAN PERKEMBANGAN LARVA SIPUT GONGGONG, Laevistrombus turturella PADA SUHU INKUBASI BERBEDA Muzahar Muzahar; Muhammad Zairin Jr.; Fredinan Yulianda; Muhammad Agus Suprayudi; Alimuddin Alimuddin; Irzal Effendi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 15, No 3 (2020): (September, 2020)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.738 KB) | DOI: 10.15578/jra.15.3.2020.159-164

Abstract

Fase larva pada siput gonggong sebagaimana pada biota akuatik lain adalah fase yang peka dan rawan kematian. Penyerapan kuning telur untuk pembentukan organ dalam terjadi pada fase ini. Suhu air memengaruhi perkembangan embrionik dan metabolisme dalam tubuh biota. Informasi tentang pengaruh suhu inkubasi terhadap embriogenesis dan perkembangan larva siput gonggong masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh suhu berbeda terhadap embriogenesis dan perkembangan larva siput gonggong. Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan dan dua ulangan. Tiga perlakuan perbedaan suhu yang diberikan yaitu 27°C, 29°C, dan 31°C. Sampel telur yang digunakan berasal dari hasil pemijahan semibuatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inkubasi pada suhu air 31°C memberikan stimulasi tercepat pada embriogenesis dan perkembangan larva siput gonggong daripada perlakuan lainnya. Larva siput gonggong menetas dan berenang bebas pada jam ke-94 pasca-inkubasi. Penelitian dengan perlakuan yang sama perlu dilanjutkan untuk dapat menghasilkan benih siput gonggong.Similar to most of the other aquatic biota, the larval phase of gonggong conch is considered a sensitive and death-prone life stage. The absorption of egg yolk to form the internal organs occurs in this phase. Certain external factors, particularly water temperature, play a significant influence on the embryonic development and metabolic processes of gonggong conch larvae. However, the extent of the effects of incubation temperature on the embryogenesis and larval development of gonggong conch has not been determined or thoroughly studied. This study aimed to determine the effects of different temperatures on the embryogenesis and larval development of gonggong conch. The experiment used a completely randomized design with three treatments and two replicates. The temperature treatments were 27°C, 29°C, and 31°C. The egg samples used were collected from the semi-artificial spawnings of gonggong conch. The results showed that the egg incubation using the water temperature of 31°C provided the fastest stimulation in the embryogenesis and development of gonggong conch larvae than the other treatments. Gonggong conch larvae hatched and swam freely in the 94th hours post-incubation. Research with the same treatment needs to be continued to be able to produce gonggong conch seeds.
KARAKTERISTIK GENOTIPE HIBRIDA HUNA BIRU (Cherax albertisii) DENGAN HUNA CAPITMERAH (Cherax quadricarinatus) Irin Iriana Kusmini; Estu Nugroho; Alimuddin Alimuddin; Mulyasari Mulyasari
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.554 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.2.2010.191-197

Abstract

Pada pengelolaan induk di hatchery sering terjadi silang dalam (inbreeding) yang dapat menyebabkan terjadinya penurunan keragaman genetik. Salah satu program untuk meningkatkan keragaman genetik adalah dengan hibridisasi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui keragaman genetik turunan persilangan antara huna biru Cherax albertisii dengan huna capitmerah Cherax quadricarinatus. Metode penelitian menggunakan analisis RAPD (Randomly Amplified Polymorphism DNA). Hasil penelitian menunjukkan nilai heterozigositas hibrida lebih tinggi (0,187-0,290) dibanding nonhibrida (0,0997-0,2211). Hibridisasi antara jantan huna capitmerah dengan betina huna biru (RA) menghasilkan nilai heterozigositas yang lebih tinggi dibandingkan dengan persilangan antara betina huna capitmerah dengan jantan huna biru (AR).Management of fish broodstock in hatchery can reduced genetic variation. One program that can be conducted to increase the genetic variation is hibridization. The aim of this research was to find out genetic variation (heterozigosity) of the offspring of Cherax albertisii-Cherax quadricarinatus hybrid. The methods used in this research was RAPD analysis (Random Amplified Polymorphism DNA). The result showed that heterozigosity value of hybrid (0.187-0.290) was higher than that of non hybrid (0.0997-0.2211). Hybridization of redclaw male with blue crayfish female (RA) gave better result in heterozigosity value and genetic distance than that of redclaw female with blue crayfish male (AR).
IDENTIFIKASI KANDIDAT MARKA MHC I PADA IKAN LELE (Clarias sp.) TAHAN INFEKSI Aeromonas hydrophila Azis Azis; Alimuddin Alimuddin; Sukenda Sukenda; Muhammad Zairin Junior
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1936.382 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.2.2015.261-269

Abstract

Penyakit motile aeromonad septicemia disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila dapat menyebabkan kematian tinggi pada ikan lele (Clarias sp.). Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan kandidat marka MHC I dalam seleksi berbasis marka molekuler untuk menghasilkan ikan lele varietas sangkuriang tahan infeksi bakteri A. hydrophila. Sebanyak 200 ekor ikan lele dengan bobot 60±5 g diuji tantang dengan menyuntikkan bakteri A. hydrophila dengan konsentrasi 106 cfu/mL sebanyak 0,1 mL/ekor ikan. Hasil uji tantang menunjukkan sintasan ikan lele sebesar 54% (14 ekor ikan tanpa luka, dan 94 ekor ikan luka dan kemudian sembuh). Tujuh pasang primer didesain berdasarkan sekuen gen major histocompatibility complex (MHC) I ikan Clarias gariepinus yang terdapat di Bank Gen. DNA diekstraksi dari jaringan sirip ekor ikan hidup dan yang mati, kemudian dijadikan cetakan dalam amplifikasi PCR. Hasil PCR menggunakan salah satu set primer menunjukkan adanya pita DNA spesifik berukuran sekitar 300, 500, dan 1.000 bp pada ikan yanghidup pascatantang. Hasil analisis sekuen menggunakan basic local alignment search tools (BLAST) menunjukkan bahwa produk PCR tersebut memiliki kesamaan 69%-88% dengan gen MHC I ikan C. gariepinus. Dengan demikian, fragmen MHC I tersebut dapat menjadi marka molekuler ikan lele tahan infeksi A. hydrophila.
RESPONS PERTUMBUHAN DAN EKSPRESI GEN UDANG VANAME, Litopenaeus vannamei SETELAH DIRENDAM DALAM LARUTAN HORMON PERTUMBUHAN REKOMBINAN IKAN KERAPU KERTANG Siti Subaidah; Odang Carman; Komar Sumantadinata; Sukenda Sukenda; Alimuddin Alimuddin
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.392 KB) | DOI: 10.15578/jra.7.3.2012.359-369

Abstract

Pertumbuhan ikan dapat ditingkatkan menggunakan hormon pertumbuhan rekombinan. Penelitian ini bertujuan mengkaji respons pertumbuhan dan ekspresi gen udang vaname, Litopenaeus vannamei setelah direndam dengan hormon pertumbuhan rekombinan ikan kerapu kertang, Epinephelus lanceolatus (rElGH). Pada percobaan pertama, post larva stadia 2 (PL-2) sebanyak 1.500 ekor direndam selama 1 jam dalam 1 liter air laut yang mengandung rElGH lima dosis berbeda, yaitu 150; 15; 1,5; 0,15; dan 0,015 mg/L dan bovine serum albumin 0,01%. Setiap perlakuan diulang 3 kali. Perendaman dilakukan dalam kantong plastik ditambah oksigen (volume air :oksigen = 1:5). Udang dipelihara dalam akuarium volume 60 liter dengan kepadatan 25 ekor/litersampai PL-14. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis 15 mg/L memberikan peningkatan bobot badan, panjang badan, dan sintasan tertinggi (P<0,05) masing-masing sebesar 37,77%; 12,75%; dan 9,45% dibandingkan dengan kontrol. Ekspresi mRNA single insulin binding domain (SIBD) pada PL-14 yang dianalisis dengan realtime PCR menunjukkan kenaikan sebesar 3,3 kali pada udang yang direndam rElGH dibandingkan dengan kontrol, dan dapat dinyatakan bahwa SIBD berperan penting dalam induksi pertumbuhan. Tingkat ekspresi moult inhibiting hormone meningkat sekitar 13%, sedangkan ekspresi cyclopilin A pada udang yang direndam rElGH sama dengan kontrol. Pada percobaan kedua, perendaman PL-2 dalam larutan rElGH dosis 15 mg/L dengan lama waktu 3 jam meningkatkan bobot badan sebesar 62,18% lebih tinggi daripada perendaman 1 jam. Dengan demikian, perendaman udang dalam larutan rElGH meningkatkan pertumbuhan dan ekspresi gen SIBD, dan metode ini dapat berguna dalam peningkatan produksi budidaya. 
FILOGENETIK POPULASI UDANG JERBUNG (Fenneropenaeus merguiensis de Man) DI INDONESIA BERDASARKAN SEKUENS 16S-rRNA DNA MITOKONDRIA Eni Kusrini; Komar Sumantadinata; Wartono Hadie; Alimuddin Alimuddin; Achmad Sudradjat
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (893.036 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.2.2008.191-198

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan kekerabatan stok udang jerbung Indonesia sebagai informasi dasar bagi program pemuliaan. Udang jerbung uji berasal dari Pantai Bengkulu, Selat Sunda (Banten), Pantai Cilacap (Jawa Tengah), Selat Lombok (NTB), dan Pontianak (Kalimantan Barat). Amplifikasi PCR dan sekuensing daerah 16S-rRNA DNA mitokondria dilakukan menggunakan primer 5’-CGCCTGTTTAAC-AAAAACAT-3’ dan 5’-CCGGTCTGAACTCAGATCATGT-3’. Hasil analisis homologi susunan nukleotida 16S-rRNA DNA mitokondria menunjukkan bahwa udang jerbung yang digunakan dalam penelitian merupakan Fenneropenaeus merguiensis. Hasil analisis kekerabatan menunjukkan bahwa 5 populasi udang jerbung uji dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu kelompok Kalimantan Barat dan kelompok Bengkulu-Banten-Jawa Tengah-NTB. Populasi udang jerbung Kalimantan dan Bengkulu masing-masing memiliki sekuens spesifik, yaitu ACTGACT dan C-GAC di terminal 5. Sekuens tersebut mungkin dapat digunakan sebagai penanda dalam program pemuliaan udang jerbung Indonesia.The experiment was conducted to understand the family relationship of banana prawn in Indonesia and to provide basic information for breeding program. Prawns were obtained from Bengkulu Coast, Sunda Strait (Banten), Cilacap Coast (Central Java), Lombok Strait (West Nusa Tenggara), Pontianak Coast (West Kalimantan). PCR amplification and sequencing of 16S-rRNA mitochondrial DNA region were performed using 5’-CGCCTGTTTAAC-AAAAACAT-3’ and 5’-CCGGTCTGAACTCAGATCATGT-3’. Analysis of homology sequences of 16S-rRNA mtDNA showed that banana prawn used in this study was Fenneropenaeus merguiensis. Result of family relationship analysis indicated that five populations of banana prawn can be divided into two groups, i.e. West Kalimantan and Bengkulu-Banten-Central Java-NTB groups. Banana prawns from West Kalimantan and Bengkulu have specific sequences at 5’ terminal, ACTGACT and C-GAC, respectively. Those sequences can potentially be used as marker in the breeding program of banana prawn in Indonesia.
RESPONS PERTUMBUHAN DAN EFISIENSI PAKAN PADA IKAN NILA UKURAN BERBEDA YANG DIBERI PAKAN MENGANDUNG HORMON PERTUMBUHAN REKOMBINAN Muhammad Muhammad; Alimuddin Alimuddin; Muhammad Zairin Junior; Odang Carman
Jurnal Riset Akuakultur Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.803 KB) | DOI: 10.15578/jra.9.3.2014.407-415

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji respons pertumbuhan dan pemanfaatan pakan pada ikan nila (Oreochromis niloticus) strain SULTANA (seleksi unggul Selabintana) ukuran berbeda yang diberi pakan mengandung hormon pertumbuhan rekombinan ikan kerapu kertang, Epinephelus lanceolatus (rElGH). Ikan dengan ukuran awal 3,5± 0,3 g (perlakuan A); 12,5±0,4 g (perlakuan B); dan 40±2,4 g (perlakuan C) dipelihara dalam hapa (2 m x 1 m x 1 m) yang dipasang di kolam beton (20 m x 10 m x 1,5 m) pada padat tebar 50 ekor ikan/hapa. Setiap perlakuan diberi pakan mengandung 3 mg rElGH/kg, dan tidak diberi rElGH (kontrol; K). Masing-masing perlakuan terdiri atas tiga ulangan. Ikan dipelihara selama delapan minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pertambahan biomassa (ΔB) ikan perlakuan rElGH adalah lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan kontrol, sedangkan perlakuan ukuran ikan tidak berpengaruh nyata (P>0,05). Laju pertumbuhan harian ikan perlakuan rElGH lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan kontrol. Perlakuan B memiliki pertambahan bobot relatif terhadap kontrolnya (19,9%) lebih tinggi daripada perlakuan A (10,5%) dan C (5,6%). Sintasan ikan perlakuan dan kontrol adalah sama (P>0,05), berkisar 90,7%-96,7%. Konversi pakan pada ikan perlakuan rElGH lebih rendah (P<0,05) dibandingkan dengan kontrol, kecuali perlakuan C. Kadar glikogen hati dan otot, retensi protein dan lemak, indeks hepatosomatik, dan rasio RNA : DNA ikan perlakuan rElGH lebih tinggi daripada kontrol. Dengan demikian, pemberian rElGH meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi pakan untuk pertumbuhan ikan nila, dan hal ini berpotensi tinggi diterapkan untuk meningkatkan produksi dan efisiensi budidaya ikan nila.
PENGARUH PEMBERIAN HORMON PERTUMBUHAN REKOMBINAN DENGAN METODE YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN BENIH IKAN BOTIA (Chromobotia macracanthus) Asep Permana; Alimuddin Alimuddin; Wartono Hadie; Agus Priyadi; Rendy Ginanjar
Jurnal Riset Akuakultur Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.642 KB) | DOI: 10.15578/jra.13.2.2018.123-130

Abstract

Pertumbuhan ikan botia tergolong lambat, memerlukan waktu sekitar enam bulan untuk mencapai ukuran komersial (panjang total 4-5 cm). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respons pertumbuhan benih ikan botia yang diberi hormon pertumbuhan ikan kerapu (rElGH) melalui tiga metode yaitu: perendaman, oral, dan kombinasi perendaman dan oral. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dan setiap perlakuan diulang tiga kali. Dosis rElGH melalui perendaman yaitu 1,2 mg/L diberikan pada larva umur tujuh hari, sedangkan dosis secara oral yaitu 30 mg/kg pakan dan diberikan pada benih umur tiga bulan. Ikan dipelihara dalam akuarium sistem resirkulasi (80 cm x 40 cm x 25 cm) dengan kepadatan 5 ekor/L selama pemeliharaan tiga bulan pertama dan 1 ekor/L selama pemeliharaan periode tiga bulan kedua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi perendaman dan oral memberikan pertumbuhan yang lebih tinggi sebesar 12,04% dibandingkan kontrol. Perlakuan ini juga meningkatkan level ekspresi insulin-like growth factor-1/ IGF-1 sebesar 29,37% dibandingkan kontrol.The growth of Clown Loach is slow. It takes about six months to reach the market size (4-5 cm total body length). This study aimed to evaluate the growth response of Clown Loach treated with recombinant giant grouper growth hormone (rElGH) delivered by three different methods: immersion, oral, and the combination of immersion and oral. A completely randomized design was used as the experimental design and each treatment was replicated three times. The immersion method used rElGH dose of 1.2 mg/L on seven-day-old larvae, while oral treatment used 30 mg rElGH/kg feed on the three-month-old juvenile. The fish were reared in a closed recirculation tank (80 cm x 40 cm x 25 cm) at a density of 5 fish/L for the first three months, and 1 fish/L for the second three months of rearing period. The result showed that the combination of immersion and oral treatments produced a higher growth rate of 12.04% compared to control treatment. Those treatments also increased insulin-like growth factor-1/IGF-1 expression level about 29.37% compared to the control.
IDENTIFIKASI IKAN CUPANG (Betta imbelis) TRANSGENIK FOUNDER MEMBAWA GEN PENYANDI HORMON PERTUMBUHAN; Identification of Transgenic Founder Betta Fish (Betta imbelis) Carry Growth Hormone Gene. Eni Kusrini; Alimuddin Alimuddin; Mohammad Zairin; Dinar Tri Sulistyowati
Jurnal Riset Akuakultur Vol 11, No 3 (2016): (September 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.011 KB) | DOI: 10.15578/jra.11.3.2016.197-205

Abstract

Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi keberhasilan introduksi gen penyandi hormon pertumbuhan (Growth Hormone, GH) pada induk F-0 ikan Betta imbellis. Ikan transgenik F-0 dibuat dengan menggunakan metode transfeksi. Identifikasi dilakukan menggunakan metode RT-PCR. RNA total diekstraksi dari embrio pooled sample hasil persilangan induk transgenik dan non-transgenik. Berdasarkan analisis ekspresi gen pada embrio juga menunjukkan adanya aktivitas ekspresi gen GH pada semua perlakuan dibandingkan dengan kontrol (embrio hasil persilangan non-transgenik x non-transgenik). Jumlah individu induk F-0 yang membawa gen GH eksogen berdasarkan analisis PCR dengan DNA template dari sirip ekor adalah sebanyak 16%. Individu positif membawa gen GH eksogen tersebut dibesarkan lebih lanjut untuk memproduksi Betta imbellis transgenik F-1. Kandidat ikan transgenik jantan F-0 dikawinkan dengan ikan non-transgenik betina, sedangkan transgenik F-0 betina dikawinkan dengan non-transgenik jantan. Sebanyak 30-50 butir embrio hasil pemijahan F-0 digabung, kemudian DNA genom diekstrak. Sebagian embrio digunakan untuk ekstraksi RNA total untuk analisis ekspresi mRNA GH eksogen. Hasil analisis PCR menunjukkan bahwa semua sampel embrio dari induk transgenik F-0 dapat terdeteksi gen GH eksogen, sedangkan untuk kontrol (non-transgenik) tidak terdeteksi. Ekspresi mRNA juga terdeteksi pada embrio F-1. Dengan demikian, metode transfeksi embrio Betta imbellis efektif digunakan untuk menghasilkan ikan transgenik, dan sangat berpotensi menghasilkan individu F-1 Betta imbellis dengan pertumbuhan lebih cepat.The study was conducted to identify the successful introduction of the growth hormone gene (Growth Hormone, GH) on the F-0 Betta imbellis broodstock. The F-0 transgenic fish was made through transfection methods. Identification was done using RT-PCR method. Total RNA was extracted from pooled embryos sample. Based on the analysis of gene expression in embryos also showed activity GH gene expression in all treatments compared to the control (non-transgenic x non-transgenic). The number of individuals F-0 which carried exogenous GH gene by PCR analysis of the DNA template of the tail fin was as much as 16%. Positive individuals carried the exogenous GH gene raised further to produce transgenic F-1 B. imbellis. Candidate of transgenic F-0 males fish were mated with non-transgenic female fish, whereas the transgenic F-0 females were mated with non-transgenic males. The 30-50 embryos obtained were combined, then their genomic DNA were extracted. Some of the embryos was used for the extraction of total RNA for analysis of mRNA expression of GH exogenous. The PCR analysis showed that all samples of embryos from the transgenic F-0 broodstock could be detected, whereas for the control (non-transgenic) was not detected. mRNA expression was also detected in embryos of F-1. The average weight of the F-0 broodstocks were 1.55 g and a total length was 12.97 cm. Thus, the transfection methods through betta embryos peaceful effectively generated transgenic fish, and potentially produced fast growth of individuals F-1 Betta imbellis.
EFEKTIVITAS TRANSFER DAN EKSPRESI GEN PhGH PADA IKAN PATIN SIAM (Pangasianodon hypophthalmus) Raden Roro Sri Pudji Sinarni Dewi; Alimuddin Alimuddin; Agus Oman Sudrajat; Komar Sumantadinata
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.083 KB) | DOI: 10.15578/jra.7.2.2012.171-180

Abstract

Penggunaan konsentrasi DNA yang tinggi dalam elektroporasi sperma meningkatkan pengikatan DNA eksogen pada sperma, dan meningkatkan persentase ikan yang membawa gen asing. Pada penelitian ini, konstruksi gen pCcBA-PhGH yang mengandung promoter β-aktin ikan mas (pCcBA) dan cDNA hormon pertumbuhan (PhGH) ikan patin siam (Pangasianodon hypophthalmus) dibuat dan selanjutnya ditransfer menggunakan metode elektroporasi pada sperma yang berperan sebagai perantara. Elektroporasi dilakukan dengan tipe kejutan square wave dengan panjang kejutan (pulse length) 30 milidetik, interval kejutan (pulse interval) 0,1 detik, kuat medan listrik (electric field strength) 125 V/cm, dan jumlah kejutan (pulse number) 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan transfer gen PhGH eksogen pada ikan patin siam meningkat dengan meningkatnya konsentrasi DNA yang digunakan. Persentase ikan yang membawa gen asing pada konsentrasi DNA 10 μg/mL, 50 μg/mL, dan 90 μg/mL, secara berturut-turut adalah 28,57%; 78,57%; dan 85,71%. Bobot ratarata yuwana ikan patin siam transgenik F0 umur 2 bulan yang dihasilkan menggunakan konsentrasi DNA 50 μg/mL dan 90 μg/mL adalah 22,6% dan 19,0% lebih berat dibandingkan non-transgenik, tetapi pada konsentrasi 10 μg/mL lebih rendah (-8.45%). Populasi yuwana ikan patin siam berumur 4 bulan yang diintroduksi gen asing dengan konsentrasi 90 μg/mL memiliki bobot rataan 53,38% lebih berat dibandingkan kontrol non-transgenik. Dengan menggunakan metode RT-PCR, ekspresi gen PhGH terdeteksi pada sirip ikan transgenik, sedangkan pada ikan non-transgenik tidak terdeteksi. Dengandemikian, elektroporasi sperma menggunakan konsentrasi DNA 90 μg/mL efektif meningkatkan keberhasilan transfer gen, dan over-ekspresi gen PhGH eksogen meningkatkan pertumbuhan ikan patin siam.
Co-Authors . Irmawati . Kurdianto . Suharsono A. Octavera A. Santika Abinawanto ACHIS M. SIREGAR Achmad Sudradjat Ade Sunarma ADITYA BRAHMANDITO Afif Abdurrahman Afpriyaningrum MD AGUS O. SUDRAJAT Agus Oman Sudrajat Agus Priyadi Agus Priyadi Agus Priyadi Ahmad Muzaki AKHMAD TAUFIQ MUKTI Amrullah Amrullah Anang Hari Kristanto Andi Aliah Hidayani Andi Aliah Hidayani Andi Aliah Hidayani Andi Haerul Andi Parenrengi Andi Parenrengi Andi Parenrengi Andi Parenrengi Andi Parenrengi Andi Tenriulo Andi Tenriulo Andi Tenriulo Angela Mariana Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti ANNA OCTAVERA Anny Hary Ayu Aras Syazili Arief Boediono Arief Boediono Arief Eko Prasetiyo Aris Tri Wahyudi Asep Permana Asep Permana Asep Sopian Asep Sopian ASMI CITRA MALINA A. R. TASSAKKA Aulia Saputra Aulia Saputra Ayi Santika Ayi Santika Ayi Santika Azis Azis Bagus Rahmat Basuki Bambang Iswanto Beginer Subhan Boyun Handoyo Boyun Handoyo Budimawan DARMAWAN SETIA BUDI Darussalam DEDI JUSADI DENNY KHAIRUDI Deny Sapto Chondro Utomo Desy Nurul Astuti Dewi Yuniati Dian Hardiantho Dian Hardiantho Dian Novita Sari Dian R Herdianto Dinamella Wahjuningrum Dinar Tri Soelistiyowati Dinar Tri Soelistyowati Dinar Tri Sulistyowati Dinar Tri Sulistyowati Dody Dharmawan Trijuno Dody Dharmawan Trijuno Dondy Arafat Dwi Hany Yanti Dwi Hany Yanti Dwi Yanti Emma Suryati Emma Suryati Enang Harris Enang Harris Enang Harris Eni Kusrini Eni Kusrini Eni Kusrini Eni Kusrini Eni Kusrini Eni Kusrini Eni Kusrini Eni Kusrini Eni Kusrini Eny Heriyati ENY SUPARYANI Erma Primanita Hayuningtyas Erma Primanita Hayuningtyas Estu Nugroho Evi Tahapari F.H. Pasaribu Fadhila Maharani Putri FADHILLAH RAHMAWATI Fajar Anggraeni Fajar Maulana Fauzan Wahib Alsani Fitriyah Husnul Khotimah Fredinan Yulianda G. Yoshizaki GEMI TRIASTUTIK Gloria Ika Satriani Goro Yoshizaki Goro Yoshizaki GORO YOSHIZAKI Goro Yoshizaki Gunarto Gunarto Gusrina Gusrina H. Arfah Hafidah, Riva Hardiantho D Harton Arfah Hary Krettiawan Haryanti Haryanti HASAN NASRULLAH Hasan Nasrullah Hasan Nasrullah Hasan Nasrullah Hasan Nasrullah Hasan Nasrullah Hasan Nasrullah HAWIS H. MADDUPPA Herjayanto, Muh. Huria Marnis Huria Marnis I.W. Teguh Wibawan Iis Diatin Ika Safitri Ikhsan Khasani Imron Imron Imron Imron INCE AYU KHAIRANA KADRIAH Indah Mastuti Indah Permata Sari Indra Lesmana Intan Febrianti Irin Iriana Kusmini Irma Andriani Irma Andriani IRMA ANDRIYANI Irmawati IRMAWATI IRMAWATI Irmawati, Budimawan Irvan Faizal IRVAN FAIZAL Irvan Faizal Irvan Faizal Irvan Faizal Irvan Faizal Irvan Faizal Irvan Faizal Irzal Effendi Ita Djuwita Ita Djuwita Jasmadi Jasmadi Jean-Christophe Avarre Joko Santoso Joni Haryadi Jr., Muhammad Zairin Julie Ekasari K. Chaitanya Deepti K. Sumantadinata Kamaruddin Ketut Mahardika Ketut Sugama khairuzzazi Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata KOMAR SUMANTADINATA Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Kukuh Nirmala Kurnia Anggraini Rahmi Lies Emmawati Hadie Luky Adrianto M. SASMITO JATI M. Zairin Junior M.Y. Jamal Maharani, Adinda Maskur Maskur Megawati, Novi MEIMULYA MEIMULYA Melta Rini Fahmi Mia Setiawati Mira Mawardi Mochamad Syaifudin Moh. Tauhid Umar Mohammad Zairin Mohammad Zairin Mubinun Mubinun Muh Alias L. Rajamuddin Muh. Alias L. Rajamuddin MUHAMMAD AGUS SUPRAYUDI Muhammad Firdaus Muhammad Hunaina Fariduddin Ath-thar Muhammad Hunaina Fariduddin Ath-thar Muhammad Husni Amarullah Muhammad Muhammad Muhammad Muttaqin Muhammad Safir Muhammad Yamin Muhammad Zairin Jr Muhammad Zairin Jr Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. MUHAMMAD ZAIRIN JR. Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. Mulyasari Mulyasari MUNTI YUHANA Muslim Muslim Muzahar N.A. Maswan Nadia Ayuningthias NADIARTI NADIARTI NITA RUKMINASARI Nita Rukminasari Nita Rukminasari Novi Megawati Novi Megawati Nunak Nafiqoh Nunuk Listiyowati Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyo Utomo NURBETY TARIGAN Nurly Faridah Nurly Faridah O. Carman O.Z. Arifin Odang Carman P. Ratna Kumar Petrus Rani Pong-Masak Priadi Setyawan Pustika Ratnawati Putriku Nadzira Sativa R Rifai R.D. Soejoedono Raden Roro Sri Pudji Sinarni Dewi Raden Roro Sri Pudji Sinarni Dewi RATU SITI ALIAH Ratu Siti Aliah Ratu Siti Aliah Ratu Siti Aliah Rendy Ginanjar Reni Agustina Lubis Ridwan RIDWAN AFFANDI Rommy Suprapto Ruby Vidia Kusumah Rudhy Gustiano RUSTIDJA S. Mariam Samsu Adi Rahman Sari Budi Moria Sembiring Sekar Ayu Chairunnisa Sekar Sulistyaning Hadiwibowo Setiawati M Shabarullah Siska Aliyas Sandra Siti Aslamyah Siti Fadilah Siti Khodijah Siti Subaidah Siti Zuhriyyah Musthofa Sitti Fakhriyyah SLAMET SUBYAKTO Soelistyowati DT Soko Nuswantoro Sri Murtini Sri Nuryati Sri Nuryati St. Hidayah Triana Suci Antoro Sukenda, Sukenda, SUKMARAHARJA A. TARIGAN Sularto Sularto Sularto Sularto Sutanti Sutanti Syuhada Restu Danupratama T. Takeuchi Tatag Budiardi Toshio Takeuchi Tristiana Yuniarti Uswatun Hasanah Uswatun Hasanah Utut Widyastuti Utut Widyastuti Utut Widyastuti Utut Widyastuti Utut Widyastuti Wartono Hadie Wartono Hadie Wartono Hadie Wartono Hadie Wartono Hadie Wedaraningtyas Nugrahani Wicaksono, Aryo Wenang WIDANARNI WIDANARNI Wiwien Mukti Andriyani Wiwien Mukti Andriyani Y. Hadiroseyani Yanti Inneke Nababan yogi Himawan Yulintine Yulintine Yuni Puji Hastuti Yushinta Fujaya Yushinta Fujaya Zairin Jr M Zakki Zainun