Claim Missing Document
Check
Articles

KARAKTERISTIK FENOTIPE HIBRIDA HUNA BIRU (Cherax albertisii) DENGAN HUNA CAPITMERAH (Cherax quadricarinatus) Irin Iriana Kusmini; Komar Sumantadinata; Estu Nugroho; Alimuddin Alimuddin
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 1 (2010): (April 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2753.3 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.1.2010.25-33

Abstract

Lobster air tawar (huna) adalah spesies endemik dan merupakan komoditas perikanan spesifik lokal Papua dan Australia, yang termasuk famili Parastacidae dan genus Cherax. Secara morfologi ada persamaan bentuk dan warna antara huna biru dengan capitmerah. Diduga terjadi inbreeding yang menyebabkan produksi huna capitmerah mulai menurun. Hibridisasi antar huna bertujuan untuk meningkatkan keragaman genetiknya sehingga diperoleh kualitas benih huna yang lebih baik dalam hal pertumbuhan dan sintasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan turunan hibrida antara huna capitmerah dengan huna biru sampai 4 bulan relatif sama dengan non hibrida, pada umur 5 bulan pertumbuhan hibrida mulai terlihat lebih cepat dibandingkan dengan yang non hibrida. Hibridisasi jantan huna biru dengan betina huna capit merah (AR) menghasilkan hibrida dengan efek heterosis 25% pada kenaikan bobot badannya. Hibridisasi jantan huna capitmerah dengan betina huna biru (RA) menghasilkan nilai sintasan yang lebih baik dibandingkan dengan AR
EKSPRESI PROTEIN COAT DAN mRNA VIRAL NERVOUS NECROSIS YANG DIKENDALIKAN OLEH PROMOTER β-AKTIN IKAN MEDAKA DAN KERATIN IKAN FLOUNDER JEPANG Wiwien Mukti Andriyani; Sri Murtini; Alimuddin Alimuddin; I.W. Teguh Wibawan
Jurnal Riset Akuakultur Vol 9, No 1 (2014): (April 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (670.608 KB) | DOI: 10.15578/jra.9.1.2014.79-86

Abstract

Kemampuan promoter dalam mengatur ekspresi gen penyandi protein imunogenik sangat menentukan efikasi suatu vaksin DNA. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat ekspresi protein dan mRNA RNA2 penyandi coat protein (CP) virus viral nervous necrosis (VNN) yang dikendalikan oleh dua promoter berbeda, yaitu promoter β-aktin ikan medaka (mBA), dan keratin ikan flounder Jepang (JfKer). Uji ekspresi CP dilakukan menggunakan embrio ikan lele dumbo (Clarias sp.) sebagai model, sedangkan analisis mRNA dilakukan menggunakan ikan kerapu tikus. Konstruksi vektor ekspresi pmBA-CP dan pJKer-CP dengan konsentrasi 50 ng/μL KCl 1 M disuntikkan ke embrio ikan lele dumbo fase 1-2 sel. Sebanyak 30 embrio ikan lele dumbo diambil pada jam ke-6, 8, 10, 12, 14, dan 16 pascainjeksi untuk analisis protein. Hasil SDS-PAGE menunjukkan adanya protein berukuran sekitar 42 kDa, dan analisis western blot menggunakan antibodi (Ab) poliklonal anti-VNN membuktikan bahwa protein tersebut adalah CP. Keberhasilan deteksi protein spesifik menggunakan Ab anti-VNN tersebut menunjukkan bahwa embrio ikan lele dapat digunakan untuk menguji potensi produksi protein imunogenik yang dikendalikan oleh promoter berbeda. Pengujian ini juga menunjukkan bahwa, aktivitas promoter mBA lebih tinggi daripada promoter JfKer, sehingga uji ekspresi mRNA dilakukan menggunakan konstruksi pmBA-CP. Benih ikan kerapu tikus (panjang badan sekitar 5 cm) diinjeksi dengan pmBA-CP secara intramuskular dengan dosis 12,5 μg/ekor. Total RNA diekstraksi dari daging pada waktu 6, 12, dan 24 jam pascainjeksi. Hasil RT-PCR menunjukkan adanya ekspresi mRNA CP pada 24 jam pascainjeksi. Hal tersebut menunjukkan bahwa promotor mBA aktif mengendalikan ekspresi CP pada ikan kerapu tikus, dan pmBA-CP berpotensi digunakan sebagai vaksin DNA untuk menginduksi kekebalan ikan kerapu terhadap infeksi VNN.
STATUS KESEHATAN IKAN LELE (Clarias gariepinus) YANG MENERIMA PAKAN BERSUPLEMEN KOMBINASI DAUN SIRIH (Piper betler leaf), JAMBU BIJI (Psidium guajava leaf), DAN KIPAHIT (Tithonia diversifolia leaf) Nunak Nafiqoh; Sukenda Sukenda; Muhamad Zairin Junior; Alimuddin Alimuddin; Angela Mariana Lusiastuti; Jean-Christophe Avarre
Jurnal Riset Akuakultur Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.799 KB) | DOI: 10.15578/jra.13.4.2018.357-365

Abstract

Tanaman obat telah banyak digunakan sebagai bahan pencegah dan pengobatan penyakit pada ikan budidaya. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui status kesehatan ikan lele (C. gariepinus) yang menerima pakan dengan suplemen tanaman obat kombinasi dari daun sirih, jambu biji, dan kipahit melalui pengamatan gambaran darah dan histologi ginjal sebagai organ yang memproduksi darah. Kombinasi satu merupakan kombinasi dari ketiga daun tanaman obat masing-masing sebanyak 33%, kombinasi dua juga terdiri dari daun sirih, jambu biji, dan kipahit masing-masing sebanyak 5%:19%:76%, dan kontrol yaitu pakan tanpa penambahan tanaman obat. Gambaran darah dan histologi ginjal diamati pada minggu ketiga setelah pemberian pakan. Hasil pengamatan gambaran darah menunjukkan bahwa terdapat peningkatan jumlah sel darah merah pada ikan yang menerima pakan perlakuan dibandingkan dengan kontrol (0,4 ± 0,14). Namun tidak terdapat perbedaan nyata antara jumlah sel darah merah dari kelompok perlakuan kombinasi satu dan dua (1,5 ± 0,17 dan 1,4 ± 0,1). Jumlah sel darah putih pada kelompok perlakuan juga meningkat dibandingkan dengan kelompok kontrol (10,5 ± 0,46), namun tidak terdapat perbedaan nyata antara kelompok perlakuan kombinasi satu dan dua (15,1 ± 1,19 dan 17,6 ± 1,14). Hasil pengamatan histologi terlihat jaringan hematopoietik organ ginjal dari kelompok yang menerima perlakuan berproliferasi lebih banyak dibandingkan kelompok kontrol. Namun tidak ada pengaruh pada nilai hemoglobin dan persentase leukosit diferensiasi antara kelompok perlakuan dan kontrol. Penambahan daun tanaman obat dalam pakan ikan mampu meningkakan status kesehatan dari ikan lele.Medicinal herbs have been traditionally used as prophylactic and therapeutic supplement to treat diseases in aquaculture. This study was aimed to improve the health quality of catfish (C. gariepinus) through feeding on diets enriched with a combination of betel, guava, and tithonia as medicine by analyzing hematology and histology of kidney as blood producing organ. Diet-one was feed enrich with 33% of each plant. Diet-two was feed enriched with betel, guava, and tithonia at a proportion of 5%,19%, and 76%, respectively. Control diet was fed without the plants’ supplementation. Hematology and histology of fish kidney were observed after fish received three-week feed treatments. The results showed that there was an increase of erythrocyte levels in the treated fish groups fed with diet-one and diet-two compared with the control (0.4 ± 0.14). However, no significant differences of erythrocyte level were observed between fish groups fed with diet -one and die-two (1.5 ± 0.17 and 1.4 ± 0.1). Leucocyte levels also increased in the treated fish group with diet-one and diet-two compared to the control (10.5 ± 0.46). However, there was no significant difference of leucocyte level between the fish group feed with diet-one and diet-two (15.1 ± 1.19 and 17.6 ± 1.14). Histological observations found that there were more hematopoietic tissues in the fish kidney of proliferated treated group than the control group. However, there was no effect on hemoglobin level and leukocyte percentage differentiation between the treatment and control groups. This study concludes that medicinal herbs as enrichment ingredients in fish diet can increase the health quality of fish.
PRODUKSI PROTEIN REKOMBINAN HORMON PERTUMBUHAN IKAN KERAPU Irvan Faizal; Ratu Siti Aliah; Muhammad Husni Amarullah; Novi Megawati; Sutanti Sutanti; Alimuddin Alimuddin
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.059 KB) | DOI: 10.15578/jra.7.2.2012.231-235

Abstract

Salah satu spesies ikan yang menjadi target produksi perikanan budidaya nasional adalah ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis). Ikan kerapu tikus merupakan ikan laut budidaya komoditas ekspor, namun laju pertumbuhannya sangat lambat. Oleh karena itu, perlu dilakukan usaha budidaya yang mampu menaikkan laju pertumbuhan ikan kerapu tikus. Pendekatan nutrisi melalui penggunaan hormon pertumbuhan (Growth Hormone, GH) pada usaha budidaya diyakini mampu meningkatkan kecepatan tumbuh ikan budidaya. Pada penelitian ini, melalui teknologi DNA rekombinan telah dilakukan isolasi dan identifikasi gen GH yang selanjutnya dilakukan produksi protein rekombinan GH (recombinant Growth Hormone, rGH) dengan memanfaatkan penggunaan bakteri E. coli. Dalam pelaksanaan penelitian dilakukan konstruksi rGH yang menghasilkan bakteri E. coli BL21 (DE3) yang mampu memproduksi protein rGH. Produksi rGH dilakukan pada skala bioreaktor. Proses isolasi produk rGH-nya dalam bentuk pellet inclusion bodies yang selanjutnya dicampur dengan pelet pakan komersil hingga konsentrasi akhir protein dalam pakan mencapai 1 ng/6 mg pakan, di mana setelah dikering-anginkan, pelet pakan protein rekombinan GH dapat diaplikasikan untuk budidaya ikan kerapu tikus dan ikan budidaya lainnya.
KLONING PROMOTER b-AKTIN DARI IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy) Estu Nugroho; Alimuddin Alimuddin; Anang Hari Kristanto; Odang Carman
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 1 (2009): (April 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (554.573 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.1.2009.23-31

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengisolasi promoter b-aktin (ggBA) dari ikan gurami (Osphronemus gouramy). Sekuens promoter ggBA diisolasi menggunakan metode “degenerate” PCR. Sekuensing dilakukan menggunakan mesin ABI PRISM 3100-Avant. Analisis sekuens menggunakan program BLAST, GENETYX versi 7 dan TFBind. Panjang sekuens DNA hasil kloning adalah sekitar 2,2 kb. Analisis BLAST menunjukkan bahwa sekuens DNA hasil kloning memiliki kemiripan dengan sekuens gen b-aktin ikan yang ada di Bank Gen. Sekuens hasil kloning memiliki faktor transkripsi yang konserf untuk promoter b-aktin, yaitu: CCAAT, CC(A/T)6GG, dan boks TATA. Posisi faktor transkripsi tersebut juga mirip dengan yang dimiliki oleh promoter b-aktin dari ikan yang ada di Bank Gen. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fragmen DNA hasil amplifikasi PCR tersebut merupakan sekuens promoter b-aktin ikan gurami.The research was aimed to isolate b-actin promoter of gouramy (ggBA). Sequence of ggBA promoter was isolated using “degenerate” PCR. Sequencing was conducted using ABI PRISM 3100-Avant machine. The sequencing analysis was done using BLAST, GENETYX ver 7 and TFBind programs. The sequencing length of DNA clone result was around 2.2 kb. BLAST analysis showed that sequences from cloned DNA had the resemblence to those of b-actin sequences in GenBank database. The cloned sequences had transcript factors which followed b-actin promoter namely CCAAT, CC(A/T)6GG and TATA box.
POLA EKSPRESI GEN ENHANCED GREEN FLUORESCENT PROTEIN PADA EMBRIO DAN LARVA IKAN PATIN SIAM (Pangasianodon hypophthalmus) Raden Roro Sri Pudji Sinarni Dewi; Alimuddin Alimuddin; Agus Oman Sudrajat; Komar Sumantadinata; Erma Primanita Hayuningtyas
Jurnal Riset Akuakultur Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1107.512 KB) | DOI: 10.15578/jra.8.3.2013.339-346

Abstract

Penelitian ekspresi sementara (transient expression) dari transgen secara in vivomenggunakan gen reporter berguna untuk mendesain konstruksi gen yang akan digunakan pada penelitian transgenesis. Gen reporter yang umum digunakan dalam penelitian ekspresi sementara transgen adalah gen GFP (green fluorescent protein). Pengamatan gen EGFP (enhanced green fluorescent protein) pada embrio dan larva ikan patin siam (Pangasianodon hypophthalmus) ditujukan untuk mendapatkan informasi mengenai kemampuan promoter -aktin ikan mas dalam mengendalikan ekspresi gen EGFP. Gen EGFP diintroduksikan ke dalam sperma ikan patin siam menggunakan metode elektroporasi. Sperma yang telah dielektroporasi digunakan untuk membuahi sel telur ikan patin siam. Pengamatan ekspresi gen EGFP dilakukan setiap enam jam dimulai dari embrio fase 2 sel sampai larva. Berdasarkan hasil penelitian, gen EGFP terekspresi pada fase embrio dan larva ikan patin siam. Puncak ekspresi gen EGFP terjadi pada fase neurula dan menurun pada fase larva. Berdasarkan penelitian ini maka ikan patin siam transgenik telah berhasil dibentuk dan promoter -aktin ikan mas terbukti aktif dalam mengarahkan ekspresi gen asing (GFP) di dalam tubuh ikan patin siam.
TOLERANSI SALINITAS BENIH PERSILANGAN 3 STRAIN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DENGAN IKAN MUJAIR (O. mossambicus) Gusrina Gusrina; Alimuddin Alimuddin; Komar Sumantadinata; Utut Widyastuti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.216 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.3.2009.333-340

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keberhasilan introduksi gen penyandi hormon pertumbuhan (Growth Hormone, GH) pada embrio ikan lele sehingga dapat memperbaiki kecepatan tumbuhnya. Gen GH dari ikan nila (tiGH) yang dikontrol oleh promoter beta-aktin (mBP) dari ikan medaka dimikroinjeksikan ke dalam blastodisk embrio ikan lele fase satu sel. Konsentrasi konstruksi gen pmBP-tiGH yang ditransfer adalah 50 µg/mL akuabides. Parameter yang diamati meliputi derajat sintasan embrio (DKHe), derajat penetasan (DP) dan persentase individu ikan lele yang membawa pmB-tiGH. DKHe dihitung sebelum telur menetas, sedangkan DP dihitung pada saat semua telur menetas. Identifikasi ikan yang membawa pmB-tiGH ditentukan menggunakan metode PCR dengan primer spesifik untuk gen tiGH. Analisis ekspresi gen menggunakan metode RT- PCR. Hasil penelitian dari 100 embrio yang diinjeksi menunjukkan bahwa nilai DKHe (97%) dan DP  (94%) pada kontrol (tidak dimikroinjeksi) lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan mikroinjeksi (30% untuk DKHe, dan 28% DP). Ikan lele yang membawa pmBP-tiGH adalah 42,86% (12/28). Kesimpulan adalah bahwa tiGH masih diekspresikan pada benih ikan lele.This study was conducted to determine the success of introducing gene encoding growth hormone (GH) in catfish embryos that can improve its growth rate. GH gene of Nile tilapia, driven by medaka bactin promoter was injected to one cell stage of catfish embryos by microinjection method. The DNA solution (pmBP-tiGH) used was 50 µL/ml in SDW (Sterile Distillated Water). The parameters observed were survival rate of embryos (SRe), hatching rate (HR), and the percentage of individual carrying pmBP-tiGH. SRe was calculated before hatching and HR was calculated at the time of all embryos hatched. Transgenic individuals carrying tiGH were identified by PCR (Polymerase Chain Reaction) method with specific primer for tiGH gene. The analysis of gene expression was detected by RT-PCR. The results of the research from 100 catfish embryos showed that control have higher SRe (97%) and HR (94%) than SRe (30%) and HR (28%) of injected fish. The percentage of catfish carrying tiGH gene was 42.86% (12/28). Conclusion: tiGH was expressed in catfish.
EFEKTIVITAS PROMOTER b-ACTIN IKAN MEDAKA (Oryzias latipes) DENGAN PENANDA GEN hrGFP (HUMANIZED Renilla reniformis GREEN FLUORESCENT PROTEIN) PADA IKAN LELE (Clarias gariepinus) KETURUNAN F0 Muhammad Hunaina Fariduddin Ath-thar; Komar Sumantadinata; Alimuddin Alimuddin; Rudhy Gustiano
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1084.236 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.2.2008.199-207

Abstract

Promoter merupakan salah satu faktor penentu dalam teknologi transgenesis. Pada penelitian ini efektivitas promoter b-actin ikan medaka diuji pada telur ikan lele fase 1 sel dan 2 sel. Penelitian dilakukan di Laboratorium Pengembangbiakan dan Genetika Ikan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini berlangsung selama 3 bulan. Insersi promoter dilakukan dengan cara menginjeksi telur hasil pemijahan buatan dengan plasmid DNA pmb-actin–hrGFP pada fase telur 1 sel dan 2 sel. Konsentrasi DNA yang digunakan adalah 20 µg/mL. Perkembangan embrio diamati pada 8, 12, 16, 20, 24 jam setelah gen disuntikkan serta 4 dan 8 jam setelah telur menetas. Derajat sintasan embrio (DKH), derajat penetasan (DP), dan persentase embrio mengekspresikan transgen (PEMT) dicatat selama pengamatan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa promoter b-actin ikan medaka aktif pada ikan lele, dengan adanya ekspresi gen hrGFP pada embrio setelah 8, 12, 16, 20, 24 jam setelah penyuntikan serta 4 dan 8 jam setelah telur menetas. Nilai DKHkontrol pada jam ke-24 adalah 97,1% dan untuk DKHinjeksi pada jam ke-24 adalah 85,7%. Untuk PEMT pada telur yang disuntik pada fase 1 sel mempunyai persentase yang lebih tinggi (66,7%) dibanding telur yang disuntik pada fase 2 sel (50,0%). Derajat penetasan memperlihatkan bahwa jumlah telur untuk penyuntikan pada fase 1 sel lebih tinggi (93,3%) dibanding dengan yang disuntik pada fase 2 sel (55,0%). Total jumlah telur yang berhasil disuntik adalah 35 butir dan yang terekspresi sebanyak 20 butir (57,1%).Promoter is one of the most important factors in transgenic. In this study, effectiveness of b-actine of medaka (Oryzias latipes) was examined in the eggs of walking catfish at the first cleavage and two cell stage. The experiment was carried out in the Laboratory of Fish Genetic, Fac. of Fisheries, Bogor Agricultural University for three months. Promoter was inserted by injecting artificial fertilization eggs with DNA pmb-actin–hrGFP plasmid. DNA concentration was 20 µg/mL. Eggs development were observed at 8, 12, 16, 20, 24 hours after injection, 4 and 8 hours after hatching. The result showed that b-actin promoter was active on embryo targets indicated by expression of hrGFP gene after 8, 12, 16, 20, 24 hours after injection as well as 4 and 8 hours after hatching. Survival rate within 24 hours were 97.1% for control and 85.7% for injected eggs. Successful of injection was higher on the first cleavage stage (66.7%) than that of on the two stage cell (50.0%). Hatching rate was also higher on the first cleavage (93.3%) than that of on the two cell stage (55.0%). Total number of eggs injected succesfully was 35 eggs with 57.1% of them containing foreign genes.
ISOLASI DAN KARAKTERISASI PROMOTER β-ACTIN DARI IKAN KERAPU BEBEK (Cromileptes altivelis) Alimuddin Alimuddin; Wedaraningtyas Nugrahani; Ratu Siti Aliah; Komar Sumantadinata; Irvan Faizal; Odang Carman; Goro Yoshizaki
Jurnal Riset Akuakultur Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.021 KB) | DOI: 10.15578/jra.2.2.2007.199-210

Abstract

Promoter sebagai regulator ekspresi gen merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan transgenesis.  Penelitian isolasi dan karakterisasi promoter β-actin (ktBA) dari ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis) dalam rangka pembuatan ikan kerapu autotransgenik telah dilakukan. Promoter β-actin memiliki aktivitas tinggi pada jaringan otot. Sekuens promoter ktBA diisolasi menggunakan metode degenerate PCR. Sekuensing dilakukan menggunakan mesin ABI PRISM 3100. Analisis sekuens menggunakan software BLAST, GENETYX versi 7 dan TFBind. Fragment DNA hasil amplifikasi PCR yang dipotong dari vektor kloning selanjutnya diligasi dengan pEGFPN1 untuk membuat konstruksi pktBA-EGFP. Konstruksi pktBA-EGFP dimikroinjeksi ke embrio ikan zebra (Danio rerio) fase 1 sel untuk menguji aktivitas promoter ktBA. Ekspresi gen EGFP diamati menggunakan mikroskop fluoresens. Analisis sekuens menunjukkan bahwa panjang fragmen DNA hasil amplifikasi PCR sekitar 1,6 kb dan memiliki faktor transkripsi yang conserved pada promoter β-actin, yaitu CCAAT, CArG dan boks TATA. Selanjutnya, sekuens ktBA dalam konstruksi pktBA-EGFP mampu mengendalikan ekspresi gen EGFP pada jaringan otot embrio ikan zebra yang dimikroinjeksi dengan konstruksi tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fragmen DNA hasil amplifikasi PCR tersebut merupakan sekuens promoter β-actin ikan kerapu bebek. Pembuatan ikan kerapu autotransgenik selanjutnya dapat dilakukan dengan mengganti gen EGFP pada pktBA-EGFP dengan gen-gen asal ikan kerapu yang mengkodekan karakter penting dalam budi daya ikan.Promoter as gene expression regulator is one of the factors affecting the successful of transgenesis. Isolation and characterization of β -actin promoter (ktBA) from humpback grouper (Cromileptes altivelis) towards generation of autotransgenic grouper have been conducted.  β -actin promoter has high activity in muscle. Sequence of ktBA promoter was isolated by using degenerate PCR method. Sequencing was performed using ABI PRISM 3100 machine. Analysis of sequences was conducted using BLAST, GENETYX version 7 and TFBind softwares. DNA fragment of PCR amplification product digested from the vector cloning was then ligated with pEGFPN1 to generate pktBA-GFP construct. The construct was microinjected into one-cell stage of zebrafish (Danio rerio) embryos to test the ktBA promoter activity. EGFP gene expression was observed by fluorescence microscope. The result of sequence analysis showed that the length of DNA fragment obtained is about 1.6 kb and containing the evolutionary conserved sequences of transcription factor for β -actin promoter including CCAAT, CArG and TATA boxes. Furthermore, ktBA sequence in pktBA-EGFP construct could drove GFP expression in muscle of zebrafish embryos injected with the construct. The results suggested that PCR amplification product is the regulator sequence of humpback grouper β -actin gene. Autotransgenic grouper can be then produced by changing GFP gene fragment of pktBA-EGFP construct with genes from grouper encoding important traits in aquaculture.
PENYISIPAN GEN WARNA PADA IKAN Carassius auratus MENGGUNAKAN METODE ELEKTROFORASI DALAM UPAYA MENINGKATKAN KUALITAS IKAN HIAS Wartono Hadie; Eni Kusrini; Agus Priyadi; Alimuddin Alimuddin
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.653 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.3.2010.335-343

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan teknik rekayasa penyisipan gen warna pada ikan hias dan pengetahuan tentang pola pewarisannya yang akan dapat membantu perbaikan mutu ikan. Metode yang diterapkan adalah elektroforasi. Ikan hias yang digunakan dalam penelitian adalah ikan komet (Carassius auratus) sedangkan gen pemendar yang digunakan adalah GFP (green fluorescent protein) dengan konstruksi DNA yang digunakan berbentuk plasmid yang dikontrol oleh promoter b-aktin dari ikan Japanese flounder (ikan sebelah) dengan panjang fragmen pKer-GFP 6,0 kb. Sintasan dan keberadaan gen GFP diamati mulai dari telur menetas. Ekspresi gen dapat diamati setelah fase terbentuknya sirip dan dilakukan secara deskriptif (performa) dan PCR. Hasil yang diperoleh gen GFP terekspresi mulai pembentukan sirip dan hasil cek PCR semua ketiga konsentrasi DNA yang dicobakan mempunyai ekspresi yang sama. Untuk dapat mengetahui ekspresi gen GFP sampai pada F0 masih menunggu ikan dewasa dan matang gonad.This research was aimed to obtain a method for introduction of exogenous gene of green flourescent protein (GFP) in order to improve the ornamental fish color appearance. The method used were electroporation. The Carassius auratus were used in this research. The construct of flourescent gene of pKer-GFP as DNA construct of plasmid controlled by b-actin of Japanese flounder with pKer-GFP 6.0 kb in length. Survival rate and gene expression of GFP assessed right after the eggs hatched. Gene expression was observed using PCR product and direct observation. The result show that the expression of GFP from all of three treatments were observed but not significantly different. This expression however should be wait until the fish mature.
Co-Authors . Irmawati . Kurdianto . Suharsono A. Octavera A. Santika Abinawanto ACHIS M. SIREGAR Achmad Sudradjat Ade Sunarma ADITYA BRAHMANDITO Afif Abdurrahman Afpriyaningrum MD AGUS O. SUDRAJAT Agus Oman Sudrajat Agus Priyadi Agus Priyadi Agus Priyadi Ahmad Muzaki AKHMAD TAUFIQ MUKTI Amrullah Amrullah Anang Hari Kristanto Andi Aliah Hidayani Andi Aliah Hidayani Andi Aliah Hidayani Andi Haerul Andi Parenrengi Andi Parenrengi Andi Parenrengi Andi Parenrengi Andi Parenrengi Andi Tenriulo Andi Tenriulo Andi Tenriulo Angela Mariana Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti ANNA OCTAVERA Anny Hary Ayu Aras Syazili Arief Boediono Arief Boediono Arief Eko Prasetiyo Aris Tri Wahyudi Asep Permana Asep Permana Asep Sopian Asep Sopian ASMI CITRA MALINA A. R. TASSAKKA Aulia Saputra Aulia Saputra Ayi Santika Ayi Santika Ayi Santika Azis Azis Bagus Rahmat Basuki Bambang Iswanto Beginer Subhan Boyun Handoyo Boyun Handoyo Budimawan DARMAWAN SETIA BUDI Darussalam DEDI JUSADI DENNY KHAIRUDI Deny Sapto Chondro Utomo Desy Nurul Astuti Dewi Yuniati Dian Hardiantho Dian Hardiantho Dian Novita Sari Dian R Herdianto Dinamella Wahjuningrum Dinar Tri Soelistiyowati Dinar Tri Soelistyowati Dinar Tri Sulistyowati Dinar Tri Sulistyowati Dody Dharmawan Trijuno Dody Dharmawan Trijuno Dondy Arafat Dwi Hany Yanti Dwi Hany Yanti Dwi Yanti Emma Suryati Emma Suryati Enang Harris Enang Harris Enang Harris Eni Kusrini Eni Kusrini Eni Kusrini Eni Kusrini Eni Kusrini Eni Kusrini Eni Kusrini Eni Kusrini Eni Kusrini Eny Heriyati ENY SUPARYANI Erma Primanita Hayuningtyas Erma Primanita Hayuningtyas Estu Nugroho Evi Tahapari F.H. Pasaribu Fadhila Maharani Putri FADHILLAH RAHMAWATI Fajar Anggraeni Fajar Maulana Fauzan Wahib Alsani Fitriyah Husnul Khotimah Fredinan Yulianda G. Yoshizaki GEMI TRIASTUTIK Gloria Ika Satriani Goro Yoshizaki Goro Yoshizaki GORO YOSHIZAKI Goro Yoshizaki Gunarto Gunarto Gusrina Gusrina H. Arfah Hafidah, Riva Hardiantho D Harton Arfah Hary Krettiawan Haryanti Haryanti HASAN NASRULLAH Hasan Nasrullah Hasan Nasrullah Hasan Nasrullah Hasan Nasrullah Hasan Nasrullah Hasan Nasrullah HAWIS H. MADDUPPA Herjayanto, Muh. Huria Marnis Huria Marnis I.W. Teguh Wibawan Iis Diatin Ika Safitri Ikhsan Khasani Imron Imron Imron Imron INCE AYU KHAIRANA KADRIAH Indah Mastuti Indah Permata Sari Indra Lesmana Intan Febrianti Irin Iriana Kusmini Irma Andriani Irma Andriani IRMA ANDRIYANI Irmawati IRMAWATI IRMAWATI Irmawati, Budimawan Irvan Faizal IRVAN FAIZAL Irvan Faizal Irvan Faizal Irvan Faizal Irvan Faizal Irvan Faizal Irvan Faizal Irzal Effendi Ita Djuwita Ita Djuwita Jasmadi Jasmadi Jean-Christophe Avarre Joko Santoso Joni Haryadi Jr., Muhammad Zairin Julie Ekasari K. Chaitanya Deepti K. Sumantadinata Kamaruddin Ketut Mahardika Ketut Sugama khairuzzazi Komar Sumantadinata KOMAR SUMANTADINATA Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Kukuh Nirmala Kurnia Anggraini Rahmi Lies Emmawati Hadie Luky Adrianto M. SASMITO JATI M. Zairin Junior M.Y. Jamal Maharani, Adinda Maskur Maskur Megawati, Novi MEIMULYA MEIMULYA Melta Rini Fahmi Mia Setiawati Mira Mawardi Mochamad Syaifudin Moh. Tauhid Umar Mohammad Zairin Mohammad Zairin Mubinun Mubinun Muh Alias L. Rajamuddin Muh. Alias L. Rajamuddin MUHAMMAD AGUS SUPRAYUDI Muhammad Firdaus Muhammad Hunaina Fariduddin Ath-thar Muhammad Hunaina Fariduddin Ath-thar Muhammad Husni Amarullah Muhammad Muhammad Muhammad Muttaqin Muhammad Safir Muhammad Yamin Muhammad Zairin Jr Muhammad Zairin Jr Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. MUHAMMAD ZAIRIN JR. Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. Mulyasari Mulyasari MUNTI YUHANA Muslim Muslim Muzahar N.A. Maswan Nadia Ayuningthias NADIARTI NADIARTI NITA RUKMINASARI Nita Rukminasari Nita Rukminasari Novi Megawati Novi Megawati Nunak Nafiqoh Nunuk Listiyowati Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyo Utomo NURBETY TARIGAN Nurly Faridah Nurly Faridah O. Carman O.Z. Arifin Odang Carman P. Ratna Kumar Petrus Rani Pong-Masak Priadi Setyawan Pustika Ratnawati Putriku Nadzira Sativa R Rifai R.D. Soejoedono Raden Roro Sri Pudji Sinarni Dewi Raden Roro Sri Pudji Sinarni Dewi RATU SITI ALIAH Ratu Siti Aliah Ratu Siti Aliah Ratu Siti Aliah Rendy Ginanjar Reni Agustina Lubis Ridwan RIDWAN AFFANDI Rommy Suprapto Ruby Vidia Kusumah Rudhy Gustiano RUSTIDJA S. Mariam Samsu Adi Rahman Sari Budi Moria Sembiring Sekar Ayu Chairunnisa Sekar Sulistyaning Hadiwibowo Setiawati M Shabarullah Siska Aliyas Sandra Siti Aslamyah Siti Fadilah Siti Khodijah Siti Subaidah Siti Zuhriyyah Musthofa Sitti Fakhriyyah SLAMET SUBYAKTO Soelistyowati DT Soko Nuswantoro Sri Murtini Sri Nuryati Sri Nuryati St. Hidayah Triana Suci Antoro Sukenda, Sukenda, SUKMARAHARJA A. TARIGAN Sularto Sularto Sularto Sularto Sutanti Sutanti Syuhada Restu Danupratama T. Takeuchi Tatag Budiardi Toshio Takeuchi Tristiana Yuniarti Uswatun Hasanah Uswatun Hasanah Utut Widyastuti Utut Widyastuti Utut Widyastuti Utut Widyastuti Utut Widyastuti Wartono Hadie Wartono Hadie Wartono Hadie Wartono Hadie Wartono Hadie Wedaraningtyas Nugrahani Wicaksono, Aryo Wenang WIDANARNI WIDANARNI Wiwien Mukti Andriyani Wiwien Mukti Andriyani Y. Hadiroseyani Yanti Inneke Nababan yogi Himawan Yulintine Yulintine Yuni Puji Hastuti Yushinta Fujaya Yushinta Fujaya Zairin Jr M Zakki Zainun