p-Index From 2021 - 2026
7.247
P-Index
This Author published in this journals
All Journal International Journal of Evaluation and Research in Education (IJERE) Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Cakrawala Pendidikan Jurnal Kependidikan: Penelitian Inovasi Pembelajaran JURNAL PENELITIAN ILMU PENDIDIKAN Humanika : Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum INFORMASI Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia INOTEKS : Jurnal Inovasi Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni Jurnal Pendidikan Geografi Undiksha Ulul Albab: Jurnal Studi Islam Journal of Education and Learning (EduLearn) KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE JIPSINDO (Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Indonesia) WALISONGO Dinamika Pendidikan Jurnal Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat Harmoni Sosial: Jurnal Pendidikan IPS Jurnal Akuntabilitas Manajemen Pendidikan Jurnal Prima Edukasia ELINVO (Electronics, Informatics, and Vocational Education) REFLEKSI EDUKATIKA Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Jurnal Pendidikan Agama Islam Jurnal Pendidikan Usia Dini MUDARRISA Indonesian Journal of Islamic Education Studies Edu Komputika Journal Jurnal Pendidikan Ekonomi AL QUDS : Jurnal Studi Alquran dan Hadis AL ISHLAH Jurnal Pendidikan REiD (Research and Evaluation in Education) Wacana Akademika : Majalah Ilmiah Kependidikan JMPM: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika Journal of Educational Research and Evaluation Social, Humanities, and Educational Studies (SHEs): Conference Series Journal of Social Studies (JSS) Bulletin of Counseling and Psychotherapy Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Journal of Computer Science, Information Technology and Telecommunication Engineering (JCoSITTE) Ideguru: Jurnal Karya Ilmiah Guru Journal of Sport Science And Physical Education (JOSEPHA) FOUNDASIA Educenter: Jurnal Ilmiah Pendidikan Journal of Mathematics Instruction, Social Research and Opinion Elementary School: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran ke-SD-an Journal of Elementary School Education EDUCENTER JURNAL PENDIDIKAN EDUKASI Jurnal Pendidikan Anak Jurnal Tarbiyatuna
Claim Missing Document
Check
Articles

Homeschooling dalam masyarakat: Studi etnografi pendidikan Iin Purnamasari; S. Suyata; Siti Irene Astuti Dwiningrum
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 5, No 1 (2017): June
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.332 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v5i1.15082

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis: (a) homeschooling sebagai alternatif pada sebagian masyarakat, (b) peranan keluarga dalam pelaksanaan pendidikan homeschooling, (c) mengeksplorasi aspek-aspek kultur dalam pendidikan homeschooling, (d) mengeksplorasi nilai-nilai dalam pendidikan homeschooling, (e) menganalisis tantangan, harapan, dan pengembangan pendidikan homeschooling. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi yang berusaha mendapatkan informasi selengkap mungkin untuk mengkaji dan menganalisis homeschooling dalam masyarakat, sebagai salah satu alternatif pendidikan, dalam situasi yang ilmiah. Subyek dalam penelitian ini adalah dua homeschooling tunggal, dua homeschooling majemuk dan dua homeschooling komunitas. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi partisipan, analisis dokumen, wawancara mendalam, dan Focus Group Discussion (FGD). Penelitian etnografis dilaksanakan dengan mengikuti tahapan dan proses penelitian kualitatif yang bersifat induktif, yang terdiri dari tahapan alur penelitian maju bertahap (the Developmental Research Sequence/DRS). Penelitian menemukan  lima hal pokok yaitu; (a) pilihan terhadap homeschooling sebagai pendidikan alternatif dengan model praktik tunggal, majemuk dan komunitas memiliki alasan, motivasi, metode dan pendekatan serta pengembangan minat bakat anak serta upaya membangun masa depan anak. (b)  peran keluarga pada homeschooling tunggal dominan, majemuk diberdayakan, dan komunitas sebagai pendekatan, dimana masing-masing terpengaruh oleh penanaman nilai-nilai dalam budaya keluarga. (c) formula model pendidikan homeschooling berbasis kultur  yang meliputi penguatan keyakinan, toleransi, mandiri, kejujuran, tanggung jawab, percaya diri, disiplin, kompetitif, solidaritas, sosialisasi lintas usia, dan berpikir kritis, sesuai dengan kebutuhan pendidikan anak. (d) Nilai-nilai positif homeschooling antara lain: (a) anak terbentuk sebagai pembelajar mandiri dan terbiasa berpikir mendalam (critical thinking). (b) peran orangtua/keluarga sebagai pengelola pendidikan dan proses belajar. (c) pola pembelajaran customized, (d) penanaman nilai sosial budaya terbangun dari interaksi antara anak dengan orangtua/keluarga, para homeschooler dalam komunitas belajar. (e) terdapat tantangan, harapan dan kemungkinan pengembangan pendidikan homeschooling dalam masyarakat.
Cyberbullying pelajar SMA di media sosial: Prevalnsi dan rekomendasi Ariefa Efianingrum; Siti Irene Astuti Dwiningrum; Riana Nurhayati
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 8, No 2 (2020): December
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jppfa.v8i2.38300

Abstract

Di era digital saat ini, bullying ditengarai hadir di ruang online atau yang sering disebut cyberbullying. Penelitian ini mengkaji realitas cyberbullying di media sosial yang dialami pelajar SMA Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif. Lokasi penelitian di enam wilayah di Indonesia meliputi Aceh, Medan, Jakarta, Yogyakarta, Makassar, dan Papua. Setiap wilayah diwakili 3 sekolah dengan jumlah responden 242 setiap wilayah. Responden dalam penelitian ini adalah siswa SMA semua tingkatan (kelas X, XI, dan XII) dengan jumlah total 1452 orang siswa SMA. Data penelitian bersifat kuantitatif dan dianalisis secara statistik deskriptif berupa persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cyberbullying merupakan salah satu bentuk bullying yang mulai banyak terjadi dan menunjukkan peningkatan seiring dengan semakin dominannya penggunaan media online dalam aktivitas pembelajaran maupun aktivitas sosial masyarakat. Angka cyberbullying di sekolah wilayah Indonesia yang terdiri dari daerah Aceh, Medan, Jakarta, Yogyakarta, Makassar, dan Papua berada pada kategori cukup tinggi dengan skor 69,64%. Cyberbullying merupakan keniscayaan yang terjadi di tengah saratnya penggunaan media sosial pada generasi muda. Sejumlah rekomendasi ditawarkan untuk mereduksi cyberbullying di kalangan pelajar, baik bersifat personal maupun institusional.High school student cyberbullying on social media: Prevalence and recommendations AbstractIn today's digital era, bullying occurs in the online space or what is often called cyberbullying. This study examines the reality of cyberbullying on social media experienced by Indonesian high school students. This research uses a descriptive quantitative approach. The research setting is in six regions in Indonesia include Aceh, Medan, Jakarta, Yogyakarta, Makassar, and Papua. Each region is represented with three schools by 242 respondents in each region. The Respondents in this study were high school students of all levels (class X, XI, and XII) with a number of 1452 high school students. The research data was quantitative and analyzed using descriptive statistics in the form of percentages. The results showed that cyberbullying is a form of bullying that has started to occur a lot and shows an increase in line with the increasingly dominant use of online media in learning and social activities. The cyberbullying rate in schools in the Indonesian region consisting of Aceh, Medan, Jakarta, Yogyakarta, Makassar, and Papua is at a high level, with a score of 69.64%. Cyberbullying occurs amid social media usage among the younger generation. Some recommendations are offered to reduce cyberbullying among students, both personal and institutional.
Reorientasi pendidikan multikultural dalam konteks keIndonesiaan Yusuf Tri Herlambang; Siti Irene Astuti Dwiningrum
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 8, No 1 (2020): June
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jppfa.v8i1.29915

Abstract

Dalam perspektif sosio-empiris, Indonesia merupakan negara yang memiliki keragaman budaya sebagai substansi dari kekayaan bangsa. Secara esensial, keragaman budaya tersebut merupakan suatu keniscayaan yang telah melahirkan orientasi hidup manusia Indonesia ke arah eksistensi yang berbeda dalam ruang kehidupan multidimensi berdasarkan pada nilai-nilai partikular budaya yang melekat dalam dirinya (identitas monokultural). Perbedaan tersebut telah menimbulkan adanya potensi ketegangan-ketegangan sosial yang bersifat problematis dalam bentuk fanatisme berdimensi ras, suku, etnis, agama dan bahkan sistem pemikiran, baik dalam kehidupan, sosial, politik, budaya, agama, ekonomi dan berbagai aspek kehidupan lainnya. Berdasarkan hal tersebut, gagasan tentang pendidikan multikulturalisme merupakan sebuah pendekatan kritis dan jawaban atas perbedaan dan sebagai sebuah paradigma pendidikan yang mampu mengakomodasi atas perbedaan dan keragaman dalam ruang yang harmonis, toleran dan selaras sebagai pilar kedamaian, kebahagiaan dan keharmonisan kehidupan masyarakat Indonesia.AbstractFrom a socio-empirical perspective, Indonesia is a country that has cultural diversity as a substance of national wealth. Essentially, this cultural diversity is a necessity that has given birth to the orientation of Indonesian human life towards a different existence in a multidimensional space of life-based on the particular cultural values inherent in itself (monocultural identity). These differences have led to the potential for problematic social tensions in the form of fanaticism with racial, ethnic, ethnic, religious, and even thought systems, both in life, social, political, cultural, religious, economic, and various other aspects of life. Based on this, the idea of multicultural education is a critical approach and answers to differences and as an educational paradigm that is able to accommodate differences and diversity in a harmonious, tolerant and harmonious space as a pillar of peace, happiness, and harmony in the lives of Indonesian people.
MENCIPTAKAN BELAJAR YANG HUMANIS TANTANGAN PENDIDIK YANG PROFESIONAL DAN BERKARAKTER Siti Irene Astuti Dwiningrum
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 4, No 2 (2016): Desember
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.516 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v4i2.12420

Abstract

Dehumanisasi pendidikan merupakan fenomena sosial dalam proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Perilaku kekerasan di sekolah oleh guru kepada siswa, pelecehan seksual, tindakan  bullying  antar siswa, tawuran antar pelajar, penggunaan media sosial yang tidak terkontrol oleh pendidikan, dan praktik aborsi di kalangan pelajar merupakan ragam gejala dehumanisasi pendidikan yang sangat memprihatinkan. Sistem pendidikan cenderung memaksa peserta didik mengembangkan kekuatan kognitif, dan kurang mengembangkan moralitas dan karakter peserta didik. Sistem belajar kurang mengembangkan potensi manusia secara optimal sesuai dengan eksistensi sebagai manusia yang ingin belajar digambarkan sebagai whole-person-learning, dengan pribadi yang utuh menghasilkan perasaan memiliki (feeling of belonging ) pada diri peserta didik. Sekolah harus dibangun berdasarkan prinsip-prinsip pendidikan humanis. Belajar yang humanis dapat diwujudkan oleh guru-guru yang mempunyai kemampuan untuk menerapkan prinsip-prinsip pendidikan humanis dalam mengajar di kelas dan mampu untuk  menjalankan multiperannya sebagai pendidik profesional. Akuntabilitas profesional diperlukan bagi guru untuk mencerminkan kompetensi dan integritas pendidik yang profesional dan  berkarakter. CREATING HUMANISTIC LEARNING A CHALLENGE TO PROFESSIONAL TEACHERS WITH HIGH CHARACTERAbstractDehumanization in education is an example of social phenomena existing in the process of character education in schools. Violation done by the teacher to the students, sexual abuse, bullying among students, students’ riot, social media misuse, and abortion cases are examples of worrying phenomena related to dehumanization in education. The educational system tends to force the students to maximize their cognitive potentials by neglecting the importance of their  moral and character education. The system is not, merely, helping the students to optimize their potentials which may be described as whole-person learning, having the sense of belonging. The schools should have been built by considering the values of humanity. Humanistic learning can be realized by the teachers having credentials to apply the values of humanity in the classroom. The professional accountability is also required to create teachers who are capable of showing their professional competence and integrity.Keywords:
Kebijakan sekolah dalam membangun budaya tanggap bencana Ebni Sholikhah; Siti Irene Astuti Dwiningrum; Dyah Respati Suryo Sumunar
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 7, No 2 (2019): December
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jppfa.v7i2.27023

Abstract

Indonesia adalah negara dengan tingkat kerawanan bencana yang tingi. Di DIY jumlah bencana mengalami kenaikan signifikan dari tahun 2017-2018. Namun demikian, sekolah beberapa sekolah belum mengimplementasikan siaga bencana dan bahkan ada yang tidak memiliki kebijakan sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan sekolah untuk mewujudkan budaya siaga bencana di SMK Muhammadiyan Pakem dan SMAN 1 Pundong. Data dikumpulkan melalui FGD dan dianalisis menggunakan model interaktif. Hasilnya menunjukkan bahwa SMK Muhammadiyah Pakem adalah Sekolah Siaga Bencana yang memiliki kebijakan lebih komprehensif daripada SMAN 1 Pundong ditinjau dari sosialisasi, simulasi, kerjasama, pengintegrasian kesiapsiagaan bencana dalam program pembelajaran, serta ketersediaan fasilitas siaga bencana. Lancarnya implementasi kebijakan siaga bencana didukung oleh guru yang berberan sebagai leading implementor karena menjadi penggerak kultur siaga bencana. Beberapa kendala juga ditemui dari kedua sekolah seperti siswa yang kurang serius ketika simulasi bencana dan terbatasnya pendanaan untuk menyiapkan fasilitas tahan bencana.AbstractIndonesia is a country with a high level of disaster vulnerability. In DIY the number of disasters has increased significantly from 2017-2018. However, some schools have not implemented disaster preparedness and the others do not have their own policies. This study aims to analyze school policies to create a culture of disaster preparedness at Muhammadiyan Pakem Vocational High School and Pundong 1 High School. Data was collected through FGDs and analyzed using interactive models. The results show that Muhammadiyah Vocational School Pakem is a Disaster Preparedness School that has a more comprehensive policy than SMAN 1 Pundong in terms of socialization, simulation, cooperation, integration of disaster preparedness in learning programs, and the availability of disaster preparedness facilities. The smooth implementation of disaster preparedness policies is supported by teachers who play the role of leading implementors because they are the drivers of disaster preparedness culture. Some obstacles were also encountered from the two schools such as students who were less serious when simulating a disaster and limited funding to prepare disaster-resistant facilities.
TUAN GURU SEBAGAI TOKOH PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI PEDESAAN Aswasulasikin Aswasulasikin; Siti Irene Astuti Dwiningrum; Sumarno Sumarno
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 3, No 1 (2015): Juni
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.315 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v3i1.6669

Abstract

Tuan Guru sebagai tokoh agama dan tokoh masyarakat di Pulau Lombok mempunyai pengaruh yang besar di tengah-tengah masyarakatnya, karena tokoh masyarakat memiliki keunggulan, baik dalam ilmu pengetahuan, jabatan, dan secara langsung dari keturunan. Tuan Guru sebagai pusat orientasi nilai dan moral ikut bertanggung jawab dalam proses pencerdasan kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Secara kelembagaan Tuan Guru mengembangkan dua jenis pendidikan yaitu pendidikan formal dan non formal yang mendukung secara penuh tujuan dan hakikat pendidikan manusia itu sendiri, yaitu membentuk manusia mukmin yang sejati, memiliki kulitas moral dan intelektual. Pembangunan pendidikan melalui pendidikan formal yang dikembangkan oleh Tuan Guru melalui pendirian Pondok Pesantren yang di dalamnya di dirikan pendidikan dasar dan menengah yang terdiri dari:  madrasah ibtidaiyah (MI) setara SD, madrasah tsanawiyah (MTs) setara SLTP, madrasah aliyah (MA) setara SMA. Sedangkan pembangunan pendidikan non formal di pedesaan dikembangkan dalam bentuk diniyah.
Resensi Buku EDUCATION DENIED: COSTS AND REMEDIES Siti Irene Astuti D.
Jurnal Cakrawala Pendidikan No 1 (2006): Cakrawala Pendidikan, Februari 2006, Th. XXV, No.1
Publisher : LPMPP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/cp.v0i1.397

Abstract

Oleh: Siti Irene Astuti D.FIP Universitas Negeri YogyakartaPengarang : Katerina TomasevskiPenerbit : Zed Books Ltd, London, UKTahun : 2003Halaman : 205No. ISBN : 1 - 84277 - 250 - 3 Hb1 - 84277 - 251 - 1 Pb
SCHOOL STRATEGIES IN STRENGTHENING STUDENT RESILIENCE IN DISASTER-PRONE AREAS Siti Irene Astuti Dwiningrum; Khirjan Nahdi; Aswasulasikin Aswasulasikin; Dyah Respati Suryo Sumunar; Rukiyati Rukiyati; Ebny Sholikhah
Jurnal Cakrawala Pendidikan Vol 39, No 3 (2020): CAKRAWALA PENDIDIKAN, VOL. 39, NO. 3, OCTOBER 2020
Publisher : LPMPP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/cp.v39i3.30249

Abstract

Resilience is needed by students who live in disaster-prone areas. With strong resilience, students can implement disaster mitigation. This study aims to describe the profile of students' resilience and the strategies carried out by students in strengthening personal resilience. The mixed method research approach was conducted on a research population of SMA/SMK in Lombok Regency, specifically North Lombok, East Lombok, and West Lombok. The respondents were 779 people from 10 schools in disaster-prone areas determined by the Slovin formula. Student resilience profiles were explored according to Reivich and Shatte. Data on how teachers increase students’ resilience were obtained from a focus group discussion (FGD) with 20 teachers from 10 schools. The results of the research prove that the personal resilience profile of students in Lombok from the seven aspects is still not optimal, which is not enough to form resilience personalities (less than 60%). This study affirms that personal resilience is essential in building school resilience to provide a massive contribution to education and disaster mitigation. Regarding recommendations for schools to increase student resilience, it can be done by increasing resilience resources, strengthening social support, having resilient teachers, building resilient school, all aspects of which must work systemically and synergistically.
MODEL IDEAL KELUARGA IBU BEKERJA Siti Irene Astuti D.
Jurnal Cakrawala Pendidikan CAKRAWALA PENDIDIKAN, EDISI 1,1990,TH.X
Publisher : LPMPP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/cp.v1i1.8690

Abstract

Untuk tetap menjaga keharmonisan di dalam keluarga ibu berkerja, perubahan perlu terjadi. Karena tanpa adanya perubahan di dalam keluarga bekerja dapat timbul ketegangan, percekcokan maupun problema yang bersifat psikologis pada inter maupun intra individu. Proses adaptasi dalam keluarga merupakan cara untuk mengurangi terjadinya konflik fi dalam keluarga. pandangan yang sterotip maupun normatif terhadap peran wanita harus dihilangkan.
AN EFFECTIVE MOOC MODEL TO SUPPORT FREEDOM TO LEARN PROGRAM Ahmad Chafid Alwi; Siti Irene Astuti Dwiningrum; Suyanto Suyanto; Sunaryo Sunarto; Surono Surono
Jurnal Kependidikan Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jk.v5i1.35316

Abstract

This study was aimed at exploring an effective and proper MOOC model which is in line with the learning need of Indonesian society, especially in pandemic era. This study was conducted by employing Content Analysis in IndonesiaX and sekolahpintar.com platforms. The data obtained were analysed by identifying the differences and the similarities of each MOOC. The results show that a good MOOC model such as IndonesiaX has a more structured presentation of content, videos with fresh visuals and excellent evaluation. The questions presented also not only measure low order thinking skills, but also present high order thinking skills questions that are not available at SekolahPintar.com. An effective MOOC model must meet the CDT (Component Display Theory) and dimensions of effective online learning, be able to motivate students to learn independently and be able to create student involvement in collaborative discussions. The motivation is more effective if it is continuously aroused by delivering proper strategies, which is in line with the need.
Co-Authors - Prihastuti - Suwarjo Abdul Malik Adawiya, Robiatul Ahmad Chafid Alwi Ahmad Naharuddin Ramadhan Ahwy Oktradiksa Akhsin Nurlaily Akhsin Nurlayli Aliyah Rasyid Baswedan Amika Wardana Amir Syamsudin Amrih Setyo Raharjo Amrih Setyo Raharjo Anggara, Puput Tri ani ani Ani Widyawati Anindita Ayu Nisa Utami Anita Anita Annisa Setyaningrum Ardiyaningrum, Martalia Ariefa Efianingrum Arif Hidayat Arifiyanti, Nurul Ariyadi Wijaya Arlinwibowo, Janu Arum Setiowati Aryani, Anggi Erna Aswasulasikin Badrus Sholeh Betania Kartika Budi Astuti Bustami Subhan Caly Setiawan Cicih Wiarsih, Cicih Dadan Rosana Deda, Yohanis Ndapa Dos Santos, Mariano Dyah Kumalasari Dyah Respati Suryo Sumunar Dyahsih Alin Sholihah Ebni Sholikhah Edi Purwanta Edi Widodo, Edi Eka Zuliana Endang Mulyani Enny Zubaidah Enny Zubaidah Fadli, Muhammad Rijal Farida Hanum Fredy Fredy Hardiyanti Pratiwi, Hardiyanti Hari Purnomo Susanto Harun Harun Hastuti Hayashi, Masami Heri Retnawati Hermina Disnawati, Hermina I Dewa Putu Eskasasnanda, I Dewa Putu Iin Purnamasari Imam Malik Insih Wilujeng Ivan Luthfi Ihwani, Ivan Luthfi Joko Sri Sukardi, Joko Sri Julham Hukom jumiatmoko jumiatmoko Khasanah Nur Hidayah Khirjan Nahdi Kristi Wardani Lapele, Fitria Latuapo, Ridhwan Mami Hajaroh Martiana, Aris Maryani Maryani Minasyan, Sona Muhamad Ngafifi Mulyana, Ari Musa, La Nopita Sitompul Nurlayli, Akhsin Nurul Fatimah Okto Wijayanti P. Priyanto Prihono, Eko Wahyunanto Priyanto Priyanto Rahayu Condro Murti Rashid, Salman Renni Ramadhani Lubis Renni Ramadhani Lubis Renni Ramadhani Lubis Reyes Jr., Margarito Surbito Riana Nurhayati Riko Septiantoko Rina Dyah Rahmawati Rino Richardo Rino Richardo Riwanda, Agus Roza, Roza Novita Rukiyati Rukiyati S Sujarwo S. Suyata Safitri Yosita Ratri Saliman Saliman Saputro, Eko Prasetyo Nugroho Setyawan, Siti Luzviminda Harum Pratiwi Shely Cathrin Shodiq A Kuntoro Sinaga, Juniar Sukirjo, Sukirjo Sumarno Sumarno Sunaryo Sunarto, Sunaryo Supardi Supardi Supartinah Suranto Aw Surono Surono Sutikno Sutikno Suyantiningsih Suyantiningsih Suyanto Suyanto Taryatman Taryatman Utami, Anindita Ayu Nisa Wahyudi, Andi Widyastuti Purbani Wiwik Lestari Y. Rimawan Prihartoyo Yunike Sulistyosari Yusinta Dwi Ariyani Yusuf Tri Herlambang