p-Index From 2021 - 2026
10.098
P-Index
This Author published in this journals
All Journal HAYATI Journal of Biosciences Jurnal Veteriner Jurnal Ilmu Ternak Jurnal Demokrasi TINGKAP Journal of Educational, Health and Community Psychology Abdimas Proceeding Buffalo International Conference Jurnal Sains Peternakan Jurnal Ilmu Ternak Veteriner WARTAZOA Indonesian Bulletin of Animal and Veterinary Sciences Jurnal Peternakan Indonesia JITRO (Jurnal Ilmiah dan Teknologi Peternakan Tropis) International Journal of Sustainable Tropical Agricultural Sciences Jurnal Ilmu Produksi dan Teknologi Hasil Peternakan Jurnal Sosio Agribisnis COUNS-EDU: The International Journal of Counseling and Education Proceeding INTERNATIONAL SEMINAR IMPROVING TROPICAL ANIMAL PRODUCTION FOR FOOD SECURITY JURNAL ILMIAH PETERNAKAN TERPADU JURNAL PengaMAS Jurnal Peternakan (Jurnal of Animal Science) Musamus Journal of Agribusiness Musamus Journal of Livestock Science Indonesian Journal of Animal Agricultural Science (IJAAS) Jurnal Pengabdian Perikanan Indonesia Jurnal Abdimas Akademika Jurnal Pengabdian Masyarakat Ilmu Terapan (JPMIT) Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa (JPMF) Bhakti Nagori (Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat) Jurnal Pengabdian Masyarakat Bestari (JPMB) Asian Journal of Community Services (AJCS) Jurnal Pengabdian Nusantara (JPN) Mestaka: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Jurnal Pengabdian Kolaborasi dan Inovasi IPTEKS Jurnal Kedokteran Hewan Chalaza Journal of Animal Husbandry BAKIRA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Indonesian Journal of Community Empowerment Jurnal Abdimas Peternakan Abdi Masyarakat (PETAMAS) JIPHO (Jurnal Ilmiah Peternakan Halu Oleo) Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (JAPIMAS) Jurnal Inovasi Dan Pengabdian Kaa Mieera
Claim Missing Document
Check
Articles

KID CROP KAMBING KACANG (Capra Hircus) di KABUPATEN KONAWE UTARA Lena Wati; Takdir Saili; Takdir Saili
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 1, No 1 (2014): JITRO, September
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.936 KB) | DOI: 10.33772/jitro.v1i1.356

Abstract

ABSTRAKSalah satu variabel penentu dalam mengukur perkembangan populasi ternak di suatu wilayah adalah jumlah kelahiran anak ternak.  Pada ternak kambing dan domba, produktivitas seekor induk dapat diketahui dengan menggunakan indikator nilai panen cempe. Informasi tentang nilai panen cempe, khususnya ternak Kambing Kacang di Kabupaten Konawe Utara masih kurang sehingga perlu dilakukan penelitian untuk memperoleh data tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai panen cempe Kambing Kacang di Kabupaten Konawe Utara. Lokasi penelitian ditentukan dengan menggunakan dua metode, yaitu metode stratified sampling dan purposive sampling. Sedangkan penentuan responden pada desa terpilih digunakan metode sensus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rataan panen cempe Kambing Kacang di Kabupaten Konawe Utara adalah 167,71% dengan interval kelahiran sebesar 8,61 bulan dan jumlah anak sekelahiran sebesar 1,36 ekor, sedangkan mortalitasnya mencapai 13,96%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah produktivitas ternak Kambing Kacang di Kabupaten Konawe Utara masih cukup baik berdasarkan variable nilai panen cempenya.Kata Kunci: Kambing Kacang, Cempe, Kid Crop, Konawe Utara.
Kolesterol, Asam Urat, dan Glukosa Darah Ayam Buras yang Diberi Pakan dengan Ramuan Herbal dan Ekstrak Kerang Bakau (Polymesoda erosa) Takdir Saili; Rahim Aka; Fuji Astuty Auza; Wa Laili Salido; Awal Maulid Sari
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 6, No 2 (2019): JITRO, Mei
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.494 KB) | DOI: 10.33772/jitro.v6i2.5652

Abstract

ABSTRAKPenelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan ramuan herbal yang dikombinasikan dengan ekstrak kerang bakau (Polymesoda erosa) di dalam pakan terhadap kadar kolesterol, asam urat dan glukosa darah ayam buras. Penelitian menggunakan 100 ekor ayam buras yang dipelihara mulai dari umur satu hari (DOC) sampai dengan umur 16 minggu. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan terdiri atas R0 (pakan basal + 0% probiotik herbal + 0% ekstrak kerang bakau), R1 (pakan basal + 0,75% probiotik herbal + 1,5% ekstrak kerang bakau), R2 (pakan basal + 1,5% probiotik herbal + 3% ekstrak kerang bakau), R3 (pakan basal + 2,25% probiotik herbal + 4,5% ekstrak kerang bakau) dan R4 (pakan basal + 3% probiotik herbal + 6% ekstrak kerang bakau). Data yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisis menggunakan sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan kolesterol darah yang diperoleh adalah berturut-turut 185,00±7,30 (P0), 185,75±6,80 (P1), 153,25±19,06 (P2), 167,75±17,72 (P3), 214,00±19,18 (P4). Rataan asam urat dalam darah yang diperoleh adalah 3,95±0,58 (P0), 6,70±4,23 (P1), 4,10±0,64 (P2), 4,32±1,27 (P3), 6,30±2,27 (P4). Sedangkan rataan glukosa darah yang diperoleh adalah 231±20,19 (P0), 188,50±24,63 (P1), 223,50±32,19 (P2), 227,25±68,61 (P3), 236,50±28,43 (P4).   Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian ramuan herbal dan ekstrak kerang bakau dalam pakan dapat mempengaruhi kadar kolestrol darah, namun tidak mempengaruhi kadar asam urat dan glukosa darah ayam buras. Kadar kolesterol darah terendah diperoleh pada perlakuan R2 dan R3 yang nyata berbeda dengan perlakuan R0, R1 dan R4.Kata Kunci: ayam buras, ramuan herbal, kolesterol, asam urat, glukosa darah.ABSTRACTKeywords:  blood glucose, cholesterol, herbal concoction, uric acid, village chickenThe objectives of this research was to evaluate the effect of agricultural by product-based feed supplemented with herbal concoction (HC) and mud clams extract (MC) on blood cholesterol, uric acid and blood glucose concentration. Completely randomized design was used with 4 treatments and 4 replications.  Ninety day old chick of local village chicken was used in this experiment and kept up to 16 weeks during the experiment. The treatments consisted of basal feed (R0), basal feed + 0.75% HC + 1.5% MC (R1), basal feed + 1.5% HC + 3.0% MC (R2), basal feed + 2.25% HC + 4.5% MC (R3), basal feed + 3.0% HC + 6.0% MC (R4).  All data were analyzed using analysis of variance and different between treatments were proved using Duncan multiple range test. The results showed that the concentrations of blood cholesterol gained (mg/dl) were 185.00±7.30 (P0), 185.75±6.80 (P1), 153.25±19.06 (P2), 167.75±17.72 (P3), 214.00±19.18 (P4). The concentration of uric acid gained (mg/dl) were 3.95±0.58 (P0), 6.70±4.23 (P1), 4.10±0.64 (P2), 4.32±1.27 (P3), 6.30±2.27 (P4). Whereas, the glucose concentration gained (mg/dl) were 231.00±20.19 (P0), 188.50±24.63 (P1), 223.50±32.19 (P2), 227.25±68.61 (P3), 236.50±28.43 (P4). Based on variance analysis it was concluded that the treatments gave a significant effect (P<0.05) on blood cholesterol concentration, but had no effect (P>0.05) on uric acid and blood glucose concentration. Blood cholesterol concentrations were significant lower in treatment R2 and R3 compared to treatment R0, R1 and R4.Keywords:  blood glucose, cholesterol, herbal concoction, uric acid, village chicken
KID CROP DAN MORTALITAS ANAK KAMBING KACANG DI DAERAH DARATAN DAN KEPULAUAN KABUPATEN BUTON Basman Basman; Takdir Saili; La Ode Ba&#039;a
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 2, No 2 (2015): JITRO, Mei
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.014 KB) | DOI: 10.33772/jitro.v2i2.3800

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produktivitas ternak Kambing Kacang berdasarkan nilai kid crop dan mortalitas anak Kambing Kacang baik di wilayah kepulauan maupun wilayah daratan Kabupaten Buton. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Siompu (mewakili wilayah kepulauan) dan di Kecamatan Lapandewa (mewakili wilayah daratan) Kabupaten Buton. Metode penentuan lokasi penelitian dilakukan secara purposive sampling, stratified sampling dan simple random sampling dan penentuan responden di setiap desa dilakukan secara sensus. Data penelitian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kid crop Kambing Kacang di Kecamatan Siompu sebesar 150,98% dan Kecamatan Lapandewa sebesar 159,84%. Kidding Interval Kambing Kacang di Kecamatan Siompu sebesar 8,2 bulan dan di Kecamatan Lapandewa sebesar 8,19 bulan. Di Kecamatan Siompu diperoleh rataan litter size sebesar 1,77 dan di Kecamatan Lapandewa sebesar 1,53. Jumlah cempe Kambing Kacang yang lahir di Kecamatan Siompu sebanyak 84 ekor (38 ekor jantan dan 46 ekor betina). Di Kecamatan Lapandewa jumlah cempe Kambing Kacang yang lahir sebanyak 68 ekor (37 ekor jantan dan 31 ekor betina). Persentase mortalitas cempe kambing Kacang di Kecamatan Siompu sebesar 22,61% dan di Kecamatan Lapandewa sebesar 11,76%. Dapat disimpulkan bahwa produktivitas dan reprodutivitas ternak Kambing Kacang baik di wilayah kepulauan maupun di wilayah daratan Kabupaten Buton masih sangat baik, namun, tingkat mortalitas cempe di wilayah kepulauan masih relatif tinggi.Kata Kunci: Kambing Kacang, Performans, Kid Crop, Mortalitas, Lapandewa, Siompu
KARAKTERISTIK SPERMATOZOA SAPI BALI SETELAH SEXING MENGGUNAKAN METODE KOLOM ALBUMIN DENGAN LAMA WAKTU SEXING YANG BERBEDA Sunarti Sunarti; Takdir Saili; La Ode Nafiu
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 3, No 1 (2016): JITRO, Januari
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.693 KB) | DOI: 10.33772/jitro.v3i1.1071

Abstract

Penelitian ini menggunakan Racangan Acak Lekap (RAL) dengan tiga perlakuan dan enam ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini adalah waktu sexing yang terdiri atas 20 menit (W1), 35 menit (W2) dan 50 menit (W3), sedangkan ulangannya adalah penampungan semen sebanyak enam kali. Parameter makroskopis yang diukur meliputi volume, warna, derajat Keasaman (pH), sedangkan parameter mikroskopis meliputikonsentrasi, gerakan massa, persentase motilitas, persentase spermatozoa hidup dan persentase membran plasma utuh serta non return rate.Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara makroskopis dan mikroskopis yaitu volume (ml) (5,5 ± 0,53), warna (putih krem), pH (7 ± 0,00), konsentrasi (1185,57± 392,09), persentase motilitas (80 ± 0.0), persentase spermatozoa hidup (94,71 ± 1,38) dan persentase membran plasma utuh (96,14 ± 1,46).Hasil penelitian setelah sexing kualitas spermatozoa tidak menunjukkan perbedaan pada inkubasi yang berbeda baik pada lapisan atas maupun lapisan bawah. Hasil IB menggunakan semen pasca sexing didapatkan non return rate sebesar 79%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan kualiatas spermatozoa sapi Bali hasil sexing masih layak untuk diinseminasikan pada induk sapi untuk menghasilkan anak ternak. Kata Kunci: Sapi Bali, spermatozoa, kolom albumin, sexing, kualitas
KUALITAS DAN FERTILITAS SPERMATOZOA SAPI BALI HASIL SEXING DENGAN MENGGUNAKAN METODE SWIM-DOWN Febiang Lopulalan; Takdir Saili; La Ode Ba&#039;a
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 5, No 2 (2018): JITRO, Mei
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.831 KB) | DOI: 10.33772/jitro.v5i2.4665

Abstract

Metode sexing spermatozoa telah banyak digunakan dalam upaya memproduksi anak ternak sapi dengan jenis kelamin yang bisa dikendalikan. Pada penelitian ini telah dilakukan kajian tentang kualitas dan fertilitas spermatozoa setelah sexing menggunakan metode swim down. Semen yang didapat berasal dari pejantan milik UPTD Balai Perbibitan dan Pakan Ternak Provinsi Sulawesi Tenggara. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan dengan 6 kali ulangan. Perlakuan adalah lama waktu sexing P1 (10 menit), P2 (20 menit), P3 (30 menit) dan ulangannya adalah 6 kali penampungan. Media sexing yang digunakan adalah Tris-Kuning Telur. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan lama waktu sexing berpengaruh nyata terhadap konsentrasi spermatozoa, persentase motilitas spermatozoa dan Post Thawing Motility (PTM) spermatozoa hasil sexing yang telah dibekukan. Persentase Non Return Rate (NRR) 21 hari setelah inseminasi pada 120 ekor sapi betina menunjukkan persentase kebuntingan berkisar antara 77,5% - 87,5%. Kesimpulan penelitian ini adalah kualitas spermatozoa hasil sexing dan motilitas spermatozoa hasil sexing yang dibekukan masih baik dan memenuhi syarat untuk digunakan pada inseminasi buatan. Fertilitas spermatozoa hasil sexing yang dibekukan masih mampu menghasilkan angka kebuntingan yang tinggi berdasarkan nilai Non Return Rate. Kata kunci: Spermatozoa, sapi bali, sexing, swim down
Tampilan Kesuburan Sapi Bali Induk yang Dikawinkan Langsung dengan Pejantan dan Inseminasi Buatan Ketika Estrus Hasil Sinkronisasi Menggunakan PGF2α Petrus Kune; Rini Widyastuti; Takdir Saili
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 6, No 2 (2019): JITRO, Mei
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.007 KB) | DOI: 10.33772/jitro.v6i2.7142

Abstract

ABSTRAKAngka kebuntingan sapi bali yang mengalami sinkronisasi estrus dan diinseminasi pada saat estrus muncul masih di bawah 50%. Akan tetapi, persentrasi gejala estrus yang muncul setelah sinkronisasi selalu di atas 85%.  Oleh karena itu, penelitian untuk mengevaluasi tingkat kebuntingan sapi bali setelah sinkronisasi, deteksi estrus dan perkawinan baik kawin alam maupun inseminasi telah dilakukan dengan menggunakan 67 ekor sapi bali induk umur 4-6 tahun yang mempunyai corpus luteum periodik. Penelitian dilakukan sebanyak empat tahap dengan masing-masing tahap selama 22 hari. Semua sapi percobaan dipelihara secara intensif pada 5 pedok yang terpisah dan setiap pedok ditempatkan 4 ekor sapi bali induk dan seekor pejantan. Hormon estron digunakan untuk sinkronisasi induk sapi percobaan dengan dosis 5 ml/ekor secara intra muscular, selanjutnya dilakukan induk sapi dikawinkan pada hari pertama sampai kelima setelah sinkronisasi dan deteksi estrus. Deteksi estrus diperpanjang sampai dengan akhir siklus estrus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 91,05% sapi percobaan mengalami estrus setelah sinkronisasi sedangkan gejala estrus muncul mulai hari pertama sampai hari kelima (rata-rata hari ke 3) setelah sinkronisasi.  Angka kebuntingan yang diperoleh rata-rata 27,87%.  Estrus alami (terjadi setelah estrus sinkronisasi) mulai muncul setelah 6-13 hari (rata-rata 8 hari) estrus hasil sinkronisasi muncul.Kata Kunci: estrus, kebuntingan, PGF2α  Therefore, the experiment related to evaluation of conception rate of bali cow following synchronization, estrus detection and natural mating or artificial insemination was conducted using 67 bali cow aged 4-6 y.o. that has periodic corpus luteum. The experiment was conducted in four sequent periods (22 days each).  All animal was kept intensively in 5 separate paddocks where each paddock was allocated five animals (4 cows+1 bull).  Estron contained PGF2α was injected intramuscular (5 ml/head) to all cows for synchronization while mating (natural mating and artificial insemination) was conducted during 1-5 days following synchronization and estrus detection.  Estrus detection was prolonged up to the end of estrus cycle. The results showed that 91.05% of synchronized cow was estrus, while the estrus sign occurred on day 1-5 (day 3 in average) after synchronization. Conception rate gained in this experiment was 27.87%.  Natural estrus that occurred following synchronized estrus varied between 6-13 days (8 days in average) after synchronized estrus occurred.Keywords: conception, estrus, PGF2α, synchronization  
ANALISIS POTENSI REPRODUKSI KAMBING KACANG DI WILAYAH PESISIR KEPULAUAN WANGI-WANGI, KABUPATEN WAKATOBI Nuriadin Nuriadin; Takdir Saili; La Ode Baa
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 4, No 1 (2017): JITRO, Januari
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (52.134 KB) | DOI: 10.33772/jitro.v4i1.2722

Abstract

Produktivitas kambing kacang di Kepulauan Wangi-wangi Kabupaten Wakatobi memiliki kendala salah satunya adalah manajemen reproduksi yang masih kurang. Untuk itu, perlu diketahui potensi reproduksi kambing kacang di Kepulauan Wangi-wangi. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui potensi reproduksi kambing kacang jantan dan betina di wilayah pesisir Kepulauan Wangi-wangi, Kabupaten Wakatobi. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah pesisir Wangi-wangi sebanyak 6 desa/kelurahan yang memiliki jumlah populasi kambing kacang terbanyak. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa litter size, kidding interval, mortalitas pra sapih, dan kid crop kambing kacang masing-masing yaitu 1,59±0,06, 8,05±0,38 bulan, 18,62±3,31%, dan 208,84±20,96%. Sedangkan lingkar skrotum kambing jantan yaitu 18,87 - 21,29 cm, dengan panjang skrotum berkisar antara 10-11,54 cm. Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu bahwa kambing kacang di wilayah pesisir Wangi-wangi, Kabupaten Wakatobi masih memiliki potensi reproduksi yang tinggi.Kata kunci:       kambing kacang, reproduksi, litter size, kidding interval, mortalitas, kid crop, skrotum, libido.
IMBANGAN PROTEIN DAN ENERGI BERBEDA DALAM RANSUM PUYUH FASE GROWER TERHADAP KONSUMSI PAKAN, PERTAMBAHAN BOBOT BADAN, DAN KONVERSI RANSUM Astriana Napirah; Hamdan Has; La Ode Nafiu; Ali Bain; Takdir Saili
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 5, No 2 (2018): JITRO, Mei
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.775 KB) | DOI: 10.33772/jitro.v5i2.5188

Abstract

ABSTRAK             Kandungan energi dan protein pakan merupakan faktor yang mempengaruhi kualitas pakan dan performans produksi ternak. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh imbangan energi dan protein berbeda dalam ransum puyuh fase grower terhadap konsumsi pakan, perrtambahan bobot badan, dan konversi pakan. Seratus dua puluh DOQ disebar secara acak pada 24 unit kandang percobaan. Perlakuan yang dicobakan terdiri atas 2 level energi pakan (2700 dan 2900 kkal/kg) dan 3 level protein pakan (18, 20, dan 22%), sehingga terdapat 6 kombinasi perlakuan, yaitu R1 (2700 EM – 18% PK), R2 (2700 EM – 20% PK), R3 (2700 EM – 22% PK), R4 (2900 EM – 18% PK), R5 (2900 EM – 20% PK), dan R6 (2900 EM – 22% PK). Pakan yang dicobakan merupakan pakan self mixing. Parameter yang diamati adalah konsumi pakan, pertambahan bobot badan, dan konversi pakan puyuh umur 2 hingga 6 minggu. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam dan dilanjutkan dengan uji wilayah berganda duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa imbangan energi-protein pakan berbeda tidak memberikan pengaruh (P>0,05) pada konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, dan konversi pakan. Kombinasi energi metabolisme 2700 kkal/kg dan 18% protein sudah dapat memenuhi kebutuhan nutrisi puyuh periode grower.Kata Kunci: protein, energi, puyuh, grower   ABSTRACT             Energy and protein that contained in poultry feed is a factor that affect the feed quality and poultry production performance. This research aimed to study the effect of different energy and protein balance in quail feed on feed consumption, weight gain, and feed conversion ratio. One hundred and twenty day old quails were divided into 24 units enclosure research. The trial feed was consist of 2 levels of energy feed (2700 and 2900 kcal/kg) and 3 levels of crude protein (18, 20, and 22% CP), so that there were 6 combinations of treatments, i.e. R1 (2700 ME – 18% CP), R2 (2700 ME – 20% CP), R3 (2700 ME – 22% CP), R4 (2900 ME – 18% CP), R5 (2900 ME – 20% CP), R6 (2900 ME – 22% CP). The used feed was a self mixing feed. The observed parameters were feed consumption, body weight gain, and feed conversion ratio of quail at 2-6 weeks of age. The data obtained were analyzed using variance analysis and continued using Duncan’s multiple range test. The result showed that the balance of energy-protein in quail feed did not affect (P>0,05) feed consumption, body weight gain, and feed conversion ratio. The combination of 2700 kcal/kg metabolizable energy and 18% cruse protein could already maintain the needs of the grower period of quail nutrients.Keywords: protein, energy, quail, grower
KARATERISTIK HABITAT MALEO (Macrocephalon male SAL MULER 1846) DI TAMAN NASIONAL RAWA AOPA WATUMOHAI (TNRAW) La Ode Nafiu; Achmad Selamet Aku; Muh. Rusdin; Takdir Saili; . Nurhalim
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 2, No 1 (2015): JITRO, Januari
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.981 KB) | DOI: 10.33772/jitro.v2i1.3782

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui karakteristik habitat burung maleo di TNRAW, yang berlangsung pada bulan Maret-April 2013 di Resort Langkowala Desa Watu-watu, kecamatan Lantari Jaya, TNRAW Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Survei lapangan dilakukan untuk mengamati kondisi habitat maleo, mengidentifikasi flora dan fauna, mengambil sampel yang diperlukan untuk pengamatan laboratorium dan melakukan wawancana langsung dengan petugas TNRAW dan masyarakat di sekitar lokasi pengamatan. Pengamatan suhu dan kelembaban udara dilakukan 3 kali sehari, yaitu pagi, siang dan sore hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) bahwa habitat burung maleo di kedua lokasi terdiri dari pohon-pohon dengan ketinggian yang berkisar antara 15-30 meter dan semak belukar, tetapi kedua lokasi memiliki perbedaan jenis dan jumlah vegetasi, (2) pada lokasi pertama, kedalaman lubang bertelur rata-rata 43.33 cm dan lokasi kedua rata-rata 42.66 cm, (3) pada pukul 08.00, sarang bertelur maleo di lokasi pertama memiliki temperatur 28,930C dengan kelembaban 94,75%, sedangkan lokasi kedua adalah 29,960C, dengan kelembaban 94,04%. Pada pukul 13.00, temperatur di dua lokasi bertelur tidak jauh berbeda, yaitu sekitar 31,86oC, dengan kelembaban 94%. Pada pukul 17.00, di lokasi peneluran pertama memiliki temperatur sekitar 32,110C dengan kelembaban 93,98%, sedangkan pada lokasi kedua adalah 31,970C, dengan kelembaban 93,59%.Secara umum dapat disimpulkan bahwa karakteristik habitat burung maleo di TNRAW dicirikan oleh adanya pepohonan dengan tinggi berkisar 15–30 meter dan semak belukar. Disamping itu, tekstur tanah yang dominan adalah berpasir, dengan kedalaman lubang peneluran berkisar 35–55 cm dan rata-rata 43 cm.Kata kunci : maleo, karateristik habitat, TNRAW
POLA PERTUMBUHAN KAMBING KACANG JANTAN DI KABUPATEN KONAWE SELATAN Imam Bukhori; Rahim Aka; Takdir Saili
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 4, No 3 (2017): JITRO, September
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.934 KB) | DOI: 10.33772/jitro.v4i3.3647

Abstract

Pola pertumbuhan hewan, terutama jantan, merupakan salah satu faktor penting yang harus dipahami dengan baik oleh para peternak untuk beberapa tujuan seperti pemilihan dalam program pemuliaan atau pertimbangan keuntungan. Petani di Kabupaten Konawe Selatan yang membesarkan kambing kacang masih kekurangan informasi yang berhubungan dengan pola pertumbuhan ternak kambing khususnya kambing jantan. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pola pertumbuhan kambing kacang jantan. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Konawe Selatan meliputi Kecamatan Landono, Moramo Utara dan Kecamatan Laeya selama bulan Juni-Juli 2016. Seratus empat puluh ekor kambing kacang jantan digunakan sebagai sampel dan dikelompokkan ke dalam enam kelompok umur (1-3 bulan , 4-6 bulan, 7-12 bulan, 13-24 bulan, 25-36 bulan, dan 37-48 bulan). Variabel yang diukur adalah bobot badan, lingkar dada, panjang badan, tinggi pundak, dan tinggi pinggul. Hasil penelitian menunjukkan bobot badan tumbuh sesuai dengan persamaan regresi berikut (y = 0,167 – 1,660x + 0.059x2 + 0,00087 x3) dengan koefisien determinasi adalah 94,8%. sementara panjang badan, lingkar dada, tinggi pundak dan tinggi pinggul kambing kacang jantan tumbuh berdasarkan persamaan regresi polinomial (y = 25,20 + 1,931x - 0.032x2 ; y = 31,59 + 2.383x + 0.0392x2 ;y = 31,84 + 1.512x + 0.0231x2 ; y = 32,43 + 1.581x - 0.024x2  dengan koefisien determinasi adalah 71,8%, 75,6%, 71,7%, dan 70,6% masing-masing). Akhirnya, disimpulkan pola pertumbuhan kambing kacang jantan di Kabupaten Konawe Selatan cenderung meningkat seiring bertambahnya umur dan 94,8% faktor umur bisa menentukan bobot badan kambing kacang jantan di Konawe Selatan. Kata kunci: Pola pertumbuhan, Kambing kacang, Jantan, Konawe Selatan. 
Co-Authors . Nurhalim ., Ashar A Hadini, Hairil A. M. Sari A. Napirah Abdul Rizal Abdul Rizal, Abdul Achmad Selamet Aku Afyudi, Bobby Ahmad Dzakir Ahmad Fajar Al Jumiati, Wa Ode Albar, Fahry Amiludin Indi Anak Agung Istri Sri Wiadnyani Analuddin, La Ode Andi Murlina Andi Murlina Tasse Andini Sulfitrana Andini Sulfitrana Angia Azahrah Annisa Fathia Abdullah Aprianto . Aprianto Aprianto Arief Boediono Arjuna, Deni Arsiwan Arsiwan Arwin Putra Pratama AS Aku, AS Asma Bio Kimestri Asmar Hasan Astriana Napirah ASTUTI, MERI Aulia Devinda Afista Awal Maulid Sari Ba'a, La Ode Bahtiar Bahtiar Bana, Sahindomi Basman Basman Boy Arya Sena Budiyanto Darni Darni Dedi Dedi Dedu, La Ode Arfan Deki Zulkarnain Dewi S, Rachmita Dian Agustina Dian Agustina Eki Indrawati Ella Fauzya Fahyuddin Faradillah, F Febiang Lopulalan Febiang Lopulalan Fitrianingsih Fitrianingsih Fuji Astuty Auza Gerhana Gerhana, Gerhana Gunawan, Rifaldi Gusti Ayu Kade Sutariati H. Hafid Hairil Adzulyatno Hadini Hakim, Muh Haidir Hakim, Muh. Haidir Hamdan Has Harapin Hafid H. Hariono Hariono Hasanuddin Bua Hendhra Sudarno Saputra Hijrawati Hijrawati Hijrawati Hijrawati, Hijrawati I Ketut Mudite Adnyana I Wayam Sura I Wayan Sura Ibrahim, Irianto Ido, Irfan Idrus Salam Ihlas AG, Muhammad Ilahude, Meygi Caesarika Putri Imam Bukhori Irwan Irwan Irwansyah Irwansyah Ismi Wardani Isnaeni, Purnaning Dhian Ita Djuwita Joka, Elen Rosalia Jon Karlino Kadek Juliastini Kesumanengsih, Viny Aprilia Khairiyah, Ummul Kimestry, Asma Bio L. O. Nafiu L. Yunus La Aba La Karimuna La Malesi La Ode Abdul Karim Ishak La Ode Arsad Sani La Ode Ba&#039;a La Ode Ba&#039;a La Ode Baa La Ode Baa La Ode Hermawan La Ode Muhamad Munadi La Ode Nafiu Laode Muhammad Sentot Alibasa Lena Wati Lisran Lisran Lukman Yunus Lukman Yunus, Lukman Luzardin Luzardin M Agus Setiadi M. Abadi Madiki, A Majid Majid Mardianto Mardianto Mas Rizky A.A. Syamsunarno Masrah Masrah Mesrawati Mesrawati Mohammad Ghozali Mohammad Ghozali, Mohammad MOZES R. TOELIHERE Muh Haidir Hakim Muh. Rusdin Muhammad Amrullah Pagala MULYOTO PANGESTU Musram Abadi Natsir Sandiah Nian Anisa Nur Arafah Nur Asma Nur Asni Nur Asyik, Nur Nur Fitry Yanti Nur Santy Asminaya Nur Zahra Suaidi Nurhayanto, Nurhayanto Nuriadin Nuriadin Nuriadin Nuriadin Nylan Aulia Sari Patrecia Dwita Koty Petrus Kune Pratiwi, Arby’in Purnaning Dhian Isnaeni Purnaning Dhian Isnaeni Purnaning Dhian Isnaeni Putra Wiadnyana Putra, Agus Kurniawan Putri, Anindyaningrum Zainal Putu Nara Kusuma Prasanjaya Rahmad Hardiono Rahmat Mulhazaa Rahmiyanti Ismet Inonie Rangga Setiawan Rangga Setiawan Restu Libriani Rijanto, Abdes Rin Orin Ningrum Rin Orin Ningrum Rini Widyastuti Ronny Rachman Noor Rusdin, Muh. Rusdin, Muh. Rusli Badaruddin Rusmiyanto Rusmiyanto Sani Wanti Santi, Nur Sarmin Sitti Aida Adha Taridala Sri Rejeki Sri Yuliana Srihadi Agungpriyono Sumiarti, Rina Sunarti Sunarti Surahmanto Suryanef Suryanef Syahruddin Said Syam Rahadi Syamsuddin Syamsuddin Syamsuddin Syamsuddin Syamsuddin Syamsul Arifin Tamrin Tamrin W. Kurniawan W. L. Salido Wa Laili Salido Wa Laily Salido Wa Ode Astija Madu Wa Ode Jasnia Wahono Esthi Prasetyaningtyas Yaddi, Yafsin Yuni Lestari Yuni Lestari yuniati yuniati Zulkarnaian, Deki