Claim Missing Document
Check
Articles

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA MILITER PELAKU DESERSI DI PENGADILAN MILITER III-16 MAKASSAR: Studi Kasus Putusan Nomor 12-K/PM III-16/AD/III/2025 Ari Siam Yotefa; Ruslan Renggong; Baso Madiong
Indonesian Journal of Legality of Law Vol. 8 No. 2 (2026): Indonesian Journal of Legality of Law, Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ijlf.v8i2.8508

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk pertanggungjawaban pidana militer terhadap pelaku desersi serta pertimbangan hukum hakim dalam Putusan Nomor 12-K/PM III-16/AD/III/2025. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Analisis data dilakukan secara kualitatif berdasarkan bahan hukum primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku desersi diwujudkan melalui pidana penjara selama satu tahun dan pemecatan dari dinas militer. Terdakwa terbukti melakukan ketidakhadiran tanpa izin selama 40 hari berturut-turut pada waktu damai sehingga memenuhi unsur Pasal 87 ayat (1) ke-2 juncto ayat (2) KUHPM. Pertimbangan hakim didasarkan pada aspek yuridis berupa pemenuhan unsur tindak pidana desersi dan ketentuan pemeriksaan in absentia, serta aspek non-yuridis berupa disiplin, loyalitas, dan kepentingan institusi TNI. Putusan tersebut mencerminkan penerapan hukum yang bertujuan menjaga disiplin prajurit dan kepastian hukum dalam lingkungan peradilan militer. This study aims to analyze the form of military criminal liability for desertion offenders and the judge’s legal considerations in Decision Number 12-K/PM III-16/AD/III/2025. This research employs a normative juridical method using statutory and case approaches. The data were analyzed qualitatively based on primary and secondary legal materials. The results indicate that military criminal liability for desertion was imposed in the form of one year imprisonment and dismissal from military service. The defendant was proven to have been absent without official permission for 40 consecutive days during peacetime, thereby fulfilling the elements of Article 87 paragraph (1) point 2 in conjunction with paragraph (2) of the Indonesian Military Criminal Code. The judge’s considerations were based on juridical aspects, including the fulfillment of the elements of the offense and the application of in absentia proceedings, as well as non-juridical aspects such as military discipline, loyalty, and the interests of the Indonesian National Armed Forces (TNI). The decision reflects the enforcement of military law aimed at maintaining discipline among military personnel and ensuring legal certainty within the military justice system.
ANALISIS YURIDIS TERHADAP PENDAFTARAN KEKAYAAN INTELEKTUAL KOMUNAL DAERAH SEBAGAI INSTRUMEN PENGEMBANGAN PARIWISATA Rosady Prawira Putra; Zulkifli Makkawaru; Baso Madiong
Indonesian Journal of Legality of Law Vol. 8 No. 2 (2026): Indonesian Journal of Legality of Law, Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ijlf.v8i2.9005

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan pendaftaran kekayaan intelektual komunal daerah sebagai instrumen pengembangan pariwisata di Kota Makassar serta mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi hambatan dalam implementasinya. Kajian ini dilatarbelakangi oleh masih rendahnya optimalisasi perlindungan kekayaan intelektual komunal daerah, padahal potensi budaya lokal, pengetahuan tradisional, dan produk khas daerah memiliki nilai strategis dalam mendukung pengembangan industri pariwisata berbasis kearifan lokal. Penelitian menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan, pendekatan konseptual, dan pendekatan analitis terhadap berbagai regulasi yang berkaitan dengan kekayaan intelektual komunal dan kebijakan pengembangan pariwisata daerah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pendaftaran kekayaan intelektual komunal daerah di Kota Makassar belum berjalan secara optimal sebagai instrumen pengembangan pariwisata. Kondisi tersebut disebabkan oleh lemahnya koordinasi antarlembaga pemerintah daerah, rendahnya pemahaman masyarakat komunal mengenai urgensi perlindungan kekayaan intelektual, serta belum adanya integrasi kebijakan antara sektor kekayaan intelektual dan sektor pariwisata. Selain itu, hambatan yang dihadapi bersifat struktural dan substantif, meliputi keterbatasan regulasi teknis, birokrasi administratif yang belum terintegrasi, minimnya inventarisasi aset komunal daerah, serta belum terbentuknya model perlindungan hukum yang adaptif terhadap potensi ekonomi kreatif dan pariwisata berbasis budaya lokal. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kebijakan daerah yang terintegrasi melalui sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat adat atau komunal, dan institusi terkait guna mendorong perlindungan kekayaan intelektual komunal sebagai bagian dari strategi pembangunan pariwisata berkelanjutan. This study aims to analyze the implementation of regional communal intellectual property registration as an instrument for tourism development in Makassar City and to identify factors that hinder its implementation. This study is motivated by the still low optimization of regional communal intellectual property protection, even though the potential of local culture, traditional knowledge, and regional specialty products have strategic value in supporting the development of a tourism industry based on local wisdom. The study uses a normative legal research method with a statutory regulatory approach, a conceptual approach, and an analytical approach to various regulations related to communal intellectual property and regional tourism development policies. The results show that the implementation of regional communal intellectual property registration in Makassar City has not been running optimally as an instrument for tourism development. This condition is caused by weak coordination between local government institutions, a low understanding of the communal community regarding the urgency of intellectual property protection, and the lack of policy integration between the intellectual property sector and the tourism sector. In addition, the obstacles faced are structural and substantive, including limited technical regulations, an unintegrated administrative bureaucracy, a minimal inventory of regional communal assets, and the lack of an adaptive legal protection model for the potential of the creative economy and local culture-based tourism. Therefore, it is necessary to strengthen integrated regional policies through synergy between local governments, indigenous or communal communities, and related institutions to encourage the protection of communal intellectual property as part of a sustainable tourism development strategy.
Co-Authors Abdul Karim Abdul Malik Iskandar Abdul Salam Siku Abdurrifai Abdurrifai Abdurrifai, Abdurrifai Achmad Aridha Wirawan Achyar Arafat Muchlies Adri Hiswanto Hasanuddin Afrisal, Afrisal Ahmad Makkaraeng Ahmad, S Ahya, A. Muh. Fachri Al Akbar, A. Ardiansyah Al Mujarra, Tri Eka Alamsyah Alamsyah Alif Masselomo, Andi Akhmad Almaherani, Riski Almusawir, Almusawir Alwi Alwi Alwi Andi Mappiasse Amsa, Albertus Andi Abrinawaty Andi Aprasing Andi Muh. Amin AR Andi Rijal Bangsawan Andi Sofyan Andi Tira, Andi ANDI WIJAYA Andika Andika Anggristiyani Meilinda Manasa Arfah Pattenreng, Andi Muhammad Ari Siam Yotefa Arif Arif Arjunasat Dariatno Arman Arman Arnoldus, Arnoldus Aryanto, Hendry Asriani Hasan Asrul Asrul AZUZ, FAIDAH Bagus Ramadian Permana Basri Oner Bobi Erianto Chaerullah, Chaerullah Chakti C., Muh. Chikal Darwis, Indriani Deddy Randa Didik Yusianto Dzalim, Emil Eka Risma Rissing Fahri, Ashar Fahryansyah, Yan Fauzi Iskandar Firman Manne Fredy Fredy Halwan, Muhammad Hamid A. Cennu Hamid, Abd. Haris Hardianti Hajrah Syamsuddin Harifuddin Harifuddin, Harifuddin Hasdi, Cipta Anugrah Hengki Prima Hodding Herman Pelani Hijra Hijra, Hijra I Made Suarma Ichsan, Muhammad Nur Idris, A Muhammad Arham Indrat Moko Ipdulkipli, Iip Jamaluddin Jamaluddin Jemmi, Jemmi Jumadi, Muhammad Iqbal Jumanto Agung Junardi, Anto Jusram Agustyawan H.E. Gunawan Kamsilaniah Kamsilaniah Kamsilaniah kamsilaniah, Kamsilaniah Kasmawati Kasmawati Krowin, Pontianus Apa Rume Kusuma, Andi Irna Purnama Makkawaru , Zulkifli Marwan Mas Marwan Mas Masdin Masdin Masri Masri Masykur, Fadhilah Azhilah Ma’dika, Drones Moh. Fathur Rizki Mudassir Hasri Gani Muh Awalul Mukhtadir Muh Zainal Muttaqin Muh. Arfan Muh. Farhan Ramadhan Muh. Hasbi A. Muh. Iqram Andi Saputra Muhammad Adryan Muhammad Halwan Muhammad Hasyim Muhammad Ridwan Muhammad Ridwan Muhammad Rizal Ismail Muhammad Taufiq Muhammadi Mukhtari Muhammmad Rusli Mukarramah Mukarramah Mulawarman Mulawarman Mustafa, Firman Mustafa, Muchlis Mustamin Mustamin Mustawa, Mustawa Natsir, Jufri Nur Asril Jadidah Anshari Nur ‘Azah Nurdin, Nuryuli Pelani, Herman Purba, Arnold Raden Detty Septiani Aisyah Rahmadan, Rahmat Rahman, Abdurrahman Rahman, Alfia Ratu Rahman, Muh. Pajrin Rahmat Taqwa Qurais Rahmatullah Rahmatullah REJEKI, ANGGI SRI Renggong, Alamsyah Reza, Andi Muhammad Riyandi, Ahmad Riyandi S Ronaldi T. Pala'langan Rosady Prawira Putra Rosmania Rosmania Ruben Obed Kbarek Ruslan Renggong Sahrul Gunawan Saifullah Waspada Salim, Desy Natalia Salim, Muhammad Aznur Awal Salsabila, Sabrina Santing , Waspada Saputro, Reynaldi Eko Sariati Sariati Setiawati, Intan Shadiq, M. Amil Siahaya, Franssiscus Patrick Sikati, Syarief Sirajudin, Jamaluddin Siti Zubaidah Siti Zubaidah Soeardy, Soeardy St. Lisdawati Juddah Steven Steven Syamsir -, Syamsir Syamsuar, Muh Sabirin Syamsul Bahri Syamsur, Syamsur Syarifuddin Syarifuddin Tahir, Abd. Azis Tandilese, Duwisno Ipang Tanggo, Mutiara Sabina Putri Mancanegara TATI NURHAYATI Wahyu P. Manik Wardana, Putri Waspada, Waspada Yaman, Nurul Syahrizad Yulia A. Hasan Yulia, Y. Yulianto, Dedi Yus Ade Elisia Yusri Lisangan Zainal, Ertifah Zulkifli Makkawaru Zulkifli Zulkifli