p-Index From 2021 - 2026
11.713
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan Gorga : Jurnal Seni Rupa Jurnal Imajinasi Jurnal Sains Dasar KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE Harmonia: Journal of Research and Education Indonesian Journal of Conservation Abdimas English Review: Journal of English Education Mimbar Sekolah Dasar Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Arty: Jurnal Seni Rupa Catharsis Eduarts: Journal of Arts Education Al Ishlah Jurnal Pendidikan Gondang: Jurnal Seni dan Budaya Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia Pendas : Jurnah Ilmiah Pendidikan Dasar JTP - Jurnal Teknologi Pendidikan EDUKATIF : JURNAL ILMU PENDIDIKAN Education and Human Development Journal Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Jurnal Eduscience (JES) Abdi Dosen : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Kepariwisataan: Jurnal Ilmiah SABBHATA YATRA : Jurnal Pariwisata dan Budaya Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma The International Journal of Politics and Sociology Research Jurnal Pengabdian Masyarakat : Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan Warta Pariwisata Journal of Community Empowerment Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Proceeding of International Conference on Science, Education, and Technology Jurnal Pendidikan Sultan Agung Nusantara Journal of Multidisciplinary Science Jurnal Kajian Pariwisata dan Perhotelan Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Kurnia Mengabdi (jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Profesi Pendidikan Dasar Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Realisasi: Ilmu Pendidikan, Seni Rupa dan Desain Catharsis Wissen: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Society ALSYSTECH Journal of Education Technology Multidisciplinary Indonesian Center Journal Deskomvis: Jurnal Ilmiah Desain Komunikasi Visual, Seni Rupa dan Media Varia Humanika Edumaspul: Jurnal Pendidikan MUMTAZ: Jurnal Pendidikan Agama Islam EDUKASIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Islam
Claim Missing Document
Check
Articles

Designing an Illustrated Storybook of “Si Melengkar” as a Conveyance of Heroic Values for the Young Generation. Sugiarto, Eko; Khatami, Reza
Arty: Jurnal Seni Rupa Vol 12 No 3 (2023): Regular
Publisher : Jurusan Seni Rupa Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/arty.v12i03.75696

Abstract

Keberagaman budaya indonesia telah melahirkan banyak karya sastra yang mengandung nilaiberbudaya luhur. Salah satu karya satra yang sering dijumpai adalah cerita rakyat. Ada banyak sekalicerita rakyat yang tercipta dari daerah-daerah yang ada di indonesia. Salah satu cerita yangmengandung nilai -nilai tersebut adalah cerita rakyat Si Melengkar dari Kutai, Kalimantan Timur.Sangat disayangkan jika karya yang memiliki nilai-nilai budaya tersebut tidak tersampaikan kepadagenerasi penerus. Maka dibutuhkanlah sebuah media baru yang dapat mengadaptasi cerita ratyatini yang dapat diterima oleh generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sebuahdummy buku cerita bergambar yang berjudul "Melengkar" dan mengkomunikasikan nilaikepahlawanan dari cerita rakyat Si Melengkar kepada generasi muda. Semua proses penciptaandilakukan menggunakan software Adobe Photosop CC 2018. Buku cerita bergambar dipilih karenabuku bergambar memiliki kekuatan narasi, keterlibatan imajinasi, pengembangan keterampilanmembaca, daya tarik visual, serta keberlanjutan dan aksesibilitas. Nilai kepahlawan dapat berfungsisebagai media pendidikan karakter generasi muda. Melalui karya ilustrasi buku “Melengkar”, dapatmembuka peluang bagi generasi muda untuk memperluas pengetahuan mereka dan mendapatkannilai berharga dari kisah kepahlawanan yang terkandung dalam cerita ini.
BERSEKSPRESI SENI LUKIS SEBAGAI SARANA SELF HEALING DI PANTI ASUHAN ASLAFUNA SHOLIHIN DI SEMARANG Muhammad Akbar Farizky; Eko Sugiarto
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 04 (2025): Volume 10 No. 04 Desember 2025 Terbit
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i04.35505

Abstract

This study aims to analyze the role of painting as a means of self-healing for children at the Aslafuna Sholihin Orphanage in Semarang. The background of this study stems from the psychological condition of the children at the orphanage who are vulnerable to emotional stress, loss of family figures, and limited affection. Through painting, children can express emotions without verbal limitations, so this activity is considered effective as a nonverbal therapy medium that fosters emotional and spiritual balance. The study used a mixed methods approach with an embedded design, which combines quantitative data in the form of children's anxiety and spirituality scales, as well as qualitative data through interviews, observations, and analysis of artworks. The test results showed a decrease in children's anxiety before and after painting with an overall average ranging from 3% to 34%, with an average general decrease of around 19–20%. Analysis of the artworks showed that painting activities helped children channel negative emotions, foster a sense of security, and strengthen spiritual values through symbols and colors. The themes of the paintings that emerged, such as "Sports Park," "Just Me and the Evening," and "One with Nature," depict an emotional journey from tension to calm. Based on art therapy and catharsis theories, this activity has proven to be an effective and enjoyable medium for emotional healing. In conclusion, painting plays a significant role in improving the psychological well-being of children in orphanages and can be developed as an alternative therapeutic approach in education and social guidance.
Performing Sere Bissu Maggiri as Character Education Content for the Bone Community Siti Rahmadani Nur Bakhtiar; Malarsih Malarsih; Eko Sugiarto
Edumaspul: Jurnal Pendidikan Vol 7 No 1 (2023): Edumaspul: Jurnal Pendidikan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Enrekang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33487/edumaspul.v7i1.6421

Abstract

Abstrak Pertunjukan Sere Bissu Maggiri merupakan pertunjukan tari tradisional berasal dari suku Bugis Bone yang teletak di Sulawesi Selatan. Pelaku kesenian dari pertunjukkan tersebut adalah Bissu merupakan laki-laki berpenampilan wanita dari Komunitas Bissu Bone. Tujuan penelitian ini mendeskipsikan nilai-nilai pendidikan karakter masyarakat Bone terefleksi dalam pertunjukan Sere Bissu Maggiri. Menggunakan metode kualitatif dengan desain penelitian fenomenalogi. Hasil penelitian menunjukkan Pendidikan Karakter pada masyarakat Bone dalam Pertunjukan Sere Bissu Maggiri terdapat nilai-nilai karakter terdapat Tuhan, terhadap diri sendiri dan terhadap sesama dari tiga nilai tersebut menjadi acuan dan pedoman bersikap sebagai masyarakat Bone dengan Bone kota beradat. Menjunjung tinggi nilai moral bersikap dan menghargai kesenian leluhur mempertahankan dan terus dilestarikan. Kata Kunci: Pendidikan Karakter, Sere Bissu Maggiri, Bone AbstractThe Sere Bissu Maggiri performance is a traditional dance performance originating from the Bugis Bone tribe located in South Sulawesi. The performers of the show are Bissu, men dressed as women from the Bissu Bone Community. The purpose of this study is to describe the character education values of the people of Bone as reflected in the Sere Bissu Maggiri performance. Using qualitative methods with a phenomenological research design The results of the study show that character education in the Bone community in the Sere Bissu Maggiri performance contains character values that include God, oneself, and others, with the three values becoming a reference and guideline for behaving as a Bone community in a civilized city. Upholding moral values, behaving and appreciating ancestral arts, and maintaining and continuing to be preserved Keywords : Character Education, Sere Bissu Maggiri, Bone
Aesthetic Study of the function of Damar Kurung Crafts Gresik District Anita Hidayati; Syakir Syakir; Eko Sugiarto
Edumaspul: Jurnal Pendidikan Vol 7 No 2 (2023): Edumaspul: Jurnal Pendidikan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Enrekang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33487/edumaspul.v7i2.6813

Abstract

Damar Kurung adalah lampion kayu berbentuk segi empat dengan sudut menyerupai segi tiga di bagian atasnya dan keempat sisinya berhiaskan lukisan. Merupakan akulturasi budaya Jawa, Thionghoa, Arab.. Pembuat Damar Kurung terakhir di Gresik adalah Sriwati Masmundari (Januari 1904 – 25 Desember 2005). Damar kurung pernah diambang kepunahan, namun Tahun 2017 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda (WBTB). Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui estetika kerajinan Damar Kurung dari segi fungsi. Keterkaitan antara seni tradisi dengan tradisi lain sehingga dapat tetap eksis.Penelitian ini menggunakan penelitian multidisiplin dengan pendekatan antropologi dan budaya. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Wawancara, 10 sample narasumber masyarakat Gresik, Budayawan komunitas Mata Segar dan 2 Guru di Sekolah Dasar Negeri 4 Petrokimia Gresik dan Taman Kanak-Kanak Insanuz- Ziyan..Teknik analisis data dengan cara reduksi data, mengolah data, dan penarikan kesimpulan. Validasi data dengan ketekunan pengamatan dan triangulasi data. Hasil yang didapatkan fungsi awal Damar Kurung adalah sebagai penerang/ lampu, dengan adanya perkembangan zaman maka muncul fungsi lain. Fungsi tersebut: (1) Damar kurung sebagai Ikon Kabupaten Gresik, (2) Damar kurung sebagai fungsi estetik, (3) Kerajinan Damar Kurung Sebagai Identitas Masyarakat Kabupaten Gresik, (4) Damar kurung sebagai fungsi Informasi,(5) Damar kurung sebagai muatan lokal dalam dunia pendidikan. Kata Kunci: Damar kurung, Estetika fungsi, Ikon.
Visual Arts Learning Management Based on Local Potential at SMP Negeri 1 Bergas Rizal Sofyana Fatahillah; Eko Sugiarto; Tjetjep Rohendi Rohidi
Edumaspul: Jurnal Pendidikan Vol 7 No 2 (2023): Edumaspul: Jurnal Pendidikan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Enrekang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33487/edumaspul.v7i2.7489

Abstract

Abstract Regional potential is a valuable resource in the development of Visual arts. One of the functions of education is as an effort to preserve the traditional nature of culture. Implementing arts education based on local potential requires good management. SMP Negeri 1 Bergas utilizes local potential in Semarang Regency as an object in creating paintings. The objectives of this research include: (1) Analyzing the role of local potential in Visual arts education, (2) understanding the management process and implementation of local potential-based Visual arts learning, and (3) identifying obstacles and opportunities. This research is qualitative research, using observation, interview and document study data acquisition methods. This research found that local potential can be utilized as a drawing object to train students' sensitivity to the environment. Art education management is carried out in the form of preparing lesson plans, implementing drawing lessons with teacher guidance from the sketching process to coloring, as well as providing feedback, to produce output in the form of drawing works. This learning is supported by qualified teachers and is hampered by limited costs and student discipline.. Keywords: Management, Learning, Drawing, Local Potential. Abstrak Potensi daerah merupakan sumber daya yang berharga dalam pengembangan seni rupa. Salah satu fungsi pendidikan adalah sebagai upaya pelestarian sifat tradisional kebudayaan. Pelaksanaan pendidikan seni berbasis potensi lokal ini memerlukan manajemen yang baik. SMP Negeri 1 Bergas memanfaatkan potensi, lokal yang ada di Kabupaten Semarang sebagai objek dalam berkarya seni lukis. Tujuan dari penelitian ini meliputi: (1) Menganalisis peran potensi lokal dalam pendidikan seni rupa, (2) mengetahui proses manajemen dan pelaksanaan pembelajaran seni rupa berbasis potensi lokal, serta (3) mengidentifikasi hambatan dan peluangnya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan metode perolehan data observasi, wawancara, dan studi dokumen. PPenelitian ini menemukan fakta bahwa potensi lokal dapat dimanfaatkan sebagai objek menggambar untuk melatih kepekaan siswa terhadap lingkungan. Manajemen pendidikan seni dilaksanakan dengan berupa penyusunan RPP, pelaksanaan pembelajaran menggambar dengan bimbingan guru dari proses sketsa hingga pewarnaan, serta pemberian feedback, hingga menghasilkan output berupa karya gambar. Pembelajaran tersebut di dukung oleh guru yang mumpuni dan terhambat karena keterbatasan biaya dan kedisiplinan siswa. Kata Kunci: Manajemen, Pembelajaran, Menggambar, Potensi Lokal.
The Role of the Mahalawu Studio in the Development of the Jalak Lawu Dance as a Cultural Identity of Magetan Regency Widarwati Widarwati; Malarsih Malarsih; Eko Sugiarto
Edumaspul: Jurnal Pendidikan Vol 8 No 2 (2024): Edumaspul: Jurnal Pendidikan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Enrekang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33487/edumaspul.v8i2.8267

Abstract

The aim of this research is to discuss the role of Sanggar Mahalawu in the development of Jalak Lawu Dance in Magetan Regency. The Jalak Lawu dance is a typical Magetan Regency dance which was created by the Magetan Regency artist, Mrs. Hartini. The development of the Jalak Lawu Dance over time has made the Regency Government, especially the Department of Tourism and Culture and the artists of Sanggar Mahalawu, ask Mrs. Hartini for permission to develop the Jalak Lawu Dance. August 2022 Jalak Lawu Dance was designated as a Typical Dance of Magetan Regency at the same time as the performance building and the Magetan Arts Council (DESIMA) were established. The Jalak Lawu dance is an art that must be preserved as cultural heritage in Magetan Regency. Sanggar Mahalwu is the place where the Starling Lawu Dance began to be taught to the people of Magetan Regency. Efforts to develop the Jalak Lawu Dance continue to be made by Sanggar Mahalwu through learning in the Studio and in schools as well as performances at various important events in Magetan Regency and outside Magetan Regency. As an identity dance, of course the existence of the Jalak Lawu Dance must continue to be pursued both from the cultural and educational sectors.
Character Value Formation Through Malay Gambus Art in “Mesjid Mekkah" Song Laila Fitriah; M. Jazuli; Wadiyo Wadiyo; Eko Sugiarto
MUMTAZ : Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 5 No. 1 (2025): June 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam (IAI) Ibrahimy Genteng Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69552/mumtaz.v5i1.3085

Abstract

The contemporary character crisis has raised a profound concern to Indonesian way of living. The spike oftechnological advancement has brought both positive and negative impact to the young generation. The government, on the other hand, has started to prioritize cultivating of character programme in each educational institution, particularly in Gambus music art. This research aims to explain character value cultivation in Malay Gambus art. This research was conducted at Pekanbaru City, with performing arts students of Islamic Riau University as the research subjects, and Riau Malay Gambus Art as the research object. This research had been done in a qualitative descriptive methods by using observation, interview, literature review and documentation while data analysis involved primary and secondary data that were gathered using qualitative descriptive method. The research results have revealed that the students who arestudying Gambus art tend to have more understanding on character cultivation values and practice those values in their daily life compared to the students who are not studying Gambus art. In addition, character cultivation values in Gambus art can be divided into: Religious Value, Truth Value, Tolerance Value, Discipline, Creative and Democratic Value. There are a lot of messages and values gained from Gambus Art that are derived from its religious and moral functions which are applicable to everyday life. Therefore, values contained in the Gambus Art itself support the character cultivation in the young generation.
Conservative Ideology in Community-Based Arts Education: An Ethnographic Study of Dance Learning Treny Hera; Agus Cahyono; Malarsih Malarsih; Eko Sugiarto; Muhammad Fazli Taib Bin Saearani
AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan Vol 17, No 4 (2025): DECEMBER 2025
Publisher : STAI Hubbulwathan Duri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35445/alishlah.v17i4.8323

Abstract

Community-based arts education plays a vital role in cultural preservation, yet it is often shaped by ideological forces. This ethnographic study explores how conservative ideology manifests within the traditional dance education practices of Sanggar Dinda Bestari in South Sumatra, Indonesia, and its implications for pedagogy, cultural identity, and intergenerational transmission. Using a qualitative ethnographic approach, data were collected over three months through participant observation, in-depth interviews with dance instructors, students, and studio managers, and documentation of teaching practices. Thematic analysis was conducted following Braun and Clarke’s framework, with critical discourse analysis used to examine power dynamics and ideological reproduction in dance pedagogy. Findings reveal that conservative ideology is embedded in dance learning through hierarchical teacher-student relationships, sacred framing of traditional repertoires, norms of modesty, and obedience in instruction. While these practices preserve cultural authenticity, they also restrict creative expression and dialogue, particularly among younger learners. Tensions arise between tradition and modernity, as seen in efforts to adapt dance instruction for social media or engage youth participation. Sanggar Dinda Bestari serves as both a site of cultural reproduction and ideological negotiation. While conservative values support continuity and discipline, they may also limit innovation. A hybrid pedagogical model that balances tradition with participatory and adaptive strategies is proposed. This study contributes to broader discourses on how ideology shapes non-formal arts education and offers insights into navigating cultural preservation in the context of globalization and generational change.
Pengembangan Visual Destination Branding dan Aplikasinya pada Media Promosi Kawasan Wisata Bandungan Andika Tri Prasetyo; Rahina Rahina Nugrahani; Eko Sugiarto
Deskomvis: Jurnal Ilmiah Desain Komunikasi Visual, Seni Rupa dan Media Vol. 1 No. 2 (2020): DESKOMVIS: Jurnal Ilmiah Desain Komunikasi Visual, Seni Rupa dan Media
Publisher : Asosiasi Program Studi Desain Komunikasi Visual Indonesia (Asprodi DKV)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38010/deskomvis.v1i2.9

Abstract

Bandungan adalah sebuah kecamatan yang terletak di selatan Kabupaten Semarang, Jawa Tengah yang kaya akan potensi pariwisata. Namun, sejak tahun 1970an, Bandungan dikenal oleh masyarakat di kawasan Semarang dan sekitarnya sebagai destinasi yang terkenal dengan keberadaan hotel dan karaoke yang dekat dengan kehidupan malam. Pemerintah dan paguyuban pengelola wisata di kawasan Bandungan menyadari kebutuhan kawasan ini akan adanya visual destination branding yang dapat merefleksikan citra positif Bandungan serta harapan dari masyarakatnya. Artikel ini memaparkan hasil perancangan visual destination branding dan aplikasi pada berbagai media promosi. Metode perancangan yang digunakan dilakukan melalui tiga tahap yaitu tahap pra produksi, produksi dan pasca produksi. Kegiatan perancangan dan pengembangan visual destination branding ini menghasilkan logo dan elemen visual yang diaplikasikan pada media luar ruang, transortasi publik, dan merchandise.
PENDIDIKAN KARAKTER DALAM VISUALISASI DAN MAKNA FILOSOFIS MOTIF BATIK LEGENDA BULUSAN Vania Febianti; Eko Sugiarto
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 4 (2025): Volume 10. No4, Desember 2025.
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i4.37153

Abstract

Indonesian batik has been recognized by UNESCO as an intangible cultural heritage since 2009. Kudus batik is one of the local cultural heritages rich in meaning. The meaning contained in batik motifs can function as a learning medium and educational tool for the wider community. The Bulusan Legend motif contains cultural, philosophical, and character-education values that reflect the folklore of Hadipolo village, Kudus Regency. This study aims to analyze the visualization of the motif, philosophical meaning, and character values ​​contained in the Bulusan Legend batik. The research method uses a descriptive qualitative method. Research data were collected through observation, interviews, and documentation. The results of the study are as follows: first, in terms of visualization, the Bulusan Legend batik features many elements arranged according to folklore. The main elements displayed are those of trees, turtles, and human figures, along with supporting elements such as rocks, clouds, rivers, and grass. Second, the philosophy of the Bulusan Legend motif represents local wisdom values ​​such as obedience, humility, and respect. Third, the Bulusan Legend batik motif can also be used as a means of character education, instilling positive values in the younger generation within the context of education and cultural preservation. The character traits include religious values, cooperation, responsibility, and social awareness. The research suggests developing batik-based educational programs in schools
Co-Authors Abdul Aziz Achmad Zairin Achmad Zairin ADHYTIA RIZKYHIMAWAN Agus Cahyono Agus Cahyono Agus Cahyono Agus Cahyono Aji Pranoto Al Lail, Lulu Maulida Alfina, Zulfah Alhail, Hadi Amelia Loveita Sari Andika Tri Prasetyo Anisa Melianti Anisih, Endang Tri Anita Hidayati Anita Hidayati Annisa' Ayu Firmadhani Anung Gunarto Arif Fiyanto Arif, M Fauzi Arindy Sabilla Dewi Arindy Sabilla Dewi Arrijal, Nail Zufar Asmarani, Ratih Astuti, Yuli Tri Atip Nurharini Aurellia, Talitha Azis, Edza Agung Ardatama Bahrun, Muhammad Afifa Bariroh, Bariroh Bin Saearani, Muhammad Fazli Taib Desi Utami Devalia Wahid Salsabillah Djuli Djatiprambudi Dwi Wahyuni Kurniawati Eko Haryanto Eko Haryanto Endang Supadmi Erni Suharini Evadila Evadila Evadila Evadila Evi Kristanti Apriliani Fauziyyah, Fadhilah Fida Febriani, Meina Fernando, Leo Fhikri Fratama Fitriah, Laila Fitriana, Octavia Nur Fratama, Fhikri Galih Cahya Pratama Gallah Akbar Mahardhika Gallah Akbar Mahardhika Gusti Gde Badrawada, I Hakim, Lutfi Maulana Hamdan Tri Atmaja Hamdan Tri Atmaja Hananto, Kombang Haryadi Harris, Abdul Rafi Muhshi Hartono Hartono Hartono Hartono Hartono Hartono Haryanti, Dian Hayati, Septi Nur HERA, TRENY Hernadi, Nour Ardiansyah Hidayat, Sefiyan Eza I Gusti Gde Badrawada Idam Wahyudi Iin Turyani Imron Rosyadi Intan, Noor Tiara Habib Aisyah Irawati , Novi Jamil, Nur Asiyah Jesita Trisnawati Kartika, Dharsono Sony Kemal Budi Mulyono, Kemal Budi Kharisma, Garda Udi Khatami, Reza Laila Fitriah Laila Fitriah Latifatunnisa, Devy Lindawati Lindawati Lisa Andriani M. Jazuli M. Jazuli Maemonah, Maemonah MAHARANI, AISYAH Makiya , Kiki Rizki Malarsi Malarsi Malarsih Malarsih Malarsih, M Mardina Rahayu Martini Martini Maulana, Anand Luthfi Meisar Ashari Muh Fakhrihun Naam Muh Fakhrihun Naam Muh Fakhrihun Naam Muh. Fakhrihun Naam Muhammad Akbar Farizky Muhammad Fazli Taib Bin Saearani Muhammad Ibnan Syarif Muhammad Jazuli Muhammad Jazuli Muhammad Panji Wahyu Mukti Muhammad Rijalul Azka Arifin MUHAMMAD SHOLEH Mujiyono Mujiyono Muntoharoh, Khusnul Mursidah Waty Murtiyoso, Onang Na:am, Muh Fakhrihun Nadia Sigi Prameswari Najah, Qoimatun Nandani, Dela Siti Nobertian Panca Tandibua Novi Irawati Novia Dyah Mahesti Nur Hamidah, Nur Nur Rokhmat Palupi, Angesti Pelle, Evangelin Estevania Ponimin Prasetyo, Kinanti Ida Nursanti Pratama Bayu Widagdo Pratama Widagdo Pujianataa, Aprian Eka Purbawati, Sih Yunika Purwaningsari, Dewi Putri Dyah Indriyani Putri Dyah Indriyani Rahina Nugrahani Rahina Rahina Nugrahani Rahman, Ryzki Fatchur Ratih Ayu Pratiwinindya Ratih Ayu Pratiwinindya Retnoningrum Hidayah Rizal Sofyana Fatahillah Rizal, Wahyu Anggo Rizki Makiya, Kiki Rizkyansyah, Rio Anugrah Rohidi, Tjetjep Rohendi Saefudin, Muhammad Sari , Francisca Vidia Kumala Sari, Archangela Girlani Silvananda Pradita Satria Ramadhani, Satria Shella Henry Wijaya Siti Rahmadani Nur Bakhtiar Slamet Haryono Sofiyaturrohmah, Syifa Sofyana Fatahillah, Rizal SRI RAHAYU Suparni Setyowati Rahayu Surya Adi, Adinda Syahrul Syah Sinaga Syakir Syakir - Syakir Syakir Syakir Syakir syakir syakir Thesya Ramyta Rizki Tjetjep Rohendi Rohidi Tjetjep Rohendi Rohidi Tjetjep Rohendi Rohidi Tjetjep Rohendi Rohidi, Tjetjep Rohendi Tommi Yuniawan Treny Hera Treny Hera Tutung Nurdiyana Tutung Nurdiyana Vania Febianti Wadiyo Wadiyo Wahyudi, Idham Wandah Wibawanto Wandah Wibawanto Warih Handayaningrum Warih Handayaningrum Wicaksana, Satya Adhi Widarwati Widarwati Widarwati, Widarwati Widodo Widodo Yoga, Nadya Krisma Yulaida, Ita Zulmi, Muhammad