Claim Missing Document
Check
Articles

Penyuluhan Tentang Pijat Common Cold dalam Upaya Mengurangi Gejala Batuk Pilek pada Bayi Balita Dewita; Rafika Brian Maghfiroh; Fani Rahmawati; Adkha Putri Puspita Dewi; Isfaizah; Yulia Nur Khayati; Heni Hirawati Pranoto
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 4 No. 1 (2025): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cough and cold are common upper respiratory tract infections experienced by infants and toddlers due to their immature  immune  systems.  Non-pharmacological methods, such as baby massage, are proven to help relieve                                                    symptoms and improve comfort. This community service aimed to educate and train mothers and caregivers on cold massage techniques to reduce respiratory symptoms in children under five. The activity was conducted on June 5, 2025, in three stages: (1) identifying and recruiting 18 participants (8 mothers and 10 caregivers) from Posyandu Dusun Dawung, Wonoyoso Village; (2) delivering educational material and practical demonstrations; and (3) evaluating participants through pretest, posttest, and redemonstration. The average knowledge score increased from 6.8 (pretest) to 9.2 (posttest), and the practical skills of participants improved significantly, especially in basic massage techniques such as sinus line and chest raindrop. However,  some  participants  experienced  difficulties  in more complex movements like sweeping neck to feet and toby   top   intercostal.   The   participants   showed   high enthusiasm and active involvement throughout the program. The findings indicate a positive impact of the intervention on participants’ knowledge and confidence in performing baby cold massage. This program is recommended for replication in other community health settings  to  enhance  mothers’  ability  to  independently manage early symptoms of cough and cold in toddlers using complementary therapies.             Abstrak Batuk pilek atau flu ringan sering dialami oleh bayi dan balita akibat sistem kekebalan tubuh yang belum sepenuhnya  berkembang.  Penyakit  ini  merupakan gangguan saluran pernapasan atas yang umum terjadi dan memerlukan penanganan yang tepat, tidak hanya dengan pengobatan farmakologis, tetapi juga melalui pendekatan non-farmakologis  seperti  pijat  bayi.  Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan edukasi dan pelatihan pijat batuk pilek kepada ibu dan pengasuh bayi/balita di Posyandu Dusun Dawung, Desa Wonoyoso, Kecamatan Pringapus. batuk pilek atau flu ringan sering dialami oleh bayi dan balita akibat sistem kekebalan tubuh yang belum sepenuhnya berkembang. Batuk pilek merupakan  gangguan  saluran  pernafasan  atas  l,  yang paling sering mengenai balita dan anak. Pijat bayi merupakan salah satu metode alami yang dapat membantu meredakan gejala seperti hidung tersumbat,  batuk  ringan, dan ketidaknyamanan. Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah untuk memberikan edukasi dan pelatihan pijat pada   ibu   yang   memiliki   balita   di   Posyandu   Dusun Dawung RT 03 RW 02 Desa Wonoyoso Kecamatan Pringapus. Kegiatan dilakukan pada Tanggal 05 Juni 2025 yang meliputi tahap pertama yaitu mencari target sasaran yaitu  ibu  yang  memiliki anak  bayi/balita.  Tahap  kedua adalah menggali pengetahuan ibu mengenai pijat batuk pilek dengan pretest serta pertanyaan terbuka. dilanjutkan dengan edukasi dan pelatihan pijat batuk pilek. Tahap ketiga melakukan evaluasi dengan cara memberikan posttest dan wawancara secara langsung dan diakhiri dengan membuat laporan kegiatan. dari hasil pengabdian masyarakat didapatkan bahwa kegiatan ini diikuti oleh 8 ibu dan 10 bayi yang diasuh neneknya usia   2 sampai 3 bulan hingga 18 bulan sebelum dilakukan penyuluhan mengenai pijat batuk pilek didapatkan semua pengetahuan ibu dalam kategori kurang yaitu sebanyak 8 ibu dan 10 yang diasuh neneknya (100%) dan setelah dilakukan penyuluhan ibu dan pengasuh memiliki pengetahuan dengan kategori baik sebanyak 8 ibu dan 10 pengasuh. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan mengenai pijat batuk pilek.Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan mengenai pijat batuk pilek Diharapkan dari kegiatan ini ibu dapat melakukan pijat batuk pilek secara mandiri kepada anaknya di rumah serta diharapkan kegiatan seperti ini mampu dilaksanakan didalam  kegiatan  posyandu  di  Desa  Wonoyoso  agar mampu meningkatkan pengetahuan   dan kemampuan ibu yang memiliki balita tentang cara mengurangi gejala sakit pada bayi dengan terapi komplementer atau non- farmakologi.
Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. N Umur 32 Tahun G3P2A0 di Desa Jonggon Jaya Kecamatan Loa Kulu Kabupaten Kutai Kartanegara Ira Septiya Sari; Yulia Nur Khayati
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 4 No. 1 (2025): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Continuity of care in midwifery is a series of ongoing and comprehensive services starting from pregnancy, childbirth, postpartum care, newborn care, and family planning services that connect the health needs of women in particular and the personal circumstances of each individual. Comprehensive care is a thorough examination that includes simple laboratory tests and counseling. Comprehensive midwifery care includes ongoing examination activities, including pregnancy care, childbirth care, postpartum care, newborn care, and family planning services. This study is a case study of Mrs. N, 32 years old, G3P2A0 in Jonggon Jaya Village. Midwifery care was provided comprehensively from pregnancy, childbirth, postpartum care, newborn care to family planning services. The study results show that the application of continuity of care has a positive impact on the health status of mothers and babies and client satisfaction. Although the delivery process was carried out with referral due to a history of hypertension during pregnancy, the researcher still provided accompaniment to the referral facility until postpartum care and family planning services were provided to Mrs. N, 32 years old, G3P2A0 in Jonggon Jaya Village. This study emphasizes the importance of the role of midwives in providing comprehensive and continuous midwifery services.   Abstrak Continuity of care dalam  kebidanan  adalah serangkaian kegiatan pelayanan yang berkelanjutan dan menyeluruh mulai dari kehamilan, persalinan, nifas, pelayanan bayi baru lahir serta pelayanan keluarga berencana yang menghubungkan kebutuhan kesehatan perempuan khususnya dan keadaan pribadi setiap individu. Asuhan komprehensif merupakan suatu pemeriksaan yang dilakukan secara lengkap dengan adanya pemeriksaan, laboratorium sederhana dan konseling. Asuhan kebidanan komprehensif mencakup kegiatan pemeriksaan berkesinambungan diantaranya adalah asuhan kebidanan kehamilan, asuhan    kebidanan persalinan, asuhan kebidanan masa nifas dan asuhan kebidanan bayi  baru  lahir  serta  akseptor  KB. Penelitian ini merupakan studi kasus terhadap Ny. N, 32 tahun, G3P2A0 di Desa Jonggon Jaya. Asuhan kebidanan dilakukan secara menyeluruh dari kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir hingga pelayanan KB. Hasil studi menunjukkan bahwa penerapan continuity of care memberikan dampak positif terhadap status kesehatan ibu dan bayi serta kepuasan klien. Walaupun proses persalinan dilakukan dengan rujukan karena ada riwayat  Hipertensi selama kehamilan, peneliti tetap melakukan pendampingan ke tempat fasilitas rujukan hingga dilakukannya perawatan nifas dan pelayanan KB pascasalin terhadap Ny. N, 32 tahun, G3P2A0 di Desa Jonggon Jaya. Penelitian ini menegaskan pentingnya peran bidan dalam memberikan pelayanan kebidanan secara komprehensif dan berkesinambungan.
GAMBARAN SIKAP IBU TENTANG ASI EKSLUSIF DI DESA KARANGJATI KECAMATAN BERGAS KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2019 Inayah, Hajaratul; Khayati, Yulia Nur; Setyowati, Heni
Jurnal Ilmiah Kesehatan Ar-Rum Salatiga Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : STIKES Ar-Rum Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36409/jika.v5i2.110

Abstract

Data cakupan ASI ekslusif di Puskesmas Bergas tahun 2018 sebesar 21% namun belum mencapai target puskesmas yaitu sebesar 46%. Studi pendahuluan di Desa Karangjati diketahui bahwa bidan telah melakukan penyuluhan dan pembagian leaflet tentang ASI ekslusif kepada ibu-ibu yang memiliki bayi, namun angka keberhasilan ASI ekslusif di Desa Karangjati masih rendah yaitu hanya 17 bayi tahun 2017 dan tahun 2018 mengalami penurunan menjadi 4 bayi. Salah satu penyebab kegagalan ASI ekslusif yaitu sikap ibu yang merasa asi eksklusif terlalu merepotkan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran sikap ibu tentang ASI ekslusif di Desa Karangjati Kecamatan Bergas Kabupaten Semarang Tahun 2019. Desain penelitian ini adalah survei deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi sejumlah 598 ibu yang memiliki balita periode Juni 2019. Sampel sejumlah 92 ibu dengan menggunakan teknik accidental sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner untuk mendapatkan gambaran sikap ibu tentang asi eksklusif. Analisis data meliputi analisis univariat. Hasil penelitian ini didapatkan Ibu yang bersikap positif terhadap pemberian ASI ekslusif sebanyak 48 responden (52,2%) dan bersikap negatif sebanyak 44 responden (47,8%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah Sebagian besar ibu bersikap positif terhadap pemberian ASI ekslusif yaitu 48 ibu (52,2%) di Desa Karangjati Kecamatan Bergas Kabupaten Semarang Tahun 2019.
Hubungan Jenis Persalinan Terhadap Keberhasilan Inisiasi Menyusu Dini : The Relationship between the Type of Delivery and the Success of Early Breastfeeding Initiation Widyaningsih, Ari; Khayati, Yulia Nur; Isfaizah
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 6 No. 1 (2023): Maret 2023
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v6i1.2237

Abstract

One of the efforts to increase the success of breastfeeding is the implementation of Early Breastfeeding Initiation (IMD) by newborns to their mothers. IMD will greatly assist in the continuity of exclusive breastfeeding and duration of breastfeeding. Thus, the baby's needs will be met until the age of 2 years, and prevent children from malnutrition. The highest percentage of breastfeeding in children aged 0-23 months is 1-6 hours (35.2%). The process of starting to breastfeed in the first hour after birth / IMD is only 34.5%. IMD has increased in 2018. The proportion of IMD in children aged 0-23 months is 58.2%. Of this proportion, only 15.9% did IMD ≥ 1 hour. Childbirth is the culmination of a series of pregnancy processes. The type of delivery experienced plays an important role in supporting the successful implementation of Early Breastfeeding Initiation (IMD). Early Initiation of Breastfeeding (IMD) is an instinctive process and the right of every newborn. Early Initiation or early initiation of breastfeeding is when the baby begins to breastfeed on his own immediately after birth and is allowed skin-to-skin contact with his mother's skin for at least 1 hour. The purpose of this study was to determine the type of delivery, determine the number of babies who received IMD and determine the relationship between the type of delivery and the success of IMD. This research is a correlation analysis with a cross-sectional study approach. This research was conducted in April - May 2022. The sampling technique used total sampling. Data analysis in this study was univariate analysis and bivariate analysis using the Chi Square test with the SPSS Version 22 program (95% CI and α = 0.05). The results of bivariate analysis found that there was a significant relationship between the type of delivery and the success of IMD (p <0.001, OR 24.886, 95% CI = 6.835-90.608). Spontaneous delivery without complications increases the success of IMD by 24.88 times when compared with spontaneous delivery with complications. The birth process that the mother goes through, both normally and with complications, is not an obstacle for a baby to get his right to get breast milk at the beginning of his life. Management of the practice of Early Breastfeeding Initiation in all types of labor is no different and depends on the baby being allowed to look for the mother's nipple as early as possible. It is hoped that intervention in childbirth will be kept to a minimum so that the condition of the mother and baby becomes optimal for the success of the Early Breastfeeding Initiation (IMD) process. Abstrak Upaya untuk meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif antara lain dengan melaksanakan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) oleh bayi baru lahir pada ibunya. IMD akan sangat membantu dalam keberlangsungan pemberian ASI eksklusif dan lama menyusui. Dengan demikian, bayi akan terpenuhi kebutuhannya hingga usia 2 tahun, dan mencegah anak kurang gizi.  Persentase tertinggi proses mulai menyusu pada anak umur 0-23 bulan adalah pada 1-6 jam (35,2%). Proses mulai menyusu pada satu jam pertama setelah lahir/IMD hanya 34,5%. IMD mengalami peningkatan pada tahun 2018. Proporsi IMD pada anak umur 0-23 bulan adalah 58,2%. Dari proporsi ini, yang melakukan IMD ≥ 1 jam hanya 15,9%.  Persalinan merupakan puncak peristiwa dari serangkaian proses kehamilan. Jenis persalinan yang di alami memberikan peran penting dalam mendukung keberhasilan pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Inisiasi Menyusu Dini (IMD) merupakan proses naluriah dan hak setiap bayi baru lahir. Inisiasi Menyusu Dini (Early Initiation) atau permulaan menyusu dini adalah bayi mulai menyusu sendiri segera setelah lahir dan dibiarkan kontak kulit dengan kulit ibunya sekurangnya selama 1 jam.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis persalinan, mengetahui jumlah bayi yang mendapat IMD dan mengetahui hubungan jenis persalinan terhadap keberhasilan IMD.  Penelitian ini merupakan analitik korelasi dengan pendekatan cross-sectional study.  Penelitian ini dilakukan pada bulan April - Mei 2022. Populasi pada penelitian ini adalah 91 ibu bersalin. Teknik pengambilan sampling menggunakan Total sampling.  Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 91 ibu bersalin.  Analisis data dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan uji Chi Square dengan program SPSS Versi 22 dengan ( CI  95% dan α= 0.05).  Hasil analisis bivariat didapatkan ada hubungan yang signifikans antara jenis persalinan dengan keberhasilan IMD (p <0,001, OR 24,886, CI 95%= 6,835-90,608). Persalinan spontan tanpa penyulit meningkatkan keberhasilan IMD sebesar 24,88 kali jika dibandingkan dengan persalinan spontan dengan penyulit.  Proses persalinan yang dilalui ibu baik secara normal maupun dengan penyulit bukan sebuah hambatan seorang bayi untuk mendapatkan haknya dalam mendapatkan ASI di awal kehidupannya.  Penatalaksanaan praktek Inisiasi Menyusu Dini pada semua jenis persalinan tidak berbeda dan tergantung pada sedini mungkin bayi dibiarkan mencari putting ibu. Diharapkan intervensi dalam persalinan diupayakan seminimal mungkin sehingga kondisi ibu dan bayi menjadi optimal untuk keberhasilan proses Inisiasi Menyusu Dini (IMD).
Studi Deskriptif Interaksi Ibu dalam Pengasuhan Balita : Descriptive Study of Maternal Interaction in Raising Toddlers Veftisia, Vistra; Yulia Nur Khayati; Moneca Diah Listiyani
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 6 No. 2 (2023): September 2023
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v6i2.2626

Abstract

The quality of a child's future is determined by optimal development and growth of the child, so that detection, stimulation and intervention for various causes of growth and development are carried out from an early age. Parents are expected to be able to prepare optimal child development as a whole so that children will have good adaptability in their environment, including the ability to overcome problems, self-regulate, organize their thoughts and behave well. The stimulation that parents provide must also refer to the child's development stage, of course by paying attention to individual differences and based on interactions in the environment around the child, the main principle of parenting in the child's development process that parents need to carry out, namely building good communication with the child. Parental knowledge will determine parental behavior in providing stimulation. This research aims to determine the description of maternal knowledge, interaction between mother and child and parenting behavior in child development. The method in this research is quantitative descriptive with a cross sectional design. The population in this study is mothers who have toddlers aged 0-36 months in Candirejo sub-district with a sample size of 40 respondents. The instrument used was the MABISC questionnaire. The results of this research are that the level of mother's knowledge about toddler development is good, mother and child interaction is good and parenting behavior is good. Abstrak Kualitas masa depan anak ditentukan oleh perkembangan dan pertumbuhan anak yang optimal, Sehingga deteksi, stimulasi dan intervensi berbagai penyimpanan pertumbuhan dan perkembangan dilakukan sejak dini. Orangtua diharapkan dapat mempersiapkan perkembangan anak yang optimal secara menyeluruh sehingga anak akan memiliki kemampuan beradaptasi yang baik di lingkungannya, diantaranya kemampuan dalam mengatasi masalah, regulasi diri, menata pikiran, dan berperilaku dengan baik. Stimulasi yang orangtua berikan juga harus mengacu pada tahap perkembangan anak, tentunya dengan memerhatikan perbedaan individu dan berbasis interaksi pada lingkungan sekitar anak, prinsip pokok pengasuhan dalam proses perkembangan anak yang perlu orangtua lakukan, yaitu membangun komunikasi yang baik dengan anak. Pengetahuan orang tua akan menentukan perilaku orang tua dalam memberikan stimulasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran pengetahuan ibu, interaksi ibu dan anak serta perilaku pengasuhan perkembangan anak. Metode dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitattif dengan desain cross sectional populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki balita usia 0-36 bulan di kelurahan Candirejo dengan jumlah sampel 40 responden. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner MABISC. Hasil dari penelitian ini adalah tingkat Pengetahuan Ibu tentang perkembangan Balita baik, Interaksi Ibu Dan Anak baik dan Perilaku Pengasuhan Anak baik
Peran Keikutsertaan Ibu dalam Kelas Ibu Balita terhadap Pengetahuan dan Sikap Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA): The Role of Mothers' Participation in Mother and Toddler Classes on Knowledge and Attitudes of Infant and Child Feeding (PMBA) Zahrotussalamah; Veftisia, Vistra; Khayati, Yulia Nur
Journal of Holistics and Health Sciences Vol. 7 No. 2 (2025): Journal of Holistics and Health Sciences (JHHS), September
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jhhs.v7i2.604

Abstract

Nutritional problems among children under five remain a global health concern. Data from (UNICEF dkk., 2023) show that 12.33% of under-five children worldwide are undernourished. In Indonesia, the 2023 Indonesia Health Survey reported a prevalence of 12.9%, with 5.42% in Central Java Province and 6.6% in Semarang Regency (Central Java Health Office & BPS Semarang, 2023). At the subdistrict level, 1.8% of children in Bergas were found to be undernourished (Bergas Public Health Center, 2024). One of the main contributing factors is suboptimal Infant and Young Child Feeding (IYCF), influenced by limited maternal knowledge and negative attitudes. To address this, the government launched the mother and toddler class program to improve mothers’ knowledge and attitudes toward IYCF. However, in Karangjati Village, participation in the program remains low, which correlates with poor knowledge and negative attitudes. Preliminary data from five mothers with children aged 6–24 months showed that two (40%) who actively participated in the class had good knowledge and positive attitudes, while three (60%) who were less active demonstrated the opposite. This study aimed to examine the relationship between maternal participation in the class and their knowledge and attitudes toward IYCF. Using a correlational analytic design with a cross-sectional approach, the study involved 78 mothers selected through the Slovin formula and purposive sampling, with 72 meeting the inclusion criteria of participating in the program between July and December 2024. Data were collected via questionnaires and analyzed using the chi-square test. Results showed that 73.6% of mothers were not active in the class, 48.6% had good knowledge, and 43.1% had neutral attitudes. There was a significant relationship between participation and both knowledge (p = 0.044) and attitudes (p = 0.005), indicating that higher participation contributes to improved maternal knowledge and attitudes in IYCF practices. ABSTRAK Masalah gizi pada balita masih menjadi perhatian global yang mendalam, berdasarkan data UNICEF dkk. (2023) yang mencatat 12,33 % balita di dunia mengalami gizi kurang. Survei Kesehatan Indonesia (2023) menunjukkan prevalensi gizi kurang sebesar 12,9 % di Indonesia, dengan angka di Provinsi Jawa Tengah mencapai 5,42 % dan Kabupaten Semarang 6,6 % (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah & Badan Pusat Statistik Kabupaten Semarang 2023). Pada tingkat kecamatan, 1,8 % balita di Kecamatan Bergas dilaporkan mengalami gizi kurang (Puskesmas Bergas, 2024). Hal tersebut dipengaruhi oleh masalah Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) yang belum optimal dikarenakan kurangnya pengetahuan dan sikap ibu yang negative menjadi salah satu penyebab utama. Upaya pemerintah untuk memperbaiki kondisi tersebut diwujudkan melalui program kelas ibu balita yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu dalam PMBA, tetapi pelaksanaannya di Desa Karangjati masih menunjukkan partisipasi ibu yang rendah, sehingga pengetahuan ibu tetap kurang dan sikap cenderung negatif. Dari lima ibu yang memiliki balita usia 6–24 bulan, terdapat dua orang (40 %) aktif mengikuti kelas, menunjukkan pengetahuan baik serta sikap positif dalam PMBA, sedangkan tiga orang (60 %) yang tidak aktif memiliki pengetahuan kurang dan sikap negative dalam PMBA. Kondisi ini mendorong penelitian mengenai hubungan keikutsertaan ibu pada kelas ibu balita dengan pengetahuan dan sikap ibu dalam PMBA. Desain penelitian yang digunakan adalah analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi yaitu ibu yang memilik balita usia 6-24 bulan sejumlah 356 ibu dan sampel 78 responden yang ditentukan menggunakan rumus Slovin, kemudian dipilih melalui teknik purposive sampling sesuai kriteria inklusi, yaitu ibu yang menjadi sasaran kelas pada Juli-Desember 2024, sehingga terkumpul 72 responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner, dan analisis data menggunakan uji chi‑square. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden tidak aktif mengikuti kelas ibu balita (73,6%), sebanyak 48,6% memiliki pengetahuan yang baik, dan 43,1% menunjukkan sikap netral dalam PMBA. Uji statistik membuktikan keikutsertaan ibu berkorelasi signifikan dengan pengetahuan (p = 0,044) maupun sikap (p = 0,005), sehingga dapat disimpulkan bahwa keikutsertaan aktif pada kelas ibu balita berkontribusi terhadap pengetahuan dan sikap ibu dalam Pemberian Makan Bayi dan Anak.
Penerapan Pijat Oksitosin untuk Meningkatkan Produksi ASI pada Ibu Nifas Tety Rahmawati; Khayati, Yulia Nur
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 4 No. 2 (2025): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The postpartum period begins two hours after the placenta is delivered or after the first to fourth stages of labor are complete. The end of labor does not mean the mother is free from danger or complications. Various complications can occur during the postpartum period and, if not managed properly, will significantly contribute to the high maternal mortality rate (MMR) in Indonesia (Maritalia, 2014). Observation of uterine contractions and uterine fundal height is crucial to ensure proper uterine involution and prevent uterine subinvolution in postpartum mothers. The process of uterine involution can occur quickly or slowly, influenced by several factors. Factors that influence uterine involution include early mobilization, nutritional status, breastfeeding, age, and parity. Breast milk is the best food for newborns and is the only healthy food a baby needs in the first months of life. However, not all mothers can provide exclusive breastfeeding to their babies. Exclusive breastfeeding is breast milk given to babies from birth for six months, without adding or replacing it with other foods or drinks (except medicines, vitamins, and minerals) (Ministry of Health of the Republic of Indonesia, 2018). The results of the 2018 Basic Health Research revealed that the main reason babies were never breastfed was because breast milk did not come out or was not smooth at the beginning of the breastfeeding period (65.7%), babies aged 0-5 months (33.3%) had been given prelacteal food with the most type of food (84.5%) being formula milk. The cause of not achieving exclusive breastfeeding in Indonesia is influenced by several factors, one of which is the not smooth production of breast milk in the first days after birth which is caused by a lack of stimulation of the hormones oxytocin and prolactin which play a role in the smooth production of breast milk so that alternative measures or management are needed in the form of oxytocin massage, because oxytocin massage is very effective in helping stimulate breast milk production (Pilaria and Sopiatun, 2017). The method in this research is descriptive in the form of a case study, namely examining a problem through a case consisting of a single unit. The single unit in question can consist of one person, a group of residents affected by a problem. The problem that the researcher found was that breast milk was not flowing smoothly during the postpartum visit 4 days after the CS. The care provided by the researcher was oxytocin massage which aims to facilitate breast milk production. After being given this therapy, Mrs. Y's breast milk flowed smoothly and no other problems were found during the postpartum period. Care for Mrs. Y at the Jumo Community Health Center was provided comprehensively and the delivery was carried out at PKU Muhammadiyah Hospital because the mother had a history of CS. The provision of care to Mrs. Y was appropriate and there was no gap between theory and the case.   Abstrak Masa nifas dimulai setelah dua jam lahirnya plasenta atau setelah proses persalinan dari kala I sampai kala IV selesai. Berakhirnya proses persalinan bukan berarti ibu terbebas dari bahaya atau komplikasi. Berbagai komplikasi dapat dialami ibu pada masa nifas dan bila tidak tertangani dengan baik akan memberi kontribusi yang cukup besar terhadap tingginya angka kematian ibu (AKI) di Indonesia. (Maritalia, 2014). Observasi kontraksi uterus dan tinggi fundus uteri sangat penting dilakukan untuk memastikan involusi uterus berjalan dengan baik dan mencegah subinvolusi uteri pada ibu nifas. Proses involusi uterus dapat terjadi secara cepat atau lambat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang mempengaruhi involusi uterus antara lain mobilisasi dini, status gizi, menyusui, usia dan paritas. Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan terbaik untuk bayi yang baru lahir dan merupakan satu – satunya makanan sehat yang diperlukan bayi pada bulan-bulan pertama kehidupannya. Namun demikian tidak semua ibu dapat memberikan ASI Eksklusif pada bayinya. ASI eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada bayi sejak dilahirkan selama enam bulan, tanpa menambahkan atau menggantikan dengan makanan atau minuman lain (kecuali obat, vitamin, dan mineral) (Kemenkes RI, 2018). Hasil Riskesdas tahun 2018 yang mengungkap bahwa alasan utama bayi tidak pernah disusui karena ASI tidak keluar ataupun tidak lancar pada awal masa menyusui (65,7%), bayi usia 0-5 bulan (33,3%) telah diberikan makanan prelakteal dengan jenis makanan terbanyak (84,5%) yaitu susu formula. Penyebab belum tercapainya pemberian ASI ekslusif di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah tidak lancar produksi ASI pada hari – hari pertama setelah melahirkan yang disebabkan kurangnya rangsangan hormon oksitosin dan prolaktin yang berperan dalam kelancaran produksi ASI sehingga dibutuhkan upaya tindakan alternatif atau penatalaksanaan berupa pijat oksitosin, karena pijat oksitosin sangat efektif membantu merangsang pengeluaran ASI (Pilaria dan Sopiatun, 2017). Metode dalam penelitian ini diskriptif yang berupa studi penelaahan kasus (case study) yaitu meneliti suatu permasalahan melalui suatu kasus yang terdiri dari unit tunggal. Unit tunggal yang dimaksud dapat berisi 1 orang, sekelompok penduduk yang terkena suatu masalah. Masalah yang peneliti temukan berupa ASI belum lancar pada kunjungan nifas 4 hari post SC. Asuhan yang peneliti berikan berupa pijat oksitosin yang bertujuan untuk memperlancar produksi ASI. Setelah dsiberikan terapai tersebut, ASI Ny. Y keluar lancara dan tidak ada masalah lain yang ditemukan pada masa nifas. Asuhan pada Ny. Y di Puskesmas Jumo telah diberikan secara komprehensif dan persalinan dilaksanakan di RS PKU Muhammadiyah karena ibu riwayat SC. Pemberian asuhan pada Ny. Y sudah sesuai dan tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kasus.
Studi Kasus Tatalaksana Kehamilan pada Ny. B G1P0A0 Umur 20 tahun dengan KEK dan Anemia di Desa Lodoyong kec. Ambarawa Ambarwati, Weni; Khayati, Yulia Nur
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 4 No. 2 (2025): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

According to the World Health Organization (WHO), anemia during pregnancy is one of the contributing factors to maternal mortality. Anemia is a hematological disorder caused by a low concentration of red blood cells (erythrocytes) in the body. Anemia in pregnant women can lead to various complications, including abortion, postpartum hemorrhage, prolonged labor, shock, intrapartum and postpartum infections, and ineffective labor duration.Chronic energy deficiency (CED) refers to a long-term lack of energy intake. In pregnant women, CED is caused by inadequate dietary intake or improper consumption patterns of carbohydrates and fats. This study used a case study method. Data were collected through interviews, physical examinations, and observations. The data consisted of primary data and secondary data obtained from the Maternal and Child Health (MCH) handbook and SOAP documentation instruments. Data analysis was conducted using descriptive analysis.Based on the antenatal care (ANC) examination on March 5, 2025, at 16 weeks of gestation, laboratory results showed a hemoglobin level of 10.4 g/dL, indicating mild anemia. In addition, the mid-upper arm circumference (MUAC) measurement of 22.5 cm indicated chronic energy deficiency. The care provided included supplementary feeding and monitoring of iron (Fe) tablet consumption. At the follow-up examination on August 19, 2025, the mother’s condition showed improvement, with a body weight of 56 kg, MUAC of 24 cm, gestational age of 39 weeks, hemoglobin level increased to 11.5 g/dL, and fundal height of 32 cm with an estimated fetal weight of approximately 3,100 grams. These findings indicate an improvement in the maternal condition following the interventions. It is expected that pregnant women consistently apply the counseling provided throughout the antenatal care visits.     Abstrak Menurut WHO Salah satu penyebab kematian pada ibu hamil adalah anemia pada masa kehamilan Anemia adalah kelainan hematologis yang disebabkan oleh rendahnya konsentrasi sel darah merah (eritrosit) dalam tubuh. Anemia pada ibu hamil dapat menyebabkan abortus, perdarahan postpartum, persalinan berkepanjangan, syok, infeksi intrapartum dan postpartum, serta durasi persalinan yang tidak efektif. kekurangan energi kronis (KEK) merupakan kekurangan tenaga. KEK pada ibu hamil diakibatkan karena kekurangan asupan makanan atau pola konsumsi karbohidrat dan lemak dalam tubuh. Metode yang digunakan adalah studi kasus. Dengan pengumpulan data dengan cara interview, pemeriksaan fisik dan observasi. Data yang digunakan berupa data primer dan data sekunder melalui buku KIA serta instrumen penelitian dokumentasi SOAP. Analisis data menggunkanan analisis diskritif. Berdasarkan riwayat pemeriksaan antenatal care (ANC) pada tanggal 05 Maret 2025 dengan usia kehamilan 16 minggu, hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar hemoglobin sebesar 10,4 g/dl sehingga ibu dikategorikan mengalami anemia ringan. Selain itu, hasil pengukuran lingkar lengan atas (LILA) sebesar 22,5 cm menunjukkan ibu mengalami kekurangan energi kronis (KEK). Asuhan yang diberikan meliputi pemberian makanan tambahan (PMT) serta pemantauan konsumsi tablet Fe. Pada pemeriksaan selanjutnya tanggal 19 Agustus 2025 diperoleh hasil berat badan ibu 56 kg, LILA 24 cm, usia kehamilan 39 minggu, kadar hemoglobin meningkat menjadi 11,5 g/dl, serta tinggi fundus uteri 32 cm dengan taksiran berat janin sekitar 3.100 gram. Hasil tersebut menunjukkan adanya perbaikan kondisi ibu setelah dilakukan intervensi. Diharapkan ibu hamil dapat menerapkan konseling yang telah diberikan secara konsisten selama masa kunjungan kehamilan.
Asuhan Kebidanan Continuity Of Care (CoC) pada Ny. N Umur 33 Tahun G3P2A0 di Puskesmas Larangan Trianingsih; Yulia Nur Khayati
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 4 No. 2 (2025): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Continuity of care (COC) is continuous care from pregnancy to family planning (KB) as an effort to reduce the Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR). The purpose of this study is to provide comprehensive midwifery care to Mrs. N starting from pregnancy, childbirth, postpartum, newborns, neonates and family planning. The type of research used is descriptive, with a case study approach. The sample used was a pregnant woman in the third trimester of 30 weeks of pregnancy, G3P2A0. In this care, the author collected data through interviews, observations, physical examinations, supporting examinations, documentation studies and bibliography studies. This study was conducted in June-September 2025. From the results of the provision of pregnancy care, no problems were found. During labor until postpartum, there were no problems. In newborn care, everything was found within normal limits, Vit K injections, eye ointment and HB0 and BCG immunizations had been given. Meanwhile, in family planning care, Mrs. N decided to use a 3-month injection.   Abstrak Asuhan Continuity of care (COC) merupakan asuhan secara berkesinambungan dari hamil sampai dengan keluarga berencana (KB) sebagai upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Tujuan penelitian ini mampu memberikan asuhan kebidanan pada Ny. N secara komprehensif mulai dari kehamilan, bersalin, nifas, bayi baru lahir, neonatus dan KB. Jenis penelitian yang digunakan yaitu deskriptif, dengan pendekatan studi kasus (Case Study). Sampel yang digunakan adalah seorang ibu hamil trimester III usia kehamilan 30 minggu, G3P2A0. Dalam asuhan ini, penulis mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang,  studi dokumentasi dan studi daftar pustaka. Penelitian ini dilakukan pada bulan 13 Juni 2025 -10 September 2025. Dari hasil pemberian asuhan kehamilan tidak ditemukan masalah. Selama persalinan sampai dengan nifas tidak mengalami masalah. Pada asuhan bayi baru lahir didapatkan semua dalam batas normal, sudah diberikanInjeksi Vit K, salep mata dan imunisasi HB0 dan Imunisasi BCG. Sedangkan pada asuhan KB Ny. N memutuskan untuk menggunakan suntik 3 bulan.
Peningkatan Partisipasi Ibu Hamil dalam Program Skrining BBL Skrining Hipotiroid Konginental (SHK) Melalui Pendekatan Edukatif Sri Rahayu; Sarah Anissa; Khayati, Yulia Nur
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 4 No. 2 (2025): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Congenital hypothyroidism is a metabolic disorder that may lead to impaired growth and neurodevelopment if not detected and treated early. Newborn Screening, particularly screening for Congenital Hypothyroidism (CH), is a crucial strategy to prevent disability and developmental delay in children. However, the coverage of CH screening at primary healthcare facilities remains suboptimal, partly due to limited maternal knowledge and lack of awareness regarding the importance of early screening. This community service activity aimed to improve the knowledge and awareness of mothers of newborns and healthcare providers regarding the importance of congenital hypothyroidism screening as an early detection effort. The activity was conducted in the working area of a primary healthcare center through health education sessions, interactive discussions, and technical assistance in newborn screening implementation. The participants included mothers of newborns and healthcare workers involved in maternal and child health services. The results showed an improvement in mothers’ understanding of the purpose, benefits, and timing of congenital hypothyroidism screening. In addition, healthcare providers demonstrated better readiness in performing screening procedures according to established standards. This community service activity contributes to increasing awareness among both the community and healthcare providers regarding the importance of early detection of congenital hypothyroidism, which is expected to support the prevention of growth and developmental disorders in children.   Abstrak Hipotiroid kongenital merupakan salah satu kelainan metabolik bawaan yang dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak apabila tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini. Skrining Bayi Baru Lahir (SBBL), khususnya skrining Hipotiroid Kongenital (SHK), menjadi upaya strategis dalam pencegahan kecacatan dan keterlambatan perkembangan pada anak. Namun, cakupan pelaksanaan skrining SHK di tingkat pelayanan kesehatan dasar masih belum optimal, salah satunya disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan ibu dan kurangnya pemahaman mengenai pentingnya skrining pada bayi baru lahir. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman ibu bayi baru lahir serta tenaga kesehatan mengenai pentingnya skrining SHK sebagai upaya deteksi dini hipotiroid kongenital. Kegiatan dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas melalui metode edukasi kesehatan, diskusi interaktif, dan pendampingan pelaksanaan skrining bayi baru lahir. Sasaran kegiatan meliputi ibu bayi baru lahir dan tenaga kesehatan yang terlibat dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman ibu mengenai tujuan, manfaat, dan waktu pelaksanaan skrining SHK. Selain itu, tenaga kesehatan menunjukkan kesiapan yang lebih baik dalam melaksanakan prosedur skrining sesuai standar. Kegiatan pengabdian ini berkontribusi dalam mendukung peningkatan kesadaran masyarakat dan tenaga kesehatan terhadap pentingnya deteksi dini hipotiroid kongenital, sehingga diharapkan dapat mencegah terjadinya gangguan tumbuh kembang anak di kemudian hari.
Co-Authors Abda Abda Adi Prayitno Adkha Putri Puspita Dewi Afriyani, Luvi Dian Agustina Sri Wahyuni Alfina Ifada Alif’fah Setiyana Putri Ambarwati, Weni Ameliana Friskia Rahmadini Ananda, Ayu Andaeni, Wahyu Retno Anggela, Ria Anggi Anggraini Khoirum Ningdiah Anik Sulistiyanti Aninda Nur Sinto Putri Anissa Regita Anita Dyah Listyarini Aprilia, Nia Ari Widayaningsih Ari Widyaningsih Arsy, Gardha Rias Asfarina Puspanagara Ashaima Paramita Devi Ayu Ananda Azelia Dwijayanti bellatika, sitasalsha Cahyaningrum Christania R.L Hawa Christlin Dika Kappu Cinta Nashita Dewi Sagitaria, Bian Dewita Dian Ayu Tias P Dina Hastiana Dina Nur Anggraini Ningrum Dwiyanti, Feni Een Nurhidayati Ekawati, Rahmi Ekayanti, Mila Elvi Elsa Umi Anisa Erna Widyastuti, Erna Evi Widowati Evy Yuliastuti Fani Rahmawati Fany Dwi Yulianti Feni Noviyani Feronika Askini Mirino Fitrianingsih, Sri Hajaratul Inayah Hapsari Windayanti Hasty Martha Wijaya Hawa, Christania R.L Heni Setyowati Heni Setyowati Heny Romdiyani Hidayanti, Nur Ilham Setyo Budi Imelda Jumita Seingo Inayah, Hajaratul Indriani Kasih Sabwan Intan Agustina Sukmajaya Ira Septiya Sari Isfaizah Istiqomah Izzah, Lu’luul Fitrotul Kasari, Miki Lalita Mafudiah Lidia Arjulia Sari Linda Listyaningsih, Moneca Diah Lu’luul Fitrotul Izzah Maria Pankrasia Maya Kurnia Dewi Maya Kurnia Dewi Maya Kurnia Dewi, Maya Kurnia Mega Riani Mangiwa Meisya Tiara Herlina Melna Mila Elvi Ekayanti Moneca Diah Listiyani Moneca Diah Listiyaningsih Mubaroq, Muhammad Husni Mulyani Mulyani Nia Aprilia Ninda Azifati Nurfitri Ninik Christiani Nova Harianti Nur Endang Sulastri Nur Hidayanti Nur Laila Nurul Khomariah Oktia Woro Kasmini Handayani Poncorini, Eti PRATIWI, WILDA Priskila, Antika Puji Catur Putri Ayuni Sari Putri Cahya Putri, Alif’fah Setiyana putri, yulinda yasa Qoni’atun Nurnaini Radja, Marselina Rafika Brian Maghfiroh Rahmadini, Ameliana Friskia Rina Pratiwi Rinawati Rinawati Rinawati Rinawati Rini Susanti Rini Susanti Riska Susanti Rizka Andinda Rizki, Milya Ruliana Isna Rosida Sabwan, Indriani Kasih Sarah Anissa Sari, Lidia Arjulia Sari, Murniati Sari, Putri Ayuni Setyoningsih, Heni Siti Adhoat Aristiani Siti Musarofah Sofiyanti, Ida Sri Murtiningsih, Sri SRI RAHAYU Stefanie, Agnes Subiyatun Suciati Sundari Sundari Sundari Sundari Sundari Sundari Susanti, Vila Tandiyo Rahayu Tety Rahmawati Titik Nor Hidayah Trianingsih Veftisia, Vistra Vera Yunita Wahyu Kristiningrum Wahyu Retno Andaeni Widyaningsih, Ari Wulan Murti Yenny Rahmawati Yuni Fitria Zahrotussalamah