Claim Missing Document
Check
Articles

GAMBARAN SIKAP IBU TENTANG ASI EKSLUSIF DI DESA KARANGJATI KECAMATAN BERGAS KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2019 Inayah, Hajaratul; Khayati, Yulia Nur; Setyowati, Heni
Jurnal Ilmiah Kesehatan Ar-Rum Salatiga Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : STIKES Ar-Rum Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36409/jika.v5i2.110

Abstract

Data cakupan ASI ekslusif di Puskesmas Bergas tahun 2018 sebesar 21% namun belum mencapai target puskesmas yaitu sebesar 46%. Studi pendahuluan di Desa Karangjati diketahui bahwa bidan telah melakukan penyuluhan dan pembagian leaflet tentang ASI ekslusif kepada ibu-ibu yang memiliki bayi, namun angka keberhasilan ASI ekslusif di Desa Karangjati masih rendah yaitu hanya 17 bayi tahun 2017 dan tahun 2018 mengalami penurunan menjadi 4 bayi. Salah satu penyebab kegagalan ASI ekslusif yaitu sikap ibu yang merasa asi eksklusif terlalu merepotkan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran sikap ibu tentang ASI ekslusif di Desa Karangjati Kecamatan Bergas Kabupaten Semarang Tahun 2019. Desain penelitian ini adalah survei deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi sejumlah 598 ibu yang memiliki balita periode Juni 2019. Sampel sejumlah 92 ibu dengan menggunakan teknik accidental sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner untuk mendapatkan gambaran sikap ibu tentang asi eksklusif. Analisis data meliputi analisis univariat. Hasil penelitian ini didapatkan Ibu yang bersikap positif terhadap pemberian ASI ekslusif sebanyak 48 responden (52,2%) dan bersikap negatif sebanyak 44 responden (47,8%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah Sebagian besar ibu bersikap positif terhadap pemberian ASI ekslusif yaitu 48 ibu (52,2%) di Desa Karangjati Kecamatan Bergas Kabupaten Semarang Tahun 2019.
Hubungan Jenis Persalinan Terhadap Keberhasilan Inisiasi Menyusu Dini : The Relationship between the Type of Delivery and the Success of Early Breastfeeding Initiation Widyaningsih, Ari; Khayati, Yulia Nur; Isfaizah
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 6 No. 1 (2023): Maret 2023
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v6i1.2237

Abstract

One of the efforts to increase the success of breastfeeding is the implementation of Early Breastfeeding Initiation (IMD) by newborns to their mothers. IMD will greatly assist in the continuity of exclusive breastfeeding and duration of breastfeeding. Thus, the baby's needs will be met until the age of 2 years, and prevent children from malnutrition. The highest percentage of breastfeeding in children aged 0-23 months is 1-6 hours (35.2%). The process of starting to breastfeed in the first hour after birth / IMD is only 34.5%. IMD has increased in 2018. The proportion of IMD in children aged 0-23 months is 58.2%. Of this proportion, only 15.9% did IMD ≥ 1 hour. Childbirth is the culmination of a series of pregnancy processes. The type of delivery experienced plays an important role in supporting the successful implementation of Early Breastfeeding Initiation (IMD). Early Initiation of Breastfeeding (IMD) is an instinctive process and the right of every newborn. Early Initiation or early initiation of breastfeeding is when the baby begins to breastfeed on his own immediately after birth and is allowed skin-to-skin contact with his mother's skin for at least 1 hour. The purpose of this study was to determine the type of delivery, determine the number of babies who received IMD and determine the relationship between the type of delivery and the success of IMD. This research is a correlation analysis with a cross-sectional study approach. This research was conducted in April - May 2022. The sampling technique used total sampling. Data analysis in this study was univariate analysis and bivariate analysis using the Chi Square test with the SPSS Version 22 program (95% CI and α = 0.05). The results of bivariate analysis found that there was a significant relationship between the type of delivery and the success of IMD (p <0.001, OR 24.886, 95% CI = 6.835-90.608). Spontaneous delivery without complications increases the success of IMD by 24.88 times when compared with spontaneous delivery with complications. The birth process that the mother goes through, both normally and with complications, is not an obstacle for a baby to get his right to get breast milk at the beginning of his life. Management of the practice of Early Breastfeeding Initiation in all types of labor is no different and depends on the baby being allowed to look for the mother's nipple as early as possible. It is hoped that intervention in childbirth will be kept to a minimum so that the condition of the mother and baby becomes optimal for the success of the Early Breastfeeding Initiation (IMD) process. Abstrak Upaya untuk meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif antara lain dengan melaksanakan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) oleh bayi baru lahir pada ibunya. IMD akan sangat membantu dalam keberlangsungan pemberian ASI eksklusif dan lama menyusui. Dengan demikian, bayi akan terpenuhi kebutuhannya hingga usia 2 tahun, dan mencegah anak kurang gizi.  Persentase tertinggi proses mulai menyusu pada anak umur 0-23 bulan adalah pada 1-6 jam (35,2%). Proses mulai menyusu pada satu jam pertama setelah lahir/IMD hanya 34,5%. IMD mengalami peningkatan pada tahun 2018. Proporsi IMD pada anak umur 0-23 bulan adalah 58,2%. Dari proporsi ini, yang melakukan IMD ≥ 1 jam hanya 15,9%.  Persalinan merupakan puncak peristiwa dari serangkaian proses kehamilan. Jenis persalinan yang di alami memberikan peran penting dalam mendukung keberhasilan pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Inisiasi Menyusu Dini (IMD) merupakan proses naluriah dan hak setiap bayi baru lahir. Inisiasi Menyusu Dini (Early Initiation) atau permulaan menyusu dini adalah bayi mulai menyusu sendiri segera setelah lahir dan dibiarkan kontak kulit dengan kulit ibunya sekurangnya selama 1 jam.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis persalinan, mengetahui jumlah bayi yang mendapat IMD dan mengetahui hubungan jenis persalinan terhadap keberhasilan IMD.  Penelitian ini merupakan analitik korelasi dengan pendekatan cross-sectional study.  Penelitian ini dilakukan pada bulan April - Mei 2022. Populasi pada penelitian ini adalah 91 ibu bersalin. Teknik pengambilan sampling menggunakan Total sampling.  Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 91 ibu bersalin.  Analisis data dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan uji Chi Square dengan program SPSS Versi 22 dengan ( CI  95% dan α= 0.05).  Hasil analisis bivariat didapatkan ada hubungan yang signifikans antara jenis persalinan dengan keberhasilan IMD (p <0,001, OR 24,886, CI 95%= 6,835-90,608). Persalinan spontan tanpa penyulit meningkatkan keberhasilan IMD sebesar 24,88 kali jika dibandingkan dengan persalinan spontan dengan penyulit.  Proses persalinan yang dilalui ibu baik secara normal maupun dengan penyulit bukan sebuah hambatan seorang bayi untuk mendapatkan haknya dalam mendapatkan ASI di awal kehidupannya.  Penatalaksanaan praktek Inisiasi Menyusu Dini pada semua jenis persalinan tidak berbeda dan tergantung pada sedini mungkin bayi dibiarkan mencari putting ibu. Diharapkan intervensi dalam persalinan diupayakan seminimal mungkin sehingga kondisi ibu dan bayi menjadi optimal untuk keberhasilan proses Inisiasi Menyusu Dini (IMD).
Studi Deskriptif Interaksi Ibu dalam Pengasuhan Balita : Descriptive Study of Maternal Interaction in Raising Toddlers Veftisia, Vistra; Yulia Nur Khayati; Moneca Diah Listiyani
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 6 No. 2 (2023): September 2023
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v6i2.2626

Abstract

The quality of a child's future is determined by optimal development and growth of the child, so that detection, stimulation and intervention for various causes of growth and development are carried out from an early age. Parents are expected to be able to prepare optimal child development as a whole so that children will have good adaptability in their environment, including the ability to overcome problems, self-regulate, organize their thoughts and behave well. The stimulation that parents provide must also refer to the child's development stage, of course by paying attention to individual differences and based on interactions in the environment around the child, the main principle of parenting in the child's development process that parents need to carry out, namely building good communication with the child. Parental knowledge will determine parental behavior in providing stimulation. This research aims to determine the description of maternal knowledge, interaction between mother and child and parenting behavior in child development. The method in this research is quantitative descriptive with a cross sectional design. The population in this study is mothers who have toddlers aged 0-36 months in Candirejo sub-district with a sample size of 40 respondents. The instrument used was the MABISC questionnaire. The results of this research are that the level of mother's knowledge about toddler development is good, mother and child interaction is good and parenting behavior is good. Abstrak Kualitas masa depan anak ditentukan oleh perkembangan dan pertumbuhan anak yang optimal, Sehingga deteksi, stimulasi dan intervensi berbagai penyimpanan pertumbuhan dan perkembangan dilakukan sejak dini. Orangtua diharapkan dapat mempersiapkan perkembangan anak yang optimal secara menyeluruh sehingga anak akan memiliki kemampuan beradaptasi yang baik di lingkungannya, diantaranya kemampuan dalam mengatasi masalah, regulasi diri, menata pikiran, dan berperilaku dengan baik. Stimulasi yang orangtua berikan juga harus mengacu pada tahap perkembangan anak, tentunya dengan memerhatikan perbedaan individu dan berbasis interaksi pada lingkungan sekitar anak, prinsip pokok pengasuhan dalam proses perkembangan anak yang perlu orangtua lakukan, yaitu membangun komunikasi yang baik dengan anak. Pengetahuan orang tua akan menentukan perilaku orang tua dalam memberikan stimulasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran pengetahuan ibu, interaksi ibu dan anak serta perilaku pengasuhan perkembangan anak. Metode dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitattif dengan desain cross sectional populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki balita usia 0-36 bulan di kelurahan Candirejo dengan jumlah sampel 40 responden. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner MABISC. Hasil dari penelitian ini adalah tingkat Pengetahuan Ibu tentang perkembangan Balita baik, Interaksi Ibu Dan Anak baik dan Perilaku Pengasuhan Anak baik
Peran Keikutsertaan Ibu dalam Kelas Ibu Balita terhadap Pengetahuan dan Sikap Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA): The Role of Mothers' Participation in Mother and Toddler Classes on Knowledge and Attitudes of Infant and Child Feeding (PMBA) Zahrotussalamah; Veftisia, Vistra; Khayati, Yulia Nur
Journal of Holistics and Health Sciences Vol. 7 No. 2 (2025): Journal of Holistics and Health Sciences (JHHS), September
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jhhs.v7i2.604

Abstract

Nutritional problems among children under five remain a global health concern. Data from (UNICEF dkk., 2023) show that 12.33% of under-five children worldwide are undernourished. In Indonesia, the 2023 Indonesia Health Survey reported a prevalence of 12.9%, with 5.42% in Central Java Province and 6.6% in Semarang Regency (Central Java Health Office & BPS Semarang, 2023). At the subdistrict level, 1.8% of children in Bergas were found to be undernourished (Bergas Public Health Center, 2024). One of the main contributing factors is suboptimal Infant and Young Child Feeding (IYCF), influenced by limited maternal knowledge and negative attitudes. To address this, the government launched the mother and toddler class program to improve mothers’ knowledge and attitudes toward IYCF. However, in Karangjati Village, participation in the program remains low, which correlates with poor knowledge and negative attitudes. Preliminary data from five mothers with children aged 6–24 months showed that two (40%) who actively participated in the class had good knowledge and positive attitudes, while three (60%) who were less active demonstrated the opposite. This study aimed to examine the relationship between maternal participation in the class and their knowledge and attitudes toward IYCF. Using a correlational analytic design with a cross-sectional approach, the study involved 78 mothers selected through the Slovin formula and purposive sampling, with 72 meeting the inclusion criteria of participating in the program between July and December 2024. Data were collected via questionnaires and analyzed using the chi-square test. Results showed that 73.6% of mothers were not active in the class, 48.6% had good knowledge, and 43.1% had neutral attitudes. There was a significant relationship between participation and both knowledge (p = 0.044) and attitudes (p = 0.005), indicating that higher participation contributes to improved maternal knowledge and attitudes in IYCF practices. ABSTRAK Masalah gizi pada balita masih menjadi perhatian global yang mendalam, berdasarkan data UNICEF dkk. (2023) yang mencatat 12,33 % balita di dunia mengalami gizi kurang. Survei Kesehatan Indonesia (2023) menunjukkan prevalensi gizi kurang sebesar 12,9 % di Indonesia, dengan angka di Provinsi Jawa Tengah mencapai 5,42 % dan Kabupaten Semarang 6,6 % (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah & Badan Pusat Statistik Kabupaten Semarang 2023). Pada tingkat kecamatan, 1,8 % balita di Kecamatan Bergas dilaporkan mengalami gizi kurang (Puskesmas Bergas, 2024). Hal tersebut dipengaruhi oleh masalah Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) yang belum optimal dikarenakan kurangnya pengetahuan dan sikap ibu yang negative menjadi salah satu penyebab utama. Upaya pemerintah untuk memperbaiki kondisi tersebut diwujudkan melalui program kelas ibu balita yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu dalam PMBA, tetapi pelaksanaannya di Desa Karangjati masih menunjukkan partisipasi ibu yang rendah, sehingga pengetahuan ibu tetap kurang dan sikap cenderung negatif. Dari lima ibu yang memiliki balita usia 6–24 bulan, terdapat dua orang (40 %) aktif mengikuti kelas, menunjukkan pengetahuan baik serta sikap positif dalam PMBA, sedangkan tiga orang (60 %) yang tidak aktif memiliki pengetahuan kurang dan sikap negative dalam PMBA. Kondisi ini mendorong penelitian mengenai hubungan keikutsertaan ibu pada kelas ibu balita dengan pengetahuan dan sikap ibu dalam PMBA. Desain penelitian yang digunakan adalah analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi yaitu ibu yang memilik balita usia 6-24 bulan sejumlah 356 ibu dan sampel 78 responden yang ditentukan menggunakan rumus Slovin, kemudian dipilih melalui teknik purposive sampling sesuai kriteria inklusi, yaitu ibu yang menjadi sasaran kelas pada Juli-Desember 2024, sehingga terkumpul 72 responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner, dan analisis data menggunakan uji chi‑square. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden tidak aktif mengikuti kelas ibu balita (73,6%), sebanyak 48,6% memiliki pengetahuan yang baik, dan 43,1% menunjukkan sikap netral dalam PMBA. Uji statistik membuktikan keikutsertaan ibu berkorelasi signifikan dengan pengetahuan (p = 0,044) maupun sikap (p = 0,005), sehingga dapat disimpulkan bahwa keikutsertaan aktif pada kelas ibu balita berkontribusi terhadap pengetahuan dan sikap ibu dalam Pemberian Makan Bayi dan Anak.
Pembentukan Kader Kesehatan Remaja Berbasis Trias UKS Menuju Indonesia Emas 2045 di SMK Pangudi Luhur Tarcicius Semarang Yulia Nur Khayati; Vistra Veftisia; Ari Widyaningsih; Moneca Diah Listiyaningsih
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 8 No. 1 (2026): Indonesian Journal of Community Empowerment Mei 2026
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v8i1.5100

Abstract

Adolescents are a strategic group in human resource development towards Indonesia Emas 2045. However, there is still a need to strengthen adolescent health education in schools, especially in non-health schools. This community service activity aims to develop adolescent health cadres based on the Trias UKS (Healthy Child Health Program) at SMK Pangudi Luhur Tarcicius Semarang and increase students' knowledge about adolescent health. The implementation method consisted of preparation, cadre recruitment, module development, training, implementation, mentoring, evaluation, and development of a sustainability plan. Evaluation was conducted using pre- and post-tests with 30 participants. The results of the activity indicated that all stages of the service had been completed. Knowledge scores increased from 12.67 to 13.73, indicating a significant difference between pre- and post-activity scores. The formation of adolescent health cadres based on the Trias UKS has proven beneficial in increasing student knowledge and strengthening their role as health promotion agents in schools. This program needs to be continued through UKS coaching, regular cadre development, and mentoring from supervising teachers.   ABSTRAK Remaja merupakan kelompok strategis dalam pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. Namun, masih terdapat kebutuhan penguatan pendidikan kesehatan remaja di lingkungan sekolah, terutama pada sekolah non-kesehatan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan membentuk kader kesehatan remaja berbasis Trias UKS di SMK Pangudi Luhur Tarcicius Semarang serta meningkatkan pengetahuan siswa mengenai kesehatan remaja. Metode pelaksanaan terdiri atas tahap persiapan, rekrutmen kader, penyusunan modul, pelatihan, implementasi, pendampingan, evaluasi, dan penyusunan rencana keberlanjutan. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test terhadap 30 peserta. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa seluruh tahapan pengabdian telah terlaksana. Skor pengetahuan meningkat dari 12,67 menjadi 13,73 terdapat perbedaan bermakna antara skor sebelum dan sesudah kegiatan. Pembentukan kader kesehatan remaja berbasis Trias UKS terbukti bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan siswa dan memperkuat peran siswa sebagai agen promosi kesehatan di sekolah. Program ini perlu dilanjutkan melalui pembinaan UKS, kaderisasi berkala, dan pendampingan guru pembina.
EDUKASI REMAJA SEHAT, AMAN, DAN SADAR HUKUM DALAM PENCEGAHAN PERILAKU BERISIKO MELALUI PENDEKATAN HUKUM DAN KESEHATAN TERPADU Hani Irhamdessetya; Eko Mardiyaningsih; Abdul Wakhid; Alfan Afandi; Yulia Nur Khayati
Jurnal Bakti Humaniora Vol. 6 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jbh.v6i1.5180

Abstract

Abstrak Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan literasi hukum dan kesehatan remaja dan mencegah perilaku berisiko, terutama penyalahgunaan narkoba, pelecehan seksual, gangguan kesehatan mental, dan risiko kesehatan reproduksi. Kegiatan dilaksanakan melalui edukasi terpadu di SMK Pangudi Luhur Tarcicius Semarang pada 11 September 2025 dengan melibatkan tim lintas disiplin hukum, keperawatan, kesehatan masyarakat, dan pendidikan. Metode pelaksanaan terdiri atas identifikasi kebutuhan, penyusunan materi berbasis hukum positif, penyampaian edukasi interaktif, diskusi kasus, serta evaluasi pengetahuan melalui pre-test dan post-test. Materi hukum dikaitkan dengan UU Kesehatan, UU Narkotika, UU Perlindungan Anak, UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual, dan UU Informasi dan Transaksi Elektronik. Hasil evaluasi deskriptif menunjukkan rata-rata capaian pre-test sebesar 92,78% dari 169 responden dan rata-rata capaian post-test sebesar 93, 58% dari 106 responden. Temuan ini menunjukkan bahwa peserta telah memiliki pengetahuan awal yang baik dan kegiatan edukasi mampu mempertahankan sekaligus memperkuat pemahaman remaja. Kegiatan ini berdampak pada meningkatnya kesadaran remaja untuk menjaga kesehatan diri, memahami batasan pergaulan, mengenali bentuk pelecehan, menolak narkoba, serta menggunakan media digital secara bertanggung jawab. Kata Kunci: edukasi remaja, kesadaran hukum, kesehatan reproduksi, narkoba, pelecehan seksual
Study Kasus Penerapan Pijat Counterpressure dan Pijat Oksitosin di RSUD Tanjung Selor Devitasari Yulistian; Yulia Nur Khayati
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 5 No. 1 (2026): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) remain health issues that require special attention. One effort to reduce MMR and IMR is through comprehensive and continuous midwifery services (Continuity Of Care/COC) from pregnancy, childbirth, postpartum, newborn care, and family planning (KB). These services aim to detect potential complications early and improve the quality of maternal and infant health (Tyastuti & Wahyuningsih, 2016). In North Kalimantan Province, based on previous data from the Central Statistics Agency, the IMR is at 16.65 per 1,000 live births. In 2025, this figure is expected to decline along with improvements in maternal and child health services, although definitive data is still being reported (BPS North Kalimantan, 2024). Maternal age ≥35 years is included in the high-risk pregnancy category, which can increase the likelihood of complications during pregnancy and childbirth (Prawirohardjo, 2018). In addition to basic midwifery care, the application of complementary therapies such as counterpressure during labor and oxytocin massage during the postpartum period can help reduce maternal discomfort and support a smooth delivery and breastfeeding process. The purpose of this case study is to implement comprehensive midwifery care for Mrs. J, 40 years old, G4P3A0, at Tanjung Selor Regional Hospital, starting from pregnancy, delivery, postpartum, newborn care, to family planning services. This study used a case study method with a Continuity Of Care (COC) approach. The subject of the study was Mrs. J, 40 years old, G4P3A0, who was followed from 29 weeks and 4 days of gestation until the period of contraceptive use. Data collection techniques were carried out through interviews, observations, physical examinations, documentation studies, and recording using the SOAP method (Marta, 2016). Although the patient was considered a high-risk pregnancy, the results of care showed that the condition of the mother and fetus was good throughout the pregnancy without complications. During the delivery process, complementary counterpressure therapy was given to help reduce labor pain. Delivery occurred naturally by vaginal delivery at 38 weeks and 4 days of gestation, resulting in a healthy, spontaneously delivered, male baby, weighing 3,100 grams and measuring 49 cm long. Oxytocin massage was performed during the postpartum period to help increase breast milk production and release. The postpartum period was physiological without complications, with normal uterine involution and smooth breast milk production. Family planning counseling was conducted on the 31st day postpartum, and the mother chose to use a 3-monthly contraceptive injection. It can be concluded that the implementation of Continuity of Care midwifery care combined with complementary counterpressure therapy and oxytocin massage was carried out comprehensively, resulting in healthy mother and baby, and no complications were found during the care process.   Abstrak Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih menjadi masalah kesehatan yang memerlukan perhatian khusus. Salah satu upaya yang dilakukan untuk menurunkan AKI dan AKB adalah melalui pelayanan kebidanan secara komprehensif dan berkesinambungan (Continuity of Care/COC) mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir hingga keluarga berencana (KB). Pelayanan ini bertujuan untuk mendeteksi secara dini komplikasi yang mungkin terjadi serta meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan bayi (Tyastuti dan Wahyuningsih 2016).  Di Provinsi Kalimantan Utara, berdasarkan data sebelumnya dari Badan Pusat Statistik, AKB berada pada angka 16,65 per 1.000 kelahiran hidup. Pada tahun 2025, angka ini diperkirakan mengalami penurunan seiring dengan peningkatan pelayanan kesehatan ibu dan anak, meskipun data pasti masih dalam proses pelaporan (BPS Provinsi Kalimantan Utara 2023). Usia ibu ≥35 tahun termasuk dalam kategori kehamilan risiko tinggi yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya komplikasi selama kehamilan dan persalinan (Prawirohardjo 2018).  Selain asuhan kebidanan dasar, penerapan terapi komplementer seperti counterpressure saat persalinan dan pijat oksitosin pada masa nifas dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan ibu serta mendukung kelancaran proses persalinan dan menyusui. Tujuan studi kasus ini adalah melaksanakan asuhan kebidanan secara komprehensif pada Ny. J usia 40 tahun G4P3A0 di RSUD Tanjung Selor mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, hingga pelayanan keluarga berencana. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus (case study) dengan pendekatan Continuity Of Care (COC). Subjek penelitian adalah Ny. J usia 40 tahun G4P3A0 yang diikuti sejak usia kehamilan 29 minggu 4 hari hingga masa penggunaan kontrasepsi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, studi dokumentasi, dan pencatatan menggunakan metode SOAP  (Kemenkes RI 2017).  Walaupun pasien termasuk dalam usia hamil resiko tinggi, hasil asuhan menunjukkan bahwa selama masa kehamilan kondisi ibu dan janin dalam keadaan baik tanpa komplikasi. Pada proses persalinan diberikan terapi komplementer counterpressure untuk membantu mengurangi nyeri persalinan. Persalinan berlangsung secara normal pervaginam pada usia kehamilan 38 minggu 4 hari dan bayi lahir spontan berjenis kelamin laki-laki dengan kondisi baik, berat badan lahir 3100 gram dan panjang badan 49 cm tanpa ditemukan kelainan. Pada masa nifas dilakukan pijat oksitosin untuk membantu meningkatkan produksi dan pengeluaran ASI. Masa nifas berlangsung fisiologis tanpa komplikasi, involusi uterus berjalan normal dan produksi ASI lancar. Pada hari ke-31 postpartum dilakukan konseling keluarga berencana dan ibu memilih menggunakan KB suntik 3 bulan. Dapat disimpulkan bahwa penerapan asuhan kebidanan Continuity Of Care yang dikombinasikan dengan terapi komplementer counterpressure dan pijat oksitosin dapat terlaksana secara komprehensif dengan hasil ibu dan bayi dalam keadaan sehat serta tidak ditemukan komplikasi selama proses asuhan.
Pendidikan Kesehatan Tentang Kesehatan Reproduksi Remaja Fransisca Desti Kurniasih; Galih Ayu Tias Respati; Yulia Nur Khayati
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 5 No. 1 (2026): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adolescence is a period of rapid growth and development. Generally, adolescents who experience menarche between the ages of 12 and 16 have a normal menstrual cycle every 22-35 days, lasting 2-7 days. Discomfort before and during menstruation occurs in almost all women, including pain in the lower back and abdomen, radiating to the upper legs. Dysmenorrhea, also known as abdominal pain originating from uterine cramps and occurring during menstruation, disrupts daily activities, and is most often found in young and reproductive women. Treatment for dysmenorrhea includes pharmacological (drug) and non-pharmacological (complementary) approaches. The latest complementary theory suggests that several meridian points in the body can reduce menstrual pain. These include: Li4 (Hegu), PC6 (Neiguan), SP6, and LR3 (Taichong). Community service activities for teenagers at the Sehat Ceria Posyandu were carried out on May 15, 2026, at 4:00 PM WIB in the multipurpose building belonging to RW 11, Pudak Payung sub-district, Semarang city, involving 8 teenagers. The implementation method included a pre-test, material presentation, demonstration, discussion, direct practice, and post-test. The media used were power points and leaflets. The pre-test results showed that the level of knowledge of teenagers was in the sufficient category (63.02%). After the material presentation, discussion, and demonstration, the post-test results of adolescent knowledge increased significantly, namely in the good category (95.31%). Counseling and training on complementary techniques for reducing menstrual pain effectively increased adolescent knowledge about complementary techniques for reducing menstrual pain. It is recommended that similar training be carried out regularly during adolescent Posyandu or youth meetings and supported by mentoring from cadres and the local Health Office.   Abstrak Masa remaja merupakan periode terjadinya pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Umumnya, remaja yang mengalami menarche pada usia 12 tahun sampai dengan 16 tahun, siklus menstruasi normal terjadi setiap 22-35 hari, lamanya selama 2-7 hari. Ketidaknyamanan sebelum dan selama menstruasi hampir terjadi oleh semua wanita yaitu nyeri pada punggung bawah, perut dan menjalar hingga ke bagian atas tungkai, sehingga istilah dismenore adalah nyeri perut yang berasal dari kram rahim dan terjadi selama menstruasi yang menggangu aktifitas sehari-hari yang paling sering ditemui pada wanita muda dan reproduktif. Pengobatan dismenorhea dengan non farmakologi bertujuan untuk mengurangi intensitas nyeri haid, memperbaiki kualitas hidup, serta meminimalkan efek samping obat dengan cara aman dan alami. Dalam teori komplementer terbaru, terdapat beberapa titik meridian di dalam tubuh kita yang dapat mengurangi intensitas nyeri saat haid, diantara gerakannya, yakni: titik Li4 (Hegu), Titik PC6  (Neiguan), Titik SP6, Titik LR3 (Taichong). Kegiatan pengabdian masyarakat untuk remaja posyandu Sehat Ceria dilakukan pada tanggal 15 Mei 2026 jam 16.00 WIB di Gedung serbaguna milik RW 11 kelurahan pudak payung kota Semarang, melibatkan 8 remaja. Metode pelaksanaan meliputi pre-test, pemaparan materi, demonstrasi, diskusi, praktik langsung dan post-test. Media yang digunakan berupa power point dan leaflet dengan instrument lembar observasi pre test dan post test untuk menilai perbandingan pada remaja. Hasil pre-test menunjukkan  tingkat pengetahuan remaja berada di kategori cukup (63,02%). Setelah pemaparan materi, diskusi dan demonstrasi, hasil post-test pengetahuan remaja meningkat signifikan yaitu di kategori baik (95,31%). Penyuluhan dan pelatihan tentang komplementer teknik mengurangi nyeri haid efektif meningkatkan pengetahuan remaja tentang komplementer teknik mengurangi nyeri haid. Disarankan agar pelatihan serupa dilakukan rutin saat ada posyandu remaja atau pertemuan karang taruna dan didukung pendampingan kader serta Dinas Kesehatan setempat.
Penerapan Pijat Oksitosin untuk Meningkatkan Produksi ASI pada Ibu Nifas Tety Rahmawati; Yulia Nur Khayati
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 4 No. 2 (2025): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The postpartum period begins two hours after the placenta is delivered or after the first to fourth stages of labor are complete. The end of labor does not mean the mother is free from danger or complications. Various complications can occur during the postpartum period and, if not managed properly, will significantly contribute to the high maternal mortality rate (MMR) in Indonesia (Maritalia, 2014). Observation of uterine contractions and uterine fundal height is crucial to ensure proper uterine involution and prevent uterine subinvolution in postpartum mothers. The process of uterine involution can occur quickly or slowly, influenced by several factors. Factors that influence uterine involution include early mobilization, nutritional status, breastfeeding, age, and parity. Breast milk is the best food for newborns and is the only healthy food a baby needs in the first months of life. However, not all mothers can provide exclusive breastfeeding to their babies. Exclusive breastfeeding is breast milk given to babies from birth for six months, without adding or replacing it with other foods or drinks (except medicines, vitamins, and minerals) (Ministry of Health of the Republic of Indonesia, 2018). The results of the 2018 Basic Health Research revealed that the main reason babies were never breastfed was because breast milk did not come out or was not smooth at the beginning of the breastfeeding period (65.7%), babies aged 0-5 months (33.3%) had been given prelacteal food with the most type of food (84.5%) being formula milk. The cause of not achieving exclusive breastfeeding in Indonesia is influenced by several factors, one of which is the not smooth production of breast milk in the first days after birth which is caused by a lack of stimulation of the hormones oxytocin and prolactin which play a role in the smooth production of breast milk so that alternative measures or management are needed in the form of oxytocin massage, because oxytocin massage is very effective in helping stimulate breast milk production (Pilaria and Sopiatun, 2017). The method in this research is descriptive in the form of a case study, namely examining a problem through a case consisting of a single unit. The single unit in question can consist of one person, a group of residents affected by a problem. The problem that the researcher found was that breast milk was not flowing smoothly during the postpartum visit 4 days after the CS. The care provided by the researcher was oxytocin massage which aims to facilitate breast milk production. After being given this therapy, Mrs. Y's breast milk flowed smoothly and no other problems were found during the postpartum period. Care for Mrs. Y at the Jumo Community Health Center was provided comprehensively and the delivery was carried out at PKU Muhammadiyah Hospital because the mother had a history of CS. The provision of care to Mrs. Y was appropriate and there was no gap between theory and the case.   Abstrak Masa nifas dimulai setelah dua jam lahirnya plasenta atau setelah proses persalinan dari kala I sampai kala IV selesai. Berakhirnya proses persalinan bukan berarti ibu terbebas dari bahaya atau komplikasi. Berbagai komplikasi dapat dialami ibu pada masa nifas dan bila tidak tertangani dengan baik akan memberi kontribusi yang cukup besar terhadap tingginya angka kematian ibu (AKI) di Indonesia. (Maritalia, 2014). Observasi kontraksi uterus dan tinggi fundus uteri sangat penting dilakukan untuk memastikan involusi uterus berjalan dengan baik dan mencegah subinvolusi uteri pada ibu nifas. Proses involusi uterus dapat terjadi secara cepat atau lambat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang mempengaruhi involusi uterus antara lain mobilisasi dini, status gizi, menyusui, usia dan paritas. Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan terbaik untuk bayi yang baru lahir dan merupakan satu – satunya makanan sehat yang diperlukan bayi pada bulan-bulan pertama kehidupannya. Namun demikian tidak semua ibu dapat memberikan ASI Eksklusif pada bayinya. ASI eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada bayi sejak dilahirkan selama enam bulan, tanpa menambahkan atau menggantikan dengan makanan atau minuman lain (kecuali obat, vitamin, dan mineral) (Kemenkes RI, 2018). Hasil Riskesdas tahun 2018 yang mengungkap bahwa alasan utama bayi tidak pernah disusui karena ASI tidak keluar ataupun tidak lancar pada awal masa menyusui (65,7%), bayi usia 0-5 bulan (33,3%) telah diberikan makanan prelakteal dengan jenis makanan terbanyak (84,5%) yaitu susu formula. Penyebab belum tercapainya pemberian ASI ekslusif di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah tidak lancar produksi ASI pada hari – hari pertama setelah melahirkan yang disebabkan kurangnya rangsangan hormon oksitosin dan prolaktin yang berperan dalam kelancaran produksi ASI sehingga dibutuhkan upaya tindakan alternatif atau penatalaksanaan berupa pijat oksitosin, karena pijat oksitosin sangat efektif membantu merangsang pengeluaran ASI (Pilaria dan Sopiatun, 2017). Metode dalam penelitian ini diskriptif yang berupa studi penelaahan kasus (case study) yaitu meneliti suatu permasalahan melalui suatu kasus yang terdiri dari unit tunggal. Unit tunggal yang dimaksud dapat berisi 1 orang, sekelompok penduduk yang terkena suatu masalah. Masalah yang peneliti temukan berupa ASI belum lancar pada kunjungan nifas 4 hari post SC. Asuhan yang peneliti berikan berupa pijat oksitosin yang bertujuan untuk memperlancar produksi ASI. Setelah dsiberikan terapai tersebut, ASI Ny. Y keluar lancara dan tidak ada masalah lain yang ditemukan pada masa nifas. Asuhan pada Ny. Y di Puskesmas Jumo telah diberikan secara komprehensif dan persalinan dilaksanakan di RS PKU Muhammadiyah karena ibu riwayat SC. Pemberian asuhan pada Ny. Y sudah sesuai dan tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kasus.
Studi Kasus Tatalaksana Kehamilan pada Ny. B G1P0A0 Umur 20 tahun dengan KEK dan Anemia di Desa Lodoyong kec. Ambarawa Weni Ambarwati; Yulia Nur Khayati
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 4 No. 2 (2025): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

According to the World Health Organization (WHO), anemia during pregnancy is one of the contributing factors to maternal mortality. Anemia is a hematological disorder caused by a low concentration of red blood cells (erythrocytes) in the body. Anemia in pregnant women can lead to various complications, including abortion, postpartum hemorrhage, prolonged labor, shock, intrapartum and postpartum infections, and ineffective labor duration.Chronic energy deficiency (CED) refers to a long-term lack of energy intake. In pregnant women, CED is caused by inadequate dietary intake or improper consumption patterns of carbohydrates and fats. This study used a case study method. Data were collected through interviews, physical examinations, and observations. The data consisted of primary data and secondary data obtained from the Maternal and Child Health (MCH) handbook and SOAP documentation instruments. Data analysis was conducted using descriptive analysis.Based on the antenatal care (ANC) examination on March 5, 2025, at 16 weeks of gestation, laboratory results showed a hemoglobin level of 10.4 g/dL, indicating mild anemia. In addition, the mid-upper arm circumference (MUAC) measurement of 22.5 cm indicated chronic energy deficiency. The care provided included supplementary feeding and monitoring of iron (Fe) tablet consumption. At the follow-up examination on August 19, 2025, the mother’s condition showed improvement, with a body weight of 56 kg, MUAC of 24 cm, gestational age of 39 weeks, hemoglobin level increased to 11.5 g/dL, and fundal height of 32 cm with an estimated fetal weight of approximately 3,100 grams. These findings indicate an improvement in the maternal condition following the interventions. It is expected that pregnant women consistently apply the counseling provided throughout the antenatal care visits.     Abstrak Menurut WHO Salah satu penyebab kematian pada ibu hamil adalah anemia pada masa kehamilan Anemia adalah kelainan hematologis yang disebabkan oleh rendahnya konsentrasi sel darah merah (eritrosit) dalam tubuh. Anemia pada ibu hamil dapat menyebabkan abortus, perdarahan postpartum, persalinan berkepanjangan, syok, infeksi intrapartum dan postpartum, serta durasi persalinan yang tidak efektif. kekurangan energi kronis (KEK) merupakan kekurangan tenaga. KEK pada ibu hamil diakibatkan karena kekurangan asupan makanan atau pola konsumsi karbohidrat dan lemak dalam tubuh. Metode yang digunakan adalah studi kasus. Dengan pengumpulan data dengan cara interview, pemeriksaan fisik dan observasi. Data yang digunakan berupa data primer dan data sekunder melalui buku KIA serta instrumen penelitian dokumentasi SOAP. Analisis data menggunkanan analisis diskritif. Berdasarkan riwayat pemeriksaan antenatal care (ANC) pada tanggal 05 Maret 2025 dengan usia kehamilan 16 minggu, hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar hemoglobin sebesar 10,4 g/dl sehingga ibu dikategorikan mengalami anemia ringan. Selain itu, hasil pengukuran lingkar lengan atas (LILA) sebesar 22,5 cm menunjukkan ibu mengalami kekurangan energi kronis (KEK). Asuhan yang diberikan meliputi pemberian makanan tambahan (PMT) serta pemantauan konsumsi tablet Fe. Pada pemeriksaan selanjutnya tanggal 19 Agustus 2025 diperoleh hasil berat badan ibu 56 kg, LILA 24 cm, usia kehamilan 39 minggu, kadar hemoglobin meningkat menjadi 11,5 g/dl, serta tinggi fundus uteri 32 cm dengan taksiran berat janin sekitar 3.100 gram. Hasil tersebut menunjukkan adanya perbaikan kondisi ibu setelah dilakukan intervensi. Diharapkan ibu hamil dapat menerapkan konseling yang telah diberikan secara konsisten selama masa kunjungan kehamilan.
Co-Authors Abda Abda Abdul Wakhid Adi Prayitno Adkha Putri Puspita Dewi Afriyani, Luvi Dian Agustina Sri Wahyuni Alfan Afandi Alfina Ifada Alif’fah Setiyana Putri Ameliana Friskia Rahmadini Ananda, Ayu Andaeni, Wahyu Retno Anggela, Ria Anggi Anggraini Khoirum Ningdiah Anik Sulistiyanti Aninda Nur Sinto Putri Anissa Regita Anita Dyah Listyarini Aprilia, Nia Ari Widayaningsih Ari Widyaningsih Arsy, Gardha Rias Asfarina Puspanagara Ashaima Paramita Devi Ayu Ananda Azelia Dwijayanti bellatika, sitasalsha Cahyaningrum Christania R.L Hawa Christlin Dika Kappu Cinta Nashita Devitasari Yulistian Dewi Sagitaria, Bian Dewita Dian Ayu Tias P Dina Hastiana Dwiyanti, Feni Een Nurhidayati Ekawati, Rahmi Ekayanti, Mila Elvi Eko Mardiyaningsih Elsa Umi Anisa Erna Widyastuti, Erna Evy Yuliastuti Fani Rahmawati Fany Dwi Yulianti Feni Noviyani Feronika Askini Mirino Fitrianingsih, Sri Fransisca Desti Kurniasih Galih Ayu Tias Respati Hajaratul Inayah Hani Irhamdessetya Hapsari Windayanti Hasty Martha Wijaya Hawa, Christania R.L Heni Setyowati Heni Setyowati Heny Romdiyani Hidayanti, Nur Ilham Setyo Budi Imelda Jumita Seingo Inayah, Hajaratul Indriani Kasih Sabwan Intan Agustina Sukmajaya Ira Septiya Sari Isfaizah Istiqomah Izzah, Lu’luul Fitrotul Kasari, Miki Lalita Mafudiah Lidia Arjulia Sari Linda Listyaningsih, Moneca Diah Lu’luul Fitrotul Izzah Maria Pankrasia Maya Kurnia Dewi Maya Kurnia Dewi Maya Kurnia Dewi, Maya Kurnia Mega Riani Mangiwa Meisya Tiara Herlina Melna Mila Elvi Ekayanti Moneca Diah Listiyani Moneca Diah Listiyaningsih Mubaroq, Muhammad Husni Mulyani Mulyani Nadia Oktaviana Nia Aprilia Ninda Azifati Nurfitri Ninik Christiani Nova Harianti Nur Endang Sulastri Nur Hidayanti Nur Laila Nurul Khomariah Poncorini, Eti Priskila, Antika Puji Catur Putri Ayuni Sari Putri Cahya Putri, Alif’fah Setiyana putri, yulinda yasa Qoni’atun Nurnaini Radja, Marselina Rafika Brian Maghfiroh Rahmadini, Ameliana Friskia Rina Pratiwi Rinawati Rinawati Rinawati Rinawati Rini Susanti Rini Susanti Riska Susanti Rizka Andinda Rizki, Milya Ruliana Isna Rosida Sabwan, Indriani Kasih Sarah Anissa Sari, Lidia Arjulia Sari, Murniati Sari, Putri Ayuni Setyoningsih, Heni Siti Adhoat Aristiani Siti Musarofah Sofiyanti, Ida Sri Murtiningsih, Sri Sri Rahayu Stefanie, Agnes Subiyatun Suciati Sundari Sundari Sundari Sundari Sundari Sundari Susanti, Vila Tety Rahmawati Titik Nor Hidayah Trianingsih Trianingsih Veftisia, Vistra Vera Yunita Wahyu Kristiningrum Wahyu Retno Andaeni Weni Ambarwati Widyaningsih, Ari Wilda Rezki Pratiwi Wulan Murti Yenny Rahmawati Yuni Fitria Zahrotussalamah