p-Index From 2021 - 2026
25.826
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Ahkam: Jurnal Ilmu Syariah Bestuur 'ADALAH Hunafa: Jurnal Studia Islamika Al-Iqtishad : Jurnal Ilmu Ekonomi Syariah (Journal of Islamic Economics) FIAT JUSTISIA: Jurnal Ilmu Hukum SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Jurnal Cita Hukum Al-Ihkam: Jurnal Hukum dan Pranata Sosial Hijri Dauliyah Journal of Islamic and International Affairs PROSIDING SEMINAR NASIONAL CENDEKIAWAN STAATSRECHT: Indonesian Constitutional Law Journal ETTISAL Journal of Communication JOIV : International Journal on Informatics Visualization Jurnal Ilmiah Hukum LEGALITY SAMARAH: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah Al-Jinayah: Jurnal Hukum Pidana Islam Mandala: Jurnal Ilmu Hubungan Internasional NUR EL-ISLAM : Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan Jurnal Hukum Samudra Keadilan Journal of Creativity Student Jurnal Justitia : Jurnal Ilmu Hukum dan Humaniora Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Publik Indonesia Al-Risalah : Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam DINAMIKA GLOBAL : JURNAL ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL JHR (Jurnal Hukum Replik) Jurnal Tarbiyatuna : Kajian Pendidikan Islam Al Qisthas : Jurnal Hukum dan Politik Indian Journal of Forensic Medicine & Toxicology STAATSRECHT: Indonesian Constitutional Law Journal JOURNAL of LEGAL RESEARCH Ekonomica Sharia: Jurnal Pemikiran dan Pengembangan Ekonomi Syariah Mimbar Agama Budaya Islamic Banking : Jurnal Pemikiran dan Pengembangan Perbankan Syariah Sosio-Didaktika: Social Science Education Journal Hunafa: Jurnal Studia Islamika Indonesia Sport Journal Indonesia Law Reform Journal (ILREJ) Al-Karim: International Journal of Quranic and Islamic Studies Jurnal Hukum Islam Mavisha: Law And Society Journal Al-Risalah Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam Legitima : Jurnal Hukum Keluarga Islam Dame Journal of Law Al-Infaq : Jurnal Ekonomi Islam Mizan: Journal of Islamic Law al Hairy | Journal of Islamic Law Legitima: Jurnal Hukum Keluarga Islam KARSA: Jurnal Sosial dan Budaya Keislaman (Journal of Social and Islamic Culture)
Claim Missing Document
Check
Articles

Indonesian Legal Politics of Islamic Boarding School Curriculum Regulation Faiqatul Husna; Nur Rohim Yunus; Andri Gunawan
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 8, No 5 (2021)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v8i5.22877

Abstract

Islamic boarding school education acts as a service industry by meeting quality standards. An institution can be called qualified if it meets the specifications that have been set through existing regulations. Regarding the use of the curriculum, Islamic boarding schools are autonomously entitled to regulate and choose the curriculum according to the needs of the local community. However, it remains within the scope of the law that regulates it. The regulation is in the form of the Law on Islamic Boarding Schools by giving recognition to several curricula. This study uses a qualitative research method with a literature approach. The results of the study stated that there were several conditions that resulted in changes to the educational curriculum, including changes in organizational structure, monitoring mechanisms of the expected results, and the creation of power to make changes or replacement of the curriculum.Keywords: Islamic Boarding School Curriculum; Legal Policy; Islamic boarding school Abstrak:Pendidikan pondok pesantren berperan sebagai industri jasa dengan memenuhi standar kualitas. Lembaga dapat disebut berkualitas apabila memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan melalui regulasi yang ada. Terkait penggunaan kurikulum, pesantren secara otonomi berhak mengatur dan memilih kurikulum dengan menyesuaikan kebutuhan masyarakat setempat. Namun, tetap dalam lingkup undang-undang yang mengatur. Pengaturannya dalam bentuk Undang-Undang tentang Pesantren dengan memberikan pengakuan pada beberapa kurikulum. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan literatur. Hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat beberapa kondisi yang mengakibatkan perubahan kurikulum pendidikan, diantaranya adalah perubahan struktur organisasi, mekanisme monitoring dari hasil yang diharapkan, dan terciptanya kekuatan untuk melakukan perubahan atau penggantian kurikulum.  Kata Kunci: Kurikulum Pesantren; Kebijakan Hukum; Pondok Pesantren
Дилемма Решения Конституционного Суда Относительно Законности Досудебного Разбирательства В Индонезии (The Dilemma of the Constitutional Court's Decision Regarding Pretrial Legality in Indonesia) Rohim Nur
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 9, No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v9i1.25449

Abstract

Досудебная позиция в судебной системе Индонезии ставит дилемму между её существованием как способом добиться справедливости для подозреваемых, которые подверглись произвольному обращению со стороны сотрудников правоохранительных органов, и её существованием как выходом для преступников, чтобы избежать легшего на них правового бремени. Более того, тогда Конституционный суд подчеркнул полномочия судей досудебного разбирательства решать, является ли кто-либо подозреваемым. Метод, используемый в этом исследовании, является качественным методом с подходом установленного закона. Результаты исследования констатируют необходимость синергии между правоохранительными органами, как прокуратурой, так и судьями, полицией и адвокатами для обеспечения соблюдения закона на основе справедливости для общества после решения Конституционного Суда о полномочиях судей досудебного разбирательства определить положение подозреваемых. Необходимо укреплять судебные учреждения и понимание судьями объектов, которые могут быть представлены в досудебных слушаниях. Потому что после вынесения постановления Конституционного Суда форма правонарушения, допущенного следователями в ходе расследования, может быть вынесена в качестве предмета досудебного разбирательства и может быть исследована и разрешена судьей.Ключевые слова: Дилемма; Постановления Конституционного суда; Досудебное разбирательство 
Rekontruksi Teori Partisipasi Politik Dalam Diskursus Pemikiran Politik Negara Nur Rohim Yunus; Muhammad Sholeh; Ida Susilowati
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 4, No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v4i3.10289

Abstract

Abstract:Community involvement in a democratic party is important and must exist, because it is a manifestation of true democracy. Citizens are directly involved in the decision-making process, implementing decisions, influencing decision-making processes, influencing government policies, including relating to active involvement and passive involvement of each individual in the hierarchy of government political systems. All this involvement is known as a form of political participation. This study wants to rebuild political participation as a basic theory in the country's political thinking. So that the relationship can be drawn between the role of community political participation and the success of democracy itself.Keywords: Participation, Politics, Democracy Abstrak:Keterlibatan masyarakat dalam pesta demokrasi merupakan hal penting dan harus ada, karena ia merupakan perwujudan demokrasi yang sebenarnya. Warga negara terlibat langsung dalam proses pembuatan keputusan, melaksanakan keputusan, mempengaruhi proses pengambilan keputusan, mempengaruhi kebijakan pemerintah, termasuk berkaitan dengan keterlibatan aktif maupun keterlibatan pasif setiap individu dalam hierarki sistem politik pemerintahan. Semua keterlibatan ini dikenal sebagai bentuk partisipasi politik. Penelitian ini ingin membangun kembali partisipasi politik sebagai teori dasar dalam pemikiran politik negara. Sehingga dengannya dapat ditarik benang merah antara peran partisipasi politik masyarakat dengan kesuksesan demokrasi itu sendiri.Kata Kunci: Partisipasi, Politik, Demokrasi  
HUMAN TRAFFICKING; Implikasi Konstitusional Kejahatan Perdagangan Orang Terhadap Hak Hidup Warga Negara Nur Rohim Yunus
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v3i2.3675

Abstract

Masalah perdagangan orang atau Human Trafficking merupakan salah satu ancaman besar negara Indonesia. Setiap tahun hampir ribuan perempuan dan anak di Indonesia menjadi korban kejahatan trafficking. Tapi uniknya kejahatan ini, terkadang tidak menjadikan diri korban merasa dijadikan korban. Provinsi-provinsi di Indonesia menjadi sumber maupun tujuan perdagangan manusia terutama adalah Jawa diikuti kemudian oleh Kalimantan Barat, Lampung, Sumatra Utara, Banten Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Utara. Bahkan modus perdagangan gadis remaja terutama dari wilayah Kalimantan Barat ke Taiwan yang berpura-pura sebagai pengantin wanita ternyata dipaksa menjadi pelacur. Pemasalahan ini bukanlah masalah baru dan tidak hanya terjadi di Indonesia saja melainkan juga di negara-negara lain, seperti Saudi Arabia, Jepang, Malaysia, Hongkong, Taiwan, Singapura dan beragai negara lain. Hal ini menunjukkan bahwa Perdagangan orang tidak lagi terbatas pada batas-batas wilayah negara, akan tetapi berlangsung melalui lintas batas. DOI: 10.15408/sjsbs.v3i2.3675
Геноцид как Тяжкое Преступление (Genocide As Extraordinary Crime) Nur Rohim Yunus; Latipah Nasution; Siti Nurhalimah; Siti Romlah
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 8, No 3 (2021)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v8i3.21386

Abstract

The state is a subject of international law who has power or power, so that the state is required not to abuse its authority. State obligations have been regulated in various international legal instruments. The protection of human rights has implications for the emergence of the fulfillment of human rights as a form of state responsibility. The state in this case must ensure to protect, to ensure, and to fulfill the human rights. Therefore, all acts of the state that discriminate against citizens of a certain ethnicity by committing genocide are serious human rights crimes that must be prosecuted by the International Court of Justice. This study uses qualitative research with a sociological and juridical approach. The results of the study state that the State of Indonesia has also regulated the behavior of preventing the crime of genocide in order to protect human rights.Keywords: Genocide; HAM; Extraordinary Crime Abstrak:Negara merupakan subjek hukum internasional yang memiliki kekuasaan atau power, sehingga negara dituntut tidak melakukan penyalahgunaan wewenang. Kewajiban negara telah diatur dalam berbagai instrumen hukum internasional. Perlindungan terhadap HAM berimplikasi terhadap munculnya pemenuhan HAM sebagai wujud tanggungjawab negara. Negara dalam hal ini harus memastikan to protect, to ensure, and to fulfill the human rights. Oleh karenanya, segala tindakan negara yang melakukan diskriminasi kepada warga negara dari etnis tertentu dengan melakukan genosida merupakan kejahatan HAM berat yang harus dituntut oleh Mahkamah Internasional. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan sosiologis dan yuridis. Hasil penelitian menyatakan bahwa Negara Indonesia juga telah mengatur perilaku pencegahan tindak kejahatan Genosida guna menjaga HAM.Kata Kunci: Genosida; HAM; Extraordinary Crime Аннотация:Государство является субъектом международного права, обладающим властью, поэтому от государства требуется не злоупотреблять своей властью. Обязательства государства регулируются различными международно-правовыми инструментами. Защита прав человека имеет значение для возникновения реализации прав человека как формы ответственности государства. Государство в этом случае должно гарантировать защиту, обеспечение и соблюдение прав человека. Следовательно, все действия государства, дискриминирующие граждан определенных этнических групп путем совершения геноцида, являются серьезными преступлениями в области прав человека, которые должны преследоваться Международным Судом. В данном исследовании используются качественные исследования с социологическим и юридическим подходом. Результаты исследования показывают, что государство Индонезия также регулирует действия по предотвращению преступления геноцида в целях защиты прав человека.Ключевые слова: геноцид; права человека; тяжкое преступление
Resolusi Konflik Pencegahan Disintegrasi Bangsa Melalui Legalitas Hukum Syariat di Aceh Muhammad Sholeh; Nur Rohim Yunus; Ida Susilowati
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v3i3.7862

Abstract

Abstract:Efforts that have been made by the government of the Republic of Indonesia to reduce conflict in Aceh in the form of various policies. From the pattern of violence, mediation, enactment of the Regional Military Operation, to finally negotiations for peace. Negotiations eventually served as the final conflict resolution in order to quell the raging turmoil. After the Aceh Tsunami in December 2004, an agreement was finally reached in Helsinki between the government of the Republic of Indonesia and the elders of the Free Aceh Movement. Among the resolutions obtained are the enactment of Sharia law or Qonun in Aceh, as a legal law that regulates the life of the Acehnese in an Islamic manner.Keywords: Conflict Resolution, Sharia Law, National Disintegration Abstrak: Upaya yang telah dilakukan pemerintah Republik Indonesia dalam meredam konflik di Aceh dalam bentuk kebijakan beranekaragam. Dari pola kekerasaan, mediasi, pemberlakuan Daerah Operasi Militer, hingga perundingan untuk perdamaian. Perundingan akhirnya dijadikan sebagai resolusi konflik terakhir guna meredam gejolak yang berkecamuk. Pasca terjadinya Tsunami Aceh pada bulan Desember 2004, akhirnya dibuatkan kesepakatan di Helsinki antar pemerintah Republik Indonesia dan para tetua Gerakan Aceh Merdeka. Diantara resolusi yang didapatkan adalah pemberlakukan hukum Syariah atau Qonun di Aceh, sebagai hukum legal yang mengatur kehidupan masyarakat Aceh secara Islami. Kata Kunci: Resolusi Konflik, Hukum Syariah, Disintegrasi Bangsa
KMP VERSUS KIH; Implikasi Ketatanegaraan Perseteruan Dua Kubu Dalam Dimensi Etika Politik Nur Rohim Yunus
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v2i1.2248

Abstract

Abstract: KMP Versus KIH: Constitutional Implication of the Dispute of Two Parties in Etical and Political Dimension. Ethics is an important element of social interaction. Good deeds will produce good things and vice versa. However, in politics, it’s not always the same. The Dispute between two side “KMP” and “KIP”, is started with the dispute between Presidential Candidates. This quarrel affect our constitutional system as the change of system of governor/mayor’s election, mechanism on the nomination of heads of Parliament and the other issues promulgated in the Act. This quarrel can be ended if the politicians can put priority on ethics matters, compared to personal and political parties’ interests.Key Words: dispute, etics in politics and Constitutional implication Abstrak: KMP Versus KIH; Implikasi Ketatanegaraan Perseteruan Dua Kubu Dalam Dimensi Etika Politik. Persoalan etika merupakan hal yang sangat vital dalam interaksi sosial, karena setiap perbuatan manusia menimbulkan dampak sesuai dengan apa yang dilakukan. Perbuatan yang baik menghasilkan dampak yang baik, begitupun sebaliknya. Meskipun terkadang di lapangan khususnya ranah politik praksis, perbuatan yang baik kerap berdampak buruk dan begitu sebaliknya. Begitu pula hanya perseteruan dua kubu yang terjadi antara kubu Koalisi Merah Putih dan Kubu Indonesia Hebat yang bermula dari perseteruan dua kubu pemenangan calon presiden; Jokowi-Jk dan Prabowo-Hatta. Akibat perseteruan ini berimplikasi ketatanegaraan seperti adanya perubahan sistem pemilihan umum kepala daerah, mekanisme pemilihan Pimpinan DPR dan Pimpinan MPR, dan beberapa produk legislasi lainnya. Perseteruan ini dapat berakhir apabila para praktisi politik di negeri ini mampu mengedepankan etika politik di atas kepentingan pribadi, partai, dan golongan.Kata Kunci: Perseteruan, Etika Politik, Ketatanegaraan DOI: 10.15408/sjsbs.v2i1.2248
Referendum Patterns In General Regional Challenges of Regional Head In 2015 In Three Districts; Tasikmalaya, Blitar And North Timor Abu Tamrin; Nur Rohim Yunus
Jurnal Cita Hukum Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v5i2.7092

Abstract

The phenomenon of a single candidate for regional heads occurred in the general elections of regionalheads in 2015, especially in three districts of Tasikmalaya, Blitar and North Central Timor. Thesethree areas have varying reasons for the occurrence of only one candidate pairs in the election. Inreality this condition is a form of empirical democracy that can not be rejected and avoided. So thenattempted to find a solution to the democratic party with the condition of only one candidate pair canstill run well. Therefore, the Constitutional Court decided to continue to provide an opportunity forthe regions to conduct regional head elections with only one candidate pair, using mechanisms ofagreeing and disagreeing, or so-called referendum patterns or polls. The public is only obliged todecide whether to agree or disagree with the candidate for the regional head who follows the generalelection. DOI: 10.15408/jch.v5i2.7092
The Rebellion Indication Towards Sovereign Government In Acts of Terrorism in Indonesia In Transcendental Dimension Irfan Hielmy; Nur Rohim Yunus
Jurnal Cita Hukum Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v6i2.8689

Abstract

Abstract:Every individual is certainly needing a peace and safety on their life. A terror or an intimidation need to be avoided, and becomes a government’s obligation to protect them. Terror is still occurred in various parts of the world including Indonesia, and a kind of organized crime. This crime is usually called by terrorism. A view which committing acts of violence and threat to create an atmosphere of terror or fear to the people extensively and cause victims spreadly, by snatching independence or loosing life and property, and causing a damage and destruction of life and property of another person. This crime also causes a disruption of national stability. So, the government has an obligation to eradicate and eliminate this criminal group. Unfortunately, terrorism is identifically referred to a specific Islamic group. Whereas Islam is never taught any violence through this humanity, but a religion which taught to keep and protect life. This paper is aim to analyze is terrorism belonging to rebellion as a kind of criminal, or a basic criminal. By using statute approach and transendental approach, the writer makes serious effort to find a conclusion of this problem.Keywords: Rebellion, Terrorism, Sovereign GovernmentAbstrak: Setiap orang pasti menginginkan kedamaian dan keamanan dalam hidupnya. Teror ataupun intimidasi merupakan hal yang harus dihindari, dan menjadi kewajiban negara untuk melindunginya. Terjadinya tindakan kejahatan teror masih terjadi di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia, dan merupakan bentuk kejahatan terorganisir. Kejahatan ini biasa disebut dengan terorisme. Sebuah paham yang melakukan tindakan kekerasan dan ancaman guna menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas dan menimbulkan korban yang bersifat masal, dilakukan dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, serta mengakibatkan kerusakan dan kehancuran terhadap nyawa dan harta benda orang lain. Kejahatan ini mengakibatkan gangguan stabilitas nasional. Sehingga pemerintah yang berdaulat berkewajiban membasmi dan menumpas tuntas kelompok pelaku kejahatan ini. Mirisnya, kejahatan terorisme ini kerap diindentikkan kepada kelompok Islam tertentu. Padahal Islam tidak mengajarkan kejahatan terhadap kemanusiaan ini, tetapi agama yang menjaga dan melindungi kehidupan. Penelitian ini mencoba menganalisis apakah terorisme termasuk ke dalam perbuatan kejahatan pemberontakan atau hanya kriminal biasa. Dengan melakukan pendekatan hukum (statute approach) dan pendekatan transendental akhirnya penulis berupaya mencari titik akhir sebagai hasil kesimpulan dari permasalahan ini.  Kata Kunci: Pemberontakan, Terorisme, Pemerintahan Berdaulat 
Kontroversi Pembentukan Perppu Nomor 1 Tahun 2013 Tentang Mahkamah Konstitusi Dalam Ranah Kegentingan Yang Memaksa Nur Rohim
Jurnal Cita Hukum Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v1i1.1454

Abstract

Abstract: The Controversy of Perppu Formation No. 1 in 2013 on the Constitutional Court in The Realm Emergency Force. The Placement of Government Regulation in Lieu of Law in the hierarchy of laws and regulations has the fluctuated time. This is an evident from the history of legislation in Indonesia, which puts Perppu on one side are on equal footing the law. The position change is caused due Perppu materially the same as the Act, and there are not formally Perppu Act but closer to the bill that implemented the Act because like the precarious conditions that force. The controversy also sparked debate later, whether the Court has the right to test Perppu or not, was the Parliament also has the authority to accept or reject the nearest Perppu during the trial. As for Perppu No. 1 of 2013 on the Constitutional Court established by the President to rescue the Court assessed by some not qualified in the realm crunch that forced, and even tended to be unconstitutional. However, some others assess in contrary has Perppu urgency to restore the name of the state agency that became the guardian of the constitution. Abstrak: Kontroversi Pembentukan Perppu No. 1 Tahun 2013 Tentang Mahkamah Konstitusi Dalam Ranah Kegentingan Yang Memaksa. Penempatan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang dalam hierarki peraturan perundangundangan dari masa ke masa bersifat fluktuatif. Terlihat dari sejarah peraturan perundang-undangan yang menempatkan Perppu di satu sisi berada setara dengan undang-undang dan di sisi lain berada di bawah undang-undang. Hal ini disebabkan karena secara materiil Perppu sama dengan undang-undang, dan secara formil Perppu bukanlah undang-undang, tetapi lebih dekat kepada RUU yang dilaksanakan laksana undang-undang karena kondisi genting yang memaksa. Perdebatan yang muncul, apakah MK berhak menguji Perppu atau tidak, sedang DPR juga memiliki kewenangan untuk menerima atau menolak Perppu pada masa sidang terdekat. Begitu pula halnya Perppu No. 1 tahun 2013 tentang MK yang dibentuk oleh Presiden guna penyelamatan MK dinilai oleh tidak memenuhi syarat dalam ranah kegentingan yang memaksa, bahkan cenderung inkonstitusional. Akan tetapi sebagian menilai sebaliknya, Perppu ini memiliki urgensitas guna memulihkan nama lembaga negara yang menjadi pengawal konstitusi ini DOI: 10.15408/jch.v1i1.1454
Co-Authors A Salman Maggalatung, A Salman Abbas Sofwan Matlail Fajar abd rahman dahlan Abdurahman Abdurrahman Abdurrauf Abdurrauf Abu Tamrin Achmad Irwan Hamzani Afidah Wahyuni, Afidah Afrinal Afrinal Ahmad Fadli Fathurrohman Ahmad Mukri Aji Al-Fatih, Solahudin Aliyeva Patimat Shapiulayevna Aliyeva Patimat Shapiulayevna Aliyeva Patimat Shapiulayyevna Ananda Mardhotillah Andri Gunawan Andri Gunawan Anggraeni, RR Dewi Anggraeni, RR. Dewi Annissa Rezki Annissa Rezki Annissa Rezki Annissa Rezki Annissa Rezki Annissa Rezki Aravik, Havis Arif Mohamad Azhar Annas Arrois, Syaiful Makhi Ula Asep Syarifuddin Hidayat, Asep Syarifuddin Atep Abdurofiq Atep Abdurofiq, Atep Azizah Azizah BAMBANG ALI KUSUMO Desi Purnama Dianna Primadianti Dien Noviany Rahmatika Disemadi, Hari Sutra Dwi Putri Cahyawati, Dwi Putri Dwi Sulastyawati Dwi Sulastyawati Dwi Sulastyawati Dwi Sulastyawati, Dwi Faiqatul Husna Faiqatul Husna Fathinuddin Fathinuddin Fifik Wiryani Fina Raihani Fitria Esfandiari Fitriyani Zein Fitriyani Zein Frida Aprillia Wahjudi Gilang Rizki Aji Putra Gilang Rizki Aji Putra Hamlan Andi Baso Malla Harisah, Harisah Havis Arafik Helvis, Helvis Hikmatiar, Erwin Ida Susilowati Ika Ika Atikah Imam Fachruddin Imam Fachruddin Indithohiroh, Rosa Intana Sari, Tiara Irfan Hielmy Karmawan Karmawan Karmawan karmawan karmawan Khaeruddin Yusuf Kusniawati, Kusniawati Latipah Nasution Latipah Nasution Mahmudi, Abdul Halim Malla, Hamlan Andi Baso Mara Sutan Rambe Mesraini Mesraini Muhamad Soleh Muhamad Soleh Muhammad Ali Hanafiah Selian Muhammad Ishar Helmi, Muhammad Ishar Muhammad Nasser Muhammad Sholeh MUHAMMAD SHOLEH Muhammad Sholeh Mukhlas, Umlina Muttaqin, Ahmad Izza Najih, Mokhammad Nasution, Latipah Noor Prasetyo, Said Novi Rizka Amalia Nur Oktaviana, Ulfah Nur Putri Hidayah Nurul Ummah Putra, Gilang Rizki Aji Rahmad Lubis Rahmad Lubis Rahmi Agustin Raihani, Fina Ratna Herlina Refly Setiawan Refly Setiawan Rezki, Annissa Rohmah, Siti Ngainnur Rosdiana Rosdiana Rulia Feriera Saptaning Ruju Paminto Sholahuddin Al-Fatih SIAGIAN, AMRIZAL Siti Marwiyah Siti Ngainnur Rohmah Siti Nurhalimah Siti Nurhalimah Siti Nurhalimah Siti Romlah Siti Romlah Siti Romlah Sofwan, Abbas Suhendar Suhendar Suhendar Suhendar, Suhendar Surya Anoraga Syarifah Gustiawati Mukri Taryono Taryono Taryono Taryono Tavia Yuga Ayutia Trini Diyani Trini Diyani Umlina Mukhlas Wicaksono, Galih Wasis Yan Kahnovich Yunasril Ali Yusman Yusman Yusman, Yusman Yusuf, Khaeruddin Zahrotunnimah Zahrotunnimah Zein, Fitriyani