Articles
Strategi Komunikasi Orang Tua dalam Mengatasi Rasa Jenuh Anak Saat Belajar Daring
Nopita Dewi;
Dasrun Hidayat;
Iris Fatia Maharani
Jurnal Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 6, No 2 (2022): Jurnal Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : UMSU
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30596/interaksi.v6i2.8674
Pembelajaran daring selama pandemi membut anak merasa jenuh. Pada akhirnya anak-anak melakukan mogok atau malas-malasan dalam belajar. Fenomena ini penting dikendalikan oleh orangtua melalui peran aktif mereka ketika anak sedang melakukan pembelajaran. Penelitian bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi orangtua dalam mengelola rasa jenuh anak saat pembelajaran daring. Menggunakan metode kualitatif dengan studi fenomenologi. Studi yang bermaksud mengkonstruksi tiap temuan lapangan dalam bentuk narasi berupa pengalaman sadar tiap individu yang memiliki masalah yang sama berupa pengalaman dalam menerapkan strategi komunikasi selama mendampingi anak belajar daring. Data lapangan diperoleh melalui teknik wawancara dengan melibatkan tiga informan orang tua siswa Sekolah Dasar di wilayah Sulaksana Kelurahan Cicaheum Kota Bandung. Data hasil wawancara dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan data. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa orang tua sepakat menerapkan beberapa strategi komunikasi meliputi strategi komunikasi bermain, strategi komunikasi interaktif, dan strategi komunikasi koersif. Tiap strategi komunikasi diterapkan sesuai dengan kebutuhan. Kata Kunci: belajar daring, strategi komunikasi, pengalaman komunikasi, jenuh
Collaborative Adaptive Learning Model with a Communication Competency Approach during the Covid-19 Pandemic in Indonesia and Japan
Erliany Syaodih;
Dasrun Hidayat;
Haslina Halim;
Leili Kurnia Gustini;
Sukatno Krisbianto
AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan Vol 14, No 4 (2022): AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan
Publisher : STAI Hubbulwathan Duri
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35445/alishlah.v14i4.2661
Indonesia and Japan are among the countries affected by the COVID-19 pandemic. Education in the two countries relies on digital technology so learning is done online. This situation is interesting to study because this is the first time massive online learning has been implemented. The options are either studying online or picking up death. However, online learning of course must be well prepared so as not to leave a bad impact on students. The purpose of this study was to compare students' experiences during online learning during the pandemic between Indonesia and Japan. This research uses a phenomenological study with a qualitative approach. Data collection techniques were through interviews with 30 college students as informants consisting of several universities in Indonesia and Japan. The results of this study are that Indonesian students still experience synchronous and asynchronous obstacles, consisting of technical and non-technical obstacles. Technically with regard to internet networks. Meanwhile, non-technical means that students are not ready to follow online learning so assistance is needed. Students in Indonesia also need time to adapt to using technology. Meanwhile, online learning in Japan has no obstacles. Even online situations are designed to be like classroom learning environments. Lecturers apply a collaborative adaptive learning model by prioritizing an adaptation approach to situations. Adaptation is categorized as one of the aspects of online communication competence which is considered as a success factor in online learning in Japan.
Komunikasi Virtual Saat Hari Raya Idul Fitri Pada Masa Covid-19
Henhen Siti Rugoyah;
Dasrun Hidayat
Dialektika Vol 9 No 1 (2022): Maret
Publisher : Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Langlangbuana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32816/dialektika.v9i1.2113
Pandemi Covid-19 di Indonesia yang sudah berlangsung kurang lebih 2 tahun ini membuat pemerintah terus melakukan berbagai strategi dalam mengatasi virus covid-19 diantaranya pembatasan mobilitas masyarakat terlebih pada perayaan hari raya idul fitri 1442 H, dimana masyarakat dilarang untuk mudik. Namun pada pelaksanaannya penerapan kebijakan larangan mudik menuai pro dan kontra. Untuk mensiasati kondisi tersebut kebanyakan masyarakat memanfaatkan teknologi digital melalui Relationship Virtual. Namun demikian, kondisi tersebut menimbulkan masalah baru yaitu apakah relationship virtual dapat menggeser tradisi silaturahmi secara tatap muka dan masyarakat dapat menerima kondisi tersebut pada hari raya idul fitri 1442 H. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menempatkan peneliti sebagai bagian peranan dari masyarakat dan menguraikan data yang ditemukan di lapangan menggunakan teknik observasi, wawancara serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat adanya pergeseran budaya, yaitu tradisi mudik sebelum pandemi dan hambatan-hambatan yang terjadi di masa adaptasi kebiasaan baru setelah adanya komunikasi virtual.
Pengetahuan dan Perilaku Masyarakat Memaknai Social Distancing
Novian Agung Pratama;
Dasrun Hidayat
Jurnal Digital Media dan Relationship Vol 2 No 1 (2020): Jurnal Digital Media & Relationship
Publisher : LPPM Universitas ARS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51977/jdigital.v2i1.270
Penelitian ini fokus membahas tentang social distancing. Penelitian dilatar belakangi oleh beragamnya pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat dalam memaknai social distancing. Situasi ini mengakibatkan pelaksanaan social distancing juga berbeda di tiap masyarakat. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang social distancing. Hal ini untuk mengukur tingkat pemahaman mereka terkait kebijakan pemerintah membatasi jarak interaksi dan menghindari kerumunan sebagai upaya memutus mata rantai COVID-19. Untuk menjawab tujuan tersebut peneliti menggunakan studi deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data melalui wawancara online bersama para informan yaitu masyarakat di kota Bandung. Informan ditetapkan berdasarkan teknik purposif. Pada penerapan teknik tersebut peneliti terlebih dahulu menetapkan kriteria informan. Adapun kriterianya adalah mereka yang berdomisi di kota Bandung dan sekitarnya. Usia produktif antara 18-45 tahun, mengetahui kebijakan tentang social distancing, dan bersedia untuk dijadikan informan. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa social distancing sebagian besar sudah diketahui dan dipahami oleh masyarakat sebagai strategi pencegahan penyebaran COVID-19. Namun, masih ada yang melanggar ketentuan tersebut karena alasan ekonomi dan relasi sosial. Ekonomi terkait dengan nafkah sehari-hari, khususnya bagi kelompok masyarakat kelas bawah. Sedangkan aspek relasi sosial muncul karena masih ada keyakinan bahwa social distancing akan mengakibatkan hubungan sosial menjadi jauh.
Employee Engagement dalam Konteks Government Public Relations
Muhammad Raji Alfathian;
Dasrun Hidayat
Jurnal Digital Media dan Relationship Vol 2 No 2 (2020): Jurnal Digital Media & Relationship
Publisher : LPPM Universitas ARS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51977/jdigital.v2i2.282
Setiap perusahaan memiliki visi & misi. Untuk mencapai visi & misi tersebut, diperlukan karyawan yang loyal terahadap pekerjaanya. Loyalitas tersebut ditunjukkan melalui komitmen dalam menyelesaikan pekerjaan. Namun, untuk membangun komitmen tersebut, diperlukan adanya keterikatan (employee engagement) terhadap pekerjaan atau perusahaannya. Kondisi ini yang melatar belakangi pentingnya penelitian ini dilakukan. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah employee engagement merupakan hasil dari pencapaian positif di institusi pemerintah yakni Humas Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat (Humas Dinas TPH Jabar). Dinas TPH dipilih sebagai obyek dan subyek penelitian karena pada tahun 2019 pegawainya tercatat sebagai karyawan berprestasi. Untuk menjawab tujuan tersbut peneliti menggunakan studi kualitatif deskriptif. Data diambil dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan telaah dokumentasi. Wawancara melibatkan pegawai dan Humas Dinas TPH Jabar. Observasi melalui pengamatan secara tidak langsung ketika peneliti sedang melakukan praktek lapangan. Telaah dokumentasi melalui beberapa referensi seperti website institusi dan artikel ilmiah terkait. Hasil dalam penelitian ini ditemukan bahwa karyawan sudah terikat (engaged) dengan instansi dan pekerjaannya. Sehingga dengan adanya keterikatan tersebut, menghasilkan kinerja yang positif secara signifikan terhadap instansi.
FIGHTING THE DISINFODEMIC: FACT- CHECKING MANAGEMENT OF HOAX COVID-19 IN INDONESIA
Dasrun Hidayat;
Acep Rohendi;
Deri Hanafy D;
Maylanny Christin;
Nur'aeni Nur'aeni
Profetik: Jurnal Komunikasi Vol. 15 No. 2 (2022)
Publisher : Faculty of Social Sciences and Humanities Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/pjk.v15i2.1996
Indonesia was currently fighting disinfodemic COVID-19. During this situation, several hoaxes related to COVID-19 were circulating. Of course, the hoax news makes people even more worried and afraid. One way to prove the facts in that news is through a fact-checking system. This system is intended to check facts and verify information so that the truth can be identified. Fact-checking needs to be known by the public to suppress the spread of hoax news, especially related to the circulation of COVID-19 in Indonesia. Based on this phenomenon, the purpose of this study is to determine the informants’ experience related to the fact-checking process. The study informant referred to Mafindo, an internationally licensed fact-checking agency. To answer the objective of the research, the researcher used an ethnographic study of public relations with a qualitative approach. The ethnographic study of public relations focuses on examining communication activity planning using analysis units of Insight, Strategic Program, Program Implementation, Action, and Reputation or the IPPAR Model. The results of this study indicate that the Mafindo fact checker interprets the fact-checking for COVID-19 news as important, to reduce public concerns. The lack of reference sources to be used as data and evidence of hoax news becomes a challenge when doing fact-checking. The fact-checking phases include data collection, sorting, analyzing, and checking the results before publishing them to the public. The discussion is an effort to maintain the credibility of the results, image, and reputation of the fact-checker institution.
MESSAGE PLATFORM ATRIBUT SIGER LAMPUNG DI DALAM KEBHINEKAAN MULTIKULTUR
Dasrun Hidayat;
Engkus Kuswarno;
Feliza Zubair;
Hanny Hafiar
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 5, No 1 (2017): June 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (364.852 KB)
|
DOI: 10.24198/jkk.v5i1.9481
Penelitian ini fokus pada pengelolaan keberagaman dan kebinekaan di tengah masyarakat Lampung yang multikultur. Aspek yang dikaji yakni pesan komunikasi dan negosiasi nilai keragaman untuk mencapai kebbinekaan yang terdapat pada makna Siger. Menggunakan studi kasus dengan paradigma konstruktivis, penelitian ini menemukan bahwa bentuk Siger sebagai lambang kebesaran gelar yang dimiliki masyarakat adat Saibatin Lampung. Siger dengan 7 lekukan menggambarkan tentang posisi, perang dan tanggung jawab setiap gelar atau Juluk Adok. Lekukan pertama berukuran paling tinggi, artinya posisi paling depan menggambarkan posisi gelar tertinggi. Lekukan berikutnya dengan ukuran semakin pendek artinya posisi gelar yang berada di bawah posisi gelar sebelumnya dan seterusnya. Adat Saibatin mempunyai 7 gelar dengan pembagian dua wilayah Ke-Bandandakhan dan Ke-Sebatinan. Ke-Bandakhan terdiri dari gelar Sultan, Pangikhan, Dalom/Batin, Khaja, Khadin, Minak dan Kimas. Ke-Sebatinan meliputi gelar Dalom/Batin, Khaja, Khadin, Minak, Kimas, Mas, dan Layang. Message Platform yang ada pada atribut siger menonjolkan tentang identitas budaya yang menghasilkan integrasi budaya melalui pernikahan antar suku yang harus dikelola oleh setiap penerima gelar. Tanggung jawab untuk mengelola keberagaman adat istiadat di tengah kebinekaan masyarakat multikultur. Reputasi bahwa masyarakat Lampung ramah dan terbuka menjadi salah satu faktor perekat keberagaman menjadi kebinekaan.
Nilai-nilai budaya soméah pada perilaku komunikasi masyarakat Suku Sunda
Dasrun Hidayat;
Hanny Hafiar
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 7, No 1 (2019): June 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (390.744 KB)
|
DOI: 10.24198/jkk.v7i1.19595
Penelitian ini didasari oleh keingintahuan tentang budaya soméah sebagai ciri khas yang melekat pada masyarakat Suku Sunda. Penelitian bertujuan untuk mengetahui secara spesifik tentang nilai-nilai budaya soméah termasuk implikasi dan aplikasinya pada perilaku komunikasi masyarakat Suku Sunda. Untuk menjawab tujuan tersebut, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data melalui wawancara dan observasi. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma konstruktivis dan studi etnografi public relations, studi yang berfokus pada kajian budaya dengan pendekatan teori public relations. Penelitian menemukan bahwa budaya soméah mengandung nilai-nilai kerendahan hati, kesopanan dan keramahan. Nilai-nilai tersebut merepresentasikan brand personality masyarakat Suku Sunda. Hal ini selaras dengan filosofi hidup mereka yaitu Soméah Hade ka Sémah yang artinya ramah, bersikap baik, menjaga, menjamu dan membahagiakan setiap orang. Implikasi dan aplikasi nilai-nilai filosofi hidup tersebut terdapat pada setiap perilaku komunikasi yang terjadi secara berulang di lingkungan internal dan eksternal. Perilaku komunikasi dengan menggunakan bahasa punten dan mangga. Bahasa punten mengandung makna kerendahan hati. Sedangkan penggunaan istilah mangga sebagai wujud penawaran, ajakan, mempersilahkan dan permohonan. Hasil penelitian ini juga menemukan bahwa terdapat dua aspek yang membuktikan bahwa masyarakat Suku Sunda merupakan pribadi yang soméah, yakni selalu tampil menarik dengan wajah ramah dan murah senyum. Masyarakat Sunda juga memiliki selera humor yang tinggi. Kesimpulannya bahwa budaya soméah sebagai nilai kearifan lokal bertujuan untuk membangun dan menjaga hubungan berbasis budaya.
Analisis Semiotika Umberto Eco pada Nilai Budaya Patriarki dalam Unsur Sinematik Web Series Little Mom
Astuti, Gita;
Hidayat, Dasrun;
Kamarani, Dinar Dina
JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan Vol. 5 No. 11 (2022): JIIP (Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan)
Publisher : STKIP Yapis Dompu
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (298.118 KB)
|
DOI: 10.54371/jiip.v5i11.1082
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskontruksi dan menganalisis makna nilai-nilai budaya patriaki menggunakan unsur sinematik dalam Web Series Little Mom yang di tayangkan di platform WeTV Original tahun 2021. Dengan menggunakan teori semiotika yang dikembangkan oleh Umberto Eco dengan metode kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah ditemukan nilai-nilai budaya patriarki yang ditunjukan melalui tanda-tanda unsur sinematik dalam beberapa adegan dalam Web Series Little Mom. Adanya beberapa stigma pada isu sosial yang terdapat dimasyarakat Indonesia. Stigma-stigma tersebut ialah peran Naura dalam Web Series ini, bahwa perempuan yang tidak mempunyai hak untuk menolak sebuah pernikahan. peran nuara yang di-representasikan tidak mempunyai pilihan dan hak untuk berpendidikan, lalu bagaimana cara berpakaian naura dengan menggunakan rok mini yang memuat laki-laki tergoda, stigma lain yaitu posisi perempuan yang berapa di bawah laki-laki sehingga wanita harus tunduk pada pria.
PELAKSANAAN MODEL PEMBELAJARAN HYBRID DENGAN MENERAPKAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI DI SAAT PANDEMI COVID-19
Pasha Muhpriaji;
Dasrun Hidayat
JS (JURNAL SEKOLAH) Vol 6, No 2 (2022): Maret 2022
Publisher : Universitas Negeri Medan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (199.96 KB)
|
DOI: 10.24114/js.v6i2.34348
Abstract: The purpose of this study is to analyze the process of implementing a hybrid learning by applying communication technology during the COVID-19 pandemic. This research uses a qualitative approach with case studies. Data obtained from interviews and literature studies. Primary data obtained through interviews with informants. Interviews were conducted online and offline. Secondary data will be generated from data collection through literature studies in the form of books, reference journals and the internet. Data analysis used qualitative data analysis techniques. The results showed that during the meeting process and the learning mechanism was arranged according to the policy of the lecturer or the campus. There are two criteria for teachers in providing material, first before learning begins the lecturer provides material in advance so that students can learn it and the second way the lecturer gives an explanation first to students. During the faceto-face learning process, the capacity of students was forced to be limited and for some students who did not participate in the offline learning process, they carried out online learning activities. The process of merging the two learnings is carried out alternately with the intention that all students can be well controlled in the offline and online learning process. Furthermore, there are several obstacles experienced by lecturers and students including a lack of understanding of communication technology, unstable internet connections and barriers to interaction between lecturers and students.Keywords: COVID-19, Hybrid Learning, Communication TechnologyAbstrak: Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis proses pelaksanaan model pembelajaran hybrid dengan menerapkan teknologi komunikasi di saat pandemi COVID19. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus. Data diperoleh dari hasil wawancara dan studi literatur. Data primer didapatkan melalui wawancara terhadap informan. Wawancara dilakukan secara daring dan luring. Data sekunder akan dihasilkan dari pengumpulan data melalui studi literatur berupa buku, jurnal referensi dan internet. Analisis data menggunakan teknik analisis data kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada saat proses pelaksanaan pertemuan dan mekanisme pembelajaran diatur sesuai kebijakan dosen atau pihak kampus. Terdapat dua kriteria pengajar dalam memberikan materi, pertama sebelum pembelajaran dimulai dosen memberikan materi terlebih dahulu agar dapat dipelajari oleh mahasiswa dan cara yang kedua dosen memberikan penjelasan terbelih dahulu terhadap mahasiswa. Ketika proses pembelajaran tatap muka, kapasitas mahasiswa terpaksa dibatasi dan untuk sebagian mahasiswa yang tidak mengikuti proses pembelajaran luring maka mereka melakukan kegiatan pembelajaran secara daring. Proses penggabungan kedua pembelajaran tersebut dilakukan secara bergantian dengan maksud agar semua mahasiswa dapat terkontrol dengan baik di dalam proses pembelajaran luring maupun daring. Selanjutnya, terdapat beberapa hambatan yang dialami oleh dosen dan mahasiswa diantaranya yaitu kurangnya pemahaman mengenai teknologi komunikasi, koneksi internet yang kurang stabil dan hambatan interaksi antara dosen dengan mahasiswa.Kata kunci: COVID-19, Model Pembelajaran Hybrid, Teknologi Komunikasi