Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISA KESESUAIAN PERESEPAN OBAT PASIEN BPJS KESEHATAN DENGAN FORMULARIUM NASIONAL DI PUSKESMAS KABUPATEN TANGERANG TAHUN 2016 Trisna Lestari; Yusi Anggriani; Dian Ratih Laksmitawati
Jurnal Farmagazine Vol 6, No 2 (2019): Jurnal Farmagazine
Publisher : STF Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47653/farm.v6i2.144

Abstract

lJaminan kesehatan adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah. Salah satu tempat pelayanan kesehatan tingkat pertama melalui sistem jaminan kesehatan adalah Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS). Pemenuhan kebutuhan pasien berupa jenis obat yang harus tersedia pada peresepan dan pemesanan perlu disusun suatu daftar (formularium) dari semua obat yang ada di stok atau sudah tersedia. Dalam penggunaan obat di Puskesmas untuk pasien BPJS Kesehatan berpedoman pada standar terapi yang dikeluarkan oleh kementrian kesehatan yaitu formularium nasional (fornas) agar penggunaan obat pada pasien lebih rasional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesesuaian peresepan obat pasien BPJS Kesehatan dengan Formularium Nasional berdasarkan kelas terapi dan kesesuaian ketersediaan item obat formularium nasional dengan daftar item obat formularium nasional di Puskesmas Kabupaten Tangerang Tahun 2016. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif non eksperimental yang bersifat deskriptif. Hasil penelitian Kesesuaian peresepan Obat dengan Formularium Nasional Berdasarkan Kelas Terapi dari 10 besar tertinggi sudah mencapai 100%, pada kesesuaian total peresepean yang di resepkan di puskesmas kabupaten Tangerang baru mencapai > 80%. Sedangkan rata-rata proprosi item obat formularium nasional dengan daftar item obat formularium nasional maish sangat rendah >50%. Kesimpulan penelitian ini adalah peresepan obat pasien BPJS Kesehatan dengan Formularium Nasional berdasarkan kelas terapi di puskesmas kabupaten Tangerang tahun 2016 sudah sesuai sedangkan ketersediaan item obat formularium nasional dengan daftar item obat formularium nasional masih belum sesuai. Kata kunci : BPJS Kesehatan, Peresepan, Formularium nasional
Pengaruh Penerapan Jaminan Kesehatan Nasional Terhadap Profil Obat Pasien Hipertensi di Puskesmas Kecamatan Pulogadung Yudha Sukowati; Dian Ratih Laksmitawati; Yusi Anggraini; Mita Restina
Majalah Farmaseutik Vol 17, No 1 (2021)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v17i1.55194

Abstract

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah resmi dilaksanakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) pada Bulan Januari 2014. Perubahan yang mendasar adalah masalah pembiayaan. Sebelum JKN menggunakan metode Free For Service (FFS), sesudah JKN menggunakan metode Indonesian Case Base Groups (INA-CBGs). Salah satu penyakit kronis yang membutuhkan pelayanan komprehensif dan terjadinya peningkatan jumlah pasien salah satunya adalah Hipertensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh penerapan  metode Indonesian Case Base Groups (INA-CBGs)  pada program JKN terhadap profil pemenuhan obat pada pasien kronis hipertensi. Penelitian ini menggunakan desain longitudinal time series dengan alur penelitian data dilakukan secara retrospektif sebelum dan sesuah JKN dengan kriteria inklusi adalah pasien ASKES hipertensi yang merupakan pasien rutin dan melakukan rawat jalan di Puskesmas Kecamatan Pulogadung selama periode Januari 2013 – Desember 2015. Berdasarkan kriteria tersebut didapatkan sampel sebanyak 82 pasien. Data diambil berasal dari rekam medis, Laporan Permakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO), kartu stok, buku permintaan dan penerimaan obat, serta resep pasien hipertensi tahun 2013, 2014 dan 2015.  Data penelitian ini dianalisis menggunakan uji asosiatif hubungan kausal (sebab akibat) untuk melihat seberapa besar pengaruh penerapan untuk metode Indonesian Case Base Groups (INA-CBGs)  pada program JKN terhadap profil pemenuhan obat pada pasien kronis hipertensi dibandingkan dengan metode Free For Service (FFS). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada pasien hipertensi pada profil pengobatan menunjukkan tidak terdapat perbedaan sebelum dan sesudah JKN pada jumlah obat yang diterima oleh pasien, obat generik, kesesuaian dengan Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) dan Formularium Nasional (FORNAS).
Peran Farmasis Terhadap Tingkat Kepatuhan Minum Obat, Pengetahuan, dan Tekanan Darah Pasien Hipertensi Prolanis di Puskesmas Kecamatan Pulogadung Annisa Septyana Putri; Dian Ratih Laksmitawati; Sahat Saragi
Poltekita : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 16 No. 1 (2022): May
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/jik.v16i1.1104

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui tingkat kepatuhan minum obat, pengetahuan, dan tekanan darah pasien hipertensi prolanis sebelum dan sesudah intervensi farmasis. Metode penelitian adalah quasi eksperimental yang dilakukan secara prospektif. Populasi penelitian adalah seluruh pasien hipertensi yang datang berobat ke Puskesmas Kecamatan Pulogadung dengan jumlah sampel 39 orang. Edukasi diberikan dengan menggunakan bantuan penyebaran leaflet dan ceramah secara online yaitu dengan bantuan Google Meeting. Sedangkan untuk reminding dilakukan melalui penulisan pesan yang bersifat motivasi, reminder, jadwal minum obat, dan informasi-informasi lain yang terkait melalui Whatsapp Group. Analisis data menggunakan statistik Uji Wilcoxon, Uji Friedmaan. Hasil penelitian yaitu terdapat perbedaan yang signifikan skor pengetahuan, kepatuhan dan jumlah pil obat yang diminum responden sebelum dan setelah intervensi dengan nilai p = 0,000 (p < 0,05) dimana terdapat peningkatan skor pengetahuan sebesar 2.46, skor kepatuhan sebesar 1.1, peningkatan jumlah pil yang dikonsumsi pada bulan ke 3 menjadi 92,182. Tekanan darah diastole dan systole juga mengalami penurunan yang signifikan setelah intervensi (p = 0.000). Kesimpulan yaitu edukasi, konseling dan reminder yang dilakukan farmasis dapat meningkatkan kepatuhan minum obat, pengetahuan pasien, dan hasil tekanan darah pada pasien hipertensi prolanis
EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA PADA PASIEN PNEUMONIA KOMUNITAS DI INSTALASI RAWAT INAP RSPAD GATOT SUBROTO Iyan Hardiana; Dian Ratih Laksmitawati; Hesty Utami Ramadaniati; Sutarno
Majalah Farmasi dan Farmakologi Vol. 25 No. 1 (2021): MFF
Publisher : Faculty of Pharmacy, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/mff.v25i1.11555

Abstract

Resistensi antibiotik merupakan masalah yang serius karena dapat menyebabkan tidak tercapainya tujuanterapi, meningkatnya efek samping obat, dan pemborosan dari segi ekonomi. Penelitian ini bertujuan untukmengevaluasi penggunaan antibiotika pasien pneumonia komunitas di instalasi rawat inap RSPAD GatotSubroto. Penelitian ini bersifat cross sectional dengan pengambilan data secara prospektif di instalasi rawatinap periode September – November 2019. Penggunaan antibiotika dievaluasi menggunakan metode Gyssensselanjutnya dilakukan analisis korelasi antar kerasionalan dengan outcome terapi menggunakan uji Spearman.Hasil penelitian menunjukkan karakteristik pasien pneumonia komunitas berdasarkan kategori umur yangpaling banyak yaitu > 66 tahun dengan jumlah 23 pasien (53.49%), kategori jenis kelamin yang palingmendominasi laki – laki sebanyak 24 pasien (55.81%) dari jumlah total 43 pasien yang memenuhi kriteriainklusi. Berdasarkan hasil evaluasi penggunaan antibiotik dengan metode Gyssens diperoleh 28 pasienmenggunakan antibiotik dengan tepat (kategori 0) dan 15 pasien menggunakan antibiotik tidak tepat (kategoriI – VI). Antibiotika yang termasuk kategori IVA sebanyak 6 kasus (6.82%), kategori IVC sebanyak 2 kasus(2.27%), kategori IIIA sebanyak 5 kasus (5.68%), dan kategori IIIB sebanyak 9 kasus (10.23%). Analisis statistikmenunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara penggunaan antibiotika yang rasional dalammempengaruhi outcome terapi (r=0.533)
Pengaruh Gel Ekstrak Buah Okra (Abelmoschus esculentus L.) Pada Luka Mencit Hiperglikemik Pra Panca Bayu Chandra; Dian Ratih Laksmitawati; Deni Rahmat
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 3, No 2 (2022): Juli
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v3i2.9252

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian gel ekstrak buah okra (Abelmoschus esculentus L.) pada luka mencit dengan kondisi hiperglikemik berdasarkan parameter diameter luka dan pertumbuhan keropeng. Mencit jantan galur Mus musculus dikondisikan hiperglikemik dengan STZ dosis 0,06 mg/gBB. Mencit dibagi menjadi 8 kelompok, yaitu kelompok 1 (kontrol Non-DM/oral CMC Na+gel plasebo), kelompok 2 (kontrol DM/oral CMC Na+gel plasebo), kelompok 3 (uji I/oral CMC Na+gel ekstrak buah okra 12%), kelompok 4 (uji II/oral glibenclamide+gel plasebo), kelompok 5 (uji III/oral glibenclamide+gel ekstrak buah okra 12%), kelompok 6 (uji IV/oral ekstrak buah okra+gel plasebo), kelompok 7 (uji V/oral ekstrak buah okra+gel ekstrak buah okra 6%), kelompok 8 (uji VI/oral ekstrak buah okra+gel ekstrak buah okra 12%). Dosis glibenclamide 5 mg/KgBB, dosis ekstrak buah okra 400 mg/KgBB serta dosis CMC Na 5 mL/KgBB. Terapi diberikan 1 kali sehari (oral dan topikal) selama 15 hari terapi yang dilihat pada hari ke-0, 5, 11 dan 15. Hasil penelitian diameter luka mengalami penurunan dan pertumbuhan  keropeng meningkat pada mencit yang diberikan terapi kombinasi gel ekstrak buah okra dengan terapi oral dengan pengobatan. Pemberian kombinasi gel ekstrak buah okra secara topikal dengan ekstrak buah okra secara oral selama 15 hari terapi mampu menurunkan diameter luka dan meningkatkan pertumbuhan keropeng dibandingkan dengan pemberian tanpa kombinasi atau hanya secara oral. Kata kunci : Gel Ekstrak Buah Okra; Diameter Luka; Pertumbuhan Keropeng; Luka Mencit Hiperglikemik.ABSTRACTThis study aimed to examine the effect of giving okra fruit extract gel (Abelmoschus esculentus L.) in mice with hyperglycemic conditions based on wound diameter and scab growth parameters. Mus musculus male mice were hyperglycemic with STZ at a dose of 0.06 mg/gBW. Mice were divided into 8 groups, namely group 1 (non-DM control/oral CMC Na+gel placebo), group 2 (DM control/oral CMC Na+gel placebo), group 3 (test I/oral CMC Na+gel fruit extract okra 12%), group 4 (test II/oral glibenclamide+placebo gel), group 5 (test III/oral glibenclamide+okra fruit extract gel 12%), group 6 (test IV/oral okra fruit extract+placebo gel), group 7 (test V/oral okra fruit extract + okra fruit extract gel 6%), group 8 (test VI/oral okra fruit extract + okra fruit extract gel 12%). The dose of glibenclamide is 5 mg/KgBW, the dose of okra fruit extract is 400 mg/KgBW and the dose of CMC Na is 5 mL/KgBW. Therapy was given once a day (oral and topical) for 15 days of therapy which was seen on days 0, 5, 11 and 15. The results of the study decreased wound diameter and increased scab growth in mice given combination therapy of okra fruit extract gel with therapy orally with treatment. Administration of a combination of topical okra fruit extract gel with okra fruit extract orally for 15 days of therapy was able to reduce wound diameter and increase scab growth compared to administration without the combination or only orally.Keywords : Okra Fruit Extract Gel; Wound Diameter; Scab Growth;Hyperglycemic Mice; Wound.
Evaluasi penggunaan obat dan identifikasi drug related problem (DRP) pada pasien pneumonia di ruang rawat inap rumah sakit umum pusat Fatmawati Jakarta (periode Desember 2014 – Februari 2015) Diar Gustianti Istita; Dian Ratih Laksmitawati; Magdalena Niken
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.74 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v14i1.2391

Abstract

Evaluation of drug use and drug related problem identification among patients with pneumoniaBackground : Pneumonia is still a public health problem cause in mortality of due to this disease in various countries. Based on the burden of the Global Disease Study in 2010 which reported 90% of pneumonia cases occurring at the age of 65 years and pneumonia became the greatest need after ischemic heart disease, stroke and chronic obstructive pulmonary disease (COPD) in European countries. The high incidence of pneumonia needs  treatment therapy as accurate  and rationally, to ensure that the drugs used are appropriate, safe, and efficient.Purpose:  To evaluation of drug use and drug related problem identification among patients with pneumonia at Fatmawati General Hospital, December 2014-February 2015Method: This study uses a cross sectional study design by observing samples and analyzing the data descriptively. The flow of data collection is prospective among patients with pneumoniaResults: 25 cases of DRP occurrences. From 30 patients found 18 patients who experienced DRP events with a total of 25 cases, in this case 1 patient could experience more than 1 case of DRP events. In this study the most cases occurred in the domain (P1.2), namely the effect of the drug is not optimal as many as 20 cases (80%) with causes of DRP associated with drug dose selection (C.3) include (C3.1) less than a number of doses \ / 2 cases (8%), (C3.4) the frequency of administration was 15 cases (60%), then (C3.2) overdose of 3 cases (12%).Cases that often arise are in the category of dose selection caused by (C3.4) the frequency of administration is lacking. There were 15 patients who received ranitidine injection at a dose of 50 mg every 12 hours per day, whereas the dose listed in the Drugs Information of Handbook library was 50 mg every 6-8 hours per day. The doctor's consideration in giving ranitidine dose 2x50 mg / day is as a prophylactic therapy for the use of several drugs that can increase stomach acid production such as corticosteroids, NSAIDs, NSAID drugs combined with aspirin, and anticoagulant drugs.Conclusion : Knowing that the 5 most therapeutic drug classes used in Fatmawati General Hospital are 30 patients (100%) antibiotics, 30 patients (100%) bronchodilators, 28 patients (93%) anti-peptic ulcer, anti-hypertension. 23 patients (77%) and mucolytic 22 patients (77%). The results showed that there were 18 Drug Related Problems (DRP) patients experiencing DRP events out of 25 total cases, the majority of DRP events were in the domainKeywords: Evaluation; Drug use; Drug Related Problem; Identification; Patients; PneumoniaPendahuluan : Pneumonia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat menyebabkan kematian akibat penyakit ini di berbagai negara. Berdasarkan Global Burden of Disease Study pada 2010 yang melaporkan 90% kasus pneumonia terjadi pada usia 65 tahun dan pneumonia menjadi masalah terbesar setelah penyakit jantung iskemik, stroke dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) di negara-negara Eropa. Tingginya insiden pneumonia dapat menimbulkan risiko kematian, sehingga terapi pengobatan harus dilakukan secara rasional, untuk memastikan bahwa obat yang digunakan sesuai, aman, dan efisien.Tujuan : Untuk mengevaluasi penggunaan obat dan mengetahui ada tidaknya permasalahan terkait obat (DRPs) pada pasien Pneumonia.Metode: Menggunakan desain cross sectional dengan mengamati sampel dan menganalisis data secara deskriptif. Pengumpulan data prospektif pada pasien dengan pneumonia di bangsal rumah sakit.Hasil: Diperoleh 25 kasus kejadian DRP. Dari 30 pasien ditemukan 18 pasien yang mengalami kejadian DRP dengan total kasus sejumlah 25, dalam hal ini 1 pasien dapat mengalami lebih dari 1 kasus kejadian DRP. Dalam penelitian ini kasus terbanyak terjadi pada domain (P1.2) yaitu efek obat tidak optimal sebanyak 20 kasus (80%) dengan penyebab DRP yang berkaitan dengan pemilihan dosis obat (C.3) meliputi (C3.1) dosis kurang sejum\/lah 2 kasus (8%), (C3.4) frekuensi pemberian kurang sejumlah 15 kasus (60%), kemudian (C3.2) dosis berlebih sebanyak 3 kasus (12%). Kasus yang sering muncul yaitu pada kategori pemilihan dosis yang disebabkan (C3.4) frekuensi pemberian kurang. Terdapat 15 pasien yang mendapatkan ranitidin injeksi dengan dosis 50 mg tiap 12 jam perhari, sedangkan dosis yang tercantum dalam pustaka Drugs Information of Handbooks yaitu 50 mg tiap 6-8 jam perhari. Pertimbangan dokter dalam memberikan dosis ranitidine 2x50 mg/hari yaitu sebagai terapi profilaksis terhadap penggunaan beberapa obat yang dapat meningkatkan produksi asam lambung  seperti  kortikosteroid,  NSAID,  Obat  NSAID  yang  dikombinasi dengan aspirin, dan obat antikoagulan.Simpulan: Diketahui bahwa 5 kelas terapi obat terbanyak yang digunakan di RSUP Fatmawati adalah antibiotik sebanyak 30 pasien (100%), bronkodilator sebanyak 30 pasien (100%), anti tukak lambung sebanyak 28 pasien (93%), anti hipertensi sebanyak 23 pasien (77%) dan mukolitik sebanyak 22 pasien (77%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Drug Related Problem (DRP) terdapat 18 pasien mengalami  kejadian  DRP  dari  25  jumlah  total  kasus,  mayoritas  kejadian  DRP terdapat pada domain
Evaluasi Klinis dan Efek Samping Terapi Obat Antivirus Pada Pasien Covid-19 Di RSPAD Gatot Soebroto Jeanette Mangiwa; Ros Sumarny; Dian Ratih Laksmitawati; Renni Septini
Poltekita : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 16 No. 2 (2022): August
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/jik.v16i2.1333

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa hubungan jenis obat antivirus Covid-19 dengan outcome klinis dan lama rawat berdasarkan derajat keparahan Covid-19 di ruang rawat inap Paviliun Soehardo Kertohusodo RSPAD Gatot Soebroto Jakarta. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dan pengambilan data secara retrospektif melalui rekam medis periode bulan September - November tahun 2020. Sampel adalah pasien Covid-19 derajat sedang dan berat. Data demografi dan klinis pasien serta profil pengobatan dianalisis secara deskriptif berdasarkan derajat keparahan Covid-19. Analisis data yaitu uji Spearman’s rho. Hasil menunjukkan terdapat 79 pasien Covid-19 yang memenuhi kriteria inklusi dengan derajat sedang 62,03% dan derajat berat 37,97%. Penggunaan antivirus pada derajat sedang yaitu oseltamivir sebanyak 28 pasien (57,14%), favipiravir 13 pasien (26,53%) sedangkan penggunaan antivirus pada derajat berat adalah oseltamivir & favipiravir. Hubungan lama status positif RT-PCR dan lama rawat terhadap derajat keparahan Covid-19 diperoleh p <0,05. Hubungan profil penggunaan obat antivirus dengan derajat keparahan Covid-19 diperoleh p=0,00. Hubungan jenis regimen obat antivirus dengan nilai skala rasio parameter klinik d-dimer pre p=0,01 dan post p=0,03 dan parameter klinik SGPT (pre) p=0,04 da (post) p=0,00 pada derajat berat. Kesimpulan yaitu terdapat hubungan yang signifikan profil penggunaan regimen obat antivirus dengan derajat keparahan Covid-19 dan terdapat hubungan yang signifikan pada penggunaan obat penunjang yaitu antikoagulan, antihistamin, obat gangguan saluran cerna dan obat hepaprotektor dengan derajat keparahan Covid-19
Pengaruh Penerapan PROLANIS Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Di Puskesmas Kota Bekasi Lia Warti; Dian Ratih Laksmitawati; Prih Sarnianto
Jurnal Farmasi Indonesia Vol 19 No 2 (2022): Jurnal Farmasi Indonesia
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31001/jfi.v19i2.1481

Abstract

Prolanis is Chronic Disease Management Program; where this program is an integrated health service program and involves other parties such as BPJS, health facilities and patients. Clinical outcomes ultimately impact the quality of life and, in general, if the quality of life grows well, which is indicated by controlled glucose levels. The result of this research is to know the impact of applying Prolanis to measure the quality of life in type 2 Diabetes Mellitus patients at Pekayon Jaya Health Center and Pengasinan Health Center. The method used in this research is a cohort study with data analysis of SPSS version 24. The study was conducted on 80 patients consisting of 40 prolanis patients at Pekayon Jaya Health Center and 40 non-prolanis patients at Pengasinan Health Center within a period of 3 (three) months. Data on the level of knowledge and compliance were collected using a questionnaire. GDP data was taken from monthly patient control visits, and quality of life data was taken using the European Quality of Life-5 Dimension-5 Level (EQ-5D-5L) instrument and the conversion of health utility to the Indonesian value set. The result is there is a significant effect of applying prolanis program in prolanis and non-prolanis patients on the level of knowledge, compliance, and GDP in describing the quality of life. The utility value of prolanis patients was 0.945±0.101 higher than non-prolanis patients, 0.769±0.197. Based on the level of knowledge of prolanis and non-prolanis patients (34.35±2.13: 28.47±4.09), prolanis and non-prolanis patient compliance (6.38±1.66: 5.11±1.45), and fasting blood sugar values ​​of prolanis and non-prolanis patients (110.05±20.67 : 144.20±29.10). The application of Prolanis is said to have a considerable influence on the level of discipline, knowledge, and GDP to the quality of life of patients, both prolanis and non-prolanis.
The Potency of Alpinia galanga as Natural Antioxidant Dian Ratih Laksmitawati; Diah Kartika Pratami; Wahyu Widowati; Hanna Sari Widya Kusuma; Cahyaning Riski Wijayanti; Rizal Rizal
Majalah Obat Tradisional Vol 27, No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mot.72450

Abstract

An antioxidant is a chemical compound that can bind free radicals in the body. Reactive oxidative species (ROS) is a reaction that involves oxygen. ROS consists of free radicals and non-radical ones. The imbalance between ROS and antioxidants can cause oxidative stress, one of the factors contributing to the development of numerous diseases. This study aims to evaluate the possible antioxidant activity of lengkuas extract (LE), which may be employed as a medicine component to reduce ROS. The method that used in this research were total phenolic content, total flavonoid content, 2,2 diphenyl 1 picrylhydrazyl (DPPH) scavenging, hydrogen peroxide (H2O2), NO scavenging, 2,2′-Azinobis(3-Ethylbenzthiazoline-6-Sulfonate) (ABTS), and ferric reducing antioxidant power (FRAP). The result shows that the TPC of LE was 6.80 ± 0.34 (GAE) µg/mg with gallic acid standard and the TFC was 3.39 ± 0.06 µg/mg by quercetin standard. The IC50 value of LE were 121.20; 87.65; 139.94; 181.09 µg/ml by ABTS, DPPH, NO, and H2O2 assay respectively. The scavenging activity of LE was increased with a higher concentration in every method. In conclusion, Alpinia galanga has the potential as an antioxidant. Thus, it can be widely consumed or used as a mixture in medicine to reduce ROS.
Pengaruh Penerapan Clinical Pathway pada Peresepan Antibiotik Pasien Tifoid Anak di Rumah Sakit Swasta X Kota Bogor Oriza Safrini; Dian Ratih Laksmitawati; Hesty Utami Ramadaniati
JURNAL KESEHATAN POLTEKKES KEMENKES RI PANGKALPINANG Vol 10, No 2 (2022): JKP Desember 2022
Publisher : Poltekkes Kemenkes Pangkalpinang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32922/jkp.v10i2.580

Abstract

Latar belakang: Demam tifoid merupakan masalah kesehatan yang terpenting. Berdasarkan data WHO (World Health Organization) tifoid terjadi hampir di seluruh dunia. Angka kejadian demam tifoid di Indonesia paling tinggi pada usia 6 sampai 10 tahun sebesar 91%; Clinical pathway (CP) dibuat untuk mengurangi variasi antibiotik di rumah sakit terutama pada pasien rawat inap.Tujuan: Mengetahui pengaruh implementasi clinical pathway terhadap peresepan antibiotik untuk pasien Tifoid anak di ruang rawat inap Rumah Sakit Swasta X di BogorMetode: Penelitian ini bersifat observasional comparative study membandingkan peresepan antibiotik sebelum penerapan CP dan setelah penerapan CP. Kami menilai profil antibiotik, lama rawat dan kesesuaian pilihan antibiotik dengan pedoman yang digunakan kemudian membandingkan sebelum dan setelah penerapan clinical pathway. Uji Chi square digunakan untuk membandingkan rasionalitas penggunaan antibiotik, lama rawat dan kesesuaian pilihan antibiotik dengan pedoman.Hasil: Diperoleh sampel sebanyak 81 orang sebelum penerapan CP dan 78 orang setelah penerapan CP. Sebelum penerapan CP penggunaan antibiotik rasional sebanyak 48.88% dan setelah penerapan CP meningkat menjadi 67.05%. (p = 0,016). Berdasarkan hasil uji statistik menujukkan pasien yang memiliki lama rawat ≤ 5 hari sebelum penerapan clinical pathway sebanyak 52 pasien (64.19%) dan sebelum penerapan clinical pathway sebanyak 68 pasien (87.17%) (p = 0,001). Sebanyak 68,89% pemilihan antibiotik sebelum penerapan clinical pathway telah sesuai dengan pedoman tata laksana dan setelah penerapan clinical pathway meningkat menjadi 88.64%. (p = 0,001)Kesimpulan: Implementasi clinical pathway di Rumah Sakit X di kota Bogor telah meningkatkan rasionalitas penggunaan antibiotik
Co-Authors . Syamsudin Ahmad Faried Ana Yupita Liza Andayani, Nurita Andreas Infianto Ani Retno Prijanti Annisa Septyana Putri Ayu Werawati Bagus Bahtiar Bambang Ponco Priosoeryanto Cahyaning Riski Wijayanti Caroline Tan Sardjono CAROLINE TAN SARDJONO Chandra, Pra Panca Bayu Claudia Tiffani Dedy Kurniawan Deni Rahmat Deni Rahmat Devina Harti Syaputri Diah Kartika Pratami Diar Gustianti Istita Edwin Tomasoa Effionora Anwar Effionora Anwar Elisabeth Ninung Yuliarti Esti Mumpuni Esti Mumpuni Esti Mumpuni Esti Mumpuni, Esti Faradiba Faradiba Faridah Faridah Ferry Sandra Hanna Sari W Kusuma Hanna Sari Widya Kusuma HARI PURNOMO Hendig Winarno Hendig Winarno Hesti Utami Ramadaniati Hesti Utami Ramadaniati Hikariastri, Pangartika Indah Zahara Ivans Panduwiguna James Ibrahim Jayati, Turpuk Mannaria Jeanette Mangiwa Jeanne A. Pawitan Jeanne Adiwinata Pawitan Juliana Irem Adriana Purukan Katharina Aditya Candra Utukaman Kusmardi Kusmardi Kusmardi Kusmardi Laili Savitri Noor Laksono Trisnantoro Larasinta, Nadia Lia Warti Liliek Nurhidayati Magdalena Niken Oktovina Marwati, Umi Marybet Tri Retno Handayani Meilda Ayu Bathini Mita Restina Moch Futuchul Arifin Mohamad Sadikin Mohammad Sadikin Mokhamad mahroji Muhammad Hanafi Mulatsari, Esti Noor, Laili Savitri Novia Maulina Novia Maulina Nuraini Nuraini Nurita Andayani Okta, Fauzia Noprima Oriza Safrini Oriza Safrini Panca, Pra Panca Bayu Chandra Pangartika Hikariastri Partana, Citra Prastuti Partomuan Simanjuntak Patminingsih, Nanik Pra Panca Bayu Chandra Pra Panca Bayu Chandra Prasasta Sutedjo Prih Sarnianto Prih Sarnianto Prih Sarnianto Prilasari, Sharon Alia Rachmawati Noverina RAHMAT, DENI Rahmawati, Siti Irma Ramadaniati, Hesty Utami Ranald Irwanto Ratih Rinendyaputri Renni Septini Rikkit Sihombing Rilianawati Rilianawati Riska Eka Putri, Riska Eka Rizal Rizal Rizal Rizal Ronald Irwanto Ronald Irwanto Natadidjaja ROS SUMARNY Ros Sumarny Ros Sumarny Rudi Asmajaya Sahat Saragi Sampurno Sampurno Sampurno Sampurno Sarwono Waspadji Seila Arumwardana Selvy Devita Anggeraini Shelly Taurhesia Simbolon, Roslan Simbolon, Roslan Siti Umroh Noor Sutarno Syamsudin Abdillah Teulis Sumiartini Tomasoa, Edwin Trisna Lestari Umi Marwati Utukaman, Katharina Aditya Candra Vergie Indriani Wahono Sumaryono Wahyu Widowati Wahyu Widowati Wireni Ayuningtyas Yoppy Mayrosa Yudha Sukowati Yusi Anggraini Yusi Anggriani Yusi Anggriani Zahara, Indah