Articles
ASSESSMENT SISTEM SUMBER INDUSTRI KECIL DI DESA SUKAMAJU KECAMATAN MAJALAYA KABUPATEN BANDUNG
Meilanny Budiarti Santoso
Share : Social Work Journal Vol 3, No 2 (2013): Share Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/share.v3i2.10023
Industri kecil sering kali menghadapi berbagai permasalahan. Persoalan utama yang biasanyadihadapi oleh industri kecil adalah keterbatasan modal dalam artian tidak mempunyai aksesterhadap sumber modal seperti kredit dari perbankan serta terbatasnya akses ke pasar untukmemasarkan hasil industri mereka. Banyak faktor yang dapat menghambat perkembangan industrykecil. Namun, tersimpan berbagai potensi yang membuat industri kecil tetap mampu bertahan,bahkan berkembang dalam situasi krisis. Salah satu potensi yang dimiliki industri kecil adalahkeberadaannya yang berbasis pada komunitas. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian yangtelah dilakukan, di mana terungkap bahwa kekuatan atau sumber potensial yang dimiliki oleh parapengusaha industri kecil adalah ketekunan, motivasi dan visi dalam bekerja sehingga dapatmenghasilkan usaha yang mampu bertahan dan bersaing di tengah gejolak krisis dan persainganglobal. Sistem sumber informal yang mereka miliki adalah hubungan-hubungan sosial di antarasaudara, kerabat dan tetangga sehingga membentuk jaringan sosial informal. Sistem sumberformal yang dimanfaatkan oleh sebagian pengusaha adalah Bank, Departemen Kesehatan RI danMajelis Ulama Indonesia (MUI). Koperasi dan asosiasi pedagang merupakan sistem sumberkemasyarakatan yang dapat membantu pengembangan maupun perkembangan usaha.
FAKTOR PENYEBAB TERGABUNGNYA REMAJA KOTA BANDUNG DALAM KOMUNITAS KENAKALAN REMEJA
Yustika Tri Dewi;
Meilanny Budiarti S.;
Sahadi Humaedi;
Budhi Wibhawa
Share : Social Work Journal Vol 7, No 1 (2017): Share Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (167.109 KB)
|
DOI: 10.24198/share.v7i1.13807
Kenakalan remaja merupakan hal yang tidak jarang kita temui saat ini. Kenakalan remaja pun tak urung timbul dari sebuah komunitas remaja. Tawuran antar pelajar dari komunitas-komunitas di sekolah, ugal-ugalan di jalan raya, berpesta minuman keras adalah sebagian contoh dari tindakan kenakalan remaja dalam komunitas. Kenakalan remaja tersebut dapat terjadi dari pengaruh suatu komunitas. Remaja di Kota Bandung sudah sangat akrab dengan budaya yang mengharuskan seorang remaja masuk ke dalam komunitas. Akibatnya, Kota Bandung terkenal dengan komunitas antar sekolah untuk para remaja, komunitas geng motor dan komunitas lainnya. Sayangnya banyak pandangan negatif karena biasanya komunitas remaja sering melakukan tindak kenakalan dan tak jarang meresahkan lingkungan serta masyarakat sekitar. Padahal sudah cukup diakui secara global adanya tindak kenakalan remaja disebabkan faktor-faktor tertentu. Jika sudah banyak penelitian yang mencari faktor penyebab adanya tindak kenakalan remaja, penelitian ini lebih memfokuskan kepada faktor faktor penyabab masuknya remaja dalam komunitas yang sering melakukan tindak kenakalan remaja. Dengan cara observasi langsung dan wawancara mendalam dengan anggota komunitas yang terkenal sering melakukan tindak kenakalan, diharakpakn penelitian ini dapat menyimpulkan fakor penyebab yang mendukung remaja bergabung. Faktor penyebab remaja bergabung dalam sebuah komunitas kenakalan remaja, diyakini mempunyai dua faktor penentu yaitu faktor pendorong dan faktor penarik.
PERUBAHAN PERILAKU MASYARAKAT JAWA BARAT DALAM MELAKSANAKAN ADAPTASI KEBIASAAN BARU DI MASA PANDEMI COVID-19
Moch Zaenudiin;
Dessy Hasanah Siti Asiah;
Meilanny Budiarti Santoso;
Aldi Ahmad Rifai
Share : Social Work Journal Vol 11, No 1 (2021): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/share.v11i1.31681
Coronavirus disease atau COVID-19 merupakan jenis virus baru yang telah menyebabkan krisis kesehatan di seluruh dunia termasuk Indonesia. Mudahnya penyebaran virus dan tingginya peningaktan kasus, mendorong pemerintah untuk melalukan berbagai kebijakan baru untuk menghentikan laju penyebran virus corona. Salah satu kebijakan daerah yang dilakukan yaitu oleh Pemerintah Jawa Barat mengenai Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Kebijakan ini mendorong masyarakat untuk melalukan perubahan perilaku baru selama pandemi COVID-19 dengan melakukan protokol kesehatan selama beraktivitas di luar rumah. Penelitian ini melihat bagaimana persepsi masyarakat berdasrakan faktor fisiologi mendorong masyarakat di Jawa Barat dalam melakukan AKB. Jenis penelitian ini adalah kuantiatif dengan melakukan survei pada 156 orang masyarkat di Jawa Barat. Hasil analisis dari perubahan perilaku masyarakat mennjukan mayoritas masyarakat telah memiliki wawasan yang baik terhadap AKB dan terdorong untuk melakukan AKB selama pandemi COVID-19 berlangsung.
PRAKTIK PEKERJAAN SOSIAL BERBASIS HAK ASASI MANUSIA
Meilanny Budiarti Santoso;
Nurliana Cipta Apsari
Share : Social Work Journal Vol 6, No 1 (2016): Share Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (415.755 KB)
|
DOI: 10.24198/share.v6i1.13147
Jika orang dianggap memiliki hak, maka hal ini ada implikasinya dengan kewajiban, baik negara maupun individu, untuk memastikan bahwa hak-hak tersebut dilindungi dan diwujudkan. Tulisan ini bermaksud menjelaskan bagaimana Hak Asasi Manusia (HAM) digunakan sebagai dasar untuk praktik pekerjaan sosial. Praktik pekerjaan sosial berbasis HAM muncul sebagai alternatif pendekatan praktik yang sejak pertama kali pembentukan profesi pekerjaan sosial ini mengandalkan pada pemenuhan kebutuhan individu. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan yang berkaitan dengan praktik-praktik pekerjaan sosial berbasis hak asasi manusia. Praktik pekerjaan sosial berbasis HAM perlu dikaji secara rinci, karena dalam praktik pekerjaan sosial, hak dan kewajiban memiliki implikasi yang signifikan demi tercapainya keadilan sosial bagi setiap individu. Praktik pekerjaan sosial dengan menggunakan pendekatan berbasis hak dilaksanakan berdasarkan tiga generasi hak. Dengan menggunakan pendekatan berbasis hak, pekerja sosial telah mengangkat harkat dan martabat klien sebagai individu dan mendorong setiap individu untuk berperan aktif dalam mengidentifikasi dan menggunakan potensi yang ada pada dirinya dan lingkungannya untuk menghadapi tantangan yang mereka alami. Praktik pekerjaan sosial berdasarkan hak membantu individu mengatasi tantangan keberfungsian sosial mereka dan memfasilitasi mereka mendapatkan keadilan sosial.
MENGGAGAS SOCIAL ENTERPRISE MELALUI AKTIVITAS MESJID KAMPUS
Hadiyanto Abdul Rachim;
Dudi Dudi;
Meilanny Budiarti Santoso
Share : Social Work Journal Vol 8, No 2 (2018): Share: Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (145.448 KB)
|
DOI: 10.24198/share.v8i2.19036
Penelitian ini mengambil isu tentang upaya menggagas social enterprise melalui aktivitas mesjid kampus. Masalah utama yang menjadi sorotan adalah bagaimana mengoptimalkan peran mesjid kampus sebagai pusat kegiatan ritual dan intelektual di kampus menjadi fungsi yang komprehensif dalam bingkai kegiatan social enterprise. Metode penelitian menggunakan Participation Action Research dengan mesjid kampus Universitas Padjadjaran sebagai obyek penelitian dan informan dalam penelitian ini adalah para pengurus harian mesjid kampus Unpad. Hasil penelitian menyatakan bahwa proses pemberdayaan mesjid kampus Unpad sebagai PTNBH melalui kegiatan social enterprise telah dirancang melalui pembuatan cetak biru pembinaan mesjid kampus Unpad yang berisi visi, misi, dan program dasar pembinaan mesjid kampus Unpad 2015-2020 dengan berorientasi kepada performance value organisasi mesjid Unpad yaitu Cerdas, Ukhuwah, dan Maslahat. Salah satu kegiatan social enterprise yang telah diinisiasi mesjid kampus Unpad adalah pembentukan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Unpad dan kegiatan warung mesjid. Kedua kegiatan tersebut telah memberi dampak positif dalam menunjang berbagai kegiatan di mesjid Unpad. Masih diperlukan dukungan pimpinan universitas dalam penguatan kelembagaan, kesungguhan dan kreativitas pengelola mesjid kampus untuk pengembangan program dasar mesjid kampus Unpad.
INTERVENSI PEKERJA SOSIAL TERHADAP ORANG DENGAN SKIZOFRENIA
Meilanny Budiarti Santoso;
Hetty Krisnani;
Ifani Hadrasari
Share : Social Work Journal Vol 7, No 2 (2017): Share Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (246.604 KB)
|
DOI: 10.24198/share.v7i2.15679
Skizofrenia adalah salah satu gangguan jiwa paling berat. Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang ditandai dengan gangguan utama dalam pikiran, emosi, dan perilaku-pikiran yang terganggu, dimana berbagai pemikiran tidak biasa dan tidak sesuai; dan berbagai gangguan aktivitas motorik yang bizarre. Skizofrenia membutuhkan intervensi dari berbagai multidisipliner, salah satunya adalah Pekerja Sosial.Pekerja Sosial bekerja dalam seting generalis, dan bisa memasuki bidang kesehatan jiwa. Intervensi yang dilakukan oleh pekerja sosial akan berbeda dengan profesi lain, meski melalui cara yang sama namun bisa berbeda dalam proses penanganannya. Oleh karena itu, terdapat keterkaitan dengan orang dengan Skizofrenia dengan profesi pekerjaan sosial.
TRANSFORMASI NILAI SOSIAL BUDAYA MENJADI KEUNTUNGAN EKONOMI: REFLEKSI HASIL PERHITUNGAN SOCIAL RETURN ON INVESTMENT (SROI) PROGRAM SIBA BATIK KUJUR
Meilanny Budiarti Santoso;
Sahadi Humaedi;
Santoso Tri Raharjo;
Hendri Mulyono
Share : Social Work Journal Vol 11, No 1 (2021): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/share.v11i1.33210
Idealnya program corporate social responsibility (CSR) merupakan investasi sosial bagi perusahaan, sehingga di kemudian hari akan mendatangkan keuntungan tidak hanya bagi perusahaan melainkan juga menciptakan perubahan dan manfaat bagi stakeholders program. Terhadap program investasi sosial tersebut, perusahaan pun dapat melakukan penghitungan keuntungan yang diperoleh salah satunya dengan menggunakan metode social return on investment (SROI). Artikel ini bertujuan untuk mengungkap transformasi nilai sosial budaya menjadi keuntungan ekonomi dari program CSR PT. Bukit Asam Tbk. pada Program Sentra Industri Bukit Asam (SIBA) Batik Kujur sebagai refleksi atas hasil perhitungan rasio SROI yang telah diperoleh. Penelitian ini di desain menggunakan pendekatan kualitatif, melibatkan 15 orang informan dengan teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, FGD, observasi, studi litelatur, dan sutdi pustaka. Verifikasi data menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi metode. Hasil penelitian menunjukkan Program SIBA Batik Kujur telah berhasil menumbuhkan kapasitas masyarakat dalam menciptakan perubahan positif yang dimaknai sebagai dampak dari investasi sosial yang dilakukan. Berbagai dampak tersebut yaitu berupa meningkatnya kohesivitas sosial, meningkatnya kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan keluarga, meningkatnya kapasitas masyarakat dan tumbuhnya kebanggaan masyarakat terhadap sejarah leluhur mereka. Program SIBA Batik Kujur telah mendatangkan keuntungan finansial dan keuntungan dalam bentuk nilai sosial, sehingga berbagai bentuk keuntungan tersebut menjadi pendorong terjadinya transformasi bagi stakholders sebagai bentuk manfaat dari program dan bagi perusahaan pun dapat mencapai tujuannya.
CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) DARI SUDUT PANDANG PERUSAHAAN
Meilanny Budiarti Santoso;
Santoso Tri Raharjo
Share : Social Work Journal Vol 4, No 1 (2014): Share Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (481.53 KB)
|
DOI: 10.24198/share.v4i1.13045
Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan salah satu bagian dari Corporate Responsibility sehingga diminta atau tidak dan ada aturan atau tidak terkait dengan pelaksanaan CSR, pihak perusahaan akan tetap melakukan kegiatan CSR kepada masyarakat lokal.Eksistensi perusahaan berpotensi besar mengubah lingkungan masyarakat, baik ke arah negatif maupun positif. Dengan demikian perusahaan perlu mencegah timbulnya dampak negatif, karena hal tersebut dapat memicu konflik dengan masyarakat, yang selanjutnya dapat mengganggu jalannya perusahaan dan aktifitas masyarakat.Berbagai dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan yang timbul akibat berdirinya suatu kawasan industri, mengharuskan perusahaan untuk bertanggung jawab kepada publik khususnya masyarakat di sekitar wilayah perusahaan melalui aktivitas yang nyata sehingga dalam pelaksanaan kegiatan CSR, perusahaan harus berhati-hati dan dilakukan dengan cara-cara yang benar agar tidak memperkuat kondisi relasi ketergantungan dari masyarakat akan kehadiran perusahaan.
MEKANISME MASYARAKAT LOKAL DALAM MENGENALI BENCANA DI KABUPATEN GARUT
Meilanny Budiarti Santoso;
Ahmad Buchari;
Ivan Darmawan
Share : Social Work Journal Vol 8, No 2 (2018): Share: Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (188.128 KB)
|
DOI: 10.24198/share.v8i2.18885
Kabupaten Garut merupakan salah satu kabupaten di provinsi Jawa Barat, yang dikenal masyarakat sebagai kawasan “mini market” bencana di Indonesia, sehingga layaknya masyarakat berupaya untuk dapat hidup selaras dengan berbagai potensi bencana alam yang ada dan memiliki kemampuan untuk meningkatkan kapasitas dalam menghadapi bencana. Memahami mekanisme masyarakat lokal dalam mengenali bencana adalah langkah awal yang perlu dilakukan untuk dapat menciptakan sistem mitigasi bencana berbasis masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analisis dan pendekatan kualitatif dengan sumber data primer dan sekunder melalui teknik wawancara mendalam dan validasi data dilakukan dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan masyarakat Kabupaten Garut memiliki mekanisme dalam mengenali potensi terjadinya bencana, yaitu dengan menemukenali berbagai gejala yang terjadi sesuai dengan jenis bencana yang berpotensi terjadi. Kepercayaan, pengetahuan, kesadaran dan perilaku yang dimiliki oleh masyarakat lokal merupakan asset, terutama dalam upaya pencegahan terjadinya bencana (mitigasi bencana). Namun demikian, terkait kepercayaan dan ritual yang dulu dilakukan oleh masyarakat sebagai upaya pencegahan bencana, saat ini mulai luntur dan ditinggalkan karena dinilai bertentangan denagn keyakinan agama mayoritas yang dianut oleh masyarakat setempat.
UPAYA PENCEGAHAN HIV/AIDS PADA KALANGAN REMAJA DI KOTA BANDUNG
Meilanny Budiarti Santoso;
Nurliana Cipta Apsari;
Annisa Nabila
Share : Social Work Journal Vol 7, No 1 (2017): Share Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (286.612 KB)
|
DOI: 10.24198/share.v7i1.13817
Masalah HIV/AIDS menjadi masalah kontemporer yang berkaitan dengan perilaku berisiko manusia, karena masalah ini bukanlah masalah kesehatan semata. Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) termasuk populasi yang rentan bermasalah secara sosial, ekonomi, budaya dan politik. Sejak tahun 2005, sosialisasi tentang bahaya HIV/AIDS yang merupakan salah satu wujud upaya pencegahan HIV/AIDS, sebetulnya sudah mulai masuk ke setiap SMA, namun, karena HIV/AIDS banyak menyerang usia produktif, termasuk pelajar, sehingga sosialisasi diharapkan tidak hanya dilakukan pada para pelajar SMA saja, melainkan juga dilakukan pada para pelajar di tingkat pendidikan yang lebih rendah lagi, yaitu SMP dengan harapan dapat mencegah lebih banyak remaja yang terlibat dalam perilaku seksual yang beresiko dan penyalahgunaan narkoba.Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian survei. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksplanatory survey. Populasi dari penelitian ini adalah siswa-siswi SMPN 35 Bandung yang telah mendapat program HEBAT secara penuh 2 semester.Program HEBAT! menjadi pelopor program pencegahan HIV/AIDS yang diperuntukkan bagi remaja di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Program HEBAT! berbentuk kurikulum (mata pelajaran) yang berlangsung selama 2 semester di kelas VIII SMP. Sejak pertengahan tahun 2010, program HEBAT hingga saat ini telah berlangsung di 33 SMP di Kota Bandung. Berdasarkan data yang diperoleh dalam penelitian ini, terdapat pengaruh antara pelaksanaan program HEBAT terhadap sikap remaja. Pendidikan yang diberikan pada remaja dalam program HEBAT adalah sebagai langkah untuk meningkatkan pengetahuan remaja terkait bahaya narkoba dan pentingnya menjaga kesehatan reproduksi sejak dini agar mereka terhindar dari perilaku berisiko HIV/AIDS