Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH PEMBERIAN MINYAK ZAITUN TERHADAP KADAR MALONDIALDEHYDE (MDA) SEBAGAI BIOMARKER STRESS Suryo, Ersya Putri Alifya; Syamsu, Rachmat Faisal; Iskandar, Darariani
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adanya ketidakseimbangan antara radikal bebas dengan penetraisirnya (antioksidan) dalam tubuh dapat menyebabkan terjadinya stress oksidatif. Stres oksidatif menjadi faktor pemicu terjadinya penyakit kronis, penyakit inflamasi, serta berkontribusi dalam berbagai pathogenesis penyakit. Malondialdehyde (MDA) dapat dijadikan sebagai biomarker peningkatan stress oksidatif. Semakin tinggi kadar MDA serum di dalam tubuh maka peningkatan stres oksidatif juga semakin tinggi. Minyak zaitun merupakan salah satu minyak nabati yang cukup sering ditemui dalam aktivitas sehari-hari serta menjadi komponen utama dalam diet/pola makan Mediteranian. Kandungan minyak zaitun yang kaya akan komponen antioksidan (enzimatik dan non-enzimatik) seperti tocopherol, polyphenfol, catalase, superoxide dismutase, reduced glutathione, dan ascorbic acid menjadi salah satu alasan sehingga minyak zaitun bisa dipakai dalam mengurangi kerusakan yang ditimbulkan dari stress oksidatif. Pengkajian artikel ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemberian minyak zaitun terhadap Malondialdehyde (MDA) sebagai biomarker stress oksidatif. Jenis penelitian ini menggunakan metode literatur Review desain Narrative Review dengan 20 artikel jurnal, memiliki kriteria inklusi : artikel penelitian dengan tahun publikasi 2019 hingga 2024, artikel merupakan experimental-based, serta artikel dapat diakses penuh. Temuan dari tinjauan literature pada penelitian ini mendukung bahwa penggunaan minyak zaitun khususnya extra virgin olive oil yang memiliki kandungan monounsaturated fatty acid/MUFA serta antioksidan kuat terbukti dapat mengurangi kerusakan jaringan yang ditimbulkan dari stresss oksidatif terbukti dari adanya penurunan biomarker stress oksidatiif yaitu Malondialdehyde (MDA).
LITERATURE REVIEW : TINGKAT PENGETAHUAN SALAT FARDHU PASIEN SELAMA MENJALANI PERAWATAN DI RUMAH SAKIT Hikmah, Annisa Duratul; Syamsu, Rachmat Faisal; Khalid, Nur Fadhillah
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i1.26230

Abstract

Ibadah salat fardhu merupakan suatu ibadah yang wajib dilakukan oleh setiap umat islam. Salat merupakan ibadah yang masuk dalam kategori ibadah Mahdhah, yakni ibdaah yang berhubungan dengan Allah Subhanahu wata’ala. Salat menjadi sarana komunikasi dan media penghubung antara Allah Subhanahu wata’ala dan hambanya. Tanggung jawab seseorang dalam melaksanakan salat tidak dapat dihilangkan namun dapat diberi sedikit keringanan dalam beberapa hal terkait pelaksanaan salat. Namun keringanan ini kadang menjadi kesalahpahaman sehingga membuat semuanya terlalu sederhana untuk dipermudah. Sekalipun dalam kondisi sakit, setiap orang sakit dengan keadaan pikiran dan mental yang sehat tetap wajib menjalankan salat meskipun dangan gerakan dan posisi salat yang tidak sempurna. Penelitian ini dilakukan dengan menerapkan metode literature review dengan desain narrative review.  Salat merupakan ibadah yang dapat memberikan manfaat baik secara jasmani maupun Rohani. Dalam setiap gerakan salat memberikan memberikan masing-masing manfaat bagi tubuh. Pemahaman tentang tatacara pelaksanaan salat dalam kondisi tertentu yang kadang masih minim menjadi salah satu penghambat tidak maksimalnya ibadah ini dilaksanakan.
LAPORAN KASUS : ANALISIS KASUS FRAKTUR DALAM PERSPEKTIF MEDIS, BIOETIK DAN ISLAM Wardayani, Wardayani; Putra, Fadil Mula; Mappaware, Nasrudin Andi; Rijal, Syamsu; Mokhtar, Shulhana; Makmun, Armanto; Syamsu, Rachmat Faisal
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 2 (2024): AGUSTUS 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i2.26918

Abstract

Fraktur adalah kerusakan kontinuitas susunan tulang yang terjadi karena trauma, stres berulang dan kelemahan abnormal pada tulang (fraktur patologis). Dalam kaidah dasar bioetik diketahui terdapat 4 aspek, yaitu: Beneficence, non-maleficence, autonomy, dan justice. Dalam perspektif islam yaitu surah Al- Qasas ayat 77, surah Asy-Su'ara ayat 80, surah Al-Maidah ayat 2, dan H.R Bukhari. Maqasid  Al Shariat mengandung 5 nilai yaitu Hifz ad din, Hifz an nafs, Hifz al maal, hifz al nasl dan hifz al aql. Dalam  perspektif  ilmu  fiqih  terdiri  atas  lima  kaidah  yaitu Al-Umuru  Bi  Maqashida,  La  Dharar  wala Dhirara,  Al-Masyaqqah  Tajlibut  Tasyir,  Al-Yaqinu  La  yuzalu  bi  syak  dan  Al-Adatu  Muhakkamah Laporan kasus ini adalah laki laki usia 21 tahun dengan sulit berjalan akibat terjatuh dari tangga saat memasang lampu sekitar 3 bulan yang lalu. Pemeriksaan fisik d regio femur dextra tampak deformitas (+), edema (-), bone exposure (-), nyeri tenderness (-),  ROM terbatas, sensibilitas baik, pulsasi arteri radialis dan ulnaris teraba, CRT < 2 detik. Pada pemeriksaan foto polos femur dextra didapatkan kesan Fraktur transversa nonunion 1/3 proksimal os femur dextra dengan displacement fragmen proksimal ke anterior. Untuk itu pasien di diagnosis fraktur femur non union. Untuk tatalaksana pada pasien, dilakukan Tindakan ORIF. Dalam perspektif kaidah dasar bioetik autonomy  dan beneficence, serta  memenuhi  nilai  Maqasid  Al  Shariat  yaitu Hifz  an  nafs serta  kaidah fiqih La Dharar wala Dhirara. Kesimpulan dari kasus ini bahwa seorang laki laki dengan fraktur femur non union, dilakukan tindakan sesuai indikasi medis, memenuhi kaidah dasar bioetik, etika klinik dan kaidah fiqih.
The Effectiveness of Olive Oil in Preventing Atherosclerosis: A Literature Review Syamsu, Rachmat Faisal; Thahira, Yugni Maula; Nasruddin, Hermiaty; Dahlia, Dahlia; Indarwati, Rezky Putri; Palloge, Salahuddin Andi; Nurdin, Abbas Zavey; Makmun, Armanto; Bahar, Burhanuddin
Poltekita : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 17 No. 4 (2024): February
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/jik.v17i4.3532

Abstract

Olive oil is a rich source of oleic acid and polyphenols. Extra virgin olive oil is rich in phenolic compounds which are known to have anti-inflammatory, anti-cancer, and antioxidant effects. Olive oil has been used for thousands of years as a food source and is reported to have beneficial effects on cardiovascular disease. This review aims to provide a comprehensive overview of the current literature on the use of olive oil in the prevention and treatment of cardiovascular diseases and prevention of atherosclerosis. The methodology is employed by searching the article at Google Scholar, PubMed, Semantic Scholar, teaching materials, and research gate. Studies included the consumption of olive oil, by using qualitative and quantitative methodologies, were published in journals between 2013 and 2024 to obtain the latest information and relevant contents of the articles as well as the empirical data that indicate the effectiveness of olive oil. This research has a varying result, such as the high level of cholesterol and low-density lipoprotein cholesterol (LDL-C). Olive oil polyphenols also increase HDL particle size increase HDL stability by producing a triglyceride-poor core, and improve HDL antioxidant status by increasing the olive oil polyphenol metabolite content of lipoproteins, and it can intake of several foods also positively modulates platelet reactivity and may be the basis for the reduced cardiovascular risk reported in individuals on diets that increase the intake of plant foods, such as the Mediterranean diet. The olive oil which contains MUFA in the form of oleic acid and polyphenols has anti-atherogenic properties to prevent cardiovascular disease.
Comparison of Antioxidants in Red Ginger Powder Preparations with the Addition of Sucrose and Red Ginger Powder Preparations Without the Addition of Sucrose Kamaluddin, Irna Diyana Kartika; Nawawi, Nurafni Maharani; Syamsu, Rachmat Faisal; Royani, Ida; Bima, Irmayanti Haidir
Poltekita : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 17 No. 4 (2024): February
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/jik.v17i4.3554

Abstract

Antioxidants are compounds that can inhibit oxidation reactions in the human body. Antioxidants can be obtained from food intake. Intake containing antioxidant compounds can also be found in red ginger. Red ginger is available in the form of instant powder obtained through a crystallization process using sucrose as the main agent. Granulated sugar has a sucrose content of 99.95% and functions as a sweetener as well as a crystallization agent that affects the speed of crystallization. This study aims to determine the comparison of antioxidant levels contained in red ginger powder with the addition of sucrose and without the addition of sucrose. The research design used was experimental research design by testing the comparison of antioxidant compound activity between red ginger powder added sucrose and red ginger powder without added sucrose using DPPH reagent measured by spectrophotometer. The measurement of antioxidant content showed that red ginger powder without added sucrose has a very strong IC50 value of antioxidant activity with a value of 46.12 ppm while red ginger powder without added sucrose has a weak IC50 value of antioxidant activity with a value of 205.47 ppm. The results of antioxidant activity testing on both red ginger powders were then statistically tested using the unpaired T-Test test with a p-value <0.05 which means significant. It can be concluded that there is a significant difference in antioxidant activity values ​​between red ginger powder without added sucrose and red ginger powder with added sucrose.
TOKSISITAS SENYAWA DMBA (7,12 DIMETHYLBENZ[A]ANTHRACENE) SEBAGAI LARUTAN KARSINOGENESIS KANKER KOLOREKTAL PADA TIKUS PUTIH (RATTUS NOVERGICUS) Rifai B, Muh.; Syamsu, Rachmat Faisal; Karim, Marzelina; Gani, Azis Beru; Hasbi, Berry Erida
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 4 No. 4 (2023): DESEMBER 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v4i4.22209

Abstract

Kanker kolorektal (colorectal cancer/CRC) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang ada di Indonesia dan saat ini menempati urutan keempat kanker tertinggi. Kanker merupakan penyakit yang disebabkan akibat proliferasi sel multiseluler sehingga menimbulkan perubahan sifat sel yang tidak terkendali. Kadar Malondialdehyde (MDA) merupakan salah satu marker biokimia yang digunakan untuk penelitian profil kanker. Senyawa DMBA (7,12-Dimethylbenz[a]anthracene) adalah salah satu agen Polycyclic Aromatic Hydrocarbon (PAH) yang banyak digunakan untuk mempelajari karsinogenesis. Reagen DMBA dilarutkan dengan minyak jagung dan diinduksikan 1 kali dalam seminggu secara subkutan pada tikus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui toksisitas senyawa DMBA (7,12-dimethylbenz[a]anthracene) sebagai larutan karsinogenesis kanker kolorektal pada tikus putih (rattus novergicus). Penelitian yang dilakukan adalah penelitian true experimental dengan menggunakan rancangan pre dan post-test control group design untuk melihat perbedaan pada sampel sebelum dan setelah pemberian perlakuan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan senyawa DMBA dengan dosis 20 mg/kgBB memiliki dosis letal karena pada minggu ke-3 terjadi mortalitas yang paling tinggi dari minggu sebelumnya, yaitu pada minggu ke-1 angka kematian tikus putih mencapai 4 ekor, minggu ke-2 terdapat 9 ekor tikus putih yang mati, minggu ke-3 terdapat 10 tikus ekor yang mati dan minggu ke-4 terdapat 5 ekor tikus yang mati. Selain itu senyawa DMBA juga dapat menurunkan berat badan secara signifikan, dimana hasil uji Analisa one way Anova didapatkan nilai P-value 0,000. Senyawa DMBA juga dapat meningkatkan kadar MDA darah pada tikus putih, dari hasil uji Analisa Mann whitney U test didapatkan nilai p-value 0,001. Senyawa DMBA (7,12-dimethylbenz[a]anthracene) sebagai larutan karsinogenesis kanker kolorektal memiliki efek toksisitas pada tikus putih (rattus novergicus).
PERBANDINGAN KADAR GLUKOSA PADA KURMA AJWA, SUKARI, KHALAS, MEDJOOL, DAN GOLDEN VALLEY Ahyar, Farah Firjatillah; Syamsu, Rachmat Faisal; Safitri, Asrini; N, Hermiaty; Nurmadilla, Nesyana; Arifin, Arina Fathiyyah
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 1 (2024): MARET 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i1.25447

Abstract

Karbohidrat paling sederhana dikenal sebagai monosakarida atau gula, dan mereka memiliki rumus umum (CnH2nOn). Yang paling umum mengandung enam atom karbon. Monosakarida adalah karbohidrat sederhana yang mengandung antara tiga dan delapan atom karbon, tetapi hanya mereka yang memiliki lima atau enam atom karbon yang umum. Dua dari yang paling penting dalam makanan adalah gula enam karbon glukosa dan fruktosa. Glukosa adalah karbohidrat terpenting pada biokimia mamalia karena hampir semua karbohidrat dalam proses biokimiawi makanan diubah menjadi glukosa untuk metabolisme. Kurma merupakan salah satu buah yang menjadi favorit Nabi Muhammad SAW, dengan kandungan gula sebagian besar gula – gula monosakarida, sehingga mudah dicerna oleh tubuh. Menggunakan metode penelitian eksperimental jenis komparatif dengan analisa kuantitatif dengan kurma ajwa, sukari, medjool, khalas, dan golden valley sebagai kurma yang digunakan sebagai sampel dengan teknik non probability sampling yaitu teknik purposive dengan masing – masing kurma ditimbang sebanyak 10 gram, lalu dihitung dengan kadar glukosa yang menggunakan reagen anthrone yaitu; (1) persiapan sampel untuk penetapan gula, (2) pembuatan larutan blanko, dan (3) pembuatan kurva standar dan akan dihitung dengan menggunakan spektrofotometer. Hasil yang didapatkan yaitu dengan pengujian Kruskal Wallis dengan nilai signifikasi untuk kadar glukosa pada setiap kurma adalah sebesar 0.406 > taraf nyata dan mendapatkan nilai glukosa tertinggi pada kurma ajwa sebesar 0.15% lalu diikuti dengan sukkari, khalas, medjool, dan golden valley.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI MINYAK ZAITUN (OLEA EUROPAEA L.) JENIS EXTRA VIRGIN TERHADAP BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS Salam, Annisa Salsabilah; Syamsu, Rachmat Faisal; Ikram, Dzul; Mangarengi, Yusriani; Muchtar, Amrizal
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 1 (2024): MARET 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i1.25609

Abstract

Staphylococcus aureus adalah flora normal kulit yang mampu menjadi patogen dan menyebabkan infeksi kulit ringan maupun infeksi berat dengan tanda khas peradangan, abses, dan nekrosis.  Bakteri Staphylococcus aureus resisten terhadap banyak antibiotik sehingga menimbulkan masalah terapi terhadap infeksi, seperti MRSA (Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus). Minyak zaitun diketahui mengandung senyawa yang mampu menghambat bahkan membunuh bakteri, yaitu oleuropein, hidroksitirosol dan tirosol, flavonoid, dan minyak atsiri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri minyak zaitun (Olea europaea L.) jenis Extra Virgin terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian dilakukan dengan true experimental post test menggunakan metode disc diffusion (metode Kirby Bauer) untuk melihat efektivitas minyak zaitun jenis Extra Virgin dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Dilakukan uji identifikasi bakteri menggunakan pewarnaan gram, uji katalase metode slide, uji katalase metode tabung, dan uji koagulase. Tampak bakteri berbentuk bulat dan berwarna ungu (gram positif) yang bergerombol seperti gambaran rantai anggur, gambaran hasil positif untuk bakteri Staphylococcus aureus. Uji katalase metode slide dan tabung terinterpretasi positif. Hasil dari penelitian ini diperoleh rata-rata zona hambat minyak zaitun extra virgin sebesar 2,64 mm (media 1), 2,62 mm (media 2), 1,94 mm (media 3), dan 1,36 mm (media 4) dengan interpretasi resisten. Pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus mampu dihambat dengan minyak zaitun (Olea europaea L.) jenis Extra Virgin, namun daya hambat sangat lemah.
Analisis Suhu Tubuh Dan Jumlah Leukosit Pada Pasien Appendisitis Di RS. Ibnu Sina Makassar Syamsu, Rachmat Faisal; Pramono, Sigit Dwi; Pratama, Andry
Wal'afiat Hospital Journal Vol 1 No 2 (2020): Wal'afiat Hospital Journal
Publisher : Rumah Sakit Ibnu Sina, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (574.898 KB) | DOI: 10.33096/whj.v1i2.41

Abstract

Appendisitis tetap merupakan salah satu penyakit yang paling umum yang dihadapi oleh ahli bedah dalam praktek. Pengukuran suhu tubuh merupakan salah satu pemeriksaan yang dilakukan pada kasus-kasus dengan kecurigaan appendisitis. Kenaikan suhu tubuh melebihi suhu normal terjadi sebagai tanda adanya infeksi seperti pada appendisitis. Meskipun pemeriksaan dilakukan dengan cermat dan teliti, diagnosis klinis appendisitis masih mungkin salah pada sekitar 15-20% kasus. Pemeriksaan jumlah leukosit membantu menegakkan diagnosis appendisitis. Pada kebanyakan kasus terdapat leukositosis, terlebih pada kasus dengan komplikasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui analisis suhu tubuh dan jumlah leukosit pasien appendisitis di RS. Ibnu Sina Makassar. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar dengan sampel 113 data rekam medik yang dipilih secara total sampling. Data penelitian ini diperoleh melalui data sekunder dari data rekam medik pasien appendisitis di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar. Hasil penelitian menunjukkan sampel kategori hipotermi dan leukosit normal sebanyak 3 orang (27.3%) sedangkan kategori hipotermi dan leukosit meningkat sebanyak 8 orang (72.7%). Sampel kategori suhu tubuh normal dan leukosit normal sebanyak 20 orang (24.7%) sedangkan kategori suhu tubuh normal dan leukosit meningkat sebanyak 61 orang (75.3%). Sampel kategori suhu tubuh meningkat dan leukosit normal sebanyak 2 orang (9.5%) sedangkan kategori suhu tubuh meningkat dan leukosit meningkat sebanyak 19 orang (90.5%). Hasil análisis menggunakan uji Chi-Square didapatkan nilai signifikan 0.229 (p kurang dari 0.05) yang secara statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan antara suhu tubuh dan jumlah leukosit pada pasien appendisitis. Pada penelitian ini tidak didapatkan hasil yang signifikan antara suhu tubuh dan jumlah leukosit pada pasien appendisitis.
Hubungan Jenis Kelamin, Usia Dan Jumlah Leukosit Pada Pasien Apendisitis Perforasi Dan Apendisitis Non Perforasi Bima, Irmayanti Johar; Syamsu, Rachmat Faisal; Pramono, Sigit Dwi; Purnamasari, Reeny; Juliani, Sri; Nasruddin, Hermiaty; Rizki Salsabilah R, Andi Fatihah
Wal'afiat Hospital Journal Vol 2 No 1 (2021): Wal'afiat Hospital Journal
Publisher : Rumah Sakit Ibnu Sina, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.379 KB) | DOI: 10.33096/whj.v2i1.56

Abstract

Apendisitis adalah salah satu kasus kegawatdaruratan. Diagnosis ditegakkan dengan mengenal gejala penyakit ini sejak dini untuk menghindari perburukan dari apendisitis akut menjadi apendisitis perforasi. Mengetahui hubungan jenis kelamin, usia dan jumlah leukosit dengan pasien apendisitis non perforasi dan pasien apendisitis perforasi di RS.Ibnu Sina Makassar tahun 2014 – 2018. Penelitian ini dengan rancangan penelitian cross sectional yaitu pengambilan sampel total sampling dengan total 125 sampel. Analisis data menggunakan uji chi square dengan p value hubungan jenis kelamin dengan apendisitis : 0.01, hubungan usia dengan apendisitis : 0.02 dan hubungan jumlah leukosit dengan apendisitis : 0.00 menggunakan program SPSS. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar pada bulan September-November 2019. Hasil penelitian menunjukkan sampel apendistis perforasi pada laki-laki 39 orang (65%) sedangkan pada perempuan 21 orang (35%). Hasil análisis menggunakan uji Chi-Square nilai signifikan 0.01 (p kurang dari 0.05) yang secara statistik menunjukkan terdapat hubungan antara suhu tubuh dan jumlah leukosit pada pasien appendisitis Sampel apendisitis perforasi usia 0-11 8 orang (13.3%), pada usia 12-25 18 orang (30%), pada usia 26-45 13 (21.7%) dan pada usia ≥46 21 (35%). Hasil análisis menggunakan uji Chi-Square nilai signifikan 0.02 (p kurang dari 0.05) yang secara statistik menunjukkan terdapat hubungan antara suhu tubuh dan jumlah leukosit pada pasien appendisitis. Sampel apendisitis perforasi dan leukosit kurang dari 11.000 1 orang (1.3%) dan pada ≥11.000 59 orang (98.7%). Hasil análisis menggunakan uji Chi-Square nilai signifikan 0.00 (p kurang dari 0.05) yang secara statistik menunjukkan terdapat hubungan antara suhu tubuh dan jumlah leukosit pada pasien appendisitis. Terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian apendistis perforasi, terdapat hubungan antara usia dengan kejadian apendistis perforasi dan terdapat hubungan antara jumlah leukosit dengan kejadian apendistis perforasi.
Co-Authors 'Aisy S.Day, Siti Rahadatul Abdillah, Andi Rachmat Abdullah, A. Adila Permata Abdullah, Rezky Putri Indrawati Adriana, Delvi Ahmad Ahmad Ahyar, Farah Firjatillah Akbar, Muhammad Alief Alfaruq, Zulfi Zain Alhumaerah, Musdalifah Alie, Nuzul Shafira Alimun, Sity Rahmatia Amaliyah B, Ilma Khaerina Amrizal Muchtar Ancha, Annisa Andry Pratama, Andry Anggita, Dwi Aqillah Rahis, Fadiah Dewi Arfah, Arni Isnaini Arifin, Arina Fathiyyah Astri Wahyuni Azis, Arung Anugrah Al Bamahry, Aryanti R. Bazith, Akhmad Bima, Irmayanti Haidir Bima, Irmayanti Johar Bonita, Nita Burhanuddin Bahar Dahlia Dahlia Dewi, Anna Sari Domu, Anugrah Julistiar Aksan Efendy, Rizki Amalia Evi Sulastri Fattah, Nurfachanti febriyanti febriyanti Gani, Azis Beru Gayatri, Sri Wahyuni Hadi, Santriani Hamsah, M. Hasbi, Berry Erida Hazminafni, Nur Zahra Noor Khaerani Hikmah, Annisa Duratul Ida Royani Ikram, Dzul Ilda, Khusnul Indarwati Abdullah, Rezky Putri Indarwati, Rezky Putri Irna Diyana Kartika Iskandar, Darariani Jam’an Laoh, Abulkahiril Jannah, Reza Miftahul Jaya, Muh. Alim Jaya, Muhammad Alim Juliani, Sri Julyani, Sry Kamaluddin, Irna Diyana Kartika Karim, Abdul Mubdi Ardiansar Arifuddin Karim, Marzelina Kartika, Andy Visi Khalid, Nur Fadhillah Laddo, Nirwana Latief, Shofiyah Lausiri, Satharia Makmun, Armanto Mamile, Rahmawati Mangarengi, Yusriani Mappaware, Nasrudin Andi Maulidiah, Nurul Farah Mayo, Abbas Ali Mochammad Erwin Rachman, Mochammad Erwin Mochtar, Shulhana Mokhtar, Shulhana Mubarok, Rizqi Mukhtar, Shulhana Musa, Inna Mutmainnah Muthalib, Iqra Muhamad Zulmadhani Z. N, Hermiaty N. Hamzah, Pratiwi Nasruddin, Hermiaty Nawawi, Nurafni Maharani Noor, Raehana Norman, Fadhilah Nulanda, Mona Nurdin, Abbas Zavey Nurhikma, Nurhikma Nurmadilla, Nesyana Ode Arli, Rosmelidian Safari Oktaviani, Mentari Dwi Palloge, Salahuddin Andi Palo, Nurul Aisyah Pramono, Sigit Dwi Purnamasari, Reeny Putra, Fadil Mula Putri, Riski Astriani Rachman, Moch. Erwin Rachmat, Rizqah Aulyna Rafiqah, Rafiqah Rahman, Dinda Briliany Rahman, Mochammad Erwin Rasfayanah, Rasfayanah Rifai B, Muh. Rizki Salsabilah R, Andi Fatihah Safitri, Asrini Saifullah, Yayan Yustika Sakti, Muhammad Reyhan Salam, Annisa Salsabilah Salmalia, Raisya Zahra Salsabila, Lu’lu Luqyana Amirah Saputra, Adrian Shamad, Muhammad Ishaq Sholehah, Mar'atun Siska Nuryanti, Siska Sodiqah, Yani Sri Wahyu Surdam, Zulfiyah Suryo, Ersya Putri Alifya Syamsu Rijal Tebi, Tebi Thahir, Ilyas Thahira, Yugni Maula Utami, Dian Fahmi Utami, Nurfika Wardayani Wardayani, Wardayani Wello, Eny Arlini Yusuf, Andini Zulfahmidah, Zulfahmidah Zulfitriani Murfat