Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Kompetensi

TAROMBO MARGA SIHOMBING SI OPAT AMA, DI DESA TIPANG KECAMATAN BAKTI RAJA, KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN: KAJIAN ANTROPOLINGUISTIK Krista Dayanti Hutasoit; Flansius Tampubolon
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 14 No 2 (2021): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.732 KB) | DOI: 10.36277/kompetensi.v14i2.52

Abstract

Tarombo merupakan silsilah garis keturunan secara patrineal dalam budaya Batak yang sudah menjadi adat atau tradisi untuk mengetahui sistem kekerabatan atau dalam menjalin hubungan, Namun adat ini sudah mulai hilang dari masyarakat Batak di karenakan banyak yang tidak menggunakan Marga di belakang nama mereka. Hal tersebut menjadikan Tarombo kehilangan daya Tariknya untuk mengetahui tarombo sesama mereka. Skripsi ini berjudul Tarombo Marga Sihombing si Opat ama Di Desa Tipang Kecamatan Bakti Raja,Kabupaten Humbang Hasundutan: Kajian Antropolinguistik. Dalam penelitian ini penulis membahas tentang Tarombo Marga Sihombing si Opat ama. di Desa Tipang Kecamatan Bakti Raja, Kabupaten Humbang Hasundutan: Kajian Antropolinguistik. Dengan memiliki Rumusan Masalah Marga apa saja yang termasuk dalam tarombo Marga Sihombing Si opat ama, apa saja hubungan marga Sihombing si opat ama, apa saja nilai dan fungsi dalam tarombo marga Sihombing si opat ama. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Tarombo Marga Sihombing si opat ama. Metode yang di gunakan penulis dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Dan landasan teori yang di gunakan untuk menganalisis adalah teori antropolinguistik.
Simbol Pengobatan Tradisional Etnik Batak Toba Judika Panggabean; Flansius Tampubolon
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 15 No 2 (2022): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.234 KB) | DOI: 10.36277/kompetensi.v15i2.88

Abstract

Artikel ini membahas tentang simbol pengobatan tradisional etnik Batak Toba. Etnik Batak Toba memiliki pengetahuan berupa pengobatan tradisional, seseorang yang dipercayai dapat menyembuhkan berbagai penyakit dengan cara tradisional disebut Parubat huta. Dalam proses pengobatan ini sebagian besar dilakukan dengan cara memanggil roh nenek moyang dan melakukan ritual. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan  bentuk  simbol, fungsi dan makna dalam pengobatan tradisional etnik Batak Toba. Dalam menyelesaikan artikel ini penulis menggunakan teori semiotik dengan metode deskriptif kualitatif dan untuk menunjang hasil dari artikel ini penulis menggunakan metode pengumpulan data dengan cara (1) wawancara dengan informan, (2) Observasi dan (3) Dokumentasi simbol yang terkait. Lokasi penelitian artikel ini di Kecamatan Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan, penulis meneliti simbol yang terdapat pada pengobatan tradisional etnik Batak Toba . Adapun hasil yang ditemukan oleh penulis dalam simbol pengobatan tradisional etnik Batak Toba yang difokuskan pada 3 penyakit yakni kanker payudara (andorabion), terkilir (taralit), penyakit kulit (gadam) terdapat  18 bentuk, fungsi dan makna simbol yang meliputi simbol peralatan, simbol ramuan (pulungan), simbol mantra (tabas). Kanker payudara (andorabion) memiliki 2 jenis simbol peralatan antara lain : pinggan pasu (piring keramik besar), imbuluni manuk (bulu ayam). 4 jenis simbol ramuan (pulungan) antara lain : sira risi (garam kasar), baoran ni aek (air mengalir), jarum, salimbatu (jeringau). Terkilir (taralit) memiliki 3 jenis simbol peralatan antara lain : napuran tiar (ucapan terimakasih), haminjon (kemenyan), sigaret (rokok). 2 jenis simbol ramuan antara lain : gambiri (kemiri), tumba (liter). 1 jenis simbol mantra yaitu tabas tawar mulajadi. Gadam (penyakit kulit) memiliki 3 jenis simbol peralatan antara lain : losung batu (lesung batu), pinggan na bontar (cawan warna putih), pandais (pengoles). 2 jenis simbol ramuan (pulungan) antara lain : pining (pinang), gambiri (kemiri). 1 jenis simbol mantra (tabas) yaitu tabas tawar bisa. Dengan adanya artikel ini penulis mengharapkan generasi muda meningkatkan kepedulian serta membantu meningkatkan eksistensi pengobatan tradisional etnik Batak Toba agar menambah nilai jual dari pengobatan tradisional dan terjaga kelestariannya.
TINDAK TUTUR PADA PATAMPEI PARSAHAPAN ETNIK SIMALUNGUN Sigiro, Triputri; Sinaga, Warisman; tampubolon, Flansius
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 17 No 1 (2024): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/kompetensi.v17i1.218

Abstract

Kurangnya pemahaman generasi muda tentang adat istiadat terutama adat patampei parsahapan maka diperlukannya dokumentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan adat patampei parsahapan, menjelaskan tentang penuturnya, menganalisis tindak tuturnya, dan menjelaskan fungsi tindak tutur pada adat patampei parsahapan suku Simalungun. Teori tindak tutur sesuai digunakan untuk penelitian ini. Teori Austin dan Searle dipilih dan digunakan dalam penelitian ini. Austin membagi tindak tutur menjadi tiga yaitu: tindak tutur lokusi, tindak tutur ilokusi, dan tindak tutur perlokusi. Searle membedakan tindak tutur ilokusi berdasarkan fungsinya menjadi lima yaitu: tindak tutur representatif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklarasi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengambilan data yaitu metode kepustakaan dan tenik wawancara. Data yang diperoleh lalu di analisis yaitu mulai dari penerjemahan tuturan dari Bahasa Simalungun ke Bahasa Indonesia. Mengeliminasi data yang tidak relevan. Mengklasifikasikan data. Data dianalisis berdasarkan jenis dan fungsinya. Membuat kesimpulan dari penelitian.  Dari penelitian ini dapat ditemukan sebagai berikut: adat patampei parsahapan adalah perkenalan secara resmi kedua keluarga belah pihak, membahas mengenai jumlah partadingan, lokasi dan waktu pesta, jumlah hiou, dan lain sebagainya. Pada patampei parsahapan ini anak boru jabu, anak boru sanina dari pihak paranak dan parboru, tulang dari pengantin perempuan, tokoh adat turut memberikan tuturan. Tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi ditemukan dalam adat patampei parsahapan. Terdapat empat fungsi tindak tutur yaitu tindak tutur representatif, direktif, komisif, dan ekspresif.  Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi sebagai dasar pertimbangan, pendukung dan sumbangan pemikiran kepada masyarakat mengenai tindak tutur pada adat patampei parsahapan.
SIMBOL DAN MAKNA JABU PARSAKTIAN DATU PARULAS PAULTOP Sinaga, Regina; Tampubolon, Flansius; Barus, Asni
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 17 No 2 (2024): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/kompetensi.v17i2.217

Abstract

Jabu Parsaktian Datu Parulas Paultop merupakan bangunan tradisional yang memiliki banyak ornamen gorga yang berhubungan dengan lambang yang memiliki makna sesuai hubungan dengan adat-istiadat. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data yaitu: (1) observasi; (2) wawancara; dan (3) dokumentasi. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori semiotika oleh Charles Sander Peirce dan teori makna dikemukakan oleh Ogden dan Ricard. Lokasi penelitian ini di Desa Harian, Kecamatan Onanrunggu, Kabupaten Samosir. Ditemukan hasil dari penelitian ini adalah terdapat sepuluh bentuk simbol pada Jabu Parsaktian Datu Parulas Paultop yaitu: (1) simbol ornamen ulu paung; (2)simbol ornamen simanuk-manuk; (3) simbol ornamen jaga dompak raja; (4) simbol ornamen jenggar-jenggar tomboman gaung; (5) simbol ornamen simeol-eol; (6) simbol ornamen marsirahutan; (7) simbol ornamen ombun marhehe; (8) simbol ornamen dalian natolu; (9) simbol ornamen sipiso-piso; dan (10) simbol ornamen tumpak sala sionom-onom. Makna yang terdapat pada Jabu Parsaktian Datu Parulas Paultop yaitu makna denotatif dan konotatif yang masing-masing berdasarkan peletakan dari simbol ornamen.
Co-Authors Aritonang, Rebecca Saulina Asriaty R Purba Baharuddin Baharuddin Barus, Asni Batubara, Monica Uli Batubara, Monika Uli Br Karo Sekali, Emmya kristina BrSimatupang, Nori Marta Marselina Damanik, Oleg Isuando David Kristopani Marpaung Depari, Edi Elena Simatupang Entelina, Santi Monica Fadlin Fadlin Gaol, Zacklyn Dwi Vanesa Imanuela Lumban Giawa, Puji Syukur Gultom, Frendy Hendrico Harefa, Evelina Herlina Herlina Hutagalung, Adreas Hutagalung, Andreas Hutagalung, Irfan Hamonangan Hutauruk, Febri Ola Indah Agita Saragih Indah Sari Jamorlan Siahaan Jekmen Sinulingga Jonathan Liviera Marpaung Judika Panggabean Krista Dayanti Hutasoit Ma Samuel Rt Simanjuntak Malau, Sarah Porman Hatioan Marcelina Manulang, Doan Manullang, Doan Yohannes Manurung, Lasmaria Manurung, Yohana Afriani Marpaung, Jonathan Halomoan Meutia, Amalia Naibaho, Dewes Agustina Pakpahan, Hod Burju Pandiangan, Johannes Pangaribuan, Dion Nardi Panjaitan, Novita Marlina Panjaitan, Santi Monica Entelina Pasaribu, Jefri Harniko Pasaribu, Niken Kirey Patricia, Marissa Libry Pollatu, Maurits Junard Purba, Roma Hotni Uhur Ramlan Damanik Risdo Saragih Robert Sibarani, Robert Rozanna Mulyani Saing, Filemon Anthony Saragi, Mery Grace Jenita Saragih, Cristien Oktaviani Saragih, Dinda Apriani Sekali, Emmya Kristina Br Karo Sembiring, Sugihana Siahaan, Jamorlan Siahaan, Wahyu Satria Boy Siallagan, Intan Putri Sianipar, Trynanda Sibarani, Tidora Putri Sigiro, Dony Sigiro, Triputri Sihombing, Martin Roberto Sihombing, Patar Kristian Sihotang, Alexander Sijabat, Anggun Yuni Sarah Silaban, Ridho Wahyu Silaban, Ridho Wahyu C. Silaban, Robin M Simamora, Devina C Simamora, Yustina Jindi Lusmiran Simanjuntak, Elisa Simanjutak, Sadrak Simarmata, Murni Simarmata, Tioara Monika Simbolon, Efran Jonathan Simbolon, Marta Enjelina Simbolon, Selvi Sinaga, Lastiur Sinaga, Regina Sinar Indra Kesuma Sinulingga, Samerdanta Siregar, Arjuna Junifer Siregar, Eka Silviana Siregar, Helda Sitanggang, Basri Natan Sitompul, Yulia Saftania Sitorus, Oliviya Sera Sitorus, Revi Angel Sonata Situmorang, Putri Adelina Br Situmorang, Rahel Theresia Rodame Tambunan, Abel Tambunan, Abel Rotua Tambunan, Wati Tampubolon, David Hasudungan Tarigan, sarah nathasia Tarigan, Sarah Nathasia Br Tarigan, Sarah Nathasia Br. Tifany Togatorop, Julhayati Tomson Sibarani Torang Naiborhu Toruan, Khaterine A. Lumban Warisman Sinaga Zalukhu, Esther Ria Zul Fahmi, Lisan Shidqi