Claim Missing Document
Check
Articles

Laporan Kasus: Rhinitis Infeksi Bakteri pada Kucing Peliharaan Taruklinggi, Utari Resky; Suartha, I Nyoman; Soma, I Gede
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (2) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.2.316

Abstract

Seekor kucing lokal betina bernama Calico berumur 1,5 tahun dengan bobot 2,5 kg diperiksa di Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. Berdasarkan anamnesis, kucing menunjukan bersin-bersin dan mengeluarkan leleran hidung dari kedua lubang hidung sejak berumur tiga bulan. Pada pemeriksaan fisik menunjukkan terdapat bercak leleran hidung yang mengering pada kedua lubang hidung dan pemeriksaan sinar X menunjukkan adanya gambaran radiopaque pada rongga hidung. Pemeriksaan ulas leleran hidung berhasil diidentifikasi bakteri Klebsiella sp. dan Staphylococcus sp. Hasil pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan kucing kasus mengalami leukositosis dan limfositosis. Kucing didiagnosis menderita rhinitis infeksi bakteri dengan prognosis fausta dari rangkaian pemeriksaan yang telah dilakukan. Terapi yang diberikan pada kucing kasus terdiri dari antibiotik cefixime (sediaan 100 mg, dosis 10 mg/kg bobot badan (BB), diberikan per oral (PO) dua kali sehari selama 10 hari) antiinflamasi meloxicam (sediaan 7,5 mg, dosis 0,1 mg/kg BB, diberikan PO satu kali sehari selama empat hari) dan imunomodulator Echinacea purpurea (sejumlah 2 mL, diberikan PO satu kali sehari selama 10 hari). Hasil pengobatan selama 10 hari menunjukkan terjadi perubahan leleran hidung yang tadinya berupa purulen menjadi serous serta frekuensi bersin berkurang yang menandakan kucing mulai membaik.
Deteksi Antigen Virus Avian Influenza pada Ayam Kampung di Pasar Hewan Beringkit dan Pasar Umum Galiran, Bali Musdalifa, Annisa; Kencana, Gusti Ayu Yuniati; Suartha, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (5) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.5.757

Abstract

Avian Infuenza termasuk ke dalam kelompok penyakit menular strategis dan bersifat zoonosis. Penyebabnya adalah virus Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) subtipe H5N1. Introduksi virus Avian Infuenza subtipe H5N1 dapat melalui jalur pasar karena berpotensi dalam penyebarannya penyakit Avian Influenza pada ayam kampung secara alamiah melalui kontak langsung dengan unggas lain. Penelitian ini dilakukan di Pasar Hewan Beringkit, Kabupaten Badung dan Pasar Umum Galiran, Kabupaten Klungkung. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keberadaan virus Avian Influenza subtipe H5N1 pada ayam kampung di Pasar Hewan Beringkit dan Pasar Umum Galiran. Sampel yang digunakan sebanyak 120 sampel swab kloaka dan swab trakea ayam kampung, dengan jumlah masing-masing pasar sebanyak 60 sampel. Periode pengambilan sampel dilakukan selama dua bulan dengan periode pengambilan setiap dua minggu sekali sebanyak empat kali. Pengambilan sampel dilakukan pada ayam kampung berumur di atas tiga bulan yang tidak divaksinasi. Isolasi virus pada telur ayam berembrio (TAB) berumur sembilan hari dan identifikasinya dengan uji hemaglutinasi (HA), uji hambatan hemaglutinasi (HI) serta Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Analisis data hasil uji antigen Avian Influenza dengan uji statistika non-parametrik Chi-square (?2). Hasil uji sampel swab kloaka dan trakea ayam kampung asal Pasar Beringkit positif virus Avian Influenza sebesar 5%, sedangkan sampel positif virus Avian Influenza asal Pasar Galiran sebesar 6,7%. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa virus Avian Influenza terdeteksi pada ayam kampung di Pasar Hewan Beringkit dan Pasar Umum Galiran, virus AI masih bersikulasi pada daerah asal peternakan dan penyakit AI masih mewabah di Bali.
Hubungan Motivasi Ibu Menyusui Dengan Keberhasilan Pemberian Asi Eksklusif Made Ririn Sri Wulandari; I Nyoman Suartha; Ni Luh Putu Dharmawati
Journal Center of Research Publication in Midwifery and Nursing Vol 4 No 2 (2020): Journal Center of Research Publication in Midwifery and Nursing
Publisher : STIKES Bina Usada Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36474/caring.v4i2.164

Abstract

ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi yang penting untuk tumbuh kembangnya secara optimal baik fisik maupun mental. Saat ini angka pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih rendah yaitu sebesar 30,2%. Faktor penyebab rendahnya pemberian ASI eksklusif meliputi pengetahuan, informasi, motivasi dan dukungan suami. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan motivasi ibu menyusui dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif, dengan metode penelitian yang digunakan adalah analitik korelasi dengan pendekatan retrospektif. Sampel penelitian diambil menggunakan teknik purposive sampling, dan didapatkan 76 ibu yang memiliki bayi usia 6-12 bulan. Data dikumpulkan dengan kuesioner dan dianalisis dengan uji statistik kendall's tau. Hasil penelitian menunjukkan, dari 76 responden sebagian besar motivasi ibu menyusui kuat dengan persentase 68,4% dan pemberian ASI eksklusif sebagian besar berhasil dengan persentase 73,7%. Uji statistik menunjukkan p value 0,001 < α 0,05, r = 0,635, yang menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara motivasi ibu menyusui dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif, dengan hubungan yang kuat antar variabel serta arah yang positif. Berdasarkan hal tersebut perlu ditingkatkan peran perawat sebagai edukator maupun konselor untuk memberikan motivasi ibu dalam pemberian ASI eksklusif selama masa nifas.
Laporan Kasus: Gestational Diabetes Mellitus pada Anjing Pug Betina Pascamelahirkan yang Ketiga Swandewi, Ni Kadek Meita; Soma, I Gede; Suartha, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (3) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.3.452

Abstract

Seekor anjing betina ras Pug berumur empat tahun dengan bobot badan 4,5 kg menunjukkan tanda klinis berupa poliuria, polidipsia, polipagia, dan penurunan bobot badan yang sangat signifikan dalam waktu tiga bulan setelah melahirkan. Pemeriksaan biokimia darah menunjukkan adanya peningkatan kadar glukosa dalam darah hingga 669 mg/dL dan pengujian dipstick urin menunjukkan adanya glukosa di dalam urin dengan hasil ? 2000 mg/dL. Anjing didiagnosis mengalami diabetes mellitus. Hewan kasus diberikan terapi berupa penggantian pakan menggunakan pakan khusus diabetik (Royal Canin Diabetic food ®) dan injeksi insulin glargine dengan dosis 0, 44 IU/kg BB dua kali sehari sebelum makan. Setelah dua minggu terapi, anjing kasus menunjukkan perkembangan yang baik yang ditunjukkan dengan menurunnya kadar glukosa darah menjadi 163 mg/dL dan menurunnya gejala klinis berupa poliuria, polidipsia, dan polipagia, walaupun bobot badan belum berhasil dipulihkan sepenuhnya.
Laporan Kasus: Babesiosis pada Anjing Pomeranian Septianingsih, Ni Luh Putu Diah; Widyastuti, Sri Kayati; Suartha, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (4) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.4.622

Abstract

Babesiosis atau piroplasmosis merupakan penyakit parasit didalam sel darah merah akibat infeksi protozoa dari genus Babesia. Kejadian babesiosis pada anjing umumnya disebabkan oleh Babesia canis dan B. gibsoni. Caplak merupakan vektor penting dalam penyebaran penyakit protozoa darah. Jenis caplak daerah tropis dan subtropis yang mejadi vektor penyakit adalah Rhipicephalus sanguineus. Hasil pegamatan ditemukan kasus babesiosis pada anjing pomeranian, berjenis kelamin jantan, usia satu tahun dengan gejala klinis penurunan nafsu makan dan ditemukan infeksi caplak di seluruh tubuhnya. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan Capillary Refill Time >2 detik, mukosa mulut pucat, peningkatan suhu tubuh dan dehidrasi. Hasil pemeriksaan Complete Blood Count (CBC) diinterpretasikan bahwa anjing mengalami anemia mikrositik hiperkromik, leukositosis, eritrositopenia dan trombositopenia. Hasil pemeriksaan mikroskopik ulas darah menunjukkan adanya infeksi protozoa Babesia sp. yang ditandai dengan stadium merozoit dengan bentuk piriform secara khas berpasangan membentuk buah pir (the pear shaped form) dan tropozoit berbentuk lingkaran pada eritrosit. Terapi yang diberikan yaitu ivermectin (0,2-0,5 mg/kg BB, q: 7-14 hari, SC) setiap seminggu selama empat kali, diphenhydramine (1 mg/kg BB, q: 8-12 jam, SC), Clindamycin (25 mg/kg BB, q: 12 jam, PO) diberikan selama 14 hari dan hematopoetik sekali sehari 1 tablet yang diberikan selama 7 hari. Kondisi anjing membaik setelah 14 hari.
Laporan Kasus: Penanganan Demodekosis General pada Anjing Kacang Sibarani, Oktryna Hodesi; Suartha, I Nyoman; Erawan, I Gusti Made Krisna
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (5) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.5.794

Abstract

Demodekosis adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh perkembangbiakan tungau Demodex sp. secara berlebihan. Demodekosis diklasifikasikan berdasarkan distribusi lesi yaitu demodekosis lokal dan demodekosis general/umum. Demodekosis terjadi pada hewan yang mengalami penurunan sistem imun, hewan tua, dan anak anjing yang berumur kurang dari satu tahun. Seekor anjing lokal berumur satu tahun dengan bobot badan 5,6 kg datang ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keadaan anjing tidak mau makan, lemas, dan kerontokan rambut pada wajah, sekitar mata, telinga, bagian punggung, serta pada bagian ekstremitas. Pada pemeriksaan fisik ditemukan eritema dan pustula pada bagian kaki belakang dan perut. Anjing menunjukkan rasa gatal. Pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan hewan kasus mengalami anemia dan peningkatan limfosit. Diagnosis demodekosis diteguhkan berdasarkan pemeriksaan kerokan yang dalam pada kulit ataudeep skin scraping ditemukan tungau Demodex sp. Prognosis anjing kasus adalah fausta. Anjing kasus diterapi dengan ivermectin (0,4 mg/kg BB) dan amitraz. Anjing kasus juga diobati dengan cefalexin (22 mg/kg BB, q12h) dan cyproheptadine HCl (1.5 mg/kg BB, dua kali seminggu) selama seminggu.
Madu Trigona Mampu Menghambat Pertumbuhan Jamur Curvularia sp. yang Diisolasi dari Anjing Patabang, Denselina Lilis; Suartha, I Nyoman; Sudipa, Putu Henrywaesa
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (1) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.1.117

Abstract

Curvularia sp. merupakan jamur dermatiaceae atau jamur dengan pigmen hitam yang menyebabkan berbagai macam penyakit pada hewan. Peningkatan invasi dan proliferasi jamur Curvularia sp. diakibatkan oleh penggunaan bahan kimia secara berlebihan. Oleh karena itu, dibutuhkan alternatif lain dalam mengobati penyakit jamur yaitu dengan obat herbal. Madu trigona mengandung senyawa flavonoid dan polyphenol karena lebah trigona dapat mengumpulkan nektar dari bagian bunga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang efektivitas madu trigona dalam menghambat pertumbuhan jamur Curvularia sp. Penelitian ini bersifat eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap terhadap enam perlakuan yaitu madu trigona konsentrasi 20%, 25%, 30% dan 100%, kontrol positif dan kontrol negatif terhadap biakan jamur Curvularia sp. pada media Sabouraud Dextrose Agar. Madu trigona kemudian di uji sensitivitasnya dengan teknik lubang sumuran pada media Sabouraud Dextrose Agar dan dilihat hingga terbentuknya zona hambat. Terbentuknya hambatan di sekitar lubang sumuran yang tidak ditumbuhi jamur menunjukkan hasil positif dan zona hambat dapat diukur. Data kemudian dianalisis dengan menggunakan sidik ragam. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa madu trigona konsentrasi 20%, 25%, 30% dan kontrol negatif tidak menghasilkan zona hambat (0 mm). Madu trigona konsentrasi 100% menghasilkan zona hambat sebesar 2,14 mm, sedangkan kontrol positif menghasilkan zona hambat sebesar 5,15 mm. Madu trigona yang dapat menghambat pertumbuhan jamur Curvularia sp. yaitu madu dengan konsentrasi 100%.
Nilai Eritrosit, Hemoglobin, Hematokrit, dan Indeks Eritrosit pada Anjing Penderita Dermatitis yang Diberikan Madu Trigona Sutadisastra, Nisha Aisya; Suartha, I Nyoman; Sudimartini, Luh Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (1) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.1.126

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pemberian madu trigona segar dan madu trigona kapsul terhadap nilai eritrosit, hemoglobin, hematokrit, dan indeks eritrosit pada anjing penderita dermatitis. Penelitian ini menggunakan sampel darah dari 14 ekor anjing berusia antara 2-6 bulan yang dibagi ke dalam tiga kelompok: kelompok I (2 ekor) sebagai kelompok kontrol (tidak diberikan madu), kelompok II (6 ekor) diberi madu trigona segar sebanyak 5 mL/hari, dan kelompok III (6 ekor) diberi madu trigona kapsul dengan takaran 110 mg/hari. Pemberian madu trigona dilakukan secara oral setiap hari sekali pada sore hari selama 35 hari. Pengambilan darah dilakukan seminggu sekali pada minggu ke-0, ke-1, ke-2, ke-3, ke-4, dan ke-5. Pengujian sampel darah dilakukan dengan alat hematology analyzer, data yang diperoleh dianalisis dengan uji sidik ragam pola berjenjang. Hasil analisis nilai eritrosit, hemoglobin, hematokrit, dan indeks eritrosit pada anjing penderita dermatitis menunjukkan bahwa pemberian madu trigona segar maupun madu trigona kapsul secara oral tidak berbeda nyata (p>0,05) dengan kelompok kontrol. Dapat disimpulkan pemberian madu trigona dengan takaran yang diberikan belum mampu meningkatkan jumlah eritrosit, hemoglobin, hematokrit, dan indeks eritrosit ke batas normal pada anjing penderita dermatitis.
Shedding Virus Vaksin Flu Burung Subtipe (H5N1) Isolat Dari Bali Tidak Ditemukan Pascavaksinasi Ayam Petelur Kencana, Gusti Ayu Yuniati; Sari, Tri Komala; Wijaya, Dhyana Ayu Manggala; Suartha, I Nyoman; Kendran, Anak Agung Sagung
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (6) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.6.830

Abstract

Flu burung atau Avian influenza (AI) merupakan penyakit viral akut yang sudah tersebar luas di seluruh dunia, dan saat ini bersifat endemik di Indonesia. Avian Influenza digolongkan penyakit menular strategis prioritas karena bersifat zoonosis berbahaya yang dapat menyerang unggas dan mamalia maupun manusia. Unggas yang diternakkan secara massal lebih rentan terserang avian influenza, seperti ayam petelur, sehingga perlu dilakukan upaya pencegahan dengan vaksinasi. Virus avian influenza mudah mengalami mutasi sehingga tidak dapat dikenali oleh antibodi yang sudah ada di dalam tubuh unggas, oleh karena itu perlu untuk selalu dilakukan pengembangan vaksin, contohnya adalah vaksin avian influenza subtipe H5N1. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah vaksin AI-H5N1 isolat dari Bali dapat digunakan pada peternakan ayam komersial dengan melihat kemamampuannya menekan shedding virus. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil 20 sampel swab kloaka secara acak dari 40 ekor ayam petelur yang sudah divaksin Avian Influenza subtipe H5N1 isolat dari Bali. Sampel swab selanjutnya diinokulasikan pada telur ayam berembrio melalui ruang alantois, diinkubasi dalam inkubator suhu 370C. Setelah 2-3 hari pascainokulasi, cairan alantois dipanen dan dilakukan uji HA/HI. Hasil penelitian menunjukkan tidak ditemukannya shedding virus vaksin AI-H5N1 isolat dari Bali, ditandai dari semua sampel swab yang diambil pada periode 1-4 minggu pascavaksinasi menunjukkan hasil negatif pada uji HA.
Titer Antibodi Sekunder Sebagai Respons Setelah Vaksinasi Aktif Penyakit Tetelo pada Ayam Petelur di Perean, Tabanan, Bali Remontara, Al Afuw Niha; Kencana, Gusti Ayu Yuniati; Suartha, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (1) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.1.1

Abstract

Penyakit tetelo atau Newcastle disease (ND) merupakan salah satu penyakit penting pada ayam yang sangat merugikan peternakan. Usaha pencegahan yang dilakukan salah satunya dengan jalan vaksinasi untuk meningkatkan derajat imunitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons imun ayam petelur pascavaksinasi tetelo. Penelitian dilakukan pada peternakan komersial di Desa Perean, Kabupaten Tabanan, Bali. Sampel penelitian sebanyak 20 ekor ayam petelur strain Novogen Brown yang diambil secara acak dari 100 ekor dan diberikan vaksin ND aktif strain lasota pada umur lima minggu melalui injeksi intramuskuler pada bagian otot paha (Musculus biceps brachii). Sampel darah diambil sebanyak lima kali, yaitu satu kali pravaksinasi dan empat kali pascavaksinasi. Cara pengambilan darah melalui pembuluh darah balik sayap (Vena Brachialis) dengan menggunakan disposable syringe volume 3 mL darah diambil sebanyak 1-2 mL. Darah dibiarkan beberapa jam hingga serumnya terpisah secara sempurna. Serum yang telah siap kemudian diuji serologi hemaglutination/hemaglutination inhibition (HA/HI). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan sidik ragam dilanjutkan uji Duncan menggunakan SPSS (Statistical Package for the Social Sciences) versi 25. Penelitian ini dilakukan dari bulan Januari sampai Maret 2021 pada peternakan ayam petelur komersial di Desa Perean, Kabupaten Tabanan, serta pemeriksaan serologi dilakukan di Laboratorium Virologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. Hasil penelitian terhadap respon imun sekunder ayam petelur pascavaksinasi tetelo aktif adalah titer antibodi ayam petelur terlihat naik secara signifikan sejak minggu ke-1 hingga minggu ke-4 dengan hasil titer minggu ke-1 yaitu 5,50 HI log 2, minggu ke-2 5,65 HI log 2, minggu ke-3 7,20 HI log 2, dan minggu ke-4 adalah 7,50 HI log 2. Periode pengambilan serum setiap minggu berpengaruh nyata terhadap peningkatan titer antibodi tetelo pascavaksinasi maka dari itu vaksin tetelo aktif strain lasota mampu menggertak pembentukan respon imun sekunder pascavaksinasi.
Co-Authors A A N G D Wisesa A A N O Pujawan A A S I Pradnyantari Abram Hary Batistuta Adi Setiawan Adnyana, Ida Bagus Nararya Primastana Agatha Seren Lumban Tobing Agatha Serena Lumban Tobing Aida Lousie Tenden Rompis Alya Nita Shena Gayanti Anak Agung Ayu Mirah Adi Anak Agung Gde Oka Dharmayudha Anak Agung Sagung Istri Pradnyantari Anak Agung Sagung Kendran Anak Agung Sagung Kendran Ananta, Muhammad Ghufron angelina serlin Anita Dwi Handayani Annisa Budiani Annisa Putri Cahyani Annisa Putri Cahyani Apriliana, Kadek Soma Arini Nur Handayani Arini Nur Handayani Arini Nurhandayani Arini Nurhandayani Ayu Fitriani Baiq Indah Pertiwi Bambang Pontjo Priosoeryanto Bhakty, Zatya Wira Bhaskara, Audrey Febiannya Putri BIBIANA W LAY Boro, Saptarima Eka Estiani Cahyaniarta, I Kade Candra Cyrilus Jefferson Bour Daniel Raja Bonar Nainggolan Dewa Odiec Purnawan Dewanti, Desak Gede Bintang Pradnya Dewi, Desak Made Wiga Puspita Dewi, Putu Ayu Purbani Novia Diana Mustikawati Duarsa, Bima Satya Agung DWI SURYANTO Dyah Utami Dewi EKA MAHARDHIKA RATUNDIMA Emy Sapta Budiari Eustokia Yulisa Madu, Eustokia Yulisa Fajar Mubarok Fatmawati Aras Fernandes, Nuno G.A.M.K. Dewi Gede Herdian Permana Putra Gusti Ayu Kencana Gusti Ayu Mayani Kristina Dewi Gusti Ayu Yunianti Kencana Gusti Ayu Yuniati Kencana Heparandita, Ananda Agung Dextra I Gede Soma I Gede Soma I Gusti Agung Arta Putra I Gusti Agung Ayu Suartini I Gusti Made Krisna Erawan I Gusti Made Krisna Erawan I Gusti Ngurah Badiwangsa Temaja I Gusti Ngurah Bagus Trilaksana I GUSTI NGURAH DIBYA PRASETYA I GUSTI NGURAH KADE MAHARDHIKA I Gusti Ngurah Kade Mahardika I Gusti Ngurah Mahardika I Gusti Ngurah Mahardika I Gusti Ngurah Narendra I Gusti Ngurah Narendra Putra I Gusti Ngurah Narendra Putra I Gusti Ngurah Narendra Putra I Gusti Ngurah Narendra Putra1, I Gusti Ngurah Narendra, I Gusti Ngurah I Gusti Ngurah Sudisma I GustiKetut Suarjana I K. SUATHA I KADEK SAKA WIRYANA I Ketut Eli Supartika I Ketut Gunata I Ketut Gunatha I Ketut Suada I Ketut Tomy Caesar Ramanda I Komang Wahyu Yuliana I Made Dira Swantara I Made Kardena I Made Merdana I Made Sukada I MADE SUMA ANTARA I Made Suma Anthara I Nengah Sudarmayasa i Nengah Wandia I NYOMAN MANTIK ASTAWA I Nyoman Suarsana I Nyoman Windhu Paramarta I Putu Gede Yudhi Arjentinia I Putu Indra Parmayoga I Putu Sudiarta I Putu Wira Adi Wibawa I W Y Semarariana I Wayan Batan I Wayan Bebas I Wayan Gorda I Wayan Suardana I wayan Teguh Wibawan I Wayan Wirata I. B. K. Suardana I.A.M.L. Dewi I.A.P. Apsari I.A.P. Gayatri I.B.K. Suardana I.G.A.A. Idayati I.H. Utama I.W. Batan Ida Ayu Dian Kusuma Dewi Ida Ayu Pasti Apsari Ida Ayu Sri Candra Dewi Ida Ayu Sri Chandra Dewi Ida Bagus Kade Suardana Ida Bagus Komang Ardana Ida Bagus Ngurah Swacita Ida Bagus Oka Winaya Ida Bagus Windia Adnyana Iman Bayu Prakoso Darmono Insani, Widia Iwan Harjono Utama Kadek Karang Agustina Kamaliana, Baiq Reni Ketut Budiasa Ketut Sepdyana Kartini Kevin Dominika Komang Andika Purnama Kristiana Yoaltiva Jinorati Kristina Kristina Ledi Natalia Surbakti Levina, Stephanie Luh Dewi Anggreni Luh Gde Sri Surya Heryani Luh Kadek Nanda Laksmi Luh Made Sudimantini Luh Made Sudimartini Lusiana Lasmari Siahaan Luwis, Jeremy Christian M P A Yunikawati M Windhu M.D. Rudyanto Madania, Reydanisa Noor MADE KOTA BUDIASA Made Ririn Sri Wulandari Made Suma Anthara Made Suma Anthara Margaretha Dhea Sinthalarosa Marmanto, Tessa Saputri Mawar Datu Allo Dendang Megariyanthi, Ni Putu Arie Melkias Oagay Melkias Oagay Muh Ramadhan Muhammad Ulqiya Syukron Musdalifa, Annisa Nareswari, Ayu Widya Nazara, Nonitema Nengah Tegar Saputra Ni Ketut Dias Nursanty Ni Ketut Suwiti Ni Ketut Suwiti Ni Komang Ade Juliantari Ni Luh Eka Setiasih Ni Luh Putu Dharmawati Ni Luh Putu Kusuma Clara Dewinda Ni Luh Putu Sriyani Ni Luh Putu Yunita Listiana Dewi Ni Luh Watiniasih Ni Made Ayu Sintya Paramita Ni Made Ernawati Ni Made Restiati Ni Made Rita Krisna Dewi Ni Made Ritha Krisna Dewi Ni Made Ritha Krisna Dewi Ni Made Ritha Krisna Dewi Ni Made Ritha Krisna Dewi2 Ni Nyoman Werdi Susari Ni Nyoman Werdi Susari Ni Putu Ayu Dewi Wijayanti Ni Putu Tiara Indriana Ni Wayan Tatik Inggriati Norawigaswari, Nengah Desy Nyoman Sadra Dharmawan P S Dwipartha P T E Sucitrayani P.I.S.S. Oka P.K. Pebyanthi Patabang, Denselina Lilis Prasatya, I Gde Made Abdi Priska Mariane Serang Putrawan, Baja Sadhayu Putri Utami Putri, Ayu Chitra Adhitya Putu Adi Cahya Dewi Putu Adrian Junaedi Putu Ayu Sisyawati Putriningsih Putu Devi Jayanti Putu Gede Yudhi Arjentinia Putu Hendrywaesa Sudipa Putu Henrywaesa Sudipa Putu Henrywaesa Sudipa Putu Henrywaesa Sudipa Putu Henrywaesa Sudipa Rahim, M. Andry Ratu Shinta Mayasari Remontara, Al Afuw Niha Reny Septyawati Retno Damayanti Soejoedono Rui Daniel de Carvalho S.K. Widyastuti Sachio, Drevani Angelika Samosir, Hartina Saputra, I Nyoman Dwi Eka Saweng, Cikal Farah Irian Jati Sawitajaya, I Made Sayu Raka Padma Wulan Sari, Sayu Raka Padma Wulan Septianingsih, Ni Luh Putu Diah Sheira Tannia Welfalini Sibarani, Oktryna Hodesi Sitohang, Martina Tiodora Situmorang, Fernando Jose Immanuel Clinton Sri Kayati Widyastuti Sri Kayati Widyastuti Sry Agustina Suarniti, Ni Luh Putu Sukoco, Hendro Sutadisastra, Nisha Aisya Suwartini, Ni Komang Swandewi, Ni Kadek Meita Syamsidar Syamsidar Syarif Lalu Hidayatullah T. Sari Nindia Tahlia, Ninis Arsyi Taruklinggi, Utari Resky Tiara L Rona Tjok Gde Oka Pemayun Tjokorda Sari Nindhia TRI KOMALA SARI Tri Suci Galingging, Tri Suci Valerie Xylia Tay Vivi Indrawati Widyanti, Agnes Indah Wijaya, Dhyana Ayu Manggala Willy Moris Nainggolan Wirawan, I Gede WIWIK SUSANAH RITA Wulandari Wulandari Yekhonya Rehuel Sidjabat Yoana Pratiwi Clara Pakpahan Yoga Pratama Nuradi Yosaphat L.S Kote Zumara Mufida Hidayati