Claim Missing Document
Check
Articles

RESPONS FISIOLOGIS DAN KINERJA PERTUMBUHAN IKAN NILA PADA MEDIA RENDAH AMONIA DAN DIBERI SUPLEMEN ASAM GLUTAMAT Titin Kurniasih; Dedi Jusadi; Muhammad Agus Suprayudi; Sri Nuryati; Muhammad Zairin Jr.; Eddy Supriyono
Jurnal Riset Akuakultur Vol 15, No 3 (2020): (September, 2020)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.117 KB) | DOI: 10.15578/jra.15.3.2020.175-183

Abstract

Ketika dipapar media tinggi amonia, ikan nila mengalami perubahan metabolisme asam amino yang cukup signifikan, dan suplementasi asam glutamat berguna untuk memperbaiki perubahan yang merugikan akibat paparan amonia. Akan tetapi informasi mengenai aspek metabolisme asam amino pada ikan nila yang dipapar amonia rendah masih sangat terbatas. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh suplementasi asam glutamat pada ikan nila merah yang dipelihara pada media budidaya rendah amonia terhadap respons fisiologis dan kinerja pertumbuhan. Ikan nila dengan bobot rata-rata 9,97 ± 0,38 g ditebar sebanyak 20 ekor pada setiap akuarium (padat tebar 1,0 g L-1). Empat jenis pakan isoprotein (kadar protein 28%) dan isoenergi (4245 ± 22,48 kkal kg-1) disuplementasi asam glutamat masing-masing sebanyak 0% (Glu 0), 0,75% (Glu 0,75), 1,5% (Glu 1,5) dan 2,25% (Glu 2,25). Setiap perlakuan diberi empat ulangan. Penelitian ini dilakukan selama 60 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan yang ditambah glutamat memberi efek pada respon fisiologis ikan. Aktivitas enzim aspartate aminotransferase (AST) pada Glu 2,25 lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan lainnya, yang menjadi indikasi penurunan beban kerja hati. Ada kecenderungan peningkatan kadar aspartat, alanin, leusin, isoleusin dan valin pada jaringan hati seiring dengan meningkatnya kadar suplementasi asam glutamat. Di dalam penelitian ini, kinerja pertumbuhan ikan tidak berbeda nyata antar perlakuan. Kesimpulannya adalah bahwa konsumsi pakan yang ditambah asam glutamat 2,25% mampu memperbaiki respons fisiologis ikan akibat menurunnya beban kerja hati yang dicirikan dengan penurunan nilai AST, serta meningkatnya kandungan beberapa asam amino hati, walau belum mampu memperbaiki kinerja pertumbuhan dan pemanfaatan pakan oleh ikan nila. Informasi ini berguna untuk pengembangan riset terkait aspek metabolisme asam amino pada ikan nila yang terpapar media tinggi amonia.When exposed to high ammonia aquatic environment, nile tilapia experienced a significant change in hepatic amino acid metabolism and glutamic acid supplementation can reduce the effects of the adverse change. However, there are no sufficient information on the amino acid metabolisme of tilapia exposed to low environmental ammonia. This research was performed to evaluate the effects of oral supplementation of glutamic acid on the aminotransferase enzymes activity and growth performance of red tilapia reared in low environmental ammonia (LEA) with NH4 concentration of 0.10 mg L-1. Fish with an average weight of 9.97 ± 0.38 g were stocked with an initial rearing density of 1.0 g L-1(20 fish in each aquarium). Four isonitrogenous (crude protein 28%) and isocaloric (4246 ± 22.48kcal kg-1) experimental diets were prepared with supplementation of different ratios of glutamic acid at 0% (Glu0), 0.75% (Glu0.75), 1.5%(Glu1.5) and 2.25 % (Glu2.25) to feed, respectively. All treatment groups were arranged quadruplicate. Fish were fed with the diets for 60 days. The results showed that the supplementation of glutamic acid in the diet affected the physiological response of the fish. The aspartate aminotransferase (AST) activity of Glu2.25 was significantly lower compared to that of the other treatments, which indicated a decrease in liver workload. There is a tendency of increased levels of hepatic free aspartate, alanine, leucine, isoleucine, and valine following the increase of glutamic acid supplementation level. The fish growth performance was insignificantly different between the treatments. It is concluded that a diet supplemented with 2.25% of glutamic acid could improve the physiological response of red tilapia, although no significant growth improvement should be expected. These research finding could serve as an important basic information for future research on amino acid and endogenous ammonia metabolism in nile tilapia exposed to high ammonia aquatic environment.
PENGARUH FREKUENSI PEMBERIAN Moina sp. SEBAGAI PAKAN AWAL PADA PEMELIHARAAN LARVA IKAN GABUS Channa striata DENGAN SISTEM AIR HIJAU Adang Saputra; Dedi Jusadi; Muhammad Agus Suprayudi; Eddy Supriyono; Mas Tri Djoko Sunarno
Jurnal Riset Akuakultur Vol 13, No 3 (2018): (September 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.119 KB) | DOI: 10.15578/jra.13.3.2018.239-249

Abstract

Ikan gabus Channa striata merupakan salah satu komoditas ikan air tawar yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Kendala dalam pengembangan budidaya ikan gabus adalah tingginya tingkat kematian pada stadia pemeliharaan larva. Tingginya kematian pada stadia larva karena kecukupan jumlah pakan dan nutrisi pakan awal yang tidak optimum. Tujuan percobaan adalah menentukan frekuensi pemberian Moina sp. yang tepat sebagai pakan awal pada pemeliharaan larva ikan gabus pada sistem air hijau (dengan menambahkan Chlorella sp.). Penelitian dirancang dengan rancangan acak lengkap. Perlakuan yang diberikan adalah frekuensi pemberian Moina sp. per hari sebagai pakan awal: A. enam kali tanpa pemberian Chlorella sp. (kontrol), B. enam kali + Chlorella sp., C. empat kali + Chlorella sp., dan D. dua kali + Chlorella sp. Hasil penelitian menunjukkan pemberian pakan awal dari jenis Moina sp. pada pemeliharan larva ikan gabus pada sistem air hijau dengan frekuensi pemberian dua, empat, dan enam kali dalam sehari memberikan performa sintasan (93,42%-94,29%) dan pertumbuhan tidak berbeda secara nyata (P>0,05). Frekuensi pemberian Moina sp. sebanyak dua kali sehari merupakan perlakuan yang efektif untuk sintasan dan pertumbuhan larva ikan gabus pada pemeliharaan dengan sistem air hijau.Snakehead fish Channa striata is one of the highly-valued freshwater fish commodity. However, its aquaculture development is hampered by a high mortality during larval stage rearing. This high mortality is suspected to be caused by insufficient quantity and quality of food. The purpose of this study was to determine the appropriate feeding frequency using Moina sp. as an initial food for snakehead fish larvae reared in a green water system (Chlorella sp.). A completely randomized design was arranged for this experiment where the treatments consisted of different feeding frequencies of Moina sp. given to the larvae as follows: A) six times a day without the addition of Chlorella sp. (control); B) six times a day with the addition of Chlorella sp.; C) four times a day with the addition of Chlorella sp.; and D) two times a day with the addition of Chlorella sp. The results of the experiment showed that the survival rate (93.42%- 94.29%) and growth of the larvae reared in the green water system with were not significantly different (P>0.05). However, this study suggested that feeding frequency of two times per day was sufficient to support an optimum growth and survival of snakehead larvae reared in a green water system.
EVALUASI KECERNAAN PAKAN, KANDUNGAN GOSSYPOL DAN ASAM SIKLOPROPENOAT DALAM ORGAN, DAN PERTUMBUHAN IKAN MAS YANG DIBERI FORMULASI PAKAN DENGAN KANDUNGAN TEPUNG BIJI KAPUK BERBEDA O.D. Subakti Hasan; Enang Harris; M. Agus Suprayudi; Dedi Jusadi; Eddy Supriyono
Jurnal Riset Akuakultur Vol 8, No 1 (2013): (April 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.884 KB) | DOI: 10.15578/jra.8.1.2013.97-107

Abstract

Biji kapuk memiliki potensi sebagai bahan baku lokal pakan ikan karena ketersediaannya dan mengandung protein dan asam lemak linoleat yang cukup tinggi, namun juga mengandung zat antinutrisi gossypol dan asam siklopropenoat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemanfaatan tepung biji kapuk ini dalam pakan terhadap kecernaan pakan, gambaran darah, dan kinerja pertumbuhan ikan mas. Hewan uji yang digunakan adalah ikan mas berukuran 5 g, yang dipelihara dalam akuarium kaca berukuran 80 cm x 50 cm x 40 cm dengan kepadatan 20 ekor/akuarium. Perlakuan yang dicobakan adalah pakan uji yang mengandung tepung biji kapuk berbeda yaitu 0%,10%, 20%, 30%, 40%, dan 50% bahan kering. Ikan diberi pakan uji secara satiasi tiga kali sehari selama 60 hari. Hasil penelitian menunjukkan perbedaankadar tepung biji kapuk dalam pakan memberikan pengaruh berbeda nyata (P<0,05) terhadap pertumbuhan ikan dan pemanfaatan pakan. Laju pertumbuhan harian, efisiensi pakan, retensi protein, dan lemak menurun dengan meningkatnya kandungan tepung biji kapuk dalam pakan. Aktivitas enzim pencernaan dan koefisien kecernaan pakan juga menurun dengan meningkatnya kandungan tepung biji kapuk dalam pakan. Peningkatan tepung biji kapuk dalam pakan meningkatkan kandungan gossypol dalam darah, hati, dan ginjal ikan mas, dan selanjutnya menurunkan kecernaan dan pemanfaatan nutrien pakan bagi pertumbuhan ikan mas. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kandungan biji kapuk 7 10% memperlihatkan pertumbuhan terbaik.
PEMIJAHAN INDUK, PROFIL KOLESTEROL, DAN ASAM LEMAK TELUR LOBSTER PASIR (Panulirus homarus) HASIL BUDIDAYA Yudha Trinoegraha Adiputra; Muhammad Zairin Jr.; Muhammad Agus Suprayudi; Wasmen Manalu; Widanarni Widanarni
Jurnal Riset Akuakultur Vol 13, No 3 (2018): (September 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (999.095 KB) | DOI: 10.15578/jra.13.3.2018.219-227

Abstract

Pembenihan lobster pasir (Panulirus homarus) belum berkembang di Indonesia karena terbatasnya teknik pemijahan induk dan belum diketahuinya tingkat keberhasilan induk betina membawa telur dan profil telur hasil pemeliharaan. Penelitian bertujuan untuk mempelajari pengaruh ablasi satu tangkai mata, metode pemijahan massal dan individual pada bulan gelap dan terang pada induk berganti kulit dan membawa telur, serta konsentrasi kolesterol dan asam-asam lemak telur pada lama pengeraman berbeda. Induk betina dan jantan dipakai secara terus-menerus saat percobaan pemijahan. Pemijahan pertama menggunakan pemijahan dengan rasio 2:1 pada bulan gelap. Percobaan kedua dan ketiga menggunakan pemijahan massal selama bulan terang dan gelap. Profil telur dibandingkan konsentrasi kolesterol dan asam lemaknya pada 1, 2, dan 3-4 minggu pengeraman. Hasil penelitian menunjukkan ablasi tangkai mata dapat menstimulasi pemijahan individual dan massal yang didahului dengan ganti kulit pada induk betina sebagai indikator pemijahan. Pemijahan massal pada bulan gelap menghasilkan induk betina membawa telur terbanyak dibandingkan pemijahan individual pada bulan gelap dan pemijahan massal pada bulan terang. Konsentrasi kolesterol dan asam-asam lemak telur mengalami perubahan mengikuti lama pengeraman oleh induk yang menunjukkan terjadinya peningkatan kematangan telur (P<0,05).Spiny lobster (Panulirus homarus) hatchery has not been developed in Indonesia. Major constraints were limited broodstock spawning techniques, low incidence of eggs-berried broodstock, and unknown eggs profile. This study aimed to evaluate the effects of eyestalk ablation, spawning methods and moon circulation to molted, the number of eggs berried of females, and eggs-berried cholesterol and fatty acids profiles. Individual and mass spawning during full and new moon were used in this studies. Female and male broodstocks were used for consecutive spawning with ratio 2:1. The first study was used individual spawning during new moon. The second and third studies were used mass spawning during full moon and new moon, respectively. Eggs-berried profile compared concentration of cholesterol and fatty acids during 1, 2, and 3-4 weeks. Results showed eyestalk ablation stimulated individual or mass spawned and molted of female as early indicator of spawning. Full moon and mass spawning supported more eggs-berried female broodstock than that of other methods. Cholesterol and fatty acids showed different concentration within 1, 2, and 3-4 weeks of eggs-berried that supported eggs maturity (P<0.05).
Ablasi Tangkai Mata Mempercepat Pematangan Ovari Lobster Pasir (Panulirus homarus) pada Musim Pemijahan Yudha Trinoegraha Adiputra; Muhammd Zairin Junior; Muhammad Agus Suprayudi; Wasmen Manalu; Widanarni Widanarni
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 5 (2018): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL V KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.391 KB)

Abstract

Musim pemijahan alami lobster pasir di perairan Pesisir Barat Lampung terjadi pada Juli-September yang ditandai dengan hasil tangkapan induk betina yang membawa telur mendominasi saat ditangkap. Pelarangan penangkapan lobster pasir ukuran kecil diduga akan menganggu produksi penangkapan sehingga perlu dimulai pembenihan yang memperlukan teknik pemeliharaan dan maturasi ovari induk betina lobster pasir hasil tangkapan alam. Tujuan penelitian ini mempelajari cara pemeliharaan induk dan pengaruh ablasi satu tangkai mata pada maturasi ovari lobster pasir (Panulirus homarus). Empatpuluh delapan ekor lobster pasir digunakan dan dipisahkan menjadi 2 kelompok yaitu ablasi satu tangkai mata dan tanpa ablasi tangkai mata. Tiga ekor diambil dari setiap kelompok pada hari ke-1:3:7:10:14:21 dan 27 untuk evaluasi perubahan anatomi ovari dan gonadosomatik indeks (GSI). Hasil penelitian menunjukkan seleksi selama masa adaptasi induk dapat meniadakan kematian induk karena ablasi mata. Anatomi ovari menunjukkan terjadinya maturasi ovari yang meningkat dari matang awal menjadi matang berlebih dengan ablasi mata pada hari ke-3 setelah ablasi sampai hari ke-27. Berbeda dengan perlakuan diatas, induk betina tanpa ablasi mata tidak dapat mematangkan ovari secara spontan. Setelah 27 hari, ovari secara serentak mencapai matang berlebih yang diasumsikan karena nutrien dari pakan yang diberikan dapat mendukung maturasi ovari. Perbedaan GSI antara perlakuan ablasi satu tangkai mata berbeda nyata (P<0,05) dengan tanpa ablasi tangkai mata. Hal ini menunjukkan hilangnya hormon penghambatan vitelogenesis (VIH) dan terpacunya hormon stimulasi vitelogenesis (VSH) karena ablasi tangkai mata. Studi merekomendasikan adaptasi untuk seleksi induk, ablasi untuk memperoleh maturasi ovari yang singkat dibandingkan dengan tanpa ablasi mata meskipun dengan nutrien pakan yang berkualitas. Kata Kunci: ablasi mata, GSI, lobster pasir, maturasi ovari, musim pemijahan 
Pengaruh Pemberian Pakan yang Berbeda terhadap Pertumbuhan Tukik Penyu Lekang (Lepidochelys Olivacea) di Turtle Conservation and Education Center Pulau Serangan: Effect of Different Feed Giving on the Growth of Lekang Sea Turtle (Lepidochelys Olivacea) in TCEC Serangan Island Komang Adi Wika Wiguna; Kadek Yuniari Suryatini; I Wayan Suanda; I Gusti Agung Gede Wiadnyana
Emasains : Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Vol. 8 No. 1 (2019): Maret 2019
Publisher : FPMIPA IKIP PGRI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.465 KB)

Abstract

This study was carried out the effect of different feeding on the growth of lekang juveniles (Lepidochelys olivacea) at the Turtle Conservation and Education Center (TCEC), Serangan, Bali. The study was conducted for six weeks using a Completely Randomized Design with 3 treatments, namely P1 (scad mackerel), P2 (vannamei shrimp), and P3 (kepah shells). The treatments were repeated 5 times and each replication repeated 3 times using 45 juveniles. The study was analyzed with analysis of variance. The results showed that there was an effect of different feeding on the growth of lekang juveniles. The highest growth rate of lekang juveniles is found in P1 (scad mackerel) and the lowest growth rate is found in P3 (kepah shells).
Combination of Nigella sativa and Phyllanthus niruri as An Immunostimulant for The Prevention of White Spot Disease in Litopenaeus vannamei Wida Lesmanawati; Wasmen Manalu; Min Rahminiwati; Muhammad Agus Suprayudi; Sri Nuryati
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 11 No. 3 (2022): JAFH Vol. 11 No. 3 September 2022
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jafh.v11i3.27470

Abstract

Pacific whiteleg shrimp (Litopenaeus vannamei) is a very important commodity, which accounts for almost 70% of the total world shrimp production. However, this production is still threatened by disease attacks, one of which is caused by white spot disease (WSD). Herbs are widely used as immunostimulants as an effort to prevent diseases. Black cumin (Nigella sativa) and stone breaker (Phyllanthus niruri) have long been known as excellent immunostimulants in human. This study aimed to evaluate the potential of N. sativa and its combination with P. niruri as an immunostimulant in L. vannamei for preventing WSD. Tested shrimp (±3.0 g) were treated by N. sativa (N), P. niruri (P) and the combination of both (1N:1P, 2/3N:1/3P, 3/4N:1/4P, 1/3N:2/3, 3/5N:2/5P, 1/4N: 3/4P, 2/5N:3/5P) through feed for 28 days. They were then infected by white spot syndrome virus (WSSV) and observed for 7 days. The parameters observed included immune response and production performance.  N. sativa was able to reduce the mortality of test shrimp infected with WSSV, with an RPS value of 71%. N. sativa can be combined with P. niruri in the right composition (1/2N:1/2P and 2/3N:1/3P), while the other combinations are antagonistic. The administration of the best treatments in this study, relatively did not affect the value of total hemocyte count, phenoloxidase activity, respiratory burst activity, hemolymph clotting time and production performance of tested shrimp.
Evaluation of dietary coffee Coffee canephora husk supplementation on the growth, blood chemicals, and antioxidative activity of red Nile tilapia Oreochromis sp. Azmi Afriansyah; Setiawati, Mia; Muhammad Agus Suprayudi; Ichsan Achmad Fauzi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.1.18-26

Abstract

Coffee by-products can be used as a feed additive for red Nile tilapia. This study aimed to evaluate the utilization of different dietary coffee husk supplementation dosages on the growth and antioxidative activity of red Nile tilapia (Oreochromis sp.). This study was designed following the completely randomized design experimental method, containing five dietary supplementation treatments, namely P0 (control, 0%), P1 (1%), P2 (2%), P3 (3%), and P4 (4%). Fish were reared for 8 weeks and fed three times a day. Parameters observed contained growth performance and antioxidative activity. The results showed that dietary coffee husk powder supplementation treatments provide higher growth than control treatment. Based on blood chemicals, coffee husk-supplemented diets could enhance the HDL content and reduce cholesterol, triglycerides, and LDL (P<0.05). Superoxide dismutase enzyme was also found higher in coffee husk supplemented diets than in control diet (P<0.05). The MDA level decreased on the coffee husk-supplemented diet treatment and was lower than the control treatment (P<0.05). Dietary supplementation of coffee husk could positively affect liver performance, based on hepatosomatic index and glycogen level. This study concludes that 4% coffee husk in the diet is considered the best treatment to improve the growth and antioxidation level of red Nile tilapia. Keywords: antioxidant, coffee husk, diet, growth, tilapia ABSTRAK Coffee by- product dapat digunakan dalam pakan ikan nila sebagai feed additive. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemanfaatan tepung kulit dengan dosis berbeda terhadap kinerja pertumbuhan dan antioksidan ikan nila merah (Oreochromis sp.). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari lima perlakuan pakan, yaitu P0 (Kontrol), P1 (1%), P2 (2%), P3 (3%) dan P4 (4%). Pemeliharaan dilakukan selama 60 hari dengan frekuensi pemberian pakan sebanyak 3 kali sehari. Parameter yang diamati adalah kinerja pertumbuhan dan antioksidan. Hasil menunjukkan bahwa pemberian tepung kulit kopi dalam pakan memberikan pertumbuhan yang lebih tinggi dari perlakuan kontrol. Profil biokimia darah menunjukkan bahwa penambahan tepung kulit kopi meningkatkan HDL dan menurunkan kolesterol, trigliserida dan LDL pada ikan yang diberi pakan perlakuan yang mengandung kulit kopi lebih tinggi dibandingkan dengan control (P<0,05). Enzim SOD lebih tinggi pada ikan yang diberi pakan perlakuan kulit kopi dibandingkan control (P<0,05). Kadar MDA menurun pada perlakuan penambahan tepung kulit kopi dan lebih rendah dari perlakuan control (P<0,05). Suplementasi tepung kulit kopi berpengaruh positif terhadap kinerja hati yang ditunjukkan pada nilai indeks hepatosomatik dan glikogen hati. Penelitian ini menyimpulkan bahwa, penggunaan tepung kulit sebesar 4% dalam pakan dianggap paling baik dalam meningkatkan kinerja pertumbuhan dan antioksidan pada ikan nila. Kata kunci: antioksidan, kulit kopi, pakan, pertumbuhan, ikan nila
PENGARUH PEMBERIAN PAKAN BUATAN PADA UMUR YANG BERBEDA PADA LARVA IKAN BETOK Anabas testudineus BLOCH Artin Indrayati; Mia Setiawati; Muhammad Agus Suprayudi; Kusriyati Kusriyati
Buletin Jalanidhitah Sarva Jivitam Vol 4, No 2 (2022): September 2022
Publisher : POLITEKNIK AHLI USAHA PERIKANAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bjsj.v4i2.11370

Abstract

Penelitian untuk mengetahui pengaruh pakan buatan yang diberikan pada umur yang berbeda dilakukan pada larva ikan Betok Anabas testudineus Bloch. Studi ini terdiri dari lima perlakuan dan tiga ulangan. Larva mendapat terapi pakan yang sama dengan perbedaan awal pemberian pakan buatan pada hari ke-15, ke-20, dan ke-25 setelah menetas (masing-masing W15, W20, dan W25). Artemia (AR) dan pakan buatan saja (MD) diberikan pada larva pada perlakuan kontrol sampai akhir penelitian (35 hari setelah menetas). Larva ikan yang berumur lebih dari 10 hari dibesarkan di 15 akuarium dengan volume masing-masing 10 liter, masing-masing menampung 10 L-1 ikan. Larva ikan berumur 10 hari dipelihara pada 15 akuarium (volume 10 liter) dengan kepadatan 10 ekor L-1. Pengaruh pemberian pakan buatan mikrodiet pada larva ikan Betok (A. testudineus) pada umur yang berbeda menunjukkan pertumbuhan yang tidak berbeda nyata pada umur 20 dan 25 hari setelah menetas berdasarkan nilai rasio DNA:RNA. Sedangkan yang diberi mikrodiet sejak awal memiliki rasio DNA:RNA tertinggi yang diduga menunjukkan kondisi stres fisiologi karena terhambatnya perkembangan saluran pencernaan.
Effect of feedings with different protein levels and dietary supplemental rElGH on culture performances of sex reversed Oreochromis niloticus (Linnaeus, 1758) Muhammad Safir; alimuddin alimuddin; Mia Setiawati; muhammad Agus Suprayudi; Muhammad Zairin Junior
Depik Vol 11, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.573 KB) | DOI: 10.13170/depik.11.1.22550

Abstract

This study aims to evaluate the culture performance of tilapia (Oreochromis niloticus) that have been treated with 17α-methyltestosterone (MT) and without MT (w-MT), feed with different protein levels (20, 24, and 28%) and recombinant Epinephelus lanceolatus growth hormone (rElGH)-diet. The research was conducted in 9 treatments and triplicate. Tilapia larvae were soaked twice, totaling 500 larvae, at the age of 10 days after hatching (DAH) and the age of 14 DAH was soaked for 4 hours using 1/l MT 2 mg/l solution. Fish maintenance was conducted in an aquarium of 1.0x0.5x0.5 m3 in the first month, and three months later in net cages (2.0x2.0x1.5 m3). Daily growth rate (DGR) and biomass gain (BG) were increased in line with increasing feed protein content and rElGH supplementation. The highest DGR and BG values were MT+28+rElGH (P 0.05) treatment. The highest feed consumption and the lowest feed conversion ratio were also obtained in the MT+28+rElGH treatment (P 0.05). Fish survival was ranged from 79.89 to 90.28% (P 0.05). The highest profit potential was found in the MT+28+rElGH treatment. The efficient aquaculture can be obtained by feeding sex-reversed tilapia at a protein level of 28% and a diet supplemented with rElGH.Keywords:Feed conversion ratioGrowth hormoneProtein retention17α-methyltestosterone
Co-Authors , Alimuddin , Sarmin . Ridwan . Vera Dewi Mulia, Troef Soemarno A Halim A. Malik Serang A. Shofy Mubarak Achmad Noerkhaerin Putra Adang Saputra Adiasmara Giri, I Nyoman Agus Oman Sudrajat Ahmad Yazid Latif Aimma, Muhammad Ariful Akhmad Baihaqi Alimuddin alimuddin alimuddin Amelia Oktaviani, Amelia Anargya Pradipa Tristanandana Apriana Vinasyiam Aprilianti Pratiwi Arief Boediono Aris Sudiyanto Aris Tri Wahyudi Arradini, Dewi Artin Indrayati Asda Laining Asda Laining Atmojo, Joko Tri Azmi Afriansyah Benny Heltonika Burhanudin Faisal, Burhanudin D. Jusadi Dairun, Suclyadi DARMAWAN SETIA BUDI Darsiani Darsiani Darsiani Darsiani Deddy Yaniharto Deddy Yaniharto DEDI JUSADI Dedi Jusadi Dedi Jusadi Dedi Yaniharto dedy yaniharto Denny Wahyudi DIAH AYU SATYARI UTAMI Diamahesa, Wastu Ayu Dian Novita Sari Didi Humaedi Yusuf, Didi Humaedi Dinamella Wahjuningrum Dinar Tri Soelistyowati Dini Harianto Dodi Hermawan E. Mursitorini Eddy Supriyono Edy Marsudi Elas, Putri Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Surawidjaja Endriatmo Soetarto F. Hapsyari Faiqotul Himmah, Maihardiyanti Fatma Hajiali Fauzan Fredinan Yulianda Gadis Sri Haryani Gebbie Edriani Ghina Raudathul Jannah Giri Maruto Darmawangsa, Giri Maruto Hadi Pratama, Ricky Harton Arfah Hasan Abidin Hasan Nasrullah Hasan Nasrullah Hasrah Hasrah Helena Sahusilawane Hendriana, Andri Husnidar Husnidar I Dewa Putu Oka Suardi I Gede Setiawan Adi Putra I Gusti Agung Gede Wiadnyana I GUSTI AGUNG GEDE WIADNYANA . I Gusti Ayu Rai I MADE ARTIKA I Made Artika I Wayan Budiyasa I Wayan Nurjaya I Wayan Suanda I. Mokoginta Ichsan Achmad Fauzi Iis Diatin Imah, Nenden Imlani, Ainulyakin Hasan Inarto, Hendri ING MOKOGINTA Iqbal Kurniawinata, Mohamad Ira Akhdiana Irmawati Irvan Faizal Irzal Effendi Ismarica, Ismarica Jr., Muhammad Zairin Juli Ekasari Julie Ekasari Jullie Ekasari KATSUYUKI HAMASAKI KATSUYUKI HAMASAKI KETUT BUDI SUSRUSA Komang Adi Wika Wiguna Kusriyati Kusriyati L. Indriastuti Latifah Kosim Darusman Ligaya I. T. A. Tumbelaka M. Ikhsan M. Setiawati M. Tri Djoko Sunarno M. Zairin Junior Mas Tri Djoko Sunarno Meilisza, Nina Meritha, Wellya Wichi Mia Setiawati Muhaimin Hamzah Muhammad Jailani Muhammad Junior Zairin Muhammad Raditya Gumelar Muhammad Ridzky Adhory Muhammad Roikhan Amanullah Muhammad Safir Muhammad Zairin Jr Muhammad Zairin JR Muhammad Zairin Jr Muhammad Zairin Jr Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. MUHAMMAD ZAIRIN Jr. Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. Mulyasari Mulyasari Munawar Khalil Muslim Muslim Muzahar Niagara, Niagara Nina Meilisza Nur Bambang Priyo Utomo Nuraini Annisa, Nuraini Nuril Farizah Odang Carman Otie Dylan Soebhakti Hasan Padlilah, Rahmi Paramadina, Siwi Pattipeilohy, Christian Ernsz R Rifai R. Sutajaya Raditya Gumelar, Muhammad Rahminiwati, Min Rakhmawati, Rakhmawati, Ria Septy Anggraini, Ria Septy Ricky Ramadhan Ridhia Putri RIDWAN AFFANDI Rina Hirnawati Rizky Nafaida Samalei, Ermianus Sarwititi Sarwoprasojdo, Sarwititi Senja, Reza Karunia Setyorini, Catur Siti Komariyah Sri Nuryati Sri Nuryati Suardi Laheng Suci Antoro Suci antoro Suclyadi Dairun Sukenda, Sukenda, Supriyadi Hari Respati Suryadi Saputra T. Makmur Talita Shofa Adestia Tatag Budiardi Titin Kurniasih TOSHIO TAKEUCHI TOSHIO TAKEUCHI Tulas Aprilia Upmal Deswira Utomo, Nurbambang Priyo Wahyudi, Imam Tri Wasmen Manalu Wida Lesmanawati WIDANARNI WIDANARNI Widiyanto, Aris Wijianti, Hani Wijiwinarsih, Amallia Wika Wiguna, Komang Adi Winda Styani Irawan, Winda Styani Wiyoto Wiyoto Y. Hadiroseyani Yessy Rahmayanti Yogo Tri Saloko Yudha Trinoegraha Adiputra Yudha Trinoegraha Adiputra Yutaka Haga Zairin Jr., Muhammad Zinatul Hayati