Claim Missing Document
Check
Articles

Peningkatan laju pertumbuhan benih ikan gurame (Osphronemus goramy Lac.) yang direndam dalam air yang mengandung hormon pertumbuhan ikan mas [Growth enhancement of Osphronemus goramy Lac.juvenile immersed in water containing recombinant Cyprinus carpio growth hormone] Irmawati Irmawati; Alimuddin Alimuddin; Muhammad Zairin Jr; Muhammad Agus Suprayudi; Aris Tri Wahyudi
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 12 No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v12i1.126

Abstract

This study was aimed toenhance the growth of the giant gourami juve-nile by immersion with recombinant Cyprinus carpio growth hormone (rCcGH). Recombinant growth hormone was expressed by plasmid pCold-I/CcGHin E. coli BL21 (DE3). The inclusion bodies were isolated from E. coli using lyso-zyme and centrifugation method. Immersion with water containing 0.9% NaCl and 0.01% bovine serum albumin and inclusion bodies with different doses of rCcGH, 5 mgL-1 (C1), 15 mgL-1 (C3), and 30 mg L-1 (C6) was performed for 1 hour on weekly basis for the first four weeks of experimental period. Fish were subjected to salinity shock of 30 ppt NaCl for 2 minutes before it was transferred into the water containing rCcGH. Controls fish were without immersion and salinity shock (control), immersed in 30 ppt NaCl for 2 minutes (SS), immersed in 0.01% BSA (BSA), and immersed in medium containing BSA and 30 mg L-1 inclusion bodies of pCold without rCcGH (pCold).The giant gourami ju-venile treated with 30 mg L-1 rCcGH were 72.90% heavier and 21.04% longer (p<0.05) than the control, and 43.07% heavier and 14.64% longer (p<0.05) than the pCold. No significant difference in survival rate was obtained between treatments and controls. Biomass of fish treated 30 mgL-1 rCcGH was the highest among others. The rCcGH was able to promote soluble protein synthesis and lipid utilization as energy sources to spare protein (protein sparing effect). Thus, immersion with rCcGH could be applied to enhance the growth of giant gourami juvenile. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk memacu pertumbuhan benih ikan gurame melalui perendaman dengan hormon pertumbuhan rekombinan ikan mas (rCcGH). Hormon pertumbuhan rekombinan diekspresikan oleh plasmid pCold-I/CcGH di dalam Escherichia coli BL21(DE3). Badan inklusi diisolasi dari E. coli menggunakan lisozim dan metode sentrifugasi. Perendaman dilakukan selama 1 jam di dalam air yang mengandung 0,9% NaCl, 0,01% albumin serum sapi (BSA), dan badan inklusi rCcGH pada dosis5 mg L-1 (C1),15 mg L-1 (C3), dan 30mg L-1 (C6),sekali seminggu pada 4 minggu pertama. Ikan diberi kejutan salinitas 30 ppt NaCl selama dua menit sebelum ikan dipindahkan ke dalam air yang mengandung rCcGH.Sebagai kontrol ialah: benih ikan gurame tanpa perendaman (kontrol), benih ikan gurame yang diberi kejutan salinitas (SS), benih ikan gurame yang direndam di dalam air media yang mengandung BSA (BSA), dan benih ikan gurame yang direndam di dalam air yang mengandung BSA dan protein pCold-I tanpa rCcGH (pCold). Setelah tujuh minggu pemeliharaan, kelompok ikan yang direndam dalam air yang mengandung 30 mg L"1 rCcGH,72,90% bobot lebih berat dan 21,04% badan lebih panjang di-bandingkan dengan kontrol serta 43,07% bobot lebih berat dan 14,64% badan lebih panjang dibandingkan dengan pCold (p>0,05). Kelangsungan hidup antar perlakuan dan kontrol tidak berbeda nyata. Biomassa kelompok ikan yang direndam dengan 30 mg L-1 adalah yang tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya. GH rekombinan ikan mas meningkatkan sintesis protein terlarut dan pemanfaatan lipid sebagai sumber energi sehingga mengoptimalkan pemanfaatan protein untuk pertumbuhan (protein sparing effect). Dengan demikian, perendaman dengan rCcGH dapat diaplikasikan untuk memacu pertumbuhan benih ikan gurame.
Aplikasi pemberian taurin pada rotifer untuk pakan larva ikan kerapu bebek Cromileptes altivelis [The application of rotifers enriched with taurine for larvae of humpback grouper Cromileptes altivelis] Dedi Jusadi; Achmad Noerkhaerin Putra; Muhammad Agus Suprayudi; Deddy Yaniharto; Yutaka Haga
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 12 No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v12i1.131

Abstract

This experiment was performed to evaluate the effect of rotifers enriched with taurine on the growth and survival rate of larval humpback grouper Cromileptes altivelis. A duplicate feeding experiment was conducted in 1000 L rectangular fiberglass tanks supplied with seawater. Hatched-larvae were stocked into the tanks at a density of 10 ind. L-1 and cultured for 16 days. Larvae were fed on rotifers either from mass culture (control), or enriched with 0 and 0.5 g taurine in 10 L culture medium, respectively. Results shows that larvae fed on rotifers enriched with 0.5 g taurine significantly had the highest survival rate (58.4%), ratio of RNA/DNA (0.2), and total length (5.86 mm). The survival rate, ratio of RNA/DNA, and total length for fish in control and 0 taurine treatments were 17.6% and 33.6%; 0.1 and 0.15; 5.43 mm and 5.70 mm, respectively. It was also found that larvae consumed more rotifers when enriched with 0.5 taurine. These results suggest that the larval growth of humpback grouper was significantly improved by the feeding of rotifers enriched with taurine. AbstrakPenelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh rotifera yang diperkaya dengan taurin terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva ikan kerapu bebek Cromileptes altivelis. Percobaan pemberian pakan secara duplikasi dilakukan pada tangki fiber persegi panjang dengan kapasitas 1000 L air laut. Larva ikan yang baru menetas ditebar ke dalam tangki dengan kepadatan 10 ekor.L-1 dan dipelihara selama 16 hari. Selama masa pemeliharaan, ikan diberi pakan tiga jenis rotifera, yakni rotifera yang diambil dari kultur massal (kontrol), serta rotifera yang diperkaya dengan 0 atau 0,5 g taurin per 10 L media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larva ikan yang diberi rotifera yang diperkaya dengan 0,5 g taurin secara signifikan memiliki nilai kelangsungan hidup (58,4%), nisbah RNA/DNA (0,2), serta panjang total (5,86 mm) tertinggi. Nilai kelangsungan hidup, nisbah RNA/DNA, serta panjang total ikan pada perlakuan kontrol dan 0 g taurin masing-masing sebesar 17,6% dan 33,6%; 0,1 dan 0,15; 5,43 mm dan 5,70 mm. Ditemukan pula bahwa larva ikan lebih banyak mengkonsumsi rotifera yang diperkaya dengan 0,5 g taurin dibanding perlakuan lainnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan larva ikan kerapu bebek secara signifikan meningkat dengan mengkonsumsi rotifer yang diperkaya dengan taurin.
Suplementasi crude enzim cairan rumen domba pada pakan berbasis sumber protein nabati dalam memacu pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus) [Liquid rumen crude enzyme supplementation in the plant protein based diet on growth performance of nile tilapia (Oreochromis niloticus)] M. Agus Suprayudi; Wastu Dimahesa; Dedi Jusadi; Mia Setiawati; Juli Ekasari
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 11 No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v11i2.141

Abstract

This research was conducted to evaluate the effect of supplementation of crude enzyme from rumen fluid in the natural protein-based diet for the growth performance of nile tilapia. The weight average of nile tilapia juvenile which used in this research was 6.10±0.49 g. The fish were reared in the aquarium with measuring 35 x 40 x 50 cm3 with a density of eight fish per aquarium for 54 days. Aquariums equipped with recirculation system. Fish were fed ad libitum three times a day. Four types of feed that used in this research have the similar protein content (28% and 4,050 kcal GE kg-1). All feed were supplemented with different level of crude enzyme namely 0 ml kg-1 (diet A), 200 ml kg-1 (diet B), 400 ml kg-1 (diet C) and 600 ml kg-1 (diet D). Food consumption, feed efficiency, protein retention rate, lipid retention, daily growth, and survival rate were used as parameters tested. Research design was complete randomized block design with four treatments and each of the treatment with three replications. Research results showed that supplementation of crude enzyme from rumen fluid have significant effect on feed efficiency, protein retention and lipid retention of nile tilapia (p<0.01). The effect of crude enzyme supplementation was not significant on survival rate, specific growth and feed consumption, but supplementation of 200 ml kg-1 crude enzyme showed the best effect on the growth performance of nile tilapia. AbstrakPenelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh suplementasi crude enzim cairan rumen pada pakan berbasis protein nabati terhadap kinerja pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus). Ikan yang digunakan dalam penelitian ini adalah juwana ikan nila yang berukuran 6,10±0,49 g. Ikan dipelihara dalam akuarium berukuran 35x40x50 cm3 de-ngan kepadatan delapan ekor per akuarium, yang dilengkapi dengan sistem resirkulasi selama 54 hari. Ikan diberi pakan sampai kenyang dengan frekuensi tiga kali sehari. Empat macam pakan yang digunakan dalam penelitian ini memiliki kadar protein dan energi yang sama yakni 28% dan 4.050 kkal GE kg-1 dan berbeda pada jumlah penambahan crude enzim cairan rumen domba (crude enzyme) yakni 0 ml kg-1 (pakan A), 200 ml kg-1 (pakan B), 400 ml kg-1 (pakan C) dan 600 ml kg-1 (pakan D). Konsumsi pakan, efisiensi pakan, laju retensi protein, retensi lemak, pertumbuhan harian, dan kelangsungan hidup digunakan sebagai paramer yang diuji. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan setiap perlakuan diulang tiga kali. Hasil penelitian ini memper-lihatkan bahwa penambahan crude enzim cairan domba memberi pengaruh yang nyata terhadap efisiensi pakan, retensi protein dan retensi lemak ikan nila (p<0,01). Adapun nilai kelangsungan hidup, laju pertumbuhan spesifik dan konsumsi pakan terlihat tidak berbeda akibat adanya penambahan crude enzim tersebut. Penambahan enzim sebanyak 200 ml kg-1 memberikan hasil yang terbaik terhadap kinerja pertumbuhan ikan nila.
Color quality and antioxidant activity evaluation of clown loach juvenile, Chromobotia macracanthus Bleeker 1852 by addition of astaxanthin in diet Rina Hirnawati; Dedi Jusadi; Jullie Ekasari; Muhammad Agus Suprayudi
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 20 No 1 (2020): February 2020
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v20i1.492

Abstract

Botia or clown loach is the one of fishes was originated from Indonesia and as an ornamental fish commodity in the global market. Clown loach both nature and cultured have some problems when reared in aquaria that is the decrease of color quality. An innovation technology to improve color quality through diet formulates is needed. The aims of this research were to increase the color quality using astaxanthin in diet and to find out the role of astaxanthin as antioxidant in clown loach. The study consists of four treatments of astaxanthin dosages in the diet with isoprotein and isoenergy, namely 0, 50, 100 and 150 mg kg-1 with four replications. The fish juveniles with size of 3.44±0.51 cm and 0.56±0.02 g of weight with density of one fish per littre were used. The test diet was given three times a day during 60 days. The results showed that there were no significant differences antioxidant activity such as superoxide dismutase enzymes and malondialdehyde. However, there was a significant effect (P<0.05) to color quality of the chroma and total carotenoid, whereas no significantly different in lightness. The addition of astaxanthin was effective to improve the color quality of clown loach juvenile. Thus, 100 mg kg-1 of astaxanthin in diet is an optimal dose for clown loach juvenile. Abstrak Ikan botia adalah salah satu jenis ikan hias asli Indonesia dan merupakan komoditas perdagangan internasional. Ikan botia hasil tangkapan maupun hasil budidaya memiliki permasalahan saat dipelihara karena mengalami penurunan kualitas warna. Inovasi teknologi teknologi diperlukan untuk peningkatan kualitas warna ikan botia melalui ramuan pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan astaksantin dalam pakan terhadap kualitas warna dan peran astaksantin sebagai antioksidan pada yuwana ikan botia. Penelitian terdiri atas empat perlakuan de-ngan empat ulangan. Perlakuan berupa penambahan astaksantin dalam pakan dengan dosis yang berbeda yaitu 0, 50, 100, dan 150 mg kg-1. Pakan dibuat isoprotein dan isoenergi. Yuwana ikan botia yang digunakan berukuran 3,44±0,51 cm dan 0,56±0,02 g dengan padat tebar satu ekor per liter. Masa pemeliharaan selama 60 hari dengan frekuensi pemberian pakan tiga kali sehari secara at satiation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan astaksantin tidak berpengaruh nyata terhadap kecerahan dan aktivitas antioksidan baik enzim superoxide dismutase maupun malondialdehyde, namun berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kepekatan warna dan karotenoid total. Penambahan astaksantin dalam pakan efektif untuk meningkatan kualitas warna ikan botia. Dosis astaksantin100 mg kg-1 dalam pakan merupakan dosis optimal bagi yuwana ikan botia.
Gonad development and blood plasma profile of female bada fish (Rasbora sp.) by giving a combination of the hormones estradiol and spirulina in the feed Ira Akhdiana; Muhammad Zairin Jr; Gadis Sri Haryani; Muhammad Agus Suprayudi
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 21 No 3 (2021): October 2021
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v21i3.590

Abstract

This study aimed to evaluate the effect of the combination of estradiol-17β hormone and spirulina in feed on blood plasma biochemistry, histology, and gonad development of female bada fish (Rasbora argyrotaenia). The research method were an experimental study using a completely randomized design with four treatment combinations and four replications, namely without the addition of the estradiol-17β hormone and spirulina (P0), the addition of the estradiol-17β hormone at 7 g kg-1 feed (P1), the addition of spirulina at 30 g kg-1 feed (P2) and the addition of the estradiol-17β hormone at 7 g kg-1 feed and spirulina at 30 g kg-1 feed. Female bada fish (4.22±1.28 g) were kept in an aquarium measuring 100x50x50 cm3 with a density of seven individuals per aquarium. Fish were fed the treatment twice daily, with 3% of the biomass for six weeks. The test parameters were estradiol-17β hormone concentration, egg diameter, blood plasma glucose concentration, blood plasma total cholesterol concentration, and gonadal histology observations. The experimental results showed that the concentration of the estradiol-17β hormone in the body plasma of treatments P1 and P3 was statistically significantly different (P<0.05) compared to treatments P0 and P2. The combination of estradiol-17β hormone and spirulina added to the feed gave not significantly different results (P>0.05) on blood plasma biochemistry and egg diameter of bada fish broodstock. A combination of estradiol-17β hormone and spirulina hormones in the feed resulted in better P1 and P3 treatments with higher plasma concentrations of the estradiol-17β hormone. Observations of gonadal development from histology showed that the bada fish gonads belonged to the asynchronous type. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian kombinasi hormon estradiol-17β dan spirulina dalam pakan terhadap biokimia plasma darah, histologis dan perkembangan gonad ikan bada (Rasbora argyrotaenia) betina. Metode penelitian adalah penelitian eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat kombinasi perlakuan dan empat ulangan yaitu tanpa penambahan hormon estradiol-17β dan spirulina (P0), penambahan hormon estradiol-17β sebanyak 7 µg kg-1 pakan (P1), penambahan spirulina sebanyak 30 g kg-1 pakan (P2) dan penambahan hormon estradiol-17β sebanyak 7 µg kg-1 pakan dan spirulina sebanyak 30 g kg-1 pakan. Ikan bada betina (4,22±1,28 g) dipelihara dalam akuarium berukuran 100x50x50 cm3 dengan kepadatan tujuh ekor per akuarium. Ikan diberi pakan perlakuan dua kali sehari, sebanyak 3% dari biomassa selama enam minggu. Parameter pengujian yaitu konsentrasi hormon estradiol-17β, diameter telur, konsentrasi glukosa plasma darah, konsentrasi kolesterol total plasma darah dan pengamatan histologis gonad. Hasil percobaan terlihat konsentrasi hormon estradiol-17β dalam plasma tubuh perlakuan P1 dan P3 secara statistik berbeda nyata (P<0,05) dibandingkan dengan perlakuan P0 dan P2. Pemberian kombinasi hormon estradiol-17β dan spirulina yang ditambahkan pada pakan memberikan hasil yang tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap biokimia plasma darah dan diameter telur ikan bada. Penambahan kombinasi hormon estradiol-17β dan spirulina dalam pakan menghasilkan perlakuan P1 dan P3 lebih baik dengan nilai konsentrasi hormon estradiol-17β pada plasma tubuh lebih tinggi. Pengamatan perkembangan gonad dari histologis menunjukkan bahwa gonad ikan bada termasuk tipe yang asynchronous.
Seleksi dan Identifikasi Bakteri Selulolitik yang Dapat Mendegradasi Serat Kasar Daun Singkong Mulyasari Mulyasari; Widanarni Widanarni; M. Agus Suprayudi; M. Zairin Junior; M. Tri Djoko Sunarno
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v10i2.238

Abstract

Pemanfaatan daun singkong sebagai bahan baku pakan ikan belum dilaksanakan secara optimal karena mengandung selulosa yang cukup t inggi. Tujuan penelit ian ini adalah mendapatkan bakteri yang dapat mendegradasi serat daun singkong dan melakukan identifikasi jenis bakteri selulolitik tersebut. Seleksi bakteri selulolitik dilakukan pada 4 jenis isolat bakteriasal saluran pencernaan ikan gurame yaitu UG3, UG6, UG7, dan UG8 dengan mengukur aktivitas enzim selulase secara kuantitatif pada substrat Carboxy Methyl Cellulose (CMC) dan daun singkong menggunakan metode 3,5-dinitrosalicylic acid (DNS). Identifikasi bakteri dilakukan pada 3 isolat yang memiliki aktivitas enzim selulase tertinggi pada substrat daun singkong berdasarkan morfologi (perwarnaan Gram, motilitas dan bentuk bakteri), uji biokimia (oksidase dan katalase) dan analisis gen (16S-rRNA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 4 isolat yang diuji cobakan, isolat UG7 memiliki aktivitas enzim selulase (CMCase) tertinggi (0,0043 U/ml) sedangkan yang terendah adalah UG3 (0,0018 U/ml). Pada uji coba di substrat daun singkong, aktivitas enzim tertinggi terlihat pada isolat UG3 (0,107 U/ml) dan terendah adalah UG6 (0,077 U/ml). Hasil identifikasi dari 3 jenis isolat bakteri uj i yang memiliki kemampuan mendegradasi daun singkong tertinggi (UG3, UG7, dan UG8) menunjukkan bahwa ketiga jenis isolat tersebut merupakan bakteri jenis Gram positif berbentuk batang (basil). Berdasarkan data base dari GenBank, isolat UG3 memiliki kemiripan sebesar 93% dengan Bacillus clausii, UG7 memiliki kemiripan sebesar 96% dengan Bacillus amyloliquefaciens dan UG8 memiliki kemiripan sebesar 88% dengan Bacillus subtilis.
EFFECTS OF SYNTHETIC ASTAXANTHIN, CHLORELLA, AND SPIRULINA SUPPLEMENTATION IN DIETS ON GROWTH AND PIGMENTATION OF KURUMOI RAINBOWFISH, Melanotaenia parva Nina Meilisza; Muhammad Agus Suprayudi; Dedi Jusadi; Muhammad Zairin Jr.; I Made Artika
Indonesian Aquaculture Journal Vol 15, No 2 (2020): (December, 2020)
Publisher : Center for Fisheries Research, Agency for Marine and Fisheries Research and Human Resource

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/iaj.15.2.2020.67-75

Abstract

Several studies have recommended the supplementation of astaxanthin in the Kurumoi rainbowfish diet to enhance its color and growth. However, knowledge regarding the effects of naturally-sourced and synthetically-made carotenoids in fish diets is currently limited. This study’s objective was to compare the growth and color performances of Melanotaenia parva by supplementing fish feed with synthetic astaxanthin and natural carotenoids sourced from Chlorella and Spirulina. A total of 12 fish (weight of 1.27 ± 0.02 g and total length of 4.70 ± 0.07 cm) were stocked at a density of one fish per liter. Basal feed (B) was used as the control feed. The experimental feeds were: B added with different doses of synthetic astaxanthin (Carophyll® Pink 10% water-soluble) from low to higher doses as follows: 0.6 g kg-1 (AS-L), 2.6 g kg-1 (AS-O), and 5.1 g kg-1 (AS-H); and B added with natural carotenoids of Chlorella sp. (Ch) and Spirulina sp. (Sp) of 8.6 g kg-1 and 5.5 g kg-1, respectively. The experimental diets were given at satiation for 56 days at 8 am and 3 pm. The study results showed that the addition of synthetic astaxanthin at a dose of 2.6 g kg-1 could increase the fish growth up to 12% with carotenoid deposition in the fish fin of three times higher than that of the treatments without synthetic astaxanthin. This dose was considered the optimal dose to increase the fish’s growth performance and pigmentation compared with the high dose of 5.1 g kg-1. Despite having the same nutrient composition, natural carotenoids in Chlorella and Spirulina did not produce better results compared to the low dose of synthetic astaxanthin of 0.6 g kg-1.
OVARY DEVELOPMENT, FSH AND LH GENES EXPRESSION OF INDONESIAN LEAFFISH, Pristolepis grootii (Bleeker, 1852), INJECTED WITH LUTEINIZING HORMONE-RELEASING HORMONE ANALOG Muslim Muslim; Agus Oman Sudrajat; Muhammad Zairin Jr.; Muhammad Agus Suprayudi; Arief Boediono; Iis Diatin; Alimuddin Alimuddin
Indonesian Aquaculture Journal Vol 16, No 2 (2021): (December, 2021)
Publisher : Center for Fisheries Research, Agency for Marine and Fisheries Research and Human Resource

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/iaj.16.2.2021.69-77

Abstract

Indonesian leaffish, Pristolepis grootii (Bleeker, 1852), is an undomesticated freshwater fish species native to the rivers, flooded swamps, and tributaries of Indonesia. The fish is mainly captured for consumption. In order to prevent its extinction and supply its growing demands, the artificial breeding of the fish should be developed. The purpose of this study was to determine the optimum dose of luteinizing hormone-releasing hormone analog (LHRHa) for stimulating the female P. grootii gonadal development at a dosage of 0, 1, 10, and 50 µg kg-1 of fish. Female fish (20.0 ± 0.6 g) were adapted for 30 days in the rearing environment and then separated into 12 aquariums with six fish per aquarium. Fish were then reared for another 21 days and fed with Tubifex sp. The LHRHa injection was conducted twice on day-7 and 14. Fish bodyweight, gonadosomatic index, gonad histology, blood estradiol-17â, and FSH-â and LH-â gene expression were evaluated at day 0, 7, 14, and 21. The results showed that the injection of the LHRHa hormone stimulated the development of fish gonads and was better achieved with a higher concentration of LHRHa. The best treatment was observed by the administration of 50 µg kg-1 of LHRHa that produced the fastest development among all treatments. This study demonstrated that the LHRHa induction could potentially stimulate the gonadal development of the newly domesticated fish. To our knowledge, this is the first study that reported the success of the induction of female gonad development in the Indonesian leaffish P. grooti.KEYWORDS: 
PEMIJAHAN SEMI-BUATAN SIPUT GONGGONG, Laevistrombus turturella DENGAN INDUKSI KOMBINASI HORMON LHRH-a DAN ANTIDOPAMIN Muzahar - Muzahar; Muhammad Zairin Jr.; Fredinan Yulianda; Muhammad Agus Suprayudi; Alimuddin Alimuddin; Irzal Effendi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.045 KB) | DOI: 10.15578/jra.14.4.2019.225-232

Abstract

Gonggong adalah sejenis siput laut yang merupakan makanan laut (seafood) favorit dan ikon Kota Tanjungpinang, ibukota Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Gonggong mengandung protein tinggi, yaitu sekitar 46,65%. Tidak ada laporan tentang produksi budidaya dan upaya konservasi gonggong. Teknologi produksi benih buatan gonggong belum berkembang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pemberian kombinasi hormon LHRH-a dan antidopamin untuk menginduksi proses pemijahan. Evaluasi pemberian hormon LHRH-a dan antidopamin pada pemijahan siput gonggong dilakukan dengan empat dosis: 0,5 ìLgι bobot badan lunak (BB) (P1); 0,7 ìLgι BB; dan 0,9 ìLgι BB (P2); dan tanpa suntikan (TS). Siput gonggong pascasuntikan dipelihara di akuarium selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) kombinasi hormon LHRH-a dan antidopamin mampu merangsang pemijahan gonggong. Dosis rendah hormon LHRH-a dan antidopamin (P-1) menghasilkan induk betina yang memijah paling banyak, yaitu 34,48%; lebih tinggi dari P-2 (27,59%), P-3 (20,69%); dan TS (17,24%); (2) jumlah telur yang dikeluarkan oleh induk betina berbeda secara signifikan antar perlakuan (P<0,05). Jumlah telur yang dikeluarkan oleh masing-masing induk berkisar antara 10.874-63.489 butir/ekor dengan rata-rata 39.347 ± 16.667 butir/ekor.The gonggong is a species of sea conch which is a favourite seafood and an icon of Tanjungpinang City, capital of Kepulauan Riau (Kepri) Province. Gonggong contains high protein, about 46.65%. There were no reports on aquaculture production and conservation effort of gonggong. The technology on artificial seed production of gonggong has not yet developed. The aim of this study was to evaluate the administration of LHRH-a hormone and anti-dopamine to induce the spawning process. Evaluation of the administration of LHRH-a hormone and anti-dopamine on the gonggong conch’s spawning was carried out with four doses: 0.5 ìLgι soft body weight (BW) (P-1), 0.7 ìLgι BW; and 0.9 ìLgι BW (P-2); and without injections (TS). The gonggong conchs after injection were reared in aquarium for 14 days. The results showed that (1) a combination of LHRH-a hormone and anti-dopamine was able to stimulate gonggong spawning. The lower dose of LHRH-a hormone and anti-dopamine (P-1) produced the highest number of spawned female broodstock, which was 34.48%, higher than P-2 (27.59%), P-3 (20.69%), and TS (17.24%); (2) the number of eggs released by female broodstock was significantly different among the treatments (P<0.05). The number of eggs released by each female broodstock ranges between 10,874-63,489 grains/ind. with an average of 39,347±16,667 grains/ind. 
EMBRIOGENESIS DAN PERKEMBANGAN LARVA SIPUT GONGGONG, Laevistrombus turturella PADA SUHU INKUBASI BERBEDA Muzahar Muzahar; Muhammad Zairin Jr.; Fredinan Yulianda; Muhammad Agus Suprayudi; Alimuddin Alimuddin; Irzal Effendi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 15, No 3 (2020): (September, 2020)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.738 KB) | DOI: 10.15578/jra.15.3.2020.159-164

Abstract

Fase larva pada siput gonggong sebagaimana pada biota akuatik lain adalah fase yang peka dan rawan kematian. Penyerapan kuning telur untuk pembentukan organ dalam terjadi pada fase ini. Suhu air memengaruhi perkembangan embrionik dan metabolisme dalam tubuh biota. Informasi tentang pengaruh suhu inkubasi terhadap embriogenesis dan perkembangan larva siput gonggong masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh suhu berbeda terhadap embriogenesis dan perkembangan larva siput gonggong. Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan dan dua ulangan. Tiga perlakuan perbedaan suhu yang diberikan yaitu 27°C, 29°C, dan 31°C. Sampel telur yang digunakan berasal dari hasil pemijahan semibuatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inkubasi pada suhu air 31°C memberikan stimulasi tercepat pada embriogenesis dan perkembangan larva siput gonggong daripada perlakuan lainnya. Larva siput gonggong menetas dan berenang bebas pada jam ke-94 pasca-inkubasi. Penelitian dengan perlakuan yang sama perlu dilanjutkan untuk dapat menghasilkan benih siput gonggong.Similar to most of the other aquatic biota, the larval phase of gonggong conch is considered a sensitive and death-prone life stage. The absorption of egg yolk to form the internal organs occurs in this phase. Certain external factors, particularly water temperature, play a significant influence on the embryonic development and metabolic processes of gonggong conch larvae. However, the extent of the effects of incubation temperature on the embryogenesis and larval development of gonggong conch has not been determined or thoroughly studied. This study aimed to determine the effects of different temperatures on the embryogenesis and larval development of gonggong conch. The experiment used a completely randomized design with three treatments and two replicates. The temperature treatments were 27°C, 29°C, and 31°C. The egg samples used were collected from the semi-artificial spawnings of gonggong conch. The results showed that the egg incubation using the water temperature of 31°C provided the fastest stimulation in the embryogenesis and development of gonggong conch larvae than the other treatments. Gonggong conch larvae hatched and swam freely in the 94th hours post-incubation. Research with the same treatment needs to be continued to be able to produce gonggong conch seeds.
Co-Authors , Alimuddin , Sarmin . Ridwan . Vera Dewi Mulia, Troef Soemarno A Halim A. Malik Serang A. Shofy Mubarak Achmad Noerkhaerin Putra Adang Saputra Adiasmara Giri, I Nyoman Agus Oman Sudrajat Ahmad Yazid Latif Aimma, Muhammad Ariful Akhmad Baihaqi Alimuddin alimuddin alimuddin Amelia Oktaviani, Amelia Anargya Pradipa Tristanandana Apriana Vinasyiam Aprilianti Pratiwi Arief Boediono Aris Sudiyanto Aris Tri Wahyudi Arradini, Dewi Artin Indrayati Asda Laining Asda Laining Atmojo, Joko Tri Azmi Afriansyah Benny Heltonika Burhanudin Faisal, Burhanudin D. Jusadi Dairun, Suclyadi DARMAWAN SETIA BUDI Darsiani Darsiani Darsiani Darsiani Deddy Yaniharto Deddy Yaniharto Dedi Jusadi Dedi Jusadi DEDI JUSADI Dedi Yaniharto dedy yaniharto Denny Wahyudi DIAH AYU SATYARI UTAMI Diamahesa, Wastu Ayu Dian Novita Sari Didi Humaedi Yusuf, Didi Humaedi Dinamella Wahjuningrum Dinar Tri Soelistyowati Dini Harianto Dodi Hermawan E. Mursitorini Eddy Supriyono Edy Marsudi Elas, Putri Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Surawidjaja Endriatmo Soetarto F. Hapsyari Faiqotul Himmah, Maihardiyanti Fatma Hajiali Fauzan Fredinan Yulianda Gadis Sri Haryani Gebbie Edriani Ghina Raudathul Jannah Giri Maruto Darmawangsa, Giri Maruto Hadi Pratama, Ricky Harton Arfah Hasan Abidin Hasan Nasrullah Hasan Nasrullah Hasrah Hasrah Helena Sahusilawane Hendriana, Andri Husnidar Husnidar I Dewa Putu Oka Suardi I Gede Setiawan Adi Putra I Gusti Agung Gede Wiadnyana I GUSTI AGUNG GEDE WIADNYANA . I Gusti Ayu Rai I MADE ARTIKA I Made Artika I Wayan Budiyasa I Wayan Nurjaya I Wayan Suanda I. Mokoginta Ichsan Achmad Fauzi Iis Diatin Imah, Nenden Imlani, Ainulyakin Hasan Inarto, Hendri ING MOKOGINTA Iqbal Kurniawinata, Mohamad Ira Akhdiana Irmawati Irvan Faizal Irzal Effendi Ismarica, Ismarica Jr., Muhammad Zairin Juli Ekasari Julie Ekasari Jullie Ekasari KATSUYUKI HAMASAKI KATSUYUKI HAMASAKI KETUT BUDI SUSRUSA Komang Adi Wika Wiguna Kusriyati Kusriyati L. Indriastuti Latifah Kosim Darusman Ligaya I. T. A. Tumbelaka M. Ikhsan M. Setiawati M. Tri Djoko Sunarno M. Zairin Junior Mas Tri Djoko Sunarno Meilisza, Nina Meritha, Wellya Wichi Mia Setiawati Muhaimin Hamzah Muhammad Jailani Muhammad Junior Zairin Muhammad Raditya Gumelar Muhammad Ridzky Adhory Muhammad Roikhan Amanullah Muhammad Safir Muhammad Zairin Jr Muhammad Zairin JR Muhammad Zairin Jr Muhammad Zairin Jr Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. MUHAMMAD ZAIRIN Jr. Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. Mulyasari Mulyasari Munawar Khalil Muslim Muslim Muzahar Niagara, Niagara Nina Meilisza Nur Bambang Priyo Utomo Nuraini Annisa, Nuraini Nuril Farizah Odang Carman Otie Dylan Soebhakti Hasan Padlilah, Rahmi Paramadina, Siwi Pattipeilohy, Christian Ernsz R Rifai R. Sutajaya Raditya Gumelar, Muhammad Rahminiwati, Min Rakhmawati, Rakhmawati, Ria Septy Anggraini, Ria Septy Ricky Ramadhan Ridhia Putri RIDWAN AFFANDI Rina Hirnawati Rizky Nafaida Samalei, Ermianus Sarwititi Sarwoprasojdo, Sarwititi Senja, Reza Karunia Setyorini, Catur Siti Komariyah Sri Nuryati Sri Nuryati Suardi Laheng Suci Antoro Suci antoro Suclyadi Dairun Sukenda, Sukenda, Supriyadi Hari Respati Suryadi Saputra T. Makmur Talita Shofa Adestia Tatag Budiardi Titin Kurniasih TOSHIO TAKEUCHI TOSHIO TAKEUCHI Tulas Aprilia Upmal Deswira Utomo, Nurbambang Priyo Wahyudi, Imam Tri Wasmen Manalu Wida Lesmanawati WIDANARNI WIDANARNI Widiyanto, Aris Wijianti, Hani Wijiwinarsih, Amallia Wika Wiguna, Komang Adi Winda Styani Irawan, Winda Styani Wiyoto Wiyoto Y. Hadiroseyani Yessy Rahmayanti Yogo Tri Saloko Yudha Trinoegraha Adiputra Yudha Trinoegraha Adiputra Yutaka Haga Zairin Jr., Muhammad Zinatul Hayati