Articles
Studi Deskriptif Teologis Pembangunan Bait Suci Orang Samaria di Gunung Gerizim
Yonatan Alex Arifianto;
Joseph Christ Santo
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 3, No 1 (2020): September 2020 (Studi Intertestamental)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38189/jtbh.v3i1.61
One of the elements of the contention that arose between the Samaritans and the Jews mentioned in John 4 was about the center of worship. The Samaritans recognized the Temple on Mount Gerizim as a center of worship, while the Jews recognized the Temple in Jerusalem. The existence of the Temple on Mount Gerizim is not widely recorded in the Bible. That is why research is needed to describe this Samaritan place of worship which causes conflict between the Samaritan and the Jew. The problem in this research is how the construction of the Temple on Mount Gerizim so that it becomes an element of contention between the Samaritans and the Jews. To answer these questions, the authors used the literature method with a descriptive qualitative approach. The results showed that the temple on Mount Gerizim was not the center of worship that God intended it to be. In New Testament times, what God wanted was for worshipers who were not focused on the temple on Mount Gerizim or in Jerusalem, but worshipers who worshiped God in spirit and in truth.Salah satu unsur pertikaian yang muncul di antara orang Samaria dan orang Yahudi yang disebutkan dalam Yohanes 4 adalah mengenai pusat ibadah. Orang Samaria mengakui Bait Suci di Gunung Gerizim sebagai pusat ibadah, sementara orang Yahudi mengakui Bait Suci di Yerusalem. Keberadaan Bait Suci di Gunung Gerizim tidak banyak dicatat oleh Alkitab. Itu sebabnya dibutuhkan penelitian untuk mendeskripsikan tempat ibadah orang Samaria ini sehingga menimbulkan konflik di antara orang Samaria dan orang Yahudi. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pembangunan Bait Suci di Gunung Gerizim sehingga menjadi salah satu unsur pertikaian antara orang Samaria dan orang Yahudi. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis menggunakan metode pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bait suci di Gunung Gerizim bukanlah pusat ibadah yang dikehendaki Tuhan. Pada masa Perjanjian Baru, yang dikehendaki Tuhan adalah penyembah yang tidak terfokus kepada bait suci di Gunung Gerizim ataupun di Yerusalem, melainkan penyembah yang menyembah Allah dalam roh dan kebenaran.
Gereja dan Segregasi Digital Sesuai Narasi Teks 2 Petrus 1:1-11
Andreas Joswanto;
Carolina Etnasari Anjaya;
Yonatan Alex Arifianto;
Simon Simon
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 1 (2022): September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38189/jtbh.v5i1.303
Kemajuan teknologi digital telah mendorong segregasi sosial yang semula terjadi dalam dunia nyata, berkembang pesat pada ranah dunia maya sebagai segregasi digital. Adanya ekstensi dari dunia nyata kepada dunia maya menjadikan penanganan atas dampak dari segregasi digital sangat penting dilakukan. Tujuan dari kajian ini adalah mendeskripsikan tentang segregasi digital yang saat ini terjadi dan dampaknya. Kajian ini menawarkan tahapan penting dan langkah-langkah praktis bagi gereja dalam upaya membina jemaat menghadapi dampak segregasi digital yang kian marak. Kajian ini disusun menggunakan metode kualitatif dan dilakukan melalui pendekatan studi literatur. Kajian menyimpulkan bahwa dari hasil analisa terhadap narasi teks 2 Petrus 1:1-11 didapatkan tujuh tahapan bagi gereja dalam upaya menyiapkan jemaat untuk menghadapi dampak segregasi digital. Tahapan tersebut dapat diaktualisasikan oleh gereja berupa pendampingan dalam komunitas sel, penyusunan program-program yang relevan, membangun keteladanan karakter Kristus dalam kepemimpinan dan mendesain budaya Kristiani yang diimplementasikan dalam kehidupan bergereja.
Tinjauan Roma 15: 5-6 untuk Meningkatkan Kerukunan Intern Orang Percaya Masa Kini
Asih Rachmani Endang Sumiwi;
Yonatan Alex Arifianto
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 3, No 2 (2021): Maret 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38189/jtbh.v3i2.78
Harmony in Christianity is the teaching of Jesus that must be applied in loving others because the love taught by the Lord Jesus is a love that brings peace that can bring good to all people. Perspective review of Romans 15: 5-6 to increase the internal harmony of believers today. By using the Literature literature method, harmony that is built in the community and intern of religious communities can be seen and reviewed from the Bible in Romans 15: 5-6. Because as a basis and understanding and knowledge of harmony, believers unite the voice, heart and all religious components to be a blessing. The theme of perspective is Romans 15: 5-6 to enhance the internal harmony of believers today. It is a study that can be applied to believers how important it is to be light in harmony in the internal religion, so it is hoped that believers must understand and apply the Theological Review of Rome 15: 5-6, then believers have a role, that is, believers must bring harmony and finally believers making harmony among congregations a priority taught in Christian Education.Kerukunan dalam kristenan adalah ajaran Yesus yang wajib diterapkan dalam mengasihi sesama karena kasih yang diajarkan Tuhan Yesus adalah kasih yang membawa damai yang dapat membawa kebaikan bagi semua orang. Tinjauan Roma 15:5-6 untuk meningkatkan kerukunan intern orang percaya masa kini. Dengan menggunakan metode literature pustaka Kerukunan yang dibangun dalam komunitas maupun intern umat beragama dapat dilihat dan ditinjau dari Alkitab dalam Kitab Roma 15:5-6. Karena sebagai dasar dan pemahaman dan pengetahuan tentang kerukunan maka orang percaya menyatukan suara, hati dan seluruh komponen keagamaan untuk dapat menjadi berkat. Tema Tinjauan Roma 15: 5-6 untuk meningkatkan kerukunan intern orang percaya masa kini. Adalah kajian yang dapat diterapkan bagi orang percaya bagaimana pentingnya menjadi terang dalm kerukunan di intern agama mak diharapkan orang percaya harus memahami dan mengaplikatifkan Tinjaun Teologi Roma 15:5-6, lalu orang percaya memiliki Peran yaitu orang percaya harus membawa kerukunan dan yang terakhir orang percaya menjadikan kerukunan antar jemaat menjadi prioritas yang diajarkan dalam Pendidikan Kristen.
Pendampingan Penggunaan Aplikasi Quizizz dalam Pembelajaran Jarak Jauh Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen Kelas Tinggi di SD Negeri Kepatihan Surakarta
Jerrymia Heaven;
Sarah Andrianti;
Sri Wahyuni;
Thomas Prajnamitra;
Yonatan Alex Arifianto
Real Coster : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 5, No 2: September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.53547/realcoster.v5i2.175
The pandemic that has occurred more than a year has left homework for teachers. That is a Christian religious education teacher at the elementary school level, focused on SDN Kepatihan Surakarta. Teachers complain is difficult to determine the right method in learning. At the elementary school level, various kinds of problems, especially in online learning; not all students have cellphones and some rely on their parents' cellphones. In addition, the limited quota also makes it impossible to do virtual learning through the Zoom application every day. Therefore, teacher asks the Community Service’s help to disseminate innovative learning media that students like by using the Quizizz application, which is a form of educational game. The purpose is to equip teachers in innovative and creative learning to increase the achievement of the value of Christian religious education subjects in high grades at SDN Kepatihan. The method applied by Participatory Action Research is to actively involve teachers and students in the service process, through mentoring the use of the Quizizz application. Through this it can be seen that students are very enthusiastic about doing the quiz given by the teacher and follow up on the results of the quiz done by students.Keywords: mentoring; quizizz; distance learning; christian education AbstrakPandemi yang terjadi sudah lebih dari satu tahun menyisakan pekerjaan rumah bagi guru. Salah satunya adalah guru pendidikan agama Kristen pada jenjang Sekolah Dasar yang dalam penelitian ini difokuskan di SDN kepatihan Surakarta. Guru PAK mengeluhkan bahwa kesulitan dalam menentukan metode yang tepat dalam pembelajaran. Karena pada jenjang Sekolah Dasar memiliki berbagai macam problematika terutama dalam pelaksanaan pembelajaran daring dimana belum semua siswa memiliki handphone (HP) sendiri serta masih ada yang mengandalkan HP orang tuanya. Selain itu keterbatasan kuota yang dimiliki siswa sehingga tidak dapat dipaksakan untuk melakukan pembelajaran secara virtual melalui aplikasi zoom setiap hari. Untuk itulah guru meminta bantuan kepada tim Pengabdian kepada Masyarakat guna diseminasi media pembelajaran yang inovatif dan disukai siswa yaitu dengan menggunakan aplikasi Quizizz yang merupakan salah satu bentuk game edukatif. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memperlengkapi guru PAK dalam mengemas pembelajaran yang inovatif dan kreatif yang dapat meningkatkan pencapaian nilai mata pelajaran pendidikan agama Kristen pada Kelas tinggi di SDN Kepatihan. Adapun metode yang diterapkan Participatory Action Research adalah dengan melibatkan secara aktif guru dan siswa dalam proses pengabdian yaitu melalui pendampingan penggunaan aplikasi Quizizz. Dari kegiatan ini terlihat bahwa siswa sangat berantusias mengerjakan quiz yang diberikan oleh guru dan guru juga dapat melakukan tindak lanjut atas hasil quiz yang dikerjakan siswa.Kata kunci: pendampingan; quizizz; pembelajaran jarak jauh; pendidikan agama kristen
Kode Etik dan Profesionalitas Guru Pendidikan Agama Kristen: Upaya Meningkatkan Karakter Anak
Hana Hana;
Yonatan Alex Arifianto;
Reni Triposa
IMMANUEL: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 3, No 2 (2022): OKTOBER 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46305/im.v3i2.132
This paper describes the role of the ethical code and professionality of Christian religious education teachers on the character of children. The importance of the role of the code of ethics and the teacher professionality is to provide good examples and play a role in instilling positive character values for children's character. In addition, teachers do not only transfer knowledge to children but also teach Christian values, namely the cultivation of the living character of the person of Jesus Christ. Using descriptive qualitative methods, it can be concluded that to educate and shape children to the true values of life and to encourage and direct students to good character, teachers who are professional and have characters that meet the standards and teachers who have the potential and creativity in empowering the learning process are needed. teaching is an ethical and professional teacher. AbstrakTulisan ini mendeskripsikan tentang peran kode etik dan profesionalitas guru pendidikan agama Kristen terhadap karakter anak. Pentingnya peran kode etik dan profesionalitas guru pendidikan agama Kristen adalah untuk memberikan keteladanan yang baik serta berperan untuk memberikan penanaman nilai-nilai karakter yang positif kepada karakter anak. Seorang guru harus memahami bahwa tugas dalam profesinya bukan hanya untuk sekedar mentransfer ilmu pengatahuan semata kepada anak tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kekristenan yaitu penanaman kebiasaan atau tabiat hidup dari pribadi Tuhan Yesus. Mengunakan metode kualitatif deskriptif dapat disimpulkan bahwa untuk mendidik serta membentuk anak kepada nilai-nilai hidup yang benar dan mendorong serta mengarahkan anak didik kepada karakter yang baik dibutuhkan guru yang profesional dan memiliki karakter yang memenuhi standar serta guru yang memiliki potensi dan kreatifitas dalam memberdayakan proses belajar mengajar yaitu guru yang beretika dan profesional.
Memaknai Ulang Panca Tugas Pemimpin Menurut 2 Timotius 4:1-5 Sebagai Pedoman Bagi Kepemimpinan Kristen Masa Kini
Etni Grace Andi Yusuf;
Suhadi Suhadi;
Yonatan Alex Arifianto
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership Vol 3, No 2 (2022): Pendidikan Agama Kristen dan Kepemimpinan - Desember 2022
Publisher : Sekolah Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47530/edulead.v3i2.118
In this era of disruption in which the world is undergoing massive changes in all fields that change the entire fabric of people's lives, Christian leadership is also experiencing challenges. A Christian leader is also required to be sensitive to the present. A Christian leader must be realistic in facing various challenges. This article will examine what the duties of a church leader are as a responsibility in his leadership to face the challenges of the times in the form of unhealthy teaching that attacks the life of the congregation. The author bases his study on the five duties of a leader in 2 Timothy 4:1-5. The method that the author uses in the presentation of this article is a descriptive qualitative method with a text analysis approach and literature study. Based on biblical analysis, it can be concluded that the five duties of a leader in facing the challenge of unhealthy teachings in the congregation, so that leaders can help the congregation in maintaining their faith in the midst of today's era of disruption.AbstrakDi era disrupsi ini yang mana dunia tengah mengalami perubahan besar-besaran di segala bidang yang merubah seluruh tatanan kehidupan masyarakatnya, kepemimpinan Kristen juga mengalami tantangan. Seorang pemimpin Kristen juga dituntut untuk peka terhadap kekinian. Seorang pemimpin Kristen harus realistis dalam menghadapi berbagai tantangan Artikel ini hendak mengkaji apa tugas pemimpin jemaat sebagai tanggungjawab dalam kepemimpinannya untuk menghadapi tantangan zaman berupa pengajaran tidak sehat yang menyerang masuk dalam kehidupan jemaat. Penulis mendasarkan kajiannya pada lima tugas pemimimpin dalam 2 Timotius 4:1-5. Adapun metode yang penulis gunakan dalam pemaparan artikel ini yaitu metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisi teks dan studi pustaka. Berdasarkan analisis biblikal maka dapat diperoleh pancatugas seorang pemimpin dalam menghadapi tantangan adanya ajaran yang tidak sehat dalam jemaat, sehingga pemimpin dapat menolong jemaat dalam pemeliharaan iman mereka ditengah-tengah era disrupsi hari ini.
Kepemimpinan Kristen Transformasional: Interpretasi 2 Timotius 3:10 dan Signifikansinya bagi Pemimpin Kristen di Era Disrupsi
Inge Gunawan;
Kalis Stevanus;
Yonatan Alex Arifianto
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 7, No 2 (2023): April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30648/dun.v7i2.979
Abstract. This article is intended to study transformational leadership in the praxis of Christian leadership. Paul’s leadership is one example of transformative Christian leadership. The results of the interpretation of 2 Timothy 3:10 showed that the pattern of transformational leadership presented by Paul includes two aspects, namely teaching and way of life. Paul lives what he teaches so that his leadership transforms the lives of his followers and becomes a role model for his followers. Thus, transformational Christian leadership is a leadership where a leader is willing to learn continually, broaden thoughts and world views, and then live it in the praxis of daily life.Abstrak. Artikel ini akan mengkaji kepemimpinan transformasional dalam praksis kepemimpinan Kristen. Kepemimpinan Paulus merupakan salah satu contoh kepemimpinan Kristen yang transformatif. Hasil interpretasi terhadap teks 2 Timotius 3:10 ditemukan bahwa pola kepemimpinan transformasional yang dipresentasikan Paulus mencakup dua aspek yaitu pengajaran dan cara hidup. Paulus menghidupi apa yang diajarkannya sehingga kepemimpinannya mentransformasi kehidupan pengikutnya dan menjadi panutan pengikutnya. Dengan demikian, kepemimpinan Kristen transformasional adalah kepemimpinan di mana seorang pemimpin mau untuk terus belajar, memperluas pikiran dan pandangan, dan kemudian menghidupinya dalam praksis hidup sehari-hari.
Peran Pendidikan Agama Kristen Terhadap Prinsip Memelihara Kesucian Dalam 1 Petrus 1:16 Di Era Disrupsi
Brian Rivan Assa;
Yonatan Alex Arifianto
Jurnal Pendidikan Agama Kristen (JUPAK) Vol. 3 No. 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52489/jupak.v3i1.104
Along with the development of the era from traditional to modern, the presence of gadgets and media is increasingly diverse and growing and so massive. The amount of information scattered about garbage, fake news (hoaks), pornography, violence where no one can filter it out in any way anymore which reduces spirituality to become a challenge for believers in maintaining holiness. Using descriptive qualitative methods, it can be concluded that the role of Christian religious education on the principle of maintaining chastity in 1 Peter 1: 16 in the Era of Disruption is that Christian educators can understand the era of disruption and its challenges as part of unlimited and free information that must be watched out for. Furthermore, in the Exegesis of 1 Peter 1:16, it is found that holiness is a symbol and the essence of believers in accompanying God is prioritized. For this reason, the role of Christian Religious Education cannot be separated from building spirituality which is exemplified by spiritual leaders and believers must rely on God.
Gereja dan Segregasi Digital Sesuai Narasi Teks 2 Petrus 1:1-11
Andreas Joswanto;
Carolina Etnasari Anjaya;
Yonatan Alex Arifianto;
Simon Simon
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 1 (2022): September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38189/jtbh.v5i1.303
Kemajuan teknologi digital telah mendorong segregasi sosial yang semula terjadi dalam dunia nyata, berkembang pesat pada ranah dunia maya sebagai segregasi digital. Adanya ekstensi dari dunia nyata kepada dunia maya menjadikan penanganan atas dampak dari segregasi digital sangat penting dilakukan. Tujuan dari kajian ini adalah mendeskripsikan tentang segregasi digital yang saat ini terjadi dan dampaknya. Kajian ini menawarkan tahapan penting dan langkah-langkah praktis bagi gereja dalam upaya membina jemaat menghadapi dampak segregasi digital yang kian marak. Kajian ini disusun menggunakan metode kualitatif dan dilakukan melalui pendekatan studi literatur. Kajian menyimpulkan bahwa dari hasil analisa terhadap narasi teks 2 Petrus 1:1-11 didapatkan tujuh tahapan bagi gereja dalam upaya menyiapkan jemaat untuk menghadapi dampak segregasi digital. Tahapan tersebut dapat diaktualisasikan oleh gereja berupa pendampingan dalam komunitas sel, penyusunan program-program yang relevan, membangun keteladanan karakter Kristus dalam kepemimpinan dan mendesain budaya Kristiani yang diimplementasikan dalam kehidupan bergereja.
Tinjauan Roma 15: 5-6 untuk Meningkatkan Kerukunan Intern Orang Percaya Masa Kini
Asih Rachmani Endang Sumiwi;
Yonatan Alex Arifianto
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 3, No 2 (2021): Maret 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38189/jtbh.v3i2.78
Harmony in Christianity is the teaching of Jesus that must be applied in loving others because the love taught by the Lord Jesus is a love that brings peace that can bring good to all people. Perspective review of Romans 15: 5-6 to increase the internal harmony of believers today. By using the Literature literature method, harmony that is built in the community and intern of religious communities can be seen and reviewed from the Bible in Romans 15: 5-6. Because as a basis and understanding and knowledge of harmony, believers unite the voice, heart and all religious components to be a blessing. The theme of perspective is Romans 15: 5-6 to enhance the internal harmony of believers today. It is a study that can be applied to believers how important it is to be light in harmony in the internal religion, so it is hoped that believers must understand and apply the Theological Review of Rome 15: 5-6, then believers have a role, that is, believers must bring harmony and finally believers making harmony among congregations a priority taught in Christian Education.Kerukunan dalam kristenan adalah ajaran Yesus yang wajib diterapkan dalam mengasihi sesama karena kasih yang diajarkan Tuhan Yesus adalah kasih yang membawa damai yang dapat membawa kebaikan bagi semua orang. Tinjauan Roma 15:5-6 untuk meningkatkan kerukunan intern orang percaya masa kini. Dengan menggunakan metode literature pustaka Kerukunan yang dibangun dalam komunitas maupun intern umat beragama dapat dilihat dan ditinjau dari Alkitab dalam Kitab Roma 15:5-6. Karena sebagai dasar dan pemahaman dan pengetahuan tentang kerukunan maka orang percaya menyatukan suara, hati dan seluruh komponen keagamaan untuk dapat menjadi berkat. Tema Tinjauan Roma 15: 5-6 untuk meningkatkan kerukunan intern orang percaya masa kini. Adalah kajian yang dapat diterapkan bagi orang percaya bagaimana pentingnya menjadi terang dalm kerukunan di intern agama mak diharapkan orang percaya harus memahami dan mengaplikatifkan Tinjaun Teologi Roma 15:5-6, lalu orang percaya memiliki Peran yaitu orang percaya harus membawa kerukunan dan yang terakhir orang percaya menjadikan kerukunan antar jemaat menjadi prioritas yang diajarkan dalam Pendidikan Kristen.