Articles
Strategi Guru PAK dalam Membangun Pancasila sebagai Paradigma Integrasi Bangsa terhadap Peserta Didik di Era Milenial
Reni Triposa;
Yonatan Alex Arifianto
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 1 (2021): September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38189/jtbh.v4i1.166
Abstract: Without realizing it, the millennial era with technological sophistication brings students to be influenced by wrong associations which will unconsciously bring about the disintegration of the nation. Therefore, teachers of Christian religious education can have strategies in bringing students to build their nationality through the paradigm of national integration based on Pancasila. through technological advances. and having used descriptive qualitative methods with a literature study approach, it can be concluded that the PAK teacher's strategy in building Pancasila as a paradigm of Nation integration towards students in the millennial era is to understand the degradation or moral decadence in the millennial era which continues to increase. For this reason, Christian Religious Education Teachers actualize the view of Pancasila as the basis for developing the integration of the Nation and also see that there is no theological debate on the value of Pancasila in the theological ethical perspective. From this, teachers have the basis to play a role in Guru Pak's strategy in the Actualization of National Integration in the millennial era, with the following steps: First, they are able to grow the faith of students who are increasingly mature. Second, it teaches to love each other and get rid of all bullying and improper behavior of students in respecting their nation's leaders. Third, provide an example in using social media and everything related to the internet of think. Abstrak: Tanpa disadari era milenial dengan kecanggihan teknologi membawa peserta didik terpengaruh dengan pergaulan yang salah yang secara tidak sadar akan membawa disintegrasi bangsa. Oleh karena itu guru pendidikan agama kristen dapat memiliki strategi dalam membawa peserta didik membangun kebangsaannya melalaui paradigma integrasi bangsa yang berlandaskan Pancasila. Melalui kemajuan teknologi dan memiliki menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi pustaka dapat disimpulkan bahwa strategi guru PAK dalam membangun Pancasila sebagai paradigma integrasi bangsa terhadap peserta didik di era milenial adalah memahami degradasi atau dekadensi moral di era milenial yang terus meningkat. Untuk itu Guru Pendidikan Agama Kristen mengaktualisasikan pandangan Pancasila sebagai dasar pembangunan integrasi bangsa dan juga melihat tidak ada perdebatan teologis dalam nilai Pancasila dalam perspektif etis teologis. Dari hal tersebut guru memiliki dasar untuk berperan dalam strategi Guru Pak dalam aktualisasi integrasi bangsa di era milenial dengan langkah: Pertama, mampu menumbuhkan iman peserta didik yang semakin dewasa. Kedua, mengajarkan untuk saling mengasihi dan membuang segala perundungan, dan prilaku yang tidak benar peserta didik dalam menghormati pemimpin bangsanya. Ketiga, memberikan keteladan dalam mengunakan sosial media dan segala berhubungan dengan internet of things.
Aktualisasi Pancasila dalam PAK: Penguatan Bela Negara dan Jati diri Bangsa Menghadapi Superioritas dan Fundamentalisme atas Nama Agama
Tan Lie Lie;
Yonatan Alex Arifianto;
Reni Triposa
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 2 (2022): Maret 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38189/jtbh.v4i2.249
Persoalan deskriminasi dan intoleransi yang diakibatkan pemahaman agama di ruang publik tidak memprioritaskan kebersamaan. Bahkan faham fundamentalisme yang mencoba memengaruhi anak bangsa untuk keluar dari marwah hidup yang pluralisme, sebagai ancaman yang nyata bagi generasi kedepannya. Peran penting dalam mereduksi superioritas agama melalui aktulisasi pancasila menjadi tujuan dalam penelitian ini. Mengunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi pustaka dapat menjawab aktualisasi pancasila bagi kekristenan menjadikan umat Kristen sadar pentingnya menjaga jati diri bangsa dengan prioritas bela negara melawan perkembangan superioritas dan fundamentalisme mengatasnamakan agama. Kesimpulan dari hasil pembahasan artikel ini adalah aktualisasi Pancasila dalam PAK: sebagai penguatan terhadap bela Negara dan sebagai Jati diri Bangsa dalam menghadapi Superioritas dan Fundametalisme atas Nama Agama. Diperlukan pemahaman bahwa Pancasila merupakan dasar hukum yang harus diterapkan bagi kehidupan bermasyarakat. Untuk itu sebagai bagian dari makluk sosial dan beragama, Kekristenan dalam peran pendidikan agama Kristen turut membela bangsa dan negaranya dari berbagai ancaman termasuk sesama anak bangsa yang menginginkan perubahan ideologi negara. Kekristenan juga dapat memprioritaskan bela negara dan pentingnya jati diri Bangsa sebagai bagian dari kerinduan Yesus bagi umatNya untuk menjadi terang dan garam. Maka diperlukan sinergi Pancasila dan PAK sebagai upaya mereduksi superiotas dan fundamentalisme agama. Sehingga penelitian ini dapat memberikan wawasan dan sikap yang mengedepankan jati diri bangsa dan bela negara dalam bermasyarakat sebagai bagian mereduksi superioritas atas nama agama dan fundamentalisme.
Pentingnya Peran Media Sosial dalam Pelaksanaan Misi di Masa Pandemi Covid-19
Yonatan Alex Arifianto;
Sari Saptorini;
Kalis Stevanus
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 5, No 2 (2020): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Desember 2020
Publisher : STTI Harvest Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (337.689 KB)
|
DOI: 10.52104/harvester.v5i2.39
The Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) outbreak, or better known as the Corona virus, is spreading rapidly, bringing changes in socializing and communicating in the community. Government regulations require all citizens to participate in breaking the chain of transmission of the virus. This of course also has an impact on the concept and implementation of the mission that has been carried out, namely face to face. As one way the church must continue to take its role in witnessing or preaching the gospel of Jesus Christ to non-believers using social media as the right choice in carrying out missions during the Covid-19 pandemic. This article will describe the understanding of the Church or believers as recipients of God's mission mandate, and the use of social media as a means of carrying out missions during the Covid-19 pandemic, and how the effectiveness and constraints of carrying out missions through social media. The results of the research can be said that the mission can still be carried out in all conditions in the midst of society even though without having to meet face to face with the way the church empowers its people to actively use social media as a means of preaching the gospel.AbstrakWabah Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) atau lebih dikenal dengan nama virus Corona yang menyebar dengan cepat membawa perubahan dalam bersosialisasi dan berkomunikasi di masyarakat. Aturan pemerintah mengharuskan semua warga berpartisipasi dalam memutus rantai penularan virus tersebut. Hal itu tentu juga berdampak pada konsep dan pelaksanaan misi yang selama ini dilakukan, yakni dengan tatap muka secara langsung. Sebagai salah satu caranya gereja harus tetap mengambil perannya untuk bersaksi atau memberitakan Injil Yesus Kristus kepada orang-orang yang belum percaya menggunakan media sosial sebagai pilihan yang tepat di dalamnya pelaksanaan misi di masa pandemi Covid-19. Artikel ini akan memaparkan pemahaman tentang Gereja atau orang percaya sebagai penerima mandat misi Allah, dan pemanfaatan media sosial sebagai salah satu sarana pelaksanaan misi di masa pandemi Covid-19, dan bagaimana efektivitas serta kendala pelaksanaan misi melalui media sosial. Hasil penelitian dapat dikatakan bahwa misi dapat tetap dilakukan dalam segala kondisi di tengah-tengah masyarakat meskipun tanpa harus tatap muka secara langsung dengan cara gereja memberdayakan umatnya untuk secara aktif menggunakan media sosial sebagai sarana pemberitaan Injil.
Kompetensi Profesional Guru dalam Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen
Neni Viani;
Yonatan Alex Arifianto
Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 3, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38189/jan.v3i1.250
Kompetensi profesional guru merupakan kemampuan seorang guru dalam proses belajar mengajar. Kompetensi profesional guru juga membutuhkan keahlian yang benar-benar yang dimiliki oleh seorang guru profesional. Proses pembelajaran Agama Kristen kompetensi professional seorang guru juga sangat dibutuhkan apalagi pada zaman yang semakin berkembang saat ini. Seorang pendidik Agama Kristen juga haruslah memiliki kepribadian yang baik sehigga dapat menjadi teladan bagi para peserta didiknya sebagimana meneladani Yesus Kristus. Bukan hanya memiliki kepribadian baik saja tetapi spiritualitasnya juga haruslah benar-benar dimiliki oleh seorang pengajar Agama Kristen. Sebagai pendidik Agama Kristen yang diajarkan haruslah berpusat pada Alkitab yang menjadi dasar materi dalam pembelajaran sehingga apa yang akan disampaikan sesuai dengan ajaran Kristen yang berpusat pada Alkitab. Penulis menggunakan metode penelitian kulitatif dan metode deskriptif dengan melakukan studi Pustaka terhadap penelitian ini. Jadi, kompetensi professional guru dalam proses pembelajaran PAK adalah usaha seorang guru yang harus memiliki kemampuan, keterampilan, dan keahlian dalam pembelajaran PAK yang harus berpusat pada Alkitab.
Deskripsi Pemahaman Siswa terhadap Kedisiplinan sebagai Penanaman Nilai-Nilai Kristen
Imanuel Nuban;
Reni Triposa;
Yonatan Alex Arifianto
Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 2, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38189/jan.v2i2.221
Kedisiplinan dalam konteks pendidikan pada hakikatnya merupakan bagian dari pendidikan karena kedisiplinan merupakan suatu proses yang dibiasakan dan di terapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti norma-norma, sikap, serta aturan yang dianggap menjadi tolak ukur dalam sekolah. Disiplin adalah bukan untuk membebani siswa agar peserta didik terbebani, tetapi setiap siswa punya disiplin dalam hidupnya, bahkan setiap kelompok dalam belajar mengajar akan ada disiplin karakter untuk menaati aturan-aturan yang ada, jika siswa dapat memahami arti disiplin maka siswa akan senang dan mau menataati setiap peraturan-peraturan yang ada. Mengunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literature maka dapat disimpulkan bahwa penanaman nilai kristen bertitik tolak pada peran guru dalam menanamkan disiplin belajar dalam proses pembelajaran yang konduksif di sekolah, sebab guru adalah salah satu diantara faktor pendidikan yang memiliki peranan paling strategis. Peran guru dalam pembentukan disiplin belajar peserta didik, sebagai pembimbing yang menuntun peserta didik dengan memberikan dukungan dan arahan, peran guru sebagai contoh teladan disiplin yang dapat siswa menjadikan idola peserta didik, dan mengembangkan ilmu bagi kemajuan belajar siswa.
Nilai-Nilai Etis Teologi Pendidikan Anak dan Nilai Pancasila dalam Kode Etik Guru Sekolah Minggu
Eunike Anggraeni Susilo;
Yonatan Alex Arifianto;
Wulan Agung
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 3, No 2 (2022): November 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55097/sabda.v3i2.52
Kode etik bagi seorang guru sangat perlu diperhatiakan bagi setiap orang yang menjalani profesi tersebut. Dengan adanya kode etik seorang guru dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Kode etik guru ini membantu guru dalam memahami peserta didik agar tujuan dari Pendidikan dapat terwujud karena dalam proses pembelajarannya dapat berjalan dengan baik. Oleh karena itu seorang guru sekolah minggu juga harus memiliki kode etik dalam menjalankan tugasnya. Guru sekolah minggu memiliki tugas selain menanamkan nilai-nilai kekristenan kepada anak, guru sekolah minggu juga bertugas dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada anak agar anak dapat mmiliki karakter yang mencintai tanah air tempat kelahirannya yaitu bangsa Indonesia. Karena selain anak hidup dalam gereja, anak juga hidup dalam lingkungan masyarakat Indonesia. Dalam hal ini guru sekolah minggu mengajarkan anak didik untuk bisa hidup dalam lingkungan masyarakat yang ada di Indonesia berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa guru sekolah minggu dituntut untuk memiliki kedewasaan dalam hal rohani atau iman mereka, dapat menjadi teladan bagi anak didik dengan meneladani mereka tentang keteladanan yang telah Yesus ajarkan, serta hidup benar sesuai dengan kebenaran akan Firman Tuhan. Sebelum mengajar, guru sekolah minggu harus benar-benar memahami dan mempelajari mengenai kode etik seorang guru yang tentunya sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan (Alkitabiah). Di saat guru sekolah minggu telah memahami kode etik seorang guru maka proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik.
Misi melalui Pelayanan Holistik dalam Pendidikan Kristiani
Desi Wasari;
Carolina Etnasari Anjaya;
Yonatan Alex Arifianto
DIDAKTIKOS: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Duta Harapan Vol 5, No 2: Desember 2022
Publisher : STIPAK Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32490/didaktik.v5i2.143
This study describes the importance of missionological learning strategies and holistic ministry in Christian Religious Education. Learning strategies in missionology-based Christian Religious Education to learners are very effective in strengthening the foundation of children's faith from an early age on the importance of carrying out the Great commission to preach the gospel. Coupled with holistic service learning strategies can help students quickly to implement missionology learning in schools and the community. Therefore, through this study, the author conveys that considering the importance of missionology learning strategies and holistic ministry in Christian Religious Education can equip and instill mission values with holistic service in students from an early age. This research uses descriptive qualitative methods with a literature study approach, so it can be concluded that the indicators of missionology learning strategies and holistic ministry in Christian Religious Education stated in this study can help readers understand the importance of missionary learning strategies and holistic ministry in Christian Religious Education. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada para pendidik Kristen tentang pentingnya pendidikan misi melalui pelayanan holistik kepada peserta didik sejak dini melalui Pendidikan Kristen. Strategi pembelajaran dalam Pendidikan Agama Kristen yang berbasis misi kepada peserta didik sangat efektif untuk memperkuat fondasi iman anak-anak sejak dini tentang pentingnya pelayanan yang holistik tanpa harus dibatasi atau mengesampingkan yang lain. Strategi pembelajaran pelayanan holistik juga dapat membantu peserta didik dengan mudah untuk mengimplementasikan misi di sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Oleh karena itu, melalui penelitian ini penulis menyampaikan bahwa misi melalui pelayanan holistik sangat penting dalam Pendidikan Kristen, karena dapat membekali dan menanamkan nilai-nilai misi dengan pelayanan holistik dalam diri peserta didik sejak dini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literatur dan memberikan kesimpulan mengenai indikator-indikator sebagai faktor yang menentukan pentingnya strategi pembelajaran misi melalui pelayanan holistik dalam Pendidikan Agama Kristen.
Kerukunan Umat Beragama dalam Bingkai Iman Kristen di Era Disrupsi
Simon Simon;
Yonatan Alex Arifianto
Literasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Vol 1 No 1 (2021)
Publisher : Pengelola Jurnal Politeknik Negeri Ketapang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (245.275 KB)
|
DOI: 10.58466/literasi.v1i1.28
The Indonesian nation is facing an era where horizontal conflicts often occur. Especially in the era of digital progress and the era of disruption that forces people to use technology to communicate, do business and so on. So that in the era of disruption, many hate speech accessed in cyberspace can threaten unity in the real world. By using a literature study approach, this paper intends to explain how Christians have an impact and become agents of truth through living in harmony and being pioneers in harmony. It was concluded that for Christians, harmony must also be done in a real place in the community as well as in the social media community which is now called the era of globalization in the era of disruption. Through the era of disruption and challenges, Christians can understand that any situation and condition still contributes to the diversity of the nation. It is also in line with the Basic Christian Faith in the harmony which can then be actualized by Christians in society in an era of disruption.
Peran Pemuridan bagi Kebangkitan Pemimpin Rohani Baru dalam Gereja Masa Kini
Paulus Kunto Baskoro;
Ester Yunita Dewi;
Yonatan Alex Arifianto
THEOLOGIA INSANI: Jurnal Theologia, Pendidikan, dan Misiologia Integratif Vol. 1 No. 1 (2022): Januari
Publisher : STAK Reformed Remnant Internasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (279.217 KB)
|
DOI: 10.58700/theologiainsani.v1i1.9
Kepemimpinan merupakan kunci sebuah kegerakan. Kepemimpinan yang maksimal akan membuat kegerakan yang luar biasa. Khususnya dalam kepemimpinan gereja. Gereja menjadi tempat yang paling esensi untuk setiap orang percaya bertumbuh dewasa rohani dan maksimal dalam karunia-karunia rohani. Itu sebabnya pemimpin-pemimpin dalam gereja harus pemimpin-pemimpin yang memahami sebuah kegerakan gereja Tuhan. Gembala sidang menjadi sentral kepemimpinan yang akan memunculkan pemimpin-pemimpin baru dalam sebuah gereja. Munculnya pemimpin-pemimpin baru akan mempercepat kegerakan gereja lokal dan membawa dampak yang besar bagi gereja. Namun tidak bisa dipungkiri ada beberapa masalah yang terjadi dalam kepemimpinan gereja, yaitu terlambatnya sebuah regenerasi kepemimpinan, kebesaran hati pemimpin gereja untuk mendelegasikan kepemimpinan, dan strategi pemuridan yang tidak terlaksana dengan baik. Untuk mendapatkan data-data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penulisan deskriptif literatur. Tujuan penulisan adalah; Pertama, untuk memberikan terobosan baru bagi setiap gereja agar menjadi maksimal dalam membangkitkan pemimpin-pemimpin rohani yang baru; Kedua, menyediakan strategi yang efektif dalam pemuridan gereja lokal; Ketiga, menjadikan gereja menjadi maksimal dalam kegerakan rencana Allah.
Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen pada Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Dasar Inklusi
Mega Mega;
Yonatan Alex Arifianto
THEOLOGIA INSANI: Jurnal Theologia, Pendidikan, dan Misiologia Integratif Vol. 1 No. 2 (2022): Juli
Publisher : STAK Reformed Remnant Internasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (272.796 KB)
|
DOI: 10.58700/theologiainsani.v1i2.16
Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki karakteristik yang unik dari anak-anak pada umumnya. Mereka harus ditangani secara khusus oleh orang-orang yang sudah berpengalaman di bidangnya agar pelayanan yang dilakukan dapat memenuhi kebutuhan mereka. Semua anak berhak untuk memperoleh pendidikan, terutama anak berkebutuhan khusus. Sebab itu pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk mengadakan pendidikan inklusi yang menggabungkan anak berkebutuhan khusus dan anak normal pada umumnya. Tujuan penulisan ini untuk mengetahui bagaimana strategi guru dalam mengajar Pendidikan Agama Kristen bagi anak berkebutuhan khusus di sekolah inklusi. Menggunakan metode studi literatur, penelitian ini menemukan bahwa strategi seorang guru dalam mengajar memberikan pengaruh cukup besar bagi anak, terutama anak berkebutuhan khusus dalam menyerap pembelajaran yang disampaikan. Juga mengajar anak berkebutuhan khusus merupakan hal yang cukup sulit, oleh karena itu guru harus memiliki kreativitas dalam membuat strategi pembelajaran khususnya Pendidikan Agama Kristen pada anak berkebutuhan khusus. Bagi guru Pendidikan Agama Kristen strategi pembelajaran yang kreatif sangat penting agar tujuan pembelajaran dapat digapai dengan baik oleh siswa, terutama siswa berkebutuhan khusus. Tidak sekadar strategi saja yang dipersiapkan tetapi juga harus memiliki prinsip kasih sayang dan melayani.