Articles
Peran Gembala Sidang dalam Mewujudkan Pendidikan Politik bagi warga Gereja
Arifianto, Yonatan Alex
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 3, No 2 (2023): RITORNERA - JURNAL TEOLOGI PENTAKOSTA INDONESIA
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54403/rjtpi.v3i2.63
In Christianity which is practiced by believers, its existence cannot be separated from political agendas and practical politics. Because politics is something that aims to build the nation, but sometimes politicians also use various ways beyond reason to seize power. So politics in the church must be separated within the scope of church ministry where the church is a spiritual institution that aims to educate church members to live according to Biblical truths. But politics is also a means for spirituality to educate so that congregation members can understand political paradigms and goals. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, it can be concluded, firstly, the role of the pastor in realizing political education for church members is a priority and important. Second, the pastor of the congregation can facilitate workshops and training in teaching in the political education curriculum, provide political teaching and political enlightenment, and guide his people in Christian life according to the Bible. Third, the Church and the pastoral leadership can also play a role in politics by setting a moral example for their people and defending truth and justice in politics. Because political education aims to increase public awareness of their rights and obligations in the life of the nation and state. Keywords: Pastor; Practical Politics; Political Education, Church citizens. Abstrak: Kekristenan sebagai bagian kehidupan orang percaya memang keberadaannya tidak lepas dari agenda politik dan politik praktis. Sebab politik merupakan sesuatu yang bertujuan membangun bangsa, namun kadang kala para politisi juga melakukan berbagai cara diluar nalar untuk merebut kekuasaan. Maka politik dalam gereja harus dipisahkan dalam ruang lingkup pelayanan gereja dimana gereja adalah lembaga kerohanian yang bertujuan mendidik warga gereja untuk hidup sesuai dengan kebenaran Alkitabiah. Namun politik juga menjadi sarana bagi kerohanian untuk mendidik supaya warga jemaat dapat memahami paradigma dan tujuan politik. Menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi pustaka maka dapat disimpulkan, pertama peran gembala sidang dalam mewujudkan pendidikan politik bagi warga gereja sangat menjadi prioritas dan penting. Kedua, gembala sidang dapat memfasilitasi workshop maupun pelatihan dalam pengajaran di kurikulum pendidikan politik, memberikan pengajaran politik dan pencerahan politik, serta membimbing umatnya dalam hidup Kristen sesuai dengan Alkitabiah. Ketiga, Gereja dan kepemimpinan gembala sidang juga dapat berperan dalam politik dengan menjadi teladan moral bagi umatnya dan membela kebenaran dan keadilan dalam politik. Sebab pendidikan politik bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap hak dan kewajibannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta membawa kerohanian yang terus dewasa. Kata kunci:Gembala Sidang; Politik Praktis; Pendidikan Politik, warga Gereja
Konsep Memuliakan Tuhan Berdasarkan Lukas 17:11-19 dan Signifikansinya Dalam Kehidupan Abad Modern
Arifianto, Yonatan Alex
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 1, No 3 (2021): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (397.876 KB)
|
DOI: 10.54403/rjtpi.v1i3.27
In modern times the understanding of the phrase glorifying God has been reduced to only spiritual and church activities or actions. Excavation of the biblical text on the story of Luke 17:11-19 becomes the basis or pattern for compiling its implications for the lives of believers in this modern era. For believers, glorifying God is an attitude of the heart and deepest awareness of the existence of God as the only Supreme Being. The research hopes to provide a correct understanding of the phrase glorifying God according to the story in Luke 17:11-19 so that believers can apply it correctly in their daily lives. The method used is descriptive qualitative research through a literature study approach. The results of the research found that actions and attitudes are the fruit of a state of the soul that glorifies God. Some important points about it are: first, humility is the first step to glorify God. Second, there is an acknowledgment of the authority of the Lord Jesus and giving the highest respect. Third, glorifying God contains a high level of trust and obedience. Fourth, placing God as the only necessity of life. Fifth, glorifying God properly will be marked by the fruits of concrete life that can be felt directly by God and others. Sixth, believers who glorify God will be able to become living models for others. Seventh, being able to let go of the world and all the modern pleasures it offers to focus on living only for God.Pada masa modern ini pemahaman terhadap frasa memuliakan Tuhan mengalami reduksi hanya sebatas pada aktivitas atau tindakan rohani dan bergereja. Penggalian teks Alkitab pada kisah Lukas 17:11-19 menjadi dasar atau pola untuk menyusun implikasinya terhadap kehidupan umat percaya di era modern ini. Bagi umat percaya, memuliakan Tuhan merupakan sikap hati dan kesadaran jiwa terdalam akan keberadaan Tuhan sebagai satu-satunya yang Maha Mulia. Penelitian ini memiliki harapan dapat memberikan pemahaman yang benar terhadap frasa memuliakan Tuhan sesuai kisah dalam Lukas 17:11-19 sehingga umat percaya dapat menerapkannya secara benar dalam keseharian hidup. Metode yang dipergunakan adalah riset kualitatif deskriptif melalui pendekatan studi kepustakaan. Hasil riset menemukan bahwa tindakan dan sikap adalah buah dari keadaan jiwa yang memuliakan Tuhan. Beberapa poin penting tentang hal itu yaitu: pertama, kerendahan hati menjadi langkah awal memuliakan Tuhan. Kedua, adanya pengakuan otoritas Tuhan Yesus dan memberikan penghormatan setinggi-tingginya. Ketiga, memuliakan Tuhan memuat sikap percaya tingkat tinggi dan ketaatan. Keempat, menempatkan Tuhan sebagai satu-satunya kebutuhan hidup. Kelima, memuliakan Tuhan secara benar akan ditandai dengan buah-buah kehidupan konkrit yang dapat dirasakan langsung oleh Tuhan dan sesama. Keenam, umat percaya yang memuliakan Tuhan akan mampu menjadi model yang hidup bagi sesama. Ketujuh, mampu melepaskan dunia beserta semua kenikmatan modern yang ditawarkan di dalamnya untuk fokus hidup hanya bagi Tuhan.
Kajian Teologi Misi dalam Roma 10:13-15 terhadap Aktualisasi Misi Kristen
Arifianto, Yonatan Alex
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 1, No 2 (2021): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (419.034 KB)
|
DOI: 10.54403/rjtpi.v1i2.15
Abstract: Evangelism as a means of bringing people together with God through testimony or example must continue to be echoed. However, there are many different paradigms and concepts of evangelism. Moreover, churches and believers are reluctant to do evangelism because they do not consider it their duty and responsibility. Indeed, believers do not escape the actualization of the mandate of the Great Commission of the Lord Jesus in preaching the gospel to humans. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, it can be concluded that the study of mission theology in Romans 10:13-15 on the actualization of Christian missions studied through exegesis can be concluded, First, evangelism must be carried out as part of the actualization of the mandate of the Great Commission by giving oneself to preach the news to others so that People who don't know Jesus can hear salvation only in Jesus. Second, the task of the believer is continued as a person who continues to preach by listening and proclaiming the gospel of salvation for humans. The three churches or leaders are obliged to send messengers of evangelists for the sake of saving souls. Abstrak:Penginjilan sebagai sarana mempertemukan manusia dengan Tuhan lewat kesaksian ataupun keteladannan harus terus digaungkan. Namun banyaknya perbedaan paradigma dan konsep pengijilan. Terlebih gereja maupun orang percaya enggan melakukan penginjilan karena bukan mengangap bahwa tugas dan tanggung jawabnya. Sejatinya orang percaya tidak luput dari aktualisasi mandat Amanat Agung Tuhan Yesus dalam melakukan pemberitaan Injil kepada manusia. Mengunakan meotode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature bahwa kajian Teologi misi dalam Roma 10:13-15 terhadap aktualisasi misi Kristen yang dikaji melalui eksegesa dapat disimpulkan, Pertama Penginjilan harus terus dilakukan sebabgai bagian aktualisasi mandat Amanat Agung dengan memberi diri untuk memberitakan kabar bagi sesama sehingga orang yang belum mengenal Yesus dapat mendengar keslematan hanya didalam Yesus. Kedua, Tugas orang percaya dilanjutkan sebagai pribadi yang terus menerus melakukan pemberitaan dengan Memperdengarkan dan memberitakan Injil keselamatan bagi manusia. Ketiga Gereja atau pemimpin wajib mengirimkan utusan Pemberita Injil demi jiwa jiwa diselamatkan.
Kajian Teologis Pemberitaan Injil Berdasarkan Surat Paulus dalam 2 Timotius 1:8-10 bagi Misi Masa kini
Arifianto, Yonatan Alex;
Fernando, Andreas;
Baskoro, Paulus Kunto
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 3, No 1 (2023): Jurnal Teologi dan Pentakosta Indonesia - April 2023
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54403/rjtpi.v3i1.58
The Great Commission delivered by the Lord Jesus delegated and gave a mandate for Christians to go and be witnesses and of course make all nations, disciples of Jesus. This legality is a mandate to preach the good news and salvation or an evangelistic mandate. But it is undeniable, many of God's churches or believers are unable to actualize in earnest in carrying out the mission mandate which is God's will to bring people to know and believe in the Savior. Using a qualitative method with a descriptive approach, it can be concluded that, the theological study of Gospel Preaching Based on Paul's Epistle in 2 Timothy 1:8-10 For Today's Missions is to understand believers as God's church that grows spiritually and is not shy in actualizing evangelism, because true mission It is based on God's mercy for humans. And of course this mission brings the congregation not only to serve in the local church, but also to have the heart and spirit of evangelizing by making mission a way of life.AbstrakAmanat Agung yang disampaikan oleh Tuhan Yesus mendelegasikan dan memberi mandat bagi orang Kristen untuk pergi dan menjadi saksi dan tentunya menjadikan semua bangsa, murid-murid Yesus. Legalitas ini merupakan mandat untuk memberitakan kabar baik dan keselamtan atau mandat penginjilan. Namun tidak bisa dipungkiri, banyak gereja Tuhan atau orang percaya tidak mampu mengaktualisasi dengan sungguh-sungguh dalam melaksanakan mandat misi yang merupakan kehendak Tuhan untuk membawa manusia dalam mengenal dan percaya kepada Juruselamat. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dapat disimpulkan bahwa, kajian Teologis Pemberitaan Injil Berdasarkan Suratan Paulus dalam 2 Timotius 1:8-10 Bagi Misi Masa kini adalah memahami orang percaya sebagai gereja Tuhan yang bertumbuh secara spritualitas dan tidak malu dalam mengaktualisasikan penginjilan, karena sejatinya misi tersebut berdasarkan belas kasihan Tuhan bagi manusia. Dan tentunya misi tersebut membawa jemaat tidak hanya melayani di gereja lokal saja, namun memiliki hati dan semangat menginjil dengan menjadikan misi sebagai gaya hidup.
Manajemen Gereja Dan Kepemimpinan Gembala Pasca Pandemi
Sonya, Margaretha;
Suhadi, Suhadi;
Arifianto, Yonatan Alex
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 2, No 3 (2022): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54403/rjtpi.v2i3.50
It started at the beginning of the pandemic, where the church had to draw up a management plan in church management. Some decided to meet remotely and a number of resources quickly emerged to help the church overcome strategic and technical challenges. Some refuse to meet remotely and try to implement social distancing and hand-washing protocols, leading to changes to new ordinances and procedures. From these problems, the author uses a library research method with a qualitative approach and interviews with pastors and congregations in the process of church service in the post-pandemic era. Use descriptive methods with literature related to church management to provide a clear picture related to pastoral care and where churches must digitize in the post-pandemic period in the future. The conclusion from the discussion of this article is that the church in the post-pandemic era has adapted its practices in worship and pastoral care to protect vulnerable people during the pandemic, initially, but has also opened up possibilities for innovation within the church. Pastoral leadership as a process of integrating Christian leadership and its contribution to church ministry and carrying out its services properly in information management and administrative management according to technological advances in pastoral care.Dimulai pada awal pandemi, dimana gereja harus menyusun rencana pengelolaan dalam manajemen gereja. Beberapa memutuskan untuk bertemu dari jarak jauh dan sejumlah sumber dengan cepat muncul untuk membantu gereja mengatasi tantangan strategis dan teknis. Beberapa menolak untuk bertemu jarak jauh dan mencoba menerapkan protokol jarak sosial dan cuci tangan, yang membuat perubahan tata cara dan prosedur baru. Dari permasalahan tersebut penulis menggunakan metode penelitian pustaka dengan pendekatan kualitatif serta wawancara dengan gembala sidang dan jemaat dalam proses pelayanan gereja era pasca pandemi. Penggunakan metode deskriptif dengan literatur terkait manajemen gereja untuk memberikan gambaran yang jelas terkait dengan pelayanan penggembalaan dan dimana gereja harus melakukan digitalisasi pada masa pasca pandemi ke depan. Kesimpulan dari hasil pembahasan artikel ini adalah gereja di era pasca pandemi telah menyesuaikan praktik dalam tata ibadah dan penggembalaan untuk melindungi orang-orang yang rentan dalam pandemi, pada awalnya, tetapi juga telah membuka kemungkinan untuk inovasi di dalam gereja. Kepemimpinan gembala sebagai proses integrasi kepemimpinan kristen dan kontribusinya dalam pelayanan gereja dan menjalankan pelayanannya dengan baik secara manajemen informasi dan manajemen administrasi sesuai kemajuan teknologi dalam pelayanan pastoral.
Tugas Misi dalam Era Pluralisme: Menyebarkan Kebenaran Injil Dalam Misiologi Kontekstual
Indarsih, Titi;
Rahayu, Yohana Fajar;
Arifianto, Yonatan Alex
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 4, No 1 (2024): Ritornera Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54403/rjtpi.v4i1.84
AbstractIn the era of a very pluralistic society and growing pluralism, the shyness towards the existence of a good society. Sometimes it makes us reluctant to keep witnessing the news of salvation. This is the challenge for the church to spread the truth of the gospel becomes increasingly complex. Especially in areas that have a majority of beliefs there are many challenges in preaching the gospel. So in mission to pluralistic societies, this article echoes contextual missiology which offers a relevant and context-centered approach to understanding and responding to changes in heterogeneous societies. This article presents a study of the task of mission in the context of pluralism, emphasizing the importance of effectively spreading the truth of the gospel within the framework of contextual missiology. It provides a view of Christianity on the nature of missiology in a biblical perspective, and also states that there are complex challenges in spreading the gospel. So this basis should be the task of mission and Pluralism and the important role of Contextual Missionology in a pluralistic society. So that all this becomes the basis and importance of Christianity's actuality in mission, using New Testament Bible verses as a basis. Thus, this article encourages church leaders and Christians to motivate themselves by actualizing themselves to be actively involved in broadcasting the gospel, with the awareness of the many challenges, but also a good opportunity for Christians to convey the news of salvation in today's pluralistic society. AbstrakDalam era masyarakat yang sangat majemuk dan pluralisme yang semakin berkembang, Rasa Sungkan terhadap keberadaan yang masyarakat yang sudah baik. Terkadang membuat kita enggan untuk tetap bersaksi tentang kabar keselamatan. Inilah yang menjadi tantangan bagi gereja untuk menyebarkan kebenaran injil menjadi semakin kompleks. Terlebih di daerah yang memiliki mayoritas kepercayaan ada banyak tantangan dalam memberitakan Injil. Maka dalam misi kepada masyarakat majemuk, artikel ini mendengungkan misiologi kontekstual yang mana hal ini menawarkan pendekatan yang relevan dan berpusat pada konteks untuk memahami dan merespons perubahan masyarakat yang heterogen. Artikel ini menyajikan studi mengenai tugas misi dalam konteks pluralisme, dengan menekankan pentingnya menyebarkan kebenaran injil secara efektif dalam kerangka misiologi kontekstual. Yang memberikan pandangan terhadap kekristenan tentang hakikat Misiologi dalam Persepektif Alkitabiah, dan juga menyatakan bahwa dalam bermisi ada tantangan yang Kompleks dalam Menyebarkan Injil. Maka dasar ini harusnya menjadi tugas misi dan Pluralisme serta peran penting Misiologi Kontekstual dalam masyarakat pluralistic. Sehingga semua ini menjadi dasar dan pentingnya aktualitas kekristenan dalam bermisi, dengan menggunakan ayat-ayat Alkitab Perjanjian Baru sebagai dasar. Sehingga artikel ini mendorong pemimpin gereja dan kekristenan untuk memotivasi dengan mengaktualisasikan diri mereka sendiri untuk terlibat aktif dalam penyiaran injil, dengan kesadaran akan banyaknya tantangan, namun juga menjadi kesempatan yang baik bagi kekristenan untuk menyampaikan kabar keselamatan dalam masyarakat pluralistik dewasa ini.
Misiologi dalam Kisah Para Rasul 13:47 Sebagai Motivasi Penginjilan Masa Kini
Arifianto, Yonatan Alex;
Purnama, Ferry
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 1, No 2 (2020): DESEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54553/kharisma.v1i2.39
The concept of saving mankind in God's initiative continues to work to this day. Believers and the church must express the attitude that missionary activities to fulfill the Great Commission are an important part that cannot be separated from the lives of believers and God's church. The church or believers sometimes experience a lack of understanding of the concept of mission so they experience obstacles in evangelizing. The evangelistic motivation that is born from the missiological concept in Acts 13:47 will equip the believer today. The author describes this article using a descriptive qualitative approach, this research can be started with Paul's Call in Evangelism and then text analysis so as to produce findings, among others: first, Preographical and God's Will, Being Light for the Nation and Motivation to Bring the news of salvation.Konsep menyelamatkan manusia dalam inisiatif Allah terus bekerja sampai hari ini. Orang percaya dan gereja haraus menyatakan sikap bahwa kegiatan misi untuk memenuhi Amanat Agung merupakan bagian penting yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan orang percaya maupun gereja Tuhan. Gereja atau orang percaya terkadang mengalami ketidak pahaman tentang konsep misi sehingga mengalami rintangan dalam menginjil. Motivasi penginjilan yang lahir dari konsep misiologi dalam Kisah Para Rasul 13:47 akan memperlengkapi orang percaya masa kini. Penulis mendeskripsikan artikel ini dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini dapat dimulai dengan Panggilan Paulus dalam Penginjilan selanjutnya analisa teks sehingga menghasilkan hasil temuan antara lain: pertama, Preogratif dan Kehendak Tuhan, Menjadi Terang bagi Bangsa dan Motivasi Membawa kabar keselamatan
Disorientasi Seksual dalam Perspektif Etis Teologis: Diskursus Pendidikan Kristen Bagi Remaja
Arifianto, Yonatan Alex
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 4, No 2 (2023): November
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55097/sabda.v4i2.91
The Phenomena that occur in society related to sexual disorientation make headlines in national news portals as public consumption. It can be seen from the unrighteousness towards sexual orientation deviation. What is the role of the church and Christian family towards sexual orientation deviation. The church can provide Christian education to be taught to teenagers who are full of self-discovery and high curiosity related to sexuality. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, the Bible becomes the primary source, it can be concluded that sexual disorientation in a theological ethical perspective must have the correct paradigm and understanding of the correct sexual orientation. Therefore, sexual disorientation education is needed for all sides of life related to physical, spiritual and mental and psychological. Of course, Christian education that provides correct understanding related to sexual disorientation for adolescents. Abstrak:Fenomena yang terjadi dalam masyarakat terkait disorientasi seksual menjadi berita utama dalam portal berita nasional sebagai konsumsi masyarakat. Hal itu dapat dilihat dari ketidakbenaran terhadap penyimpangan orientasi seksual. Bagaimana peran gereja dan keluarga Kristen terhadap penyimpangan orientasi seksual. Gereja dapat memberikan pendidikan Kristen untuk diajarkan kepada remaja yang sarat mencari jati diri dan rasa keingintahuan yang tinggi terkait seksualitas. Menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature, Alkitab menjadi sumber primer, maka dapat disimpulkan bahwa disorientasi seksual dalam perspektif etis teologis harus memiliki paradigma dan pemahaman yang benar terkait orientasi seksual yang benar. Oleh sebab itu pendidikan disorientasi seksual diperlukan untuk semua sisi kehidupan terkait jasmani, rohani maupun mental dan psikologis. Tentunya pendidikan Kristen yang memberikan pemahaman benar terkait disorientasi seksual bagi remaja. Kata Kunci: Disorientasi Seksual; Etis Teologis; Diskursus; Pendidikan Kristen; Remaja
Memetakan Tantangan Kepemimpinan Kristen dalam Pembacaan Reflektif 2 Timotius 2:15-16
Ngesthi, Yonathan Salmon Efrayim;
Arifianto, Yonatan Alex
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 6, No 1: Agustus 2023
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47131/jtb.v6i1.192
Churches and service organizations today experience many obstacles and problems related to leaders or leadership patterns. The problem is not only about immature leadership but also that a leader's personality is degraded, as happened in the upheaval and immorality among church leaders. Individuals with cases of infidelity or immoral acts are damaging the phenomenon of Christian leadership. Therefore, this writing aims to understand Christian leadership patterns based on 2 Timothy 2:15-16. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, it can be concluded that the actualization of Christian leaders can be put forward several qualifications and patterns of leadership in the theological studies of 2 Timothy 2:15-16, including leaders who are worthy of God, who have the traits of leaders who work hard and do not embarrassed because of his work. So, the leader has integrity by telling the truth and has the dedication of a leader who avoids empty talk. Abstrak Gereja dan organisasi pelayanan dewasa ini mengalami banyak kendala dan persoalan terkait pemimpin atau pola kepemimpinan. Persoalan tersebut bukan saja tentang kepemimpinan yang tidak matang namun pribadi seorang pemimpin mengalami degradasi seperti yang terjadi fenomena tentang kegaduhan dan asusila para pemimpin gereja. Fenomena tentang kepemimpinan Kristen dirusak oleh oknum dengan kasus perselingkuhan maupun tindakan asusila. Oleh karena itu tujuan penulisan ini memberikan pemahaman berdasarkan pola kepemimpinan Kristen berdasarkan 2 Timotius 2:15-16. Mengunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literatur maka dapat disimpulkan bahwa Aktualisasi Pemimpin Kristen dapat dikemukakan beberapa kualifikasi dan pola kepemimpinan dalam kajian teologis 2 Timotius 2:15-16 antara lain: Pemimpin yang dilayakkan oleh Allah, yang memiliki tabiat pemimpin yang pekerja keras dan tidak malu karena pekerjaannya. Sehingga pemimpin tersebut berintegritas dengan berkata benar dan memiliki dedikasi pemimpin yang menghindari omongan kosong.
Mamon dalam Kultur Penyembahan Orang Kristen Masa Kini
Sihite, Franseda;
Anjaya, Carolina Etnasari;
Arifianto, Yonatan Alex
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 4, No 2: Pebruari 2022
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47131/jtb.v4i2.119
The pace of technological progress today is able to make the world's life so beautiful and fun to live. Various living facilities form a complete, comfortable and enjoyable life. In this condition, mammon becomes the most sought after as a means of fulfilling the increasing needs of life. Mammon has known life and unwittingly God's people have placed it as the god of this age. Mammon today has mutated into many new variants, including the human person himself, money, wealth, and otherworldly facilities. Mamon in himself makes people love themselves and focus on efforts to realize their desires, ambitions, and desires. The method used in this article is descriptive qualitative. Research leads God's people to understand mammon mutations in the modern world and how to deal with them. The research concludes that the contribution of technology in life can be a means to praise service to others for glory in a true and pure manner. Mammon and anything in this world if used to worship God will bring people to eternal salvation. It takes courage to choose mammon worship that is full of using the world to worship God in spirit and truth. This courage is necessary because worshiping God means being separated from the world and living a life of suffering just like Him. AbstrakLaju pengembangan teknologi di masa kini mampu membuat kehidupan dunia begitu elok dan menyenangkan untuk dijalani. Pelbagai fasilitas membentuk hidup serba penuh kemudahan, nyaman dan menyenangkan. Dalam kondisi ini mamon menjadi sesuatu yang paling dikejar sebagai sarana pemenuhan kebutuhan hidup. Mamon telah menyita kehidupan dan tanpa disadari umat Tuhan telah menempatkannya sebagai sesembahan zaman ini. Inilah kultur baru penyembahan dalam kehidupan. Mamon zaman ini telah bermutasi menjadi banyak varian baru antara lain pribadi manusia sendiri, uang, kekayaan dan fasilitas-fasilitas dunia lainnya. Mamon yang terkristal dalam bentuk diri sendiri menjadikan umat percaya mencintai dirinya dan hidup terfokus pada upaya memenuhi keinginan, ambisi dan napsu diri. Metode yang dipergunakan dalam artikel ini secara deskriptif kualitatif. Penelitian mengarahkan umat Tuhan untuk dapat memahami mutasi mamon dalam dunia modern dan bagaimana menghadapinya. Riset memberikan simpulan bahwa sumbangsih teknologi dalam kehidupan dapat menjadi sarana untuk kembali menuju penyembahan yang terpusat pada Tuhan secara murni melalui pelayanan kepada sesama demi kemuliaanNya. Mamon dan apapun yang ada di dalam dunia ini jika dipergunakan untuk menyembah Tuhan maka ia akan membawa umat percaya pada keselamatan kekal. Perlu keberanian umat percaya untuk mengalihkan penyembahan mamon yang penuh sukacita dunia kepada penyembahan Tuhan dalam roh dan kebenaran. Keberanian ini diperlukan karena menyembah Tuhan berarti harus sungguh berkomitmen untuk berpisah dari dunia dan hidup menderita sama seperti Dia.