Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Mozaik Humaniora

Pemarkahan Diatesis Bahasa Indonesia: Kajian Tipologi Linguistik Ketut Artawa; Ketut Widya Purnawati
MOZAIK HUMANIORA Vol. 20 No. 1 (2020): MOZAIK HUMANIORA VOL. 20 NO. 1
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mozaik.v20i1.15128

Abstract

Sistem diatesis suatu bahasa terkait erat dengan sistem pemarkahannya, baik pemarkahan secara morfologis maupun secara sintaktis. Secara linguistik tipologi, bahasa akusatif memiliki diatesis aktif dan pasif, sedangkan bahasa ergatif memiliki diatesis ergatif dan antipasif. Bahasa Indonesia digolongkan sebagai bahasa yang memiliki diatesis aktif dan pasif, sehingga bahasa Indonesia dapat dimasukkan ke dalam kelompok bahasa akusatif. Berdasarkan kajian diatesis yang dilihat dari perspektif linguistik tipologi, diatesis aktif dan pasif bahasa Indonesia menunjukkan perbedaan yang signifikan jika dibandingkan dengan diatesis aktif pasif dalam bahasa yg bertipe akusatif. Bahasa Indonesia memiliki dua tipe pasif: ‘pasif di-’ dan ‘pasif pronomina’. Berdasarkan sistem kebermarkahan, konstruksi pasif di- yang dimarkahi secara morfologis memiliki bentuk aktif yang juga dimarkahi secara morfologis. Dengan kata lain, konstruksi pasif di- memiliki diatesis aktif dan pasif yang sama-sama memiliki pemarkahan secara morfologis. Dalam konstruksi pasif di-, verba yang menunjukkan diatesis pasif dimarkahi oleh prefiks di-, sedangkan verba yang menunjukkan diatesis aktif dimarkahi oleh prefiks meng-. Secara sintaktis, subjek kalimat pasif berfungsi sebagai ajung (adjunct) dalam bentuk frasa preposisional dan bisa dilesapkan. Pada konstruksi pasif pronomina, verba yang menunjukkan diatesis pasif muncul dalam bentuk verba dasar, sedangkan verba yang menunjukkan diatesis aktif dimarkahi oleh prefix meng-. Agen dalam kalimat pasif pronomina tidak dapat dilesapkan. Hal ini menunjukkan bahwa dalam pasif pronomina, diatesis aktif lebih bermarkah daripada diatesis pasifnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa berdasarkan pendekatan tipologi linguistik, diatesis aktif dan pasif dalam bahasa Indonesia tidak memenuhi persyaratan diatesis secara tipologi.Kata Kunci: diatesis, aktif, pasif, akusatif, ergatif
Fungsi Semantis Lokasi dalam Struktur Klausa Bahasa Jepang dan Bahasa Indonesia Ketut Widya Purnawati; Made Sri Satyawati; Ketut Artawa
MOZAIK HUMANIORA Vol. 21 No. 1 (2021): MOZAIK HUMANIORA VOL. 21 NO. 1
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mozaik.v21i1.24623

Abstract

Setiap bahasa memiliki sistem pemarkahannya sendiri untuk menunjukkan fungsi semantis tertentu dalam suatu klausa. Sistem pemarkahannya bisa sangat sederhana atau sangat kompleks. ‘Lokasi’ sebagai salah satu fungsi semantis memiliki tiga subtipe, yaitu sumber, tujuan, dan lintasan. Dengan ketiga subtipenya tersebut, fungsi semantis ini paling tidak memiliki empat buah pemarkah yang berbeda. Dalam penelitian ini dipaparkan bagaimana sistem pemarkahanfungsi semantis ‘lokasi’ dalam bahasa Jepang dan bahasa Indonesia. Data yang diambil dari korpus data Corpora Leipzig dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan metode agih dan teknik bagi unsur langsung sebagai teknik utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemarkahan ‘lokasi’ bahasa Jepang lebih kompleks daripada bahasa Indonesia. Dalam bahasa Jepang, sebuah subtipe bisa memiliki tiga jenis pemarkah yang berbeda. Namun, tidak demikian halnya dengan bahasa Indonesia yang memiliki sistem pemarkahan jauh lebih sederhana. Baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jepang, fungsi semantis lokasi tidak selalu menduduki fungsi gramatikal yang sama. Fungsi semantis lintasan yang menduduki fungsi oblik dalam bahasa Jepang, ternyata menduduki fungsi objek dalam bahasa Indonesia.
Co-Authors A. A. PT. SUARI, A. A. PT. A.A. Putu Suari Agus Subiyanto Ajeng Dianing Kartika Alit Putrini, Desak Ketut Amtiran, Santi Yuliana Anak Agung Putu Putra Anak Agung Sagung Shanti Sari Dewi Annisa Putri Yunita Aron Meko Mbete Aryawibawa, Nyoman Asako Shiohara Audrey Gabriella Titaley Ayu Putu Yulyana Anjani Ben Ambridge Boru Simorangkir, Sherly Lusiana David Samuel Latupeirissa Dewa Ayu Made Gandariani Dewi, Komang Trisna Fia Vauliany Br Siringo-ringo Fransiscus Sanur Gede Andi Setiawan Gede Eka Wahyu, Gede Eka Gede Primahadi Wijaya Rajeg Gita Maharani Kristina Kattu Gusti Nyoman Ayu Sukerti Hanny Hafiar Hariawati, Ni Nyoman Hasbulloh Nadaraning I Gede Budiasa I Gusti Ayu Agung Dian Susanthi I Gusti Ayu Agung Sintha Satwika I Gusti Ayu Gede Sosiowati I Gusti Made Sutjaja I Gusti Ngurah Parthama I Ketut Darma Laksana I Ketut Sudewa I Ketut Yudha I Made Budiarsa I Made Madia I Made Netra I Nengah Sudipa I Nyoman Arya Wibawa I Nyoman Aryawibawa I Nyoman Kardana I Nyoman Sedeng I Nyoman Sukendra I NYOMAN SUPARWA I Nyoman Udayana I Wayan Mulyawan I WAYAN PASTIKA I Wayan Simpen I Wayan Suardiana Ida Bagus Putra Yadnya Jeladu Kosmas Jro Balian Meilany Eka Yanti Karang, Ni Putu Dinda Nata Pramesti Ketut Widya Purnawati Kletus Erom Komang Trisna Dewi La Yani Lery Prasetyo Lien Darlina Luh Devi Puspa Sari Luh Komang Anggi Waisnawati Luh Putu Laksmi Prema Dewi Luki Widianita Made Budirasa Made Sri Satyawati Made Sri Satywawati Mirsa Umiyati Muhammad Yusdi Mulyono Mulyono Nazara, Wa’özisökhi Nazira, Siti Ni Ketut Ratna Erawati Ni Ketut Sri Rahayuni Ni Ketut Sri Rahayuni, Ni Ketut Ni Komang Warma Ari Putri Ni Luh Ketut Mas Indrawati Ni Luh Nyoman Seri Malini Ni Luh Putu Krisnawati Ni Luh Putu Widi Saraswati Ni Made Ayu Widiastuti Ni Made Dhanawaty Ni Made Suryati Ni Made Vidia Dwi Antari Ni Nyoman Tri Sukarsih Ni Nyoman Yudianti Ni Wayan Sartini Ni Wayan Sri Darmayani Ni Wayan Suastini Nidya Fitri Nurul Khasanah, Nurul Nyoman Jaya Mahaswari Paramarta, I Made Suta Pradhana, Ngurah Indra Prof. Dr.Aron Meko Mbete Putri Utami, Ni Putu Cahyani Putu Ayu Prabawati Sudana Putu Eka Dambayana Suputra Putu Gede Budiartha Putu Sutama Said, Rahmat Sawirman Sawirman Sherly Lusiana Boru Simorangkir Susanta, I Putu Agus Endra Upadani, Ida Ayu Agung Kardina Utama, Luh Gde Titah Madriyanthi Wa’özisökhi Nazara Yana Qomariana Yana Qomariana Yendra Yosef Demon Yunanfathur Rahman