Claim Missing Document
Check
Articles

Polyploid Induction of Trisula Shallot Seed by Colchicine Sari, Yusnita; Sobir; Syukur, Muhamad; Dinarti, Diny
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 10 No. 3 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.798 KB) | DOI: 10.29244/jhi.10.3.145-153

Abstract

Peningkatan ukuran umbi bawang merah lokal dengan kolkisin dapat meningkatkan produktivitas dan preferensi konsumen terhadap bawang merah lokal Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh nilai LC50 benih bawang merah terhadap kolkisin serta menduga beberapa parameter genetik karakter agronomi populasi putatif mutan bawang merah generasi M1V2 hasil induksi poliploid dengan kolkisin. Penelitian ini terdiri atas dua percobaan terpisah. Percobaan pertama yaitu induksi poliploid TSS bawang merah dengan 5 konsentrasi kolkisin (0%, 0.25%, 0.5%, 0.75% dan 1%) bertujuan untuk memperoleh nilai LC50 dan mutan putatif bawang merah. Percobaan kedua yaitu pendugaan parameter genetik beberapa karakter agronomi populasi (28 galur) mutan putatif bawang merah Trisulagenerasi M1V2 hasil induksi poliploid dengan kolkisin untuk menduga berbagai parameter genetik. Rancangan augmented digunakan baik pada penanaman percobaan pertama maupun percobaan kedua. Nilai LC50 TSS bawang merah varietas Trisula terhadap kolkisin sebesar 0.65%. Nilai heritabilitas berbagai karakter agronomi pada mutan putatif generasi M1V2 berkisar antara rendah sampai tinggi (11.13 – 83.39%). Tingkat ploidi seluruh populasi M1V1 bersifat mixoploid dan pengelompokkan pada mutan putatif generasi M1V2 dengan analisis kluster bersifat acak. Hal ini mengindikasikan bahwa induksi poliploid dengan kolkisin pada TSS bawang merah bersifat acak. Kata kunci: heritabilitas, kolkisin, LC50, mixoploid, poliploid
Respon Morfologi dan Fisiologi Genotipe Terung (Solanum melongena L.) terhadap Cekaman Salinitas Sobir; Miftahudin; Helmi, Susan
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (511.963 KB) | DOI: 10.29244/jhi.9.2.131-138

Abstract

ABSTRACTCultivation of eggplant (Solanum melongena L.) needs fertile soils to optimize the yield,however since the fertile land become limited, cultivation of eggplant needs to utilize sub optimal landssuch as salin soils. The objective of the research was to analyze morphological and physiologicalresponses of six eggplant genotypes (collection of the Center for Tropical Horticulture Studies), todetermine the tolerance of genotypes to salinity stress to be used as tolerant parents in eggplantbreeding program. The research was a factorial experiment. It was designed as randomized blockdesign with two factors, which were genotype factor (6 genotypes) and salinity factor (0, 2-4, 5-7, 8-10 mS cm-1) with 5 replications. The research was conducted in greenhouse using pot. Themorphological evaluation included shoot length, number of leaves, fruit weight, number of branches,shoot biomass, root biomass, and the physiological characters included photosynthesis rate,transpiration rate, stomatal conductance, CO2 intercelluler, leaf relative water contents, and prolineaccumulation. The results showed that salinity stress decreased all morphological as well asphysiological characters in all genotypes, except for proline accumulation that showed increase asthe salinity increase. Based on the stress susceptivility index (SSI), there was no eggplant genotypesclassified as tolerant to salinity. However, there were two eggplant genotypes, i.e., number 061 and072, classified as moderat genotypes to salinity stress.Keywords: proline, sensitive, stress susceptibility index, tolerantABSTRAKBudidaya terung (Solanum melongena L.) membutuhkan tanah yang subur untukmengoptimalkan hasil panen, namun karena lahan subur menjadi terbatas, maka dalam budidayaterung memerlukan pemanfaatan lahan suboptimal seperti tanah yang bersifat salin. Tujuan penelitianini ialah untuk menganalisis respon morfologi dan fisiologi enam genotipe terung, yang merupakanterung hasil koleksi Pusat Kajian Hortikultura Tropika, untuk menentukan toleransi genotipe terhadapcekaman salinitas yang akan digunakan sebagai tetua toleran pada program pemuliaan tanaman terung.Penelitian ini merupakan percobaan faktorial yang dirancang menggunakan rancangan acak kelompokyang terdiri dari dua faktor yaitu faktor genotipe dengan 6 genotipe dan faktor perlakuan salinitas(NaCl) yang terdiri atas 4 taraf yaitu 0-1, 2-4, 5-7, 8-10 mS cm-1) dan diulang sebanyak 5 kali.Penelitian dilakukan di rumah kaca sebagai percobaan pot. Karakter morfologi yang diamati adalahtinggi tanaman, jumlah daun, bobot buah, jumlah cabang, bobot basah tajuk, bobot basah akar,sedangkan karakter fisiologis adalah laju fotosintesis, laju transpirasi, konduktansi stomata, CO2interselular, kandungan air relatif daun, dan akumulasi prolin. Hasil penelitian menunjukkan bahwacekaman salinitas menurunkan semua karakter morfologi dan fisiologis pada semua genotipe, kecualiakumulasi prolin yang menunjukkan peningkatan seiring meningkatnya cekaman salinitas.Berdasarkan indeks kepekaan cekaman (SSI), tidak ada genotipe terung yang tergolong toleranterhadap salinitas. Namun, ada dua genotipe terung, yaitu: 061 dan 072, tergolong genotipe moderatterhadap cekaman salinitas.Kata kunci: indeks kepekaan cekaman, proline, sensitif, toleran
Hot Water Treatment on Shallot (Allium cepa var. ascalonicum) Tuber to Suppress Viruses Infection in The Field Wiyono, Suryo; Harti, Heri; Sobir; Hendrastuti Hidayat, Sri
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 9 No. 3 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.62 KB) | DOI: 10.29244/jhi.9.3.149-157

Abstract

Infestasi virus pada umbi bawang merah dilaporkan sangat tinggi, meskipun efek infeksi virus terhadap produktivitas bawang merah masih sedikit diketahui. Penggunaan umbi bebas virus diasumsikan menjadi salah satu faktor utama untuk meningkatkan produktivitas. Perlakuan air panas pada umbi sebelum tanam merupakan metode pilihan untuk mengeliminasi virus. Penelitian dilakukan dengan tujuan mempelajari keefektifan metode perlakuan air panas pada umbi bibit bawang merah terhadap infeksi virus di lapangan. Penelitian disusun menggunakan rancangan acak lengkap petak terbagi dengan dua faktor. Faktor pertama adalah perlakuan rumah kasa dengan dua taraf, yaitu penanaman dalam rumah kasa dan penanaman di lahan terbuka. Faktor kedua adalah perlakuan air panas suhu 45 0C dengan 4 taraf waktu perendaman, yaitu 15 menit, 30 menit, 45 menit dan kontrol (tanpa perlakuan). Pengamatan dilakukan terhadap insidensi penyakit, parameter pertumbuhan tanaman (jumlah anakan dan tinggi tanaman), dan produktivitas tanaman. Insidensi virus dikonfirmasi dengan deteksi menggunakan antibodi spesifik. Hasil pengamatan gejala menunjukkan bahwa perlakuan rumah kasa tidak berpengaruh nyata terhadap penekanan insidensi penyakit, sementara perlakuan pemanasan berpengaruh nyata terhadap penekanan insidensi penyakit. Waktu perendaman umbi selama 15, 30 dan 45 menit pada suhu 45 0C dapat menekan insidensi penyakit virus dilapangan berturut-turut sebesar 54.98%, 56.77% dan 64.35%. Kata kunci: eliminasi virus, insidensi penyakit, rumah kasa, waktu perendaman
The characteristic Performace of Quantitative Flowering Characters and Metabolomic Profile of Shallot (Allium cepa var. aggregatum) Induced by Vernalization Maharijaya, Awang; Purwito, Agus; Marlin; Sobir
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 9 No. 3 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.116 KB) | DOI: 10.29244/jhi.9.3.197-205

Abstract

Flowering initiation is regulated by the internal and external condition of plant. Vernalization is considered to induce flower initiation on shallots (Allium cepa var. aggregatum). This research objective was to analyze the flowering quantitatif characters and metabolomic profile of shallot during vernalization on bulb development. Vernalization was carried out at 8 0C for 6 weeks treatment were four bulb growth stage i.e non-vernalized bulbs (S0), vernalization on embryonic stage (S1), vernalized bulbs on 1 cm of shoot stage (S2) and vernalized bulbs on 2 cm of shoot stage (S3). Vernalization treatment in early stage increased the number of tillers, number of umbel, diameter of umbel and percentage of flowering compared to another stage. The early stage of bulbs growth was the effective stage in receiving vernalization treatment. The bigger number and diameter of umbel lead to the higher percentage of flowering in shallot plant. The number and diameter of umbel can be used as character of selection for the percentage flowering character in shallot. Metabolomic analysis has identified of 104 specific metabolites from different vernalization treatments and clustered shallot into three groups. The early stadium of bulbs development (embryo stadia and stadia 1 cm buds) contains specific metabolomes (phytol and 2-propanone) as the indicator of reproductive phase. Keywords: correlation, flower induction, hierarchical cluster analysis, metabolomic
Performance and Poduction of G2 Potato Tuber Seeds Using Diference Seed Sources Azhari, Andi; Maharijaya, Awang; Sobir
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 10 No. 1 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.237 KB) | DOI: 10.29244/jhi.10.1.27-35

Abstract

Produksi benih G2 kentang (Solanum tuberosum L.) menggunakan umbi dan setek dari dua varietas lokal dilakukan untuk mengetahui keragaan dan produksinya di Lapangan. Saat ini di Indonesia, setek kentang digunakan secara terbatas untuk produksi umbi G0 dan G1 pada kondisi terkontrol (rumah kaca atau rumah kasa). Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) faktorial digunakan pada penelitian ini dengan varietas (RGH01 dan Medians) dan sumber benih (umbi (G0) dan setek) sebagai faktor dan lima ulangan. Data dianalisis dengan sidik ragam yang kemudian dilanjutkan dengan uji Duncan. Tanaman kentang yang ditanam dengan sumber benih setek menghasilkan jumlah daun dan cabang yang lebih banyak pada kedua varietas. Namun, tidak berbeda nyata pada peubah tinggi tanaman. Jumlah umbi per tanaman menunjukkan hasil tidak berbeda nyata pada seluruh kombinasi perlakuan dengan 5.2 hingga 5.9 umbi per tanaman. Produktivitas umbi yang lebih besar dihasilkan oleh tanaman kentang dengan sumber benih umbi pada kedua varietas. Persentase umbi kelas S (<40 g) yang lebih besar diperoleh dari tanaman kentang dengan sumber benih setek sebesar 82.0% (Medians) dan 94.1% (RGH01). Kata kunci: perbanyakan benih, perbanyakan kentang, setek, Solanum tuberosum L., umbi
Heritability, Correlation, and Path Analysis on Various Characters of Tomato (Solanum lycopersicum) under Shading and Normal Condition Ritonga, Arya Widura; Chozin, Muhamad Achmad; Syukur, Muhamad; Maharijaya, Awang; Sobir
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 10 No. 2 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.399 KB) | DOI: 10.29244/jhi.10.2.85-93

Abstract

Character selection information is essential for plant breeding program. SSH3 tomato genotype (shade-loving genotype), 4974 (shade-sensitive genotype), and F2 population derived from “SSH3 x 4974” were evaluated to estimate the heritability, correlation, direct and indirect effects between yield and various yield atributting characters in tomato under shading and normal condition at Pasir Kuda Station, Bogor Agriculture University, West Java, Indonesia from July until October 2016. The results showed that plant height, leaf length, leaf width, leaf weight, specific leaf weight, fruit weight, fruit number per plant and fruit weight per plant had high heritability under normal condition, while plant height, fruit set, fruit number of plant and fruit weight per plant had high heritability under shading condition. High direct positive effect on yield per plant was resulted from fruit weight and fruit number of plant under shading and normal condition, while leaf width had direct positive effect on fruit weighr per plant only under shading condition. High indirect positive effect on yield per plant was resulted from fruit set, fruit length and fruit diameter under shading and normal condition, while plant heigh had high indirect effect on yield per plant only under shading condition. Fruit set, fruit weight, and fruit number per plant characters were potential to be used as character selection for tomato productivity in normal conditions. Plant height, fruit set and fruit number per plant were potential to be used as character selection for tomato productivity under shading condition. Keywords: direct effect, fruit set, indirect effect, low light tolerant
Comparative analysis of Genetic Diversity among Pod Vegetables Genetic Resources Potential in Indonesia Revealed by ISSR Markers Rif’atunidaudina, Ria; Sobir; Maharijaya, Awang
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 10 No. 3 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.977 KB) | DOI: 10.29244/jhi.10.3.161-172

Abstract

Kacang tunggak (Vigna unguiculata ssp unguiculata), kacang panjang (V. unguiculata ssp sesquipedalis), kacang Bogor (V. subterranea), koro kratok (Phaseolus lunatus), kacang merah (P. vulgaris), koro pedang (Canavalia ensiformis), koro benguk (Mucuna pruriens) dan kecipir(Psophocarpus tetragonolobus) merupakan sayuran polong penting di Indonesia dari tanaman kacang-kacangan. Tanaman tersebut bernilai ekonomi tinggi dan kaya nutrisi dengan kandungan protein biji keringnya yang hampir sama dengan kedelai dan dapat menunjang kesehatan manusia sekaligus menunjang pangan di masa depan. Informasi keragaman genetik di antara sayuran polong yang berbeda masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keragaman genetik dalam dan antar sayuran polong yang berbeda spesies berdasarkan marka ISSR. Sebanyak 32 aksesi sayuran polong dianalisis menggunakan 11 primer ISSR menghasilkan 80 pita polimorfik dengan persentase polimorfisme sebesar 100% dan primer informatif yang didapat adalah PKBT 3 dan PKBT 6. Hasil analisis kluster dan analisis PCA mengelompokkan 32 aksesi tersebut ke dalam delapan kluster dan menunjukkan mayoritas aksesi yang satu spesies mengelompok bersama. Koefisien kemiripan genetik Gower keseluruhan aksesi berkisar antara 0.425-0.988, dan koefisien kemiripan delapan spesies berkisar antara0.444 – 0.700. Hubungan kekerabatan antara spesies V. subterranean - C. Ensiformis memiliki jarak genetik terkecil, sedangkan jarak genetik terbesar ditemukan antara spesies P. vulgaris - M. pruriens. Penentuan kekerabatan tersebut bermanfaat untuk pemahaman yang lebih lanjut tentang hubungan di antara sayuran polong yang berbeda spesies, yang umumnya dianggap sebagai kelompok yang kompleks dengan variabilitas fenotipik yang tinggi. Kata kunci: jarak genetik, kacang-kacangan, koefisien kemiripan, pengelompokan, polimorfisme
Pengembangan Kriteria Seleksi pada Pisang (Musa sp.) Berdasarkan Analisis Lintas Wirnas, Desta; Sobir, Sobir; Surahman, Memen
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 33 No. 3 (2005): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (47.695 KB) | DOI: 10.24831/jai.v33i3.1264

Abstract

This research was aimed to develop selection criteria based on correlation and path coefficient analysis.  The experiment was carried out at CETROFS (Center for Tropical Fruit Studies) field station of Bogor Agricultural University, Tajur.  The result showed that plant height, pseudostem diameter, number of leaves, weeks to harvest,  finger number per plant, and mean of  finger weight were positively correlated with bunch weight. Pseudostem diameter,  number of leaves, finger number per plant have strong direct effect on bunch weight,  with path coefficient 0.321, 0.264, 0.297, and 0.722, subsequently.  However, the plant height showed strong indirect effect on bunch weight  through  pseudostem diameter. These characters  are useful as a selection criteria for developing new variety of banana  with higher bunch weight   Key words: path coefficient, selection criteria, banana  
Analisis Pembandingan Pola Keanekaragaman Pisang Introduksi Berdasarkan Penanda Fenotipik dengan Penanda RAPD dan Pendugaan Korelasi antara Keduanya terhadap Komposisi Genomiknya Robi'ah, Hanik Rohmah; Sobir, Sobir; Surahman, Memen
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 33 No. 3 (2005): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.843 KB) | DOI: 10.24831/jai.v33i3.1266

Abstract

Banana accessions introduced from INIBAP Transit Center (ITC) have been studied their diversity revealed on phenotypic and RAPD markers.  Both of them showed different clustering pattern and not fit to genomic composition. In order to know fitness level of clustering pattern both of them, comparison analysis have done to their similarity coefficient matrix, and followed by partial correlation analysis among phenotypic traits, and genomic composition.  The comparison analysis resulting very poor correlation (r = 0.491). Partially correlation analysis among traits, DNA profile, and Musa genomic composition at 95-99% confidence revealed only OPA-18 line 2 related to accessions possessed pure "A" genome, and they were together associated to green color of petiole margins.  OPD-10 line 3, significantly, associated to accessions with genome dominated "B", but there was no correlation between both of them to any characters. These results suggested that some primers and characters may specifically associated with certain.    Key words:  Comparison analysis, Correlation analysis, Introduction bananas, Musa
Pemilihan Karakter Agronomi untuk Menyusun Indeks Seleksi pada 11 Populasi Kedelai Generasi F6 Wirnas, Desta; Widodo, Imam; Sobir, Sobir; Trikoesoemaningtyas, Trikoesoemaningtyas; Sopandie, Didy
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 34 No. 1 (2006): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.405 KB) | DOI: 10.24831/jai.v34i1.1270

Abstract

High-yielding variety is one of the targets in soybean breeding program. High-yielding variety could be developed through simultaneous selection. Simultaneous selection  using selection index was more efficient  than selection based on an individual trait only.  Objective of  the research was to select agronomic characters for construction selection index  on 11 soybean populations F6 generation based on correlation analysis, path analysis, and heritability.  The correlation analysis  showed that  number of branch,  number of total nod, number of filled pod, number of unfilled pod, number of total pod, and percentage of filled pod have positively and significantly correlated with  yield per plant.  Based on  path analysis, characters number of branch, number of unfilled pod, and number of filled pod have positive direct on yield per plant.   The result also showed that  number  of filled pod has maximum positive direct effect on yield per plant.  Generally, number of total nod, number of filled pod, number of total pod, and percentage of filled pod have higher heritability  than other characters.   Key words: Soybean, correlation, path analysis, heritability, selection index
Co-Authors , Kisman , Santoso Achmad Baihaki Agung Wahyu Susilo Agus Purwito Ahmad Dadang Ahmad Satori Ahmad Yunus Aji Hermawan ALEX HARTANA Alex Hartana Alex Hartana ALFRED P. MANAMBANGTUA Alifiya Herwitarahman Anas Dinurrohman Susila Andarwening, Freestina Andika Septiana Suryaningsih Aris Purwanto Arisanti, Tiffani Nindya Astri W Wulandari Astri Windia Wulandari Wulandari Awang Maharijaya Azhari, Andi Baiq Arriyadul Badi'ah Bonjok Istiaji Budi Santosa C Hanny Wijaya Chesaria, Nanda DADANG, AHMAD Deden Derajat Matra Delvi Maretta Desta Wirnas Didy Sopandie Diny Dinarti Diyah Martanti, Diyah DONATA S. PANDIN Edi Santosa Edi Santosa Edi Santosa Efendi, D. Efendi, Darda Eka Fatmawati Tihurua Eko Priyantono Ellina Mansyah Entit Hermawan Eny Widajati Erni Suminar Evalina C. Pandia Fusao Motoyoshi Gunawan Gunawan Gunawan Gunawan Hafizah, Rumaisha Afifatul HAJRIAL ASWIDINNOOR Hanifah Nuryani Lioe Harmi Andrianyta Harti, Heri Haryanti, Dyra Helmi, Susan Hendrastuti Hidayat, Sri Herry Suhardiyanto Hidayat , Sri Hendrastuti I Wayan Budiastra Ika Roostika Imam Widodo Iman Rusmana Imas Sukaesih Sitanggang Inayah Yasmin Kamila Indah Kurniasari Irvan Faizal Is Helianti Islah Hayati J. K. J. Laisina Joko Prasetiyono Juliati S. Darsa Juliet M.E. Mamahit Ketty Suketi Khairiyah, Hayat Khamidi, Thamrin Kisman Kisman Kristianto Nugroho Kurniawan Rudi Trijatmiko Kuswandi Kuswandi La Ode Safuan Laksono Trisnantoro Lilik Pujantoro Lina Herlina Lina Herlina Lina Herlina Lizawati . M A Chozin M. Syamsul Maarif Machfud Machfud Maharijaya, dan Awang Mahat Magandhi MANAMBANGTUA, ALFRED P. Mardiana - MARIA BINTANG Marlin Marlina Mustafa, Marlina Mas’ud, Zainal Alim MATHIUS, NURITA TOURAN Matra, Deden Derajat Meddy Rachmadi Memen Surahman Mien A. Rifai Miftahudin Miftahudin . Muchlis . Muhamad Syukur Muhammad Arif Nasution Muhammad Syukur Mukelar Amir Munarti Nadila, Dea Nazli, Rizal Sjarief Sjaiful Nazly Aswani Nettyani, Naipospos Ni Made Armini Wiendi Nining, Euis Nobuo Sugiyama Noorrohmah, Siti Nurita Toruan-Mathius Nursalma, Linda Nurul Khumaida Nurwahyuningsih Nurwahyuningsih OTIH ROSTIANA PANDIN, DONATA S. Parjanto Parjanto Poetri Agustine Aryawati PRASETIYONO, JOKO Prawestri, Apriliana Dyah Priyanti Priyanti Priyanti Priyanti Priyantono, Eko PURNAMA HIDAYAT Purwono Purwono Putra, Fiqhri Mulianda Putri, Faradila Danasworo Rahmadara, Gemilang Ramadhani Dwi Santoso Ramadhani Dwi Santoso Ramdhani, Cahyati Rd. Selvy Handayani Reflinur Reflinur Reflinur Reflinur Rerenstradika T. Terryana Ria Rif’atunidaudina Ridwan Setiamihardja Risa Aryantri Ritonga , Arya Widura Ritonga, Arya W Ritonga, Arya Widura Roberdi ,, Roberdi Robi'ah, Hanik Rohmah Roedhy Poerwanto Rosmaina Rosmaina S H Hidayat S Noorrohmah Santosa, Budi Santosa, Budi Sarsidi S astrosumarjo Sayekti, Tri Wahono Dyah Ayu Sekar Wulan Prasetyaningtyas Siti Hafsah Soaloon Sinaga SOLIN, NIDA W.N.M. SRI HENDRASTUTI HIDAYAT SRIANI SUJIPRIHATI Sriani Sujiprihati Sudarmono Sudirman Yahya Sujiprihati, Sriani Sulistijorini Sunyoto Sunyoto Suparjo Suprayanti Martia Dewi, Suprayanti Martia Surjono Hadi Sutjahjo Suryo Wiyono SYAFRIDA MANUWOTO Syarifah Iis Aisyah Syukur, M Tamami, Djoko TARUNI SRI PRAWAST MIEN KAOMINI ANY ARYANI DEDY DURYADI SOLIHIN TATIK CHIKMAWATI Tengku Laila Kamaliah Teuku Tajuddin Tias Arlianti Tony Liwang Toruan-Mathius, dan Nurita Tri Budiyanti Tri Handayani Tri Muji Ermayanti Trijatmiko, Kurniawan Rudi Trikoesoemaningtyas Undang, Undang Utami Prawati Wida W. Khumaero Widodo Widodo Willy Bayuardi Suwarno Winarso D. Widodo Winda Nawfetrias Witjaksono Wulan Septiningtyas Kurniajati Wuriandani, Adinda Yoko Mine Yono, Dwi Yudiwanti Wahyu E. Kusumo Yukarie Ayu Wulandari Yukarie Ayu Wulandari Yusnita Sari, Yusnita Zumaidar Zumaidar