Claim Missing Document
Check
Articles

Masalah Psikososial Ibu Dengan Anak Stunted : Studi Deskriptif Kualitatif Aprilia Hastuti, Emma; Suryani, Suryani; Sriati, Aat
Jurnal Keperawatan 'Aisyiyah Vol. 9 No. 2 (2022): Jurnal Keperawatan 'Aisyiyah
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.991 KB) | DOI: 10.33867/jka.v9i2.352

Abstract

Stunted telah menjadi trend masalah kesehatan anak Indonesia saat ini. Kondisi kesehatanpsikososial ibu merupakan substansi yang penting dalam ibu memiliki anak stunted.Ketidakmampuan ibu beradaptasi terhadap berbagai tekanan hidup dapat menyebabkanmasalah psikososial pada ibu. Ibu perlu mengenali masalah psikososial yang dialamiselama hamil dan memiliki anak sehingga berpengaruh terhadap prosesnya ibu memilikianak stunted. Tujuan penelitian ini yaitu mengeksplorasi masalah psikososial ibu dengananak stunted. Metode penelitian yang digunakan dengan penelitian kualitatif denganmenggunakan pendekatan deskriptif eksploratif, di wilayah kerja Puskesmas SudiKabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan dengan wawancarasemi terstruktur terhadap 8 orang ibu usia 23-33 tahun yang memiliki anak stunted.Transkrip wawancara dianalisis menggunakan analisis tematik Braun dan Clarke.Adapun hasil dalam penelitian terdapat 5 tema esensial yang muncul dalam penelitian ini,anatara lain: 1) mengalami berbagai emosi negatif saat hamil, 2) merasa khawatir denganpertumbuhan dan perkembangan anak stunted, 3) ibu malu memiliki anak stunted, 4)penghasilan yang kurang membuat ibu harus bekerja, 5) berdoa dan beristighfar sebagaiusaha menenangkan hati. Sehingga dapat disimpulkan berbagai masalah psikososialdialami ibu selama dan setelah memiliki anak dengan stunted. Berbagai masalah tersebutmerujuk pada stress, kecemasan, kehilangan, dan harga diri rendah. maka terdapatimplikasi bagi praktik keperawatan yaitu perlunya pengembangan program model berupapsikoedukasi, konseling, promoting emotional support, dan homevisit pre and periconceptionintervention group
Toward Precision Psychiatry: A Scoping Review of Self-Monitoring and Artificial Intelligence for Bipolar Symptom Monitoring Nursyafaat, Anastia; Sriati, Aat
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.3365

Abstract

This scoping review aims to map and analyze the utilization of digital technologies, including self-monitoring applications, wearable devices, and hybrid interventions, for monitoring symptoms of bipolar disorder, as well as to explore their potential implementation in Indonesia. A systematic literature search was conducted across EBSCO Host, ScienceDirect, Oxford Academic, and Emerald Insight, focusing on studies published between 2020 and 2025 that addressed digital monitoring in individuals with bipolar disorder. The review identified ten studies that met the inclusion criteria, consisting of randomized controlled trials, mixed-methods studies, exploratory qualitative studies, pilot studies, and trial protocols. Key findings were categorized into four themes: (1) active self-monitoring via manual input or Ecological Momentary Assessment, which enhances self-awareness, promotes consistent daily routines, and supports symptom management; (2) passive monitoring and digital phenotyping using sensors and wearable devices, providing continuous objective data for early detection of relapse; (3) hybrid approaches integrating monitoring with therapeutic modules such as psychoeducation, mindfulness, and relapse prevention, which improve social functioning and treatment adherence; and (4) psychosocial factors and user engagement, highlighting the importance of personalization, peer support, inclusive language, and interactive features. Overall, digital interventions demonstrate considerable potential as a complement to conventional care by empowering patients, facilitating early detection of mood episodes, and enabling more personalized management. In Indonesia, the adoption of inclusive, evidence-based, and contextually adaptive digital strategies tailored to local digital literacy and infrastructure is expected to strengthen mental health services and sustainably enhance patient empowerment.
Stigma Kesehatan Mental dan Perilaku Mencari Bantuan Di Kalangan Mahasiswa: A Scoping Review Khoirunnisha, Naylla; Sriati, Aat
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.3366

Abstract

Stigma terkait kesehatan mental, baik bersifat publik maupun internal, menjadi penghambat kritis bagi perilaku pencarian bantuan profesional di kalangan mahasiswa, yang merupakan isu kesehatan global yang semakin mendesak di lingkungan pendidikan tinggi. Scoping review ini secara sistematis memetakan berbagai tampilan stigma tersebut serta pengaruhnya terhadap partisipasi mahasiswa dalam layanan psikologis. Dengan menggunakan pedoman PRISMA-ScR, telaah literatur mencakup publikasi ilmiah dari basis data Scopus antara 2021 hingga 2025, menganalisis secara mendalam tujuh studi dengan desain kualitatif, kuantitatif, dan campuran (mixed-methods). Hasil penelitian menunjukkan bahwa stigma kesehatan mental merupakan fenomena multidimensi, yang bentuk dan intensitasnya dipengaruhi secara kompleks oleh tingkat literasi kesehatan mental, konteks latar belakang budaya, pengalaman pribadi individu, serta norma sosial yang dominan di lingkungan kampus. Secara signifikan, stigma terbukti menjadi faktor penentu utama yang tidak hanya menurunkan niat tetapi juga perilaku aktual (behaviour) dalam mencari bantuan, sehingga turut memperlebar kesenjangan akses terhadap layanan kesehatan mental. Penelitian ini juga menemukan bahwa intervensi pendidikan untuk meningkatkan literasi, pengalaman klinis yang terstruktur, dan pendekatan berbasis komunitas telah terbukti efektif dalam menurunkan tingkat stigma dan meningkatkan partisipasi mahasiswa dengan layanan psikologis. Oleh karena itu, hasil review ini menekankan pentingnya penerapan pendekatan yang holistik, kontekstual, dan berkelanjutan dalam merancang strategi untuk mengatasi stigma. Strategi tersebut harus bisa beradaptasi dengan berbagai karakteristik mahasiswa agar dapat menciptakan ekosistem kampus yang inklusif dan mendukung secara psikologis
Prediktor Hope Pada Pasien yang Sedang Menjalani Hemodialisis di Rumah Sakit Pamuji, Fajar Galih; Yosep, Iyus; Sriati, Aat
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 3 (2026): Volume 6 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i3.21906

Abstract

ABSTRACT Hope in hemodialysis patients is influenced by several factors, such as social support, quality of relationship with medical personnel, self-confidence, mental health, past experience in managing the disease, spiritual beliefs, as well as the availability of information, economic support, and adequate education. The type of research uses a quantitative method with a cross-sectional design. The sampling technique uses non-probability sampling using the total sampling method, the sample is 67 people. This study uses questionnaires, HHI, MSPSS, and SWBS. Data analysis uses multivariate analysis of ordinal regression tests. Multivariate analysis showed that social support was the most dominant factor in influencing hope, namely (p = 0.005; OR = 5.60), this shows that patients with higher social support are about 5.6 times more likely to be at a higher level of hope. Followed by spiritual well-being (p = 0.046; OR = 5.44), patients with higher spiritual well-being are about 5.4 times more likely to have a higher level of hope.Social support and spiritual well-being have a significant relationship to hope in hemodialysis patients. Social support was found to be the most dominant factor in increasing hope, with a greater contribution than other variables. Keyword: Hemodialysis, Hope, Predictor.  ABSTRAK Hope pada pasien hemodialisis dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti dukungan sosial, kualitas hubungan dengan tenaga medis, keyakinan diri, kesehatan mental, pengalaman masa lalu dalam mengelola penyakit, keyakinan spiritual, serta ketersediaan informasi, dukungan ekonomi, dan pendidikan yang memadai. Jenis penelitian menggunakan metode kuantitaf dengan desain cross-sectional. Teknik sampling menggunakan non-probability sampling dengan menggunakan metode total sampling, sampel berjumlah 67 orang. Penelitian ini menggunakan kuesioner, HHI, MSPSS, dan SWBS. Analisa data menggunakan analisis multivariat uji regresi ordinal. Analisis multivariat menunjukkan dukungan sosial merupakan faktor paling dominan dalam memengaruhi hope, yaitu (p = 0,005 ; OR = 5,60), ini menunjukan pasien dengan dukungan sosial lebih tinggi memiliki kemungkinan sekitar 5,6 kali lebih besar untuk berada pada tingkat hope yang lebih tinggi. Disusul oleh kesejahteraan spiritual (p = 0,046 ; OR = 5,44), pasien dengan kesejahteraan spiritual yang lebih tinggi memiliki kemungkinan sekitar 5,4 kali lebih besar untuk memiliki tingkat hope yang lebih tinggi. Dukungan sosial dan kesejahteraan spiritual memiliki hubungan yang signifikan terhadap hope pada pasien hemodialisis. Dukungan sosial ditemukan sebagai faktor yang paling dominan dalam meningkatkan hope, dengan kontribusi yang lebih besar dibandingkan variabel lainnya. Kata Kunci: Hemodialisis, Hope, Prediktor.
IMPLEMENTASI REFLEKSOLOGI SEBAGAI TERAPI KOMPLEMENTER DALAM MANAJEMEN PASCAOPERASI Zulva, Siti; Umu Kulsum, Dewi; Sriati, Aat; Suryaningsih, Chatarina; Dewi Amir, Mayasyanti; Yudistira, Andi
Jurnal Kesehatan An-Nuur Vol 3 No 1 (2026): Jurnal Kesehatan An-Nuur
Publisher : Yayasan Putra Sukamanah Sejahtera

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71023/jukes.v3i1.50

Abstract

Surgical procedures can lead to various postoperative clinical problems such as pain, anxiety, nausea and vomiting, sleep disturbances, and fatigue, all of which require comprehensive management. Reflexology, as a non-pharmacological complementary therapy, has the potential to support postoperative management through stimulation of reflex points on the soles of the feet, hands, and ears. This study aims to synthesize scientific evidence regarding the effectiveness of reflexology as a complementary intervention in postoperative patient management. A systematic review was conducted following the PRISMA 2020 guidelines. Literature searches were performed in PubMed, Scopus, Web of Science, CINAHL, EBSCOhost, and the Cochrane Library for publications from January 2010 to December 2024. The inclusion criteria were determined using the PICO framework, and methodological quality was assessed using the JBI Critical Appraisal Tools. Out of 1,032 identified articles, 15 studies met the inclusion criteria (13 randomized controlled trials, 1 clinical trial, and 1 randomized study). The synthesis results indicate that reflexology significantly: (1) reduces postoperative pain intensity, (2) decreases anxiety levels, (3) stabilizes physiological/hemodynamic parameters, (4) improves sleep quality, and (5) reduces fatigue. These effects were consistently observed across various surgical procedures, including coronary artery bypass graft (CABG), abdominal surgery, hysterectomy, and cesarean section. Reflexology has the potential to serve as a safe, effective, and practical complementary intervention to support postoperative patient management. Further studies with multicenter designs, larger sample sizes, and more standardized protocols are recommended.
Hubungan Resiliensi dan Kualitas Hidup pada Orang Tua yang Memiliki Anak Kanker di Rumah Singgah Alifa Nazhifah; Siti Yuyun Rahayu Fitri; Aat Sriati
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 9 (2025): Volume 7 Nomor 9 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i9.20006

Abstract

ABSTRACT Having a child with cancer represents s significant challenge and traumatic experience for parent who must face the burden as caregivers. During treatment at shelter houses, parents are influenced by various factors affecting resilience and quality of life such as social and spiritual support. Research examining the relationship between resilience and quality of life among parents with cancer children at shelter houses remains limited. This research aims to identify the relationship between resilience and quality of life in parents with cancer children at shelter houses. The research employs a correlational analytical design with a cross-sectional approach, involving 74 respondents selected through purposive sampling. The instruments used were CDC-RISC (validity=0,83, reliability=0,917) to measure resilience and WHOQOL-BREF (validity =0.798, reliability=0.941) to measure quality of life. Data analysis was conducted using the Spearman correlation test. Result indicate that most parents have relatively resilience and quality of life. A significant correlation exists between resilience and quality of life (p=0,000, r=0,413). This indicates that increasing resilience can improve quality of life. It is important to develop intervention programs to enhance resilience and quality of life for parents with cancer children in shelter houses. Nurses can play role in early screening, coping strategy and stress management education, quality life support, and multidisciplinary collaboration for holistic interventions. Keywords: Parents, Pediatric Cancer, Quality of Life, Resilience  ABSTRAK Memiliki anak dengan sakit kanker merupakan tantangan besar dan pengalaman traumatis bagi orang tua yang harus menghadapi beban sebagai caregiver. Selama perawatan di rumah singgah, orang tua dipengaruhi oleh berbagai faktor yang mempengaruhi resiliensi dan kualitas hidup seperti dukungan sosial dan spiritual. Penelitian yang mengkaji hubungan resiliensi dan kualitas hidup pada orang tua dengan anak kanker di rumah singgah masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan resiliensi dan kualitas hidup pada orang tua dengan anak kanker di rumah singgah. Desain penelitian ini adalah analitik korelasi dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 74 responden yang dipilih secara purposive sampling. Instrumen yang digunakan yaitu CDC-RISC (validitas=0.83, reliabilitas=0.917) untuk mengukur resiliensi dan WHOQoL-BREF (validitas=0.798, reliabilitas=0.941) untuk mengukur kualitas hidup. Analisa data menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas orang tua memiliki resiliensi kualitas hidup yang cenderung tinggi. Terdapat korelasi signifikan antara resiliensi dengan kualitas hidup (p=0,00, r=0,413). Hal tersebut menunjukkan bahwa peningkatan resiliensi dapat meningkatkan kualitas hidup. Penting untuk mengembangkan program intervensi guna meningkatkan resiliensi dan kualitas hidup orang tua dengan anak kanker di rumah singgah. Perawat dapat berperan dalam skrining dini, edukasi strategi koping, edukasi manajemen stres dan kualitas hidup, dan kolaborasi multidisiplin untuk intervensi secara holistik. Kata Kunci: Kanker Anak, Kualitas Hidup, Orang Tua, Resiliensi
Efektifitas Terapi Musik untuk Mengatasi Halusinasi Pendengaran di RSJ Provinsi jawa Barat Hendrawati Hendrawati; Iceu Amira; Aat Sriati
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 8 (2025): Volume 7 Nomor 8 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i8.20333

Abstract

ABSTRACT The most common psychosis disorder is hallucinations, with the most common type of hallucination being auditory hallucinations. Treating auditory hallucinations with non-pharmacological therapy, is considered safer because it uses physiological processes that do not cause side effects like drugs. One of the non-pharmacological therapies that can be used is music therapy. This research aims to look at the application of music therapy to treat auditory hallucinations. This research uses a literature study method with secondary data from previous research obtained from 483 journals adjusted to inclusion and exclusion criteria, with publication years 2014-2024, which were determined by researchers through searches using online databases, namely Pubmed, Garuda, and the Google Scholar search engine. From the analysis, we found 8 journals of music therapy techniques that can reduce or reduce signs and symptoms in patients with auditory hallucinations, including classical music in general, Mozart classical music, and traditional Turkish music. From writing this literature review, music therapy in general can reduce the symptoms of auditory hallucinations.  Suggestion: It is hoped that this literature review can be a reference for health practitioners, especially mental health nurses, to be able to implement music therapy interventions as actions that are given continuously as non-pharmacological therapy. Keywords: Hallucinations, Hearing, Music Therapy.  ABSTRAK Gangguan psikosis yang paling umum adalah halusinasi, dengan jenis halusinasi yang paling banyak yaitu halusinasi pendengaran. Penanganan halusinasi pendengaran dengan terapi non farmakologi dianggap lebih aman digunakan karena menggunakan proses fisiologis yang tidak menimbulkan efek samping seperti obat - obatan. Terapi nonfarmakologi yang bisa digunakan salah satunya adalah terapi musik.  Penelitian ini bertujuan untuk melihat penerapan terapi musik dalam mengatasi halusinasi pendengaran. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan data sekunder hasil penelitian terdahulu yang didapatkan sebanyak 483  jurnal yang disesuaikan dengan kriteria inklusi dan eksklusi , dengan tahun terbit 2014- 2024 ,yang ditetapkan oleh peneliti melalui pencarian menggunakan Database Online yaitu Pubmed, Garuda, dan search engine Google Scholar. Dari analisis  didapatkan 8 jurnal teknik terapi musik yang  dapat menurunkan atau mengurangi tanda dan gejala pada pasien dengan halusinasi pendengaran, diantaranyaadalah musik klasik secara umum, musik klasik mozart, dan musik tradisional Turki. Dari  penulisan literature review iniadalah terapi musik secara umum dapat mengurangi gejala halusinasi pendengaran. Literature review ini dapat menjadi referensi bagi praktisi kesehatan, terutama perawat Jiwa  untuk dapat menerapkan  intervensi terapi musik sebagai tindakan  yang diberikan secara  kontinyu sebagai terapi non farmakologi. Kata Kunci: Halusinasi, Pendengaran , Terapi Musik.
Gambaran Resiliensi Perawat Instalasi Gawat Darurat di RSUD R. Syamsudin SH Rahmania, Lilla Zulfa Shofa; Sriati, Aat; Eriyani, Theresia
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 5 (2026): Volume 8 Nomor 5 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i5.25050

Abstract

ABSTRACT Emergency Department (ED) nurses face significant psychosocial hazards that increase mental health problems such as work stress and burnout syndrome. High resilience is essential for nurses to adapt, recover, and bounce back from pressure, maintaining emotional stability and professional performance in the demanding Emergency Departement environment. This study aims to describe the level of resilience among emergency department nurses at RSUD R. Syamsudin, SH. This study used a quantitative descriptive design with total sampling technique. Of 48 Emergency Departement nurses, 45 nurses (93.75%) participated, while 3 nurses did not fill out the questionnaire due to work commitments and time constraints. The research instrument used the validated Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC 25) questionnaire, and data were analyzed univariately through frequency distribution and percentages.Most nurses demonstrated moderate resilience (77.8%), followed by high (15.6%) and low (6.7%). Moderate resilience was more prevalent among male nurses, those of productive age (26–45 years), married individuals, those with bachelor's/nursing degrees, and those with more than five years of service. Emergency Departement nurses have fairly good adaptive abilities in dealing with work pressure. However, it is recommended that hospitals develop stress management training programs including problem-oriented coping strategies and emotion regulation techniques, provide psychological counseling and special mentoring programs for nurses with low resilience, optimize nurses with high resilience as mentors, and address workloads by adding nursing staff and balancing shift distributions to improve nurses' mental resilience and maintain nursing service quality. Keywords: Emergency Department, Nurse, Resilience.  ABSTRAK Perawat Instalasi Gawat Darurat (IGD) menghadapi bahaya psikososial di tempat kerja yang meningkatkan masalah kesehatan mental seperti stres kerja dan burnout syndrome. Resiliensi yang tinggi dibutuhkan untuk beradaptasi, pulih, dan bangkit kembali dari tekanan atau kesulitan, guna menjaga stabilitas emosional dan kinerja profesional di lingkungan IGD yang penuh tuntutan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran tingkat resiliensi perawat IGD di RSUD R. Syamsudin, SH. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan teknik total sampling. Dari 48 perawat IGD, sebanyak 45 perawat (93,75%) bersedia berpartisipasi, sedangkan 3 perawat tidak mengisi kuesioner karena kesibukan kerja dan keterbatasan waktu. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC 25) yang telah tervalidasi, dan data dianalisis secara univariat melalui distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar perawat memiliki tingkat resiliensi sedang (77,8%), diikuti tinggi (15,6%) dan rendah (6,7%), dengan resiliensi sedang lebih banyak ditemukan pada perawat laki-laki, berusia produktif (26–45 tahun), berstatus menikah, berpendidikan S1/Ners, dan memiliki masa kerja lebih dari lima tahun. Perawat IGD memiliki kemampuan adaptasi yang cukup baik dalam menghadapi tekanan kerja, namun disarankan agar rumah sakit mengembangkan program pelatihan manajemen stres yang mencakup strategi koping berorientasi masalah dan teknik regulasi emosi, menyediakan konseling psikologis dan program mentoring khusus bagi perawat dengan resiliensi rendah, mengoptimalkan perawat dengan resiliensi tinggi sebagai mentor, serta mengatasi beban kerja melalui penambahan tenaga perawat dan penyeimbangan distribusi shift untuk meningkatkan ketahanan mental perawat dan menjaga kualitas pelayanan keperawatan. Kata Kunci: Instalasi Gawat Darurat, Perawat, Resiliensi.
PENERAPAN MEDIA ORIENTASI REALITAS PADA PASIEN WAHAM DI RUMAH SAKIT JIWA: A CASE REPORT Indriani, Novi; Amira, Iceu; Sriati, Aat
Jurnal Keperawatan Jiwa Vol 13, No 4 (2025): November 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jkj.13.4.2025.749-760

Abstract

Waham adalah keyakinan keliru terhadap realitas, di mana individu yang mengalaminya sangat sulit diyakinkan untuk mengubah pandangannya. Waham dapat dipengaruhi oleh faktor biologis, psikologis, dan sosial budaya. Salah satu intervensi yang dapat membantu pasien mengenali realitas adalah orientasi realitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan media orientasi realitas dalam mengatasi waham pada pasien skizofrenia. Desain yang digunakan adalah laporan kasus terhadap pasien Tn. D dengan waham kebesaran dan nihilistik. Penelitian dimulai dari tahap perkenalan, pengkajian, penetapan diagnosa keperawatan, penyusunan intervensi, implementasi, hingga evaluasi. Intervensi berupa penerapan media orientasi realitas yang diberikan selama enam hari, meliputi orientasi terhadap waktu, orang, tempat, lingkungan sekitar, serta isi waham. Hasil menunjukkan bahwa setelah enam hari implementasi, pasien mengalami penurunan intensitas waham, peningkatan orientasi terhadap realitas, dan mulai menyadari perbedaan antara waham dan kenyataan. Pasien juga menjadi lebih kooperatif, mampu mengikuti kegiatan harian, serta mengungkapkan harapan untuk sembuh. Kesimpulannya, penerapan media orientasi realitas efektif membantu pasien skizofrenia dengan waham dalam meningkatkan kesadaran terhadap realitas.
Co-Authors Afriliani, Anne Cintya Agiesta Sephya Shobarina Agustina, Habsyah Safaridah Ahmad Gimmy Prathama Siswadi Ahmad Yamin Ahmad Yamin AI MARDHIYAH, AI Algia Nuruliani Alifa Nazhifah Andri Nugraha Andri Nugraha, Andri Andriani, Wulan Selvia Andrini, Nadia Putri Ani Haryani Annisa Khaerera Annisa, Vena Arumsari, Dinda Piranti Atmadiyanti, Ayu Lita Ayu Lita Atmadiyanti Ayu, Rahadiani Azka Aflahatinufus Azzahra Salsabila B.M.L, Valentina Bakti, Sarah Kusumah Cecep Eli Kosasih Chaerani, Aisha Chandra Isabella Hostanida Purba Chatarina Suryaningsih Damar Irza Derison Marsinova Bakara Dewi Amir, Mayasyanti Dewi, Heni Aguspita DEWI, SANG AYU MADE SRI UTAMI Dian Dewi Novianty Dwi Handayani Efri Widianti Eldessa Vava Rilla Elfani, Karisha Citra Ema Arum Rukmasari Emma Aprilia Hastuti Etika Emaliyawati F Sri Susilaningsih Fernandes, Intan Agusti Fifi Siti Fauziah Yani Fitri Aulia Habsyah Safaridah Agustina Hadi Suprapto Arifin Hana Rizmadewi Agustina Hartinah, Siti Hasanah, Ulung Hastuti, Hediati Helwiyah Ropi Hendrawati H Hendrawati Hendrawati Hendrawati Hendrawati Hikmat, Rohman Iceu Amira Iceu Amira Iceu Amira D.A Iceu Amira DA Ikeu Nurhidayah Imas Maesaroh Imas Rafiah Imas Rafiyah Indra Maulana Indra Maulana Indra Maulana` Indra Maulana INDRIANI, NOVI Iskandarsyah, Aulia Iwan Shalahuddin Iyus Yosep Iyus Yusep Khairunnisa, Nisrina Hasna Khoirunnisha, Naylla Kombong, Rita Kuntari, Retyan Rahmi Kurnia, Ihsan Kusman Ibrahim Latuheru, Jerwilsem Andrulin Lia Novianty Mahali, Nia Ainun Nadina Mamat Lukman Maria komariah Mediawati, Ati Surya Muhammad Luthfi Mutiara Syagitta, Mutiara Nandi Prima Yuda Niara, Kinaya Vathia Zalva Nina Sumarni Nita Fitria Novianty, Dian Dewi Nur Oktavia Hidayati Nur Oktavia Hidayati Nurmansyah, Andri Nurmansyah, Donny Nursyafaat, Anastia Nurul Aeni Pamuji, Fajar Galih Puspowati, Ni Luh Nyoman Sri Putri, Khansa Aisah Rahayu, Kusila Devi Rahmania, Lilla Zulfa Shofa Rahmawati, Nur Rini Ratu Nurafni Rina Kartikasari Rini Aprianti Rinjani, Santi Rizka Aisyah Rizki Aprilia Rizki Muliani Rossa, Nikita Sari, Lia Septiani, Nurul Serenity, Kinar Shivji, Noureen Asif Siti Rahmawati Siti Ulfah Rifa’atul Fitri Siti Yuyun Rahayu Fitri Siti Zulva Sri Hendrawati Sukma Senjaya Suryani S Suryani Suryani Suryani Suryani Suryani Suryani Taty Hernawati Taty Hernawati Taty Hernawati, Taty Taty Hernawaty Theresia Eriyani Titin Sutini Tuti Pahria Udin Rosidin Umu Kulsum, Dewi utomo, shella Valentina B.M.L Windy Rakhmawati Wulan Selvia Andriani Yanti Hermayanti Yolanda Yolanda Yudistira, Andi Yulianita, Henny Yuniar, Nasya Zahara Farhan