Claim Missing Document
Check
Articles

Peran Self-Esteem sebagai Mediator pada Hubungan Parental Rejection dan Internet Gaming Disorder di Kalangan Remaja Wijaya, Odilia Angeline Jofan; Soetikno, Naomi; Tiatri, Sri
GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling Vol 15, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/gdn.v15i1.9961

Abstract

Internet gaming is the recreational medium most commonly used by society today but it can be developed into one of the disorders with the term internet gaming disorder. It is noted that the prevalence of IGD among adolescents is 19.9% in England and 17% in China. Indonesia's media covers news of violations related to excessive internet gaming, including stealing, dropping out of school, causing fires, and stealing money from orphanages. One of the protective factors of IGD is the role of parents. Rejection from parents can have an impact on a person's low self-esteem. Lower self-esteem makes a person vulnerable to engage in risky behavior such as internet gaming disorder (IGD). This study aims to look at the role of self-esteem as a mediator in the relationship between parental rejection (PR) and indications of internet gaming disorder (IGD) among adolescents. This research is a correlational quantitative study with 116 participants aged 18-20 years, actively playing internet gaming in the past year, and having an IGD indication based on the cut-off score of the measuring instrument. PR was measured using the Adult Parental Acceptance-Rejection Questionnaire (Adult PARQ): Father and Mother-Short Form, self-esteem using the Rosenberg Self-Esteem Scale, and IGD using the Ten-Item Internet Gaming Disorder Test (IGDT-10). The research model uses the Process Macro statistical analysis. The results showed that parental rejection predicts the IGD, so the higher the rejection, the greater the IGD owned by the participants. In addition, self-esteem was not proven as a mediator in the relationship between parental rejection and IGD.
HUBUNGAN ANTARA KONTROL DIRI DENGAN FEAR OF MISSING OUT PADA PEMAIN DALAM SISTEM GACHA GAME HONKAI-STAR RAIL Indriani, Chelsea; Tiatri, Sri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.10106

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara kontrol diri (self-control) dan Fear of Missing Out (FoMO) pada pemain game Honkai-Star Rail, khususnya dalam konteks sistem gacha. Mekanisme gacha dengan hadiah acak dan item terbatas waktu dapat memicu FoMO, yang kemudian menguji kemampuan kontrol diri pemain. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Partisipan berjumlah 138 responden yang merupakan pemain Honkai-Star Rail minimal selama 6 bulan, berusia 18-45 tahun, dan berdomisili di Jabodetabek. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Data dikumpulkan secara daring menggunakan kuesioner Brief Self-control Scale (BSCS) dan Fear of Missing Out Scale. Analisis data menggunakan Uji Korelasi Spearman karena variabel FoMO tidak berdistribusi normal. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan negatif dan signifikan antara kontrol diri dan FoMO, dengan koefisien korelasi r=-.433 dan nilai signifikansi p=.00. Hasil ini mendukung hipotesis yang berarti semakin tinggi tingkat kontrol diri pemain, semakin rendah tingkat FoMO yang mereka alami. Analisis data tambahan juga menemukan bahwa hubungan ini tidak dipengaruhi secara signifikan oleh faktor demografi seperti usia, jenis kelamin, domisili, maupun lama bermain. Penelitian ini mengkonfirmasi peran kontrol diri sebagai faktor pelindung penting terhadap kecemasan FoMO dalam sistem gacha.
PERAN SENSE OF BELONGING TERHADAP MOTIVASI BERPARTISIPASI DALAM KEGIATAN KOMUNITAS K-POP Aulia, Nazwa Rahma; Tiatri, Sri
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i2.8801

Abstract

The phenomenon of participation in K-pop fan communities in Indonesia indicates that individual involvement is not only driven by entertainment interests but also by psychological needs, particularly a sense of belonging. This study aims to analyze the role of sense of belonging in motivating members to participate in K-pop fan communities in the Greater Jakarta area. The study employed a quantitative approach with a correlational design. A total of 200 active members of K-pop fan communities aged 18–30 years were selected using purposive sampling. Data were collected online using two instruments, namely the Sense of Belonging Instrument (SOBI) and the Participation Motivation Questionnaire (PMQ). The data were analyzed using Pearson correlation and simple linear regression. The results showed a positive and significant relationship between sense of belonging and participation motivation (r = .741; p < .05). Furthermore, sense of belonging contributed 54.9% to participation motivation (R² = .549). These findings indicate that the higher the sense of belonging experienced by community members, the stronger their motivation to engage in various community activities. This study highlights the importance of psychological factors in shaping social engagement within fan communities in the digital era. ABSTRAK Fenomena partisipasi dalam komunitas penggemar K-pop di Indonesia menunjukkan bahwa keterlibatan individu tidak hanya didorong oleh ketertarikan terhadap hiburan, tetapi juga oleh kebutuhan psikologis, khususnya sense of belonging. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran sense of belonging terhadap motivasi berpartisipasi anggota dalam komunitas penggemar K-pop di wilayah Jabodetabek. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan berjumlah 200 orang anggota aktif komunitas K-pop berusia 18–30 tahun yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan secara daring menggunakan dua instrumen, yaitu Sense of Belonging Instrument (SOBI) dan Participation Motivation Questionnaire (PMQ). Data dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson dan regresi linier sederhana. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara sense of belonging dan motivasi partisipasi (r = .741; p < .05). Selain itu, sense of belonging memberikan kontribusi sebesar 54,9% terhadap motivasi partisipasi (R² = .549). Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi rasa memiliki yang dirasakan anggota komunitas, semakin tinggi pula dorongan mereka untuk terlibat dalam berbagai aktivitas komunitas. Penelitian ini menegaskan pentingnya aspek psikologis dalam membentuk keterlibatan sosial dalam komunitas penggemar di era digital.
Cognitive Offloading dalam Penggunaan Generative Artificial Intelligence (GAI) dan Perannya terhadap Working Memory Mahasiswa: Scoping Review Mahmud, Tiara Nailah; Tiatri, Sri; Beng, Jap Tji; Dinatha, Vienchenzia Oeyta Dwitama; Nurkholiza, Rahmiyana; Salsabila, Tasya Mulia; Bunarwan, Elga Adhi; Silitonga, Listra Chatalia; Azzahra, Cintya Syarah
JURNAL PENDIDIKAN MIPA Vol. 16 No. 2 (2026): JURNAL PENDIDIKAN MIPA
Publisher : Pusat Publikasi Ilmiah, STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpm.v16i2.4252

Abstract

Penggunaan artificial intelligence dengan model Generative artificial intelligence (GAI) dalam dalam bidang akademik merupakan bentuk inovasi teknologi yang dapat digunakan oleh mahasiswa. Mahasiswa mengandalkan Generative artificial intelligence (GAI) dalam menyelesaikan tugas, dan kegiatan pembelajaran sehari-hari untuk meringankan beban kognitif atau yang disebut cognitive offloading. Mahasiswa langsung memproses informasi yang diberikan Generative artificial intelligence (GAI) dan dikhawatirkan dapat mengurangi keterlibatan mahasiswa dalam proses kognitif khususnya pada working memory. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan berbagai macam publisher seperti Springer, American Psychology Association (APA), frontiers, taylor & francis, SAGE, MDPI, dan elsevier. Selain itu juga menggunakan database seperti PUBMED dengan rentang tahun maksimal 10 tahun terakhir (2016-2026). Pencarian artikel menggunakan kata kunci seperti cognitive offloading, artificial intelligence (AI), Generative artificial intelligence (GAI), working memory, dan menggunakan terjemahan kata kunci tersebut dalam bahasa Indonesia. Pencarian menghasilkan 55 artikel. Seleksi lebih lanjut berdasarkan inklusi menghasilkan 10 artikel. Hasil kajian menyatakan bahwa Cognitive offloading dalam penggunaan Generative artificial intelligence (GAI) memiliki peran membantu working memory memproses informasi dengan beban kognitif yang lebih ringan. Namun, agar kinerja working memory tetap dapat dilatih dan informasi dapat tersimpan lebih baik di long-term memory mahasiswa perlu menetapkan tujuan belajar.
PERAN PENGGUNAAN GENERATIVE ARTIFICIAL INTELLIGENCE (GAI) TERHADAP MOTIVASI BELAJAR MAHASISWA: SCOPING REVIEW Bunarwan, Elga Adhi; Tiatri, Sri; Beng, Jap Tji; Dinatha, Vienchenzia Oeyta Dwitama; Nurkholiza, Rahmiyana; Salsabila, Tasya Mulia; Silitonga, Listra Chatalia; Mahmud, Tiara Nailah; Azzahra, Cintya Syarah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.10343

Abstract

Generative Artificial Intelligence (GAI) is increasingly used in higher education to help students understand complex materials, receive feedback, explore ideas, and complete academic tasks. Nevertheless, evidence on the role of GAI in students’ learning motivation remains fragmented and has not sufficiently explained the conditions under which GAI may strengthen or weaken motivation. This gap is important because learning motivation shapes students’ engagement, self-regulation, autonomous learning, and academic outcomes in technology-enhanced learning environments. This scoping review aimed to map empirical evidence on how GAI use relates to university students’ learning motivation. The review followed Arksey and O’Malley’s methodological framework and was reported according to PRISMA-ScR. Eligible studies were analyzed using narrative-thematic synthesis to identify patterns of findings, supporting factors, inhibiting factors, and research gaps. The thematic synthesis indicates that GAI may support learning motivation when it is used for conceptual exploration, feedback, personalized learning, and competence development. However, GAI does not automatically increase students’ learning motivation. Its effects depend on students’ self-efficacy, lecturer support, self-regulated learning, the quality of interaction and output generated by GAI, and the risk of technological dependence. These findings imply that higher education institutions should design GAI-supported learning activities that are guided, reflective, ethical, and oriented toward strengthening, rather than replacing, students’ thinking processes. ABSTRAK Generative Artificial Intelligence (GAI) semakin banyak digunakan dalam pendidikan tinggi sebagai alat bantu untuk memahami materi, memperoleh umpan balik, mengeksplorasi ide, dan menyelesaikan tugas akademik. Namun, bukti mengenai peran GAI terhadap motivasi belajar mahasiswa masih terfragmentasi dan belum menjelaskan secara memadai kondisi yang membuat GAI dapat memperkuat atau justru melemahkan motivasi belajar. Kesenjangan ini penting dikaji karena motivasi belajar berperan dalam menentukan keterlibatan, regulasi diri, kemandirian belajar, dan kualitas capaian akademik mahasiswa dalam lingkungan pembelajaran berbasis teknologi. Penelitian ini bertujuan memetakan bukti ilmiah mengenai peran penggunaan GAI terhadap motivasi belajar mahasiswa melalui scoping review. Review ini menggunakan kerangka Arksey dan O’Malley serta dilaporkan dengan mengacu pada PRISMA-ScR. Artikel yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis melalui sintesis naratif-tematik untuk mengidentifikasi pola temuan, faktor pendukung, faktor penghambat, dan kesenjangan penelitian. Sintesis tematik menunjukkan bahwa GAI dapat mendukung motivasi belajar ketika digunakan untuk eksplorasi konsep, umpan balik, personalisasi pembelajaran, dan penguatan kompetensi. Namun, GAI tidak otomatis meningkatkan motivasi belajar mahasiswa. Dampaknya bergantung pada efikasi diri, dukungan dosen, regulasi diri, kualitas interaksi dan output GAI, serta risiko ketergantungan teknologi. Implikasinya, perguruan tinggi perlu merancang penggunaan GAI yang terarah, reflektif, dan etis agar teknologi ini memperkuat proses berpikir mahasiswa, bukan menggantikannya.
Co-Authors Afendi, Jelien Afsyari, Belva Andriona, Joan Andy Surya Putra, Andy Surya Angela, Felice Angelia, Mikha Anisa Husnul Khotimah Ansika Cecilia, Fausta Anugrah, Chitta Aprilia Putri, Sherly Amanda Aprillia, Aginta Arumsari, Chysanti Audy, Ervina Aufa, Rahmatul Aulia, Nazwa Rahma Aulia, Shafira Anggun Aurelia, Verena Ayesha Desfitrianie Azzahra, Cintya Syarah Azzuhruf, Naura Reisya Bellany, Miranda Bunarwan, Elga Adhi Caroline, Gabriella Dinna Claudia Fiscarina Darmawan, Natalia W. Davira S, Carelene Denilson, Hody Desi Arisandi Dewi, Fransisca I.R. Dewi, Tita Tri Utami Dhiyaashafa, Keisya Azzura Dinatha, Vienchenzia Oeyta Dwitama Duarsa, Naraya Kinastrian Siniddhikara Edo, Gavriella Ceacilia Christie Ratu Erik Wijaya Ery Dewayani Fatiha, Salsabila Zahrani Febriani, Oki Kartika FELICIA Fransisca I. R. Dewi Gaby Sie, Madeline Graciela, Evelyn Gregorio, Keanen Handayani, Ani Hannandira, Rosa Hanuna, Fatimah Harsoyo, Tania Talitha Hartinah Dinata Heni Mularsih Hervanny Zisli Hutagaol, Alice Shizuka Indriani, Chelsea Irene, Joe Iriani R. Dewi, Fransisca Jap Tji Beng Jap, Bernard Amadeus Jaya Jauharah, Hasna Johan, Hani Rahmawati Juliana, Sarah Gracyntia Junisah, Bunga Ayu Kurnia, Angelica Nathania Larasati, Kirey Latupono, Sania Alikha Rahmadira Lawrence, Valerie Lie, Audrey Felicia Liesera, Novita Limbor, Ellen Gabriel Lunzaga, Ele Lusiana, Fenny Mahmud, Tiara Nailah Mar'at, Samsunuwiyati Mar’at, Samsunuwijati Mar’at, Samsunuwiyati Margareta Margareth Natalia Maulana Prasetya Meccabelfa, Nesha Mei Ie Merdiasi, Danella Michelle Friscilia Monica Gunawan Naomi Soetikno, Naomi Naomi Sutikno, Naomi Napouling, Debby Nathashia, Kyara Nichlah, Naila Hullatun Nisa, Adilatun Nivia, Nivia Norita Margareth Berta, Norita Margareth Nugraheni, Angelia Prasastha Widi Nurkholiza, Rahmiyana Oeyta, Vienchenzia Pamela Hendra Heng Panatra, Valeria Pandumpi, Shania Krisan Pertama Henerges, Anakita Peter Stefanus Prasetyo, Sylvia Rosiana Putri, Arsy Febrianti Putri, Handyta Tiara Putri, Herviana Haruko Tadia Putri, Latifah Liwanti Putri, Monica Tri Putri, Najwa Nabila Rigusha Putri, Nurfathiyyah Farida Putriadi, Harvi Wahyu Rahmad Endarto, Urip Rahmadani, Putri Alifia Rahmah Hastuti Rahmiyana Nurkholizah Riana Sahrani Romansza, Hana Kameliana Safarizkyra, Taqya Adisty Salsabila, Tasya Mulia Sania Alikha Rahmadira Latupono Santi Yudhistira Saputra, Mikhael Adam Saraswati, Laksmiari Sefira, Fasia Meta Shalisha, Gabriella Shalsa Dea Purnama Shantya Viratama, Dwi Nurmatin Sharon, Michelle Silitonga, Listra Chatalia Silky Goswara Simon, Sevilla Soemiarti Patmonodewo Stephanie Stephanie Sucitra, Eric Sugeng Astanggo Susanto, Jessica Elena Sutarman, Merryn Oktavia Sutiawan, Sutiawan Suzanna Juwita, Suzanna Syarif, Shavira Hasanah Putri A. Syarifah Najmah Khairiyyah Talissa Carmelia Tarigan, Julia Rostaulina Tasya Mulia Salsabila Tji Beng, Jap Tucunan, Byosvelma Michelle Blessya Valeria Panatra Vebiyan, Amanda Diva Veren, Karissa Vincent Suryawidjaja Virenna, Rachel Virginia, Clarisa Wasino Wasino Widiastuti, Niken Wijaya, Angeline Carolina Wijaya, Odilia Angeline Jofan Wijaya, Yohannes Yulindasari, Adelia Yulinta, Helpani Yuniawati, Elisa Ika Zahra Shafira Zahra, Maryam ZAHRO, TIARA Zheng, Margareta