p-Index From 2021 - 2026
5.756
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Acute and sublethal toxicity of copper in Siam-catfish juvenile Pangasianodon hypophthalmus Sihono, Dody; Supriyono\, Eddy; Setiawati, Mia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2870.211 KB) | DOI: 10.19027/jai.13.36-45

Abstract

ABSTRACT This study was aimed to determine the level of acute toxicity (LC50) and to analyze the effect of Cu on the survival, growth, haematological, and bioaccumulation of Cu in Pangasianodon hypophthalmus juvenile at sublethal conditions. The experiment trial used completely randomized design with five concentration treatments and two replications to determine LC50. The Cu concentration used were 0, 0.2, 0.7, 1.2, and 1.7 ppm. Sublethal treatment used four Cu concentrations with three replicates. The concentrations were 0, 0.167, 0.334 and 0.667 ppm. Experimental fish used had an average total length 11.0±1.7 cm and weight 13.00±1.72 g. Results showed that Cu was highly toxic to P. hypophthalmus with a LC50-96 hours value of 0.667 ppm (0.539–0.805 ppm). At sublethal concentrations, Cu significantly decreased survival and growth, and increased Cu accumulation started from concentration of 0.167 ppm. Bioaccumulation of Cu started from the highest were in liver, gills, skin and flesh, respectively. Decreased of erythrocytes, haemoglobin and hematocrit indicated anemia, while increased of leukocytes indicated infection and physical stress on the body tissues. Keywords: copper toxicity, haematological, bioaccumulation, Siam-catfish juvenile  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat toksisitas akut (LC50) dan menganalisis pengaruh Cu terhadap sintasan, pertumbuhan, kondisi hematologi, dan akumulasi Cu pada juvenil ikan patin siam (Pangasianodon hypophthalmus) pada kondisi subletal. Rancangan penelitian yang digunakan adalah lima perlakuan konsentrasi dengan dua ulangan untuk menentukan LC50. Konsentrasi Cu yang digunakan adalah 0; 0,2; 0,7; 1,2; dan 1,7 ppm. Pemeliharaan subletal menggunakan empat variasi konsentrasi dengan tiga ulangan. Konsentrasi Cu yang digunakan adalah 0; 0,167; 0,334; dan 0,667 ppm. Ikan uji yang digunakan memiliki panjang total rata-rata 11,0±1,7 cm dan berat 13,00±1,72 g. Hasil menunjukkan bahwa Cu sangat toksik terhadap juvenil P. hypophthalmus dengan nilai LC50-96 jam sebesar 0,667 ppm (0,539–0,805 ppm). Pada konsentrasi subletal, Cu berpengaruh nyata terhadap penurunan sintasan dan pertumbuhan serta menyebabkan peningkatan akumulasi Cu mulai pada konsentrasi 0,167 ppm. Bioakumulasi Cu secara berurutan mulai dari yang tertinggi yaitu pada hati, insang, kulit dan daging. Penurunan eritrosit, hemoglobin dan hematokrit menunjukkan terjadinya anemia, sementara peningkatan jumlah leukosit menunjukkan infeksi dan stres fisik pada jaringan tubuh. Kata kunci: toksisitas tembaga, hematologi, bioakumulasi, bioakumulasi, sintasan, juvenil patin siam
Utilization of fermented chicken manure and catfish culture waste in recirculated sludge worm culture Putri, Diana Sriwisuda; Supriyono, Eddy; Djokosetiyanto, Daniel
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3075.089 KB) | DOI: 10.19027/jai.13.132-139

Abstract

ABSTRACT This study aimed to analyze the effect of utilization of chicken manure and catfish (Clarias sp.) waste on yield of sludge worm (Tubifex sp.) culture with recirculation systems in multi-storey container. The experimental design used was completely randomized design with four treatments and two replications. Treatments conducted were addition of fermented chicken manure into sediments (P0), fermented chicken manure into sediments and repetition once in five days (P1), fermented chicken manure into sediment and waste from intensive catfish farming (P2), fermented chicken manure into sediments and repetition once in five days and also waste from intensive catfish farming (P3). The container used to rear sludge worm was a wooden container at size of 100x50x15 cm3. Containers made multi-storey (three-level). The medium used was a sludge and chicken manure. Sludge worm was stocked as much as 100 g/m2. Silk worms were given additional fertilizer of fermented chicken manure about 500 g/container with repetition of administration done every five days. Parameters measured were individual abundance, biomass and water quality. The results showed that addition of fermented chicken manure into sediment and waste from intensive catfish farming was the best medium to increase the growth of silk worms with an average abundance at 1,697 ind/m2, and average biomass at 6,470.98 g/m2. Keywords: sludge worm, recirculation, storey container, fermentation chicken manure, catfish waste protein   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemanfaatan kotoran ayam dan limbah lele (Clarias sp.) terhadap hasil panen cacing sutra (Tubifex sp.) dengan sistem resirkulasi dalam wadah bertingkat. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan masing-masing terdiri atas dua ulangan. Perlakuan yang diterapkan adalah pemberian kotoran ayam fermentasi di sedimen (P0), pemberian kotoran ayam fermentasi di sedimen dan pengulangan lima hari sekali (P1), pemberian kotoran ayam fermentasi di sedimen dan pemberian limbah dari budidaya lele intensif (P2), pemberian kotoran ayam fermentasi di sedimen dan pengulangan lima hari sekali dan pemberian limbah dari budidaya lele intensif (P3). Wadah penelitian yang digunakan untuk budidaya cacing sutra adalah kotak kayu berukuran 100x50x15 cm3. Wadah dibuat bertingkat (tiga tingkat). Media yang digunakan yaitu lumpur dan kotoran ayam. Cacing sutra ditebar sebanyak 100 g/m2. Cacing sutra diberi pupuk tambahan berupa kotoran ayam fermentasi sebanyak 500 g/wadah dengan pengulangan lima hari sekali. Parameter yang diamati meliputi kelimpahan individu, biomassa dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kotoran ayam fermentasi di sedimen dan pemberian limbah dari budidaya lele intensif (P2) merupakan media pemeliharaan terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan cacing sutra dengan kelimpahan rata-rata sebesar 1.697 ind/m2 dan rata-rata biomass sebesar 6.470,98 g/m2. Kata kunci: cacing sutra, resirkulasi, wadah bertingkat, kotoran ayam fermentasi, limbah ikan lele
The use of zeolite, active carbon, and clove oil in closed transportation of giant freshwater prawn juvenile Anandasari, Rahma Vida; Supriyono, Eddy; Carman, Odang; Adiyana, Kukuh
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2948.478 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.42-49

Abstract

ABSTRACT The objective of this study was to determine the effect of zeolite, active carbon, and clove oil on water quality (dissolved oxygen/DO, total ammonia nitrogen/TAN, temperature) and biological quality (glucose concentration, total protein, survival/SR) of giant freshwater prawn juvenile Macrobrachium rosenbergii in closed transportation system. The study was conducted in laboratory scale with a completely randomized design. The biota used was juvenile giant prawn with an average weight 0.407 ± 0.005 g/ind. The type and dose of additive used were A (20 g/L zeolite + 10 g/L active carbon + 14 µL/L clove oil), B (20 g/L zeolite + 10 g/L active carbon + 9.33 µL/L clove oil), C (20 g/L zeolite + 10 g/L active carbon + 4.67 µL/L clove oil), D (20 g/L zeolite + 10 g/L active carbon + 1.87 µL/L clove oil), K+ (20 g/L zeolite + 10 g/L active carbon), and K- (without material addition). The glucose concentration of treatment B and C significantly different with treatment A, D, K+, K-. Total protein of treatment A, B, C and K+ significantly different with treatment K-. DO, TAN, and temperature of the transportation media were still in the suitable concentration for living of giant prawn. The highest survival of the prawn was observed in group C. The result showed the combination of 20 g/L zeolite + 10 g/L active carbon + 4.67 µL/L clove oil in the water is suitable for closed transportation system for juvenile giant freshwater prawn. Keywords: glucose concentration, total protein, DO, TAN, temperature  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh pemberian zeolit, karbon aktif, dan minyak cengkeh terhadap kualitas air (dissolved oxygen/DO, total ammonia nitrogen/TAN, suhu) dan kualitas biologi (konsentrasi glukosa, total protein, tingkat kelangsungan hidup/TKH) benih udang galah Macrobrachium rosenbergii pada sistem transportasi tertutup. Penelitian dilakukan pada skala laboratorium dengan rancangan acak lengkap. Biota yang digunakan yaitu benih udang galah dengan bobot rata-rata 0,407±0,005 g/ekor. Dosis bahan tambahan yang digunakan adalah: A (20 g/L zeolit + 10 g/L karbon aktif + 14 µL/L minyak cengkeh), B (20 g/L zeolit + 10 g/L karbon aktif + 9,33 µL/L minyak cengkeh), C (20 g/L zeolit + 10 g/L karbon aktif + 4,67 µL/L minyak cengkeh), D (20 g/L zeolit + 10 g/L karbon aktif + 1,87 µL/L minyak cengkeh), K+ (20 g/L zeolit + 10 g/L karbon aktif), dan K- (tanpa bahan tambahan). Konsentrasi glukosa perlakuan B dan C berbeda nyata dengan perlakuan A, D, K+, K-. Total protein perlakuan A, B, C, D, dan K+ berbeda nyata dengan perlakuan K-. DO, TAN dan suhu media transportasi masih sesuai dengan kehidupan udang galah. Tingkat kelangsungan hidup transportasi tertinggi yaitu pada perlakuan C. Hasil menunjukkan bahwa kombinasi 20 g/L zeolit + 10 g/L karbon aktif + 4,67 µL/L minyak cengkeh adalah perlakuan yang sesuai untuk transportasi tertutup benih udang galah. Kata kunci: konsentrasi glukosa, total protein, DO, TAN, suhu
The effectiveness of Lemna perpusilla as phytoremediation agent in giant gourami culture media on 3 ppt Marda, Alexander Burhani; Nirmala, Kukuh; Harris, Enang; Supriyono, Eddy
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3077.813 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.122-127

Abstract

ABSTRACT The wasted from feed and feces containt nitrogen and phosphorus can decreased fertility and feability water quality. Lemna perpusilla (duckweed) is prospective to use as an agent of phytoremediation of organic waste and can used as animal feed because it has high protein content. Meanwhile water salinity could be accelerate the growth of giant gourami. The aim of this research was to analyze the ability of L. perpusilla in absorbing nutrients nitrogen and phosphorus in water salinity of 3 ppt. The research was conducted four treatments and three replications. The treatments were A (L. perpusilla and 3 ppt salinity), B (L. perpusilla, 3 ppt salinity and filter), C (L. perpusilla, 3 ppt salinity and aeration), and D (L. perpusilla, 3 ppt salinity, filter and aeration). Experiment were carried in aquaria 50×33×50 cm3 in size with density of gourami fish 150/49.5 L for one month. The results showed that the ability of L. perpusilla to absorb N and P decreased from the beginning of the study due to lack of nutrient source of N and P in the aquaculture media, but increased because the impact of the feeding and  metabolism of the gourami. There was no different treatment effect for decreased N and P (P> 0.05). The highest nitrite level was found in D treatment, it means that L. perpusilla not be able to absorb  N and P in the media 3 ppt salinity. However, the addition of 3 ppt salinity gives the best results for the survival rate and feed efficiency ratio. Keywords: phytoremediation, Lemna perpusilla, giant gourami fish, nitrogen and phosphorus  ABSTRAK Limbah pakan dan feses yang mengandung nitrogen dan fosfor dapat menyebabkan penurunan kesuburan dan kelayakan kualitas air. Lemna perpusilla (duckweed) baik digunakan sebagai agen fitoremediasi organik untuk limbah dan dapat digunakan sebagai pakan hewan karena mengandung protein yang tinggi, sementara media bersalinitas mampu mempercepat pertumbuhan ikan gurami. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kemampuan L. perpusilla dalam mengabsorbsi nutrisi nitrogen dan fosfor pada air bersalinitas 3 ppt. Penelitian ini terdiri atas lima perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah A (L. perpusilla dan salinitas 3 ppt), B (L. perpusilla, salinitas 3 ppt dan filter), C (L. perpusilla, salinitas 3 ppt dan aerasi), dan D (L. perpusilla, salinitas 3 ppt, aerasi dan filter). Akuarium yang digunakan berukuran 50×33×50 cm3 dengan kepadatan ikan gurami 150 ekor/49,5 L dan waktu pemeliharaan selama satu bulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan L. perpusilla menyerap limbah N dan P berkurang dari awal penelitian karena kurangnya sumber nutrisi N dan P pada media pemeliharaan, namun beranjak meningkat yang berdampak dari adanya pemberian pakan dan sisa metabolisme dari ikan gurame. Tidak ada perlakuan yang berpengaruh terhadap pengurangan N dan P (P>0,05). Nilai nitrit tertinggi terdapat pada perlakuan D, hal ini berarti bahwa L. perpusilla tidak mampu untuk menyerap limbah N dan P pada media bersalinitas 3 ppt. Namun penambahan salinitas 3 ppt memberikan hasil yang terbaik bagi derajat kelangsungan hidup ikan gurami dan efisiensi pakan. Kata kunci: fitoremediasi, Lemna perpusilla, ikan gurami, nitrogen dan fosfor 
Production performance of eel Anguilla bicolor bicolor with the addition of calsium carbonat Saputra, Ardyen; Budiardi, Tatag; Supriyono, Eddy
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3114.46 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.56-62

Abstract

ABSTRACT Eel have high enough prospects to cultivated. The sustainability of eel culture and overcome slowly growth arising in this cultivation was needed enough information on their biology at growth. One of the aspects that needs to be examined in an effort to increase the growth is the water quality of culture media. In addition to regulate salinity may also be convened by arranging levels of calcium and alkalinity. Calcium is an essential mineral essential required in considerable amount. The objective of the study was to determining the optimal media levels of calcium and alkalinity that can support the survival and growth of eel Anguilla bicolor bicolor and evaluate the role of calcium and alkalinity. The study was conducted with an experimental method with four treatments, the addition of dose CaCO3 on the culture media were (0, 50, 100, 150 mg/L) and repeated three times. Aquariums for fish maintenance were insulated form in the size of 100×50×40 cm3 and with recirculation system. Insulation serves to separate the filter and maintenance parts. The filter used as a physical, chemical, and biology filters. The parameters measured were the survival rate, growth rate on biomass, feed convertion ratio, oxygen consumption rate, and the employment rate of osmotic. The results of this study showed treatment with 50 mg/L calcium carbonate addition into the culture media was the best treatment for growth rate of 1.77 g/day and optimal feed convertion ratio of 2.27, oxygen comsumption rate of 0.41 mg O2/g/h and osmotic work rate of 0.269 mOsm/L H2O. Keywords: eel Anguilla bicolor bicolor, calcium, growth, resirculation  ABSTRAK Ikan sidat memiliki prospek yang cukup besar untuk dibudidayakan. Untuk menjaga usaha budidaya ikan sidat yang berkelanjutan dan mengatasi pertumbuhan yang lambat, maka diperlukan informasi yang memadai tentang aspek biologinya yakni pertumbuhan. Salah satu aspek yang perlu dikaji dalam upaya meningkatkan pertumbuhan tersebut adalah kualitas air media pemeliharaan. Selain dengan mengatur salinitas dapat juga dilakukan dengan mengatur kadar kalsium. Kalsium merupakan mineral esensial yang dibutuhkan dalam jumlah yang cukup banyak. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kadar kalsium karbonat yang dapat mendukung kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan sidat Anguilla bicolor bicolor. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental dengan 4 perlakuan yaitu penambahan CaCO3 dengan dosis (0, 50, 100, 150 mg/L) dan diulang sebanyak tiga kali. Wadah yang digunakan berupa akuarium bersekat berukuran 100×50×40 cm3 dengan sistem resirkulasi. Sekat berfungsi untuk memisahkan bagian filter dan bagian pemeliharaan. Filter yang digunakan adalah satu unit filter yang berfungsi sebagai filter fisik, kimia, dan biologi. Parameter yang diamati adalah tingkat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan mutlak biomassa, konversi pakan, tingkat konsumsi oksigen dan tingkat kerja osmotik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media pemeliharaan ikan sidat dengan penambahan kalsium karbonat sejumlah 50 mg/L merupakan perlakuan terbaik yang dapat meningkatkan pertumbuhan bobot ikan sidat sebesar 1,77 g/hari serta meminimalkan konversi pakan yaitu 2,27, tingkat konsumsi oksigen sebesar 0,41 mg O2/g/jam dan tingkat kerja osmotik sebesar 0,269 mOsm/L H2O. Kata kunci: ikan sidat Anguilla bicolor bicolor, kalsium, pertumbuhan, resirkulasi 
Peningkatan kualitas karagenan rumput laut Kappaphycus alvarezii dengan metode budidaya keranjang jaring Failu, Ismail; Supriyono, Eddy; Suseno, Sugeng Hari
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3286.786 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.2.124-131

Abstract

ABSTRACT This study aimed to analyze the quality of Kappaphycus alvarezii seaweed carrageenan cultured using methods basket nets in waters of Baruta, Sangia, Wambulu, District of Buton, Southeast Sulawesi. The study consisted of three treatments in triplicates. Seaweed culture used different cultivation net-basket forms i.e. net-basket box, net-basket lantern, and longline without net-basket (control). Quality of K. alvarezii seaweed obtained in this study varied from each treatments. Daily growth rate in each treatment were not significantly different. Production of seaweed with a net-basket box (201.61 g/m2) was higher than the net-basket lanterns (183.22 g/m2), but not significantly different from control (196.98 g/m2). Carageenan yield value of control (46.74%) was the highest of all treatments. The water content of carrageenan in each treatment was not significantly different and it ranged from 17.20–17.39%. The viscosity of carrageenan in net-basket lantern (179.40 cPs) was the highest of all treatments. Carrageenan gel strength was the best treatment (702.53 g/cm²). As conclusion, using the net-basket lantern  as cultivation method provided quality improvement of carrageenan in K. alvarezii seaweed. Keywords: Kappaphycus alvarezii, cultivation methods, carrageenan quality  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas karagenan rumput laut Kappaphycus alvarezii yang dibudidaya menggunakan metode keranjang jaring di perairan Baruta, Kecamatan Sangia, Wambulu, Kabupaten Buton Sulawesi Tenggara. Penelitian terdiri atas tiga pelakuan dan tiga ulangan. Pemeliharaan rumput laut dilakukan dengan metode keranjang jaring berbeda yaitu metode keranjang jaring kotak, keranjang jaring lampion, dan longline tanpa menggunakan keranjang jaring (kontrol). Hasil pengamatan kualitas rumput laut K. alvarezii dalam penelitian ini bervariasi dari setiap perlakuan yang diberikan. Laju pertumbuhan harian pada setiap perlakuan tidak berbeda nyata. Produksi rumput laut dengan metode keranjang jaring kotak (201,61 g/m2) lebih tinggi dibandingkan jaring lampion (183,22 g/m2), namun tidak berbeda nyata dengan kontrol (196,98 g/m2). Nilai rendemen karagenan kontrol (46,74%) lebih tinggi dari perlakuan lainnya. Kadar air karagenan pada setiap perlakuan tidak berbeda nyata yaitu berkisar 17,20–17,39%. Viskositas karagenan perlakuan metode keranjang jaring lampion (179,40 cPs) lebih tinggi dibandigkan perlakuan lainnya. Kekuatan gel karagenan perlakuan metode keranjang jaring lampion (702,53 g/cm²) lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa metode keranjang jaring lampion memberikan peningkatkan kualitas karagenan rumput laut K. alvarezii yang dibudidayakan. Kata kunci: Kappaphycus alvarezii, metode budidaya,  kualitas karagenan
The frequency of calcium and magnesium differences in recirculation systems for increasing production of mudcrab Scylla serrata seed Nurussalam, Wildan; Nirmala, Kukuh; Supriyono, Eddy; Hastuti, Yuni Puji
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3436.105 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.2.144-153

Abstract

ABSTRACTMolting phase is one of many factors that can inhibit mudcrab growth. Recirculation system in culturing mudcrab has a weakness which is the decreasing of ions. Calcium and magnesium in the water can affect the molting phase. The aim of this study was to evaluate the best additional frequency of calcium and magnesium in recirculation system. This research used mudcrab seeds that have weight of 54.856±2.195 gram. This research used completely randomized design with four treatments and three replicates. The treatments were additional frequency of Ca and Mg, comprised of four levels, without additional Ca and Mg (A), additional 30 mg/L Ca and 30 mg/L Mg in every five days (B), additional 30 mg/L Ca, and 30 mg/L Mg in every 10 days (C), and additional 30 mg/L Ca and 30 mg/L Mg in every 15 days (D). The result showed that total of biomass in every treatments were A (379.99±86.16 gram), B (517.65±103.94 gram), C (808.68±59.29 gram), and D (1,054.41±73.54 gram). The highest final biomass was the D treatment (1,054,41±73.54), which was significantly different to others (P<0.05).Keywords: mudcrab, resirculation, calcium, magnesium, molting, production  ABSTRAKSalah satu faktor penghambat pertumbuhan kepiting bakau adalah fase molting. Sistem resirkulasi budidaya kepiting bakau memiliki kelemahan yaitu berkurangnya ion-ion. Fase moting pada kepiting bakau sangat dipengaruhi oleh keberadaan ion kalsium dan magnesium dalam air. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan frekuensi waktu penambahan kalsium dan magnesium terbaik dalam sistem resirkulasi. Penelitian ini menggunakan benih kepiting bakau dengan berat rata-rata 54,856±2,195 gram. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan penambahan Ca dan Mg sebanyak 30 mg/L terdiri atas empat macam frekuensi, yaitu tanpa penambahan Ca dan Mg (A), frekuensi lima hari sekali (B), frekuensi 10 hari sekali (C), dan frekuensi 15 hari sekali (D). Hasil penelitian menunjukkan jumlah biomassa masing-masing perlakuan adalah A (379,99±86,16 gram), B (517,65±103,94 gram), C (808,68±59,29 gram), dan D (1.054,41±73,54 gram). Perlakuan terbaik diperoleh pada perlakuan D dengan jumlah biomassa sebesar (1.054,41±73,54 gram) ini berbeda nyata (P<0,05) dengan perlakuan lainnya. Kata kunci: kepiting bakau, resirkulasi, kalsium, magnesium, molting, produksi
Grow-out of spiny lobster Panulirus sp. with high stocking density in controlled tanks Subhan, Rio Yusufi; Supriyono, Eddy; Widanarni, Widanarni,; Djokosetiyanto, Daniel
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3437.352 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.1.53-60

Abstract

ABSTRACTThe aim of this research was to determine optimum stocking density for growing-out of spiny lobster Panulirus sp. in controlled tanks that conducted for 30 days. The experimental spiny lobsters have the initial average weight of 130.39 ± 0.32 g and initial average total length of 140.70 ± 0.06 mm. This study used completely randomized design with three different stocking densities (KT10: 10 ind/m3; KT18: 18 ind/m3; and KT26: 26 ind/m3) and two replications. The parameters observed in this study included water quality (temperature, pH, salinity, dissolved oxygen, and total ammonia nitrogen), physiological responses (total haemocyte count, haemolymph glucose, and frequency of molt), and production performances, such as growth, specific growth rate, feed conversion ratio, and survival rate. The results showed that the spiny lobster could be reared in high stocking density in controlled tanks. Water quality during the study in each treatment was; temperature 26.56–28.65oC, salinity 29.7–33.6 g/L, pH 7.5–8.5, dissolved oxygen 6.15–6.58 mg/L, and total ammonia nitrogen 0.11–0.34 mg/L. The best stocking densities for spiny lobster was 18 ind/m3 (KT18) with 2.5‒3.5×106cells/mL total haemocyte counts, 24.6‒28.3 mg/dL haemolymph glucose, and 38.37 ± 3.20% frequency of molt. The final average body weight and length were 145.06 ± 0.42 g and 142.77 ± 0.19 mm, respectively. The survival rate reached 86.11 ± 3.92% with a specific growth rate 0.35 ± 0.01%/day, and feed conversion ratio 7.87 ± 0.31.Keywords: high stocking density, Panulirus sp., physiological responses, productivity.  ABSTRAKTujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kepadatan terbaik dalam pembesaran lobster laut Panulirus sp. yang dipelihara dalam bak terkontrol selama 30 hari. Lobster laut yang digunakan pada awal penelitian memiliki bobot 130,39 ± 0,32 g dan panjang total 140,70 ± 0,06 mm. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan kepadatan berbeda, yaitu: 10 ekor/m3(KT10), 18 ekor/m3(KT18), dan 26 ekor/m3(KT26) dan dua ulangan. Parameter uji yang diamati dalam penelitian ini meliputi kualitas air (suhu, salinitas, pH, DO, dan TAN), respons fisiologis (total hemosit/THC, glukosa hemolim, dan frekuensi pergantian kulit), dan kinerja produksi meliputi pertumbuhan, laju pertumbuhan spesifik, rasio konversi pakan, dan tingkat kelangsungan hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lobster laut dapat dibesarkan dengan kepadatan tinggi dalam bak terkontrol. Pengukuran nilai kualitas air pada setiap perlakuan selama pemeliharaan adalah suhu berkisar 26,56–28,65oC, salinitas 29,7–33,6 g/L, pH 7,5–8,5, DO antara 6,15–6,58 mg/L dan TAN antara 0,11–034 mg/L. Perlakuan terbaik selama penelitian adalah dengan kepadatan 18 ekor/m3 (KT18) dengan nilai THC berkisar antara 2,5–3,5×106  sel/mL, glukosa hemolim 24,6–28,3 mg/dL,dan frekuensi pergantian kulit 38,37±3,20%. Bobot dan panjang lobster akhir rata-rata pada perlakuan tersebut masing-masing mencapai 145,06 ± 0,42 g, dan 142,77 ± 0,19 mm. Tingkat kelangsungan hidup mencapai 86,11 ± 3,92% dengan laju pertumbuhan spesifik 0,35 ± 0,01%/hari dan rasio konversi pakan selama penelitian adalah 7,87 ± 0,31.Kata kunci: padat pemeliharaan, Panulirus sp., produktivitas, respons fisiologis.  
Profile of 17ß-estradiol, vitellogenin, and egg diameter during gonad maturation process of striped catfish Pangasianodon hypophthalmus Pamungkas, Wahyu; Jusadi, Dedi; Junior, Muhammad Zairin; Setiawati, Mia; Supriyono, Eddy; Imron, Imron
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4039.234 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.2.152-161

Abstract

ABSTRACT This study was conducted to evaluate the profile of 17ß-estradiol (E2) and vitellogenin (Vtg) in plasma and egg diameter during gonad maturity process of striped catfish Pangasianodon hypophthalmus. Blood samples were collected from immature striped catfish, male and female with different stage of gonad maturity (stage I, II, III, and IV) to measure the concentrations of E2 and Vtg. Gonad maturity development of striped catfish was observed based on egg diameter. Result showed that E2 concentrations were the highest (843.65 pg/mL) on female with maturity stage III, the lowest on the male (26.34 pg/mL), and immature female fish (29.37 pg/mL). The protein band of Vtg was obtained on the plasma of the mature female (stage I, II, III and IV) with a molecular weight (MW) between 140−180 kDa, but it was not obtained on immature female dan male striped catfish. The highest concentration of Vtg was found in the plasma of the female fish with maturity stage III (87.34 mg/mL), then on the stage II (74.83 mg/mL), I (68.58 mg/mL), and IV (33.45 mg/mL). It showed that egg yolk formation occurred in the female mature. The average egg diameter was 0.107 ± 0.052 mm, 0.318 ± 0.086 mm, 0.864 ± 0.099 mm, and 1.041 ± 0.058 mm on the maturity stage I, II, III, and IV respectively. The increase of egg diameter along with development of gonad maturity stage indicated that egg development occurred due to the process of vitellogenesis and the addition of egg yolk on oocyte. Keywords : egg diameter, gonad maturity, striped catfish , 17ß–estradiol, vitellogenin ABSTRAK Penelitian dilakukan untuk mengevaluasi profil estradiol-17β (E2), vitelogenin (Vtg) dalam plasma dan diameter telur pada proses pematangan gonad ikan patin siam (Pangasianodon hypophthalmus). Sampel darah untuk pengukuran konsentrasi E2 dan Vtg plasma diperoleh dari ikan patin siam betina yang belum matang gonad, ikan jantan, ikan betina dengan tahap kematangan gonad yang berbeda (tahap I, II, III dan IV). Perkembangan kematangan gonad ikan patin siam diamati berdasarkan diameter telur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi E2 tertinggi (843,65 pg/mL) pada ikan betina dengan kematangan tahap III, terendah pada ikan jantan (26,34 pg/mL), dan ikan betina tidak matang gonad (29,37 pg/mL). Pita protein Vtg pada sampel plasma diperoleh dari betina matang gonad (tahap I, II, III dan IV) dengan berat molekul antara 140-180 kDa, tetapi tidak diperoleh pada ikan patin siam betina yang belum dewasa dan jantan. Nilai konsentrasi tertinggi Vtg ditemukan dalam plasma darah ikan betina dengan tingkat kematangan III (87,34 mg/mL) kemudian pada tahap II (74,83 mg/mL), I (68,58 mg/mL) dan IV (33,45 mg/mL). Hal ini menunjukkan bahwa pada ikan betina dewasa terjadi proses pembentukan kuning telur (vitelogenesis). Rata-rata diameter telur adalah 0,107 ± 0,052 mm, 0,318 ± 0,086 mm, 0,864 ± 0,099 mm dan 1,041 ± 0,058 mm pada tingkat kematangan I, II, III dan IV secara berurutan. Peningkatan nilai diameter telur seiring dengan perkembangan tahap kematangan gonad menunjukkan bahwa perkembangan telur terjadi karena proses vitelogenesis dan penambahan bahan kuning telur pada oosit. Kata kunci : diameter telur, 17ß-estradiol, kematangan gonad, patin siam, vitelogenin
The performance of gold-mouth turban Turbo chrysostomus larvae in different temperature and salinity media Hamzah, Aris Sando; Nirmala, Kukuh; Supriyono, Eddy; Effendi, Irzal
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.20.1.14-23

Abstract

Suhu dan salinitas merupakan parameter kualitas air yang berperan penting terhadap proses fisiologis siput mata bulan (T. chrysostomus) sehingga berdampak terhadap perkembangan, pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengevaluasi pengaruh suhu dan salinitas terhadap perkembangan, pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva siput mata bulan (T. chrysostomus). Stadia pre-torsion veliger dicapai sekitar 11 jam 36 menit setelah fertilisasi atau sekitar 3 jam setelah trocophor. Stadia post-torsion veliger awal ditandai dengan cangkang yang telah terbentuk sempurna dan pada post-torsion veliger akhir, larva sudah mengembangkan operkulum, kaki, dan propodium. Hasil pengamatan menunjukan bahwa perlakuan A1B3 memberikan waktu pencapaian stadia post-torsion veliger awal dan post-torsion veliger akhir tercepat yaitu masing-masing 19 jam 36 menit dan 22 jam 36 menit setelah pembuahan. Sedangkan perlakuan A1B1 memberikan waktu pencapaian stadia post-torsion veliger awal dan post-torsion veliger akhir terlama yaitu masing-masing 20 jam 30 menit dan 23 jam 25 menit setelah pembuahan. Suhu tidak berpengaruh nyata sedangkan salinitas berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan harian larva siput mata bulan. Laju pertumbuhan harian tertinggi pada suhu 27±0.5oC (A1) tercatat pada perlakuan B3 dan menunjukan nilai yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan B2. Suhu dan salinitas memberikan pengaruh yang signifikan namun interaksi keduanya tidak menunjukan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kelangsungan hidup larva siput mata bulan. Perlakuan A1B3 memberikan persentase tingkat kelangsungan hidup tertinggi dan tidak menunjukan nilai yang berbeda nyata dengan perlakuan A1B2. Parameter kualitas air yang diperoleh masih mendukung performa larva siput mata bulan hingga mencapai stadia juvenil.
Co-Authors . Sukenda . Sulistiono Adang Saputra Adang Saputra Adianto, Asep Agustinus Ngaddi Ahmad Ghufron Mustofa Ahmad Maksum Aisyah Lukmini Alexander Burhani Marda, Alexander Burhani Ali Djamhuri Amin Pamungkas Anang Hari Kristanto Ani Widiyati Ani Widiyati Anwar, Rifky Alwafi Any Widiyati Ardyen Saputra, Ardyen Arif Faisal Siburian Aris Darmansah Aris Darmansah Asep Rachmat Pratama Bambang Gunadi Bambang Gunadi Bambang Gunadi Bambang Priyo Utomo Berlianti . Budiyanti Cecep Kusmana Chrisliana, Chrisliana Dadang Shaffruddin Dadang Shafruddin Dadang Shafruddin Dadang Shafrudin Daniel Djokosetianto Daniel Djokosetianto Daniel Djokosetiyanto Darmawan, Ahmad Rumi DEDI JUSADI Dedi Pardiansyah Dewi Puspaningsih Diana Sriwisuda Putri Diana Sriwisuda Putri, Diana Sriwisuda Diki, Diki Dinamella Wahjuningrum Dinar Tri Soelistyowati Dini Wulandari Dody Sihono Donny Prariska Ee Ling, Yong Eka Rosyida Eko Harianto, Eko Enang H. Surawidjaja Enang Haris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Surawidjaja Ernik Yuliana Eva Prasetiyono Failu, Ismail Faturochman, Ilman Fauziah Azmi Febrianti, Santi Ferdinand Hukama Taqwa Fina Lestari Guttifera Hamim Hamim Hamzah, Aris Sando Hanif Azhara, Muhammad Harton Arfah Hendriana, Andri Humairani, Humairani I Wayan Nurjaya Idil Ardi Ima Kusumanti Iman Rusmana Iman Sari Lubis, Vina Imron Imron, Imron Ing Mokoginta Intan Wulandari Irzal Effendi Izhar Amirul Haq I’ana Rahma Salisa Jariyah, I’it Rohmatul Julie Ekasari Kukuh Adiyana Kukuh Adiyana Kukuh Adiyana Kukuh Adiyana Kukuh Adiyana Kukuh Adiyana, Kukuh Kukuh Nirmala Kukuh Nirmala Lesmana, Dudi Lies Setijaningsih Lila Antara, Kadek Lilik Sulistyowati Lina Warlina Listyarini, Sri Liubana, Debora Victoria Lolita Thesiana Lolita Thesiana M. Faisol Riza Ghozali M. Toelihere M. Yusuf Arifin M. Zairin Junior Maman Tocharman Mariam, Susanti Mariska Putri Nur Hidayah Mas Tri Djoko Sunarno Melati, Aulia Firda Mia Setiawati Moh. Burhanuddin Mahmud Muh. Saleh Nurdin Muhamad Dzikri Muhamad Yamin Muhamad Yamin MUHAMMAD AGUS SUPRAYUDI Muhammad Ammar Muhammad Fauzan Isma Muhammad Nabil Muhammad Saifuddin Muhammad Subhan Hamka Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. Mulyasari Mulyasari MUNTI YUHANA MURIE DWIYANITI1 N Hutomo N. Potalangi Nana Ganda Neltje Nobertine Palinggi Neltje Nobertine Palinggi Novitasari, Septi Liana Nur Fauziyah Nur Hasanah Nuradzani, Daffa Nuri Muahiddah Nurul Taufiqu Rochman Nurul Taufiqu Taufiqu Rochman Obed Lepa Saba Kulla Odang Carman Otie Dylan Soebhakti Hasan Permatasari, Sheny Petrus Rani Pong-Masak Prama, Ega Aditya Pras, Eva Prasetiyono Pratama, Asep Rachmat Puji Hastuti, Yuni Rahma Vida Anandasari, Rahma Vida Rangga Idris Affandi Rasul Raudhatus Sa'adah Revfvi Al Ghaney Rizal Riandini Riandini Riani Rahmawati Richard Latuny Ridwan Affandi RIDWAN AFFANDI Rifqah Pratiwi Rio Yusufi Subhan Rirojoyo, Gerald P P Ris Dewi Novita Rizki Eka Puteri Rohman Rohman Ruspindo Syahputra S. Hastuti Sabilu, Kadir Sabilu, Murni Santosa Koesoemadinata Saputra, Henry Kasmanhadi Selly Ratna Sari Septya, Saka Tirta Setijaningsih, Lies Sihananto, Bambang Siska Mellisa Solly Aryza Sophia N. M. Fendjalang Sri Nuryati Sri Wahyuni Firman Sugeng Budiharsono Sugeng H. Suseno Suhaiba Djai Sukenda . Sukenda Sukenda Sukenda Sukenda Sukenda Sukenda Sukenda Sukenda Sulistiono Supriani Suri Purnama Febri Susanti Mariam Suseno, Sugeng Hari Sutrisno Sutrisno Tanbiyaskur, Tanbiyaskur Tatag Budiardi Teuku Fadlon Haser Thomas Nugroho Titin Kurniasih Tri Heru Prihadi Usman Usman Usman Usman Usman Usman Wa Iba, Wa Iba Wahyu Pamungkas Wahyu Wahyu Wasjan Wasjan WIDANARNI WIDANARNI Widiyati, Any Wijianto Wijianto Wildan Nurussalam Wirantari, Ayu Puspa Wisriati Lasima Y. Hadiroseyani Yosmaniar Yosmaniar Yosmaniar Yosmaniar Yosmaniar Yosmaniar Yoyo Wiramiharja Yuni Puji Hastuti Yuni Puji Hastuti Yuni Puji Hastuti