p-Index From 2021 - 2026
30.987
P-Index
This Author published in this journals
All Journal EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Regula Fidei : Jurnal Pendidikan Agama Kristen Kurios Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika KENOSIS: Jurnal Kajian Teologi Jurnal Teologi Berita Hidup Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Jurnal Gamaliel Teologi Praktika The Way: Jurnal Teologi dan Kependidikan Manna Rafflesia PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Diegesis: Jurnal Teologi KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Jurnal Shanan JURNAL TERUNA BHAKTI JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Jurnal Teologi Praktika Didache: Journal of Christian Education Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi LOGIA : Jurnal Teologi Pentakosta Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi dan Pendidikan SHAMAYIM: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani IMMANUEL: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Jurnal Teologi (JUTEOLOG) CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Jurnal Pendidikan Agama Kristen (JUPAK) Transformasi Fondasi Iman Kristen dalam Pelayanan Pastoral di Era Society 5.0 Jurnal DIDASKO Jurnal Teologi Amreta Matheteuo TELEIOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Sabda : Jurnal Teologi Kristen ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial, dan Budaya KAMASEAN: Jurnal Teologi Kristen Dunamos: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Illuminate: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Real Coster ALUCIO DEI Metanoia : Jurnal Pendidikan Agama Kristen Jurnal Salvation Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani Harati: Jurnal Pendidikan Kristen Shalom: Jurnal Teologi Kristen PNEUMATIKOS: Jurnal Teologi/Kependetaan DIDAKTIKOS: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Duta Harapan Voice of HAMI REAL DIDACHE: Journal of Christian Education MANTHANO: Jurnal Pendidikan Kristen Widyadewata: Jurnal Balai Diklat Keagamaan Denpasar Harvester: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Jurnal Missio Cristo Literasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Theologia Insani: Jurnal Theologia, Pendidikan, dan Misiologia Integratif Lentera Nusantara TEMISIEN: Jurnal Teologi, Misi, dan Entrepreneurship Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Redominate : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristiani Jurnal Efata: Jurnal Teologi dan Pelayanan HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen EUANGGELION: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Discreet: Journal Didache of Christian Education Apostolos: Journal of Theology and Christian Education Jurnal Pendidikan Kristen dan Gereja Jurnal Theologia dan Pendidikan Agama Kristen Jurnal Teologi Rahmat EULOGIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Jurnal Ap-Kain SIKIP: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Khamisyim : Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Basilius Eirene: Jurnal Agama dan Pendidikan GRAFTA: Journal of Christian Religion Education and Biblical Studies AMBASSADORS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Redominate : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristiani Hymnos : Jurnal Teologi Dan Keagamaan Kristen Khazanah Theologia GLOSSAIS: Jurnal Teologi & Pendidikan Kristiani
Claim Missing Document
Check
Articles

Kajian Teologis Kedokteran Kejadian Manusia Dalam Perspektif Mazmur 139:13 Suryadi Nicolaas Napoleon Tatura; Yonatan Alex Arifianto; Reni Triposa
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 7, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v7i1.552

Abstract

Perdebatan mengenai asal-usul manusia antara pandangan teologis Alkitab dan teori evolusi Darwin masih menjadi isu menarik hingga saat ini, terutama dengan adanya perkembangan ilmu kedokteran modern dan genetika yang menunjukkan kedekatan biologis antara manusia dan primata. Namun, kajian teologis yang menghubungkan perspektif Alkitab, khususnya Mazmur 139:13, dengan temuan ilmu kedokteran modern dan genetika masih sangat terbatas, sehingga diperlukan telaah mendalam untuk menjembatani kedua perspektif tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses kejadian manusia berdasarkan hermeneutik biblika Mazmur 139:13 dalam perspektif teologis kedokteran modern dan ilmu genetika. Metode penelitian yang digunakan adalah studi hermeneutik biblika dengan pendekatan teologis kedokteran modern dan analisis genetika untuk memahami makna penciptaan manusia secara holistik.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses kejadian manusia dalam Mazmur 139:13 sejalan dengan ilmu kedokteran modern, khususnya dalam embriogenesis yang menggambarkan Allah “menenun” manusia melalui mekanisme genetik yang sangat kompleks dan teratur. Analisis terhadap kata qanah, cakak, dan kilyah memperlihatkan hubungan antara penciptaan jasmani, jiwa, dan roh manusia yang mencerminkan karya Allah secara holistik. Temuan ini menegaskan bahwa manusia diciptakan unik menurut gambar dan rupa Allah, bukan hasil evolusi dari makhluk lain, serta memperkaya pemahaman teologis kedokteran tentang asal-usul dan hakikat manusia.
Spiritualitas Kristen di Era Overstimulasi Digital: Tantangan Iman dan Kesehatan Mental Jemaat Aji Suseno; Yonatan Alex Arifianto; Elisa Nimbo Sumual
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 6, No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v6i2.484

Abstract

The digital age is characterised by a constant and massive flow of information, causing humans to experience overstimulation that affects various aspects of life, including spirituality, faith, and mental health. Christianity faces difficulties in maintaining the depth of faith, as spiritual practices that should be contemplative and reflective are displaced by instant culture and religious digitalisation, or addiction to the internet and gadgets. Spirituality, which was once built on a deep relationship with God, now tends to be shallow and routine, lacking focus. The purpose of this study is to analyze the urgency of the church's role in shaping a genuine Christian spirituality amidst digital overstimulation. This study employed a descriptive qualitative method with a literature review approach. The study concluded that digital overstimulation contributes to an unconscious spiritual crisis, necessitating an understanding of the nature of digital overstimulation and the disorientation of Christian spirituality. Likewise, Christian mental health and spirituality are situated between the depth of tradition and the challenges of the digital context. Therefore, the church's role in faith formation in an era of overstimulation is crucial for building a contextual and contemplative model of spirituality. Contextual Christian spirituality must guide people to live consciously, be fully present before God, and remain firmly rooted in the Christian faith.AbstrakEra digital ditandai oleh deras dan masifnya arus informasi yang terus-menerus, menyebabkan manusia mengalami overstimulus sehingga memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk spiritualitas, iman dan kesehatan mental. Kekristenan menghadapi kesulitan mempertahankan kedalaman iman, karena praktik-praktik rohani yang seharusnya kontemplatif dan reflektif tergeser oleh budaya instan dan digitalisasi religius ataupun kecanduan internet maupun gadget. Spiritualitas yang dulunya dibangun dalam relasi mendalam dengan Allah kini cenderung dangkal dan rutinitas yang tidak fokus. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis urgensi peran gereja dalam membentuk spiritualitas Kristen yang nyata di tengah kondisi overstimulus digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka. Penelitian menyimpulkan bahwa overstimulus digital berkontribusi terhadap krisis spiritual yang tidak disadari dan karenanya perlu memahami hakikat overstimulus digital dan disorientasi spiritualitas Kristen. Demikian pula dengan kesehatan mental dan spiritualitas Kristen yang berada diantara kedalaman tradisi dan tantangan konteks digital. Oleh karena itu, peran gereja dalam pembentukan iman di era overstimulus menjadi sangat penting untuk membangun model spiritualitas kontekstual dan kontemplatif. Spiritualitas Kristen yang kontekstual harus menuntun umat untuk hidup secara sadar, hadir secara utuh di hadapan Allah, serta tetap berakar kuat dalam iman Kristen.
Kepemimpinan Yesus dalam Injil Sinoptik Sebagai Model Pedagogi Gerejawi Menghadapi Generasi Z di Era Post Truth Yonatan Alex Arifianto; Elisa Nimbo Sumual; Yohana Fajar Rahayu
GLOSSAIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 1 No. 2 (2026): EDISI MEI
Publisher : STT Pantekosta Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The post-truth era presents serious challenges for church education because the truth of faith is increasingly perceived subjectively and emotionally by Generation Z. Church education often experiences a crisis of relevance due to pedagogical approaches that are still doctrinal and instructional, with an emphasis that is less dialogical. This research aims to examine the leadership of Jesus in the Synoptic Gospels as a relevant ecclesiastical pedagogy model in addressing Generation Z in the post-truth era. The research method used is a qualitative approach with literature study and theological analysis of the Synoptic Gospel texts. The conclusion of this research states that the nature of Jesus' leadership in the Synoptic Gospels presents a fundamental theological framework for the formation of faith and ecclesiastical leadership practices. The leadership of Jesus can serve as a model of transformative and dialogical pedagogy, capable of addressing the challenges of Generation Z and the truth crisis in the post-truth era. The implications of these findings indicate that ecclesiastical pedagogy needs to emphasize exemplary conduct, relationships, and real-life experiences to build relevant and contextual faith formation.   Abstrak Era post-truth menghadirkan tantangan serius bagi pendidikan gerejawi karena kebenaran iman semakin dipersepsikan secara subjektif dan emosional oleh Generasi Z. Pendidikan gereja kerap mengalami krisis relevansi akibat pendekatan pedagogis yang masih bersifat doctrinal dan instruksional terlebih penekanannya kurang dialogis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kepemimpinan Yesus dalam Injil Sinoptik sebagai model pedagogi gerejawi yang relevan dalam menghadapi Generasi Z di era post-truth. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi literature dan aanalisis  teologis terhadap teks Injil Sinoptik. Kesimpulan penelitian ini menyatakan bahwa  hakikat kepemimpinan Yesus dalam Injil Sinoptik menghadirkan kerangka teologis yang mendasar bagi pembentukan iman dan praktik kepemimpinan gerejawi. Kepemimpinan Yesus dapat dijadikan model pedagogi yang transformatif dan dialogis, mampu menjawab tantangan Generasi Z serta krisis kebenaran di era post-truth. Implikasi dari temuan ini menunjukkan bahwa pedagogi gerejawi perlu menekankan keteladanan, relasi, dan pengalaman hidup nyata untuk membangun formasi iman yang relevan dan kontekstual.   Kata Kunci: Kepemimpinan Yesus, Injil Sinoptik, Generasi Z, Post-Truth
EKSPEKTASI PROFETIK UMAT KRISTEN DI ERA DIGITAL: REINTERPRETASI ESKATOLOGI DALAM BUDAYA MEDIA SOSIAL Yonatan Alex Arifianto
Manna Rafflesia Vol. 12 No. 2 (2026): April
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v12i2.688

Abstract

The rise of social media has fundamentally transformed the way the Christian faith is expressed and understood in the public sphere of our time. Christian eschatology and prophetic expectations have undergone a shift in meaning due to the digital logic that emphasises speed, visualisation, and the virality of religious narratives. Consequently, prophetic language, which should shape the hope of faith, is often reduced to sensationalist discourse lacking theological reflection and pastoral discernment. This study aims to reframe Christian eschatology theologically and critically so that it remains relevant and responsible within social media culture. Using a qualitative method with a literature review and theological analysis, it can be concluded that Christian eschatology in both classical and contemporary traditions demonstrates that prophetic expectations are theologically rooted in eschatological hope, which shapes the faith and life orientation of believers. However, within the context of social media as a space for theological mediation, prophetic language undergoes a transformation that often shifts hope into religious sensationalism, which has the potential to weaken the depth of faith reflection. Therefore, a reframing of Christian eschatology is required through theological discernment and pastoral responsibility so that prophetic expectations remain faithful to the Christian faith and biblical values
KEPEMIMPINAN KRISTEN DI ERA POP CULTURE: FORMULASI TEOLOGI KONTEKSTUAL TERHADAP TRANSFORMASI SOSIAL DIGITAL Raymond Hessel Stephen; Yonatan Alex Arifianto
Alucio Dei Vol 10 No 2 (2026): Alucio Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55962/aluciodei.v10i2.318

Abstract

Perubahan sosial dalam masyrakat digital yang ditandai oleh kemajuan teknologi digital, internet dan dominasi budaya populer telah memengaruhi paradigma berpikir serta praktik kehidupan beragama. Dinamika ini menghadirkan tantangan teologis ketika nilai-nilai iman harus berinteraksi dengan budaya yang berorientasi pada citra personal branding dan hiburan dalam konektivitas instan. Teologi kepemimpinan Kristen yang bersumber pada prinsip-prinsip alkitabiah perlu direfleksikan ulang agar tetap relevan di tengah masyarakat digital yang sarat dengan simbol dan narasi pop culture. Fenomena munculnya gereja digital, figur rohani di media sosial, serta transformasi komunikasi iman menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam cara kepemimpinan Kristen dijalankan dan dipersepsikan. Penelitian ini bertujuan merumuskan formulasi teologi kontekstual yang mampu menjembatani antara nilai teologis klasik dengan realitas sosial digital kontemporer. Menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi litertarure, maka dapat disimpulkan bahwa interaksi antara budaya populer dan transformasi sosial digital menuntut teologi yang kontekstual untuk memahami dinamika iman kontemporer. Paradigma kepemimpinan Kristen harus adaptif yang juga dialogis, serta berbasis relasi, memadukan otoritas spiritual dengan sensitivitas budaya digital. Model kepemimpinan kontekstual yang dihasilkan menekankan keteladanan yang berintegritas dalam iman, serta memiliki kemampuan memanfaatkan budaya populer sebagai sarana transformasi rohani dan sosial.
Penguatan Integritas Dan Moralitas Remaja Melalui Pendidikan Agama Kristen Di Tengah Disrupsi Budaya Digital Ruhut Parningotan Tambunan; Theresa Dian Christi; Yonatan Alex Arifianto
Ambassadors: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 5 No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : STT INDONESIA MANADO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54369/ajtpk.v5i1.109

Abstract

Abstract: The disruption caused by digital culture has transformed the patterns of interaction, character development, and spiritual life of Christian adolescents, thereby presenting new challenges to their integrity and morality. The rapid flow of information, a culture of instant gratification, and a lack of ethical oversight are driving the degradation of values and the weakening of character grounded in biblical teachings. These conditions underscore the importance of Christian Religious Education as a means of character formation capable of instilling faith-based values in a contextually relevant manner in the digital age. This study aims to analyze the role of Christian Religious Education in strengthening the integrity and morality of adolescents amid digital cultural disruption. The research employs a descriptive qualitative approach based on a literature review, utilizing content analysis techniques to examine various works in theology and Christian education. The results indicate that Christian Religious Education plays a strategic role in building adolescents’ integrity, morality, and spirituality through the internalization of biblical values. Faith-based digital literacy, transformative learning, and the strengthening of faith communities are effective strategies for addressing the challenges of digital culture. It is concluded that Christian Religious Education must holistically integrate character development, spiritual growth, and digital ethics. This approach can enhance adolescents’ moral resilience against the negative influences of technology. Synergy among families, churches, and educational institutions is a crucial factor in shaping a generation that is principled, moral, and Christ-centered.   Abstrak: Disrupsi budaya digital telah mengubah pola interaksi, pembentukan karakter, dan kehidupan spiritual remaja Kristen sehingga memunculkan tantangan baru terhadap integritas dan moralitas. Arus informasi yang cepat, budaya instan, serta minimnya kontrol etis mendorong terjadinya degradasi nilai dan melemahnya karakter yang berlandaskan ajaran Alkitab. Kondisi tersebut menegaskan pentingnya Pendidikan Agama Kristen sebagai sarana pembentukan karakter yang mampu menanamkan nilai iman secara kontekstual di era digital. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran Pendidikan Agama Kristen dalam memperkuat integritas dan moralitas remaja di tengah disrupsi budaya digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi pustaka dengan teknik analisis isi terhadap berbagai literatur teologi dan pendidikan Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pendidikan Agama Kristen berperan strategis dalam membangun integritas, moralitas, dan spiritualitas remaja melalui internalisasi nilai-nilai Alkitabiah. Literasi digital berbasis iman, pembelajaran transformatif, dan penguatan komunitas iman menjadi strategi efektif dalam menghadapi tantangan budaya digital. Disimpulkan bahwa Pendidikan Agama Kristen harus mengintegrasikan pembentukan karakter, penguatan spiritualitas, dan etika digital secara holistik. Pendekatan tersebut mampu meningkatkan ketahanan moral remaja terhadap pengaruh negatif teknologi. Sinergi antara keluarga, gereja, dan lembaga pendidikan menjadi faktor penting dalam membentuk generasi yang berintegritas, bermoral, dan berpusat pada Kristus.
Beyond the Alleged Contradictions: A Historical and Linguistic Harmonization of the Birth Narratives of Jesus in the Gospel of Matthew and Luke Agus Arda Setiawan Telaumbanua; Yonatan Alex Arifianto
TELEIOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 6, No 1 (2026): June 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Transformasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53674/teleios.v6i1.314

Abstract

The birth of Jesus Christ is a cornerstone of Christian teaching, serving as historical evidence and a solid foundation for theology, particularly regarding the chronological discrepancy between the reign of Herod the Great in the Gospel of Matthew and that of Quirinius in the Gospel of Luke. This article aims to critically and comprehensively analyze and compare the narratives of Christ’s birth in the Gospels of Matthew and Luke to demonstrate that the narrative differences are not contradictory but can be harmoniously understood in light of each author's historical context and theological intent. Furthermore, it seeks to contribute to biblical theology literature and enrich apologetic discourse in addressing the challenges of the digital age. A qualitative literature review was employed to examine the chronology and context of the Roman Empire at the time of Jesus’ birth. The results of the analysis indicate that the chronological differences in the two Gospels are not contradictions. Rather, they reflect the theological emphasis and intended audience of each author. Linguistically, the term πρῶτος in Luke 2:2 can be interpreted as “before,” and ἡμέραις in Matthew 2:1 refers to the reign of Herod the Great, which reinforces the historical accuracy of both Gospels. Support from Roman sources, the practice of the census under Augustus, and the rotation of Zechariah’s priestly duties reinforce the possibility that Jesus was born in 6 or 5 BC, during the final years of Herod the Great’s reign. Therefore, there is no basis for accusing the Gospels of contradiction
Teologi Penatalayanan dalam Pemberdayaan Jemaat untuk Penguatan Partisipasi Finansial Gereja Jeffry Cartouche Laseduw; Yonatan Alex Arifianto; Reni Triposa
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 11, No 1 (2026): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2026
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v11i1.396

Abstract

Church fundraising is an important aspect in supporting the sustainability of ministry and spiritual mission, but it often faces challenges in the form of suboptimal congregational participation, a lack of congregational understanding of spiritual responsibility, and limited management strategies that are integrated with congregational empowerment. Amidst developments in technology and Christian education, churches are required to develop approaches that are not only administrative in nature, but also build awareness, motivation, and commitment among congregations as a whole.  This study aims to analyse the congregation empowerment model as the foundation for church fundraising. The research method used is descriptive qualitative with a case study approach and analysis of theological literature and church practices. The results show that congregation empowerment based on Christian education and the development of individual gifts increases the congregation's spiritual involvement and awareness. The integration of technology can maximise programme personalisation, while community-based collaborative strategies strengthen participation and the sustainability of church services. Thus, congregation empowerment becomes an essential foundation for the effectiveness of sustainable and spiritually meaningful fundraising. AbstrakPengumpulan dana gereja merupakan aspek penting dalam mendukung keberlanjutan pelayanan dan misi spiritual, namun seringkali menghadapi tantangan berupa partisipasi jemaat yang belum optimal, kurangnya pemahaman jemaat mengenai tanggung jawab rohani, serta keterbatasan strategi pengelolaan yang terintegrasi dengan pemberdayaan jemaat. Di tengah perkembangan teknologi dan pendidikan Kristen, gereja dituntut untuk mengembangkan pendekatan yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga membangun kesadaran, motivasi, dan komitmen jemaat secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis model pemberdayaan jemaat sebagai fondasi pengumpulan dana gereja. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus dan analisis literatur teologis serta praktik gerejawi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan jemaat berbasis pendidikan Kristen dan pengembangan karunia individu meningkatkan keterlibatan dan kesadaran spiritual jemaat. Integrasi teknologi dapat memaksimalkan personalisasi program, sementara strategi kolaboratif berbasis komunitas memperkuat partisipasi serta keberlanjutan pelayanan gereja. Dengan demikian, pemberdayaan jemaat menjadi fondasi esensial bagi efektivitas pengumpulan dana yang berkelanjutan dan bermakna secara spiritual.
Resiliensi Iman Generasi Strawberry terhadap FoMO: Pendekatan Teologi Berdasarkan 1 Petrus 5:7 Raymond Hessel Stephen; Yonatan Alex Arifianto
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 1 (2026): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/m6prbm77

Abstract

The rapid development of the digital age has shaped new social patterns and behaviours among the younger generation, particularly the Strawberry Generation, who have grown up with intense exposure to social media and information technology. This phenomenon has given rise to the Fear of Missing Out (FoMO), which causes anxiety, a sense of insecurity, and even concerns about self-actualisation, and thus has the potential to weaken their spiritual resilience. The lack of contextual pastoral and theological strategies to address FoMO poses a significant challenge for the faith formation of this generation. This study aims to analyse the development of the Strawberry Generation’s faith resilience in the face of FoMO through a theological approach based on 1 Peter 5:7. The research method employs a descriptive qualitative approach involving literature review and theological exegetical hermeneutical analysis. The findings indicate that the theological analysis and exegesis of 1 Peter 5:7 provide a strong foundation for the development of the Strawberry Generation’s faith resilience. An understanding of FOMO within this generation clarifies the psychological and spiritual challenges they face in the digital context. Narrative theology, combined with digital pastoral strategies, has proven effective in guiding and strengthening their faith resilience. Thus, the integration of narrative theology and digital pastoral practices can serve as a contextual, relevant, and practical model for faith formation among young people in the digital age. Abstrak Perkembangan pesat era digital telah membentuk pola sosial dan perilaku baru pada generasi muda, khususnya Generasi Strawberry, yang tumbuh dengan paparan intens terhadap media sosial dan teknologi informasi. Fenomena ini memunculkan Fear of Missing Out (FoMO), yang menyebabkan kecemasan, rasa tidak aman bahkan kuatir akan aktualisasi, dan   sehingga berpotensi melemahkan resiliensi iman mereka. Kurangnya strategi pastoral dan teologis yang kontekstual untuk menghadapi FoMO menjadi persoalan signifikan bagi pembinaan iman generasi ini. Penelitian ini bertujuan menganalisis pembentukan resiliensi iman Generasi Strawberry terhadap FOMO melalui pendekatan teologi berbasis 1 Petrus 5:7. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi literatur dan analisis hermeneutic eksegesis teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis teologis dan eksegesis 1 Petrus 5:7 memberikan landasan kuat bagi pembentukan resiliensi iman Generasi Strawberry. Pemahaman FoMO pada generasi ini memperjelas tantangan psikologis dan spiritual yang mereka hadapi dalam konteks digital. Teologi naratif yang dipadukan dengan strategi pastoral digital terbukti efektif dalam membimbing dan memperkuat ketahanan iman mereka. Dengan demikian, integrasi teologi naratif dan praktik pastoral digital dapat menjadi model pembinaan iman yang kontekstual, relevan, dan aplikatif bagi generasi muda di era digital.
Kesadaran ekologis sebagai implikasi pendidikan kristiani: Sebuah refleksi Kejadian 1:26 Carolina Etnasari Anjaya; Reni Triposa; Yonatan Alex Arifianto
KURIOS Vol. 9 No. 1: April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i1.715

Abstract

Artikel ini bertujuan memperlihatkan sebuah implikasi teologis dari pembacaan Kejadian 1:26. Melalui metode analisis interpretatif dari pembacaan ulang Kejadian 1:26 secara naratif, diperoleh implikasi tentang tanggung jawab manusia terhadap ciptaan yang lain. Artinya, sebagai simpulan, pembacaan ini memberikan konstruksi kesadaran ekologis bagi umat percaya.
Co-Authors Abel, Angela Adi Sujaka Adithia, Wahyu Prima Adu, Esterina Yunita Agata, Bulanda Agus Arda Setiawan Telaumbanua Aji Suseno Aji Suseno Aji Suseno Alfons Renaldo Tampenawas Andreas Danang Rusmiyanto Andreas Fernando Andreas Fernando Andreas Joswanto Andreas Joswanto Andreas Sese Sunarko Andrias Kemal Bulo Andrias Pujiono Andrias Pujiono Anjaya, Carolina Etnasari Anton Santoso Ari Suksmono Hertanto Ate, Norbertus Mawo Barus, Mariani Bawamenewi, Yunida Berliana Ourisa Febrian Boiliu, Esti Regina Boni Boni Boni Boni Boni, Boni Brian Rivan Assa Budiana, Benniardi Andreas Budiyana, Hardi Bulanda Agata Carolina Etnasari Anjaya Carolina Etnasari Anjaya Carolina Etnasari Anjaya Carolina Etnasari Anjaya Christian Bayu Prakoso Dandel, Fredrik Daniel Supriyadi Daniel Supriyadi Darius Darius Deice Miske Poluan Desi Ratnasari Desi Wasari Desi Wisari Dewi, Ester Yunita Dicky Dominggus Dominius, Fransiskus Dwikoryanto, Matius I Totok Edwin Edwin Elisa Nimbo Sumual Elisa, Saturnina Ester Berlian Haan Ester Putri Setiyowati Etni Grace Andi Yusuf Eunike Anggraeni Susilo Eunike Anggraeni Susilo Fati Aro Zega Felia Limbong Fereddy Siagian Fernando, Andreas Gideon Rusli Gloria Tupamahu Hadi, Sukarno Hana Hana Hanny Setiawan Hardi Budiyana Hardi Budiyana Harianto, GP Hasudungan Sidabutar Heppy Yohanes Imanuel Nuban Indarsih, Titi Indriana, Nining Indrianto Indrianto Inge Gunawan Irwan Revianto Rares Ita Lintarwati J, Valentina Dwi Kuntari Jeffry Cartouche Laseduw Jepina Jepina Jepina, Jepina Jerrymia Heaven Johanes Paryono Joseph Christ Santo Joswanto, Andreas Jutela Jutela, Jutela Kalensang, Priscilla Cantia Kalis Stevanus Kanafi, Kanafi Kharisda Mueleni Waruwu Korina Sanosa Kowal, Roike R. Kristien Oktavia Kristina, Ariana Kuntari , Valentina Dwi Langi, Elsjani A Lende, Stefani Natalia Limbong, Felia Listari Listari Loveano, Noel Yosan Lumingas, Gloria Gabriel Mangetek, Adriano Markuat Marvian Pali Hinggi Ranja Mega Mega Meliani Konda Betu Mesirawati Waruwu Mooy, Venida Jeliati Mulus, Mulus Nainggolan, Richardo Neni Viani Neni Viani Ngesthi, Yonathan Salmon Efrayim Nikolaos Nikolaos Nikolaos, Nikolaos Nining Indriana Novianti, Rizka Nugroho, Widhi Arief Okris Pitay Oktavia, Kristien Oktavianus Oktavianus Pantow, Frangky Paoki, Suzan Grace Paulus Karaeng Lembongan Paulus Kunto Baskoro Paulus Purwoto Perangin Angin, Yakub Hendrawan Poerti Poerti Poluan, Deice Miske Pongoh, Fanli Feydi Priyantori Widodo Pujiono, Andrias Purnama, Ferry Purnamasari, Citaning Rahayu, Meliska Putri Rahayu, Yohana Fajar Raymond Hessel Stephen Raymond Hessel Stephen Reinhard Yehezkiel Rejoice Leny Simatupang Richardo Nainggolan Rini, Wahju Astjarjo Ririn Utari Ruhut Parningotan Tambunan Ruhut Parningotan Tambunan Rusmiati Rusmiati Rutdiana, Eldea Happy S Siswanto Sabuna, Jelita Lauren Cuning Samuel Purdaryanto Saptorini, Sari Sarah Andrianti Sari Saptorini Sari Saptorini Saturnina Elisa Saturnina Elisa Sembiring, Lena Anjarsari Setiyowati, Ester Putri Shintia Christina Sibuea, Ezra Yani Sihite, Franseda Simatupang, Rejoice Leny Simon Simon Simon Simon Siswanto Siswanto Soinbala, Nusriwan Chrismanto Sonya, Margaretha Sri Lina Betty Lamsihar Simorangkir Sri Wahyuni Sri Wahyuni Suhadi Suhadi Suhadi Suhadi Suhadi Suhadi Suhadi Suhadi Suharijono, Jirmia Dofi Sujaka, Adi Sumiwi, Asih Rachmani Endang Sumiyati Sumiyati Sumual, Elisa Nimbo Suryadi Nicolaas Napoleon Tatura Suryadi, Devina Herfiantika Suryati, Dewi Susanto, Lasarus Ari Suseno, Aji Sutono, Yohanes Taloim, Merianus Tambunan, Ruhut Parningotan Tamtomo, Setya Budi Tamu Ama, Ferdinandus Tan Lie Lie Tanhadi, Billy Pebrio Taogan, Frischo Ridhoi Telaumbanua, Agus Arda Setiawan Tenny Tenny Theresa Dian Christi Thomas Prajnamitra Tilaar, Bonny Bruce Tiwa, Jerry F. Tiwa, Jerry Fanny Toisuta, Jakson Sespa Tri Astuti Yeniretnowati Triposa, Reni Tupamahu, Gloria Un Seran, Soviana Dominggas Utomo, Karyo Vena Melinda Tiladuru Viani, Neni Wahju Astarjo Rini Wakkary, Adriaan M. F. Wasari, Desi Wicaksono, Aditya Putra Pangestu Widodo, Priyantoro Worek, Natalia Yevonne Wulan Agung Wulan Agung Wulan Agung Yahya yahya Yakub Hendrawan Perangin Angin Yakub Hendrawan Perangin Angin Yedija, Yedija Yeniretnowati, Tri Astuti Yohana Fajar Rahayu Yohana Fajar Rahayu Yohanes Hadi Wibowo Yonathan Salmon Efrayim Ngesthi Yudi Hendrilia Yudi Santoso Yunida Bawamenewi