Hasil studi internasional PISA pada tahun 2015, 2018, dan 2022 menunjukkan bahwa kemampuan literasi numerasi siswa Indonesia, khususnya pada muatan matematika, masih tergolong rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menilai kelayakan modul ajar berbasis ethnomathematics terintegrasi teknologi, yaitu EMASFALOKU (Elektronik Modul Matematika Materi Pecahan dengan Kearifan Lokal Kudus), dalam mendukung kemampuan literasi numerasi siswa sekolah dasar. Penelitian menggunakan metode Research and Development dengan model ADDIE yang dibatasi pada tahap analisis, desain, dan pengembangan. Pengumpulan data dilakukan melalui angket dan dokumentasi, dengan instrumen berupa kuesioner penilaian kelayakan produk. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa EMASFALOKU memperoleh tingkat kelayakan sebesar 79,04% dengan kategori layak berdasarkan penilaian ahli media dan ahli materi. Temuan utama penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi ethnomathematics dan asesmen digital berbasis Quizizz menjadi kebaruan (novelty) dalam pembelajaran pecahan. Implikasinya, EMASFALOKU berpotensi menjadi sumber belajar inovatif untuk meningkatkan literasi numerasi siswa sekolah dasar. Ethnomatematic-based electronic modules as a media for developing students' numeracy literacy in elementary schools: feasibility analysis Results from the international PISA studies conducted in 2015, 2018, and 2022 indicate that Indonesian students’ numeracy literacy, particularly in mathematics, remains at a low level. This study aimed to develop and evaluate the feasibility of a technology-integrated ethnomathematics-based teaching module, namely EMASFALOKU (Electronic Mathematics Module on Fractions Based on the Local Wisdom of Kudus), to support elementary students’ numeracy literacy. The study employed a Research and Development approach using the ADDIE model, limited to the analysis, design, and development stages. Data were collected through questionnaires and documentation, with product feasibility assessed using expert validation instruments. Descriptive and quantitative analyses were applied to interpret the data. The results show that EMASFALOKU achieved a feasibility score of 79.04%, categorised as feasible, based on evaluations by media and subject-matter experts. The main finding highlights the novelty of integrating local ethnomathematical contexts with digital assessment through the Quizizz platform. This module has practical implications as an innovative learning resource to enhance numeracy literacy among elementary school students.