p-Index From 2021 - 2026
9.387
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Sayyid Ahmad Khan Sebagai Reformis Pendidikan Islam di India Mustika, Anik Indra; Roza, Ellya
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i1.13258

Abstract

Artikel ini membahas Sayyid Ahmad Khan Sebagai Reformis Pendidikan Islam Di India. Sayyid Ahmad Khan adalah salah satu ulama yang menyebarkan agama islam di India. Permasalahan penelitian ini bagaimana sejarah Sayyid Ahmad Khan menjadi Reformis Pendidikan Islam Di India. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan dengan teknik pengumpulan data terhadap literature, atau referensi buku-buku yang berkaitan dengan persoalan artikel ini. Berdasarkan hasil penelitan dan pembahasan Sayyid Ahmad Khan berhasil membuat perkembangan yang sangat pesat terhadap Pendidikan Islam Di India. Sayyid Ahmad Khan mendirikan sekolah Muhammaden Anglo Oriental Colllege(M. A.O.C) diAligarh, 1 Januari 1878. Usahanya dalam memajukan pendidikan Islam diIndia dengan menyebarkan ide- ide dimajalah Tahzibul Akhlak, yang memuat beberapa ide pembaharuan dengan bahasa yang dapat diterima para pelajar, bahkan halaman depan majalah tersebut memiliki semboyan dari pepatah Arab yang artinya“cinta pada tanah air ialah bagian dari Islam. Seorang yang mendukung kebesaran negerinya, berarti juga mendukung kebesaran agamanya”. Sayyid Ahmad Khan mempunyai keahlian diplomasi, baik terhadap pemerintahan Inggris, maupun masyarakat India. Penelitian Yesis Arikarani juga menyebutkan Sayyid Ahmad Khan dapat mengubah pandangan Inggris terhadap umat Islam yang berkaitan dengan pemberontakan. Penelitian Yecki Bus menyebut Sayyid Ahmad Khan sangat aktif didunia sehingga perkembangan Islam di negara ini untuk saat sekarang dan masa-masa mendatang senantiasa eksis dan mengalami kemajuan yang sangat signifikan.
Sarana Pendidikan Islam di Universitas Cordoba Hamami, Abdul Rasyid; Roza, Ellya
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i1.14558

Abstract

Salah satu tonggak sejarah umat Islam di masa lalu adalah berdirinya kekhalifahan Islam pada masa Dinasti Umayyah selama dua abad (abad 10-11) di Cordoba, Spanyol. Hal ini terutama berlaku dari sudut pandang ilmiah. Di sana, tradisi mencari dan menyebarkan informasi berkembang pesat.Banyak lahir ilmuwan yang menguasai berbagai bidang mulai dari filsafat hingga kedokteran, yang karyanya masih dibaca orang. Karakteristik ini membuat orang-orang Eropa belajar di universitas-universitas Islam, tidak hanya di Universitas Cordoba, tetapi juga di wilayah lain di Spanyol, seperti Seville dan Granada. Terciptanya tradisi ilmiah di Spanyol pada masa Islam tidak akan terjadi tanpa pilar-pilarnya. Pihak yang terlibat dalam transmisi ilmu pengetahuan adalah pelajar, guru, juru tulis dan penyalin, penjual buku, pembaca buku, dan penguasa yang rela membayar mahal untuk memperoleh buku yang berkualitas. Pasar buku Cordoba sendiri sangat aktif. Ribuan buku diproduksi di Cordoba setiap tahunnya, sedangkan pembeli di Pasar Buku Cordoba berasal dari berbagai daerah di Spanyol."Kemajuan Kota Cordoba yang mengalami periode kemajuan yang sangat cepat juga ditunjukkan oleh peningkatan populasi yang terus terjadi dan pembangunan yang signifikan baik fisik maupun non-fisik. Masalahnya adalah bagaimana kemajuan yang dicapai pemerintahan, mampu menempatkan kota-kota besar seperti Cordova sebagai ibu kota sehingga sejajar dengan Konstantinopel dan Bahgdad, menurut sumber tertulis.
Konsep Pendidikan Islam Universitas Nizhamiyah Pengaruh terhadap Perkembangan Pendidikan Nurhasanah, Nurhasanah; Roza, Ellya
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i1.14566

Abstract

Puncak kejayaannya pendidikan Islam pada masa Abbasiyah dan Umayah, sejarah mengatakn bahwa ini tidak terlepas dari keberhasilan para pakar pendidikan dimasa itu. Bukti dari keberhasilan tersebut telah dapat dirasakan oleh umat Islam dalam berbagai bidang dan juga merupakan cikal bakal munculnya pencerahan di dunia eropa. Madrasah Nizhamiyah merupakan salah satu lembaga pendidikan yang berdiri pada tahun 457-459 H/1065 M (Abad IV) pendiri madrasah Nizhamiyah adalah Nizham al-Mulk dari Dinasti Saljuk. Madrasah Nizhamiyah merupakan madrasah yang pertama kali muncul dalam sejarah pendidikan Islam yang berbentuk lembaga pendidikan dasar sampai perguruan tinggi yang dikelola oleh pemerintah. Madrasah Nizham al-Mulk diberi nama Nizhamiyah dan termasyhur di seluruh dunia di antaranya madrasah tersebut yang terkenal dan terpenting adalah Nizhamiyah di Baghdad (selain madrasah Balkh, Naisabur, Jarat, Ashfahan, Basrah, Marw, Mausul, dan lain-lain). Madrasah Nizhamiyah itu setara dengan fakultas-fakultas atau perguruan tinggi sekarang, perlu kita ketahui bahwa gurunya adalah ulama besar yang termasyhur. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dunia Islam abad pertengahan, setidaknya didukung oleh adanya kekuatan sistem pendidikan yang integral dan dinamis. Dengan proses kelembagaan ini, pendidikan Islam mampu menghasilkan cendekiawan-cendekiawan besar di segala bidang keilmuan. Sesungguhnya kekuatan dan perkembangan pendidikan Islam abad pertengahan itu karena kebebasan ilmiah yang sangat berkembang sehingga sangat diperlukan sebuah perpustakaan yang sangat memadai, karena yang demikian kondusif bagi pengembangan peradaban umat manusia yang masih terbungkus dengan akhlak islamiyah sangat diperhatikan baik oleh guru maupun oleh muridnya. Manusia tidak akan dapat berkembang dan mengembangkan kebudayaannya secara sempurna bilamana tidak ditunjang oleh pendidikan. Selanjutnya, kurikulum madrasah di era Nizam Al- Mulk ini berpusat pada Al-Qur’an, yang meliputi membaca, menghafal dan menulis, sastra arab, sejarah nabi Muhammad SAW, dan berhitung, dengan menitik beratkan pada mazhab Syafi’i dan sistem teologi Asy’ariyah. Ilmu filsafat sendiri tidak dimasukkan sebagai bagian dalam kurikulum pada masa ini.
Sistem Kepercayaan Paganisme Masyarakat Arab Pra Islam Damayanti, Rizka; Roza, Ellya
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i2.14846

Abstract

Penulisan artikel ini bertujuan untuk mengetahui kehidupan masyarakat Arab sebelum Islam datang. Sistem kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Arab pada masa itu dan bagaimana peribadatan masyarakat Arab dengan menyembah berhala. Masyarakat Arab sebelum Islam datang, terkenal dengan menyembah berhala yaitu memiliki banyak tuhan atau dewa-dewa. Penyembahan terhadap berhala salah satunya dikenal dengan istilah “Paganisme”. Istilah ini umumnya digunakan untuk menunjuk pada praktik dan tradisi para penyembah berhala. Pada mulanya, masyarakat Makkah atau masyarakat Arab setia dengan ajaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, yakni menyembah hanya kepada Allah SWT serta tidak menyekutukan-Nya. Namun, dari waktu ke waktu keyakinan tauhid itu memudar dan muncullah banyak paham dan aliran kepercayaan. Dari latar belakang ini maka penulis akan membahas sistem kepercayaan Paganisme Masyarakat Arab Pra Islam. Pendekatan yang digunakan penulis, yaitu pengumpulan data secara khusus melalui tulisan, baik secara histori, buku, artikel dan berbagai bacaan yang membantu dalam penulisan. Dengan maksud untuk mengembangkan baik aspek teoretis maupun praktis dari kegunaannya, dimana dalam tulisan ini merujuk pada keadaan masyarakat Arab sebelum kedatangan Islam. Dari hasil penelitian maka kepercayaan masyarakat Arab sebelum Islam dengan sistem kepercayaan Paganisme memiliki fokus penyembahan kepada 3 Tuhan yang dikenal dengan Trinitas. Adapun tuhan yang termasuk dalam Trinitas yaitu Al – Lata, Al – Uzza dan Manat. Namun ketiga tuhan tersebut memiliki hubungan dengan Allah, yaitu bentuk penyembahan kepada Allah dilakukan dengan perantara berhala.
Azimat Melayu: Sebagai Psikoterapi Mental Masalalu dan Sekarang (Kajian Kitab Mujarobat Melayu) Ulfa, Intan Jamilah; Tohar, Ahmadin Ahmad; Roza, Ellya
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i2.15281

Abstract

Model pengobatan di negeri Melayu Nusantara telah ada sejak lama, mengikuti ajaran agama seperti Hindu, Buddha, dan keyakinan nenek moyang. Salah satu jenis pengobatan adalah penggunaan "Azimat," benda atau tulisan yang dianggap sakti dan dapat melindungi pemiliknya dari penyakit. Setelah Islam masuk, sistem pengobatan Melayu lebih spesifik mengikuti ajaran Islam, dengan penggunaan ayat-ayat Alquran dan doa-doa ulama yang diarsipkan dalam naskah seperti kitab Tajul Muluk. Penggunaan azimat mulai ditinggalkan karena dapat mengarah pada syirik. Artikel ini menyajikan praktik pengobatan Azimat Melayu sebagai psikoterapi, menghubungkan pengobatan Melayu dan pengobatan Islam dalam konteks kesehatan mental. Metode penulisan artikel ini adalah tinjauan pustaka melalui buku, artikel, dan manuskrip kuno. Fokus artikel ini adalah Azimat sebagai psikoterapi kesehatan mental orang Melayu, baik di masa lalu maupun sekarang.
Konsep Manajemen Sultan Syarif Kasim Adelin, Muhammad; Nangim, Ngainun; Roza, Ellya
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep pendidikan dan manajemen pendidikan islam Sultan Syarif Kasim Riau. Dalam konsep pendidikannya, Sultan Syarif Kasim II memberikan ilmu-ilmu agama sebagai pembentuk akhlak dan budi pekerti serta peningkatan karakter agar moral rakyat tidak mudah digerus budaya dan kebiasaan buruk orang-orang Belanda. Sedangkan ilmu-ilmu umum digunakan sebagai bekal rakyat agar mencapai kehidupan dunia yang layak dan bahagia serta tidak mudah ditipu atau dipengaruhi oleh para penjajah saat itu. Jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pendekatan kualitatif desriptif merupakan penelitian yang sering digunakan dalam penelitian sosial. Teknik pengumpulan data yaitu dengan menggunakan data kedua atau data yang telah jadi seperti jurnal, buku, modul, serta web yang dapat dijadikan referensi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini berupa analisa sejarah (historical approach) serta analisa filsafat (philosophy approach). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Sultan Sharif Qasim II melakukan moderasi beragama dalam bidang pendidikan dengan mendirikan tidak hanya sekolah negeri tetapi juga lembaga keagamaan. Di antara sekolah yang didirikannya adalah H.I.S. Latifa Shor didirikan pada tahun 1915, Latifa Shor pada tahun 1926, Tawfiqiyah al-Hashimiya, sekolah agama untuk laki-laki, pada tahun 1917, dan Madrasah Annisa, sekolah untuk perempuan, pada tahun 1929.
Shalahuddin Al-Ayyubi: Panglima Kebangkitan Islam dan Pembebasan Yerusalem Adelin, Muhammad; Nangim, Ngainun; Roza, Ellya
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembahasan dalam artikel ini bertujuan untuk mengkaji sejarah panglima kebangkitan Islam dan pembebasan Yerusalem yang dipelopori oleh Shalahuddin Al-Ayyubi. Ruang lingkup penelitian ini berfokus pada biografi dan kepemimpinan Shalahuddin dalam Perang Salib yang dimenangkan oleh umat Islam. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan untuk memperoleh data terkait subjek yang dibahas melalui literatur seperti majalah, buku, jurnal, dan sumber-sumber lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Shalahuddin Al-Ayyubi adalah pendiri sekaligus pemimpin Dinasti Ayyubiyah, yaitu dinasti Sunni di Mesir yang berkuasa dari tahun 1171 M hingga 1250 M. Dinasti ini didirikan sebagai penerus Dinasti Fathimiyah, yang berafiliasi dengan Syiah Ismailiyah dan berhasil digulingkan. Keberhasilan terbesar Shalahuddin adalah pembebasan Yerusalem dari tentara Salib serta upayanya mempertahankan lembaga-lembaga ilmiah yang sebelumnya dibangun oleh Dinasti Fathimiyah, dengan mengubah orientasi keagamaannya dari Syiah menjadi Sunni. Shalahuddin dikenal sebagai tokoh reformasi dalam bidang politik, militer, dan sosial. Ia memperkuat pertahanan Mesir dengan membangun Benteng Kairo serta mempromosikan pendidikan dan agama melalui pendirian berbagai madrasah. Di bidang seni dan arsitektur, kontribusinya tercermin dalam pembangunan Masjid Shalahuddin dan Masjid Al-Nashir. Hubungan diplomatik dengan negara-negara lain juga ditingkatkan, menjadikan Mesir sebagai pusat kekuatan dunia Islam pada masa itu.
Sejarah Gemilang Dinasti Safawi: Mengkaji Peradaban Islam di Persia Rohaini, Yespi; Sari, Dwi Nofika; Roza, Ellya
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dinasti Safawi, yang memerintah Persia (sekarang Iran) antara abad ke-16 hingga ke-18, merupakan salah satu kekuatan terbesar dalam sejarah dunia Islam. Pendirian dinasti ini oleh Ismail I pada tahun 1501 menandai awal dari perubahan besar dalam peta politik dan agama dunia Islam, terutama dengan adopsi Syiah sebagai agama resmi negara, yang kemudian menjadi ciri khas identitas Persia. Keberhasilan Safawi dalam mengonsolidasikan kekuasaan tidak hanya tampak pada penguatan agama dan politik, tetapi juga dalam pencapaian besar di bidang seni, arsitektur, budaya, dan ilmu pengetahuan. Salah satu pencapaian terpenting dinasti ini adalah pembangunan ibu kota Isfahan, yang menjadi pusat kebudayaan dunia Islam dan simbol kejayaan era Safawi. Di bidang seni, dinasti ini terkenal dengan miniatur, tekstil, dan keramik yang menonjolkan estetika tinggi, sementara dalam ilmu pengetahuan, banyak ilmuwan Persia yang berkontribusi pada kemajuan peradaban Islam. Meskipun pada akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18 dinasti Safawi mengalami kemunduran dan akhirnya runtuh akibat serangan pasukan Afghan, warisan mereka tetap bertahan, terutama dalam identitas agama Syiah yang masih dominan di Iran hingga hari ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aspek-aspek penting dalam sejarah dan peradaban dinasti Safawi, serta pengaruhnya yang masih terasa dalam budaya dan agama di Persia. Dengan demikian, artikel ini memberikan gambaran komprehensif tentang peran dinasti Safawi dalam membentuk peradaban Islam, baik dari sisi keagamaan, politik, budaya, maupun sains
Menggali Konsep Manajemen Pendidikan Islam Ibnu Sina dan Relevansinya Pada Masa Kini Sari, Dwi Nofika; Rohaini, Yespi; Roza, Ellya
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manajemen pendidikan Islam memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter dan pengembangan ilmu pengetahuan dalam tradisi Islam. Salah satu tokoh yang berperan besar dalam pengembangan konsep manajemen pendidikan Islam adalah Ibnu Sina, seorang ilmuwan dan filsuf besar dari abad pertengahan. Dalam kajian ini, penulis menggali konsep manajemen pendidikan yang dikemukakan oleh Ibnu Sina, baik yang berhubungan dengan aspek kurikulum, pengajaran, hingga pengelolaan lembaga pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relevansi konsep manajemen pendidikan Islam Ibnu Sina dalam konteks pendidikan Islam masa kini, serta bagaimana prinsip-prinsip tersebut dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di era modern. Berdasarkan kajian literatur, ditemukan bahwa prinsip-prinsip manajemen yang diajukan oleh Ibnu Sina, seperti pentingnya penekanan pada pendidikan karakter, pengajaran yang berbasis pada pengalaman, serta pengelolaan yang melibatkan peran aktif semua pihak, masih sangat relevan dan dapat diterapkan dalam konteks pendidikan Islam masa kini.
Tinta Emas Peradaban Islam: Tonggak Sejarah Dinasti Abbasiyah di Baghdad Muharriyadi, Muharriyadi; Abdullah, Habib; Roza, Ellya
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Baghdad merupakan kota pemerintahan dinasti Abbasiyah. Dinasti Abbasiyah adalah merupakan dinasti kedua setelah mereka meruntuhkan dinasti pertama saat itu dalam sebuah peperangan yakni dinasti Bani Umayyah di Damaskus, Syiria. Khalifah Abu Jakfar Al Manshur dinobatkan sebagai pendiri pertama dinasti Abbasiyah. Baghdad pada masa kejayaan pemerintahan Abbasiyah menjadi rujukan ilmu pengetahuan dan menghidupkan kembali seni dan budaya Islam. Islam tidak hanya berkembang secara intelektual, tetapi juga berkembang secara fisik, seperti yang terlihat dari pembangunan sekolah, madrasah, masjid, istana, dan bangunan penting lainnya seperti perpustakaan pemerintah Islam. Khalifah Harun al-Rashid, Namanya Baitul Hikmah. Pada penelitian ini penulis melakukan jenis penelitian pustaka (library research). Sumber data yang digunakan pada penelitian ini adalah memakai data sekunder. Dan dari berbagai telaah litaratur yang menggambarkan kejayaan suatu negara, bahwasannya kemajuan yang diraih dalam suatu daerah atau wilayah, tidak pernah terlepas dari campur tangan pemimpinnya.Pun begitu halnya dengan kemajuan peradaban masa dinasti Abbasiyah.
Co-Authors A, FAIZAL Abdul Ghoni Abu Bakar Adelin, Muhammad Adellin, Muhammad Adhistia, Suci Kirani Aflizah, Nur Afrida Afrida Afrida Afriza, Afriza Al Ghifari, Mahdini Alvionita, Mila Amyus, Randi Saputra Anugerah, Muhammad Ruvi Apip, M. Apriansah, Feri Aqila, Muhammad Fariz Arrahim, Taufik Eka Osvi Arsita, Wina Asri, Nurul Atlis, Linda Dea Attoillah, Muhammad Farhan Ayudia Pama, Sindi Ayudia, Sindi Ayudia Azhar, Danny Azwanda, Yuri El Hanif Banjarnaor, Riadi Beggy, Miranda bin Nik Hasan, Nik Abdul Rakib bin Nik Hasan, Nik Abdul Rakib bin Busra, Aminudin Cut Raudhatul Miski Dahrani, Dahrani Dalillah, Aupi Damayanty, Rizka Dari, Sri Wulan Dea Atlis, Linda Dina Febrina Dzikra, Aulia Mar'atu ERLANDA, TAMA Fadilah, Yosi Fadilla, Nurul Farhanaldi, Zaekly Fauzana, Muhammad Ikhsan Febriani, Riska Suci Febrianti, Elda fitria ningsih Fuadi, M. Fadhil Gita Morinda, Claudio Habib Abdullah, Habib Hamami, Abdul Rasyid HANIFAH RAHMI Hawary, M. Shofiyyur Rahman Hayuningtyas, Pawestri HENDRA GUNAWAN B11211055 Hendrizal Hendrizal Hestivik, Chelsi Husin, Norhazlina Ilham Wahyudi Ilman, Nabil Inayah Pama, Violeta Iriani, Umi Jezy, Ahmad Johanda Johanda Jumrotun, Siti Kalipke, Mohamad Agar Khadijah, Khairiyah Khairina Khairina, Khairina Khairunisa, Aulia Lyadi, Muslim Madaniyah, Madaniyah Mardiah Mardiah Martiana, Wilsa Martius Martius Masduki Masduki Miski, Cut Raudhatul Muhajir, Sapuani Muhammad Ridwan MUHAMMAD TAUFIK Muharriyadi, Muharriyadi Murni Murni Murny Murny Mustika, Anik Indra Nangim, Ngainun Nia Kurnia Nopel, Perisi Nurhasanah Nurhasanah NURHASNAWATI NURHASNAWATI Nury, Ahmad Osvi Arrahim, Taufik Eka Eka Pahlepi, Anisa Pama, Sindi Ayudia Pama, Violeta Inayah Rifaldi, Muhammad Rizadiliyawati, Rizadiliyawati Rizka Damayanti Rizkiyah, Azdiva Miftahur Rohadi Rohadi Rohaini, Yespi RR. Ella Evrita Hestiandari Ruliany, Suci Rustam -, Rustam Saiyah, Ita Samsuri Lubis, Nasib Santika , Mira Sari, Dwi Nofika Septiani, Iga Shihabuddin, Ahmad Sindo, Pablo Sukma Erni Supianto Supianto, Supianto Syah, , M. Akil Fathur Rahman Syahputra, Andri Syahri, Hanifa Syarif Syarif Tohar, Ahmadin Ahmad Ulfa, Intan Jamilah Utari, Nur Yasnel, Yasnel Yudistira, Srikandi Yuhasnita, Yuhasnita